"LOVE, LIFE AND LUCK"

Pairings: HAEHYUK dan CHANBAEK

Warning: Genderswitch. Not their real age.

Disclaimer: All casts are not mine. I just own the plot. Thanks

[!] If you don't like the pairings then don't read. I put the warning already, so please respect me. Critics are welcome as long as it's not bashing. Reviews and Favorites are lovessss

Casts:

Main Casts:

Lee Donghae (Male): 21 Years Old. Son of the owner of HYUNLEE Group. Popular, cold to other people except his families and friends. Childish. Hyukjae's boyfriend

Choi Hyukjae (Female): 20 Years Old. Daughter of the owner of Hana Hotel and her mother is a famous designer who owns a brand name "Beauty Clique". Came from a broken family, her parents divorced. Popular. Kind and motherly. Donghae's girlfriend.

Byun Baekhyun (Female): 18 Years Old. Donghae's cousin. Her mother is Donghae's father's sister. Act so diva, but very sweet and loyal to those who close to her. Chanyeol's girlfriend

Park Chanyeol (Male): 18 Years Old. Not as rich as the others. His father works as a secretary of HYUNLEE Group, so kind and cheerful. Baekhyun's boyfriend.

Supporting Casts:

Choi Minho (Male): 17 Years Old. Hyukjae's brother. Lived with his father after their parents divorced, while Hyukjae decided to live alone since her mother travelling a lot

Lee Taemin (Female): 17 Years Old. Minho's crush. Hyukjae's junior in dance club.

Tiffany Hwang (Female): 20 Years Old. Hyukjae's bestfriend.

Choi Siwon (Male): Hyukjae's father

Cho Kyuhyun (Female): Hyukjae's step mother

Kim Kibum (Female): Hyukjae's mother

Lee Heechul (Female): Donghae's mother

Lee Hangeng (Male): Donghae's father

Byun Taeyeon (Female): Baekhyun's mother

More casts to come as the story progressing….

.

.

.

.

.

.

.

.

.

CHAPTER 2: WIND START BLOWING

.

.

.

.

Baekhyun memandang kekasihnya yang tak kunjung membuka suara. Jujur Baekhyun sangat takut. Chanyeol yang diam seribu kali lebih menyeramkan daripada Chanyeol yang marah sambil berteriak-teriak padanya.

Gadis itu menarik ujung kemeja kekasihnya, "Channie~" rengeknya

Pria itu menatap kekasihnya tajam, ada tatapan kecewa dari matanya. Baekhyun menunduk tak berani langsung menatap Chanyeol.

"Channie, aku minta maaf" gumamnya pelan. Tapi sang pria tetap diam, melihat tak ada respon, mata Baekhyun memanas air matapun mulai bermuara disana.

"Aku minta maaf, please… katakan sesuatu" mohonnya lagi sambil terisak. Baekhyun yang memang notabenenya gadis yang manja dan cengeng tak dapat menahan tangisnya.

Hati Chanyeol berdenyut melihat kekasih mungilnya itu menangis, ini adalah salah satu kelemahannya. Mana bisa ia tahan mendiamkan Baekhyun lama-lama jika seperti ini.

"Chanyeol~" isaknya lagi.

Chanyeol menghela nafas, pertahanannya runtuh sudah.

"Kau lupa dengan janji kita?" akhirnya pria itu membuka suara. Mendengar pertanyaan itu Baekhyun langsung menggelengkan kepalanya.

"Tidak… aku tidak lupa, hanya saja…"

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya menunggu penjelasan Baekhyun. Gadis diva itu menggigit bibirnya ragu.

"Hanya saja Irene benar-benar menyebalkan Channie"

"Kau tidak bisa terus-terusan meluapkan emosimu dengan berkelahi hanya karena kau kesai Baekkie"

"Aku tahu. Tapi ia benar benar menyebalkan"

"I know Baekkie. Tapi kau jadi sama menyebalkannya jika terus-terusan begini"

Baekhyun menunduk lagi, merenungi tingkahnya barusan. "Maaf…"

Chanyeol melangkah mendekat, ia menegakkan dagu Baekhyun dan menatap gadisnya itu lembut, jarinya mengusap air mata yang terus turun di pipi gadis itu.

"Sudah jangan menangis lagi, aku memaafkanmu. Tapi aku mau kau percaya padaku, percaya untuk mengizinkan aku untuk selalu melindungimu. Lain kali jika ada yang mengataimu seperti Irene, ceritakan padaku. Tak akan ku biarkan siapapun menyakiti kekasihku"

Pipi Baekhyun otomatis memerah mendengar kata-kata Chanyeol. Pria itu mungkin kadang usil, kadang cuek, tapi ia tulus mencintai Baekhyun.

Baekhyun menyeruduk tubuh Chanyeol dan memeluknya erat. "Aku percaya padamu Channie"

Chanyeol membalas pelukan Baekhyun dengan sama eratnya, ia mengelus lembut kepala dan punggung kekasihnya.

"Umm… Baekkie. Kau masih harus menghadapi Donghae hyung setelah ini"

Gadis itu menegang secara langsung, ia menelan ludahnya, benar-benat lupa jika 'Papa'nya pasti akan sangat marah mendengar ini.

.

.

.

.

Hyukjae memandang Donghae yang terus mengerutkan keningnya, mereka baru saja menginterogasi Irene yang berakhir dengan keputusan bahwa Irene akan dipindahkan menjadi anggota seksi konsumsi. Tidak mungkin mereka akan tetap membiarkan gadis itu untuk tetap menjadi mentor jika tingkahnya begini. Sebenarnya ini salah satu alasan kenapa Donghae juga tidak mengijinkan Baekhyun untuk menjadi mentor, bisa disuruh macam-macam nanti siswa-siswi baru itu oleh Baekhyun.

Donghae menengok ketika ia merasakan kekasihnya memijit bahunya yang sedikit menegang.

"Sayang…" Hyukjae bersuara mencoba mendapat perhatian kekasihnya

"Umm"

"Nanti kau jangan terlalu keras pada Baekkie ya"

"Ck. Gadis itu harus dikerasi sekali-kali, kau terlalu memanjakannya" ujar Donghae tidak setuju.

Hyukjae langsung beranjak dan duduk disebelah Donghae, ia mengenggam sebelah tangan pria itu

"Ayolah sayang, ia seperti itu karena ia butuh perhatian"

Pikiran Donghae langsung melayang, memang benar tingkah Baekhyun yang sering mencari masalah merupakan salah satu bentuk pemberontakannya atas perhatian kedua orang tuanya yang kurang, bibi Lee dan Paman Byun memang sering bertengkar dan melupakan Baekhyun. Baekhyun bahkan memutuskan untuk tinggal bersama keluarga Donghae yang notabenenya sepupunya.

"Sayang~" bujuk Hyukjae lagi begitu mendapati Donghae yang melamun

Donghae mengalihkan pandangannya ke wajah kekasihnya, tatapan sendunya langsung berubah menjadi tatapan menggoda

"Oke, tapi cium aku dulu"

Hyukjae mendelik dan memukul lengan pria didepannya ketika mendengar itu.

"Kau ini pintar sekali memanfaatkan kesempatan" jawabnya merenggut. Donghae tertawa tapi dia memejamkan matanya setelah itu, menandakan bahwa ia tetap menunggu ciuman dari Hyukjae.

Hyukjae menghela nafas sebelum mendekatkan posisinya pada Donghae, ia menempelkan bibirnya pada bibir Donghae selama beberapa detik sebelum menjauhkan wajahnya dari kekasihnya.

Pria itu membuka mata dan merenggut, sungguh mungkin seluruh siswa Hyunlee University tidak pernah menyangka bahwa sang ketua BEM yang terkenal dingin bisa merajuk seperti ini.

"Itu bukan ciuman sayang, apa kau kira aku bocah lima tahun yang minta dicium ibunya?" rajuknya.

"Lalu kau maunya seperti apa?"

Seringai Donghae langsung muncul mendengar itu, merasa seolah Hyukjae baru saja menantangnya. Ia menarik tangan Hyukjae untuk mendekat. Lalu menempelkan tangannya ke pipi Hyukjae dan satunya lagi ke belakang kepala Hyukjae, menyelip disela-sela rambut panjang gadis itu.

"Seperti ini…" bisiknya sebelum mengecup bibir merah Hyukjae sekilas, ia menatap mata Hyukjae sebelum menutupnya kembali lalu mendekat dan melumat bibir bawah Hyukjae, menghisap kedua belah bibir itu dan merasakan Hyukjae yang membalas ciumannya, Donghae menggigit pelan bibir bawa gadisnya itu lalu menyelipkan lidahnya dan mulai mengeksplor rongga mulutnya.

Tak lama sebelum akhirnya Hyukjae mendorong pelan dada Donghae dan mengakhiri ciuman mereka. Pandangan gadis itu masih tetap pada dada Donghae, wajahnya sudah semerah tomat dan ia tak berani menatap kekasihnya langsung.

Donghae tersenyum, gadisnya itu sungguh sangat manis. Mereka sudah bersama selama empat tahun dan ini bukan kali pertama mereka berciuman tapi tetap saja Hyukjae selalu merasa malu seperti itu. Donghae akhirnya tertawa.

Hyukjae yang mendengar tawa Donghae langsung memukul dada pria itu sambil memanyunkan bibirnya.

"Kau ini!" marahnya.

Donghae yang gemas melihat tingkah kekasihnya langsung memeluknya erat. "Aku mencintaimu sayang… sangat mencintaimu"

Hyukjae menyandarkan kepalanya di dada Donghae, "Aku juga… sangat mencintaimu"

Mereka menikmati hangatnya pelukan masing-masing sebelum mendengar ketukan di pinta ruang ketua BEM itu.

Kedua sejoli ini langsung berpandangan sebelum Hyukjae mengangguk dan berjalan kearah pintu.

Cklek.

Hyukjae menatap kedua orang yang sudah sangat familiar dengannya, kedua 'anaknya' yang terus dipandangi sang 'Mama' hanya tersenyum kikuk, apalagi Baekhyun yang hanya bisa menunduk.

"Ayo masuk" Ajak Hyukjae lembut, ia berjalan didepan dan melemparkan pandangan 'ingat, jangan terlalu keras padanya' pada Donghae yang kemudian hanya dibalas dengan anggukan.

"Chanyeol, kau duduk diluar bersama Hyukkie, aku ingin bicara empat mata dengan Baekhyun"

Wajah Donghae berubah menjadi dingin dan datar, padahal biasanya ia hanya menunjukkan itu pada orang lain bukan pada 'keluarga'nya.

"Tapi-"

"Tak apa Channie" Chanyeol baru saja akan menolak permintaan Donghae tapi Baekhyun memotongnya terlebih dahulu, ia memandang kekasihnya itu khawatir.

Baekhyun mengangguk meyakinkan bahwa ia tak akan kenapa napa.

"Ayo Chanyeol-ah. Ada sesuatu yang ingin aku bahas denganmu" Hyukjae menarik lengan pria yang lebih muda darinya itu sebelum melempar tatapannya lagi pada Donghae dan meninggalkan ruangan itu.

.

.

.

.

.

"Baekhyun pasti baik-baik saja Chanyeol-ah" Hyukjae menepuk bahu Chanyeol sebelum duduk di sofa di ruang berkumpul para anggota BEM. Chanyeol mengangguk, ia tau Donghae tidak akan bertindak macam-macam pada gadis mungilnya itu, bagaimanapun Donghae adalah sepupu sekaligus 'Papa' Baekhyun. Ia hanya sedikit khawatir saja.

Pria itu kemudian ikut mendudukan dirinya di sofa yang diduduki Hyukjae.

"Apa yang 'Mama' ingin bahas denganku?" Tanyanya kemudian.

"Oh iya, aku hanya ingin membahas soal camping nanti. Hmm… eh tunggu sebentar" Hyukjae mendengar handphonenya berdering sebelum meminta ijin Chanyeol untuk menerima telponnya sebentar. Hyukjae berjalan ke sudut ruangan sebelum menjawab panggilan itu.

"Hyukjae-ah" terdengar suara yang sangat dirindukannya dari seberang sana.

"iya bu. Ibu apa kabar?" sapanya, ibu kandung Hyukjae memang sedang tidak berada di Korea, sebagai designer yang cukup terkenal membuatnya harus berkeliling ke beberapa Negara di Eropa.

"Baik sayang. Bagaimana anak Ibu?"

"Aku juga baik bu, Ibu kapan pulang ke Korea? Aku rindu~"

"Ibu masih banyak urusan di Paris sayang"

Kemudian keduanya hening sesaat, tidak ada yang bersuara untuk beberapa detik.

"Hyukjae… kau pasti tau kenapa Ibu menelpon mu" Kibum, Ibunya bersuara lagi. Hyukjae menghela nafas.

"Bu… jangan lagi" ia benar-benar tak mau membahas ini.

"Kau tau ini satu-satunya cara untuk membantu Ibu. Dan ini untuk kebaikanmu"

"Bu, bukan aku tak mau membantumu. Tapi aku sangat mencintai Donghae. Kau tau itu"

"Pria yang ibu kenalkan ini pria yang baik sayang, hanya lima tahun lebih tua darimu. Jika kau menikah dengannya dia akan membiaya semua acara fashion show Ibu juga mendanai pembangunan cabang butik-butik Ibu"

Hati Hyukjae serasa hancur mendengar itu, matanya memanas. Ia sungguh ingin menangis, merasa Ibunya seperti menjualnya untuk kemakmuran pribadinya.

"Bu…"

"Pikirkan sekali lagi Hyukjae. Ibu akan menghubungimu lagi nanti" Panggilan itu langsung terputus dari seberang. Hyukjae menaruh tangannya di dada, hatinya sungguh sakit. Ia ingin membuat Ibunya bahagia, membantunya… tapi bukan dengan cara ini… hatinya tak kan mampu meninggalkan Donghae.

Ia berjalan dan mendudukkan kembali tubuhnya disofa, menunduk sambil mengeratkan tangannya yang sedang menggenggam ponsel dipangkuannya. Lelehan air mata masih turun di pipi sang ketua club dance itu.

"Ma…" Hyukjae mendongak, melupakan fakta bahwa Chanyeol ada diruangan itu. Gadis itu tersenyum sebelum menghapus bekas air mata dipipinya.

"maaf aku lupa Chanyeol, tadi kita mau membahas apa… hmm"

"Ma, kau tak apa? Siapa yang menelepon?" Hyukjae tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Aku tak apa-apa"

Masih terlihat raut khawatir di wajah Chanyeol, tapi ia tak mau memaksa sang Mama untuk bercerita. Mungkin gadis itu akan bercerita pada Donghae nanti.

"Aku benar-benar tak apa-apa Chanyeol-ah" Ujar Hyukjae lirih melihat tatapan khawatir dari pria tinggi itu. Ia belum mau menceritakan ini semua, ini masalah keluarganya, bahkan ia belum siap menceritakan ini pada Donghae.

Chanyeol mengangguk. "Yasudah tadi Mama mau membahas apa? Tentang jadwal acara?" Tanyanya mencoba mengganti topik agar Hyukjae tak larut dalam kesedihannya dan Hyukjae merasa sangat berterimakasih akan itu

"Ah iya, aku hampir lupa. Kita akan mengadakan tracking malam jadi aku meminta bantuanmu untuk membagi team acara kita terutama para pria untuk berjaga di beberapa pos nanti" Chanyeol mengangguk lagi berencana untuk menemui Changmin setelah ini untuk membagi tugas team acara.

"Lalu karena Irene dipindahkan ke team konsumsi, kita harus mencari satu mentor lagi"

"Irene dipindahkan?" Tanya Chanyeol. Ia baru mendengar itu.

"Iya, kita tak mungkin memilih mentor dengan tingkah seperti itu"

"Lalu apa Baekkie tetap boleh ikut menjadi anggota team acara?"

"Tentu saja, kita tak mungkin meninggalkannya sendirian kan."

Chanyeol menghela nafas lega, setidaknya ia tak perlu mendengar rengekan Baekhyun minta ikut camping lagi. Mereka berdua melanjutkan membahas rencana-rencana acara untuk camping yang akan dilaksanakan tiga hari lagi.

.

.

Sementara di dalam ruang ketua BEM, Baekhyun menelan ludahnya gugup begitu Hyukjae dan Chanyeol meninggalkan ruangan tersebut. Ia menatap 'Papa'nya ini takut.

"Pa~"

"Apa kau mau dipindahkan ke sekolah kepribadian Baekkie-ah?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat. "Aku tak mau! Please Papa"

"Kau tau sendiri jika Bibi Lee, ibumu tau kau berulah lagi. Ia akan memindahkanmu ke sekolah khusus perempuan itu"

Gelengan kepala gadis itu semakin cepat. "Aku tak mau! Pa. Aku mohon. Aku minta maaf" rengeknya.

"Kau ini seorang gadis tapi kenapa suka sekali mencari masalah sih"

"Tapi Irene-n"

"Aku tak peduli apa yang Irene lakukan, Aku hanya peduli padamu."

Baekhyun memeluk Donghae. "Pa… Kau satu-satunya anggota keluarga yang peduli padaku" ujarnya lirih.

Donghae balik memeluk dan menepuk punggung sepupunya itu. "Kau tau itu tak benar, Orang tua mu juga peduli padamu"

"Jika mereka peduli padaku, mereka tak akan menghabiskan lebih banyak waktunya dengan pekerjaan mereka"

Pria itu menghela nafas, "Kepalaku bisa cepat botak jika terus-terusan menghadapi tingkahmu ini"

Baekhyun tertawa dipelukannya. "Ayolah Pa. Aku tau kau tak akan marah lama-lama denganku"

Donghae bisa apa? Setelah Hyukjae, Baekhyun adalah orang kedua yang mampu meruntuhkan dinding egonya. Ia yang kaku, tegas dan dingin bisa berubah menjadi pria yang lembut pada kedua gadis kesayangannya itu.

.

.

.

Sehabis kelas, Hyukjae dipaksa Donghae untuk mengunjungi rumahnya, bujuknya sih karena Umma Donghae yang meminta Hyukjae untuk makan malam bersama tapi pada kenyataannya Donghae ingin kekasihnya membantu dia mengemas barang-barangnya untuk camping nanti.

Gadis itu kini sedang membantu Umma Donghae mencuci piring bekas makan malam tadi.

"Umma senang kau datang Hyukkie, sering-seringlah main kemari" ujar wanita paruh baya itu, Hyukjae tersenyum sambil mengelap piring-piring basah dari Umma Donghae

"Maafkan aku Umma, tugas kuliah dan BEM benar-benar menyita waktuku." Jawabnya merasa bersalah.

"Bohong Imo, Papa selalu saja menculik Mama, Ia tak mau membagi Mama dengan kita" Baekhyun tiba-tiba datang ke dapur sambil mengambil sebotol jus manga dari lemari es.

Heechul, wanita paruh baya itu tertawa mendengarnya, ia sudah tidak asing mendengar panggilan 'Papa' dan 'Mama' dari keponakannya untuk Hyukjae dan Donghae.

"Donghae benar-benar kekanakan dan posesif seperti Appanya"

Ketiga wanita itu kemudian beranjak menuju ruang tamu dimana Donghae dan sang Appa sedang asyik menonton TV. Terdengar tawa Donghae menggelegar memenuhi ruangan. Hyukjae memutar kedua bola matanya 'Pasti Running Man lagi' pikirnya.

Pria termuda diruangan itu langsung memekik dan memeluk Hyukjae begitu ia melihat kekasihnya berjalan keruang tamu.

"Hyukkie!"

"Ya Papa!" Baekhyun cemberut sambil mencoba melepas pelukan erat Donghae pada Mamanya itu. Ia mendengus begitu ia gagal melakukannya, seharusnya ia tadi mengajak Chanyeol berkunjung jika begini.

"Papa!"

"Huss Baekkie kemari, biarkan Papa dan Mamamu." Appa Donghae, Hangeng menarik tangan keponakannya untuk duduk di sofa. Sang gadis mungil menurut, sebelum mengambil ponsel disakunya dan mengirim sederet pesan manis untuk Chanyeol.

"Hyukkie, ayo kekamar."

Hyukjae melotot mendengar ajakan Donghae. Yang dipelototi hanya memandang Hyukjae dengan cengiran polosnya.

"Wae? Aku hanya ingin mengajakmu packing untuk camping lusa. Atau kau ingin melakukan yang lain, hmm?"

Hyukjae memukul lengan Donghae, lagi lagi kekasihnya itu menggodanya dan parahnya kali ini didepan kedua orang tua Donghae. Wajah Hyukjae memerah menyadari itu.

Hangeng dan Heechul tertawa melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sang umma menggelengkan kepalanya. "Aigoo honey, aku kira kita harus segera menyiapkan pesta pernikahan" ujarnya ikut menggoda Hyukjae, sang calon menantu.

"Umma!" Hyukjae menutup wajahnya malu. Keluarga ini benar-benar suka menggodanya.

"Aduh aku tak sabar ingin meminang cucu" Hangeng menambahkan. Baekhyun yang sedari tadi asik dengan ponselnya ikut tertawa mendengar godaan dari Hangeng.

"Iya Ma, aku ingin punya adik~" sahut gadis itu tak mau ketinggalan.

Wajah Hyukjae semakin mirip tomat, ia menarik kekasihnya menuju ke kamarnya. Lebih baik ia segera melakukan packing daripada di goda terus oleh keluarga Lee ini.

.

.

.

.

.

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, beberapa staf BEM sibuk mengabsen siswa-siswi baru untuk masuk ke dalam bis yang telah ditentukan sebelumnya, ada tiga bis yang akan mengantar mereka ke bukit daimaji di daerah Busan. Dua bis untuk siswa-siswi baru dan satu bis khusus untuk staf-staf BEM. Mentor-mentor sudah disebar untuk mendampingi siswa-siswi baru didalam bis.

Baekhyun menyamankan dirinya disalah satu kursi di bis khusus BEM. Hyukjae dan Chanyeol masih sibuk mengabsen para siswa sedangkan Donghae mengurus keperluan lainnya dengan Suho sang ketua lapangan. Ia yang belum mendapat tugas akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam bis duluan.

Ia duduk di kursi barisan kedua, disebelah sepasang kursi yang akan diduduki Mama dan Papanya nanti. Ia sedang asyik menikmati susu stroberinya begitu melihat Irene memasuki bis dan mendelik sinis ke arahnya. Ia melempar balik tatapan sinisnya pada Irene. Baekhyun sedikit merasa lega begitu Irene berjalan melewatinya, ia sungguh malas meladeninya pagi-pagi begini, selain itu ia tak mau kena marah oleh Donghae dan Chanyeol lagi.

"Channie!" Ia tersenyum lebar begitu mendapati kekasihnya berjalan dan duduk disebelahnya. "Sudah beres mengabsen?" tanyanya

Chanyeol mengangguk, ia merebahkan kepalanya di bahu kecil Baekhyun. "Aku masih ngantuk. Appa pulang larut dan lupa membawa kunci semalam. Ia meneleponiku dan membangunkanku untuk membukakan pintu"

"Aigoo, tidurlah. Perjalanan dari Seoul ke Busan bisa menghabiskan waktu lebih dari 3 jam, kau bisa istirahat sebentar" Pria itu kemudian memejamkan matanya, semakin menyamankan posisi kepalanya di bahu Baekhyun yang kecil.

Sepuluh menit kemudian beberapa staf BEM mulai memasuki bis, sepertinya semuanya sudah siap untuk berangkat. Begitu pula dengan Hyukjae dan Donghae, Hyukjae masuk kedalam bis dengan wajah yang cemberut, Donghae mengekor dibelakangnya sambil memandang kekasihnya dengan wajah bingung.

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya 'kenapa?' saat matanya bertemu pandang dengan Donghae, tapi sang 'Papa' hanya mengangkat kedua bahunya tanpa menjawab.

Bis mulai berjalan ke tempat tujuan, dan sepanjang perjalanan Hyukjae terus memandang ke arah jendela mengacuhkan Donghae yang sedari tadi mengajaknya berbicara dan menawarinya makanan.

Donghae mengasak rambutnya kasar, ia sudah melakukan berbagai cara agar kekasihnya itu mau berbicara padanya tapi Hyukjae tetap mengacuhkannya. Lagipula pria itu merasa tak melakukan kesalahan kenapa ia harus diacuhkan begini, setahunya ia tadi hanya mengobrol dengan Sandara (mantan kekasihnya) karena gadis itu memang merupakan bendahara BEM dan ia harus mendiskusi beberapa hal dengannya, ia tak menyadari Hyukjae yang terus memanggilnya karena terlalu fokus pada obrolannya. Sampai akhirnya Sandara menyadari dan menyadarkan Donghae bahwa Hyukjae sedari tadi memanggilnya.

Ia tahu Hyukjae cemburu, tapi ini sungguh kekanakan, ia tak mengerti kemana Hyukjae yang selalu bertingkah dewasa. Dan sekarang ia benar-benar tak ada waktu untuk meladeni tingkah kekanakan Hyukjae, kegiatan camping ini cukup menguras otaknya. Lihat saja mau berapa lama gadisnya ini mengacuhkannya.

.

.

.

To be continue…

.

.

.

A/N: Hi guyssss. Makasih banget buat review-reviewnya, aku terharu. Aku pasti ngelanjutin ceritanya kalo begini hehehe cuma karena waktuku emang terbatas jadi maaf ya kalo updatenya agak lambat. Semua review udah aku bales ya lewat pm, buat yang guest aku bales disini~

Fishyhae, unyuk, haeru, hyukkitty, LoveSK: Ini udah dilanjut ya :-*

Popipo: Iya aku author AFF, dulu awalnya dari LJ sih kkk. Yup ini dilanjut

Polarise437: Iya dua couple disini member + OTP favorite di grupnya masing-masing. Well aslinya aku ELF dan Hyukjae biased sih, yang kebetulan cinta sama ChanBaek hihi

Makasih buat yang review dengan usernamenya masing-masing:

Haehyuk546, , HAEHYUK IS REAL, kakimulusheenim, BekiCoy0411, hyukieraa, nurul. , HaeNann, CALLMEHACHI, .1

Makasih juga yang udah ngefollow dan ngefavorite cerita ini yaaa.

Semoga pada suka sama chapter ini^^ seperti biasa… review are lovesss! :-*