Kuroko mengintip dari balik pohon. Si merah seram itu telah mengurai jarak aman. Yakin punggung yang terlihat kaku itu takkan berbalik dan mengejarnya, si Bungsu Kerajaan Seirin itu memutuskan untuk hengkang.
Namun baru mau menggeser tungkai kaki, dilihatnya si pendekar gunting malah dipapasi sosok familiar dalam emosi.
"Chihiro-nii?"
Intonasi tanya terhembus saat pria kelabu itu kentara ngomel-ngomel di kejauhan. Yang jadi tumbal semprotan amarah hanya berlagak apatis tanpa niat merespon atau mendengarkan.
Alis biru bertaut. Indera pendengaran diposisikan baik-baik. Mencuri dengar lantunan vokal sang Kakak yang menanjak dari biasa. Jarang sekali Chihiro Mayuzumi menaikkan nada bicara, apalagi sampai berubah tempramen seperti itu.
Satu kata kunci yang terlintas.
Kouhai.
Mungkin saja pemuda merah itu adalah kouhai yang tadi dihujat kakaknya di telepon.
"Tets—maksudku, Kuroko? Sedang apa kau di sana?"
Kuroko mengerjap. Lokasi persembunyiannya sudah dibocorkan. Baru sadar bila dua objek intipan telah menjadikan dirinya sebagai target perhatian. Sepasang iris beda warna mengedar, menusuk dalam kalbunya.
Si Biru merapatkan diri pada batangan pohon. Masih berusaha melenyapkan diri di balik persembunyian.
"Apa kau sudah lama menungguku? Mau pulang sekarang, Tet—Kuroko?" Pria kelabu berjalan melintasi pendekar garang di wajahnya melunak seiring langkah yang memangkas jarak. Lidah gatal karena terus salah sebut nama tengah adiknya.
Sama seperti identitas mereka, hubungan sebagai saudara pun termasuk hal tabu untuk diumbar di ruang terbuka. Karena Mayuzumi akan segera disahkan sebagai pangeran Seirin, tentu jati diri Kuroko sebagai adik seorang royalti juga terancam ikut terbongkar sebelum waktunya.
Meski bebas bukan berarti mereka bisa sembarangan bersikap.
Ditinggalkan oleh lawan bicara, sosok merah itu berjalan menjauh.
Sesaat biru muda memandang awas. Tidak ingin melewatkan seinci pun gerak-gerik dari si lelaki bergunting. Memerhatikan bagaimana bilah kembar itu menghilang di antara telusupan lengan panjang, tungkai kaki yang berjalan ritmikal, telapak tangan yang mengepal entah karena sebab apa.
Tidak lupa tatapan tajam dan penuh perhitungan yang tadi dialamatkan padanya.
"Hei."
Tepukan pelan di pipi kiri menggeser poros atensinya pada sang Kakak. Manik sewarna mendung mengerling cemas ditemani dua alis yang mengerut turun.
Kepala biru didongakkan, senyum tipis diulaskan. "Ayo kita pulang, Chihiro-nii."
"Kau mengabaikanku tadi, huh."
Protes dari yang lebih tua dihadiahi kendikan bahu. Mayuzumi menggulir bola mata. Tanpa kata, menarik pergelangan tangan Kuroko.
Bersamaan dengan hembus angin yang menerbangkan koloid debu, sosok merah itu lenyap ditelan batas penglihatan. Kuroko menengok ke belakang. Manik birunya menyapu pandang, berharap akan tersandung warna scarlet cerah yang benar-benar telah menghilang.
.
.
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Rise of Kingdom Harem
shiuferz
[All/Kuroko] [Akashi/Kuroko]
-Tidak ada keuntungan yang diambil dari fanfiksi ini-
.
.
Dua sosok pemuda berjalan menyusuri gang sepi. Destinasi jatuh pada sebuah limo hitam yang menanti di ujung jalan. Perjalanan dari kampus ke direksi tertuju memakan waktu lima menit. Sedikit waktu dan tenaga yang harus dikorbankan untuk menyembunyikan jati diri.
Menjadi pangeran yang belum dipublikasikan ke masyarakat bukan hal mudah. Kalau ada yang tahu mereka dari kalangan atas—terlebih, keluarga kerajaan, bisa-bisa hilang ketenangan hidup beserta kebebasan masa remaja.
"Hari ini volume terbaru light novel favoritku terbit."
Seutas alis biru mengudara skeptis. "Aku tidak mau tahu, Chihiro-nii."
Pintu mobil dibuka oleh seorang pria berseragam hitam. Keduanya langsung menyamankan diri di peraduan jok abu-abu. Tas punggung diletakkan ke pojok, fokus mulai merayap pada dunia di balik jendela.
"Ke Seiho dulu, ya. Ada yang mau kubeli."
"Aku tidak mau ikut, Chihiro-nii." Penolakan meluncur disertai dengusan tajam.
"Jangan buang-buang bensin, Tetsuya. Mumpung lewat, biar sekalian."
Ini dia yang Tetsuya Kuroko tidak suka. Seiho adalah kawasan pertokoan—atau lebih dikenal sebagai surganya otaku. Di sana penuh dengan berbagai macam benda yang kurang bersahabat dengan akal sehatnya. Figurine nyaris telanjang, gadis maid berkuping kucing yang lalu-lalang, juga kelebatan individu yang hidupnya terombang-ambing di batas dua dimensi dan kenyataan.
Apalagi nanti bertepatan dengan launching serial favorit kakaknya. Bisa seharian ia terdampar di sana.
"Tolong berhenti di Seiho sebentar."
"Jangan."
"Siap, Chihiro Ouji-sama."
Pilot stir bundar memprioritaskan komando dari pangeran ketiga. Mobil melaju ke luar gang sepi, berbaur dengan keramaian jalan raya di tengah kota. Melaju berlawanan trayek dari arah mereka datang. Mengambil rute berbeda di setiap harinya, agar tidak terlacak dan terdeteksi.
"Aku tidak mau turun," ketus Kuroko. Kulit di antara alisnya terlipat.
Satu kilometer mendekati titik tujuan, si Bungsu biru mulai berulah. Gemas dengan gelagat adiknya yang khas remaja puber, jari-jari tegas Mayuzumi mendarat di surai teal.
"Jangan begitu, kita mampir ke toko buku, kok."
"Apakah toko buku yang Chihiro-nii bicarakan itu sama dengan toko buku dalam kriteriaku?"
"Benar-benar toko buku. Sebentar saja." Mayuzumi iseng menggali pipi tirus adiknya dengan pucuk jari. "Aku tidak akan lama, kok. Hanya beli lima light novel."
"Lima," Kuroko mengulang penuh penekanan. Andai dia sedikit lebih ekspresif, matanya pasti sudah melotot hiperbolis. "Itu hanya beli. Belum lagi lihat-lihat yang lainnya. Kalau ada figure yang serupa dengan tokoh di light novel, bagaimana? Pasti Chihiro-nii ngelayap kemana-mana."
"Astaga, Tetsuya. Kau membuatku terdengar seperti tante-tante yang doyan belanja."
"Paling tidak aku masih bisa berbaur dengan lokasi belanja para tante. Tempat itu membuatku jengah."
Meski melontarkan serangkaian gerutu, Kuroko akhirnya menurut. Memasuki daerah terlarang—baginya, mobil melambat. Detail sepanjang jalan mulai terlihat menjemukan. Seperti dugaannya, yang menyambut adalah pejalan kaki dengan tas punggung besar, deretan toko ber-plang warna-warni, orang-orang berkostum, serta figure-figure berbagai ukuran yang nampak di balik ruang kaca.
Mereka menepi di area yang terpencil dari inti kerumunan. Mayuzumi menarik Kuroko agar ikut serta. "Kau harus selalu berada di sisiku, Tetsuya." Begitu katanya, tanpa ada celah untuk diganggu gugat.
Pintu kaca didorong, keduanya menyusuri ruang bersekat rak. Kuroko berpisah dari bimbingan sang Kakak. Bergerak sendiri menuju lantai dua di mana buku-buku yang—menurut papan petunjuk—lebih normal berada. Kalau ada fiksi keluaran terbaru, Kuroko mungkin akan membelinya.
"Tetsuya?"
Belum juga menjejak di anak tangga, suara familiar memanggil.
"Aku hanya ke atas, Chihiro-nii," sahutnya tanpa menoleh. Kaki ringan melanjut pendakian.
"Jangan jauh-jauh dariku."
Orb biru bergulir. Telunjuk menegak ke arah langit-langit. "Kita hanya terpisah satu tingkat."
"Jika sudah selesai, aku akan segera ke atas. Tunggu di sana."
Kuroko mengangguk usai membuang helaan panjang. Mencapai puncak tangga, ada lega tersendiri ketika melihat deretan buku. Esofagusnya berkontraksi khidmat menyesap aroma kertas bercetak tinta. Mata dimanja berlusin judul yang menggoda minta dibawa pulang.
Ekspedisi kecilnya berakhir pada rak di ujung dinding, jarinya menarik sebuah buku tebal bersampul hitam di rak teratas. Berupaya merobek segel plastik karena tidak sabar ingin melihat isi, tapi segera diurung karena dinilai kurang etika. Akhirnya hanya sanggup mengintip sinopsis di kover belakang.
Satu buku masuk pangkuan. Cari jenis sama dengan pengarang berbeda. Atau karya beda yang masih bersaudara gubahan sastrawan serupa. Iris biru muda mengedar sambil melangkah pelan menyusuri rak.
Semuanya terjadi terlalu cepat. Kuroko tengah meraih buku keduanya ketika ruang dan waktu serasa bergetar. Cahaya yang sangat terang menusuk mata.
BLAR!
Lalu semuanya berubah menjadi hening.
Awalnya terdengar bisikan, lalu berubah jadi jerit ketakutan. Kuroko mengedar pandang. Tubuhnya bergetar merambati rak kayu sebagai penunjuk jalan. Mendapati dinding tempatnya mendapatkan buku hitam tadi telah berlubang dengan rontokan debris menghambur di sekitarnya.
Di tengah gelap, Kuroko yakin sempat melihat seseorang tertimbun tembok yang roboh—dan menyisakan hanya satu tangannya untuk dipandang mata. Itu hanya yang terlihat. Mungkin saja di sana masih ada orang lain yang tidak mendapat kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Rasa takut menyerang. Kuroko merogoh saku, menarik ponsel guna mengontak sang Kakak yang berada di lantai bawah.
Tidak ada sinyal.
Akhirnya layar ponsel dijadikan penerangan sementara. Mencari jalan keluar yang tidak lagi disinari lampu LED milik toko. Di antara para pengunjung yang buta arah, seseorang menubruk Kuroko di tengah pelariannya. Buku pilihan terjatuh, monitor dalam genggaman di arahkan ke lantai keramik yang putihnya menghitam ditelan kegelapan.
Setelah memungut buku, Kuroko berniat melanjutkan perjalanan. Tinggal lima langkah sampai di tangga.
Sreeeg
Bunyi besi menghantam tanah. Pintu kaca di bawah, sebagai satu-satunya sumber cahaya, kini diblokir oleh balkon besi yang lepas dari tempatnya. Para pengunjung yang menyongsong pintu keluar nyaris terkena hentakannya.
Blar
Ledakan kedua. Letaknya lebih menengah dibandingkan sebelumnya yang menepi di pinggir ruangan. Jeritan kembali bersahutan. Kali ini nama-nama yang tidak dikenal diteriakan dalam histeria.
Brugh!
Kuroko terlonjak mundur. Layar ponsel di arahkan ke tangga, mendapati sebuah potongan beton langit-langit telah terbaringmemblokir jalan. Penerangan dilayangkan ke langit-langit, hujan pasir bertransformasi jadi gumpalan kerikil, berangsur menjadi batu-batu besar. Menumpuk, menciptakan dinding solid yang mengurungnya di lantai dua.
"Chihiro-nii..."
Gumaman lemahnya tak akan sampai ke lantai satu. Di bawah sana para petugas mulai menenangkan pengunjung. Panggilan panik kakaknya juga belum terdengar di telinga Kuroko.
Sayup-sayup, terdengar isak kecil dari tangisan seorang belia. Sendirian dan ketakutan, tampaknya tidak memiliki siapapun untuk dijadikan pegangan.
Kuroko mendekat. Mendapati seorang anak perempuan menggenggam tangan besar yang kaku, mencuat di antara puing rak buku.
"Kau baik-baik saja?"
Dua mata coklat besar terangkat. Gadis kecil spontan melemparkan diri dalam pelukannya. Lengking kesedihan pecah, si Biru menduga ia kehilangan sosok tercintanya di tengah bencana.
Kuroko menelan ludah. Tubuh mungil itu digendong dan dibawa menjauh. Bukan hanya untuk mencari jalan keluar, tapi karena ia juga tidak sanggup berada di sana lebih lama. Kuroko lantas teringat kakaknya sendiri masih di bawah sana. Apakah ia baik-baik saja? Apakah ia terluka? Atau...
Kesadarannya membeku diguyur es imajiner. Kecemasan merayapi. Berusaha percaya, Kuroko menggelengkan kepalanya cepat. Mayuzumi adalah orang yang kuat. Mereka akan bertemu lagi nanti di luar dengan selamat.
"Apa ini aksi terorisme lagi?"
"Iyakah? Tidak mungkin di sini!"
Mengandalkan indera pendengaran, Kuroko mendekat pada kerumunan kecil yang tengah mengungsi. "Maaf," sapanya.
"Wo-Woah!" Terperanjat sejenak, seorang wanita menyorotkan layar ponsel ke sumber suara. "Ternyata ada orang di sampingku."
Kuroko memaklumi. Mengeratkan pelukan pada anak yang terisak pelan di lehernya. "Tadi anda berkata tentang teroris?"
Si Wanita mengangguk, "Adik tidak nonton berita? Ada desas-desus bahwa teroris sudah menargetkan Seiho sebagai lokasi teror bomnya. Tak kusangka malah terjadi di toko buku ini."
Sontak terdiam. Kuroko perlahan merasakan sensasi dejavu. Kepala memutar memori. Seiho, aksi teror, pulang lewat mana.
"Kau pulang lewat mana?"
Itu dia.
Perkataan Shintarou Midorima saat di perpustakaan tadi. Apakah Midorima berhubungan dengan ini semua? Ataukah semuanya murni kebetulan?
"Tetsuya! Kau ada di sana?!"
Mayuzumi berteriak di balik dinding batu. Kuroko bisa dengan jelas mendengarnya. Pertahanan batu diretas perlahan dengan tenaga maksimal. Hingga tersisa lubang setengah meter untuk mengintip ruangan di balik pembatas kokoh.
"Chihiro-nii? Aku baik-baik saja."
"Sial! Di sana pasti gelap sekali, ya?"
Lega sedikit karena kakaknya baik-baik saja, Kuroko memandang gelap. "Ya. Bagaimana dengan Chihiro-nii?"
"Pintu keluarnya diblokir. Petugas sedang berusaha membetulkan sistem yang tiba-tiba rusak. Tapi di sini masih ada cahaya matahari, jadi tidak terlalu gelap."
Senyum tipis diulas, "Aku tidak apa-apa, Chihiro-nii. Aku—" Anak perempuan bermata sembab di dadanya menggeliat kecil. Sorot mata melembut. Ketakutan berubah menjadi keberanian kecil. "Chihiro-nii, aku ingin menitipkan seseorang."
"Huh? Apa maksudmu, Tetsuya?"
"Lubang ini pasti muat dilewati anak kecil."
Seolah mengerti maksud Kuroko, gadis dalam pelukan malah menggeleng cepat. Jari mungilnya mencengkeram kemeja putih si penyelamat, enggan melepaskan.
"Aku tidak mau berpisah dengan Onii-chan!" Cicit ketakutan teredam kemeja putih tempatnya menyembunyikan wajah. "Aku takut!"
Helai kecoklatan berhias pita diusap lembut. Kuroko berbisik, "jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja."
"Tidak mau!"
Kuroko dapat mendeteksi gelombang kekhawatiran menerpanya dari direksi Mayuzumi. Mungkin kakaknya itu tengah coba mencerna situasi.
"Tetsuya, siapa yang bersamamu?"
"Seorang anak kecil. Aku menemukannya sendirian..." Vokal tak bernada itu melemah. Getaran kecil merambat bersama suasana berkabung dan sedikit rasa takut dalam hati. "Sepertinya dia kehilangan keluarganya dalam ledakan tadi..."
Mayuzumi terdiam sesaat, lalu tenang berkata, "berikan dia padaku."
Sayang, makhluk mungil dalam dekapan masih menolak untuk dilepaskan.
"Hei, gadis kecil. Boleh kutahu siapa namamu?" tanya Kuroko pelan, mencari pengalihan.
"Yuriko..." Sesenggukan kecil memotong introduksi. Mata almond yang basah mendongak, bertemu dengan sepasang azure. "Yuriko Yuzuriha. Enam tahun, tinggal di prefektur Iwazaka. Suka kelinci dan kue stroberi."
Tawa kecil melesat tanpa kuasa. Kuroko sedikit terhibur dengan keluguan si gadis mungil untuk menyebut profil lengkapnya. "Yuriko-chan, apakah Yuriko-chan tidak ingin bertemu mama lagi?"
"Mama..." Si mungil kembali menangis. "Aku ingin Mama!"
"Yuriko-chan, aku yakin Mamamu sudah menunggu di luar." Kuroko mengalihkan pandang pada Mayuzumi yang terdiam sejak tadi. "Kakak yang di sana akan mengantarmu bertemu Mama."
"Mama ada di luar?" Si kecil terlihat menimbang. Memandangi lamat-lamat lubang remang di mana Mayuzumi berdiri. Sesaat kemudian, perhatiannya kembali pada Kuroko yang menanti dengan sabar. "Onii-chan bagaimana?"
"Aku akan baik-baik saja. Onii-chan adalah orang yang kuat."
Menyadari genggaman mungil di bajunya mulai mengendur, ia segera mengarahkan anak itu agar memanjat lubang. Merasa lega ketika si kecil berhasil menyeberang ke sisi lain dan mendarat di gendongan Mayuzumi.
"Tetsuya, bagaimana denganmu?"
"Aku akan mencari jalan keluar lain."
"Tapi—"
"Percayalah padaku, Chihiro-nii. Aku akan baik-baik saj—"
'Nit nit nit'
'Blar!'
"Kyaaa—!"
"Tetsuya!"
Kuroko sempat menangkap kilau cahaya menusuk retina dari arah kanannya, kemudian ia dihempas ke dinding beralas rak kayu. Benturan yang kuat mengakibatkan buku-buku berhujanan dari tempatnya.
Pandangan Kuroko berbayang buram—efek sakit kepala karena terpukul tepat di oksipital. Iris biru muda mendapati lubang yang tadi diciptakan kakaknya sudah lenyap ditimbun debris yang berjatuhan.
Sakit, pusing dan mual.
Paling tidak gadis kecil itu tidak harus mengalami apa yang ia rasakan saat ini.
Kuroko masih bertarung dengan tarikan semu yang merebut kesadarannya. Naluri pemuda itu menjerit nyaring. Seolah memberitahu semua belum berakhir. Masih akan ada ledakan lain. Ia bisa merasakannya.
Sekelebat warna lewat dalam jangkauan pandang.
"Ayo."
Tangan ditarik, tubuhnya diberdirikan secara paksa. Seseorang menggiringnya berlari, tidak peduli Kuroko masih menahan sakit. Selain terkena ampas ledakan, ia juga terbentur tepat di sudut rak kayu yang tumpul.
Kilau cahaya menyambutnya di tengah pelarian. Penarik tangan segera mengangkat tubuhnya—lalu melayang turun ditarik gravitasi. Kuroko terlalu disorientasi untuk menyadari posisinya yang kini dibopong seperti pengantin wanita.
Langit biru muda berputar, Kuroko yakin pemandangan itu familiar. Bak kembang api, lubang tempatnya keluar memuntahkan ledakan susulan. Entitas yang merangkulnya itu menggulung badan. Menjadikan punggung sebagai tameng dari hujan debu dan asap yang berterbangan.
Tap
Bokongnya menjadi yang pertama menyapa tanah. Dipastikan tubuhnya tidak akan oleng, baru kemudian lengan kokoh itu melepas dekapan.
Menilik penyelamatnya, biru muda membulat seketika.
Kening terekspos oleh poni pendek yang dihembus semilir angin. Alis merah bertaut dan mendongak ke bangunan berlubang di samping. Surai mencolok, blazer putih milik Universitas Vorpal S., kombinasi tak asing yang sempat hinggap di benaknya.
Pendekar gunting.
Kuroko seolah terkena mantera jadi batu. Banyak yang ingin diutarakan, namun bibirnya hanya membisu. Kenapa dia di sini? Mengapa dia tahu kalau toko itu akan meledak? Apa gerangan yang membawanya menembus kepulan asap hingga lompat dari lantai dua? Apa dia mengikutiku untuk melanjutkan aksi berguntingnya tadi?
Kenapa dia menolongku?
Kepala bermahkota teal ikut mendongak ke arah yang sama. Memandang lubang dinding berlapis asap hitam. Tempatnya kabur dari cengkraman gelap. Cabut dari daftar korban aksi terorisme.
Bagaimana jika ia masih di sana ketika ada ledakan susulan?
Napas tercekat, Kuroko menelan ludah.
"Hei," panggilnya seraya beranjak bangun.
Pemuda merah tidak segera mengalihkan fokus. Masih sibuk menepuki fabrik putih dari partikel halus yang hinggap di pakaiannya.
"Kenapa kau ada di sini?"
Pertanyaan pertama untuk membuang curiga. Tidak mungkin ia sampai diikuti. Jalan pulang yang diambil supirnya selalu beda. Apalagi ini Seiho, surganya para otaku. Dilihat dari penampilan, orang berkepala scarlet ini tidak setipe dengan kakaknya.
Netra merah-jingga bergeser ke biru muda. Memandang lurus dengan isyarat sejuta makna. Kuroko coba menerka, tapi terlalu redup sampai ia merasa salah jika terus menatapnya.
"Kau tidak berterima kasih?"
Kecurigaan membuatnya lupa memberi apresiasi. Memicing sesaat, biru muda kembali mendapat kilaunya. "Terima kasih sudah menolongku. "Senyum tipis terulas, namun kemudian dahinya mengerut samar. "Kalau boleh tahu, namamu siapa?"
Manik hetero memindai area sejenak sebelum jatuh ke biru muda. "Kau tidak sendirian, kan?"
Garis kilat horizontal mengejut benak. Bening azure segera mengedar pandang—ia baru sadar sudah jadi tontonan masyarakat sekitar yang histeris dengan aksi terorbarusan.
"Aku harus menolong Chihiro-nii," ujar Kuroko terburu meski datar. Terlalu tenggelam dalam cemas. Lupa dengan protokol utama untuk tidak menggunakan panggilan sayang di depan umum.
Alis merah kontan mengudara mendengar keakraban yang terhembus bersama nama kecil kakak kelasnya.
Kemudian bibirnya melengkung, asimetris.
Berbalik arah, bergegas menuju pintu masuk toko. Kuroko menerobos pita kuning yang baru dipasang polisi. Nyaris mendobrak pintu kaca yang dihalangi struktur besi.
"Hei, nak!" Seorang polisi muda mendekat, menarik bahunya agar tidak melangkah lebih jauh. "Di sini berbahaya. Menjauhlah."
"Kakakku masih di dalam," sahutnya tanpa menoleh. Berusaha melepas jerat si petugas dari tubuhnya.
"Kami sedang berusaha mengeluarkan pengunjung. Kau tunggu saja di sana, jangan dekat-dekat!"
Akan tetapi lelaki berkulit pucat itu bersikeras menepis tarikan pihak keamanan. "Kumohon, aku harus masuk."
"Jangan bodoh, memangnya kau bisa apa?! Kalau ada ledakan lagi, bagaimana?! Biarkan polisi yang mengurus!"
Tubuhnya digiring menjauhi garis sakral berlabel police-line. Setelah diseret menjauh, bunyi sirine menyedot atensi. Kuroko menghampiri seorang polisi yang memegang kerucut pengeras suara.
"Maaf, pak, boleh saya pinjam toanya?"
Si Pria mendelik dari balik topi kepolisiannya. Tidak disangka akan menjalani aksi rebutan yang komikal di tengah situasi genting.
"Hei, apa-apaan kau?! Apa kau tidak tahu—"
"Kumohon! Sebentar saja—"
'Ckiiit'
Bunyi karet roda menggilas hitamnya aspal jalanan. Sebuah limosin berhenti setelah berhasil menembus keramaian. Kuroko mundur dari aksi tarik-ulur, tiga pria berseragam bergegas menghampirinya.
"Tetsuya-ou—" Panggilang yang salah lekas dikoreksi. "Tetsuya-sama! Anda baik-baik saja?!"
Kuroko menoleh. Manik sebiru langitnya menyipit ganas. Kemana saja para penjaganya saat ledakan terjadi?
"Maaf! Kami kesulitan menghampiri lokasi anda dan harus memutar jalan!"
Seolah bisa membaca pikirannya, para abdi istana segera membungkukan badan, memohon sirat pengampunan.
Hembus napas yang terdengar lelah pun dilepas. "Chihiro-nii masih terjebak di dalam."
Seorang pelayan menghampiri polisi, bernegoisasi. Mungkin ingin memberitahu bahwa ada orang penting di dalam sana. Yang keselamatannya sangat penting untuk kerajaan dan masa depan negara.
Kuroko merogoh saku, meraih ponsel. Di luar batang sinyalnya berdiri tegap tidak kurang dari lima. Ia segera menghubungi Mayuzumi, namun tidak tersambung. Baru ingat kalau gedung itu masih menangkal semua komunikasi nirkabel.
"Chihiro-nii..." Kuroko mengulum bibir bawahnya dalam resah.
Tidak lama setelahnya, pagar besi berhasil didorong maju, menembus pintu kaca, membuka akses keluar dari toko buku yang jadi tujuan aksi petugas sigap menertibkan arus pengunjung keluar dari bangunan.
Seorang wanita kalut mencengkram seragam sang Polisi, "Tolong! Kedua anak saya masih di dalam! Mereka berada di lantai dua!"
Si Pria berseragam dengan emblem tersemat di dada langsung mengangguk mantap. "Tenang saja, kami pasti menolong mereka."
Kuroko menatap wanita berambut coklat yang tak henti menitikan air mata. Ia sendiri cemas menyisir satu persatu pengunjung yang keluar. Mencari sosok yang sesungguhnya sukar dicari, apalagi bila dikepung keramaian semacam ini.
Karenanya ia memutuskan untuk bersuara, "Chihiro-nii!"
"Tetsuya!"
Benar saja.
Chihiro Mayuzumi sudah lebih dulu keluar dari toko buku. Yuriko si gadis kecil bergelayut ketakutan di lehernya. Jeritan, 'Mama!' melengking, disambut pelukan haru sang Ibunda, gundah karena hanya satu buah hatinya yang berpulang.
Kuroko mengalihkan pandang dari reuni menyayat hati di depan mata. Kepal tangan membulat rapat. Manik birunya kini berganti target, mencari surai merah yang sempat terlupa. Seperti tadi, kali ini pun ia kehilangan jejak.
"Kudengar ada ledakan di lantai dua! Aku baru saja mau ke samping untuk melihatnya. Ini gila, Tetsuya. Aku benar-benar khawatir, kau tidak menjawab panggilanku setelah ledakan itu."
Si Bungsu tidak menjawab. Telinganya sedang berusaha ditulikan. Terbebas dari isak tangis yang mulai membanjiri tempat kejadian perkara.
"Chihiro-ouji, Tetsuya-ouji, apa anda berdua terluka?" bisik seorang pelayan.
Gelengan pelan Mayuzumi mewakili kebungkaman Kuroko.
"Kalau begitu, silahkan segera masuk ke dalam mobil."
Berbaur dengan pengunjung yang mulai dihampiri wartawan, mereka hengkang dari lokasi kejadian. Limosin melaju menghindari kerumunan. Keluar dari jalan Seiho dan bergabung dengan padatnya jalan raya.
Kelereng sebiru lautan tidak lepas dari jendela. Kepalan tangan belum melonggar sejak tadi. "Chihiro-nii... untuk apa mereka melakukan hal seperti itu?"
Mayuzumi hanya mengintip lewat ekor mata. Punggung berserah diri, terkulai pada sandaran duduk. Sebenarnya juga syok di balik topeng poker-nya. Setumpuk light novel yang terlupa saat proses evakuasi sama sekali tidak terlintas dalam benak si Kelabu.
"Mana aku tahu hal seperti itu, Tetsuya."
Hening.
"Aku ditolongnya, Chihiro-nii," ujar Kuroko datar. Mata masih melekat pada panorama di luar kaca.
Mengernyit. Ada lega, ada tak suka. "Ditolong siapa?"
"Orang yang tadi Chihiro-nii temui di kampus, sebelum kita pulang tadi. Yang rambutnya merah."
Semakin berkerut. Rasa tidak suka perlahan mengganyang batin. "Akashi?"
Bahu terangkat. "Dia tidak memberitahuku namanya."
Mayuzumi bergegas mengusap layar handphone, merapatkan speaker ke telinga. Menghitung nada statis yang menyambung perangkatnya dengan si Penerima. Tak lama, ia mendengus kesal.
"Sial, tidak diangkat."
Kuroko memiringkan kepala, "Ada apa, Chihiro-nii?"
"Dia itu tidak tertarik dengan hal-hal seperti ini. Jadi untuk apa dia ada si Seiho." Manik kelabu menatap serius pada seorang pelayan yang duduk di jok depan. "Hei, apa ada yang membuntuti kita?"
Si Pria berseragam menggeleng, "Tidak mungkin, Chihiro-ouji. Jalan kita tidak terlacak."
Tidak puas, Mayuzumi menghempaskan punggung. Ia menoleh ke adiknya di samping. "Apa yang dia lakukan padamu, Tetsuya?"
"Dia menolongku," jawabnya datar. Sambil menerawang langit-langit rendah, Kuroko mengenang. "Saat ledakan terjadi, aku terlempar ke ujung. Kemudian dia menarikku dan lompat dari dinding yang baru saja diledakkan teroris. Kami berhasil keluar dari sana."
Bentang bahu direnggut. Mayuzumi sedikit mengguncang adiknya. "Di-Dia di dalam sana?!"
Tanpa ekspresi, kepala bersurai biru berayun naik turun. Dahi terlipat. Cengkeraman sang kakak dikelupas perlahan dari bahunya.
Mayuzumi mendecakkan lidah. "Sial." Sorot keabuan yang hampa kini menikam manik biru dalam kilatan keji. Suara sang kakak terdengar seperti desisan saat mengucap,
"Jangan pernah mendekatinya, Tetsuya. Akashi adalah orang yang berbahaya."
Tetsuya Kuroko angkat satu alis, lantas mengalihkan pandang. Memandangi jejeran toko yang berlalu di balik kaca. Mengingat kejadian di Seiho barusan. Akashi, katanya. Lelaki pemegang gunting itu bernama Akashi. Kuroko tidak ingin bertanya lebih, melihat sikap sang Kakak.
Sesuatu dalam batinnya menyanggah anggapan Mayuzumi. Kuroko meyakini Akashi bukanlah orang seburuk itu.
Menatap langit cerah, Kuroko mengulas senyum tipis di tengah pekatnya kabut trauma.
Besok mereka harus bertemu lagi.
Ia berhutang budi.
.
.
Asam menjalari rongga mulut, minuman berkarbonasi berhenti ditenggak. Kaleng silinder tangan ganti meraih sebuah smartphoneyang bergetar di atas meja. Sebuah nama tertera di atas layar.
Chihiro
Ia mengangkat ponsel. Menoleh ke layar televisi sebelum menarik slide hijau. Suara disebrang langsung menguar emosi kental.
"Toko buku, minimarket, serta pos polisi di distrik Seiho yang dipasangi bom diduga hanyapengalih perhatian. Tujuan utama para teroris siang tadi adalah gedung dewan di ujung jalan Seiho. Saat ini pihak berwenang masih menyelidiki kasus ini. Dilaporkan korban jiwa terbanyak berada di toko buku MShiki yang menjadi pusat lauching—"
Sudut bibir terangkat naik.
"Ya, Chihiro. Kau benar. Aku ada di sana—"
Manik hetero mendelik tajam ke layar LCD di samping. Atensi penuh terhisap oleh tayangan berita yang tersiar langsung di televisi. Menemukan sebuah objek di belakang reporter wanita.
Seringai tajam.
"—saat insiden itu berlangsung."
.
.
"Kalau sudah puas tidur-tidurannya, lekaslah turun, Tetsuya-ouji."
Baru pulang dari kampus dan nyaris jadi korban aksi terorisme, wajar bila ia ingin bermanja sebentar. Melepas lelah, berbaring seolah ini akhir dunia di atas kasur empuknya.
"Masako-sama sudah menunggu anda di lapangan. Latihan anda akan segera dimulai."
Ogiwara menegaskan nada bicara. Sepatu hitamnya mengetuk lantai sebagai peringatan. Kuroko mendecak pelan. Pelayannya itu memang terlalu kaku, kebanyakan doktrin ini-itu.
"Anda beruntung latihan telah ditunda selama setengah jam. Berhenti bermalasan dan bangun, Tetsuya-ouji. Atau saya akan memaksa anda bangun."
Biru muda mengerling, menerawang plafon langit-langit yang mengimitasi warna rambutnya. Kemudian tatapnya jatuh ke samping, dibenturkan pada lelaki berjas hitam yang menghampiri dengan langkah cepat. Satu stel pakaian ditaruh ke ranjang, tubuh pangeran ditarik bangun.
Shigehiro Ogiwara merendahkan tubuh, jari-jari terampil menceraikan kancing kemeja dari lubangnya. Melucuti dalam gerak cepat dari bentangan kulit putih. Bukan sekali dua kali ini, ia menelanjangi Kuroko seperti anak bayi. Terutama saat majikannya itu sedang diserang patogen kebluk seperti ini.
"Shigehiro-kun..."
"Jangan bicara dulu. Kalau bukan saya yang bergerak, Tetsuya-ouji pasti masih malas-malasan."
Si Biru muda membiarkan penutup tubuhnya dibuka. Menatap datar saat pelayannya merapihkan singlet dan membungkus tubuhnya dengan jaket berbordir merk sport ternama. Celana training panjang disodorkan.
"Berdiri, Tetsuya-ouji. Apa harus saya yang memakaikan celana juga?"
Intruksi pelayan dituruti usai merotasi bola mata. Kuroko beranjak dari lembutnya seprai dan menjejak lantai. Celana formal diturunkan, pemberian si Pelayan segera dikenakan—sendiri.
Ogiwara ganas mengamati pergerakan siput majikannya. Siap main sambar kalau ada prosesi yang salah, apalagi terlupa. Melihat pemuda pucat itu telanjang dada—bahkan telanjang bulat, adalah hal biasa. Level keintiman mereka memang sudah tercipta sejak belia. Tidak perlu diingatkan pula kalau sampai dua tahun yang lalu, Ogiwara lah yang selalu menemani Kuroko saat mandi.
"Sparring hari ini mulainya agak telat karena Masako-sama harus menghadap Yang Mulia Ratu," sahut Ogiwara, menuntun tuannya beranjak. Alis gelapnya melorot turun saat mata bertemu sudut jarum pada jam saku. Sudah selarut ini rupanya.
Kuroko mengangguk pelan. "Apa Chihiro-nii juga ikut berlatih?"
"Harusnya begitu, tapi tidak kali ini. Belakangan waktu luangnya dipakai untuk mempelajari tugas Negara."
Mereka berjalan menyusuri koridor sepi. Menuruni tangga beralas karpet merah. Keluar melewati pekarangan, menuju lapangan outdoor di belakang istana.
Nampak wanita berambut hitam sepunggung sudah menunggu. Seorang pengawal di belakang garis menyodorkan pedang kayu ke Ogiwara. Setelah berterima kasih, objek latihan diberikan pada sang Pangeran keempat.
Kuroko mengedar pandang. Kakak ketiga yang biasa ikut latihan kini tidak nampak batang hidungnya. Ia maklum. Tahun depan Chihiro Mayuzumi resmi jadi pangeran. Pasti sangat sibuk sekarang.
Gagang pedang diremat kedua telapak tangan, moncong dijatuhkan pada wanita di depan. "Maaf membuatmu menunggu, Masako-sensei."
Sang Guru bela diri menggeleng pelan. Ekspresi seriusnya masih setia terpancar. "Tidak apa-apa, Tetsuya-ouji. Saya harap di waktu yang singkat ini, saya bisa dengan baik melatih kekuatan fisik anda."
Kuroko mengangguk. "Mohon bantuannya, Masako-sensei."
Alis hitam menukik, "Hari ini kita akan mengulang pelatihan kemarin, saya harap Tetsuya-ouji masih ingat teorinya."
"Aku ingat. Menangkis lalu menyerang, kan? Gunakan kekuatan lawan untuk membalik keadaan."
"Betul sekali."
Bibir tipis dijepit antara gigi karena kalut. "Sebenarnya aku memiliki satu permintaan pada Masako-sensei..." Kuroko berujar pelan.
"Apa itu, Ouji-sama?"
Manik biru melirik tanah sejenak sebelum kembali terangkat. Kuroko ragu menyuarakan maunya. "Aku ingin segera belajar pistol."
Araki Masako mengernyit tajam. "Saya bisa mengajarkannya setelah pertarungan jarak dekat sudah bisa anda kuasai, Tetsuya-ouji."
Kuroko memandang lurus, tanpa ekspresi. "Tapi waktu itu Masako-sensei bilang aku tipe petarung jarak jauh."
"Memang benar," pedang kayu diluruskan paralel dengan bumi. Masako membuat kuda-kuda menyerang. "Tapi saya ingin anda tidak memiliki kecacatan, Tetsuya-ouji. Kita mulai."
Shigehiro Ogiwara mendaratkan tubuh pada karpet rumput. Duduk sejenak sambil menunggu sang Tuan melatih kekuatan fisik. Bunyi kayu yang beradu, desah napas yang menguar, serta lirihan samar dari pangerannya yang jadi latar belakang.
Ia mendongak ke seorang pengawal yang berjaga di samping, "Sudah lama?"
Si Penjaga teritori istana mengangguk. "Tidak terlalu. Hei, duduk."
Ogiwara mengekeh, "Tetsuya-ouji bisa marah kalau aku berdiri terus."
Si Pria berseragam, lengkap dengan senjata, hanya menaikkan alis. Tatapnya jatuh ke pergelangan tangan yang terangkat. Arloji diintip. "Lima menit lagi, Masako-sama harus kembali ke istana. Yang Mulia ratu memanggilnya."
"Eh?"
"Itulah sebabnya aku menunggu di sini."
Ogiwara lantas berdiri. Ekspresi cerianya mengeras jadi raut serius. "Sepertinya ada keributan, ya?"
"Entahlah. Tapi setelah Kaijou—Distrik Delapan bergabung, sebuah kelompok makin gencar melakukan aksi teror."
Shigehiro Ogiwara membisu. Mata coklatnya menyipit samar dalam makna yang tak terbaca.
Kemudian ia menoleh, memandang lurus Biru muda yang masih semangat berlatih. Ekspresinya yang penuh determinasi—tapi masih terlihat datar, gerakan kakunya yang berusaha menepis serangan lawan, serta langkahnya yang berangsur menjauh dari inti lapangan.
Ia bersumpah untuk melindungi Pangerannya, apapun yang terjadi.
.
.
Sang Ratu jarang mampir untuk mendendangkan lagu pengantar tidur. Tetsuya Kuroko selalu sendirian setelah Ogiwara mengucapkan sampai jumpa dan menutup pintu kamar. Hanya menghabiskan waktu dengan menghangatkan bantalan sofa atau bergelung di kasur sambil menonton tayangan televisi.
Tangannya menarik ponsel di atas meja, melihat pesan dari kakaknya.
Menyanggupi permintaan yang terurai dalam bentuk teks, Kuroko beranjak dari ranjang, keluar dari kamar. Kaki berbungkus selop indoor bergegas menyusuri ruangan, mendaki tangga, menuju menara.
Sosok pria abu-abu terbias cahaya bulan purnama. Terlihat menawan karena menyimpan hadiah di depannya. Di tangannya, sekaleng bir sudah terlebih dulu kehilangan setengah kapasitas. Mayuzumi tidak bergerak duluan karena tahu, kali ini Kuroko lah yang akan mengambil langkah maju.
Pemuda baby blue berlari kecil menghampiri. "Chihiro-nii, maaf sudah menunggu. Mana Vanilla Milkshake-ku?"
Iming-iming minuman favorit lah yang membawa Kuroko bersemangat naik ke lantai teratas istana. Menemui Chihiro Mayuzumi yang katanya punya susu kocok vanila, padahal minuman itu sangat dibatasi oleh koki istana.
Pria kelabu menyungging senyum. Kantung plastik dengan logo fastfood yang familiar diayun di depan hidung adiknya. "Ada syaratnya."
Raut datar bersarat tidak suka pun tercetak. "Aku tidak mau datang kalau Chihiro-nii tidak punya Vanilla Milkshake. Tunjukkan dulu apa isinya."
"Sejak kapan kau jadi gampang curiga padaku," Mayuzumi menggumam malas. Merogoh plastik dan memamerkan segelas minuman kemasan. "Lihat sendiri, kan?"
Langsung melompat dan merebut pegangan. Susu kocok vanila beralih tangan. Melihat adiknya terlalu semangat, Mayuzumi meraih gelas kemasan yang lain.
"Itu yang satu? Vanilla shake juga?" Ekor mata biru muda rupanya sempat melirik.
"Iya. Ada dua. Untuk adikku tersayang."
"Terima kasih, Chihiro-nii. Aku sayang Chihiro-nii."
"Sama-sama, Tetsuya. Lain kali sayangilah kakakmu tanpa pamrih Vanilla Milkshake."
Kuroko mengangkat tangan. Membuat jarak pada gelas plastik, binar-binar menatap logonya. Sudah lupa pada pengharapan berbalas kasih sayang yang diminta oleh kakaknya.
"Chihiro-nii kapan ke Majiba-nya? Kok tidak ketahuan?" Kemudian lanjut menyedot likuid putih dengan penuh suka cita. "Eh, Chihiro-nii kan seperti hantu, mana mungkin ketahuan."
"Aku khawatir kau sedang membicarakan dirimu sendiri, Tetsuya."
Langit kelam tanpa gugusan bintang menjadi latar belakang keduanya. Angin malam menyapu helai rambut, menerbangkan gundah yang sempat menghinggapi batin. Keduanya sama-sama menikmati keheningan. Dengan minuman favorit masing-masing sebagai sahabat.
"Tadi aku tidak latihan, materi kewarganegaraan penggantinya. Membosankan." Satu teguk alkohol kadar sedang kembali melewati kerongkongan. "Oh iya, mulai besok aku bawa mobil sendiri. Tetsuya ikut aku," ujar Mayuzumi tanpa menoleh.
Sedang asik bertengger di gelas kedua, Kuroko mengangkat alis. "Hm?"
"Kita sekarang berangkat berdua tanpa supir dan pengawal."
Kuroko bungkam. Mulutnya terlalu syahdu dipakai menghisap susu kocok vanila.
"Hei, kau dengar, kan?"
Seruput teralun kasar. Sampai hanya tersisa ekstrak buihnya pun, Kuroko masih belum rela melepas gelas plastik dari jeratannya.
Semua orang tidak suka diabaikan. Di dalam plastik hitam—sesungguhnya masih ada satu selundupan gelas susu kocok. Tadinya mau dihadiahkan sebagai kejutan dengan sedikit modus terselubung, sayang si Adik malah cuek, sibuk dengan asupannya sendiri.
"Tetsuya, mulai besok sampai seterusnya kita berangkat dan pulang bersama."
Tutup plastik dibuka, Kuroko merapatkan mulut ke bibir gelas plastik. Menjilati sisa-sisa manis yang melekat pada es batu di dalamnya.
"Aku punya satu lagi."
Gelas plastik kontan dihempas. Biner cerulean mengerling. "Mana, Chihiro-nii?"
Alis sewarna abu rokok berkedut. Fix, Mayuzumi kalah bersaing dengan segelas junk food di mata adiknya.
"Ada syaratnya."
"Apa itu, Chihiro-nii?"
Oh, tumben mau dengar. Mungkin vanilla shake memang punya jampi magis yang dapat memikat ketertarikan adiknya.
Mayuzumi mencondongkan badan. Mengusap pelan setitik vanila yang tersangkut di pipi Kuroko. Ibu jarinya lantas memutuskan berhenti di sudut bibir sang adik. "Syaratnya, biar aku yang menyuapi..."
"Itu kan bukan makanan."
"Kan bisa lewat mulut ke mulut."
Raut yang senantiasa datar itu mengerut keras dalam jijik dan kejanggalan.
"Ya sudah kalau tidak mau."
Merengut. "Chihiro-nii jahat. Yang benar saja."
"Lakukan atau tidak sama sekali." Gelas vanila terakhir diayun dalam sudut berbahaya mengarah ke jendela menara. Agar lawannya semakin tersudut, Mayuzumi berbagi informasi. "Kudengar, koki istana akan menghapus daftar vanila dari jajaran menu. Mereka mulai khawatir kau pilih-pilih makanan."
Manik biru membola. Harus menahan diri untuk tidak merenggut vanila kocoknya yang disandera. Salahnya sendiri yang selalu menghindari makanan utama, dan pilih mengenyangkan diri dengan makanan penutup—yang rutin selalu rasa vanila.
"Ayo, Tetsuya. Bagaimana? Aku menunggu."
Kuroko menurut, mata terpejam ragu, mulutnya menganga.
Chihiro Mayuzumi memandang. Sebenarnya rongga mulut adiknya yang bebas terbuka itu masuk ke kategori menggoda. Tapi karena ia seorang kakak yang jantan, lain kali saja ia mengambil jatah.
Mayuzumi kan kuat iman, tahan godaan.
"Besok jangan jauh-jauh dariku, ya."
Masih menganga, Kuroko mengangguk pasrah.
Si pria kelabu tersenyum jahil. Gelas plastik berisi susu kocok vanila dimiringkan—tumpah ke rongga mulut si Adik. Kuroko sontak terkejut, mundur sambil bungkuk terbatuk-batuk. Nyaris cairan dingin menyusup ke lubang hidungnya kalau ia tidak segera memuntahkan.
"Hahaha," tawa santai mengalun di ruang menara yang temaram.
"Uhuk, uhuk," kepalan tangan mengetuk dada, Kuroko masih berusaha mengatur laju oksigennya.
"Makanya jangan abaikan aku, Tetsuya,"
"Sudah kuduga seharusnya aku tidak datang. Chihiro-nii licik."
"Kalau tidak jadi datang, aku kenyang dong minum vanilla milkshake-mu?"
Usai kendali tubuh aman kembali, Tetsuya Kuroko berdiri tegap memandang kakaknya. Bukan, memandang segelas minuman favorit yang bertengger di tangan Mayuzumi.
Spasi dikikis oleh pria yang lebih tinggi. Gelas plastik disodorkan, wajahnya mendekat ke kening lawan. Mayuzumi mengecup dahi adiknya singkat, kemudian mundur mencipta jarak. Terdiam sesaat. Menatap Kuroko dalam tatap kekosongan. Meyakinkan diri bahwa mereka masih bersama setelah peristiwa mengerikan tadi siang.
"Ayo kembali. Malam semakin dingin."
Lebih peduli pada susu kocok bonus, si Biru muda berbalik. Menyamakan langkah dengan pria abu-abu yang sudah lebih dahulu menerobos keheningan tangga menara.
.
.
Hari kedua masih masa orientasi. Jadwalnya seminar dan demo unit kegiatan mahasiswa. Tidak bisa dipungkiri, Kuroko lebih bersemangat menyambut jadwal kedua daripada menghadiri seminar. Wajar saja. Karena seminarnya didominasi oleh pengenalan kampus, beserta formalitas visi dan misi yang sudah tercetak jelas di atas brosur.
Bisa-bisanya seorang lelaki terlihat frustasi di pinggir lobi. Kuroko menghampiri, "Hei, kau baik-baik saja? Ada yang bisa kubantu?"
Pria bersurai merah marun mendengus sambil mengacak isi tasnya. Merapal rentetan kalimat bersifat keluhan macam orang kesetanan.
"Selamat pagi?"
Masih tidak dianggap.
Menelengkan kepala, Kuroko mencongkel bahunya, "Permisi?"
"Wuaaa!"
Sudah biasa.
Pria berambut merah-hitam melompat mundur sampai terantuk dinding. Kuroko bersimpati dalam hati atas kebodohan orang itu—juga tanggap-refleksnya yang mengagumkan.
"Doumo," sahut pemuda yang lebih mungil, membungkuk singkat.
"Si-Siapa kau?! Sejak kapan kau ada di sana?!"
Usai menegakkan badan, Kuroko memandang datar. "Tetsuya Kuroko. Kau terlihat kebingungan, ada yang bisa kubantu?"
Tarikan napas panjang, ransel dilempar menggantung ke belakang punggung. "Aku Taiga Kagami, salam kenal. Sebenarnya pulpenku ketinggalan, katanya harus mencatat apalah itu nanti di seminar."
Ada lega yang menyalip dada. Senang mendapatkan kawan satu tujuan. "Kagami-kun peserta orientasi juga?"
Manik merah gelap membola, "Kau juga?"
Kuroko mengangguk.
"Bagus! Apa kau..." Helaian marun digaruk rancu. Kagami malu-malu. "... punya pulpen lebih? Boleh aku pinjam?"
Kuroko merogoh tas. "Bisa-bisanya Kagami-kun tidak bawa alat tulis."
"Mau bagaimana lagi... aku tadi buru-buru," gumamnya sambil membuang tatap.
Setelah merelakan sebuah bolpoin bertinta hitam, mereka berjalan menyusuri koridor. Tujuannya sama, ruang auditorium megah untuk mengikuti jadwal utama orientasi hari kedua.
Keduanya duduk bersebelahan di jajaran kursi menengah. Tidak lama setelahnya MC menuntun jalannya acara. Keduanya—dari awal—sama-sama tidak fokus pada materi yang disampaikan. Meski mata menumbuk arah depan, isi kepala melanglang buana entah ke mana.
"Hei, Kuroko."
Si Biru muda menoleh. "Hm?"
"Kau mau ikut kegiatan apa?"
Kuroko berdehem sambil mengusap dagu lamat-lamat. "Aku suka basket. Orang yang sangat kukenal—Mayuzumi—juga ada di sana, pasti aku bakal ditarik ikut. Selain itu aku juga tertarik dengan perpustakaan. Kalau Kagami-kun?"
Pemuda beralis unik itu menggaruk pelipis, "Perpustakaan, ya? Aku sudah niat ikut basket sih." Tinju kanan dijatuhkan vertikal di atas telapak yang terbuka. "Yosh, ayo kita daftar sekarang!"
Kepala bermahkota teal menggeleng, "Tidak sekarang. Seminarnya masih berlangsung, kan? Kagami-kun kebanyakan bengong."
Kagami mencibir. Iris marun mengikuti sosok peserta orientasi yang berjalan ke pintu keluar. Dari gelagatnya, bisa ditebak izin macam apa yang ia berikan.
"Itu dia! Kita pura-pura ke toilet!"
"Kagami-kun kalau mau kabur jangan teriak-teriak." Kuroko menggumam monoton. Pandangnya refleks melirik ke arah panitia di ujung ruangan.
Panitia.
Surai teal berputar, biru bening mencari sesosok senior yang ditemuinya kemarin. Panitia orientasi berambut kuning yang membawanya kabur dari kewajiban, dengan modus traktiran di kafetaria.
"Ada apa? Ayo pergi."
Ryouta Kise.
Sosok itu masih dalam pencarian iris aqua hingga mereka meninggalkan ruangan.
"Hei, Kuroko! Cepatlah!"
Teman seangkatan pertama, kalau ditolak kan tidak baik. Apalagi Tetsuya Kuroko dari kemarin memang sudah absen dari kegiatan orientasi. Kuroko memang tidak berminat. Daripada ketiduran, lebih baik keluar mencari kegiatan.
Keduanya membungkuk melewati tempat duduk peserta lain. Kaki dipacu lebih cepat menyongsong pintu ke luar. Disambut oleh sepasang panitia, dan Kagami melancarkan taktik 'toilet'-nya tanpa cela.
"Berdua?"
"So-Soalnya aku tidak tahu di mana toiletnya! Jadi aku mengajak teman!" Kagami beralibi patah-patah.
Satu tatapan penuh curiga, kemudian mereka dilepaskan.
Atas dasar ajakan Kagami, Kuroko berat hati meninggalkan ruang seminar. Menyusuri jalanan, melewati dua fakultas, menuju gymnasium yang mengurai jarak tiga ratus meter di depan sana.
"Gym-nya besar lho!" sahut Kagami antusias sambil meninju udara.
"Kagami-kun sudah pernah masuk?"
"Tadi sebelum ke seminar, aku sempat menjelajah."
Kuroko mengangguk paham. Berhubung Kagami sudah tahu letaknya, Kuroko tidak jadi mengontak si Kakak guna meminta pengarahan. Ia membuntut saja. Berjalan bersisian, mengabaikan tatapan curiga kakak tingkat yang melihat mereka berkeliaran di jam tidak seharusnya.
Tetsuya Kuroko membisu sesaat. Mereka melintasi tempat terjadinya tragedi gunting bahaya. Pohon besar beralas rerumputan hijau muda. Bahkan semilir anginnya masih sama, mengingatkannya akan satu nama.
Akashi.
"Lihat, besar kan!"
Kuroko mendongak, menatap sebuah gedung bertingkat dengan atap setengah bundaran. Memang benar kata Kagami, besar. Selevel dengan perguruan tinggi elit tempat mereka menimba ilmu, Vorpal S.
Double door didorong, Kagami menyerukan sapa. "Se-Selamat pagi!"
Kuroko di samping ikut bersuara, "Selamat pagi."
Lapangan indoor diisi oleh riuh aktivitas para pemain basket yang tidak Kuroko kenal. Kagami menuntunnya masuk lebih dalam, memindai seluruh penjuru ruangan, mencari-cari siapa tahu ada sosok yang bisa dimintai keterangan.
Kuroko ikut menelusuri tiap jengkal area pandang. Berusaha menemukan sosok yang barangkali ia kenal. Mata birunya kontan berpendar saat menangkap kelebat abu yang familiar.
"Mayuzumi-sen—"
"Tetsu-kun!"
Niatnya ingin berseru, Kuroko malah disumpal duluan oleh penampakan montok seorang gadis merah jambu.
"Mo-Momoi-san?" Kuroko berusaha menggapai udara di antara himpitan surga yang diirikan oleh kebanyakan pria. Sayang pangeran bungsu Seirin itu agak menyimpang di kepala, hal seperti ini pun sudah biasa, tidak akan membuatnya terlena.
Sementara itu, Kagami beku melihat teman barunya dibekap gadis cantik yang sejak tadi nyerocos ceria.
"Oi, Satsuki! Lepaskan Tetsu, lihat wajahnya biru tuh."
Teddy bear bersurai pinky itu ditarik lembut agar menjauh. Kuroko segera meraup oksigen dengan rakus. Fokusnya diangkat untuk mendapati raut sombong milik seorang pemuda berkulit remang yang jadi penolong.
"Terima kasih, Aomine-kun."
"Sama-sama." Pemuda bersurai biru gelap itu meringkas ekspresinya jadi cengiran lebar. Siku ditumpukan pada gadis bernama Satsuki Momoi yang menggembungkan pipi di bawahnya. Tangan lainnya mengacak helaian teal dalam usil dan sedikit sayang.
"Aku senang akhirnya kau bisa keluar rumah juga. Kupikir kau akan home-schooling seumur hidup," lanjut si dim. Tidak peduli dengan protes dua pemilik warna terang—pink dan baby blue—yang merupakan korban kejahilannya.
Kuroko melepas kekeh singkat. "Itu semua juga berkat Aomine-kun dan Momoi-san yang membantuku meyakinkan Okaa-sama untuk diizinkan kuliah di sini."
"Ano..." Merasa disisihkan, Kagami minta perhatian. "Sepertinya kalian sudah saling kenal, ya?" Tengkuk diusap-usap sebagai objek penyalur nerfes.
"Ah, aku lupa. Kagami-kun, perkenalkan mereka adalah Daiki Aomine dan Satsuki Momoi. Keduanya temanku sejak kecil." Kuroko berbalik. "Momoi-san, Aomine-kun. Ini Kagami Taiga. Dia mahasiswa baru sama sepertiku."
"Salam kenal, Kagamin!"
Jika Momoi segera mengakrabkan diri dalam sifat ceria, Aomine justru berusaha melucuti Kagami lewat pandangan semata. Seolah menemukan mangsa, orb biru kobalt naik turun memindai badan bongsor yang lebih pendek dua senti.
Cengir asimetris yang sarat hina terbit di wajah si Pria eksotis. "Oi, BaKagami. Kau main basket juga?"
Seolah bisa mencium gelagat menantang, Kagami ikut berkobar. "Memang kau pikir untuk apa aku kemari, Ahomine?!"
Dan detik berikutnya, kedua pemuda bersurai gradasi tersebut sudah adu kemampuan, one-on-one di satu sisi lapangan.
"Sepertinya Dai-chan sudah mendapatkan lawan yang ia inginkan." Dari court, sorot merah muda beralih pada biru pucat di sisinya. "Tetsu-kun pasti kemari untuk mendaftar klub, kan?"
Diselingi senyum tipis, Kuroko mengangguk pelan.
"Taraaa!" Entah dari mana, Momoi menarik selembar fomulir dari balik udara kosong. Gadis pink itu mengurai senyum, menyodorkan benda di tangannya. "Aku menebak Tetsu-kun akan ikut klub basket, jadi aku sudah mengisi formulir pendaftaran untuk Tetsu-kun."
"Terima kasih banyak, Momoi-san." Kuroko mengamati kertas persyaratan yang telah diisi dengan profilnya. Tidak ada satu pun informasi yang meleset. Dari tinggi badan, berat, ukuran jersey, bahkan motivasinya memasuki klub.
Semuanya benar seratus persen tanpa kesalahan. Seperti biasa, kemampuan informasi kawan perempuannya ini memang di atas standar wajar.
"Tentu saja. Kan aku calon istrinya Tetsu-kun."
Adalah jawaban Momoi saat ditanya. Mungkin permainan Papa-Mama semasa kecil masih meninggalkan kesan yang mendalam pada benak gadis itu. Atau mungkin, desas-desus bahwa putri tunggal keluarga bangsawan Momoi adalah ahli menjaring data bukan kabar burung semata.
.
.
"Kuroko?"
Suara khas, Kuroko langsung menoleh tanpa bangkit dari posisi duduknya. "Mayuzumi-senpai?"
Pria bersurai kelabu bergegas menghampiri. Kaus merahnya dilapisi rompi abu-abu, yang mendampingi adalah celana pendek selutut. Setelan kelewat sederhana yang jarang ia lihat di istana.
"Orientasinya belum selesai, kan?"
"Belum. Aku dipaksa Kagami-kun ke sini."
Merasa disalahkan, Kagami langsung menyembur. "He-Hei! Kita sepakat, kan?!"
Kuroko mendongak, "Kagami-kun, ini kenalanku, Chihiro Mayuzumi. Chihi—maksudku, Mayuzumi-senpai, ini temanku Kagami-kun."
Sementara Kagami membungkuk hormat atas dasar junioritas, Mayuzumi mendelik tajam.
"Kami mau ikut basket," tambah Kuroko. Secarik kertas hadiah dari Momoi diserahkan. Kagami ngedumel iri. Tanpa bantuan, bolpoinnya masih bersinggung di atas kertas pendaftaran.
Mayuzumi menerima formulir adiknya, lantas mengedar pandang. "Hmm... bukan tugasku mengurus kouhai. Tapi ada kapten baru yang punya tugas ini. Tunggu sebentar, biar kupanggilkan."
"Tadi kami sudah bilang juga ke Momoi-san, dia sudah mencatatnya. Tinggal menyerahkan formulir saja katanya."
"Oh, bagus. Kalau begitu tidak usah bilang dia lagi." Mayuzumi angkat bahu dengan aksen malas yang menggebu.
Satu alis cabang terangkat, "Dia?"
Mayuzumi memandang adiknya sejenak. "Yang kemarin."
Kagami mendengus pelan, merasa tersingkirkan. Kawan barunya itu sudah seperti mahasiswa veteran yang menjalin koneksi sana-sini. Terlalu banyak yang Kuroko kenal di hari kedua kuliah.
Biru muda menatap lurus dengan emosi tawar. "Siapa, Mayuzumi-senpai?"
Dalam hati berharap, seseorang yang dikenalnya.
"Chihiro, satu jam lagi kunjungan peserta orientasi—"
Kalimat yang terputus disebabkan oleh tubrukan antara bening sewarna langit cerah dan permata dua warna, merah-jingga. Waktu seolah melambat, berhenti sesaat lalu kembali bergulir.
Si pendatang melanjutkan perkataannya, "—segera kembali ke tempat dan siapkan semuanya."
Mayuzumi mendengus, "Jangan memerintahku."
Kuroko mengangkat dagu, "Chihiro-nii..." Masih terkejut, lagi-lagi lidahnya tergelincir memanggil nama kakaknya.
Manik kelabu menatap intens sebelum akhirnya menoleh ke pemuda merah yang mampir ke tempat. "Ini orang yang bertemu denganmu kemarin kan, Kuroko?"
Tidak mau memandang, Kuroko mengangguk saja.
"Hei, Akashi, sini."
Si Merah mengabsen langkah, bersisian dengan Chihiro Mayuzumi dan lurus memandang Biru muda di arah serongnya.
Kuroko membungkuk begitu sorot beda warna tertuju kepadanya. "Terima kasih sudah menolongku kemarin... Akashi-san?"
Ibu jari Mayuzumi terjulur ke lelaki lebih pendek di sebelah, "Namanya Seijuurou Akashi, dia kapten baru yang kubilang. Semester tiga. Dia setahun di atasmu."
Anggukan kecil diberikan. Kuroko mencatat dalam jaringan memorinya. Ingatkan dia untuk mengoreksi suffix panggilan jadi 'Akashi-senpai' karena pihak yang dimaksud ternyata setahun lebih tua.
Sebagai calon anggota tim, Taiga Kagami membungkuk sedikit walau sebenarnya tidak ingin. Saat tubuhnya merendah, ia melirik si kawan. "Hei, Kuroko, kemarin ada apa?"
Tapi pemuda baby blue sedang tidak niat menjawab bisikan lelaki di sampingnya.
Sudut bibir Akashi terangkat. "Apa kalian anggota tim baru?"
Kuroko menatap dengan ekspresi tak beriak andalannya. "Benar. Aku Tetsuya Kuroko, ini Taiga Kagami. Sebelumnya kami sudah mendaftar ke manajernya, Momoi-san."
Mayuzumi menyusul dengan menyerahkan berkas persyaratan milik adiknya, disusul Kagami yang terseok mengisi sisa pertanyaan.
"Kalau begitu sudah cukup," ujar si Lelaki merah seraya berbalik.
"Hei, kau! Ini belum selesai." Bahu kaku ditahan.
Seijuurou Akashi melirik tanpa minat. "Ada apa, Chihiro?"
Alis kelabu bertaut. "Tetsuya berterima kasih padamu tadi. Kau belum menjawabnya, sialan!"
Kembali si Merah memutar badan. Agak terpaksa dan ogah-ogahan, garis pandangnya diluruskan ke arah Kuroko. Tidak berkata. Menunggu lawan yang memulai bicara.
"Aku mengucapkan terima kasih karena Akashi-kun telah menolongku kemarin." Hanya ditanggpi deheman pendek. Set sebiru langit masih memaku heterokromia. "Bolehkah aku tahu, kenapa Akashi-kun berada di sana?"
Mayuzumi mendelik, tangannya sudah siap menahan kalau-kalau kouhai-nya itu pergi lagi.
Senyum tipis yang terkesan dingin dilontarkan. "Kau tidak berpikir bahwa aku sengaja ke sana hanya untuk menyelamatkanmu, kan?"
"Oi, Akashi!"
Mayuzumi berang. Kuroko tidak sekalipun menggeser rautnya yang nihil sirat emosi.
"Asal kau tahu saja, jalan pulangku lewat sana. Kebetulan aku mampir ke toko buku untuk membeli kamus bahasa. Kau bisa mengecek mata studi kuliahku kalau tidak percaya."
Mayuzumi mendecak sebal. Akhirnya ini kouhai mau jujur setelah sekian lama ia bertanya.
Kuroko terdiam. Tidak menemui adanya kejanggalan dalam alibi. Namun insting berkata untuk tidak lekas percaya. Sesuatu terasa berbeda.
"Begitu kah?" Kembali membungkuk. Menyembunyikan kernyitan keras yang menggantung pada ekspresi datarnya, Kuroko datar berucap, "sekali lagi, terima kasih karena sudah menolongku dari teror kemarin."
"Terserah." Atensi sang Kapten digeser pada Mayuzumi yang masih mengepul. "Oi, Chihiro. Di mana Shintarou dan Ryouta?"
"Mana aku tahu. Kalau kau yang Kapten saja tidak tahu, apalagi aku."
Bengis picingan Akashi semakin berlipat ganda. Mayuzumi tidak gentar, dengan wajah tenang berdiri tegak menantang pandangan merendahkan dari kaptennya.
Gadis peach sontak menghampiri lingkaran kecil. "Maaf, Akashi-kun... Midorin barusan mengirimkan email padaku. Katanya dia ada urusan hari ini..."
Kini giliran Momoi yang menjadi sasaran dari sorot panas sepasang mata berwarna ganda. Gadis itu bukan Mayuzumi atau Kuroko yang memiliki penangkal ampuh berupa raut tembok. Ketakutan menyedot rona peachy di pipinya. Momoi memucat di bawah death-glare Akashi.
"Kalau memang benar begitu, mengapa Shintarou tidak meminta izin langsung kepadaku?"
"Ma-Maaf, Akashi-kun. Aku—" Bibir berpoles lipgloss bening mulai dikulum. Momoi gugup. Penolongnya datang dalam wujud Daiki Aomine yang tidak takut menyulut percekcokan dengan sang kapten.
"Oi, Akashi. ini bukan salah Satsuki!" Sudut pelipis Aomine menonjolkan urat. Pemuda itu dibakar amarah.
Akashi mendecih. Direksi sepatu putih bergaris biru terang memutar arah. Manik aqua menangkap langkah pemuda itu menjauh dari sudut pandang. Terdengar omelan kakaknya di depan, nafas bergetar milik Momoi dan serapah Aomine.
Tapi Kuroko masih membungkuk ojigi, belum mengangkat badan.
"Kuroko."
Panggilan Kagami lah yang menariknya bangun.
Alis cabang bertaut, "Teror apa yang tadi kau bicarakan?"
"Kagami-kun tidak tahu? Tidak nonton berita? Apakah otakmu tidak sanggup memproses tayangan berat, sarat wawasan seperti itu?"
"Kuroko temee! Sialan kau—"
Mengabaikan umpatan Kagami, Kuroko menjawab, "Kemarin ada teroris di Seiho. Bukan masalah besar."
"Hah? Teroris?!" Kagami terlonjak. Sontak merenggut kedua bahu Kuroko dan mengguncangnya perlahan. "Bukan masalah besar gimana?! Kau terlibat kan? Kau... kau bagaimana?! Te-Terluka?!"
"Aku baik-baik saja."
Punggung tegap yang berjalan menjauh tidak lagi menarik untuk dipandang. Sesaat Tetsuya Kuroko merasa tertarik. Sosok yang ingin dibalas budinya, yang ia harapkan berbeda dengan apa yang pertama ia temui, justru berbanding terbalik dengan ekspektasinya.
Seburuk apapun perangai Seijuurou Akashi, Tetsuya Kuroko tetap berhutang kebaikan.
Mungkin lain kali.
"Hei, Kuroko. Kau dengar aku tidak, sih?"
Jari bongsor di bahunya mencengkeram lebih erat. Kagami mulai lelah karena terus diabaikan.
.
.
Viper biru menepi ke arahnya. Kaca hitam diturunkan, supir menyuruhnya masuk segera. Pintu dibuka dari dalam, Kuroko lantas mendaratkan bokong di jok empuk. Jarinya langsung terarah ke dasbor, mengatur temperatur mesin pendingin yang langsung menyembur ke wajahnya.
Mayuzumi mendengus, "Jangan terlalu rendah, Tetsuya."
Tidak memedulikan protes si Supir, Kuroko menyandarkan tubuh.
"Ada apa, sih? Perasaan di luar tidak panas," Mayuzumi mengumbar tanya sambil membawa mobilnya keluar area kampus.
"Entahlah. Tiba-tiba aku gerah."
"Tapi kau belum ada pemanasan atau apa di gym tadi, kan."
"Aku tidak tahu." Kerah kemeja dikibas pelan. Kuroko masih minta lebih sekalipun wajahnya mulai memucat ditiupi angin ber-freon. "Chihiro-nii, apa AC-nya masih bisa lebih dingin?"
"Bisa lah, mobilku kan canggih." Jari kurus yang menjulur ke arah sistem pengaturan AC dicegat satu tangan. Mayuzumi menyipitkan mata, "Tapi tidak kuizinkan, Tetsuya. Kau bisa menggigil."
"Aku kuat kok."
Mayuzumi mendengus pelan. "Pasti karena dia?"
"Dia siapa?" tanya Kuroko, menawarkan emosi datar.
Mayuzumi jelas tahu adiknya menyembunyikan sesuatu. "AC-nya dingin sekali, begitu juga dengan sikap Akashi Seijuurou padamu." Kalimat yang mengandung sindiran.
Kuroko melirik kakaknya singkat, lantas menggulir mata. Memangku tangan di kaca jendela. Memandangi jajaran pejalan kaki yang berlalu cepat. Mencari pengalihan untuk menggeser topik pembicaraan.
"Rute mana yang akan kita ambil, Chihiro-nii?"
Pemuda yang lebih tua menghela nafas. Menuruti mau adiknya untuk tidak menggali lebih jauh. "Yang rumit. Kita bakal terlambat sepuluh menit sampai rumah."
"Apa kemarin kita benar-benar dibuntuti, Chihiro-nii?"
"Entah, aku masih tidak percaya pada Akashi."
Kuroko melirik. Adu tatap dengan bayangan buram kakaknya di atas kaca. "Chihiro-nii sudah lama kenal Akashi-senpai?"
"Hm, begitulah. Dia satu tingkat di bawahku, kouhai di tim basket. Tapi tetap saja, aku tidak suka padanya."
Kali ini kepala teal menoleh sepenuhnya. "Kenapa?"
"Dia mengejek heroine-ku. Dasar tidak tahu seni."
Kuroko terdiam. Mengamati, membaca mimik kakaknya. Berusaha menyusuri adanya kilas kebohongan yang hinggap pada sepasang iris abu-abu. "Kukira apa." Bosan seketika.
"Intinya dia menganggu, aku tidak suka. Apalagi sifat kakunya itu."
"Chihiro-nii juga kaku, kurasa."
"Aku beda. Akashi itu sok mutlak, absolut lah, kouhai kurang ajar."
Kuroko memandang sejenak. Jarang sekali kakaknya mengomel tentang orang lain—kecuali dua pangeran di atasnya. Momen langka yang ditangkap memorinya. Chihiro-nii yang seekspresif batu itu bisa emosional dan marah-marah saat mengungkit soerang Seijuurou Akashi.
Menarik.
"Apa hanya karena itu, lantas Chihiro-nii melabelinya dengan status 'bahaya'?"
"Aku serius. Jangan dekat-dekat denganya, Tetsuya."
Sebuah peringatan.
Tapi diterima dengan maksud terbalik oleh pencerna informasi.
Kuroko lurus menatap jalan. "Aku masih berhutang budi padanya, Chihiro-nii. Setidaknya sampai aku bisa membalas kebaikannya, aku akan terus mendekatinya."
Sebenarnya Akashi itu bahaya, jelas dari pertemuan pertama mereka. Tapi hati kecil menolak kenyataan. Entah karena apa.
Stir kemudi diremat lalu diputar keras. Ada emosi yang tersalur ke objek pegangan. "Pokoknya aku tidak mau kalau kau sampai terlibat jauh dengannya."
"Chihiro-nii terlalu khawatir. Lagi pula aku tidak mengenal Akashi-senpai sebaik Chihiro-nii."
Ada makna tertentu dari kalimatnya barusan.
Pedal gas diinjak, "Ya sudahlah. Nanti malam orang dari Yosen datang."
"Oh, tunangannya Tatsuya-nii?"
"Ya. Katanya mau dinner di rumah."
"Begitu, ya. Aku belum pernah bertemu dengannya. Shuuzo-nii tidak ikut?"
"Tidak. Dia kan masih di Distrik Delapan. Mengurus penyerahan wewenang, ini-itu, entahlah."
"Masih di Kaijou, maksud Chihiro-nii?" Koreksi dari Kuroko tidak mendapatkan respon selain garis bibir sang kakak yang mengatup rapat.
Kuroko menatap deretan pohon di balik kaca, memikirkan tentang tugas keluarga kerajaan. Tahun depan Chihiro Mayuzumi menginjak dua puluh tahun, waktunya dipublikasikan sebagai pangeran ketiga. Namanya akan dielu-elukan sebagai Chihiro Mayuzumi von Seirin.
Otomatis, keberadaan mereka harus dipisah. Dijauhkan. Tidak boleh bersama.
Tidak masalah untuk Tetsuya Kuroko, sebenarnya. Paling-paling hanya sepi karena tidak bisa punya lebih banyak waktu untuk kumpul bersama. Masih untung kemarin mereka lengkap saat sarapan. Tapi kandas satu orang di waktu makan malam.
Kuroko sendiri, tidak ingin menikmati makan sendirian lantaran keluarganya sibuk mengurus kerajaan. Namun apa boleh buat, ia memang hidup di situasi yang jauh dari sebutan keluarga bahagia.
"Ayo turun."
Mereka sudah sampai di halaman istana. Mayuzumi melempar kunci ke seorang pengawal, memberi perintah singkat agar mobilnya diparkir di garasi istana.
Begitu melewati pintu utama, kedua bersaudara itu diarahkan oleh seorang pelayan. Katanya, Tatsuya Himuro, si kakak kedua telah menunggu di ruang tengah bersama tamunya.
Mayuzumi enggan terburu-buru karena sudah pernah bertemu. Memilih menghabiskan sisa waktu dengan kegiatan berbenah diri atau tiduran sebelum makan malam. Kuroko berbeda. Dibakar rasa penasaran, ia bergegas menghampiri sisi istana di mana Himuro berada. Ingin segera melihat perwujudan dari bakal pendamping kakaknya kelak.
Sampai di hadapan pintu berdaun kembar, Kuroko terdiam sejenak. Mempersiapkan diri. Berharap tidak akan meninggalkan kesan pertama yang buruk pada calon kakak ipar di masa depan.
Menghela nafas panjang, Kuroko lekat memelototi handle pintu bersepuh platina.
Jari-jari terulur. Menggapai, lalu melingkar.
Kuroko tersentak. Kalimat di atas bukan untuk menggambarkan aksinya yang meraih pegangan pintu. Namun untuk sebuah telapak besar yang mendarat di belakang lehernya, mengancam akan meremat pipa pernapasannya.
"Hee... Kecil sekali. Ini siapanya Muro-chin?" Tangan raksasa mengeratkan jeratannya. Kuroko tercekat. Hanya sempat menangkap sekelebat helaian ungu sebelum mendengar,
"... Sepertinya asik untuk dihancurkan~"
.
.
To be Continue
.
.
A/N:
Q1: Ibundanya Kuroko tokoh OC ya? Kayaknya Kuroko dan para Anikinya gak suka pas ibunya bilang kalo berhasil menguasai Kaijou, ya? Kenapa? Terus, Kise juga marah pas liat iklan tentang Kaijou? Kenapa? Apa Kisedai nanti jadi pemberontak? Jadi Raja di Seirin gak ada ya? Yang ngatur Kerajaan ibunya Kuroko aja? (3nd4h)
A: Ibu Kuroko adalah OC karena tidak ada sumber yang pernah menjelaskan secara rinci (nama/sikap) ibunya di canon. Kuroko sejak awal tidak suka aksi penindasan yang dilakukan oleh Seirin. Kakaknya yang lain punya alasan yang berbeda. Tentang Kise dan Kisedai, akan diulas sedikit demi sedikit nantinya. Seirin tidak memiliki Raja dan kekuasaan tertinggi terletak di tangan Ratu-nya.
Q2: Kise itu, apa dia pangeran dari Kerajaan Kaijou? Dan yang lain juga Pangeran? (Oranyellow-chan)
A:Kise akan dibahas nantinya. Yang lain (Kisedai) memiliki peran tersendiri namun status sosial mereka masih rahasia sampai nanti diulas.
Q3: Settingnya modern Kingdom, apa itu artinya bakal ada rebellion dan semcamnya? Apa Kuroko akan bermusuhan dengan para seme-nya nanti? (Furi Shirogane)
A: Setting yang digunakan memang modern Kingdom. Chapter ini sudah mengulas salah satu bentuk pemberontakannya. Ada beberapa dari seme Kuroko yang memang akan bersengketa dengannya.
Q4: Seijuurou jadi pemberontak kah? Begitu juga dengan Kise? Tatsuya sudah bertunangan disebut, sama Atsushi kan? (Sarayena)
A: Akashi dan Kise masing-masing akan berperan dalam permberontakan. Hal tersebut akan dijelaskan nanti. Tunangan Himuro sudah muncul sedikit di akhir chapter ini.
Terima kasih sangat kepada reviewer,
Nyanko Kawaii, Keita Ritsu, Orzz, Flow Love, 3nda4h, siucchi, ichigostrawberry-nyan, Oranyellow-chan, hanyo4, Reepetra, chii, yuki-kun, oohshit, Gimmemore, puding rendah lemak, Jeapens, Furi Shirogane, Seijuurou Eisha, sarayena, MaknaEXO, Noir-Alvare, AKMKAMGOM dan EmperorVer.
Juga pada semua yang telah mem-fav dan foll, rasa terima kasih saja takkan bisa menggambarkan kebahagiaan shiuferz saat ini. XD
Tadinya mau diapdet pas Akashi ultah, tapi... :'))) Yaudah yang penting Happy Birthday Akashi Seijuurou. Makin akur sama ehemnya ya.
Maafkan keterlambatannya. Next nggak lagi deh ya... :'D
Terima kasih sudah membaca xD
