Konichiwa, minna-san..
This the first chapter of the story..
So..
Read, and please enjoy..
Natsu and Lucy
Summary: Sebuah cerita antara Natsu dan Lucy
Disclaimer: Hiro Mashima
Chap 1
Sudah tiga tahun berjalan sejak Lucy menjadi kekasih Natsu. Seluruh mage Fairy Tail mendukung hubungan mereka, termasuk Lisanna. Bahkan kini, Lisanna menjadi salah satu sahabat Lucy, selain Levy, Erza dan Mirajane. Lisanna sudah bisa menerima fakta, dan kini kabarnya, ia tengah dekat dengan seorang mage.
Tapi, di pagi ini, Lucy tidak seceria biasanya. Kedua orangtuanya, Jude Heartfilia dan Layla Heartfilia mengiriminya sepucuk surat, dan Lucy tidak menyukai isi suratnya.
"Haaah..." Lucy menghela nafas.
"Ada apa Lucy?" tanya Mirajane.
"Masalah Natsu?" sambung Levy.
Lucy menggeleng. "Bukan." ujarnya lirih.
"Lalu?" tanya Mirajane.
Lucy menempelkan dagunya di atas meja bar, dan menghela nafas lagi.
"Aku tidak ingin pulang." ujarnya pelan.
Levy dan Mirajane yang mendengar ucapan Lucy, menaikkan alis mereka dengan bingung.
"Pulang? Kau harus pulang?" tanya Levy.
Lucy menggeleng. "Aku tidak mau pulang." ulangnya.
Levy dan Mirajane hanya menatap Lucy dengan bingung.
"Hei, Lucy!" panggil Erza.
"Ya?" sahut Lucy tanpa menoleh.
"Ayo, kita bekerja!" ajak Erza.
Lucy mengangkat kepalanya dan menghela nafas sekali lagi, sebelum ia berdiri dan berjalan menuju teman-temannya.
"Luce? Kau kenapa?" tanya Natsu khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Natsu." ujar Lucy sambil tersenyum.
Natsu hanya diam, sebelum ia menudingkan jarinya ke wajah Lucy. "Kau berbohong." ujarnya mantap.
Lucy mengerjap-ngerjapkan mata dengan bingung. "Aku tidak berbohong. Kenapa kau bisa bilang aku berbohong?" tanya Lucy.
Natsu menatap Lucy dan tersenyum. "Aku sudah menjadi kekasihmu selama 3 tahun, Luce. Aku tahu semua tentang reaksi dan gelagatmu. Dan dari ekspresi wajahmu ketika kau menjawabku, aku tahu bahwa kau berbohong." ujar Natsu.
Sontak, wajah Lucy memerah dan ia tersenyum. "Aku sungguh baik-baik saja." ujarnya.
Natsu pun hanya mampu mengangguk, walaupun ia meragukan jawaban Lucy.
XXX
"Buka, gerbang kalajengking! Scorpio!" seru Lucy.
"Yeah, we are! Apa yang bisa kubantu kali ini, Lucy?" tanya Scorpio.
"Scorpio! Habisi lawan itu!" ujar Lucy.
"Oke!" seru Scorpio, dan ia pun menghabisi lawan itu.
"Kerja bagus, kawan-kawan!" ujar Erza.
"Tapi kurasa reward kita akan dipotong untuk perbaikan. Kita memang menghabisi para pencurinya, tapi kita juga menghancurkan setengah kota." ujar Happy polos.
"Apa?" pekik Lucy. Ia pun segera memandang ke sekelilingnya dan menyadari bahwa mereka MEMANG menghancurkan setengah kota. "Bagaimana aku bisa membayar uang sewaku bulan ini? Boohhoooo..." tangis Lucy.
Natsu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Gray hanya menunduk lesu, dan Erza diam. Hanya Happy yang dengan gigih menghibur Lucy.
"Tenang saja, Lucy. Pasti ada jalan keluar." hibur Happy berulang-ulang.
"Kenapa kau tidak meminta uang dari keluargamu saja, Lucy?" tanya Gray.
Seketika itu juga, tangis Lucy berhenti, dan berganti dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Lucy menunduk, dan ia menggigit bibirnya.
"Luce?" panggil Natsu.
"Aku tidak mau pulang." ujar Lucy.
"Hah?" Gray bertanya bingung.
"Aku tidak mau pulang!" seru Lucy dan berlari pergi.
"Hei, Luce!" seru Natsu sambil berlari mengejar Lucy.
XXX
"Dimana dia?" ujar Natsu sambil terengah-engah. "Cepat sekali larinya." lanjutnya sambil mengelap peluhnya yang menetes dengan punggung tangan.
Natsu pun akhirnya berlari lagi, sambil berseru memanggil nama Lucy.
"Luceeee! Luceeee! Luuuuccceeeee!" seru Natsu berulang-ulang, yang pada akhirnya tidak menghasilkan apapun.
"Hei, Lucyyyyy!" akhirnya Natsu berteriak lebih keras lagi. Namun tetap, tidak ada jawaban.
Natsu mengingat-ingat dimana kira-kira ia bisa menemukan Lucy. Lucy memiliki banyak tempat favorit, dan semua tempat favorit yang Natsu tahu telah ia sambangi, dengan harapan akan menemukan Lucy disana. Tapi, tetap saja hasilnya nihil.
Bahkan Natsu sudah mencari di seluruh kamar apartemen Lucy. Biasanya, kamar Lucy adalah tempat favoritnya. Tapi, Lucy bahkan tidak ada disana.
Natsu berhenti berlari dan mengatur nafasnya sejenak. Selama 3 tahun menjalin hubungan, ini pertama kalinya Lucy bertingkah seperti ini. Natsu pun bertanya-tanya dalam hatinya. Tadi, ketika Gray memberikan saran bagi Lucy untuk meminta uang pada keluarganya, raut wajah Lucy langsung berubah. Apakah Lucy sedang ada masalah lagi dengan keluarganya?
Natsu pernah bertemu dengan kedua orangtua Lucy sebelumnya. Ah, bukan bertemu. Lebih tepatnya melihat. Waktu itu, kedua orangtua Lucy datang ke guild dan mereka bilang, mereka hendak bertemu Lucy. Tapi, karena waktu itu Lucy sedang menjalankan misi dengan Erza, maka akhirnya kedua orangtua Lucy pamit pulang. Dan sejak saat itu, mereka tidak pernah datang lagi ke guild.
"Natsu?"
Natsu segera menoleh ke arah sumber suara. Dan ia melihat Lucy berdiri di belakangnya.
"Luce!" seru Natsu sambil berlari menghampiri Lucy.
"Apa yang kau lakukan sampai berkeringat begini?" tanya Lucy.
Natsu tersenyum. "Aku mencarimu." jawabnya. "Dimana kau tadi?"
"Aku mampir sebentar ke kamar Levy di asrama." jawab Lucy.
"Kenapa kau mendadak lari?" tanya Natsu.
Lucy tidak menjawab pertanyaan Natsu, melainkan menundukkan kepala. "Aku.. Aku.. Aku tidak ingin pulang." ujar Lucy.
"Kenapa pula kau harus pulang?" tanya Natsu.
"Aku.. Ah, untuk apa memikirkan semua ini. Kita kembali ke guild saja, yuk!" ajak Lucy sambil tersenyum.
Ia pun menggandeng tangan Natsu dan berjalan dengan kekasihnya itu kembali ke Fairy Tail. Natsu hanya bisa menatap Lucy dengan tatapan bingung, sementara Lucy hanya bisa diam.
"Aku.. Tidak ingin pulang. Aku.. Ingin berada di Fairy Tail bersama semuanya. Bersama Natsu." batin Lucy.
Horeee...!
Selesaii..!
Rada aneh, yak?
Oh, well..
Review please?
Oh, iya! Di cerita kali ini, Layla Heartfilia masih hidup. :D
