Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Rated: K+
Casts: Aomine Daiki | Akashi Seijuurou
First © Hidekazu
Sleeping together
.
I can't sleep.
.
Rangkaian kebetulan mempertemukan mereka berdua dalam sebuah kamar asrama sebuah universitas. Universitas sama dengan jurusan berbeda dimana angkatan tahun pertama diharuskan untuk tinggal di asrama universitas yang terletak dekat dengan kampus. Dua mahasiswa dalam satu kamar dengan tempat tidur bertingkat, kamar mandi dan dapur dalam di setiap kamar. Penghuni tiap kamar ditentukan melalui undian, tidak memandang jurusan, secara acak, dengan tujuan agar mahasiswa tingkat pertama tidak hanya mengenal mahasiswa sesama jurusan dan memperluas jaringan pertemanan mereka atau semacamnya.
Yang mana akan efektif jikalau kau dan teman sekamarmu tidak pernah mengenal satu sama lain. Yang mana hanya akan menjadi reuni jika kau dan teman sekamarmu adalah mantan teman satu tim di ekstrakurikuler basket SMP-mu dulu. Ditambah lagi bukan hanya sekedar teman satu tim, melainkan sang ace dan sang kapten. Meskipun toh hubungan mereka mungkin tidak sedekat sang ace dan bayangannya ataupun sang kapten dan wakilnya.
Depan papan pengumuman tempat daftar kamar dan nama penghuni asrama itu dari tadi selalu ramai. Karenanya begitu menemukan nama dan kamarnya, ia segera bergegas menuju ke sana. Aomine Daiki. Kamar lantai 4 bernomor 11. Ia tidak sempat melihat siapa nama teman sekamarnya, alasan utama yang membuatnya terkejut begitu mendapati teman sekamarnya adalah mantan kaptennya. Akashi Seijuurou.
"A..kashi?" Tanya Aomine ragu, seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Akashi menenteng kardus berisi pakaian, atau mungkin buku-bukunya.
"Lama tidak berjumpa, Aomine."
Aomine yakin ia tidak salah kamar dan juga yakin kalau seseorang berambut merah di depannya ini juga tidak mungkin salah kamar. Singkat kata, ia akan menghabiskan setahun pertamanya di universitas bersama Akashi, atau dengan kata lain, sekamar dengan Akashi selama setahun.
.
Bulan bersinar terang malam ini, terlihat dari sinarnya yang menembus tirai kamar mereka. Lampu kamar telah dimatikan dan yang terdengar hanya pergerakan jarum jam meja yang berdetak secara pasti menyatukan dua jarinya di angka 12. Setelah reuni singkat mereka pagi ini, masing-masing disibukkan dengan mengatur barang yang dibawa dari rumah di kamar mereka. Sampai acara perdebatan kecil untuk memutuskan siapa yang tidur di ranjang bawah dan ranjang atas –karena keduanya lebih suka tidur di ranjang bawah dan tidak ada yang mau mengalah, tentu saja. Yang berakhir dengan diputuskan oleh undian-.
Seharusnya setelah hari yang terasa melelahkan itu, Aomine akan langsung tertidur pulas, seperti biasanya. Seperti dulu setelah latihan atau pertandingan. Anehnya, malam ini ia merasa tidak tenang. Mungkinkah karena keberadaan lain di kamarnya saat ini? Aomine terbiasa tidur sendirian dan membayangkan bahwa ia akan melewatkan ratusan hari bersama Akashi membuatnya tidak bisa memejamkan mata. Entah mengapa rasanya berbeda dengan saat ia pertama kali tidur di kamar asrama Touou tiga tahun yang lalu ketika ia tidak ambil pusing dengan teman sekamarnya. Jadi, apakah karena Akashi?
Akashi bisa merasakannya. Bagaimana penghuni kasurnya bergerak gelisah di atas tempat tidurnya. Ia berniat untuk menunggu pergerakan Aomine terhenti sebelum memulai perjalanannya ke alam mimpi. Namun bukannya berhenti, pergerakan dan derit ranjang di atasnya kemudian berpindah ke satu sisi, disusul oleh langkah tertahan di tiap anak tangga kasur bertingkat mereka.
Aomine hanya melihat sekilas punggung kecil yang empunya menghadap tembok dan segera menuju dapur yang terletak di dekat pintu masuk. Menyalakan lampu hanya di bagian dapur, sebelum berkutat dengan kompor gas dan memasak air. Sesaat kemudian, begitu ketel berbunyi, Aomine bergegas mematikan kompor gasnya, tidak berniat untuk membangunkan teman sekamarnya, jika ia sudah tidur. Atau mungkin belum.
"Kalau kau belum tidur, aku ada coklat hangat, jika kau mau," ujar Aomine –tidak dengan berteriak, tentu saja. Tapi ia yakin Akashi bisa mendengarnya jika ia masih terjaga.
Begitu ia menyeduh bubuk coklat instan yang dibawanya dari rumah, ia bisa mendengar langkah kaki tumpul mendekatinya. Disusul dengan sosok Akashi Seijuurou yang memakai kemeja dan celana yang panjangnya hanya sampai melewati lutut. Tidak tampak sorot mata yang seperti baru saja baru tidur, mengantuk mungkin saja, karena tampak gurat lelah yang kentara jika Aomine memperhatikan dengan seksama.
"Tidak bisa tidur, tuan muda?" Menyodorkan gelas bergagang kepada Akashi sebelum menyeduh coklat hangat untuknya sendiri.
Pertanyaan retoris karena Akashi tidak menjawabnya, sepenuhnya mengabaikan panggilan 'tuan muda' yang ditujukan Aomine padanya. Hanya mengucapkan terima kasih sebelum berlalu dan menyalakan lampu ruangan kamar mereka. Duduk di atas kasurnya sendiri, ia menatap gelas berisi coklat panas yang baru saja diberikan Aomine padanya.
"Mungkin rasanya tidak seenak coklat hangat buatan rumahmu." Sedangkan Aomine sendiri duduk di atas karpet dengan menghadap meja kecil yang berada di ruangan yang sama.
Coklat hangat mengingatkan Akashi akan masa kecilnya. Bagaimana ibunya akan membuatkan coklat hangat saat ia tahu putra satu-satunya tidak bisa tidur di malam hari. Dilanjutkan dengan acara membaca buku dongeng untuk Seijuurou kecil dan kecupan di dahinya saat ia terlelap sebagai penutup. Akashi tersenyum tipis mengingat rangkaian memori yang tiba-tiba saja muncul hanya karena coklat hangat yang ada di genggamannya.
Kebiasaan yang sudah lama ia tinggalkan begitu Akashi beranjak dewasa dan ibunya tiada. "Tidak masalah," meniup permukaan gelas dan membawa bibir gelas menyentuh bibirnya, menyesapnya dengan hati-hati agar lidah sensitifnya tidak terluka.
Mungkin aku sudah mengantuk, batin Aomine saat ia melihat tatapan mata Akashi sedikit melembut saat menjauhkan gelas dari bibirnya, yang disusul dengan kata-kata, "aku menyukainya."
.
How about a glass of hot cocoa?
.
AN: Sesungguhnya karena satu dan lain hal, saya lupa publish chap ini (padahal uploadnya bareng sama chap pertama ehehee). Secara pribadi saya merasa ini OOC... atau mungkin karena sudah malaaaam dan mereka ngantuk ya /dibuang. Ngomong-ngomong, chapter ini terinspirasi dari salah satu adegan di anime Absolute Duo— ahaha~ Terima kasih kepada para pembaca yang telah mampir dan memberikan review~
