Ch. II
We aren't friends anymore?
.
.
Sesampainya di Jepang mereka melakukan syuting sampai malam hari, lalu kembali ke hotel. Saat Jisung membagikan kamar pada member lain, Woojin langsung menghampirinya. Biasanya Jihoon akan sekamar dengan Guanlin tapi kali ini Woojin meminta pada Jisung untuk sekamar dengan Jihoon. Jisung tak mau ambil pusing dengan rengekan tak biasa dari adik super enerjiknya itu dan membiarkan mereka satu kamar. Semoga saja mereka akur, pintanya dalam hati. Jihoon yang tak tahu menahu pun menuju kamar yang diberitahu Jisung, ia hanya bertiga dengan Jinyoung dan Minhyun di lift karena member lain minus Guanlin dan Woojin sudah turun di lantai yang berbeda. Ia tak melihat Woojin maupun Guanlin semenjak tiba di hotel, memang vannya sampai di hotel belakangan, jadi mungkin mereka sudah di kamar duluan, pikir Jihoon.
Sesampainya di kamar, Jihoon mendapati kamarnya kosong. Tak peduli dengan Guanlin yang biasanya menjadi teman sekamarnya belum datang juga, ia memilih untuk membersihkan diri sebelum istirahat.
20 menit sebelum Jihoon sampai hotel, Woojin mengajak Guanlin menemaninya. Alasanya sederhana, karena ia ingin Jihoon berpikir kalau Guanlin yang jadi teman sekamarnya seperti biasa. Dia sudah berpesan pada Jisung agar tak memberitahu Jihoon kalau Woojin lah yang jadi teman sekamarnya.
"Hyung kenapa mengajakku sih? Padahal aku ngga bisa bahasa jepang" keluh Guanlin yang diseret Woojin entah kemana. Lebih tepatnya mereka sedang mencari toko yang Woojin tuju. "Seenggaknya kita bisa dapat diskon kalau yang beli kamu lin" canda Woojin. Mereka pun sampai di toko boneka tak jauh dari hotel. Guanlin memutar bola matanya malas, mana mungkin cuma modal tampang bisa dapat diskon. Yah, kecuali si pemilik toko itu wannable maka itu lain cerita. Mereka mengitari toko untuk mencari boneka pinguin, usai Woojin membayar mereka lanjut pergi ke minimarket mencari cemilan untuk anggota lain. Tak terasa sudah satu jam berlalu ketika mereka pulang ke hotel. Woojin langsung menuju ke kamarnya setelah menitipkan kantung cemilan untuk member lain ke manajer. Ia tak melihat Jihoon disekeliling kamar tapi suara dari kamar mandi menjelaskan segalanya. Woojin menaruh cemilan di samping meja nakas dan menyembunyikan bonekanya dibawah ranjang. Dia sedang buka baju ketika Jihoon keluar dari kamar mandi dan menyapa tanpa melihatnya.
"oh guanlinah darimana aja?"
"beli cemilan.. " jawab Woojin. Jihoon mengernyitkan dahinya, kalau ia tak salah dengar barusan seperti suara Woojin. Ia pun langsung menengok ke arah sumber suara dan mendapati pemuda itu bertelanjang dada dekat ranjang.
"Ya! apa yang kau lakukan disini?" kaget Jihoon, ia mundur selangkah. Matanya tak lepas dari badan kekar pemuda itu. Oh Park Jihoon, kau mulai nakal.
"apa lagi? ya mandi lah..." jawab Woojin dan menghilang dibalik pintu kamar mandi meninggalkan Jihoon yang masih dalam keadaan syok.
Tunggu.. woojin mandi disini? maksudnya dia sekamar denganku?, batin Jihoon. Ia melihat sekitar dan mendapati koper Woojin diujung kamar dan mulai meringis lagi, liburan mereka di Jepang sepertinya akan menjadi liburan terberat untuknya. Kejadian di pesawat saja sudah membuat jantungnya tak terkontrol apalagi sekarang dia harus sekamar dengan Woojin. Tenanglah jihoon tenang... kau tinggal mengacuhkannya saja, monolog Jihoon dan memutuskan tidur lebih cepat dari biasanya hari itu selagi Woojin mandi. Untungnya kamar mereka double bed jadi Jihoon tak pusing memikirkan mereka bakal tidur di ranjang yang sama. Entah sudah berapa lama Jihoon mencoba masuk ke alam mimpi tapi tak kunjung sampai, pikiranya tak bisa tenang. Ia hanya memejamkan matanya berharap Woojin mengira ia sudah tidur. Suara pintu kamar mandi yang terbuka pun terdengar begitu jelas sekarang, indera pendengarannya jadi menajam. Ia bisa mengira Woojin sedang melakukan apa, seperti sekarang ia tebak Woojin sedang memakai baju. Ia bahkan sedang menebak pakaian apa yang Woojin kenakan, celana pendek dan kaus tanpa lengan tebaknya. Tiba-tiba ranjang Jihoon bergoyang dan dia bisa merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Demi pipi gembil Jaehwan, jangan bilang sekarang ini Woojin sedang memeluknya. Apa ia sedang mimpi sekarang? Apa sebenarnya dia sudah masuk ke alam mimpi daritadi? Tapi kehangatan ini terasa nyata, bukan hanya punggungnya yang terasa hangat tapi belakang lehernya juga. Jihoon bisa merasakan hembusan nafas seseorang dibelakang lehernya. Kalaupun ini mimpi, jangan bilang ia sedang mimpi erotis sekarang. Ia bersumpah akan kembali ke puncak Umeda Sky Building untuk terjun bebas kalau ini benar-benar mimpi erotis.
"Jihoonie, sudah tidur?" Jihoon bahkan mendengar suara Woojin sekarang.
"Aku sudah tahu jawaban untuk pertanyaanmu waktu itu Jihoonie" Oh mimpi ini rasanya akan jadi mimpi yang indah, pikir Jihoon.
"Aku ingin bilang saat kau bangun nanti tapi aku tak sabar jihoona" Jihoon mulai berpikir mimpi ini begitu nyata, seperti saat mereka berbicara di dunia nyata.
"I love you Jihoona.. this is my three magical words for you" bisik Woojin tepat disamping telinga Jihoon sebelum mengecup tengkuk pemuda itu. Meskipun berpikir itu mimpi, Jihoon langsung bangun untuk memastikan kalau yang didengarnya barusan itu dari Woojin dalam mimpinya.
"Oh.. kau belum tidur?" kaget Woojin melihat Jihoon yang menatapnya.
"Tunggu! ini bukan mimpi?" tanya Jihoon bingung setelah mendengar pertanyaan Woojin.
"hah? apa maksudmu Jihoonie?"
"beneran bukan mimpi ya? Ta- tapi.. tadi itu.. k-kau.." Jihoon tergagap. Ia bingung. Ini terlalu tiba-tiba. Ketidakmungkinan yang selama ini ia pikirkan malah jadi kenyataan. Kata yang selalu ia dambakan akan ditujukan padanya oleh orang yang paling ia inginkan kini betul-betul didengarnya.
Woojin menatapnya lembut, pemuda itu meraih jemari Jihoon. Ia ikut duduk dihadapan Jihoon.
"apa kau berharap ini mimpi jihoonie?" tanya Woojin dengan mimik kecewa.
"ngga!" sanggah Jihoon. "tapi kita sahabat woojinah.." cicit Jihoon. Ia menunduk, perasaannya campur aduk sekarang. Ia merasa sedang menggali lubang kuburnya sendiri. Padahal ia yang memiliki perasaan ini duluan pada sahabatnya tapi malah ia yang mengungkit ini sekarang. Benar-benar bodoh. Ia tahu sebagai sahabat ia tak boleh memiliki perasaan seperti ini kalau tak ingin persahabatan mereka rusak, tapi mendengar Woojin mengatakan itu membuatnya ingat akan persahabatan mereka selama ini. Sebagai sahabat Jihoon bisa tinggal di sisi Woojin sampai kapanpun tapi sebagai kekasih apa ia bisa selamanya tinggal di sisi Woojin? Kalau hubungan mereka berakhir bagaimana? Jihoon tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau ia tak bisa berada di sisi Woojin lagi.
"Kau tau jihoonie? Waktu paling membahagiakan untukku itu ketika bersamamu. Itu saat yang paling menyenangkan. Aku ngga bisa membayangkan bagaimana jadinya Park Woojin tanpa seorang Park Jihoon" ujar Woojin mensejajarkan wajahnya dengan Jihoon, Ia tampak serius. Jihoon bersumpah ini adalah tatapan paling serius dari yang paling serius yang pernah dia lihat dari Woojin.
"Mau kita sahabat atau ngga, selama kau ada disampingku. Apapun tak masalah. Aku menyayangimu. Ah tidak, aku mencintaimu Park Jihoon" lanjut Woojin. Genggamannya semakin menguat seakan ia takut seseorang yang ada dihadapannya menghilang begitu saja. Jihoon tak tahu harus bereaksi apa. Senang? Bukan main. Dadanya seperti akan meledak saat ini. Perkataan tulus Woojin membuatnya tak bisa berkutik. Ia ingin langsung membalas tapi lidahnya kelu seakan jutaan kalimat cinta yang pernah ia pikirkan hilang begitu saja.
"hm?" Woojin yang tak kian mendapat tanggapan dari Jihoon berdehem tak sabar.
Ayo pikirkan sesuatu otak!, mohon Jihoon dalam hati.
"Aku salah lagi ya?" tanya Woojin kecewa, kalau jawabanya yang inipun salah rasanya dia tak akan bisa menatap Jihoon lagi. Apa ia harus mengundurkan diri dari Wanna One ya? lalu bagaimana dengan kontraknya dengan perusahaan? Alasan apa yang ia pakai?
Tak tahan melihat wajah kecewa Woojin, Jihoon harus melakukan sesuatu. Harusnya aku lebih memakai otakku pas sekolah dulu! Ah masa bodo!, batin Jihoon. Ia langsung mengecup Woojin sekilas lalu memeluknya erat menyembunyikan wajahnya dipundak pemuda busan itu, berharap dengan ini sudah cukup mewakili jawabannya. Woojin tertegun mendapat serangan mendadak dari pemuda imut yang kini memeluknya itu. Woojin mencium Jihoon itu bukan hal baru tapi lain cerita kalau Jihoon duluan yang mengecupnya, ini benar-benar hal baru. Apa itu jawabanya Jihoon? Mengingat Jihoon tipe yang tidak mengungkapkan perasaanya secara terang-terangan, Woojin rasa itu memang cara Jihoon menjawab pertanyaanya. Ah Woojin merasa seperti menggenggam dunia sekarang. Ia membalas pelukan pemuda imut itu, berharap waktu akan berhenti dan membiarkan mereka seperti ini selamanya.
"Woojinah.." cicit Jihoon menyadarkan Woojin dari dunia khayalannya. "hm?"
"Ini panas.. bisakah kita nyalakan dulu ACnya? Aku tau ini musim dingin tapi beneran deh ini panas.."keluh Jihoon yang sepertinya sudah bisa berpikir lagi. Woojin mengernyitkan dahinya menatap kerlingan pemuda imut itu dan ia bisa melihat keringat yang menetes di dahi Jihoon.
"Kau beneran jago ngerusak suasana Jihoonie.." Woojin menyerah.
"hehe.. maaf" kekeh Jihoon.
Mau tak mau Woojin pun melepaskan pelukanya pada Jihoon yang sedang mengipasi dirinya dengan tangan.
"Apa kau yakin mau nyalain AC? Ini musim dingin lho" tanya Woojin tak yakin.
"Iya abis ini panas banget jin"
Woojin menyerah lagi, tapi ini tak buruk karena mendadak ia dapat ide.
"ok" Woojin mengambil remote AC dan mengatur suhu ruangan menjadi yang terstandar, "tapi sebagai gantinya karena aku kedinginan kau harus memelukku sampai besok ya" ujarnya lalu menarik Jihoon kedalam selimut.
"Ya! Woojinah sudah ku bilang panas kan!"protes Jihoon yang tak digubris sama sekali. Woojin tersenyum jail sambil memejamkan mata, tak berniat sedikitpun untuk melepaskan dekapannya. Woojin tak peduli yang penting malam ini ia tidur sambil memeluk Jihoon, sahabat sekaligus orang yang dicintainya. Jihoon akhirnya menyerah, Ia balas memeluk Woojin merasakan kehangatan pemuda itu menyelimutinya. Mungkin ini adalah saat paling membahagiakan untuk Jihoon, karena sahabat yang selama ini ia cintai memiliki perasaan yang sama padanya, dan ia berharap kebersamaan ini akan bertahan selamanya.
Siapa bilang sahabat tidak bisa menjadi cinta, bagi Woojin selama Jihoon ada di sisinya entah itu sebagai sahabat atau bukan, bukanlah masalah karena ia takkan melepaskan Jihoon apapun yang terjadi. Bagi Jihoon, dibelahan dunia manapun Park Woojin berada maka dia akan ada disana. Sahabat ataupun kekasih bukan masalah untuk mereka karena tiga kata ajaib akan selalu ada dalam lubuk hati mereka selama mereka meyakininya. Aku mencintaimu, itulah yang mereka bisikan dalam hati mereka masing-masing sepanjang malam.
.
.
Ketukan di pintu itu sudah berlangsung lebih dari 20 menit membuat si pelaku, pemuda berhidung bangir mulai memasang muka masam. Tapi si penghuni kamar tampaknya tak berniat untuk kembali ke dunia nyata dalam waktu dekat membuat pemuda itu menyerah dan meninggalkan tempat itu. Ia tak peduli kalau nanti si empunya kamar protes karena tak diikutsertakan jalan-jalan kali ini, toh dia sudah melalukan tugasnya. Salah mereka yang tak kunjung bangun dari tadi, padahal dia sudah mengumumkan ini di grup chat dari semalam.
"Jisung hyung, Woojin sama Jihoon mana?" tanya Jaehwan yang melihat Jisung kembali sendirian dengan muka masam.
"ah ngga tau. mereka ngga jawab sama sekali padahal aku sudah telfonin daritadi pasti ponselnya mereka mode hening. beneran deh mereka itu" gerutu Jisung yang dibalas lengkingan tawa Jaehwan. Kakak tertua mereka yang satu ini memang menggemaskan sekali kalau marah, bukannya menyeramkan.
"yasudah hyung kita tinggalin saja siapa tau mereka lagi butuh istirahat lebih. Ayo hyung" hibur Jaehwan sambil merangkul Jisung, menyusul anggota lain yang sudah menunggu di mobil sedari tadi. Sedangkan di dalam kamar tampak dua pemuda yang masih asik bergelung dalam pelukan masing-masing, enggan untuk menyambut pagi. Sepertinya mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama seperti sekarang. Kapan lagi mereka memiliki waktu hanya berdua seperti ini tanpa ada gangguan dari para kakak maupun adik mereka. Ini sangat tentram, pikir mereka.
Selamat menikmati waktu bersama Pink Sausage, semoga kalian bahagia.
.
.
The End or TBC?
