THE RED CAPE
(AKAMANTO)
Main cast : HunHan and Other
Summary : Di zaman ini kisah tentang Akamanto (Si Jubah Merah), hantu toilet yang suka membunuh dianggap hanya mitos belaka.
Lalu, apakah pembunuhan yang menimpa para putri konglomerat di DAMI HIGHSCOOL bisa menyatakan bahwa Akamanto hanya sekedar mitos?
'PEMBUNUHAN DI DAMI HIGHSCHOOL'
Luhan tersenyum puas dengan judul file yang baru diketiknya, jika dia berhasil memberitakan hingga mengupas habis kasus ini mungkin saja dia jadi lebih terkenal.
Sebagai seorang wartawan tentu saja pemikiran seperti itu selalu hinggap di benak Luhan, mencari berita dan mempublikasikannya memang keahliannya itu terbukti dari beberapa skandal yang pernah dibeberkannya.
Namun sepertinya kesialan sedang berpihak padanya belakang ini, tentu saja kesialan saat berita selebriti yang baru didapatnya nyatanya sudah terpublish dan menjadi trending topik yang ditulis oleh wartawan lain.
Luhan kesal, tentu saja bahkan berhari-hari dia menyamar sebagai petugas pom bensin demi menguntit pasangan selebriti yang berkencan, namun naasnya berita disebut telah dipublish 2 menit sebelum Luhan selesai mengetik penemuannya.
Damn It! Luhan hanya bisa mengumpat akhirnya karena hal itu.
Dan ditengah kesialan ini dia tiba-tiba mendapat pencerahan dengan Breaking News Pembunuhan di Dami Highschool dan itu belum terungkap jelas.
Ini tentu kesempatan bagus, apalagi jika Luhan bisa bekerja sama dengan tim penyidik dan detektif kepolisian dan terus memberitakan perkembangannya ya meski harus Luhan akui bahwa ini pertama kalinya dia akan menuliskan berita kriminal -karena biasanya gosip selebriti-.
Setelah selesai mengikat tali sepatu ketsnya, Luhan menyambar tas kecilnya lalu berlari keluar rumahnya.
"Tidak ada skandal selebriti maka kasus kriminalpun jadi" gumamnya sambil memasuki audy hitamnya.
Tak beberapa lama audy itupun melesak membelah jalanan Seoul yang tidak terlalu padat.
.
.
.
Asrama Jasmine terletak persis disamping Asrama Lavender, oleh sebab itu intensitas pembicaraan mereka mengenai pembunuhan di asrama Lavender lebih besar dibanding pembicaraan di asrama yang lain.
Para penghuninya berkumpul di ruang duduk membentuk lingkaran besar bagai sebuah diskusi dengan satu tema.
"Kukira itu bunuh diri!" kata salah seorang siswi dengan suaranya yang lantang -Ahn Hani-
"Bukan! itu mungkin pembunuh bayaran" timpal Seo Hyerin tak kalah lantang.
Kedua gadis itu lalu berselisih pendapat menyebabkan pertengkaran adu mulut tak berujung.
Jisoo yang sedari tadi menjadi pendengar setia hanya menatap kebingungan pemandangan di hadapannya.
Gadis Kim itu lalu menyikut gadis disampingnya.
"Lalu bagaimana menurut eonnie?"
"Mungkin itu pembunuhan"
"Jisoo-ah!"
Jisoo menatap kearah Hayi yang barusan memanggilnya.
"Ada apa?"
"Ada yang ingin menemuimu, seseorang dari asrama Tiger"
"Siapa? Hanbin?"
"Ck! Memang siapa lagi?"
Jisoo mengangguk karena ekspresi Hayi yang berubah ketus mendengar nama Hanbin.
Well...Hayi dan Hanbin adalah sepasang mantan kekasih.
Jisoo lalu menggandeng gadis disisinya.
"Ayo Jinan eonnie!"
"Kau saja yang kesana, lagipula Hanbin-ssi kan hanya mencarimu"
"Eonnie ini bicara apa? Eonnie dan Hanbin itu sama-sama temanku jadi ayo ikut"
Selanjutnya Jinhwan hanya pasrah saja saat Jisoo menyeretnya ke pintu masuk asrama.
Di depan pintu masuk asrama Jasmine didapati dua orang dengan kemeja overside dipadu celana robek ala swag style.
"Hai Jisoo-ah!" Hanbin melambai-lambai tangannya ke arah Jisoo.
"Bobby-ah!" Taunya Jisoo menubruk Bobby dan memeluknya dengan erat.
Hanbin dan Jinhwan hanya melongo melihat pemandangan itu.
"Aku kira kau menghabiskan waktu liburan di Amerika"
Kini gadis Kim itu melepaskan pelukannya.
"Sebelumnya aku juga mau begitu hanya saja ada berita mencengangkan menimpa sekolah kita"
"Jadi kau sudah tahu?"
"Beritanya bahkan sudah beredar luas di naver"
Jisoo membulatkan matanya.
"Padahal pihak sekolah melarang kami untuk membicarakan hal itu, bahkan kami yang belum sempat pulang ke rumah pun harus tetap tinggal di asrama"
"Lalu bagaimana menurutmu menghabiskan waktu liburan di dalam asrama?"
Serobot Hanbin yang entah bagaimana sudah ada diantara Jisoo dan Bobby.
Jisoo mendengus sambil melirik Hanbin
"Di asrama menyenangkan"
"Jangan berbohong Jisoo-ah"
"Aku tidak, apa maksudmu?"
"Aku tahu kau kebosanan kan? Aku mau mengajakmu ke Sungai Han nanti malam"
"Mengajak kemana Tuan Kim?"
Hanbin membeku ditempatnya, suara yang menyahut itu bukan Jisoo kan?.
Dengan gerakan slow Hanbin memutar tubuhnya diikuti Bobby.
Keduanya langsung bertemu pandang dengan Lee Chaerin, kepala asrama Jasmine yang bertampang galak.
"Bukankah kepala asramamu sudah mengatakan jangan ada yang keluar asrama sampai batas waktu tertentu?"
"Su-sudah Bu!" sahut Hanbin.
"Lalu apa yang kau lakukan disini?"
"Itu aku-cuma mau menengok Jisoo"
Baik Jisoo maupun Bobby melebarkan mata mereka, kenapa alasan yang dikemukakan Hanbin bodoh sekali.
"Menengok? Kukira aku lebih bisa menjaga siswi-siswiku daripada kau"
"Tapi Bu-"
"Kembali ke asrama kalian sekarang!"
"Tapi Bu-"
"Atau kuhubungi Pak Jongin sekarang!"
Dua Kim itu langsung kalang kabut mendengar nama Pak Jongin.
Chaerin melirik dua siswinya yang masih berdiri di pintu masuk.
"Ini masih terlalu pagi untuk buang-buang waktu, cepat kembali ke dalam"
Jisoo dan Jinhwan tidak menjawab, keduanya segera menuruti kata-kata Chaerin.
Kedua gadis dengan marga sama itu kembali ke ruang tengah asrama dimana para penghuninya masih berkumpul mengelilingi seseorang yang tak lain Mizuki, bukan lagi Hani dan Hyerin yang bertengkar.
"...Dia akan datang padamu lalu menawarkan dua buah tissue, tissue merah atau tissue biru, dan jika kau memilih tissue merah maka dia akan menebas lehermu hingga darahmu mewarnai bajumu jadi merah"
kata Mizuki membuat penghuni lainnya beringsut dengan ekspresi ngeri.
"Lalu jika memilih tissue biru?" tanya Hani dari seberang Mizuki berdiri.
"Dia akan mencekikmu hingga wajahmu membiru"
Jisoo merasakan bulu romanya berdiri membayangkan semua itu.
"Hentikan Mizuki! ini benar-benar tidak lucu!" Jisoo berkata dan diangguki yang lainnya.
"Ya itu kan kepercayaan di negaraku jadi-"
"KEMBALI KE KAMAR KALIAN!" Teriak Chaerin dari belakang mereka membuat semuanya kalang kabut dan segera naik ke lantai dua tempat kamar mereka berada.
.
.
Luhan baru saja sampai di lokasi kejadian, dari dalam mobilnya saja dia sudah melihat kerumunan wartawan lain yang tidak diizinkan memasuki area sekolah.
Luhan keluar dari audynya lalu menghampiri kerumunan itu, beberapa security masih mendorong wartawan-wartawan itu, mencoba membuat mereka menjauh dari sana.
"SEDANG BERLANGSUNG PENYELIDIKAN OLEH PIHAK BERWAJIB, JADI DIMOHON UNTUK PARA WARTAWAN UNTUK SABAR MENUNGGU HASIL" kata salah seorang security lewat pengeras suara.
Beberapa wartawan ada yang membubarkan diri sementara sisanya memilih menepi.
Luhan membulatkan bibirnya, wartawan yang dari tadi menunggu saja dibubarkan sedangkan dia baru saja sampai.
Dengan lunglai, gadis Xi itu kembali ke audynya sebelum mata rusanya menangkap seorang pria berpakaian serba hitam yang berdiri tak jauh dari area sekolah.
Dilihat dari pakaiannya yang serba hitam dan serba tertutup mengingatkannya pada selebriti yang sedang kencan diam-diam.
Rasa penasaran Luhan langsung naik ke level tertinggi, dengan langkah lebar dan senyum cerah gadis Xi itu menghampiri si pria.
"Ekhmm...Permisi"
Pria itu terlonjak menyadari seseorang yang berdiri tak jauh darinya, langkahnya akan menjauhi si gadis sebelum Luhan lebih dulu memegang lengannya.
"Tunggu!" pria itu berbalik dan manik matanya yang setajam elang bersitatap dengan mata rusa Luhan.
Wajah pria itu sangat tampan namun dia bukan bagian dari selebriti kenamaan seperti yang diperkirakan Luhan.
"Apa?!" katanya dengan dingin, tak berniat memberikan keramahan pada si gadis.
"Apa kau juga wartawan?"
"Bukan"
"Lalu apa yang kau lakukan disini?" percayalah Luhan bukan ingin ikut campur dengan urusan orang lain namun naluri wartawannya yang mendoronh gadis Cina itu untuk bertanya dengan nada introgatif seperti itu.
Pria itu terdiam lalu menelisik penampilan Luhan dari atas ke bawah sebelum menjawab..."Aku detektif".
"Benarkah? Kalau begitu kita bisa jadi team"
Pria itu menaikan sebelah alisnya mendengar perkataan Luhan.
"Apa maksudmu?"
"Begini..." menyelipkan rambutnya ke belakang telinga "Aku adalah wartawan yang sedang mencari berita dan kau seorang detektif, kita bisa bekerja sama dengan kau yang mengungkap kasus ini dan aku yang memberitakannya dengan begitu tentu saja kita berdua akan terkenal dan banyak uang" kata Luhan lagi.
Pria itu melepas rangkulan tangan Luhan di lengannya, lalu menjawab perkataan itu dengan nada penuh penekanan.
"Aku memang ingin mengungkap kasus ini namun aku tidak ingin terkenal!" lalu berjalan menjauh.
Namun nyatanya Xi Luhan masih mengekorinya.
"Oh baiklah, jika begitu aku akan membantumu"
"Terserah"
.
.
Kini Luhan dan Oh Sehun -sang detektif- berada di depan sebuah rumah mewah bernuansa putih dengan pagar tinggi.
"Sehun-ssi kita mau kemana?"
Sehun tak menjawab, matanya masih meneliti secarik kertas ditangannya.
"Ikut aku" gumamnya lalu berjalan mendahului, begitu sampai di gerbang keduanya disambut oleh seorang penjaga.
"Ada perlu apa Tuan?"
"Aku Oh Sehun, ingin menemui Tn Kim"
menyodorkan kartu namanya.
"Anda detektif?"
"Ya"
"Bekerja untuk siapa?"
"Aku detektif swasta yang tertarik dengan kasus ini, aku hanya menerima bayaran jika aku selesai mengungkap kasus ini"
Penjaga tadi menatap Sehun sekali lagi lalu beralih pada Luhan yang berada di sisinya.
"Siapa disampingmu?"
"Ini Xi Luhan, asistenku"
Penjaga itu mengangguk dua kali lalu mengisyaratkan Sehun dan Luhan untuk mengikutinya.
Keduanya dibawa ke sebuah ruang tamu besar dan tak lama kemudian sang Tuan rumah datang menghampiri mereka.
"Selamat siang Tuan Oh, Nona Xi silahkan duduk" kata pria parubaya itu.
"Penjagaku mengatakan bahwa Tuan Oh adalah seorang detektif swasta yang tertarik untuk menangani kasus yang menimpa putriku, apa itu benar?"
"Ya tentu saja, apalagi kasus yang menimpa putri anda tergolong aneh dan misterius"
Tn Kim mengangguk lagi, raut kesedihan dan sterss amat kentara di wajahnya.
"Tapi kenapa kau tidak menyelidiki lokasi kejadian seperti polisi negara?"
Sehun tersenyum tipis "Aku punya cara sendiri dalam menangani suatu kasus itulah mengapa aku akan mengawalinya dengan mewawancara keluarga korban"
Luhan melirik disampingnya, setahunya tugas detektif menyelidik bukan mewawancara dan adalah keahliannya.
"Dan asisten saya yang akan melakukannya" timpal Sehun lagi.
Luhan tercenung, dia harus mewawancara? sekarang? dia selalu butuh waktu minimal dua jam untuk menyusun pertanyaan tapi ini Oh Sehun menyuruhnya untuk mewawancara mendadak.
"Oh baiklah tapi...aku.." tengkuknya digaruki meski tidak gatal dan Sehun menjejalkan sebuah buku kecil ke tangannya.
Luhan membuka buku itu dan terlihatlah beberapa pertanyaan disana.
"Tapi Detektif Oh sebelumnya bisakah kau mengetahui dari mana datangnya paket ini"
Kata Tn Kim lagi, wajahnya berubah menjadi tegang saat mengucap kata paket.
Tn Kim lalu menitahkan pelayan rumahnya untuk membawa sebuah kotak kardus berukuran 30x40cm.
"Apa ini?" tanya Sehun
"Aku tidak tahu ada orang sekurang kerjaan seperti ini yang mengirimkan paket seperti ini padaku, bahkan istriku sampai pingsan karena isinya"
"Memang apa isinya?" kali ini Luhan yang bertanya.
"Coba anda lihat isinya Nona Xi"
Luhan menyentuh bagian atas kotak kardus itu lalu melirik Sehun, dan dihadiahi anggukan kepala.
Tangannya bergerak membuka kotak itu dan saat terbuka, Luhan merasa isi perutnya naik ke kerongkongan, perutnya mual, Luhan reflek menutup mulutnya menahan muntah yang mendesak, gadis itu reflek berdiri menjauh dari sana.
"Itu menjijikan"
Didalam kotak itu terdapat seekor kucing yang dipotong menjadi tiga bagian dengan usus yang keluar dan berceceran hampir memenuhi seisi kotak yang dihampari garam.
Diatas bangkai kucing itu terdapat sebuah kertas bertuliskan 'S.K'
"Ini petunjuk pertamanya"
.
.
.
.
TBC
Ok maafin aku yang baru update lagi ff ini, aku kemarin sempet badmood jadi gak ada ide buat ngelanjut ff ini.
Mudah-mudahan chap ini bisa nyambung sama yang sebelumnya dan aku minta pendapatnya sama reader-nim semua apakah lanjut or discontinue?.
감사헹요 -HunHan Area-
