Naruto belongs to Kishimoto-sama

Alangkah baiknya jika terlebih dahulu, saya mengingatkan…

AU, semi-OOC, memiliki tingkat ke-gaje-an yang cukup dapat diperhitungkan…XDD

Terimakasih untuk:

Merai Alixya Kudo ; Yoona Furukawa; Red Sunday Sky; naoriN; Bluepink Kyou-kun; uchirumaki lacus; Lady Harumi Aika; happyflarg; Made-kun; Kuroneko Hime-un; Fun-Ny Chan; Michi-chuu; gieyoungkyu; FujiSuzuya-chan; Huamb; Sakura Haruno 1995; popoChi-moChi; LuthMelody; Uchiharuno Rin; beby-chan; Aurellia Uchiha; Hakuya debora; uzumakikyubi; Zie-rainC0ol; mysticahime; Cakuchan; zoe09; Shiho Kazuki; VamPs 9irL; Miss Uchiwa SasuSaku's Lover; Emi Yoshikuni; Micon; Hikari 'The Princess Blue; Icha yukina clyne; Cherry-chan; 4ntk4-ch4n; Sora Ninomia; Violet7orange; Naru-mania; Rievectha Herbst; R-chan; May-Chan; Rei-chan; Ame chochoSasu; Kazuma Big Tomat; Merai adikshinichikudo; Yupi -AkaiYuki- Kurosaki ; Shena BlitzRyuseiran; sava kaladze; kakkoii-chan

Selamat membaca…

.

.

Tiga Hari Mengejar Cinta

Jurus Pertama: Kencan

"Pilihlah tempat kencan! Jika kalian memilih tempat kencan yang berbeda, akan semakin mudah menolak perjodohan"

.

.

Sasuke hanya menatap Sakura dengan pandangan tak suka. Dan ia tahu, kini saatnya membalas nona muda di hadapannya. Ia dekati Sakura secara perlahan. Sampai akhirnya kini ia tepat berada di hadapan Sakura. Sakura yang terkejut hanya mampu berkata,

"Ma—mau apa kau?"

"Eh? Bukankah kau bilang kau adalah istriku?—" Sasuke menyeringai dan semakin mendekati Sakura, wajah mereka hanya tinggal beberapa centimeter, "—lalu apa yang kira-kira diingini suami dari istrinya?"

Dan Sasuke tahu, ia berhasil membalas Sakura.

.

.

"Kyaaa~~~! Mesum!"

Sakura panik bukan main, wajah Sasuke kini tepat berada di depan wajahnya. Sasuke memejamkan matanya. Seringai mesum menghiasi wajahnya. Perlahan tapi pasti, wajah itu semakin mendekat.

'Hosh… Hosh… Apa yang yang harus kulakukan?' batin Sakura panik. Ia tengok sekelilingnya, berharap menemukan sesuatu untuk menangkal ulah mesum Sasuke. Matanya menangkap sebuah raket listrik tergeletak di meja kecil di samping sofa yang didudukinya.

'Mati kau Sakura 'kutu'! Akan ku buat kau menyesal mengaku-aku sebagai istriku!' ucap Sasuke dalam hati—bibirnya masih menyunggingkan senyum mesum.

Dan Sasuke tak sadar jika malapetaka ada di hadapannya. Satu centi lagi bibir mereka bertemu, dan Sasuke harus bersiap merelakan wajah tampannya sebagai penggati 'nyamuk nakal'.

Plakkkk~~~!

Tamparan Sakura menggunakan raket listrik di tangannya sukses mendarat dengan indah di pipi kanan Sasuke.

"Aww—!" raung Sasuke sambil menjauhkan diri dari Sakura. Ia usap-usap pipi kanannya yang kini semerah tomat—buah kesukaannya. "—Apa yang kau lakukan?"

"Tentu saja mempertahankan kesucianku, Mesum!" bentak Sakura—masih sambil memegang raket listrik.

"Cih! Kau pikir, aku mau apa?" Sasuke balik membentak Sakura.

"Kau pasti mau mencuri ciuman pertamaku kan?" tuduh Sakura, ia tudingkan jari telunjuknya tepat ke arah wajah Sasuke—ingin rasanya Sasuke menggigit jari itu—dengan kesal.

"Dasar 'MESUM'!" ejek Sasuke, kembali ia pamerkan seringai tampannya yang sanggup membuat para gadis terkena serangan jantung mendadak.

"Kau yang mesum, Pantat Ayam!"

"Kau!"

"Kau!"

"Kau! Kau! Kau!" balas Sakura tak mau kalah.

"Hn?"

"Arghhh~~! Aku malas berdebat denganmu!"

"Berisik! Dasar cewek!" Sasuke meninggalkan Sakura yang masih terduduk di sofa. Ia pergi ke dapur untuk mengompres wajahnya yang membengkak—akibat tamparan raket listrik oleh Sakura.

"Hei! Kau mau ke mana, Pantat Ayam!" panggil Sakura.

"Aku bukan Pantat Ayam, Pinkie!"

"Dan aku bukan Pinkie!" teriak Sakura.

Sakura mengikuti Sasuke ke dapur. Ia sedikit merasa tak enak saat melihat Sasuke meringis kesakitan sambil mengompres pipi kanannya—bagaimana pun juga ini karena Sakura. Ia dekati Sasuke yang sedang duduk di salah satu kursi dapur. Ia tatap wajah Sasuke secara seksama.

"Apa lihat-lihat?—" bentak Sasuke, "—aww!" ia elus pipinya yang masih terasa sakit.

"Ngngng… Ano—" Sakura melirik pipi Sasuke, "—maaf," ucapnya sambil menggembungkan pipinya.

"Cih! Maaf saja tak cukup untuk menghilangkan memar ini!" bentak Sasuke.

"Salahmu sendiri mesum padaku!" Sakura balik membentak Sasuke.

"Berisik!"

"Huh! Sini, aku bantu!"

Sakura mengambil paksa kompresan dari tangan Sasuke. Ia bantu menutul nutul kompresan itu secara perlahan pada pipi Sasuke. Jemarinya tanpa sadar mengelus pipi Sasuke, menelusuri setiap inci dari pipi Sasuke. Ia tatap Sasuke yang sedikit meringis kesakitan. Sasuke yang sadar ditatap, balik menatap Sakura. Sesaat pandangan mereka bertemu. Emerald dan Onyx.

'Tampan,' batin Sakura.

Wajahnya memerah memikirkan betapa tampannya pria yang kini berada di depannya—yang ia telusuri pipinya.

'Arghh! Apa sih yang aku pikirkan!' Sakura menggelengkan kepalanya tanpa sadar.

Dan Sasuke hanya menyeringai penuh kemenangan.

'Kalau diperhatikan, dia cantik juga.'

"Kenapa? Tak bisa menolak pesonaku ya?" ejek Sasuke.

"Eh? Gyaaa~~~! Jangan mimpi!" tanpa sadar Sakura memukul pipi kanan Sasuke—yang masih bengkak—dengan kompresan di tangannya.

"Awww! Kau ingin membunuhku!" maki Sasuke. Ia kembali mengusap-usap pipi kanannya yang sudah dua kali didaratkan tenaga super Sakura.

"Huh! Siapa suruh kau begitu mesum dan menyebalkan!—" Sakura menarik tangan Sasuke yang mengelus pipinya, "—Sini, ku obati lagi!"

Kali ini Sasuke yang menatap Sakura. Ia perhatikan dengan seksama sosok gadis di hadapannya. Gadis dengan rambut merah muda tergerai sebahu. Sasuke berpikir sejenak, apa mungkin gadis di hadapannya ini adalah calon istrinya yang dibicarakan oleh keluarganya kemarin?

"Hei!" panggil Sasuke.

"Ya?" Sakura balik bertanya tanpa melepaskan pandangannya yang sedang mengompres pipi Sasuke.

"Apa benar kau calon istriku, Sakuya Haruno?"

Telinga Sakura sedikit berkedut mendengar namanya yang salah diucapkan oleh pria di hadapannya. Ia balik memandang Sasuke.

"Namaku Sakura, bukan Sakuya, Sasukecap!"

Nyutt… Nyutt… Kepala Sasuke sedikit berdenyut saat mengetahui namanya yang sanggup menggetarkan hati jutaan gadis diubah menjadi Sasukecap. Sekali lagi, Sasukecap! Ingin rasanya Sasuke menggigit bibir gadis di hadapannya yang sudah lancang mengubah namanya seenak jidatnya yang lebar. Eh? Tunggu… Kalau begitu namanya mencium kan? Ciuman panas… Dan sekali lagi, seringai mesum terpampang di wajah tampannya.

Sakura yang sadar akan senyum mesum Sasuke langsung menjauh dari Sasuke.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Sakura memadang wajah Sasuke dengan ketakutan seolah-olah Sasuke akan menerkamnya—bukan secara har'fiah.

"Cih, mesum!" ejek Sasuke.

"Seringaimu yang mesum, baka!" tuding Sakura.

"Aku tidak mesum!" bantah Sasuke sambil bangkit dari kursi dan pergi meninggalkan Sakura yang masih berdiri mematung, 'walau entah kenapa setiap di dekatmu, aku ingin berbuat mesum,' tambah Sasuke dalam hati. Dan senyum mesum kembali menghiasi bibirnya.

"Kau mau kemana, Sasukecap?"

"Namaku Sasuke, bukan Sasukecap!"

"Yeah, Sasuke si Pantat Ayam!"

.

.

Sakura kini tengah ada di kamarnya. Ia menimang-nimang buku "Cara Jitu Menolak Perjodohan" yang ia beli dengan terpaksa kemarin—mengingat buku itu telah robek menjadi dua bagian, terlepas di bagian tengahnya—akibat ulah Sasuke yang ternyata adalah tunangannya. Ia buku halaman pertama buku itu. Astaga! Kata pengantarnya saja mencapai 23 halaman.

"Terimakasih kepada Tuhan YME yang telah memberikan… bla…bla…bla… Sekian dan terimakasih."

Ingin rasanya Sakura merobek-robek buku ini sekali lagi, karena ia tak menemukan dimana cara untuk menolak perjodohan ini. Tapi mata jadenya membulat sempurna saat membuka halaman 24.

Jurus Pertama: Kencan

"Pilihlah tempat kencan! Jika kalian memilih tempat kencan yang berbeda, akan semakin mudah menolak perjodohan. Karena perbedaan itu jalan menuju kehancuran. Hahaha…"

"Kencan?" Sakura bergumam sendiri. Dan tiba-tiba saja ide itu berlarian di otaknya.

.

"Sasuke~~~~!" teriak Sakura sambil terus berlari ke kamar Sasuke.

Langkah kakinya menggema pada lantai villa Sasuke yang berstruktur kayu. Drap… Drap… Drap… Hentakkannya membuat gaduh seisi villa. Sasuke yang sedang mandi di kamar mandi kamarnya sama sekali tak mendengar kegaduhan ini—suara shower meredam kegaduhan itu.

Sesampainya di depan kamar Sasuke, Sakura menghentikan langkahnya. Ia panggil Sasuke dari luar, "Sasuke! Sasuke!"

Tak ada satu pun jawaban dari Sasuke. Ia ragu, apa ia harus masuk atau tetap menunggu Sasuke di luar kamarnya.

"Ah, masuk saja lah," ucap Sakura lalu dengan perlahan masuk ke dalam kamar Sasuke.

Rapih, apik, dan bersih. Itulah kesan pertama saat Sakura memasukkan diri ke dalam kamar Sasuke. Ia pandangi seluruh isi kamar Sasuke. Dan ia terkikik saat meliat foto Sasuke kecil yang sedang menangis saat di foto.

"Dia lucu juga ya waktu kecil," komentar Sakura.

Sementara itu Sasuke yang baru saja selesai mandi langsung menuju kamarnya—tak tahu bahwa Sakura kini ada di kamarnya—hanya dengan mengenakan handuk yang melingkari bagian kakinya, itu pun hanya dari pinggang ke lututnya. Ia kibaskan sediikit rambut hitamnya, tak menyadari Sakura kini tengah terpesona menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. Sasuke kaget melihat Sakura yang berada di kamarnya.

"Kau! Sedang apa kau di kamarku?" Tanya Sasuke sambil menunjuk Sakura dengan telunjuknya.

"Eh? Itu… Mmm…" Sakura bingung ingin menjawab apa. Ia ingin segera berlari dari kamar Sasuke, tapi sayang tak semudah itu karena Sasuke kini malah mendekat ke arahnya.

"Ku ulangi sekali lagi, sedang apa kau di kamarku?"

"Aku—" Sakura panik dan segera mencari jalan untuk ke luar dari kamar Sasuke, namun sayang dewi fortuna tak berada di pihaknya. Niatnya ingin ke luar dari kamar Sasuke, ia malah jatuh terserimpet karpet lantai kamar Sasuke, "—kyaaa~~!"

Brukk…

Sakura jatuh dengan posisi telungkup. Ia menutup matanya, takut membayangkan apa yang terjadi pada dirinya. Aneh, sungguh aneh. Karena ia sama sekali tak merasa sakit. Malah ia seperti terjatuh pada sebuah kasur empuk. Dan bibirnya, entah kenapa bibirnya serasa menyentuh suatu benda kenyal berbau tomat. Dan Sakura membuka matanyanya. Yang ia lihat hanya sepasang onyx yang menatapnya kaget. Lalu bibir… Bibir itu…

"Mm—mau—sammmmpaii—kaa—pan—kauuu—di-attaasskuu!"

"Kyaaa~~~~!"

Sakura yang baru menyadari bahwa ia terjatuh tepat di atas tubuh Sasuke yang—errr… tak memakai baju—membuatnya blushing tingkat tinggi. Ia lalu menyentuh bibirnya. Bibir yang tadi baru saja kehilangan kesuciannya akibat karpet konyol milik Sasuke. Sasuke hanya mendengus seraya bangkit berdiri.

"Huh… Kau itu berat, tau!" dengus Sasuke. Sejenak ia tersenyum, karena menyadari baru saja bibir Sakura menyentuh bibirnya.

"Dasar hentai! Kau baru saja merebut ciuman pertamaku~~~!" teriak Sakura sambil melempar Sasuke dengan bantal yang ia ambil secara sembarangan dari atas tempat tidur Sasuke.

"Hei! Aw—" Sasuke berusaha mengindar dari lemparan bantal Sakura, "—bukannya terbalik! Kau yang jatuh dan menciumku!"

"Sama saja, pokoknya kau harus tanggung jawab!" teriak Sakura masih terus melempari Sasuke dengan bantal, guling, atau apa pun yang bisa ia ambil di atas tempat tidur Sasuke.

"Aw—" Sasuke terus berusaha menghindar dari lemparan maut Sakura, "—memangnya tanggung jawab seperti apa yang kau mau, eh?" tiba-tiba saja Sasuke sudah berada di hadapan Sakura. Ia pegang tangan Sakura yang sudah siap melempar guling ke arahnya. Sasuke tersenyum tipis, menggoda iman Sakura.

"Kyaa~~~! Sasukecap mesum!"

Sakura langsung pergi terburu-buru dan kamar Sasuke.

Brukk…

Ia tutup pintu kamar Sasuke dan segera berlari menuju kamarnya sendiri.

"Hosh… Hoshh… Kenapa dia begitu tampan, kami-sama! Bagaimana aku bisa menolak perjodohan ini?" batin Sakura frustasi. "Kenapa aku begitu berdebar di dekatnya?"

Sementar itu Sasuke tersenyum dalam kamarnya, ia usap bibirnya—letak dimana tadi Sakura menciumnya, walau tak sengaja.

"Tiga hari ya?"

.

.

Tokk… Tokk… Tokk…

"Hei, Sakura! Kau mau makan malam tidak?" panggil Sasuke dari luar kamar Sakura.

Sakura yang mendengar panggilan itu tak menjawab. Ia masih malu jika mengingat kejadian tadi sore—saat jatuh mencium Sasuke.

'Oh, kami-sama, apa yang harus ku lakukan? Aku masih malu bertemu dengannya,' batin Sakura.

Dan ia kembali mengingat kejadiaan tadi sore. Mengingat tampannya Sasuke, mengingat bentuk tubuhnya yang proposional—menggoda, mengingat seringai mesumnya yang—err—tampan, dan terakhir mengingat ciuman mereka yang berbau tomat.

'Arghhh~~! Ini bisa membuatku gila!'

"Hei, kau mau makan tidak? Kalau tidak menjawab, ya sudah, tak ada makan malam," panggil Sasuke sekali lagi sebelum berbalik dan pergi dari depan kamar Sakura. Baru satu langkah, ia kembali berbalik karena Sakura membalas panggilannya.

"Tunggu! Iya, aku mau makan!" jawab Sakura dari dalam kamar.

Ia langkahkan kakinya menuju pintu kamarnya, dibukannya pintu itu secara perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan Sasuke. Entah kenapa, ia begitu malu bertemu Sasuke saat ini. Ia tundukkan kepalanya, berusaha mengindar dari tatapan Sasuke.

"Kenapa menghindar melihatku seperti itu?" Tanya Sasuke curiga dengan sikap Sakura yang terkesan mengindari tatapannya—laki-laki memang kadang tidak peka.

"Errr… itu… ah, tidak apa-apa," jawab Sakura gelagapan—masih mencari objek lain selain tatapan Sasuke.

"Lihat aku!" paksa Sasuke sambil menyentuh dagu Sakura—mencoba mengangkat wajah Sakura agar menatapnya.

Lagi, emerald bertemu onyx.

"Engngng…" Sakura anya bergumam tak jelas. Ia merasa wajahnya memerah—malu—akibat tatapan dan perlakuan Sasuke, mengingat jemari Sasuke masih menyentuh dagunya.

Dan Sasuke hanya menyeringai—lagi-lagi seringai mesum yang tampan.

"Ternyata tergoda pesonaku," ucapnya santai.

"Kyaa~~~!"

Sakura langsung lari menuju dapur—mereka akan makan malam. Ia benar-benar malu. Kenapa ia tak bisa menjaga agar jantungnya tak berdetak jutaan kali cepat jika berada dekat Sasuke? Ia benar-benar benci jika terus merasa seperti ini. Sementara Sasuke hanya tersenyum.

"Kalau untuknya, rasanya 1 hari juga cukup untuk membuatnya tergila-gila padaku."

.

.

Saat ini, mereka tengah menghabiskan makan malam masing-masing. Tak ada yang berbicara satu pun. Ketika decit sendok dan garpu beradu dengan piring—menandakan Sasuke telah menghabiskan makan malamnya, ia mulai membuka percakapan.

"Eh Pinkie, tadi kau mau apa ke kamarku?" Tanya Sasuke langsung.

"Namuaku Suakuura!" protes Sakura, ia berbicara sambil mengunyah makanannya, membuat Sasuke tersenyum simpul sebelum membalas,

"Habiskan dulu makanmu, bodoh!"

Sasuke menatap Sakura yang masih menyelesaikan makan malamnya. Ia sedikit memberikan penilaian pribadi pada calon istrinya itu. Entah kenapa Sasuke merasa nyaman berada di dekatnya—Sakura—walau mereka baru saja bertemu hari ini—jika pertemuan mereka kemarin di toko buku tak dihitung. Rasanya hidupnya yang awalnya hanya itu-itu saja semakin berwarna saat bertemu Sakura. Tanpa ia sadari, ia jadi sering tersenyum jika bersama Sakura.

"Ah… Akhirnya selesai juga!" ucap Sakura setelah suapan terakhir makan malamnya telah habis ia telan.

"Sekarang jawab, tadi kau mau apa ke kamarku?" Sasuke kembali menanyakan hal itu pada Sakura sambil meneguk air putih dalam gelas di hadapannya.

"Oh, itu. Ngng… Itu, tadinya aku ingin mengajakmu kencan," ucap Sakura to the point.

"Kencan?"

Byurrr…

Sasuke lansung tersedak air yang diminumnya dan menyemburkan air itu ke luar dari mulutnya. Sakura yang duduk beradapan dengannya di meja makan harus mengalami hal naas—terkena semburan air itu.

"Kyaaa~~~! Apa yang kau lakukan!" omel Sakura sambil melempar sendok ke kepala Sasuke.

"Awm—" Sasuke mengelus kepalanya yang terkena lemparan sendok, "—maaf, aku tak sengaja!" ucapnya.

Sasuke bangkit dari duduknya dan berusaha mengelap air di wajah Sakura. Ia bingung, apa yang akan ia gunakan untuk mengelap wajah Sakura. Tanpa pikir panjang, ia gunakan lap meja yang ada di atas meja untuk mengelap wajah Sakura.

"Huaaa~~~! Lap apa yang kau pakai?" Sakura melempar lap itu ke arah Sasuke, ia benar-benar kesal pada Sasuke.

Sakura bangkit dari kursi dan pergi meninggalkan Sasuke. Baru satu langkah, langkahnya terhenti saat Sasuke menarik tangannya.

"Maaf, apa benar kau ingin megajakku kencan?" Tanya Sasuke.

Sakura mengadap ke arahnya. Ia balikkan tubuhnya menghadap Sasuke, "Tidak jadi!"

"Kenapa?" Tanya Sasuke masih sambil menahan tangan Sakura.

"Siapa juga yang mau mengajakmu? Aku ingin pertunangan ini dibatalkan!" teriak Sakura.

"Besok pagi, ke pantai! Titik!" ucap Sasuke lalu melepaskan tangan Sakura.

"Oh ya, jangan lupa… Bikini yang seksi," seringai mesum mampir di bibir Sasuke.

Sakura hanya mendelikkan mata jadenya ke arah Sasuke sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Sasuke di dapur.

"Baka! Baka! Baka! Kenapa jadi seperti ini?" rutuk Sakura saat berada di kamarnya. "Aku kan mengajaknya kencan agar membatalkan pertunangan ini! Kenapa jadinya malah kencan di pantai!"

.

.

"Woi Sakura! Cepat sedikit! Lama sekali sih kau?" panggil Sasuke dari luar villa-nya. Ia masih menunggu Sakura yang masih berada dalam villa.

"Sabar, baka!" jawab Sakura dari dalam villa.

Tak lama kemudian, Sakura ke luar dari villa. Sasuke sedikit pangling dengan penampilan Sakura saat ini. Sakura kini mengenakan tanktop hitam yang dilapisi dengan kemeja panjang kotak-kotak—dengan bagian 3 kancing teratasnya tak ditautkan—dengan bawahan celana pendek hitam sebatas paha jenjangnya, membuat Sakura terlihat err—seksi. Mau tak mau imajinasi Sasuke sedikit tertantang untuk membayangkan sesuatu yang lebih. Dan seringai mesum kembali menghiasi bibir Sasuke.

"Hentikan senyuman mesummu, baka!" omel Sakura.

"Salahmu sendiri berpakaian seperti itu," jawab Sasuke sambil mengendikan bahunya.

Tiba-tiba ada sekumpulan nenek-nenek dan ibu-ibu—yang pernah berdemo di depan villa Sasuke—lewat di depan villa Sasuke. Mereka sedang lari pagi bersama. Mereka menoleh ke arah Sasuke dan Sakura dan menyapa mereka.

"Nah, kalau kalian rukun kan, enak di lihatnya," komentar salah satu ibu-ibu yang lewat.

"Iya, nenek senang kau tak kasar lagi pada istrimu, Nak!" komentar salah satu nenek—yang pernah menjewer kuping Sasuke.

Sasuke tersenyum dan membatin, 'saatnya pembalasan.'

"Iya Nek! Ini kami akan jalan-jalan ke pantai. Biasa, si kecil minta jalan-jalan," ucap Sasuke sambil merangkul Sakura dan mengelus-elus perut Sakura.

Gezz… Ingin rasanya Sakura menjambak rambut pantat ayam Sasuke.

'Sial, si mesum ini cari kesempatan dalam kesempitan!' rutuk Sakura dalam hati sambil memelototi Sasuke—yang sepertinya pura-pura tak menyadari pelototan Sakura.

"Benarkan, Sayang?" Tanya Sasuke dengan senyum manisnya yang dibuat-buat.

"Eh? Mmm… Hehehe… iya," jawab Sakura dengan amat sangat terpaksa.

"Nah, gitu donk!" ucap ibu-ibu dan nenek-nenek itu serempak. "Kami duluan ya," ucap mereka lalu meninggalkan Sasuke dan Sakura.

"Berhenti bersikap mesum, Hentai!" sindir Sakura saat para ibu dan nenek itu sudah hilang dari pandangan—tangan Sasuke masih merangkul dan mengelus perut Sakura.

Sasuke hanya mengankat bahunya seolah tak terjadi apa-apa sambil melepas rangkulannya, "Satu sama, Pinkie!" ucapnya santai.

"Hentai!"

.

.

"Kyaa~~~! Lihat, pria itu tampan sekali! Bodynya seksi!" teriak beberapa gadis yang histeris saat Sasuke melepas kaosnya. Kini Sasuke bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek hitam. Hal itu tentu saja berdampak buruk bagi kesehatan jantung para gadis di sekitarnya.

Sasuke hanya tersenyum tipis mendengar jerit kekaguman setiap gadis yang melihatnya. Dan Sakura hanya bisa memberenggut melihat sikap para gadis itu. Entah kenapa ada satu sisi dalam dirinya yang tak rela jika tubuh seksi Sasuke diekspos pada khalayak umum—terutama gadis-gadis centil yang histeris saat melihatnya.

Saat ini mereka tengah berjemur di pantai. Sasuke bagai kumbang jantan seksi yang tak henti-hentinya mendatangkan gadis-gadis ke tempat mereka berjemur. Entah hanya untuk mengobrol sejenak atau bahkan sampai minta foto bersama, dan Sakura? Ia hanya bisa gigit jari melihat itu semua. Cemburu? Mungkin… Hanya Sakura yang tahu.

Sasuke yang menyadari wajah masam Sakura, mendekatinya—duduk di samping Sakura.

"Kau kenapa?" Tanya Sasuke sambil menatap wajah masam Sakura.

"Tak usah pedulikan aku! Pedulikan saja para fans-mu itu!" balas Sakura sarkastik. Ia menolak untuk menatap ke arah Sasuke.

Dan Sasuke tahu, Sakura… Cemburu.

"Cemburu ya?" goda Sasuke sambil menahan senyum.

"Cemburu? Padamu? Cih!" Sakura sama sekali tak mau mengakui, walau hati kecilnya berteriak, 'Plis deh! Sasuke kan tunangan ku! Ngapain sih cewek-cewek itu pada kecentilan.'

Oppss… Rasanya Sakura sudah mulai menerima Sasuke sebagai tunangannya.

"Cemburu juga tak apa-apa kok," sindir Sasuke.

"Jangan mimpi!" balas Sakura.

"Ayo ikut aku!"

Tiba-tiba saja Sasuke menarik tangan Sakura, mengajaknya berdiri dan berlari ke tengah pantai.

"Hei, mau apa sih?" gerutu Sakura—walau ia tetap mengikuti langkah Sasuke.

Tiba-tiba Sasuke merangkul Sakura dan berbisik mesum di telinga Sakura.

"Kau tahu, aku bukan pria mesum. Tapi jika di dekatmu, aku selalu ingin berbuat mesum," Sasuke mengakhiri bisikannya dengan mengecup pelan pipi Sakura.

Cupp…

Sakura mematung, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Sebelum akhirnya otaknya berhasil menerjemahkan secara sempurna segala yang baru saja terjadi. Dan ia langsung berteriak dan mengejar Sasuke yang telah lebih dulu berlari menjauh darinya.

"Dasar hentai~~~!"

.

.

Tiga hari? Apa waktu itu cukup untuk menumbuhkan cinta di antara mereka?

TBC

Catatan Kecil:

Alhamdulillah saya bisa juga mengapdet fic ini..XDD

Terimakasih atas apresiasi kalian semua.. Untuk semua yang sudah membaca, meripiu, memberi komentar, mem-fave *hug n kiss*

Terimakasih juga untuk beberapa orang yang notif fb-nya saya buat penuh..*nyengir gaje*

Terimakasih sudah bersedia membaca sampai disini..

Maaf jika typo tidak bisa saya hindari…XDD

Minta ripiu donk?#plakk..XD

Jaa~~

Aya^^10082010