Put Your Hearts Up
Pair: Harry.P x Draco.M(as main pair) and other
Rate: T+
Disclaim: udah jelas Harry Potter milik seorang. Saya hanya meminjam nama untuk menjadi cast dalam cerita ini.
Summary: hanya cerita sederhana tentang kehidupan dua anak remaja, Harry Potter dan Draco Malfoy.(sumveh ane gak pernah khatam bikin summary yang ketceh =.=v)
Warning! BL! OC, OOC, AU, NO MAGIC, NORMAL LIFE, BASHING CHARA! Dund read if u dund like ._.v
==================P.H.Y.U==================
Tanpa terasa empat hari sudah Harry tinggal bersama keluarga Malfoy. Dan hari ini, dia akan mulai bersekolah kembali. Beruntung keluarga Dursley masih tetap menyekolahkan Harry meskipun mereka memperlakukan pemuda itu bak pelayan. Jadi tak sulit bagi Lucius mendaftarkan Harry ke sekolah barunya. Terlebih Harry termasuk anak yang pintar sehingga dia mampu mengikuti test masuk ke sekolah barunya.
Bersama dengan Draco, Harry akan menjadi siswa baru tingkat dua di Hogwart Senior High School.
Tak jauh berbeda dengan Harry, Draco menjadi siswa baru karena sebelumnya, dia tinggal dan bersekolah di Prancis. Karena keputusan sang ayahlah yang ingin mereka sekeluarga pindah kembali ke Inggris dan membuatnya ikut meneruskan pendidikan di Hogwart bersama Harry.
Pagi ini, sebelum berangkat, Harry sarapan pagi lebih dulu bersama Lucius dan Narcissa. Draco yang harus berangkat bersama Harry belum terlihat berada di ruang makan bersama mereka bertiga.
"Dimana Draco?" tanya Lucius datar setelah menyesap sedikit kopi di cangkirnya.
"Mungkin masih bersiap-siap sayang..." jawab Narcissa.
Narcissa meletakkan selembar roti yang sudah diolesi selai coklat di atas piring Harry.
"Terimakasih Aunty."
"Anytime, Dear..."
Tak lama kemudian Draco turun dan bergabung bersama mereka. Seperti biasa, dia terlihat sangat tampan dan rapih.
"Good morning Mom, Dad," sapanya seraya mencium pipi ibunya.
"Morning, Son." Jawab sang ibu.
Dia duduk berhadapan dengan Harry seperti hari-hari sebelumnya.
"Morning, Harry."
"Morning, Draco,"
Interaksi sekilas antara Draco dan Harry tadi tak memberikan kesan jika hubungan antara keduanya jadi semakin akrab. Semua tetap sama seperti saat Harry baru datang dan tinggal bersama keluarga ini.
Draco lebih senang mengurung diri dalam kamarnya. Dia hanya akan keluar untuk melakukan hal-hal yang penting saja.
Sedangkan Harry, pemuda ini lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Narcissa. Pergi berbelanja, menghabiskan waktu seharian berkutat di dapur dan mencoba resep baru, atau jika cuaca cerah mereka akan berkebun dan merapikan koleksi bunga milik Narcissa.
Tak heran jika Harry tidak begitu akrab dengan Draco. Interaksi mereka dingin. Ada dinding pembatas diantara keduanya.
"Mom, Dad, bolehkah aku menanyakan satu hal?" santai Draco bertanya pada orangtuanya.
"Apa itu, Son?" Narcissa menjawab.
"Dia, Harry," Draco menunjuk sekilas Harry dengan pisau di tangannya. "Kalian mengajaknya tinggal di sini bukan untuk dijadikan sebagai pelayan, 'kan?"
"Apa maksud pertanyaanmu itu, Draco? tentu saja bukan!" Narcissa terkejut bukan main mendengar perkataan Draco.
Harry yang menjadi topik utama Draco mengernyit bingung.
"Jaga ucapanmu Draco. Perkataanmu bisa menyinggung Harry." Tegur Lucius pada putranya.
"Sorry Mom, Dad, tapi aku harus bertanya tentang hal ini. Bukan tanpa alasan aku menanyakan hal ini."
"Cepat katakan alasanmu." Tuntut Lucius tegas.
"Well, sudah tiga malam ini aku memergoki Harry sedang membersihkan dan merapihkan dapur. Bukankah semua itu tugas pelayan Mom, Dad?"
Harry terdiam. Kepalanya tertunduk dan matanya bergerak gelisah. Dalam hati dia merutuki Draco yang membicarakan hal ini pada orangtuanya tanpa berbicara lebih dulu dengannya.
"Benar begitu, Harry? Kau melakukan semua hal yang dikatakan oleh Draco barusan?" Lucius meminta penjelasan pada Harry.
"Engh... itu... a-aku..." Harry kehilangan kata-kata. Akhirnya dia hanya bisa mengangguk pelan membenarkan semua ucapan Draco.
Narcissa mendesah kecewa.
"Harry, Son, angkat kepalamu." Pinta Narcissa.
Harry mengangkat kepalanya berat. Dia mendapati Narcissa dan Lucius menatapnya intens meminta penjelasan.
"Sorry Uncle, Aunty, aku hanya... aku..." Harry meneguk ludah yang tersangkut di tenggorokannya paksa. "Aku hanya tidak terbiasa tidur cepat. Jadi... jadi aku hanya bisa melakukan rutinitasku seperti biasa sebelum tidur. Maafkan aku Uncle, Aunty..."
Narcissa bangkit dari kursinya pindah ke kursi di sebelah Harry. Wanita itu meraih kedua tangan Harry lalu menggenggamnya penuh kasih.
"Dengar, Harry. Kami mengajakmu tinggal bersama kami, bukan untuk menjadi seorang pelayan. Keberadaanmu di rumah ini sama seperti Draco. Kau sudah kami anggap seperti putra kami sendiri... bukan begitu, Lucius?" Harry melihat Lucius mengangguk. "Jadi, ubahlah kebiasaanmu. Sekarang kau tinggal di sini bersama kami, bukan di Private Drive bersama keluarga bibimu. Bisa kau melakukan hal itu, Son?"
"A-Akan kuusahakan, Aunty," jawab pemuda itu ragu.
Ada sedikit kelegaan terpancar dari tatapan mata Narcissa dan Lucius. Ya, mereka tahu jika kebiasaan lama akan susah untuk dirubah secepat kita membalik telapak tangan.
Setelah mengalami sedikit ketegangan saat sarapan, akhirnya Harry dan Draco berangkat bersama diantar oleh supir.
Dalam mobil, tak sedikit pun Harry mau melihat Draco yang duduk disebelahnya. Dia memalingkan wajahnya menatap keluar jendela mobil. Tak ada percakapan diantara keduanya. Hanya terdengar suara hembusan nafas saja. Begitu hening sampai...
"Jadi benar semua cerita orangtuaku tentang dirimu?" Draco membuka percakapan diantara mereka berdua.
"Tentang menjadi pelayan? ya, itu benar." Jawab Harry tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela.
"Tidakkah kau diajarkan sopan santun saat bicara dengan orang lain, Potter?" sindir Draco kesal melihat sikap Harry.
Harry diam. Namun semenit kemudian dia mengalihkan tatapannya melihat Draco. Raut wajahnya datar tanpa ekspresi saat melihat Draco membuat pemuda pirang itu mendengus sebal. Hanya sebentar, karena satu menit berikutnya, Harry kembali memalingkan wajahnya dan fokus melihat ke luar jendela.
Draco menyerah mengajak Harry bicara. Dia mengeluarkan Ipod dari dalam tasnya, memakai headset, dan mulai mendengarkan lagu-lagu kesukaannya sampai di sekolah.
Tanpa Draco ketahui, sepasang emerald Harry berkaca-kaca menahan sedih karena teringat akan kedua orangtuanya. Kejadian pagi ini membuatnya jadi berkali-kali lipat merindukan ayah dan ibunya.
'Mom... Dad... aku sangat, sangat, sangat merindukan kalian... aku ingin bersama kalian...' keluhnya dalam hati.
Harry menghembuskan nafasnya panjang dan berat.
Di Hogwart, keberadaan Harry dan Draco sebagai siswa baru segera saja menjadi topik hangat. Tak heran karena dua pemuda ini sangat tampan -cenderung manis untuk Harry- dan menarik perhatian setiap siswi di sekolah ini.
Canggung Harry duduk di salah satu meja di kantin. Dia merasa risih akan tatapan semua siswa maupun siswi yang berada di sana. Harry merasa heran pada mereka semua. Dia berpikir, apa yang menarik dari dirinya hingga membuat anak-anak itu menatapnya terus menerus. Dia menunduk dan menenggelamkan wajahnya berusaha tak menarik perhatian.
Puk!
Tepukan pelan di pundaknya mengejutkan Harry. Kepalanya mendongak melihat siapa yang mengejutkannya.
Seorang anak lelaki berambut merah terang dengan bintik-bintik yang hampir memenuhi seluruh pipinya berdiri di samping Harry. Cengiran lebar terbentuk di wajahnya.
"Hai Harry. Kau sendirian saja disini? boleh aku duduk bersamamu?"
"Ya, Ron. Aku sendirian. Terimakasih banyak jika kau mau menemaniku duduk disini."
Pemuda bernama lengkap Ronald Weasley itu meletakkan nampan berisi makan siang yang dibawanya ke atas meja sebelum dia menarik satu kursi dan duduk.
Harry dan Ron sudah berkenalan saat kelas pertama mereka tadi pagi. Harry senang bisa mengenal Ron. Sikap Ron sangat ramah pada Harry.
"Jadi, bagaimana setengah hari pertamamu berada di sekolah ini, Harry?" Ron mengawali percakapan.
Harry mendesah berat lalu mengangkat bahunya.
"Ada apa? Kau tak suka berada disini?"
"Bukan! bukan seperti itu... aku hanya merasa canggung dan...risih."
Dahi Ron mengerut bingung.
"Risih? karena apa?"
"Kau tahu? semua anak-anak terus saja menatapku. Entah apa yang mereka pikirkan tentangku. Apa mereka tak menyukaiku?"
Ron mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin. Tepat seperti yang Harry katakan. Berpasang-pasang mata melihat ke arah meja mereka berdua.
"Kau harus memaklumi mereka, Harry. Kau itu ibarat barang baru bagi mereka."
Kening Harry berkerut bingung. Perumpamaan apa itu? barang baru? hei! Harry manusia bukan benda mati!
"Kurasa akan sulit bagiku untuk terbiasa, Ron." Harry kembali menenggelamkan wajahnya di atas meja.
"Sepertinya, murid baru yang masuk bersama denganmu bisa beradaptasi dengan cepat, mate. Bangun dan lihatlah," Ron menarik Harry bangun lalu menunjuk ke arah Draco di tengah kantin dengan dagunya.
Harry mengikuti intruksi Ron dan mendapati di salah satu meja, Draco tengah tertawa seru dengan beberapa orang siswi mengelilingi dirinya. Selama empat hari tinggal satu atap bersama Draco, untuk pertama kalinya Harry melihat Draco tertawa. Dan tawa Draco seolah-olah telah menghipnotis dirinya. Dia terdiam tak mampu mengalihkan pandangannya.
"...ry...Harry!" suara seorang gadis membuat Harry kembali ke dunia nyata. Cepat dia menoleh melihat siapa yang memanggil dirinya.
"Err... hai, 'Mione..." sapanya kikuk pada gadis manis berambut coklat mengembang.
Hermione Granger nama gadis itu. Hermione memutar bola mata melihat Harry tersenyum canggung.
"Hai, Harry. Keberatan jika aku bergabung bersama kalian?" tanya gadis itu.
Sama seperti Ron, Harry berkenalan dengan Hermione saat kelas pertamanya.
"Tentu. Silahkan." Jawab Harry cepat.
"Err... tapi aku tidak sendiri... kau lihat disana?" Hermione menunjuk ke arah pintu masuk. "Itu sepupuku. Dia bilang, dia ingin berkenalan denganmu, Harry. Boleh jika aku mengajaknya bergabung?" pinta Hermione sedikit ragu.
Harry melihat pemuda itu berdiri disana sambil menatapnya tajam. Ada sedikit perasaan aneh merasuk dalam hati Harry. Tapi satu detik berikutnya Harry mengangguk setuju. Hermione merasa senang lalu memanggil pemuda yang dia bilang sepupunya itu. Si pemuda bermata tajam pun mendekat.
"Nah, Harry, kenalkan ini Tom sepupuku." Tutur Hermione memperkenalkan pemuda itu pada Harry.
Tom mengulurkan tangannya. Tanpa keraguan Harry menyambut uluran tangan Tom.
"Hai, namaku Tom. Tom Riddle. Senang bisa mengenalmu, Harry."
"Ha-hai... namaku Harry. Harry James Potter. Aku juga senang bisa mengenalmu, Tom."
Manik biru jernih milik Tom beradu pandang dengan kilau emerald Harry.
"Ekhem! Tom, kurasa kita bisa duduk dulu, dan melanjutkan acara kenalannya sambil makan siang, bagaimana?" Hermione menginterupsi.
Harry tersadar lalu cepat melepaskan jabatan tangannya dari tangan Tom.
Tom menarik satu kursi yang berada di depan Harry. Dari tempatnya, dia bisa puas memandangi wajah manis Harry.
Obrolan ringan pun bergulir diantara mereka berempat. Tak disangka oleh Harry, Tom ternyata pribadi yang menyenangkan. Terkadang dia akan melontarkan lelucon hingga membuat Harry tertawa. Sekarang Harry bisa merasa sedikit rileks berkat Tom.
Sepasang mata biru yang lain berkilat tak suka melihat kearah meja Harry. Tangannya terkepal menahan kesal.
-tbc-
Whoaaa... rekor bagi saya bisa update chapter dua secepat ini! Fufufuuu~
Beneran deh, coment dari kalian para readers itu udah kaya penyemangat buat aku! ^^
Oke, saatnya buat aku bales review kalian dulu...
#Nico Febryan Lim: yaa untuk fandom dan pairing ini ff perdana saya hehehe... sebelumnya saya lebih sering buat ff kpop dengan pairing straight ^^ thanks for RnRnya yaa... ini udah apdet ASAP kan ;)
#Miyazaki Aika: benarkah bikin penasaran? Semoga di chap2 selanjutnya tetep bikin kamu penasaran yaa ^^ thanks for RnRnya ;)
#Xavier Roxxane: umm... ketebak yah alurnya hehehe... saya emang paling comfort di genre ini soalnya... saya author mainstream kkk thanks buat review perdananya yaa hehehe
BIG THANKS FOR YOU ALL... REVIEW LIKES HEROIN FOR ME... AND THANKS FOR SUPPORTING ME... KECHUP ATU2 MWAH :* :* :*
regards
ChizCakeChiz
