(2) AM I STILL

Warning: T nyerempet M...

.

.

.

.

Ini sudah lewat seminggu, dan Park Chanyeol masih betah hidup dalam tatapan matinya.

Ia sungguhan patah hati.

Benar-benar patah hati sampai ia sendiri pun tak tahu bagaimana caranya menjelaskan perihal perasaannya saat ini pada Sehun dan Jongin yg tak henti memarahinya sejak beberapa hari lalu.

Mereka tak akan mengerti.

"Serius, Yeol. Tidakkah kau pikir ini agak berlebihan?"

Apa Chanyeol bilang? Mereka tak akan mengerti.

"Diam, Hun. Aku sedang tak bernafsu untuk berdebat."

Dia menjawab asal. Lalu melipat kedua tangan dan menenggelamkan wajah kusutnya disana.

"Bukan begitu, bro."

Jongin turut angkat suara.

"Kau bahkan tak tahu namanya. Kau hanya bicara dengannya dalam sekejap waktu. Dan kau pun sekarang tahu dia sebenarnya siapa. Seperti apa. Lantas kau masih sedepresi ini?"

Chanyeol menghela nafas. Kemudian mengangkat kepalanya dan memandang kedua karibnya bergantian.

"Aku segalau ini, justru karena aku tahu siapa dia yg sebenarnya. Tidakkah kalian berpikir kesana?"

Jongin dan Sehun diam.

"Aku tak pernah jatuh Cinta. Dia yg pertama. Kalian tahu betapa excited nya aku saat menyadari perasaan ini? Aku teramat senang. Menciptakan banyak harapan dalam kepala. Lantas kala aku sudah mulai jatuh sedalam ini, sebuah kenyataan terkuak. Bahwa dia tak seindah kelihatannya. Bahwa dia bukan lelaki baik baik. Bahwa dia bukan malaikat seperti yg telah ku visualisasikan. Bisakah kalian bayangkan bagaimana kondisi perasaanku sekarang? Apa masih pantas kalian berkata ini agak berlebihan?"

Dia menjelaskan. Pelan namun tepat membidik hati kedua sahabatnya. Lantas kembali melesakkan wajahnya pada lipatan tangan.

"Asal kalian tahu, aku juga tak berharap akan semenyedihkan ini. Aku pun berharap bisa begitu saja melupakannya dan menjalani hari-hari ku seperti biasa."

Suaranya sedikit tak jelas karena teredam kedua lengannya sendiri. Tapi Jongin dan Sehun masih mendengarnya jelas.

"Yeol,"

Sehun meletakkan satu telapak tangannya diatas pundak yg paling tinggi. Merasa tak enak sendiri setelah mencerna semua penjelasan itu.

"Maaf. Kami memang benar tak mengerti. Kami hanya tak bisa melihatmu begini terus, bro."

"Kesedihanmu itu menular. Kami seperti sedang putus Cinta juga setiap melihatmu."

Jongin baru saja ingin menambahkan kalimat maaf di akhir ucapannya sebagaimana Sehun, tapi Chanyeol sudah lebih dulu mengangkat wajah dan tersenyum sebelum akhirnya melemparkan sepotong kentang goreng pada wajahnya.

"Tidak usah sok melas. Tidak pantas."

Katanya, lantas terkekeh.

"Kurang ajar! Kupikir kau sudah menangis tadi."

Dan Jongin balas melemparkan kentang goreng miliknya pada wajah lesu itu.

Sehun buru buru mengangkat piring bulttak nya sebelum tercemari kentang2 bodoh itu.

Mereka tertawa seolah obrolan serius tadi tak pernah terjadi.

Chanyeol berhasil mencairkan suasana. Andai bukan karena tak ingin membuat kedua sahabatnya merasa bersalah dan terbebani, satu senyum pun tak akan pernah bisa ia keluarkan di saat saat seperti ini.

Berlebihan. Chanyeol tahu.

Sayang sekali memang itulah kenyataannya.

...

HOPELESS HOPE

...

"Tidak mau tahu. Sampai di rumah nanti aku harus makan Deonjang Jigae buatan Bibi Ahn. Paham?"

Chanyeol menahan diri untuk tidak mengumpat pada sang kakak kala kalimat penutup itu meluncur santai. Alih alih mengumpat, dia malah menendang roda belakang sepeda Sehun sampai anak itu terlonjak kaget dan memakinya.

"Iya, kakakku yang cantik. iyaaaa"

Sedikit tekanan dia berikan. Dan kakak nya di sebrang sana memekik senang lantas memutus sambungan dengan cepat tanpa ucapan selamat tinggal.

Chanyeol menghela napas. Sudah biasa. Park Yoora yg tengah mengandung memanglah merepotkan.

"Mengidam apa lagi kakakmu?"

Tanya Sehun sambil menaiki sepeda dan mulai mengayuh. Chanyeol menyusul disampingnya.

"Akan pulang ke rumah dengan alasan rindu ibu, ingin makan Donjang Jigae Bibi Ahn, ingin aku yg belikan, ingin tidur di kamarku nanti malam, ingin segalanya."

Dia menjawab asal. Kesal pula. Duh Tuhan, kalau bukan karena orang tua nya yang mengancam akan menjual semua gitarnya jika ia tak menuruti permintaan sang kakak, Chanyeol pastilah sudah tak peduli.

Masa bodoh kalaupun nanti keponakannya akan terus mengeluarkan liur sampai tua.

"Kasihan. Salah sendiri punya kakak."

"Kau juga punya kakak, hun. Berkacalah."

"Yaa setidaknya kakakku tidak hamil dan tidak akan pernah bisa hamil. Dia pihak yang menghamili, asal kau tahu."

Sehun terbahak sendiri. Chanyeol tak menggubris. Anak itu memang punya penyakit gila yg hanya akan muncul kala matahari terbenam. Namanya apa Chanyeol tak tahu. Jadi tolong jangan terlalu peduli.

Dia gila saat sudah tak ada orang. Biarkan.

"HOY, HITAM!"

Sehun berteriak kejam.

Kim Jongin di gerbang sana menoleh sebentar atas teriakan itu. Tapi setelah lihat siapa yg memanggil, dia merotasikan bola mata dan hadap depan lagi.

Lanjut mengobrol dengan pujaan hati.

Iya. Kyungsoo.

Kau pikir siapa? Krystal?

"Kalau malam ini aku tidak bisa, Kak."

Si adik kelas menatapnya dengan tak enak hati. Jongin mengajak makan malam dan ia tak bisa mengiyakan.

"Ah, begitu ya.."

Jongin tersenyum paksa. Sedikit kecewa, sebenarnya. Tapi ia mencoba mengerti.

(Ya. Pura-pura gentle dihadapan crush itu perlu, kawan)

"Aku benar-benar minta maaf, Kak. Kita bisa pergi lain kali kan?"

Dan semua rasa kecewa itu menguap ke udara begitu saja. Jongin terpana oleh tatapan polos penuh harapnya. Oh tuhan, kapan dia bisa punya keberanian untuk menyatakan Cinta dan menjadikan anak ini sebagai kekasihnya?

Jongin pengecut. Dia sudah tahu. Tak usah diingatkan.

"Tak apa, Kyungsoo. Aku mengerti. Kita bisa pergi lain kali."

"Janji?"

lihatlah siapa yg lebih bersemangat sekarang.

Dammit.

Jongin berusaha mati-matian menahan teriakan bahagia.

"J-janji. Aku janji, Soo."

Dan ia jadi terlihat bodoh dengan anggukan ribut serta senyum lebar itu. Menanggapinya, Kyungsoo hanya tersenyum manis.

"Kalau begitu aku pulang duluan, Kak. Sampai jumpa besok."

Jongin membalas ucapan selamat tinggalnya dengan anggukan dan lambaian tangan. Si pujaan hati mulai melangkah pergi setelah sebelumnya membungkuk sopan dua kali ke arah kanan dan kirinya.

Dia mengernyit heran. Lantas berbalik badan dan mendengus menemukan Oh Sehun dan Park Chanyeol disana. Sedang menatapnya intens dengan wajah menyebalkan. Jadi sadari tadi Jongin tak sendiri?

"Tidak jadi kencan?"

sehun memulai.

"Tidak jadi confess?"

Chanyeol melanjutkan sambil menahan tawa.

"Dinner nya batal?"

"Makan malamnya tetap dengan monggu ya?"

"Kenapa aku kasihan, ya?"

"Prihatin boleh tidak?"

"Ingin tertawa tapi kata orang kau sahabatku."

"Ingin menghina tapi takut kena karma."

"Ingin-

"KE NERAKA SAJA KALIAN BERDUA!"

Dan setelahnya, Chanyeol serta Sehun harus benar-benar mengebut supaya bisa pulang selamat tanpa benjolan sedikitpun karena Kim Jongin sedang dalam mode gilanya;

Melempar Batu sambil mengumpat. Sesekali tertawa saat melihat kedua karibnya hampir menabrak trotoar atau dimaki sopir taksi.

Yeah. Beginilah gaya galau nya Jongin. Belajarlah untuk terbiasa.

...

HOPELESS HOPE

...

Rumah makan sederhana milik Keluarga Paman Ahn sudah jadi langganan Keluarga Chanyeol sejak lama. Teramat lama sampai Chanyeol tak lagi malu untuk berhutang.

Dia lupa bahwa hari ini dia sedang tak bawa uang. Makan siang tadi dia bayar pakai Kartu debit.

(Kantin sekolahnya bergaya food court. Tidak usah iri, ya)

"Aku sungguh lupa, bi. Aku janji besok sebelum berangkat ke sekolah aku akan mampir kesini terlebih dahulu untuk membayarnya. Oh- atau nanti malam saja? Iya! Aku akan kemari nanti malam sebelum berangkat ke cafe. Ya? Kumohon bi?"

Dia mengekori Bibi Ahn yg tengah sibuk kesana kesini menyiapkan pesanan Yoora di dapur.

"Sudah berapa kali kubilang untuk berhenti memohon, Chanyeol? Tidak apa-apa. Bayar kapan saja kau mau."

Si wanita paruh baya itu berdecak kesal. Pasalnya keluarga Chanyeol sudah dikenalnya dengan teramat baik. Berhutang segini saja benar-benar bukan masalah baginya.

"Ini. Sudah kutambahkan seporsi Jjampong kesukaanmu."

Katanya dengan senyum teduh seraya mengulurkan satu handbag penuh makanan pada Chanyeol. Diterima dengan sebuah cengiran lebar dan suara "Waaaaah" yg ceria.

"Jjampong nya gratis, bi? Sungguhan?"

Bola mata besar itu berbinar senang. Bibi Ahn berdecak sekali lagi lantas tertawa.

"Iya. Spesial untukmu."

Jawabnya, dan Chanyeol kembali berseru gembira.

"Terimakasih, Bibi. Tunggu aku besok pagi, oke?"

Mereka berjalan beriringan keluar dari dapur. Tak banyak pengunjung yg datang karena belum terlalu petang. Semua orang masih beraktifitas.

Di dekat meja kasir yang ditempati Paman Ahn Chanyeol berhenti. Menunjukkan senyum lebarnya pada kedua paruh baya itu.

Hendak berpamitan.

"Kalau begitu aku pulang dulu, Bibi, Paman. Sampai jumpa bes-

"BIBIIIIIIIIIIIIIIII"

Tapi urung karena satu teriakan dari arah pintu masuk menginterupsi.

"BIBIIIIII BIBIIIIIIII"

Sekali lagi teriakan nyaring itu terdengar. Cukup untuk membuat Chanyeol membalik badan.

Dan seketika kedua manik matanya membola.

Itu Baekhyun.

Baekhyun.

Yang mengganggu pikirannya seminggu terakhir ini.

Iya, Baekhyun.

Bee Byun.

Disana.

Dekat dengannya.

Seperti bisa diraih.

Tuhan, ini terlalu tiba-tiba.

"Bibi lihatlaaaah."

Sosoknya melangkah terburu Buru menghampiri Bibi Ahn yg memandangnya heran. Di pelukannya ada seekor Persia Peaknose berwana abu-abu yang tampak lemas. Sekali lihat saja semua orang pastilah tahu bahwa kucing manis itu sedang tak sehat.

"Bibi, Tolong akuuuu~ Lihatlah! Lihat! Pamaaan~ lihat kesiniiii."

Dia panik. Memperlihatkan kucingnya pada Bibi Ahn lalu pada Paman Ahn yg hanya mengerutkan dahi sebentar pertanda bingung tapi kembali mengahadap depan karena ada pengunjung yg hendak membayar.

"Ron ku sakit bibiiiiii bagaimana iniii?"

Baekhyun merengek. Kedua sipitnya tampak merah. Bibi Ahn membawa si kucing -yg ternyata bernama Ron- pada pelukannya. Dan ia sedikit terhenyak.

"Tubuhnya panas sekali, Baekhyun!"

Yang lebih tua ikut panik. Dihadapannya Baekhyun merengek semakin keras. Menghentakkan kaki. Menutup wajah dengan kedua tangan. Mengeluarkan suara seperti tangisan sungguhan.

Ditempatnya, Chanyeol masih mematung. Masih terlalu shock atas segala apa yg dilihatnya.

Baekhyun, Kucing itu, Hubungan Baekhyun dengan Bibi Ahn, semua berputar enggan pergi dari kepala.

Ia bahagia. Tak perlu munafik lagi. Dia merindu lelaki itu begitu dalam. Begitu banyak.

Tapi ia pun masih sakit hati. Kenyataan pahit itu menamparnya untuk yang kesekian kali. Mengingatkannya untuk berhenti menumbuhkan asa. Menyadarkannya untuk membuang setumpuk harapan yg pernah tercipta.

Dia bukan orang yang tepat.

Berhenti menatapnya dengan binar kagum itu.

Tapi ia Indah.

Bahkan saat tengah merengek seperti saat ini, ia tetap Indah.

Aku mengaguminya.

Tidak boleh.

Chanyeol menggeleng kepala. Meninggalkan pergolakan hatinya dengan cepat.

Perasaannya mungkin memang sudah tergores luka malam itu. Tapi ia juga tak ingin pergi membuang asanya secepat ini.

Aku ingin tetap mencinta.

Ketulusannya menang.

Biarkan aku bertahan.

Dan hati kecilnya memantabkan keputusan.

"A- ada apa dengan kucingmu?"

Gugup dan dentuman jantung tak tahu malu mengawali. Chanyeol melangkah dua kali. Mendekat pada si Cantik yg masih terlihat bersedih.

"Oh astaga. Aku bahkan melupakanmu, Chanyeol. Maafkan bibi oke? Kucing nakal ini membuatku panik."

Bibi Ahn menyahuti sambil mengusap lengan atasnya. Ia tersenyum menenangkan.

"Dia siapa, bibi?"

Baekhyun mencicit. Mengambil alih Ron nya dari dekapan sang Bibi dan memandang Chanyeol heran.

Tentu. Kau pasti sudah melupakanku.

Chanyeol terkekeh kecil pada kata hatinya sendiri.

"Dia ini Chanyeol, Putra temanku."

Bibi Ahn memperkenalkan. Baekhyun dengar. Tapi ia masih diam dengan pandangan yg tak lepas sedetikpun dari lelaki tinggi berseragam SMA dihadapannya.

Chanyeol jadi canggung sendiri.

"Berikan dia padaku. Mungkin aku bisa bantu mengurangi demamnya."

Dan dengan sedikit keberanian Chanyeol mengambil alih Ron dari gendongan majikannya.

Jantungnya seperti tersengat listrik saat kulitnya tak sengaja bersinggungan dengan kulit sang pujaan.

Chanyeol menggila.

"Sejak kapan dia demam?"

Kini fokusnya sedikit demi sedikit benarlah terfokus pada si Kucing. Ia pergi ke meja nomor delapan belas yg kebetulan kosong dan refleks Baekhyun mengikuti.

Bibi Ahn hanya memandang mereka bingung lantas kembali ke dapur. Dia tahu Chanyeol mungkin memang bisa membantu. Anak bungsu keluarga Park itu pecinta binatang, seingatnya.

"Ka- kau.. Bisa menyembuhkannya?"

Yang lebih kecil bertanya penasaran. Wajahnya sungguh terlihat tak tenang.

Chanyeol menahan diri untuk tidak mencubit pipinya karena gemas.

"Mungkin tak akan bisa sembuh total. Aku hanya akan membantu. Aku juga punya kucing di rumah."

Dia menjawab dengan nada santai.

Atau lebih tepatnya, Berusaha terdengar santai.

Terasa seperti mimpi. Bicara dengan sosoknya dengan jarak sedekat ini. Ia gemetar, jujur saja.

"Boleh minta tolong?"

Itu pertanyaan pertamanya setelah sibuk mengecek kondisi Ron dengan teliti.

"Oh- tentu! Tentu saja. Apa yg bisa kulakukan?"

Baekhyun terlihat sangat tidak sabar.

"Tolong pinjamkan kipas angin kecil pada Bibi Ahn. Bisa?"

"O-oke. Tunggu sebentar."

Pemuda mungil itu melangkah cepat meninggalkannya setelah tersenyum gugup. Chanyeol memandang punggungnya yg menjauh dengan binar hangat.

Dia tak terlihat seperti orang buruk.

Mungkin Sehun berbohong.

Dia orang baik.

Tapi kejadian malam itu di pinggir jalan Raya juga bukan pula sebuah mimpi.

Matanya menyaksikan sendiri.

Sakit yg ia alami nyata terasa.

Sampai detik ini pun masih, sejujurnya.

"Haaahhhh"

Chanyeol menghela nafas. Dadanya sesak oleh berbagai perasaan yg tumpang tindih oleh pertemuan tak disengaja ini.

"Baik, mari fokus pada kucing Malang ini Park."

Dia bicara pada dirinya sendiri. Berjongkok di lantai dan meletakkan Ron disana. Salah satu cara menurunkan suhu tubuh kucing kala demam.

"Diam sebentar, manis."

Ia berusaha untuk tetap meletakkan Ron di lantai meski kucing abu-abu itu tampak enggan. Chanyeol mengerti. Saat sedang sakit begini, seekor kucing akan lebih suka bermanja dengan majikannya.

"Pintar. Diamlah seperti ini dulu, oke?"

Tangan besarnya mengusap pelan Ron yg kini telah menyamankan diri di lantai. Kedua mata dan hidung kecilnya berair. Chanyeol menatapnya iba.

"Ini kipas nya-"

Baekhyun yg baru saja datang dengan sebuah kipas angin kecil berwarna kuning nampak terkejut mendapati Chanyeol sedang berjongkok di bawah dan Ron nya yg tidur dengan ekor melingkar di atas lantai.

"Apa yg kau lakukan disitu? Apa tak apa membiarkan Ron kedinginan di lantai? Bukankah itu akan membuatnya semakin demam?"

Dia bertanya cepat. Menatap Chanyeol dengan wajah agak kesal.

Yang ditatap hanya terkekeh geli dan menjelaskan.

"Kucing dan manusia berbeda. Saat demam, ia butuh segala sesuatu yg dingin untuk menurunkan suhu tubuhnya."

Si pemuda Byun masih diam. Sedikit tak percaya. Tapi pada akhirnya ia turut berjongkok juga menatap Ron dengan binar khawatir.

Chanyeol mengambil kipas angin mini itu dari tangan Baekhyun. Menghidupkannya. Lalu mengarahkan anginnya pada sekujur tubuh Ron pelan pelan.

2 menit diam begitu, tiba-tiba Chanyeol berdiri. Membuat Baekhyun mendongak dengan tatapan tanya.

"Ada apa?"

"Aku akan ambil sesuatu ke dapur dulu. Kau tunggu saja disini, oke?"

"T-tidak. Aku saja."

Baekhyun ikut berdiri.

"Katakan padaku apa yg kau butuhkan. Biar aku saja yang ambil."

Dia berkata yakin.

Chanyeol tersenyum penuh arti.

"Tidak. Tak apa. Biar aku saja. Kau temani Ron disini. Aku tak akan lama."

Tanpa menunggu persetujuan, pemuda tinggi itu melangkah pergi menuju dapur. Meninggalkan si kecil yg kini tampak mengerucut sebal seraya kembali berjongkok.

"Aku kan jadi tak enak hati."

Dia menggerutu. Menggantikan tugas Chanyeol tadi mengipasi Ron.

"Sebenarnya dia siapa sih? Kenapa aku seperti pernah lihat?"

Lagi. Baekhyun menggerutu kecil. Seolah tengah berbicara pada kucingnya.

Sesekali wajahnya akan mendekat untuk mencium kepala Ron. Dia baru memilikinya 2 Bulan. Dan ini adalah pertama kali Ron sakit selama hidup bersamanya.

"Jangan sakit, Ron. Aku mengkhawatirkanmu..."

Menyandarkan satu sisi pipinya pada lutut, dia meletakkan kipas kecil itu di depan perut Ron dan menggunakan tangannya mengusap tubuh Ron yang masih terasa panas.

Beberapa saat setelahnya Chanyeol datang dengan satu baskom penuh berisi kotak kotak es batu, satu handuk kecil, beberapa lembar tisu, dan beberapa plastik bening.

Meletakkannya diatas lantai tempatnya tadi berjongkok dan kembali ke dalam dengan langkah cepat. Kemudian kembali lagi dengan satu mangkok kecil berisi air.

Untuk yang kedua kalinya, Baekhyun dibuat bingung sendiri.

"Apa yang akan kau lakukan dengan es itu?"

Chanyeol tak menjawab. Hanya memasukkan satu kotak es pada sebuah plastik dan menggulungnya.

"Ini yang akan kulakukan."

Dia tersenyum. Meletakkan mangkok air dihadapan wajah Ron. Berharap si Kucing mau meminumnya. Lantas meletakkan es batu yg sudah terbungkus plastik itu di bawah cakar kakinya. Membalutnya dengan tisu halus agar tak lepas. Melakukan hal sama pada cakar Ron yg lain.

Baekhyun mengernyitkan dahi. Mulutnya terbuka hendak protes. Tapi sebelum terjadi, Chanyeol sudah lebih dulu memotong.

"Ini juga ampuh untuk menurunkan suhu tubuh. Tenang saja. Aku tak akan menyakitinya."

Ia terkekeh geli melihat ekspresi pasrah si Byun yang begitu lucu. Lantas memasukkan sisa es batu pada handuk putih. Membuat satu buntalan dan meletakkannya disekujur tubuh Ron pelan pelan.

"Sebenarnya ada yg lebih ampuh dari ini untuk menurunkan demamnya."

Chanyeol berusaha memulai obrolan.

Ia tersenyum lega mendapati Ron menegakkan kepala dan meminum airnya.

"Apa itu?"

Dan sepertinya Baekhyun tertarik.

"Memandikannya. Itu akan lebih cepat kurasa. Tapi sebaiknya lakukan itu saat dia sedang tenang dan tidak rewel."

Ia tersenyum lagi di ujung kalimatnya. Baekhyun mengangguk paham.

"Akan kucoba nanti dirumah."

Katanya dengan satu senyum tak yakin.

"Sejak kapan dia demam?"

"Tadi siang kurasa."

Wajah cantiknya cemberut. Chanyeol terkikik pelan.

"Aku tak tahu dia akan sakit. Dia bahkan masih berkeliaran dengan riang kemarin malam."

Baekhyun mulai bercerita. Chanyeol memilih untuk diam untuk mendengarkan suaranya lebih lama.

"Aku baru tahu tadi. Itupun temanku yang memberitahu."

"Temanmu?"

"Iya. Ron menelusup masuk kedalam selimut saat kami tidur. Dan tubuhnya yang panas mengenai dada temanku sehingga dia terbangun. Aku tak tahu apa-apa sampai ia memberitahuku. Aku tak mudah bangun kalau sudah terlelap."

Hening setelah itu.

Chanyeol merasakan lidahnya gatal ingin bertanya apakah dia tinggal seorang diri atau tidak. Tapi ia urungkan pada akhirnya.

"Ron juga muntah di pakaian temanku yg memang berserakan di lantai. Dan itu sangatlah membuatku panik sehingga langsung membawanya kesini alih alih ke dokter hewan."

Dia melanjutkan.

Chanyeol meneguk salivanya paksa.

Berserakan di lantai.

"Dia bahkan tak henti mengeong saat kami melakukan sex tadi siang. Tapi bodohnya aku tak menyadari."

Tepat setelah itu, kedua matanya membola.

Ia tak ingin terlalu kelihatan terkejut tapi tak bisa.

Kau bahkan sudah tahu dan masih saja terkejut.

Ia berbicara dalam hati pada diri sendiri. Mengolok.

Tapi aku tak menyangka bahwa mendengarnya langsung akan semenyakitkan ini.

"Kenapa?"

Rupanya ekspresi kaget itu disadari oleh Baekhyun.

"Kau asing ya, dengan hal-hal semacam itu?"

Dia bertanya dengan santai. Chanyeol ingin berkata iya sebanyak mungkin tapi ia tahu bahwa menjaga perasaan orang lain adalah yg paling utama.

Maka dari itu, meski rasanya sungguhlah berat ia tetap memaksakan diri untuk menggeleng dan tersenyum lebar.

"T-tidak kok. Tidak apa-apa. Aku tidak merasa asing. Itu sudah biasa. Itu hal yang biasa."

Dia menunduk untuk menghindari tatapan yg lebih kecil. Pura-pura sibuk dengan Ron.

"Oh. Kukira kau akan merasa jijik dan pergi berlalu begitu saja. Syukurlah kalau begitu."

Nyatanya aku memang ingin sekali pergi karena sakit hati.

Baekhyun tertawa kecil. Menunduk juga dan mengusap kepala Ron dengan telapaknya.

Tak sadar bahwa kini Chanyeol sedang berusaha mati matian untuk bertahan disana.

Dan mirisnya, tak sampai semenit kemudian Chanyeol benarlah melepas pegangannya pada buntalan es itu. Meletakkannya dilantai dan berdiri.

Dia belum terbiasa dengan rasa sakit ini.

"Mau pergi ya?"

Baekhyun turut berdiri. Ada nada sedikit tak rela dalam suaranya. Chanyeol tersenyum canggung.

Ia Ingin pergi tanpa membuatnya tersinggung.

"Aku lupa menjemput adikku. Ini sudah sangat petang. Aku pasti terlambat."

Dia melihat jam tangannya pura-pura. Menggaruk kepala yg tak gatal.

"Oh. Maaf ya. Aku yg menghambatmu."

Baekhyun memandangnya tak enak hati. Buru-buru ia menggeleng.

"Tidak. Tak apa. Aku senang bisa membantu."

"Tetap saja kau terlambat. Adikmu pasti sudah menunggu lama. Maafkan aku."

"Tak apa. Sungguhan. Berhentilah meminta maaf."

Chanyeol mengibaskan tangannya dan tertawa kecil.

Dia meminta maaf atas kebohonganmu.

"Kalau begitu, aku duluan ya."

Mulai melangkah untuk pergi, ia melambaikan tangan ragu-ragu.

Cepatlah pergi sebelum dia meminta maaf lebih banyak padahal kau hanya bicara omong kosong.

"Tunggu dulu-

Dan baru tiga langkah ia ambil, Baekhyun menahannya dengan sebuah panggilan.

"Ya?"

Chanyeol menoleh dengan cepat.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Kau mengingatku.

Senyum lebarnya muncul lagi.

"Sekitar seminggu lalu, di Garosugil. Kau menolongku sesaat setelah di serempet sepeda."

Jantungnya berdebar hanya karena melihat Baekhyun menyatukan alis. Dia berusaha mengingat. Dan Chanyeol bahagia.

"Oh!"

Pekikan kecil itu membuatnya tersenyum lebih cerah.

"Aku ingat. Saat itu aku sudah coba memanggimu tapi kau tak dengar. Iya kan?"

Chanyeol mengangguk.

Baekhyun tertawa renyah.

"Aku tak menyangka akan bertemu lagi denganmu disini. Malah kau jadi penolongku sekarang."

Ia tersenyum. Sangat manis. Maniknya menyipit cantik.

Chanyeol ingin menghentikan waktu kalau diperbolehkan.

"B-baik. Kalau begitu aku pergi. Dan.. Jangan lupa bawa Ron ke dokter."

Tapi ia tetap harus pergi guna menghindari obrolan yg lebih menyakitkan lainnya.

"Oke. Akan kulakukan besok. Hati-hati. Sampai jumpa lagi, Chanyeol!"

Di parkiran depan, ia menaiki sepedanya dengan dentuman gila yg tak kunjung berhenti.

Baekhyun memanggil namanya.

Dan itu sungguh terdengar Indah.

"Argh, aku bisa sinting lama lama."

Dengan kayuhan cepat dia benar-benar pergi dari sana. Sambil mengayuh ia berpikir, bagaimana mungkin dua perasaan yg saling bertentangan bisa tinggal bersama di hatinya yg hanya satu?

Tadi dia meyakinkan hati untuk tetap bertahan dengan perasaanya, tapi mendengar Baekhyun menyinggung sex nya sedikit saja rasanya sudah sesakit ini.

Namun kemudian ia terbang lagi hanya dengan fakta bahwa Baekhyun mengingatnya. Lalu ia menggila hanya karena Baekhyun tersenyum padanya.

"Serius. Aku mungkin memang sudah gila."

Dia berbicara sendiri. Mendecak kesal. Mengacak rambutnya.

Cepat buat keputusan.

Bertahan dan belajar untuk terbiasa,

Dan yg perlu ia lakukan besok adalah mendatangi Bibi Ahn untuk bertanya mengenai Baekhyun lebih banyak. Sepertinya Bibi Ahn kenal.

Atau melupakannya dan menghempas perasaan ini.

Mumpung masih belum terlalu dalam. Saat diberi kesempatan bertemu lagi suatu hari nanti, ia hanya perlu bersikap biasa.

Aku bukan pengecut.

Cepat buat keputusan.

Sekali lagi, mumpung masih belum terlalu dalam.

"Tapi senyumnya benar-benar mengganggu. Apa yg harus kulakukan?"

...

HOPELESS HOPE

...

Sehun baru saja datang dan melepas tali sepatunya saat Miho tiba-tiba saja keluar rumah sambil menyeringai aneh.

"Apa?"

Ia bertanya dengan dahi mengerut. Miho berjalan melewatinya dan pergi ke garasi mobil.

"Ada paketan dari Xiaolu mu."

Sehun menatapnya kaget.

"Serius?!"

Ia sudah melepas sepatunya dan memakai sandal rumah. Miho sudah memasuki mobil dan menyalakan mesin. Bersiap pergi.

"Iya."

"Apa isinya?"

"Tidak tahu. Aku hanya baca suratnya."

"Yaah.. Aku penasar- Ya! Siapa yang mengizinkanmu membaca suratku- HOI SIALAN KAU! JANGAN KABUR KAU, BRENGSEK!"

Didalam mobil Miho terkikik geli. Pergi begitu saja setelah membuat sang adik memaki dan mengumpatnya.

"Kubalas kau nanti. Sialan."

Sehun menggerutu sebal memasuki rumah. Membanting pintu sambil berteriak "Aku pulang" dengan keras. Mendapat lemparan piringan hitam dari sang ayah yang bisa ia tangkap dengan baik.

"Dimana paket untukku?!"

Dia menaiki tangga.

"Kau bertanya pada siapa?! "

Ibunya balas berteriak.

"Ini universal! Untuk siapa saja yang tahu!"

Ia menjawab tak kalah keras.

"Dikamarmu, Anak Durhaka!"

Dan yg menjawab malah ayahnya.

"Oke! Terimakasih Boss!"

Sesaat setelahnya, Sehun segera memasuki kamar dengan senyum secerah Mentari. Melempar tasnya asal lantas melompat ke atas ranjang. Mendudukkan diri didepan sebuah kotak besar berwarna putih pualam. Kedua telapak tangannya ia gosokkan bersemangat.

"Tahan dirimu, Oh Sehun. Tahan dirimu. Tahan dirimu. Tahan dirimu."

Ia bicara sendiri sambil berusaha membuka kotak itu pelan-pelan agar ada kesan dramatis.

"TAPI AKU TAK SABAR LAGI!"

Bersamaan dengan teriakan bodoh itu, ia mengangkat tutup kotaknya dengan cepat.

Matanya berbinar menemukan sebuah syal abu-abu muda terlipat rapi disana. Ada surat juga. Masih belum dibuka. Miho berbohong.

Pertama ia mengambil suratnya. Membacanya dengan senyum yg semakin lebar.

"Hai, Shixun. Lama tak mengirimkan kabar. Sudah dua minggu, ya? Kkkk ^^

Maaf. Aku sibuk dengan kuliahku. Kau pasti menunggu :"( jangan kesal, ya.

Kali ini apa yg Xiaolu berikan?

Yup~ sebuah syal! :D

Musim dingin memang masih lama. Tapi tak apa. Aku akan lebih sibuk lagi menjelang Natal nanti. Jadi kubuatkan sekarang.

Iya. Aku membuatnya sendiri. Jangan dibuang ya~

Kau harus memakainya, oke? Meski tak seberapa Indah, kau harus tetap memakainya.

Jiayou, Shixun. Sampai sini saja ya. Tak banyak yg terjadi untuk kuceritakan. Kutunggu surat balasanmu. Bye :*

,,,

Xiaolu"

.

"YATUHAAAAAAAAAAAN"

Sehun menjungkalkan diri kebelakang setelah mengambil syal itu. Memeluknya erat dan berguling guling diatas kasurnya.

"Aku mencintaimu Tuhaaaaaan"

Ia berteriak lagi. Lantas mendudukkan diri. Memandangi syal itu dengan haru. Xiaolu nya memang yang terbaik.

By the way, kalau kalian tak tahu siapa itu Xiaolu, maka jawabannya adalah, dia sahabat Sehun.

Sahabat sejak kecil. Tapi berpisah karena Sehun dan keluarganya harus pindah ke korea lagi setelah sekitar 5 tahun menetap di Beijing.

Ayahnya dipindahtugaskan saat Sehun berusia 2 tahun. Xiaolu tetangganya. Dia lelaki yg manis. 3 tahun lebih tua darinya tapi lebih pendek pula.

Ini adalah tahun kesebelas yg ia lalui dengan saling berkirim surat dan bertukar hadiah.

Dan sudah sebelas tahun pula ia hidup dalam kubangan penasaran karena Xiaolu tak pernah mau mengirimkan fotonya. Dia selalu bilang dia malu. Dia jelek. Dia tak semanis dulu saat masih kecil. Sehun frustasi dengan seluruh kerendah dirian itu.

Demi tuhan, Xiaolu benar-benar Indah. Sehun berani bertaruh.

Juga, tak ada SMS, Kakao Talk, atau yang lain. Xiaolu sendiri yg meminta untuk berhubungan melalui surat. Dia memang suka berkirim surat sejak masih belia. Dulu Sehun pernah marah dan mogok bicara dengannya hanya karena Xiaolu terlalu sibuk menulis dan mengirim surat untuk puluhan sahabat penanya di berbagai belahan dunia.

Dia unik. Dia Xiaolu nya. Sehun menyukainya.

Mencintainya diam-diam. Sudah lama.

Jangan kaget.

Hanya Jongin, Chanyeol, dan keluarganya yg tahu.

Itulah mengapa ia tak pernah pacaran sampai detik ini. Hanya flirting flirting saja seperti orang idiot. Xiaolu berjanji akan pindah ke korea saat sudah lulus S1 nanti. Dia ingin melanjutkan pendidikan masternya di Seoul.

Sudah. Itu saja. Kalian tak perlu tahu banyak tentangnya. Sehun tak ingin kalian jatuh Cinta padanya.

"Oke. Jadi, apa yg harus kuberikan sebagai hadiah balik?"

Pemuda tinggi itu berjalan ke arah cermin besar lemarinya. Memasang Syal itu di leher. Jas seragam sekolahnya masih belum dilepas.

Dia terlihat bodoh, asal kau tahu.

"Coklat?"

Sehun mulai mondar-mandir.

"Ah, tidak. Aku sudah sering memberinya Coklat."

"Boneka?"

Menggeleng lagi.

"Tidak, tidak. Itu terlalu norak. Itu sangat Jongin sekali."

Berpikir lagi.

"Apa kuberi Syal juga ya?"

Dia berhenti mondar-mandir. Lantas menjentikkan jarinya dengan wajah sumringah.

"Iya! Kuberi syal saja. Nanti saat musim dingin, dia akan pakai syal pemberianku, dan aku akan melewati hari dengan syal buatannya. Oh yatuhan romantis sekali itu. Pintar sekali sih aku ini? Ck... Heran."

Sehun tertawa sendiri. Melepas syalnya dan melipatnya kembali. Meletakkannya diatas bantal dengan hati-hati seolah itu adalah bayi yg baru lahir.

Berlebihan.

Biarkan.

"Tapi- aku kan tak tahu bagaimana caranya merajut."

Dia menghela nafas lesu. Mengerucut sok imut sambil menghempaskan diri diatas sofa dekat jendela.

"Minta buatkan pada ibu? Dia pasti minta imbalan."

Mengetuk dahinya dengan telunjuk, Sehun berusaha keras mendapat jawaban.

Hingga akhirnya, ia menegakkan tubuh dan bertepuk tangan satu kali. Pertanda sudah menemukan solusi.

"Oke. Surga ditelapak kaki ibu. Minta bantuan padanya dan jalan hidupmu akan terang, Oh Sehun."

Ia bangkit dan berjalan keluar kamar. Tak ada pilihan lain. Ibunya one and only.

"Ibuuuuuu"

Dia berteriak dari arah tangga. Sedikit berlari dan tiba di dapur dengan senyum innocent.

Ibunya sedang bersandar pada kulkas sambil memakan apel. Menunggu menu terakhirnya -sup iga- matang.

"Apa?"

Sehun hanya nyengir lebar mendengar pertanyaan itu. Ia mendekat. Lalu berlutut dan mengatupkan kedua tangan didepan dada.

"Ananda datang untuk meminta bantuan, Wahai yg tercantik yg pernah dilahirkan."

Ritual wajib meminta bantuan ibu. Diajari langsung oleh ayahnya.

"Bantuan apa?"

Sang ibu masih santai mengunyah apel. Sesekali mendekat mengintip sup iganya.

"Calon menantumu di Beijing sana mengirimkan sebuah Syal untuk musim dingin. Dan anandamu yg tampan ini ingin menjadi seorang kekasih yang peka dan baik hati. Berkenankah ibunda membantu membuatkan Syal untuknya?"

"Berdiri."

Nyonya Oh memerintah. Dia juga sudah masuk kedalam peran ini dengan baik saking seringnya sang suami dan kedua Putranya melakukan hal bodoh begini setiap minta bantuan.

"Apa imbalannya?"

Ia menggigit apel besar-besar.

"Nilai A di ulangan harian matematika."

Sehun menjawab mantab.

Idiot begini, dia pakarnya hitung menghitung di angkatannya. Jangan salah. Chanyeol dan Jongin jauh dibawah mata kakinya.

"A di ulangan harian Matematika dan Fisika."

Sang ibu menambahkan. Sehun menghela nafas.

"Oke. A di Matematika dan A- di Fisika."

Ia menawar. Pasalnya pelajaran Fisika itu ada di jam terakhir setiap hari Selasa Rabu dan Jumat. Jam jam tidurnya Sehun. Buku catatannya sudah lama kosong. Serius.

"Kau tidak mau, tidak ada bantuan."

Nyonya Oh memutuskan. Sehun segera memasang wajah melas lagi.

"Ayolah, bu. Bantu aku kali ini saja."

"Bantu saja dia. Ini juga untuk masa depannya."

Sang ayah menyahut dari ruang makan.

"Nah. Pak tua saja tahu."

Sehun berkata asal.

"HOI!"

"Bercanda, Boss."

Sehun tersenyum lebar. Satu sandal tak jadi melayang. Tuan Oh kembali sibuk dengan kegiatan wisata kulinernya pada makanan makanan yg sudah tersedia.

"Ayolah bu-

"Tidak sebelum kau mengiyakan permintaanku."

"Yang lain saja lah, bu. Buku fisikaku sedang dipinjam Chanyeol. Sudah lama tidak dikembalikan. Mana bisa aku belajar secepat itu sedangkan ulangan fisika diadakan 2 hari lagi."

Sekarang ia berlutut dihadapan ibunya. Mengarang cerita dengan menumbalkan sahabat sendiri. Menggenggam tangan kiri sang ibu dengan ekspresi sedih yang dibuat buat.

"Oke. Yang lain."

Nyonya Oh menjawab. Sehun tersenyum senang.

"Nilai A di ulangan keterampilan Menggambar minggu depan."

Dia tahu seluruh jadwal ulangan harian anaknya. Jangan remehkan.

"Oh demi tuhan, bu. Harus berapa kali kubilang aku tak akan pernah mungkin mendapatkan A di mata pelajaran itu? Aku tak punya bakat dibidang itu, Bu. Nilai C saja untung untungan."

"Berlajarlah, bodoh. Aku malu pada Ibu Chanyeol dan ibu Jongin tiap kali berkumpul dan mereka membicarakan kemampuan menggambar anak anak mereka yg luar biasa. Kau ini sudah berteman 5 tahun dengan mereka tapi tetap saja tak bisa tertular bakat itu."

"Itu bakat alamiah Bu, ya tuhan. Kalau bakat alamiah bisa menular sudah dari dulu aku memilih untuk bersahabat dengan Goo jun pyo atau Bruno Mars saja supaya kaya Raya tujuh turunan dan memiliki suara yg Indah."

Sehun bersungut-sungut. Di meja makan sana sang Ayah terbahak seraya berteriak "ibumu memang bodoh" berkali kali.

"Yasudah tak ada pilihan lain. Nilai A di matematika dan fisika atau tidak sama sekali."

Keputusan sudah final.

Sehun memejamkan mata dan menghembuskan nafas dalam-dalam.

Demi Xiaolu nya, tak apa.

"Oke. A di matematika dan fisika. Oke."

Dia bangkit berdiri. Ibunya mengulurkan tangan.

"Call?"

"Call."

"Yeobo cepat kemari! Kau jadi saksinya!"

Sehun memutar bola matanya malas. Kebiasaan ibunya saat ia atau Miho menjanjikan sesuatu. Harus ada sang ayah sebagai saksi.

"Sebentar. Tahan dulu jabat tangannya. Biar ku foto."

Ayahnya datang dengan kamera hp yg menyala.

Sehun memutar bola mata lagi. Yang ini kebiasaan ayahnya tiap ibunya meminta dia untuk jadi saksi mata.

#KeepStrongOhSehun

Tak usah khawatir. Dia tak akan bunuh diri hanya karena frustasi memiliki orang tua seperti ini.

"Oke. Selesai."

Tuan Oh kembali ke meja makan. Nyonya Oh kembali sibuk dengan sup iganya yg kini sudah matang.

"Beri ibu waktu 4 hari. Nanti warna dan motifnya kirim lewat Kakao talk saja, oke?"

Sebelum putranya pergi, wanita itu berpesan. Gayanya sudah seperti owner olshop saja.

"Terimakasih bu. Wo ai ni."

Satu kecupan mendarat di pipinya. Setelah itu Sehun melenggang pergi.

"Aku mau belajar! Nanti jangan lupa suruh Miho antarkan makan malamku ke kamar!"

Dia berteriak dari tangga.

"Kau bicara pada siapa?!"

Ibunya menyahuti lagi.

"INI UNIVERSAL, IBUKU SAYAAANG"

...

HOPELESS HOPE

...

Kediaman keluarga Park malam ini ramai bukan kepalang. Yoora dan Changmin -suaminya- datang untuk menginap. Lalu entah bagaimana ceritanya Kim Jongin dan Kakak perempuannya, Hyorin, juga ada disana makan malam bersama yang lain.

Chanyeol badmood bukan main. Sudah tadi pulang sekolah bertemu Baekhyun dan dibuat galau, Jjampongnya dihabiskan Yoora yang mendadak mengubah menu mengidamnya, Ayam barbeque favoritnya juga harus ia relakan dihabiskan si Keparat Jongin, serta notifikasi Kakao Talk nya tak henti berbunyi sebab si idiot Sehun sedang spam foto-foto dirinya memamerkan syal baru buatan Xiaolu.

Gila. Hidupnya memprihatinkan sekali.

"Aku ke kafe dulu, Bu!"

Ia keluar bersama Jongin dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga sambil berseru lantang berpamitan. Ini hari Jumat. Waktunya kerja.

Iya. Chanyeol bekerja paruh waktu di kafe Yoora sebagai pelayan. Hanya dua kali seminggu. Untuk mengisi waktu luang saja. Hitung hitung juga menambah uang jajan. Ia dapat double karena ia juga akan tampil menyanyi bersama beberapa pelayan yg lain nantinya.

Sudah kubilang, Chanyeol kaya tapi ia tak sombong.

"Aku ikut Chanyeol ya, Kak?"

Jongin turut duduk bersama Chanyeol di dekat rak sepatu untuk memasang miliknya.

Hyorin yang sedang menikmati ice cream di sofa ruang tamu bersama Yoora langsung bereaksi.

"Tidak boleh! Tadi kau bilang besok ada ulangan harian Kimia?"

"Jangan pelit! Chanyeol juga sekelas denganku tapi dia tetap diperbolehkan bekerja oleh Bibi Park."

"Chanyeol pintar, hitam. Sadar diri saja!"

"Yak! Jangan asal bicara, Kau! Dia dan aku tak ada bedanya!"

Chanyeol tertawa lebar pada pertengkaran itu. Jongin memelototinya dan memukul dahinya pelan sebelum berdiri dan menatap sang Kakak yg masih Setia memandanginya dari ruang tamu.

"Ayolah, Kak. Jangan berlebihan begini."

Dia memelas. Sedikit menghentak kaki. Yoora tiba-tiba saja berteriak.

"YATUHAN KIM JONGIN KENAPA KAU IMUT SEKALI KYAAAA!"

"Hoi, Park Yoora. Jangan terlalu suka. Aku tak mau keponakanku mirip dia."

Dan Chanyeol dengan cepat menghentikannya. Hyorin terbahak sambil menunjuk nunjuk wajah sebal adiknya yang semakin memberengut.

"Jangan sok enggan begitu kau, tiang. Kusumpahi keponakanmu nanti benar-benar mirip aku tahu rasa."

Yang dipanggil tiang hanya nyengir lebar dan merangkul pundak Jongin seraya berkata itu hanya bercanda. Kemudian menatap Hyorin dan Yoora bergantian.

"Kak Hyo, adikmu kubawa. Dia sedang galau karena ajakan dinnernya ditolak Kyungsoo. Jangan khawatir. Aku tak ada perform malam ini. Kami tak akan pulang lebih dari jam 12."

Ia bantu berpamitan.

"Baik. Bawa saja sana. Aku percaya padamu, Yeol."

Dan dengan mudahnya Hyorin mengizinkan. Jongin mengumpat seraya berjalan keluar rumah.

"Serius. Aku selalu berpikir bahwa bertukar kakak sepertinya adalah pilihan yg baik."

Si pemuda Kim berucap main main. Chanyeol menanggapinya dengan tawa bodoh.

"Oh iya, Jong.."

Dia berniat menceritakan pertemuannya tadi pada Jongin. Sambil menerima uluran helm darinya, Jongin berdehem.

"Tadi aku bertemu Baekhyun di Restoran Bibi Ahn."

Jongin tak menjawab. Ia diam dan mulai menaiki motor vespa putih Chanyeol. Memegang pundaknya. Siap siaga untuk pergi.

Chanyeol pikir ia tak dengar.

"Jong? Kau dengar aku tidak? Tadi aku bertemu Baekhyun."

"Apa? Baekhyun? Memang kenapa? Kau bahkan belum cerita Baekhyun itu siapa kenapa aku harus menanggapi?"

Ia menghela nafas. Memutar kunci dan mulai memanaskan mesin motor.

"Jadi kau tak paham, ya? Baik. Biar kuperjelas."

Motor mulai melaju.

"Tadi di restoran Bibi Ahn, aku tak sengaja bertemu Bee Byun."

"HAH?!"

Dan disepanjang perjalanan, Jongin tak henti berteriak meminta Chanyeol menjelaskan lebih banyak.

"KITA BISA BICARA NANTI, BODOH! AKU SEDANG BERKENDARA!"

Yg lebih tinggi berteriak dengan sedikit membuka kaca helmnya, menoleh pada sang karib yang sejak tadi tak henti memintanya menjelaskan.

"TAPI AKU PENASARAN, PARK!"

"IYA JONG IYA KUJELASKAN NANTI DI KAFE!"

"MASALAHNYA AKU PENASARAN SEKARANG, IDIOT!"

"KAU MAU KITA KECELAKAAN DAN MATI SEBELUM MENIKAH, HAH?!"

"TAPI-

ckiiiiiiit

Bruk.

"Astaga, kau hampir saja menabrak truk tadi, Yeol."

Hening. Chanyeol menghentikan motor dan mereka turun di parkiran sebuah toko kue.

"Tapi untung kau segera banting setir."

Jongin mengusap dada. Lega. Chanyeol memijit celah antara kedua matanya. Menghembuskan nafas. Memandang sebuah limo putih yg terparkir dihadapannya.

"Iya. Aku banting setir menghindari truk. Dan berakhir dengan aku yg hampir menabrak mobil ini. Membuat bodi depannya tergores."

Hening lagi.

Mulut Jongin membeo. Pintu depan mobil bergerak. Pemiliknya akan segera keluar dan mereka berdua siap menerima makian sebanyak apapun.

"Ingatkan aku untuk menghajarmu nanti, Jong."

...

HOPELESS HOPE

...

Baekhyun memejamkan mata. Menggigit bibir bawahnya. Satu telapak tangannya mengusap surai coklat Junki sesekali meremasnya. Ia mendesah tak karuan. Lidah Junki sibuk bermain di dadanya. Menghisap. Menjilat. Menggigit. Baekhyun membusungkan dada. Meminta lebih. Tangannya membawa satu tangan Junki yg lain untuk turun ke bawah. Mengarahkannya pada selangkangannya sendiri.

"Ahh- ngh.."

Dia membuka mulut. Memasukkan dua jarinya sendiri disana. Menghisapnya bersemangat.

"Kau menyukainya, hm?"

Junki bertanya disela kegitannya menghisap puting Baekhyun. Menyebabkan lidahnya menyenggol ujung merah itu berkali kali.

Baekhyun melonglong keras. Menekan kepala belakang Junki lebih dalam.

"Hisap terussh.."

Ia memohon.

"Apa kita akan bercinta disini?"

Junki melepas hisapannya. Mendapatkan satu rengekan penuh gairah si cantik.

"Iya. Kita akan bercinta disini. Aku akan membunuhmu jika kita tak jadi bercinta setelah kau membuatku terangsang begini."

Baekhyun menjawab kesal. Junki tersenyum senang.

"Oke. Ini akan jadi seks kelima kita hari ini."

"Jangan menghitungnya. Kau akan ketagihan."

Baekhyun menyeringai. Membuka celananya dengan cepat. Melepas celana dalamnya dan melemparkannya ke jok belakang.

"Matikan lampunya, sayang."

Ia berbisik. Menjilat daun telinga Junki sambil sesekali mendesah desah dengan sengaja disana.

Junki menggeram. Ia mematikan lampu mobil. Lalu menangkup kedua pipi Baekhyun untuk meraup bibir ranumnya. Mereka hanyut dalam ciuman panas. Saling membelit lidah. Bertukar saliva.

Tangan junki dibawah sana bergerak cepat. Meremas bongkahan sintal Baekhyun intens. Satu jarinya mengusap lubang berkerut Baekhyun perlahan. Menciptakan sensasi geli dan nikmat yg besar. Baekhyun refleks melepas pagutan dan mendongak untuk mendesah keras. Ia menangkap jari tengah Junki dibawah sana lantas bantu memasukkan ke dalam lubangnya. Tangan satunya membawa wajah Junki ke lehernya. Memintanya membuat tanda.

Tapi Junki tak ingin berlama lama disana. Ia menurunkan wajah. Menjilat sekujur tubuh Baekhyun dari leher sampai ke selangkangan. Ada tangan Baekhyun disana. Sedang mengocok penisnya sendiri. Junki menariknya supaya lepas. Tapi Baekhyun menolak. Ia tak memaksa. Wajahnya berpindah lebih ke bawah. Jari tengahnya ia cabut. Ia ganti dengan lidah.

"Ah! Angh! Ah! Iya- ah! Begi-tu- ngh!"

Baekhyun menggila. Tubuhnya melengkung tak nyaman dengan posisi ini. Tapi ia amat suka. Kedua kakinya ia angkat tinggi-tinggi hingga menyentuh atap mobil demi menekan wajah Junki dibelah pantatnya lebih dalam lagi. Tangan kirinya sejak tadi tak henti mengurut dan mengocok penisnya sendiri. Ini terlalu nikmat. Ia bahkan merengek dan meneteskan air mata dalam desahannya. Beberapa kali tersedak udara dan liurnya karena kelewat bersemangat.

Tapi ia tetap menyukainya.

"Pen-nish.. Penismuhh ngh-"

Sudah cukup. Ia ingin masuk inti. Ingin yg lebih besar dari lidah Junki.

Yang dipanggil mengangguk. Menghisap kerutan lubangnya satu kali dan memberi satu kecupan gemas sebelum akhirnya mengangkat wajah dan tersenyum miring.

"Sudah rindu penisku?"

Ia mencubit puting Baekhyun tanpa alasan. Pemuda kecil itu mengangguk tak sabaran. Tanpa banyak bicara bergerak duluan membuka kancing dan resleting celana Junki. Mendekatkan wajah untuk sekedar menghirup aromanya sebelum sebuah goncangan kecil terjadi.

Mobil yg mereka tempati seperti diserempet sesuatu. Dan benar saja. Sesaat setelahnya, satu cahaya menyilaukan menerpa kaca depan. Junki refleks memasang kembali kancing dan resleting celananya. Lantas ia segera membuka pintu mobil dan keluar dari sana setelah mengecup pipi bulat Baekhyun sekilas.

Sepeninggalnya, pemuda Byun itu hanya meniup poni bosan. Padahal ini hampir masuk intinya. Ada saja yang mengganggu.

"Sial. Aku sudah horny begini."

Dia menatap penis mungilnya yang masih berdiri tegak dengan bibir pulm nya yg mengerucut. Mau tak mau harus menyelesaikan ini dengan tangannya.

Tanpa buang waktu lagi ia mengurut benda itu pelan-pelan. Satu tangannya yg lain mengerjai lubangnya yg berkedut dibawah sana. Memasukkan tiga jari sekaligus. Sesekali dilepas dan berpindah pada putingnya yang mengeras. Balik lagi ke bawah, ke atas, kebawah. Terus seperti itu seraya mendesah penuh gairah.

Ia membayangkan sebuah penis besar menghujamnya keras. Membayangkan tubuh kekar penuh keringat Junki, Mingyu, Kris, Woobin, semua yg terlintas di benaknya.

Di detik detik terakhir sebelum keluar, ia menancapkan tiga jarinya semakin dalam. Mengeluarkan masukkan mereka dengan ritme super cepat. Kedua matanya melotot sendiri kala ujung jarinya menyentuh daging kenyal didalam sana berulang ulang.

Begitu spermanya memuncrat keluar, Baekhyun memejamkan mata dan mengais udara sebanyak banyaknya. Tubuh telanjangnya lunglai. Ia mengambil tisu di dashboard untuk membersihkan penis dan perutnya. Jok mobil Junki juga sedikit terkena muncratan. Dia hanya tertawa tak peduli. Itu urusan Junki nanti.

Mengambil botol air dari dalam tasnya, ia meminum isinya tak sabaran. Tenggorokannya kering karena terlalu banyak mendesah.

Handphone nya juga tak luput dari pandangan. Saat membuka kuncinya, ada ratusan notifikasi yg masuk. Baekhyun terkikik pelan. Ia memang tak membuka hp nya setengah hari ini karena sibuk dengan Ron. Untung tadi Junki menyarankan agar membawa si Manis ke rumah sakit khusus hewan yg sekaligus menerima penitipan hingga sembuh total. Jadi ia tak perlu khawatir lagi.

Dari sekian banyak notifikasi yg muncul. Milik Woobin adalah yg paling menarik perhatiannya. Baekhyun segera membukanya sambil menahan tawa.

WoobinK:

P

P

P

Bee!

Astaga aku merindukanmu.

Hei, sayang.

Junki belum selesai?

Sudah hampir seminggu kita tak bercinta bee :"(

Bee?

Beritahu aku kapan junki selesai.

P

P

Bee?

P

Oh tuhan junki benar-benar menghabisimu ya?

P

.

Sekarang si mungil Byun itu benar-benar tertawa. Dengan cepat ia mengetikkan pesan balasan.

Junki menyewaku sehari saja, darling. Kami selesai pukul sebelas nanti. Datanglah ke apartemenku dan berikan aku seks yang menyenangkan. Aku rindu penismu.

Dia terkekeh sendiri. Lantas segera memasukkan handphone ke dalam tas lagi.

Pandangannya tertuju pada Junki yang tampak sedang marah marah diluar sana. Baekhyun awalnya tak ingin peduli. Tapi sesosok wajah yang tengah menunduk dihadapan Junki menyita perhatiannya.

"Chanyeol?"

Dia menggumam. Menajamkan pandangan. Matanya menyipit untuk melihat lebih jelas.

Itu memang Chanyeol.

"Yatuhan, aku bertemu lagi dengannya?"

Ia tertawa geli. Merasa lucu dengan kebetulan ini.

Cepat-cepat ia mengambil hoodie Junki di jok belakang. Memakainya hingga tubuh atas dan separuh pahanya tertutup rapi. Kemudian membuka pintu untuk keluar.

"Berhenti bicara omong kosong, anak muda. Tak usah menyombongkan diri. Uang jajanmu setahun pun tak akan cukup untuk mengganti kerugianku. Ini limo. Bukan mobil biasa."

Junki mengomel. Ia berkacak pinggang. Menatap nyalang Chanyeol dan Jongin yang sejak tadi hanya menunduk tak berani balas menatap.

"Ah- bukan maksudku menyombongkan diri, Tuan. Tapi aku benar-benar akan membayarnya. Berapapun biaya yg kau minta. Aduh bagaimana ya menjelaskannya."

Chanyeol menggaruk belakang kepala. Bingung sendiri. Ia ingin memberitahu Tuan ini bahwa ia sanggup menggantinya tanpa perlu berkata bahwa ia kaya.

"Sombong sekali orang ini. Limoku di rumah bahkan jauh lebih Bagus. Limo jaman dulu saja dibangga banggakan."

Disampingnya Jongin menggerutu sebal. Chanyeol bernafsu sekali membekap mulutnya karena demi tuhan, jika Tuan ini mendengar, mereka akan dapat amukan lebih besar.

"Apa jaminannya kau akan benar-benar mengganti rugi?"

Junki bersedekap. Baekhyun sudah berdiri disampinya tapi Chanyeol serta Jongin masih belum melihat karena mereka masih tertunduk takut.

"Aku- aku akan.. Berikan kartu identitasku sebagai jaminan."

Chanyeol menjawab tak yakin. Jongin menyenggolnya dan berbisik memberitahu bahwa itu sedikit berlebihan.

"Kau serius akan mengambil kartu identitasnya? Dia bahkan masih pelajar, Jun."

Baekhyun menginterupsi.

Jongin mengangkat kepala dan melotot kaget tak tahu malu tanpa di tutup tutupi.

Chanyeol membeku ditempatnya. Ia sangat ingin mendongak tapi sebagian hatinya melarang.

Kau disini?

"Mana lecetnya?"

Baekhyun bertanya. Junki menunjukkan satu goresan kecil di bagian depan mobil. Melihat itu, si Byun mendengus malas.

"Itu hanya Goresan kecil, Jun. Astaga. Jangan berlebihan."

"Tapi ini Limo, Bee. Biaya perbaikannya pasti akan mahal."

"Kau bahkan mampu membayar 2juta won untuk sehari bersamaku dan mengeluh seperti ini hanya karena sebuah goresan kecil?"

Mereka terus berdebat. Baekhyun tak henti menyalahkan Junki dan memintanya untuk memaafkan Chanyeol tapi Junki pun terlalu banyak mencari alasan.

Tak sadar bahwa orang yang sedang mereka bicarakan kini tengah mencengkeram buku buku tangannya menahan sesak hati.

Chanyeol disana sudah berani mendongak. Pandangannya menyapu seluruh tubuh Baekhyun dan Junki bergantian.

Mereka berantakan.

Dan Baekhyun nya hanya menutupi separuh tubuh. Berdiri santai begitu dipinggir jalan Raya yang cukup ramai. Leher nya penuh bercak kemerahan. Surai almond nya acak acakan. Dia bahkan keluar dari mobil dengan bertelanjang kaki.

Mulut kecilnya juga begitu lancar bercerita tentang uang yang diberikan Tuan itu untuk bersamanya sehari.

Dia seperti sudah sangat terbiasa.

Benarkah dia adalah sosok berbalut mantel baby blue manis yang tempo hari menolongku?

Atau kala itu aku hanya sedang berhalusinasi?

Chanyeol menatap sendu. Hatinya seperti diremas sebegitu kuat. Ia belum kenal dekat. Tapi rasanya sudah sesakit ini.

Kau bukan siapa-siapanya. Jangan bersikap seolah kau adalah pihak yang paling tersakiti.

Tapi aku sudah jatuh sedalam ini.

Siapa yang harus kusalahkan?

Perasaanku tak salah.

Aku tak bersalah.

Cintaku bukan kesalahan.

"Hello? Chanyeol pada bumi?"

Ia terlalu sibuk dengan lamunannya sendiri hingga baru tersadar bahwa Baekhyun sedang berbicara padanya saat Jongin menyenggol lengannya beberapa kali.

"Eh? I-iya?"

Satu senyum paksa tercipta. Baekhyun terkekeh begitu manis. Ia mengepalkan tangan diam-diam.

Kau bahkan tetap terpesona disaat sedang sakit hati.

Chanyeol bodoh. Ia tahu.

"Tak apa. Tak usah ganti rugi. Tak usah berikan kartu identitas juga sebagai jaminan. Junki membebaskanmu."

"T-tapi-

"Iya kan Jun?"

Si cantik melotot mengancam. Junki mengangguk tak rela.

"Mana bisa begitu? Tidak. Aku tetap harus menggantinya."

Chanyeol tak enak hati. Baekhyun tersenyum dan menggeleng.

"Tidak, Chanyeol. Ini serius. Kau benar-benar tak perlu membayar. Hitung hitung ini juga terimakasih dan maafku karena tadi kau sudah membantu memberikan pertolongan pertama pada Ron dan berimbas pada keterlambatanmu menjemput adikmu."

"Itu beda masalah-

"Tak ada bantahan, oke?"

Chanyeol mau tak mau mengiyakan. Ia melirik Junki takut. Merasa malu sendiri. Tapi senyum Baekhyun sedikit banyak menenangkannya.

"Kalau begitu... Kami pergi dulu. Lebih berhati-hati, Chanyeol. Sampai Jumpa!"

Sosok cantiknya melambai kecil. Lantas segera memasuki mobil setelah dapat anggukan dari Chanyeol dan senyum aneh Jongin.

Junki masih berdiri disana. Memandang ganas.

"Perbanyaklah bersyukur. Kalau bukan karena kau teman Baekhyun, sudah kutuntut kau ke kantor polisi."

Katanya, penuh tekanan.

Jongin segera membungkuk dan berucap maaf sekali lagi. Chanyeol menghela nafas berat. Membungkuk kecil pada Junki yg kini sudah memasuki mobil menyusul Baekhyun.

Saat Limousine Putih itu melaju pergi, Chanyeol masih bisa melihat kepala Baekhyun yg muncul dari kaca jendela yg terbuka separuh. Tersenyum dan melambai padanya.

Lihat apa yang baru saja terjadi padanya.

Dia menolongku.

Memintaku lebih berhati-hati.

Melambai dan tersenyum padaku.

Juga menyakitiku diwaktu bersamaan.

Sebenarnya sosok semacam apa kau ini?

Masih ada setitik kecil harapan.

Tapi rasanya begitu mustahil.

"Hey, bro."

Jongin menepuk pundaknya.

"Mau lanjut ke kafe atau pulang saja? Kau tak terlihat baik."

Ia menatap prihatin. Chanyeol pastilah luar biasa kaget dan sakit hati. Bertemu dengan sosok yg disukai dalam situasi seperti ini. Dengan kondisi Baekhyun yg seperti itu. Berani bertaruh Baekhyun dan pria tadi pasti habis bercinta.

Jongin benar-benar iba. Dia pun tak menyangka akan bersama Chanyeol dan melihat sendiri betapa mengenaskannnya ekspresi wajah sang sahabat di saat saat begini. Ini diluar perhitungannya.

"Aku ingin pulang saja. Kalau mau pergi kafe pakai taksi saja sana."

"Tidak. Ayo pulang bersama."

Jongin merebut kunci motor yang sedari tadi digenggam Chanyeol.

"Biar aku yang bawa. Kau sedang hilang akal sekarang."

Dia berucap santai. Menaiki jok depan dan Chanyeol hanya menurut saja.

Di sisa malam itu, Chanyeol menghabiskan waktu dengan merobek puluhan lembar sketchbooknya yg memuat wajah teduh Baekhyun.

...

HOPELESS HOPE

...

Kyungsoo keluar dari kamar mandi kamarnya sambil bersenandung kecil. Rambut hitamnya basah dan tangannya sibuk mengeringkan dengan handuk. Ia segera turun ke meja makan sesaat setelah mendengar panggilan Bibi Yoon dari arah dapur.

"Hei, siapa yang menduduki kursiku?"

Ia bertanya pura-pura kesal pada seorang bocah perempuan berkepang dua yg sedang tertawa riang diatas kursinya.

Kemudian mendekat dan menggelitikinya sampai gadis itu minta ampun dan Kyungsoo segera memindahkannya pada kursi milik si Gadis.

"Mana yang lain?"

Ia bertanya saat hanya mendapati 7 anak yang sudah berada dikursi masing masing.

"Masih ada di ruang bermain, mungkin?"

Jihoon menjawab. Ia sibuk menggendong beberapa balita untuk duduk dikursinya.

Jeno, Samuel, dan Renjun duduk bersila sambil mencomot makanan makanan yang sudah tersedia dengan tenang. Mereka hanya memberikan tanda V dengan jari dan tersenyum polos kala Kyungsoo atau Jihoon memelototi.

"Jihoon, Kak Luhan mana?"

Kyungsoo bertanya sesudah menyadari bahwa Luhan masih belum berada di ujung meja panjang itu.

"Tadi masih di kamar. Sebentar, biar aku panggilkan."

Jihoon baru saja berbalik untuk pergi tapi kemudian Kyungsoo menahan tangannya.

"Kau temani anak-anak saja dulu. Biar aku yang panggil."

"Oke. Dan tolong suruh Heechan turun. Hari ini gilirannya membantu Bibi Yoon memasak."

Dia memberikan satu jempolnya. Lantas segera pergi meninggalkan ruang makan yg luas itu untuk kemudian naik lagi ke lantai atas.

"Kak Lu? Boleh aku masuk?"

Ia meminta izin dan mengetuk pintu berwarna cokelat penuh ukiran milik Luhan setelah memanggil Heechan yg ternyata tertidur pulas di kamarnya.

"Tentu. Masuklah Kyungsoo."

Pintu terbuka. Kyungsoo tersenyum mendapati Luhan sedang serius merajut sebuah mantel berwarna abu-abu didepan cermin.

"Hey, kak. Bukankah kemarin sudah kau kirimkan? Ini apa lagi?"

Ia duduk di sebuah kursi belajar disana setelah sebelumnya mengangkat kursi itu untuk diletakkan disamping kanan Luhan.

"Aku berniat memberinya Mantel dan Syal. Tapi kemarin aku lupa. Mantelnya masih belum jadi pula. Besok harus kukirim lagi."

Ia terdiam sejenak.

Kemudia mengerucutkan bibirnya dengan lucu.

"Kau bersedia menuliskan suratnya lagi kan, Kyungsoo? Ya? Kumohon~"

Kyungsoo mendecak. Tapi sehabis itu ia tertawa kecil.

"Tentu saja aku mau, Kak. Sudah kubilang berapa kali aku akan selalu membantumu."

"Terimakasih, Kyungsoo-ya~"

Luhan tersenyum begitu manis. Lanjut merajut lagi dengan semangat.

"Aku tak tahu bagaimana caranya kau bisa merajut dengan begini indahnya."

Kyungsoo menatap rajutan yg hampir jadi itu dengan iri.

"Si Shixun shixun itu pasti akan sangat senang. Dia mendapatkan dua hadiah musim dingin disaat aku belum dapat satupun. Ugh. Aku jadi semakin penasaran ingin bertemu dengannya dan melihat sendiri seberapa tampannya ia sehingga kau bisa mencintainya sedalam ini."

Luhan terkekeh untuk kalimat panjang penuh kekesalan itu. Ia mengulurkan kedua tangan meraba raba udara. Meminta Kyungsoo mendekat. Kemudian mencubit kedua pipinya saat yg lebih muda sudah mendekatkan wajah.

"Aku juga akan membuatkan satu untukmu, tenang saja."

"Oh, tentu. Aku adikmu."

"Semua orang di panti asuhan ini juga akan mendapatkan satu rajutan syal dariku. Tak usah cemburu, hn?"

"Kalau yg itu tak usah memaksakan diri. Penghuni panti asuhan ini hampir lima puluh orang. Tanganmu akan putus kalau merajut untuk kami semua."

Bersamaan dengan itu Kyungsoo berdiri. Mengambil mantel rajutan Luhan dan meletakkannya ke dalam kotak putih di meja nakas dengan peralatan merajut yg lain.

"Tapi aku benar-benar akan merajutkan syal untuk kalian semua. Adik adikku tak boleh kedinginan nanti saat Natal."

"Oke. Nanti izinkan aku membantu, ya?"

Kyungsoo tersenyum tulus. Mendekat ke belakang luhan untuk mendorong kursi rodanya keluar dari kamar.

"Aku juga akan buatkan satu untuk Baixian."

Luhan lanjut bicara dengan suara berbisik. Tapi Kyungsoo mendengar itu.

"Aku yang akan bantu buatkan suratnya dan mengirimkannya ke alamat Baixian."

Dia balas berbisik di telinga kiri Luhan. Membuat pemuda yg 3 tahun lebih tua darinya itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih.

Di tangga Khusus yang didesain datar untuk membawa Luhan naik turun, pemuda Do itu menatap sendu sebuah ruangan tertutup dengan papan bertuliskan "kado untuk baixian" dibawah sana.

Tempat dimana ratusan kado dan surat yg Luhan buat untuk Baixian teronggok tak berguna.

Sudah sepuluh tahun Baixian selalu menolak hadiah sang kakak. Dan selama itu pula Luhan tak pernah tahu.

Karena ini juga tahun kesepuluhnya hidup sebagai pemilik panti asuhan yg merengkuh jiwa jiwa kesepian, tanpa penglihatan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

...

PANJANG YA GILA WKWKWKWK :V

Maaf yg ini gajeh sekali gw tahu :")

Typo berserakan macem kecantikan gw yg tumpah ruah iya gw juga tau :")

/tampol

Hayo ada luhan nih yeeee kaget tak?

Siapa luhan?

dia twin gw :")

/tampol (2)

Makasih yg udah review, fav, follow, dan bersedia buang2 waktu baca. Subhanallah Gan. Sista seneng bnget :")

I laf yuh. Maaf gw php dua hari lalu wkwkwwkk :v

Review lagi chuyunk quh :*