Sakit ini...
Rasa panas ini...
Tuhan, maafkan aku jika banyak berbuat dosa. Jika benar kini tiba ajalku, aku rela... aku ikhlas...
Tubuhku tak bisa lagi menahan rasa sakit ini. Pandanganku memburam dan...
Aku kehilangan kesadaran...
The Vampire Schooling
•~~ ( Transformasi ) ~~•
'
By : Ochandy/Ananda
'
Rate : T semi M (buat jaga-jaga)
'
Disclaimer : Boboiboy All Elemental Friends
(Boboiboy hanya milik Monsta/Animonsta Studio)
'
Inspiration : Twilight (ya beberapa scene Ocha ambil dari sini, tapi gak semuanya PAHAM!)
'
Hai, Ocha comeback again setelah sekian abad menghilang! Ada yang kangen gak? *ngarep / Readers : -_- \\ Okey tanpa basa-basi lagi Cekidot...
'
Don't Like? Don't Read!
'
Happy Reading...
'
'
'
~ The Vampire Schooling ~
• Kehidupan Baru •
Halilintar POV...
Aku sudah mati...
Aku benar-benar mati...
Mati rasa...
Semuanya gelap, darahku mendidih. Urat sarafku tidak mau diajak kompromi untuk memberikan perintah kepada seluruh anggota badan agar lari dari padang neraka ini.
Semuanya panas dan menyakitkan.
Aku berharap siksaan ini berhenti.
Tiba-tiba aku merasakan jantungku berhenti berdetak. Roh-ku serasa diambil paksa dari raganya. Kulitku seolah terbakar oleh bara api tak berwujud.
Tidak... Tidak!
Aku tidak boleh mati sekarang, bagaimana keadaan para saudara-saudariku?
AKU TIDAK INGIN MATI...
~O.o.O~
Author POV...
"Papa, Mama... Apa kak Halilintar akan selamat seperti kami? Ini sudah hari ketujuh semenjak dia tergigit!" seru seorang pemuda panik, matanya nan dahulu jingga kini digantikan oleh merah darah berkilau.
Bola mata itu bergulir ke kanan menatap cemas seorang pemuda berwajah serupa dengannya yang tengah terbaring sekarat.
Tubuhnya kurus kering, menampakkan tulang pipinya yang semakin menonjol. Seluruh badannya nampak tak berdaging, seperti dibaluti kulit yang tipis. Matanya terpejam begitu rapat seolah tidak mau terbuka lagi. Deru nafasnya tak lagi terdengar membuat para saudara-saudarinya semakin panik.
Tubuh lemah nan awalnya bergeming itu bergetar hebat. Boboiboy Ice yang duduk di ranjang sebelah kiri langsung terlonjak kaget, "Mama! Papa! Kak Halilintar! Tolong dia!" serunya panik.
Seorang wanita muda dengan rambut hitam sepinggang langsung mendekat seraya menggengam erat tangan sang anak -Halilintar- untuk menenangkannya, "Tubuhnya panas sekali!" ucapnya melihat anggota keluarganya satu persatu.
"Ba-bagaimana ini?!" Boboiboy Taufan tak kalah panik.
"Tenanglah, kakak kalian tengah berada di puncak transformasinya sebagai makhluk abadi saat ini. Empat hari yang lalu kalian juga begitu," kata seorang pria berambut coklat gelap yang muncul secara tiba-tiba.
"Lagi pula, vampir yang menggigit kakak kalian ini memberikan racunnya sedikit berlebihan kepadanya." sambungnya. Wajahnya membeku dengan mata yang berkilat dipenuhi amarah.
"Seandainya kami tidak terlambat, kalian tidak akan begini..." lirihnya sendu.
"Sudahlah Papa... inilah takdir, siapa yang tahu akan terjadi begini?" Gempa berusaha menghibur orang tuanya.
Tiba-tiba tubuh sang kakak berhenti bergetar, senyuman bahagia terpancar dari sepasang insan tersebut. "Dia berhasil..." gumamnya berbahagia.
"Be-benarkah? Halilintar selamat? Dia berhasil bertransformasi?" tanya Amanda antusias. Kedua pasangan itu mengangguk pelan membuat semuanya bersuka cita.
Perlahan tapi pasti, tubuh Halilintar yang kering kerontang kembali terbentuk. Kulitnya kembali seperti semula namun semakin putih. Rambutnya yang kusam kembali hitam berkilau. Badannya berisi dan kekar, rahangnya kembali kokoh dengan tulang pipi yang sedikit menonjol memberi kesan tirus. Dia nampak seperti buah nan ranum.
Kelopak mata yang terpejam itu terbuka lebar menampakkan sepasang iris merah darah yang begitu liar dan mematikan.
"Dia kembali..."
~O.o.O~
Halilintar POV...
Sepertinya ada seorang malaikat yang berbaik hati melemparku keluar dari dalam neraka.
Rasa panas dan perih di sekujur tubuhku berganti dengan hawa dingin yang mulai menyelimutiku. Badanku serasa tenggelam di lautan es Antartika. Begitu dingin...
Kemana hilangnya panas itu?
"Egh..." aku bergumam.
Apa Tuhan memindahkan ku ke surga? Apakah aku benar-benar sudah mati? Aku berusaha membuka mataku yang terasa amat berat.
Silau...
Semuanya putih...
Aku rasa, aku benar-benar sudah mati sekarang.
Namun...
Tunggu dulu, itu Amanda. Ya itu pasti Amanda. Aku yakin!
"Egh..." aku mengerjapkan mata beberapa kali sebelum semuanya perlahan menjelas.
Mataku mulai beradaptasi dengan cahaya. Dimana ini? Ruangannya luas sekali, langit-langitnya berwarna cream yang lembut.
"Aku dimana?" otakku masih belum merampungkan semua informasi yang terjadi sebelumnya.
Aku tersontak kaget saat saudara-saudariku duduk mengelilingiku. Ada juga sepasang manusia yang tidak aku kenal tapi terasa tak asing. Ku ubah posisiku menjadi duduk. Tunggu, mereka semua terlihat aneh, apa yang terjadi?
Ke-kenapa warna mata mereka merah darah semua?
Kenapa warna kedua orang yang tak asing itu keemasan seperti iris Boboiboy Gempa yang dahulu?
Ke-kenapa?
Apa yang terjadi!
"Hali? Halilintar? Kau sudah sadar?" wanita berambut hitam itu memelukku erat. Deru nafasnya menyejukkan. Pelukannya terasa seperti rantai besi yang melilitku, sangat erat, sangat kuat, seakan tidak bisa terlepas.
Wanita ini? Siapa dia?
"Oh... anak ku sayang, maafkan Mama... karena Mama, kamu jadi begini." ia menenggelamkan wajahnya ke pundakku.
Tunggu, apa dia bilang 'Mama'? Apa aku tidak salah dengar?
"Ma-ma...?" ucapku ragu dengan suara bergetar. Tanganku mengelus pundaknya lembut. Wanita itu melepaskan pelukkannya.
"Iya ini Mama sayang..." dia memegang kedua pundakku lalu menatap wajah ku lekat-lekat.
Kalau ini Mama kenapa matanya berwarna kuning keemasan?
Bukankah warna matanya coklat?
"Maafkan Mama, karena Mama kamu jadi berubah,"
Apa maksudnya dengan 'berubah'?
Apanya yang berubah? Semua terlihat baik-baik saja. Apa maksudnya mengatakan bahwa ini kesalahannya?
'Halilintar... sekarang kita semua bukan manusia lagi.'
Ini... ini.. suaranya Amanda, tapi siapa yang bicara? Padahal kini semuanya saling pandang membisu.
Apa maksudnya dengan bukan lagi manusia? Suara apa ini? Siapa yang berbicara.
'Maafkan Papa, karena Papa kamu begini...'
Sekarang siapa yang bicara? Apa maksudnya? Apakah pria yang berdiri disebelah Mama itu Papa?
Argh...
Aku pusing, kepalaku serasa ingin meledak.
"Kak Halilintar..." Blaze merengek seperti biasanya. Matanya berkaca-kaca, namun kristal bening itu seolah menolak untuk mengalir di pipi nya yang tirus.
"Kita sudah berubah menjadi vampir..." Blaze dan Ice memelukku erat. Mereka meremas kuat jaketku.
"A-apa vampir?!" tanyaku tak percaya.
'TIDAK!' Batin ku menjerit histeris.
Yang aku ketahui, vampir itu hanyalah mitos belaka. Tetapi malah aku yang menjadi makhluk jahat itu.
'Kenapa Tuhan? Ini tidak adil...!' teriakku dalam hati.
Kupandangi saudara-saudari ku satu persatu. Mereka memang berubah, warna kulit yang seputih porselen, rahang nan kokoh, dengan lekuk tubuh yang jelas.
Mata milik Ice berubah merah darah pekat. Aku merindukan mata biru aquamarinenya yang meneduhkan.
Tidak seperti matanya Taufan, yang jika dipandang akan penuh kejahilan. Mata mereka semua berubah merah mengerikan...
"Ta-tapi bukankah vampir itu hanyalah mitos?" tanyaku tak percaya.
"Bukan, itu bukan mitos. Inilah kita sekarang. Sebagai seorang VAMPIR..." mereka semua memamerkan sepasang taring yang berkilauan.
Tidak mungkin!
* Sudut pandang Taufan
Oke...
Karena Halilintar sedang frustasi biar aku yang ambil alih cerita. Mama dan Papaku telah menceritakan semuanya pada kami (kecuali Halilintar) karena dia kelamaan sadar.
'Dasar lemah' umpatku padanya dalam hati.
Sreng...
Hm, sepertinya dia mengetahui apa yang aku katakan tadi. Tatapannya itu selalu membuatku ketakutan karena seperti tatapan seorang psikopat.
Gedubraak... buagh...
"Ampun Halilintar..." kataku sambil memegang tangan dan kakiku yang rasanya mau patah karena tendangannya. Sudahlah yang ini jangan terlalu difikirkan.
Mungkin benar kata Papaku, vampir itu terlalu banyak mengeluarkan racun di tubuhnya. (Sehingga dia kelamaan sadar, aku dan yang lain sadar -kecuali dia- 3 hari setelah kejadian itu sedangkan dia, seminggu setelah kejadian. Itu membuktikan seberapa lemahnya dia.)
Dia juga menjadi lebih sensitif dari biasanya. (Bayangkan saja saat menjadi manusia saja Halilintar tak bahagia apalagi sekarang jadi vampir).
Buagh... duagh...
Aduh sepertinya dia mengetahui apa saja yang aku bicarakan dari tadi. Sampai-sampai dia meninjuku hingga dinding villa Mamaku dan langsung retak.
"Kau mau menggali kuburanmu sendiri, heh?!" desisnya dengan senyuman maut.
"Tidak juga!" sahutku ketus sambil kembali berdiri.
Untung saja aku bukan manusia lagi, kalau tidak pasti aku akan masuk kubur, dan Halilintar akan menangis seumur hidup karena telah membunuhku.
Sreng...
Dia menatapku lagi dengan tampang ingin membunuhku.
Gleek...
Saudara-saudari ku hanya menonton, mereka tidak akan pernah berani untuk melerai karena mereka sangat ketakutan jika Halilintar marah.
Jika dia marah pasti kalian akan serasa disambar halilintar sama seperti namanya (Halilintar : yang mematikan).
Oke cukup sampai disini, aku menyerah saja, karena tatapan membunuhnya semakin menjadi jadi, ya sudah aku kembalikan saja padamu Halilintar...
~O.o.O~
Halilintar POV...
Ku harap kalian tidak mendengarkan semua ocehan Taufan tadi karena dia itu agak sinting (kurasa).
"Huft, baiklah sekarang jelaskan padaku kenapa semuanya begini?" desakku.
"Baiklah, akan kami jelaskan... ayo kemari..." Mama dan Papaku mengajak kami ke sebuah ruangan di tengah villa lalu mereka menjelaskan semuanya padaku.
~The Vampire Schooling ~
Collab POV... (?)
12 tahun yang lalu...
Di rumah sakit darurat peperangan.
Seorang pria beriris karamel tengah membereskan dokumen-dokumen penting para pasiennya. Rambut coklat gelap acak-acakkan miliknya semakin kusut dikarenakan pekerjaannya yang tiada henti. Baju dokter miliknya telah dipenuhi bercak-bercak darah korban perang yang ia tangani. Keningnya mendadak berkerut saat mengingat sesuatu.
"Hanna bukankah hari ini mereka ulang tahun?" tanyanya memastikan pada seorang wanita yang tengah menyiapkan racikan obat.
Wanita berambut hitam sepinggang itu nampak berfikir sebelum akhirnya berteriak, "Astaga Boboiboy... Aku lupa kalau anak kita sudah berumur 5 tahun sekarang!" wanita itu tersenyum bahagia sambil memeluk manja pasangan hidupnya tersebut.
Boboiboy hanya tersenyum tipis melihat tingkah sang istri, "Kalau begitu, ayo kita pulang..."
Atas izin dokter yang lain Boboiboy dan aku diperbolehkan meninggalkan rumah sakit yang dipenuhi korban peperangan saat itu.
Di perjalanan...
"Umh, Boboiboy... Apa yang akan kita belikan untuk mereka.. ?" tanyaku.
"Bagaimana sebuah jam tangan ?"
"Itu ide yang bagus..."
Kami pun pergi menuju toko jam, dan memilih beberapa jam yang kurasa cocok untuk kalian. Tidak lama kemudian kami kembali menuju mobil. Namun, tiba-tiba seorang pria dewasa datang dan menyerang kami dan jadilah...
"Mama dan Papa vampir."
"Aduh... Blaze mulai kumat jadi anak kecil." Taufan mendengus kesal.
"Benarkan?" matanya berbinar berharap terkaannya benar.
Papa dan Mama hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Yeay..." dia tersenyum penuh kemenangan.
"Setelah itu?" tanya Ice penasaran.
"Tumben nanya biasanya kan kalem, diem mulu." cibir Taufan.
'Kak Halilintar...' Ice tertunduk diam tak bicara. Kemudian dia menatapku, namun sepertinya aku bisa mendengar suara fikirannya.
"Taufan..." desisku dengan tampang psikopat -menurut Taufan- tadi.
Dia menunduk lalu nyerocos gak jelas.
"Setelah itu..." Papa mulai menyambung ceritanya.
Saat kami sadar, kami berada dalam sebuah gua. Dia (orang yang merubah kami) bercerita bahwa bangsa vampir hampir punah. Dia terpaksa merubah kami. Awalnya kami terkejut untuk perubahan ini.
Namun saat pria itu bercerita, seorang pria remaja sekitar seumuran kalian datang dan mereka berdebat. Inti dari perdebatan mereka kurang lebih seperti ini...
"Kau harus merubah arah ayo kita punahkan bangsa manusia." pemuda itu memamerkan gigi taringnya.
"Tidak!" pria dewasa itu menolak rencananya mentah-mentah.
"Kalau begitu berhentilah minum darah hewan dan minumlah darah manusia yang menggoda." ujarnya sedikit sinis.
"Tidak akan pernah, seharusnya kita bisa bersahabat dengan mereka. Kita juga tidak akan mati jika tak meminum darah mereka." tegas pria itu.
"Dasar kepala batu!" seru pemuda itu sambil mencekik pria tadi.
Krak...
Kepala pria dewasa itu langsung putus dengan sekali hentakkan lalu ia membakarnya. Aroma lavender mengepul di udara.
Pemuda itu pun menghampiri kami.
"Kalian, ikuti aku!"
"Tidak akan!" Boboiboy menjawab dengan tegas.
"Jadi kau ingin seperti dia?" pemuda itu menunjuk kepulan asap tempat orang yang telah merubah kami.
"Bukankah yang dia katakan benar kalau kita bisa bersahabat dengan manusia!" bela Susan.
"Hn-," dia melirik kado ulang tahun untuk kalian lalu merebutnya dengan cepat dari tangan Susan.
"Boboiboy : Halilinta, Taufan, Gempa, Ice dan Blaze,-" dia tersenyum licik, "Akan aku ubah keturunan kalian menjadi vampir..." dia tertawa lalu menghilang entah kemana.
Setiap hari kami selalu mengawasi dan memantau kalian dari jauh berharap dia tak menemukan kalian.
Namun naas, disaat ulang tahun kalian yang ke-17 kami tengah kelaparan dan pergi berburu tanpa kami pantau seharian.
Mamaku terdiam lalu memeluk kami semua erat. Sekarang aku mengerti ini semua benar adanya, Sebuah Perubahan Yang Nyata.
~O.o.O~
Halilintar POV...
"Baiklah sekarang kita akan mencari tau apa bakat kalian sebagai vampir?" ujar Papa mengeluarkan sebuah buku tua yang amat tebal.
"Memangnya vampir punya bakat?" tanya Gempa.
"Ya, kurang lebih begitu. Kita akan lihat karakter kalian dahulu." sambung Mama.
"Halilintar, kenapa dari tadi kau diam?" tanya Papa menghampiriku.
"Hm? Aku merasa sangat haus," ucapku. Kepalaku terasa memberat saat rasa haus itu semakin membakar kerongkongan.
"Itu alamiah, jadi... Amanda ambilkan minuman Halilintar." perintah Papa.
Amanda hanya mengangguk lalu menghilang dari pandangan, "Aku kembali, ini minumanmu, semoga suka!" gadis itu muncul membawakan sebuah gelas keramik.
Hm, minuman apa itu? Aromanya sedap sekali. Manis...
Aku mengambil gelas itu ragu lalu meneguk cepat isi didalamnya. Cairan itu membuat kerongkonganku sejuk sekali.
"Minuman apa ini? Rasanya enak sekali," tanyaku.
"Itu... darah!" Amanda menghilang lagi. Aku terpaku, ja-jadi yang ku minum tadi darah? Darah manusia?
Mama dan Papa sepertinya melihat kepanikkanku, "Tenanglah Halilintar, itu darah hewan buruan."
"Syukurlah..." gumamku lega, setidaknya aku tidak seperti monster.
"Baiklah, bagaimana pencarian bakatnya?" Amanda sudah duduk manis disampingku.
"Ayo kita mulai..." Papa membuka lembaran buku tua itu dengan hati-hati.
"Tapi aku mau tidur..." Blaze merengek.
"Tapi sayang, vampir itu tak bisa tidur" Mama mengelus kepalanya lembut.
"Ooo... Kalau begitu, mari kita cari bakat masing-masing." semangatnya berkobar.
Setelah ditelusuri dengan petunjuk dari buku tua itu, ternyata...
Ice berbakat mengendalikan perasaan seseorang dan situasi sekitar.
Blaze berbakat mengendalikan seseorang.
Taufan berbakat melacak seseorang.
Gempa berbakat menstranfer fikiran dan kecerdasan otak.
Amanda mampu melihat masa depan seseorang.
Sedangkan aku...?
Sedangkan aku...
Hm... Kurasa aku tak punya bakat apapun.
~O.o.O~
Keesokan harinya...
Hari ini kami akan diberikan beberapa pelajaran penting mengenai kehidupan abadi. Aku rasa akan lebih menyenangkan jika kalian mendengarkannya dari Taufan.
* Sudut pandang Taufan.
Hm... Entahlah apa yang sedang dia fikirkan sampai-sampai Halilintar mau mengoper cerita ini padaku (mungkin dia gila karena tidak tahu bakatnya sebagai vampir).
Ups...
Tatapan psikopatnya muncul lagi.
Hm...
Ku rasa aku tahu apa bakatnya pasti dia berbakat membaca fikiran orang lain.
Halilintar membelalak padaku.
"Mungkin..." ia berbicara sendiri. Hei padahal aku tidak berbicara padanya.
Aku akan menguji tebakanku ini, aku membayangkan dia sedang membunuh Amanda, seperti seorang psikopat, lalu memotong tubuhnya, mencincangnya, merobek perutnya, lalu...
"Sudah cukup! Hentikan..." dia menatapku marah, mata merah miliknya berkilat.
"Ada apa ?" tanya Amanda kebingungan. Gadis itu nampak heran melihat Halilintar yang mendadak berang.
Kakakku, Halilintar hanya geleng-geleng kepala lalu dia menyentuh tangan Gempa. Gempa mengernyit ngeri lalu dia memanggil Amanda dan memegang tangannya. Apa yang Gempa lakukan sih?
Astaga!
Aku lupa kalau Gempa bisa mentransfer fikiran dan memindahkan fikiran orang lain.
"Taufan!" seru Amanda, gadis berambut terurai sepinggang itu menatapku geram. O, oou... masalah.
Brag... duagh... buagh...
Amanda memukuli ku tanpa ampun.
"Halilintar... To-tolong hentikan dia..." aku memohon dengan sungguh-sungguh. Dia melirikku sekilas, "Amanda..." Halilintar bersuara.
"Maaf Halilintar..." Amanda berhenti memukuliku lalu dia segera duduk. Tapi sorot mata Amanda masih menampakkan bahwa dia belum puas memukuliku.
"Terimakasih..." ucapku sinis, Halilintar hanya membalasnya dengan muka datar ciri khasnya.
Jadi...
Kesimpulannya Halilintar berbakat menguping (membaca fikiran orang lain). Ini bakat yang aku benci karena sangat mengganggu ku bila sedang 'PDKT' dengan seseorang.
Hari ini kami akan diajarkan cara hidup bangsa vampir. Mama dan Papaku mengajak kami ke pegunungan di bagian selatan Malaysia.
~O.o.O~
Di pegunungan...
"Oke Halilintar, Taufan, Gempa, Blaze, Ice, dan Amanda, hari ini bawa hewan yang darahnya kalian hisap pertama kali." perintah Papa.
"Dan perlu kalian ingat, menghindarlah dari cahaya matahari!" sambung Mama.
"Baik!"
Kami berpencar lalu menghilang dalam lebatnya hutan. Ternyata menjadi vampir itu juga menyenangkan, bisa berlari secepat kilat tanpa menabrak apapun. Aku merasa insting kami lebih sensitif dari pada biasanya.
1 menit kemudian aku kembali membawa seekor ular piton raksasa yang bergelung di leherku.
"Bagus Taufan pantas saja bakatmu melacak," puji Papa.
Kemudian Gempa datang membawa kancil (pantas saja dia cerdik), disusul Blaze dan Ice yang membawa kijang dan elang (apa hubungannya dengan bakat mereka?) , lalu Amanda membawa seekor beruang hitam.
"Mana Halilintar...?" tanya mamaku.
"Sebentar lagi dia datang." kataku memandang gelapnya hutan nan rimbun tersebut.
"Itu kak Halilintar!" sorak Blaze sambil menunjuk arah tenggara.
Apa? Dia membawa seekor singa gunung? Itukan binatang yang ingin ku hisap darahnya tadi tapi singa itu terlalu ganas (dan itu membuatku).
"Hebat!" Papa dan Mama bertepuk tangan.
Selain itu, kami diajarkan tata cara berburu, menghapus jejak, mengendalikan diri sekitar manusia (walaupun bagian ini yang paling susah namun Halilintar terlihat biasa biasa saja).
Hari-hari kami lalui seperti biasa. Kami juga dimasukkan ke sekolah dan diwajibkan berbaur dengan manusia.
Meskipun kami hanya meminum darah hewan, tetap saja kami tergoda dan meminum...
DARAH MANUSIA...
~O.o.O~
Flashback Off...
"Hei itu kisah terdahulu..." Halilintar nyengir aneh padaku.
Ya itu kisah silam dan kelam kami, sekarang keluargaku berada di Alaska (mumpung musim dingin) jadi kami bisa keluar rumah tanpa takut matahari. Jangan kalian fikir aku sudah berumah tangga oke, aku masih jomblo dan belum tertarik menikah. Meskipun sudah ratusan vampir dan manusia yang melamarku, aku menolaknya dengan alasan masih menikmati hidup.
Sebenarnya besok kami akan pindah sekolah ke Malaysia tepatnya di Pulau Rintis. Kami sudah sangat lama tinggal di Alaska, kami semua harus pindah supaya orang-orang tak curiga karena kami yang tidak pernah menua. Harus diakui, aku bosan ke sekolah karena tercatat kami semua sudah bersekolah di 100 tempat yang berbeda selama ini. Semuanya biasa saja, tidak ada yang baru. Jadi aku berharap semoga ada yang menarik di Pulau Rintis nanti.
~O.o.O~
Yaya POV...
Aduh...
Hari ini aku sangat sibuk...
SMA 1 Jaya Pulau Rintis akan kedatangan 6 siswa baru dari Alaska.
Sebelumnya perkenalkan, namaku Yaya Putri Yah. Kalian bisa memanggilku Yaya, aku seorang Ketua Osis di sekolah.
Jadi, aku berfikir bahwa mereka gila dan bodoh. Kenapa harus pindah ke sini bukankah di Alaska itu menyenangkan? Kau bahkan bisa melihat turunnya salju disana.
"Yaya..." seseorang memanggilku.
"Ada apa Amar?" pria berdarah India ini berlari kecil ke tempat aku berdiri.
"Besok mereka semua datang." ia ngos-ngosan.
"Semoga saja orang ganteng ye Yaya!" huft... Ying selalu begitu, datang tanpa disadari.
"Supaya kau dapat pacar!" sambungnya tertawa. Sudahlah temanku yang satu ini selalu begitu.
"Hai, kalian kok sibuk banget?" tanya Putri, gadis berponi dengan rambut sepinggang ini mengejutkanku.
"Kita akan kedatangan murid baru hari ini!" ujat Ying antusias.
"Yeay..." Putri bersorak gembira. Bagaimana tidak, sekolah ini hanya terdapat 294 siswa. Jadi kalau mereka benar benar datang maka akan tembus angka 300 siswa.
"Semoga mereka mau berteman dengan kita." ucap Amar Deep penuh harap.
"Ya semoga saja..." gumamku.
~O.o.O~
Keesokan harinya...
Semua murid berbaris di depan gerbang sekolah menantikan mereka, karena kabar burung yang aku dengar mereka sangat kaya dan tampan.
Muncullah 6 mobil dari kejauhan dengan warna-warni yang sangat mencolok.
"Hey... Itu mobil Ferrari model terbaru. LaFerrari!" teriak Nana histeris.
Hah? LaFerarri? Iklannya baru muncul di sosial media beberapa bulan yang lalu. Sekaya itukah mereka?
Mobil tersebut melaju sangat kencang ke arah kami.
Ciiit... driit...
Bunyi ban yang bergesekkan dengan aspal sangat memekakkan telinga.
"Dasar tolol." umpatku kaget.
Mobil yang pertama sampai berwarna merah delima, begitu mengkilap. Seorang pemuda turun, memakai topi menghadap kedepan dan jaket hitam lengan panjang dengan paduan garis merah menyala. Jika dilihat secara kasat mata dia memang sangat tampan, bahkan nyaris sempurna tetapi (kurasa) dia ganas seperti singa.
Mobil kedua berwarna oranye, seorang perempuan cantik turun dengan dress selutut yang sangat anggun.
Mobil ketiga berwarna biru pekat dan muncul seorang pemuda, apa?! Dia mirip dengan yang pertama mungkin mereka kembar. Pemuda itu langsung mengumpat pada pemuda yang pertama kali turun.
"Kau curang." serunya tetapi pemuda yang pertama tadi seakan tidak menghiraukannya.
Lalu mobil berwarna coklat, biru muda, dan merah keoranyean datang. Mereka semua turun oh tidak... Mimpi apa aku semalam?
Mereka kembar lima. Yang satu dingin, yang satu suka nyerocos, satu lagi nampak lebih dewasa, yang satu lagi kekanak-kanakkan, dan yang terakhir terlihat biasa saja.
Itu hanya tebakanku. Semua orang yang melihat mereka berteriak histeris.
Tampan sekali... Wuish cantik... Handsome... Semua pujian terlontar dari mulut semua murid.
Pemuda berjaket hitam merah itu mengangkat topinya sedikit lebih ke atas, menampakkan iris matanya nan berkilau. Pemuda itu mengedarkan pandangannya, dia nampak memberi isyarat kepada para saudaranya untuk berjalan.
Tap... trap... trap...
Setiap langkah kaki mereka diikuti oleh hembussan angin. Mereka menerobos para murid yang mempersempit jalan tanpa menabrak siapapun.
"Hey, kau!" seru pemuda yang mengenakan topi miring, mata hitamnya nampak memandangku penuh kekaguman dari jauh.
"Siapa? Aku?" tanyaku melihat kiri-kanan.
"Iya kau, kakakku yang kau bilang nyaris sempurna itu bilang kalau tebakanmu benar tentang kami!" serunya.
"Maksudmu? Tebakan apa?"
"Tebakanmu, tentang karakter dasar kami..." dia berlalu sambil mengejar ketertinggalan langkahnya dari saudaranya.
Hah? Kenapa dia tahu kalau aku bilang pemuda berjaket hitam merah dengan topi berlambang petir itu nyaris sempurna?
Tapi bukankah aku hanya mengatakannya didalam hati? Lalu kenapa dia tahu?
Ah sudahlah, hari ini aku sibuk menyusun ulang jadwal kelas dan lain sebagainya.
Tapi aku penasaran...
Siapa mereka?
~To Be Continue~
Yeaay selesai, alhamdullillah Ocha berhasil mengedit fic ini dengan cepat. Ya walaupun tanda bacanya masih berantakkan. Maaf banget, ini fic Ocha gantungin, terus ini apdet emang ala-cepatnya. Jadi mohon maaf kalau banyak typo.
Oke dah terimakasih buat semua orang yang udah follow, favorit, dan reviews fic ini.
Buat Dark Readers tinggalkan jejak oke *ngedip mata.
So? Mind to review?
Sampai jumpa chapter selanjutnya,
Salam kiyut...
~ Ochandy ~
