Apa impian pernikahan mu? Suasana yang khidmat, pesta yang meriah, gaun pengantin yang indah, dihadiri banyak tamu undangan yang berbahagia untuk pernikahan kami, dan kedua mempelai yang saling mencintai. Namun kini ia tahu, semuanya hanya tinggal mimpi. Pernikahannya tak mungkin berjalan seperti apa yang ia impikan.

.

.

Uchihamelia Presents a Story

"Early Marriage"

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Sasuke(X)Sakura

I didn't receive any profits in writing this fanfiction

.

.

Chapter 2

.

.

Sedingin suhu kutub utara, sebeku karang samudera antartika, dan sehening penjara besi bawah tanah. Tegang dan mencekam. Mungkin hanya kata itu yang paling pas untuk mendeskripsikan suasana yang sedang terjadi dalam ruangan ini.

Seorang pria tua terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Mata sayunya nampak terpejam, kulitnya berwarna pucat, dan ada pulmotor yang menempel di hidungnya, untuk membantu pernapasannya yang terganggu, dan pria tersebut sedang dalam keadaan koma.

Ada delapan orang yang sedang berkumpul disini, menunggui lelaki tua ini. Namun seolah tak ada siapapun disini. Semuanya hanya tetap diam, tak ada yang bersuara. Sepi, yang terdengar hanya suara helaan napas mereka, dan suara cairan infus yang turun setetes demi tetes. "Sebaiknya kita mulai sekarang." Akhirnya terdengar Fugaku bersuara, memulai eksposisinya.

Mebuki menolehkan kepalanya menatap anak gadis yang duduk di sampingnya. Gadis berambut merah muda dengan wajahnya yang terlihat kuyu. Tangan Mebuki terulur, menyentuh lembut pundak putri semata wayangnya, "Kau sudah siap, sayang?" ujarnya.

Sentuhan lembut tangan sang ibu bagai aliran sengatan listrik bertegangan rendah di pundaknya. Membuat bulu-bulu halusnya berdiri, bergidik ngeri. Sakura terkesiap, namun bibirnya masih terkunci rapat, tidak mengeluarkan suara barang sedikit.

Apa yang bisa ia lakukan? tak ada. Sesungguhnya hati ingin menolak, memberontak dan membatalkan pernikahan konyol ini. Namun tak mungkin untuk dilakukan. Tak mungkin! Terlalu mustahil, baginya. Dan— nyalinya juga tak cukup banyak untuk bertindak sesuai kemauan hati.

Jadi, setelah susah payah menelan air liurnya. Kemudian, gadis beriris emerald itu menganggukan kepalanya. Meski terasa berat. Meski tertoreh pedih. Namun hanya ini yang mampu ia lakukan saat ini.

Terlalu sulit untuk menjelaskan perasaan hati yang tengah dirasakan Sakura. Tidak ada yang mengerti bagaimana perihnya goresan luka yang kian menganga. Pun dengan orangtuanya sendiri. Ini adalah hari ulang tahunnya. Hari spesial untuknya, seharusnya begitu. Tapi yang terjadi bukanlah sesuatu spesial yang membahagiakan, melainkan sesuatu yang mendatangkan duri kedalam hati.

Bagaimana tidak, dihari ulang tahunnya ini, dirinya harus menikah dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak di cintainya. Jangankan mencintai, bahkan ia pun baru mengenal lelaki tersebut dua minggu yang lalu. Pertemuannya dengan lelaki itupun baru satu kali. Lelaki yang terlihat sangat dingin dan tak berperasaan. Lelaki yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya, untuknya. Lelaki keturunan Uchiha yang dalam beberapa jam kedepan akan menjadi suaminya. Lelaki itu— Uchiha Sasuke. Si bungsu keturunan Uchiha Fugaku.

Fugaku mengeluarkan berkas dokumen dari dalam tas, lalu di taruhnya diatas meja. Kemudian tangan besarnya membuka berkas-berkas dokumen tersebut. Setelahnya, ia memutar bola mata onyxnya. Menatap Sasuke dan Sakura secara bergantian. "Kalian berdua hanya perlu menandatangani berkas dokumen perkawinan ini," ujarnya tanpa ragu.

Sasuke melirik Sakura yang tampak depresi dari sudut ekor matanya. Kemudian lelaki itu mengambil pena yang sudah tergeletak diatas dokumen perkawinan yang harus ditanda tanganinya. Dengan gerakan cepat, Sasuke menandatangani berkas-berkas dokumen perkawinannya tersebut. Wajah Sasuke benar-benar datar tanpa ekspresi. Seperti tak ada sesuatu hal apapun yang tengah dirasakannya. Setelah selesai menandatangani dokumen perkawinannya, ia kembali meletakkan pena itu diatas meja.

"Sekarang giliranmu untuk menandatangani berkas ini, Sakura," sahut Mikoto dengan nada suara yang lembut seperti biasanya. Namun kedengarannya berbeda ditelinga Sakura. Kelembutan suara Mikoto bagai perintah halus menyesatkan untuknya. Tapi Sakura juga sadar, tak ada lagi yang bisa ia lakukan kecuali menerima semua ini. Jadi dengan tangannya yang gemetar, gadis belia itu meraih pena yang tergolek diatas meja. Ia menggenggam pena itu erat selama beberapa detik. Dadanya kembang kempis, sedang pundaknya turun naik keatas kebawah.

Dan dua kelopak mata emerald itu tiba-tiba memejam. Satu detik, dua detik, tiga detik, dan didetik kelima iris klorofil hijau zamrud itu kembali membuka kelopaknya. Dengan kontra batin dan konvergensi yang menimbulkan perubahan mood extreme, Sakura menandatangani semua berkas-berkas dokumen perkawinannya bersama Sasuke. Gadis yang hari ini tengah berulang tahun ke tujuh belas itu, menahan sekuat diri liquid bening agar tidak mengalir dari bola mata emeraldnya. Ia menggigit bibir bagian dalam bawahnya dengan kuat, agar buliran liquid tidak mengalir menetes. Dan akhirnya, dengan gerakan kaku dan cukup lambat, Sakura telah selesai menandatangani semua berkas dokumennya.

"Selamat Sasuke. Jaga Sakura baik-baik karena sekarang ia adalah istrimu, tanggung jawabmu." Itu adalah perkataan yang pertama kali meluncur, usai Sasuke dan Sakura selesai menandatangani berkas dokumen perkawinan mereka. Itachi yang mengucapkannya. Ia adalah kakaknya Sasuke, anak pertama Fugaku dan Mikoto. Senyum Itachi tampak tulus, dan pria beristri itu tengah melingkarkan tangannya dipundak sang istri yang duduk tepat disampingnya. Masih dengan ekpresi datar yang terpampang diwajahnya, Sasuke hanya mengeluarkan resonansi khasnya sebagai respon.

Mebuki segera memeluk anak gadis yang kini telah sah menjadi istri dari Uchiha Sasuke. Wanita itu memeluk putri semata wayangnya dengan erat. Sesungguhnya terbesit perasaan bersalah didalam hati, karena memaksa putri satu-satunya itu untuk menikah muda dengan jalan perjodohan. Namun karena ini adalah wasiat ayah mertuanya, wanita berambut pendek kuning kecokelatan itu tak mampu melakukan apapun, kecuali mendoakan agar pernikahan putrinya berjalan bahagia. "Selamat Sakura sayang. Ibu hanya bisa bilang— semoga pernikahanmu bahagia," ucapannya sedikit tertahan, karena sesungguhnya wanita itu menahan airmatanya agar tidak mengalir keluar. "dan selamat ulang tahun." bisiknya lagi ditelinga Sakura.

Gadis bermahkotakan merah muda itu hanya menganggukkan kepalanya. Lidahnya terasa kelu, mulutnya seperti sulit terbuka, dan bibirnya serasa tak bisa mengeluarkan suara. "Selamat menempuh hidup baru putri kesayangan ayah. Dan— selamat ulang tahun ke tujuh belas, sayang," ucap Kizashi dengan senyuman aneh yang tertahan dibibirnya. Ia segera memeluk anak gadisnya itu, selepas Mebuki melepas pelukannya pada Sakura.

Ini adalah moment paling menyedihkan dalam hidup Sakura. Pelukan dari kedua orangtuanya bagai pelukan terakhir mereka untuk seorang anak gadis kecilnya, yang akan melepaskan sang anak pada dekapan lelaki yang telah sah menjadi suaminya. Ia sudah tak sanggup menahan kesedihan ini. Akhirnya, setetes buliran liquid pun meleleh dari iris klorofilnya. Namun Sakura segera menyekanya dengan cepat, ia tak ingin siapapun melihatnya menangis. Dan satu-persatu orang dalam ruangan ini mulai mengucapkan selamat pada pasangan suami istri baru, Sasuke dan Sakura.

Sasuke lalu berdiri dari duduknya, kemudian ia melangkah mendekati Uchiha Madara yang tengah koma terbaring diatas ranjang. "Wasiatmu telah terpenuhi. Aku sudah menikahi keturunan Haruno. Jadi, sadar dan sembuhlah," ucap Sasuke pelan. Mata onyxnya menatap tajam sang kakek yang terbaring tak berdaya itu. Setelahnya, lelaki berambut raven itu membalikkan badannya. Menghadap orang-orang yang tengah duduk memandanginya.

"Ayo ikut aku pulang, Uchiha Sakura," ujarnya sembari melangkah pelan mendekati pintu ruangan. Sedangkan gadis berambut merah muda itu tampak kaget. Emeraldnya membulat, dan kelopak matanya mengerjap beberapa kali. Ini adalah perkataan pertama dari Sasuke setelah keduanya resmi menjadi suami istri. Tidak ada sedikitpun sikap romantis yang ditunjukkan lelaki berwajah tampan itu padanya, baik dari ucapan maupun ekspresinya. Sakura merasa pernikahan impian yang diidamkannya selama ini seperti hancur berkeping-keping menjadi pecahan bagian kecil, lalu remuk, dan menjadi abu. Hingga tak menyisakan apapun kecuali secuil harapan dari datangnya keajaiban.

Setelah berhasil menguasai diri, Sakura menganggukkan kepalanya lalu melangkah menghampiri Sasuke yang kini telah sah menjadi suaminya. Kemudian setelah berpamitan pada semua orang yang berada disini, keduanya melenggang pergi menuju kediaman baru Sasuke yang akan ditempatinya bersama sang istri, Uchiha Sakura.

.

Love your parents, but don't sacrifice your feelings, except when you're ready

.

Kini keduanya sampai dirumah baru Sasuke. Rumah yang terlalu sangat besar untuk dihuni hanya oleh dua orang saja. Halaman rumahnya juga sangat luas, dan rumah ini tampak mewah nan juga megah. Gaya hidup para Uchiha sekali. Sasuke mengeluarkan satu buah koper berukuran kecil dari bagasi mobilnya. Itu adalah koper yang dibawa Sakura. Sepulang dari rumah sakit, keduanya mampir terlebih dahulu menuju kediaman lama Sakura bersama kedua oangtuanya. Tentu— untuk membawa perlengkapan yang Sakura butuhkan untuk tinggal dirumah barunya bersama Sasuke.

Sama sekali tak mengherankan bagi Sasuke, saat Sakura keluar dari kamar lamanya hanya dengan membawa jinjingan satu buah koper kecil saja. Memang, untuk apa membawa banyak barang yang hanya akan merepotkan, toh mereka juga bisa membeli yang baru tanpa harus repot mempacking barang— pikir Sasuke dan Sakura, satu pemikiran. Dan setelah itu, keduanya segera meluncur menuju tempat tinggal baru mereka.

Selama dalam perjalanan di mobil, tak ada salah satu dari Sasuke dan Sakura yang mau memulai percakapan. Keduanya hanya diam seribu bahasa. Seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Padahal, status keduanya kini adalah sepasang suami istri. Namun pada kenyataannya, keduanya merasa jengah untuk saling bertanya dan menjawab. Diam adalah pilihan terbaik.

Saat langkah kaki Sasuke dan Sakura belum sampai menuju pintu. Tiba-tiba saja pintu rumah itu terbuka dan menampilkan seorang perempuan berambut cokelat gelap dengan memakai celemek putih. Sakura sudah bisa menebaknya, perempuan itu pasti asisten rumah tangga dirumah ini. Sasuke melepas koper yang tengah dibawanya. Dan beralih tangan pada perempuan bercelemek putih tersebut. Kemudian perempuan itu, membawa koper kecil tersebut masuk kedalam rumah.

"Namanya Ayame. Asisten rumah tangga disini," ujar Sasuke datar begitu mereka sampai didalam rumah. Ayame tersenyum ramah menatap Sakura dan membungkukkan badannya. "Halo Ayame-san. Aku—"

"Dia istriku. Uchiha Sakura," sahut Sasuke menginterupsi perkataan Sakura dengan cepat. "dan itu kamar mu." lanjutnya lagi pada Sakura. Setelah itu, Sasuke segera melangkah pergi masuk menuju kamar tidurnya, yang berada tepat disamping kamar tidur Sakura.

Gadis berambut merah muda itu menatap punggung tegap Sasuke. Senyum tipis terukir dibibirnya. Ia sedikit merasakan senang, karena Sasuke mau menepati janjinya. Dengan menempati kamar tidur yang berbeda, tentu persentase kemungkinan syarat ketiga yang diajukannya untuk dilanggar Sasuke akan semakin kecil pula. "Terimakasih, Sasuke," ucap Sakura didalam hati.

.

Everything begins when started

.

Ini adalah malam pertama Sasuke dan Sakura sebagai sepasang pengantin baru. Namun yang terlihat bukan seperti pasangan pengantin baru pada umumnya, yang akan berada didalam satu kamar tidur yang sama dengan kehangatan dan keromantisan yang menyelimuti. Keduanya justru menempati kamar tidur yang berbeda, dengan diferensiasi spekulasi pikiran yang berbeda pula.

Sakura duduk didepan kursi meja riasnya. Ia memandang miris wajahnya sendiri yang penuh dengan linangan airmata yang membekas dipipi. Liquid bening yang semenjak pagi ia tahan dalam-dalam, akhirnya tumpah ruah membanjiri wajahnya. Rasanya sangat sakit. Dadanya terasa sesak, dan seperti ada luka dalam yang tersiram air garam— perih. Sakura sama sekali tak menyangka, pernikahan dini menjadi takdir kehidupan cintanya. Dan lagi, lelaki yang menjadi suaminya adalah Sasuke. Lelaki yang sama sekali tak ia kenal kepribadiannya. Rasanya juga masih sulit dipercaya, sekarang ia bukan lagi seorang gadis lajang, sekarang dirinya adalah seorang gadis bersuami. Sesungguhnya Sakura belum siap menikah semuda ini. Ia sangat takut kebebasan masa mudanya akan terenggut. Jadi hatinya merasa pilu.

Selain itu, ada satu penyebab lagi mengapa dirinya menangis. Sakura masih gadis yang memiliki kepribadian labil. Ini— hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dan tepat dihari specialnya yang ke tujuh belas, dirinya harus melepas status lajang tanpa terwujudnya pernikahan yang ia impikan selama ini. Pernikahan impian yang ia angan-angankan semenjak remaja harus kandas begitu saja, seperti kelopak bunga Sakura yang berguguran satu persatu dan terhempas ke tanah. Rasanya seperti kehilangan mimpi— begitu yang Sakura rasakan. Dan lagi, Sasuke yang kini telah resmi menjadi suaminya juga tak mengucapkan kata selamat ulang tahun padanya, walau cuma basa-basi sekalipun. Padahal Sakura sangat tahu, jika Sasuke juga tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Namun lelaki dingin itu, seolah tak peduli padanya. Dan hal itu membuat kesedihan Sakura semakin bertambah Sakura mengharapkan ucapan 'Selamat ulang tahun' dari Sasuke dengan romantis, hanya saja setidaknya kata itu bisa menjadi obat penenang untuknya sementara waktu ini. Sakura sama sekali tak mengharapkan lebih. Sama sekali tidak.!

Sedang Sasuke berdiri didepan jendela kamarnya yang terbuka. Tangannya menggenggam sebotol minuman soda. Dan matanya menatap jauh menerawang entah kemana. Semilir angin malam bertiup masuk menelesup melalui jendela yang terbuka itu, menyapa lembut kulit wajah Sasuke yang menampilkan ekspresi aneh di wajahnya. Sensasi dingin menyambanginya, namun tak diperdulikan sama sekali oleh lelaki berwajah tampan tersebut. Sasuke tahu, ini adalah malam pertamanya dengan Sakura sebagai sepasang suami isteri. Namun yang ada di pikirannya bukanlah mengenai malam pertamanya. Yang ada di kepalanya adalah sesosok perempuan berambut pirang panjang dan berkacamata.

Perempuan yang dulu di cintainya, dan mungkin juga masih hingga sekarang. Dulu keduanya adalah sepasang kekasih, mereka saling mencintai. Hingga datang hari dimana perempuan itu menemuinya dan berkata jika hubungan asmara mereka harus berakhir. Alasan yang diberikan perempuan tersebut saat itu adalah; ia dijodohkan oleh kedua orangtuanya dan tak kuasa untuk menolak. Sasuke tertawa mengejek mendengarnya, itu adalah salah satu kenangan menyakitkan dalam memorinya. Dan kejadian itu sudah terjadi tiga tahun yang lalu. Tetapi rasa sakitnya masih membekas dan meninggalkan luka sampai sekarang. Bahkan semua hal yang menyangkut tentang perempuan itu masih tersimpan dengan baik didalam otaknya. Terekam dengan sangat jelas, seperti bayangan yang tak mau pergi.

Sasuke meneguk habis isi minuman yang ada dikaleng sodanya. Setelahnya, tangan kekar itu meremasnya hingga kaleng tersebut menjadi penyet dan berbentuk aneh. Sungguh! Sasuke sangat sekali membenci mengingat hal ini. Tapi, ia tak juga bisa menepis semua memori menyakitkan ini. Pada perempuan berambut pirang panjang dan berkacamata itu— ia amat membenci sekaligus mungkin masih mencintai.

Perempuan itu meninggalkannya karena melakukan pernikahan perjodohan. Dan itu menjadi salah satu alasan bagi Sasuke, mengapa kini ia mau menerima pernikahan perjodohan pula. Ia ingin merasakan apa yang perempuan itu rasakan; menikah dengan seseorang yang tidak dicintai dan hidup bersamanya. Selain itu ada satu faktor lagi yang membuatnya mau menerima perjodohan ini; ia ingin membahagiakan kakeknya— Uchiha Madara. Sang kakek selalu ada dan mendukungnya dalam segala hal. Bahkan ketika ayahnya sendiri menentangnya saat ia akan mendirikan sebuah perusahaan provider, sang kakek mendukungnya dan memberi ia semangat. Karena itulah Sasuke menyayangi Madara dan ingin membahagiakannya, walau kehidupan cintanya yang memang sudah suram harus di korbankan. Itu sama sekali tak menjadi masalah!

.

When trying to understand, but cannot to understand

When a feeling of wanting understandable, but nobody understand

.

Sakura dan Sai adalah teman satu kelas. Mau tak mau mereka selalu bertemu setiap hari di sekolah. Dan sepulang sekolah ini, Sakura berencana pergi ke sebuah toko buku di pusat perbelanjaan sendirian; tanpa dua sahabatnya Hinata dan Tenten. Gadis berambut merah muda itu tak menyadari ketika Sai mengikutinya diam-diam. Ia baru mengetahuinya saat sedang memilih buku yang akan di belinya. Tentu saja dirinya terkejut melihat Sai ada disitu, dan ia meminta Sai untuk pulang dan jangan mengikutinya yang sedang memilah buku. Namun Sai bersikeras, lelaki bermata hitam jelaga itu memaksa untuk menemani Sakura membeli buku. Dan akhirnya Sakura hanya bisa membiarkannya.

"Kita makan siang, setuju?" ajak Sai, setelah Sakura selesai membayar buku yang di belinya dikasir. Gadis cantik bermata emerald itu menggelengkan kepalanya. Lapar! Sejujurnya ia juga merasa lapar. Tapi ia tak mau makan siang berdua bersama Sai. Dirinya takut jika makan siangnya bersama Sai, akan menimbulkan kesalahpahaman. Apalagi kini ia sudah bersuami. Tentu ia harus bisa menjaga diri. Jadi, Sakura menolak tawaran Sai.

Tapi, lapar tak bisa di sembunyikan. Suara cacing-cacing yang berteriak dalam perut Sakura terdengar sangat jelas. Sai terkekeh pelan mendengarnya. "Kau lapar... Ayo!" ujarnya sambil memegang pergelangan tangan Sakura, lalu menariknya untuk masuk ke sebuah resto.

Dua pelajar Tokyo Academy School itu, kini sedang lahap menyantap makan siang mereka, dengan duduk saling berhadapan. Meneguk segelas air putih, setelahnya Sai memandangi Sakura yang sedang mengunyah suapan terakhir makan siangnya. Bibir Sai merekah tipis, sungguh ia sangat mencintai makhluk tuhan yang sedang duduk di depannya ini.

"Sakura," kata Sai setelah gadis itu selesai meneguk segelas air putih. Iris klorofil hijau zamrud itu menatap Sai, tanda bahwa ia merespon lelaki yang kini telah menjadi mantan kekasihnya. Bibir tipis Sai semakin mengembang. Tangannya lalu terulur membingkai sebelah pipi Sakura. "Aku masih mencintai mu," lirihnya sambil menatap mata Sakura intens. Emerald itu seketika membulat. Ekspresi wajahnya nampak kaget. Sesuatu dalam dadanya berdetak dua kali lebih cepat. Mulutnya sedikit terbuka seperti hendak mengucapkan sesuatu, lalu kemudian tertutup lagi karena ragu. Sai masih mencintainya, dan Sakura pun begitu. Tapi Sakura tahu, hal ini tidak benar. Jadi ia menekan dalam-dalam perasaan yang membuncah bahagia didalam dadanya.

Sialnya, disaat seperti ini, Itachi yang merupakan kakak Sasuke, tiba-tiba masuk kedalam resto bersama tiga rekan kerjanya. Ia berdehem sangat keras ketika melewati meja Sakura dan Sai. Sakura terkesiap, dengan refleks jemarinya segera mengenyahkan tangan Sai dari pipinya. "Aku harus keluar sebentar," sahutnya pada lelaki berkulit pucat itu.

Menghampiri meja Itachi, kemudian kakak dan adik ipar itu keluar dari resto, dan menjauh dengan jarak beberapa meter dari pintu masuk, lalu menepi. "Itachi-nii, yang tadi kau lihat itu salah paham," ucap Sakura memberi pembelaan. Itachi hanya memandang Sakura datar, tanpa sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. "Sungguh! kami hanya teman sekelas, percayalah. Jangan beritahu Sasuke ya— aku takut dia akan salah paham." lanjutnya lagi. Pupil mata Sakura membesar, menatap Itachi penuh harap.

Selama beberapa detik Itachi menatap menelusuri wajah Sakura, adik iparnya itu terlihat ketakutan. Terbukti dengan pundaknya yang bergetar dan naik turun. Kulit wajahnya juga sedikit memucat pasi. "Tidak janji." setelah itu, Itachi melenggang meninggalkan Sakura dan kembali memasuki resto. Gadis yang memiliki nama sama dengan bunga kebanggaan jepang itu menarik napasnya dalam. Dadanya kembang kempis, ia menggigit bibir bawahnya sedikit keras. Dirinya merasa takut. Bagaimana jika Itachi menceritakan kejadian ini pada Sasuke? Sungguh Sakura sangat takut memikirkannya, sampai-sampai membuatnya merinding.

"Yang tadi kau ajak bicara disini, siapa?" Dalam hitungan detik, Sakura segera menolehkan kepalanya menuju sumber suara. Tangannya secara spontan menyentuh dadanya sendiri, merasa terkejut dengan kedatangan Sai yang menghampirinya tiba-tiba kesini. "Oh itu— saudara jauh ku. Hm, aku harus pulang, sampai nanti Sai." setelah mengambil barang-barangnya yang masih ada didalam resto, gadis itu segera pergi dari pusat perbelanjaan tersebut.

Dari luar dinding kaca resto ini, Sai bisa melihat wajah Itachi dengan sangat jelas. Bibirnya membentuk seringaian tipis, ia mengenal lelaki dewasa itu. Sai tahu, lelaki itu bernama Itachi; anak sulung Uchiha Fugaku. Uchiha tidak mungkin bersaudara dengan Haruno; yang merupakan nama keluarga Sakura. Dan Uchiha Fugaku juga adalah saingan berat bisnis ayahnya; Shimura Danzo. "begitu ya." Sai bergumam pelan, ia mulai mencium bau kecurigaan disini. Tapi ia akan berpura tidak tahu dihadapan Sakura.

.

Please, don't give the slightest opportunity, for something that will bring trouble

.

Jam sembilan malam lebih, gadis itu baru pulang ke rumahnya. Rumah yang di tempatinya berdua dengan Sasuke. Jantungnya dag-dig-dug keras, ia mengontrol napasnya yang tak beraturan, agar tak nampak mencurigakan didepan suaminya. Setelah mengambil napasnya dalam-dalam, ia mulai memberanikan diri memegang knop pintu, lalu membukanya.

Sasuke sedang duduk di sofa ruang tamu. Mata dan tangannya sibuk terfokus dengan laptop diatas meja. Sakura mengernyitkan dahi; heran. Selama tiga minggu lebih pernikahan mereka, Sasuke selalu membawa pekerjaannya yang belum selesai kerumah. Ia akan menyelesaikan laporannya tersebut, diruang kerjanya dalam rumah ini. Jadi, tidak biasanya pada jam-jam segini, Sasuke tidak berada diruang kerjanya. Karena lelaki itu akan segera masuk keruang kerjanya setelah selesai makan malam, dan baru akan keluar menuju kamar tidurnya setelah jam sebelas malam lebih.

Mungkin Sakura terlalu naif, atau mungkin juga Sakura benar-benar tidak menyadari penyebab Sasuke memilih mengerjakan laporan kerjanya diruang tamu— karena tempat yang biasanya Sasuke tempati adalah ruang kerja. Lelaki muda dan tampan itu memilih diam diruang tamu, karena sedang menunggu kepulangan Sakura. Walau bagaimanapun, Sasuke sadar kalau sekarang Sakura adalah istrinya; tanggung jawabnya. Jadi, ia sedikit cemas saat dirinya pulang kerja, sedang Sakura masih belum berada dirumah. Tidak biasanya Sakura seperti itu. Sasuke tahu dari Ayame, sepulang dari sekolah Sakura selalu langsung pulang kerumah. Dan terlambat pulangnya Sakura hari ini, membuat Sasuke kesal sekaligus khawatir. Tapi, Sasuke tetap berspekulasi positif, ia tak ingin berpikiran negatif.

Sakura melangkah dengan kaki pelan, ia berpikir Sasuke terlalu fokus mengerjakan laporan, hingga tidak sadar dengan kepulangannya. Jadi, ia akan pura-pura juga. Tangannya menggenggam erat tali tas selempangnya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan kegugupan.

"Kenapa baru pulang?" suara itu menguar saat Sakura akan berbelok dari ruang tamu. Suara itu terdengar sinis, dan menusuk gendang telinga Sakura. Sepulang dari pusat perbelanjaan tadi, Sakura sengaja tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia masih merasakan takut akan asumsinya sendiri, mengenai kejadian siang tadi bersama Sai yang sedang memeluk pipinya dan tertangkap basah oleh sang kakak ipar. Sakura sangat takut, kalau Itachi akan menceritakan kejadian tadi pada Sasuke. Karena Itachi tidak mengucapkan janji untuk menjaga kejadian tadi menjadi sebuah rahasia bersamanya. Tentu hal itu membuat Sakura gelisah, memikirkannya. Jadi Sakura memilih diam merenung sendirian disebuah taman kota; untuk menenangkan mentalnya sendiri. Gadis berwarna rambut merah muda itu juga sangat kaget, saat tersadar dan melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya, telah menunjukkan pukul sembilan malam. Dengan tergesa, ia segera pergi dari taman tersebut menuju rumahnya. Tujuh detik Sakura terdiam kaku. Setelah mengumpulkan kembali kesadarannya, gadis itu segera menolehkan kepalanya menghadap Sasuke. "Kerja kelompok dirumah teman," jawabnya singkat dan berbohong. Hatinya terasa tercubit, ini pertama kalinya ia berbohong pada Sasuke; suaminya. Dan entah kenapa rasanya sakit saat ia harus berbohong seperti ini pada Sasuke. Mungkin karena ia bukan orang yang pandai dan terbiasa berbohong. Jadi, perasaannya sedikit aneh.

Memicingkan mata menatap Sakura sejenak, kemudian Sasuke kembali terfokus pada laptopnya. Sebenarnya lelaki itu merasa kesal, namun sang gadis tidak menyadarinya. Sakura berasumsi, kalau Sasuke sudah percaya pada jawabannya. Jadi gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.

"Hei!"

Mata Sakura membulat, ia menggenggam tali tasnya semakin erat saat teringat kembali kejadian tak sengaja di makan siangnya bersama Sai. Sakura sangat takut jika Sasuke memang telah mengetahui perihal kejadian tadi siang dari Itachi. Apalagi sekarang, ia mendengar jejak langkah Sasuke yang berjalan semakin mendekat. Mata Sakura terpejam, debaran jantungnya berdetak sangat cepat. Takut! ia benar-benar merasa takut. Bagaimana jika Sasuke sudah tahu? Bagaimana—

"Lain kali, kabari aku jika akan pulang terlambat. Dan istirahatlah, sudah malam," bisik Sasuke pelan, sebelum lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Sakura segera menghela napasnya, menghembuskannya melalui mulut, lalu tangannya terulur menyentuh dada. Ternyata persepsinya salah. Ternyata Itachi tidak menceritakan kesalapahaman tadi pada Sasuke. Bibirnya melengkung kebawah, membentuk senyuman tipis.

Dirinya merasa lega. Sungguh tak terbayang, apa yang akan Sasuke lakukan padanya; jika lelaki itu sampai tahu kejadian siang tadi. Pasti Sasuke akan beranggapan bahwa Sakura berselingkuh. Lalu, lelaki itu akan berbuat macam-macam kepadanya. Bahkan untuk sekedar memikirkannya pun terlalu takut dan mengerikan sampai-sampai membuat Sakura merinding sekali. Tangannya yang bergetar kemudian menekan dadanya semakin dalam,

"Terimakasih, Itachi-niisan."

.

Because love will grow up in togetherness

.

.

To be continued—

.

.

A/N : Sejujurnya niat awal aku itu, nggak akan update atau publish ff sampai aku selesai sidang skripsi. Tapi karena jari-jariku itu suka gatel sendiri kalau nggak dipake ngetik cerita :DD Curi-curi waktu ditengah kesibukan kerja dan skripsi, akhirnya aku luangkan buat update ff ini, tadinya mau update yang 'Love or Dumb?' Tapi beneran deh, selesai sidang nanti bakal aku update itu ff #nyengirkuda. Sabar menanti ya :))) Oya, aku dapet revisian :( tapi minta doanya ya semua, biar sidangku nanti lancar.

Makasih untuk yang udah review di chapter satu kemaren :*** #reviewkalianpenyemangatku

Terimakasih sudah baca, dan aku minta tanggapan serta review dari kalian semua untuk chapter ini ya :)

Uchihamelia

.

.

Reply Review

suket alang alang : Udah lanjut. Belum, hhe di usahakan. yana kim: Udah lanjut. Wah, terimakasih. Yup, tergantung keadaan. A.f : Thanks, ini udah ya. Guest : Iya, ini udah update. Hhi semoga begitu, follow terus ya. melody-sasusaku : Semoga seperti itu. Iya, ini udah update. Hehe, di usahakan :) Misa safitri3 : Huhu :'( Hmm, jatuh cinta gak ya? Hihi, makasih. Wah, jangan baper ya :DD trafalgartidy23 : Duh, Terimakasih ya :* Iya, pasti ganbatte. ayuniejung : Haha, gapapa feel SaiSaku nya gadapet, yang penting pas feel SasuSaku nya bisa dapet yo :D cherryana24 : Iya, ini lanjutannya :) Yoshimura Arai : Huhu, jangan sedih ya :( hihi, ini saya comeback untuk sementara :D Peluk-cium juga dari Sukabumi :* AadeUchira : Ini lanjut, makasih. kimmy ranaomi : Hehe, terimakasih :) Guest : Iyaa. chiu : ini lanjutannya. adora13 : Makasih. Hhe, hanya untuk sementara. lovesasu : Terimakasih. Terus tungguin ya :D Iyaa, ganbatte. Tsurugi De Lelouch : Haha, tp makasih udah tertarik. Yupp, tapi ini saya sempetin comeback dulu :D Pastiii. sasusakuuu : Ini udah lanjut, di usahakan. Eiliyah Sakura : Hihi, terimakasih. Ini lanjutannya :D Yepp, fighting! kHaLerie Hikari : Ini udah update :) ELDilla : Wahh, makasih sekali. Hha, saya usahakan :D Iya, gapapa : Karena orang ketiga akan semakin mendekatkan mereka :DD Iyaa, ini udah update. dianarndraha : Udah lanjut ya. Jamurlumutan : Hihi, begitu ya :D Iyaa, ini udah lanjut. Semangat45 Rabapyon : Yepp. Iya, ini disempetin lanjut. Tapi sekarang Sai udah jadi masalalu Saku :D Cherry Philein : Makasih, hoho. Hmm senasib kita, tapi aku malah revisi :'( Aamiin, iya ini udah lanjut. Salam sayang juga dari amel.