Title: Inside
Cast: Kaname, Zero, Ichiru, Yuuki, other VK's chara
Pairing: KanamexZero, IchiruxZero, KanamexYuuki
Disclaimer: I didn't own the chara(s). If I did, I'll make sure that Kaname will be marrying Zero XD
Rating: T
Genre: Yaoi | Romance, gender-bender, school life, semi-canon
Warning: AT/AR. PWP (? bisa dikatakan begitu, tapi nanti ya..). Yaoi, Smut, hardcore(?), containing BoyxBoy so don't read if you feel unpleasant.
MPREG (?lihat nanti deh ya..). GAJEness. OOCness. Don't blame the chara.
Summary: Apa? Ia pun tak pernah mengira jika akhirnya akan seperti itu. Dalam sadar atau tidak, tak pernah sekalipun kejadian seperti itu ia pikirkan. Terlintas di kepalanya barang beberapa detik pun tak pernah, jadi bagaimana caranya ia bisa menjelaskan keadaannya itu sekarang? Meski memang apa yang ia harapkan adalah berdamai dengan keturunan darah murni itu, tapi tak pernah sekalipun ia memikirkan akan jadi seperti ini. Dan untuk alasan lain, di lain pihak, Kaname merasa memang benar begitu adanya. Ia melakukan sesuatu yang harusnya ia lakukan sejak ia bertemu dengan pemuda mantan hunter itu. Karena, hanya dengan cara seperti itulah rasnya tak akan pernah binasa.
Matahari pagi menyambut dunia dan seisinya. Sinarnya yang terik berhasil masuk ke dalam ruangan mewah kediaman sang pureblood dan sepasang mata pun terbuka karenanya.
Ia merenggangkan badannya sebentar sebelum akhirnya ia menyadari di mana dirinya berada sekarang ini. Tidak, ia tidak terkejut sama sekali. Ia masih ingat apa yang terjadi semalam dan tak mengejutkan jika dirinya ada di ruang itu. Hanya saja, ia heran bagaimana bisa ia tertidur di sana?
Pikirannya itu kemudian terbuyar dengan sebuah gerakan di sampingnya. Gerakan orang yang baru saja ia hisap darahnya semalam.
Zero bangkit dari tempat tidur itu. Ia membelakangi orang yang tadi tidur di sampingnya, yang kini tengah menghadap punggungnya.
"Sudah sadar, Kiryuu?" tanyanya.
"Aku akan kembali," jawab Zero. Ia dapat menangkap suara dengusan dari Kaname, sang keturunan darah murni itu.
"Yah... pada akhirnya, setelah kau mendapatkan darahku, kau akan meninggalkanku. Aku cukup kecewa sebenarnya. Kukira kau akan melakukan sesuatu sebagai balasannya," tutur Kaname.
Zero mencoba bertahan. Tak ingin membuat suatu keribuatan di pagi ini. Terlebih lagi, ia tahu apa yang kini tengah terjadi pada sang pureblood itu. Jadi, sebisa mungkin, kali ini ia tidak akan mengajak ribut vampir itu.
Tunggu! Apa tadi katanya? Melakukan sesuatu sebagai balasannya? Ya, benar. Kini, orang itu adalah masternya. Pemilik kendali akan dirinya. Itu berarti, sewaktu-waktu Kaname akan bisa mengendalikan dirinya sesuai keinginan vampir itu kan? Dan maksudnya melakukan sesuatu sebagai balasannya?
Oh, bahkan Zero pun tak bisa membayangkan itu apa. Bukan hal macam-macam, tapi pasti Yuuki dan klannya. Ia tahu bagaimana pemikiran Kaname. Bukankah Kaname itu menganggapnya sebagai saingan dalam memperebutkan Yuuki? Benar. Memang Zero tahu Kaname tak mau kehilangan Yuuki, tapi ia juga tak menginginkan Yuuki. Ia hanya menganggap Yuuki sebagai keluarganya yang perlu dilindungi dari orang-orang seperti Kaname itu, bukan mencintainya sebagai seorang yang spesial.
"Memikirkan perkataanku, eoh, Zero?" pertanyaan dari Kaname itu mengembalikan Zero ke alam sadarnya.
"Kau tentunya mengerti arti perkataanku barusan," ujar Kaname lagi.
Menggelengkan kepala, Zero akhirnya berjalan meninggalkan ruang itu setelah berkata, "Aku pergi."
Terjadi keributan di Cross Gakuen. Kasak-kusuk para siswi Day Class membahana di seluruh penjuru sekolah.
Bagaimana tidak jika mereka mendengar kabar bahwa sang Kaname-sama, pangeran Night Class Cross Gakuen, mendadak jatuh sakit? Tentu saja para wanita Day Class seantero sekolah itu merasa tak tenang dan mengkhawatirkan pangeran mereka.
Kabar yang di bawa para klan Kaname itu langsung menyebar seketika. Di manapun mereka berada, hanya satu topik yang akan mereka bicarakan.
"Kaname-sama jatuh sakit?" "Bagaimana bisa?" "Apa aku perlu menjenguknya?" "Aku harap ia segera sembuh." "Oh, aku tak bisa membayangkannya itu terjadi padanya. Sungguh kejam!" Dan hanya itulah yang mereka katakan sepanjang hari itu.
Tentu saja kabar itu terdengar oleh Yuuki dan Zero, dua prefek Cross Gakuen yang terkenal hebat menangani para murid Day Class jika kelas tengah berganti dengan Night Class.
"Eh? Sakit? Sejak kapan?" tanya Yuuki ketika ia mendengar kabar itu.
"Kurasa sejak semalam, karena ia masih baik-baik saja sore kemarin," ujar Ichijo, salah satu klan Kaname yang sangat setia padanya.
"Apa ia baik-baik saja? Seberapa parah?" tanya Yuuki lagi. Ia khawatir, tentu saja. Kaname adalah orang yang berarti baginya. Karena Kanamelah ia masih hidup hingga saat ini. Mendengar kabar buruk tentang orang itu, tentu saja membuatnya khawatir.
"Tidak terlalu parah. Ia hanya tak bisa berlaku seperti biasanya. Katanya, ia hanya butuh istirahat," jawab Ichijo lagi. Ichijo tersenyum pada Yuuki. Sedetik matanya melirik ke arah Zero yang tengah mengatur para siswi Day Class agar tidak menyerang klan-klan Kaname itu.
"Kalau kau mau, kau bisa menjenguknya," kata Ichijo kemudian masih dengan senyum hangatnya. Yuuki mengangguk mendengarnya.
Keributan di belakang mereka menjadi-jadi, membuat Ichijo harus segera pergi jika ia tak mau di serbu oleh mereka. Sedang Aidou yang dari tadi berdiri di samping Ichijo, melambai-lambaikan tangannya pada kerumunan siswi Day Class, seolah-olah ia lah yang mereka inginkan.
"Sepertinya kami harus segera pergi. Kau bantulah temanmu yang ada di sana. Kuyakin sebentar lagi mereka akan menginjak-injak temanmu itu jika tak kau bantu," ucap Ichijo sambil menunjuk kerumunan di belakang mereka.
Kemudian ia melirik kawan di sampingnya itu. "Apa yang sedang kau lakukan? Berhenti, karena bukan kau yang mereka inginkan," ujarnya sinis pada Aidou. Aidou hanya berdecak kesal.
"Ck. Kau hanya iri tak bisa menjadi sepopuler sepertiku," balas Aidou. Yuuki terkikik melihat pertengkaran kecil mereka.
"Ne, kami pergi dulu, Yuuki," kata Aidou kemudian, sambil berjalan meninggalkan Yuuki dengan masih melambai-lambaikan tangannya ke belakang.
"Ah... kau juga bisa mengajak temanmu itu," ujar Ichijo sebelum ia meninggalkan Yuuki. Yuuki mengangguk lagi. Seteleh mereka lumayan jauh, Yuuki mendekati Zero dan membantunya mengurusi para siswi Day Class itu.
Sinar matahari sore yang menggelitik kelopak mata keturunan darah murni itu mengharuskan Kaname membuka matanya perlahan. Membiarkan matanya beradaptasi, Kaname mengingat kejadian semalam.
Ia tersenyum mendapati ingatannya tertuju ke arah pemuda bersurai perak itu. Dirabanya leher sebelah kiri, merasakan bekas tancapan gigi di sana.
Kaname mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya itu. Bersih dan rapi. Ia yakin teman-temannya pasti merasakan atmosfer itu tadi malam.
Diambilnya napas pendek sebelum kemudian ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke ruangannya, di susul dengan suara pintu di ketuk.
"Kaname-sama...?" panggil suara dari luar ruangan itu. Suara perempuan yang ia yakini itu adalah suara Yuuki.
Kaname turun dari tempat tidurnya. Terhuyung, ia memegangi pinggiran ranjangnya sebagai pegangan. 'Hah... jadi seperti ini efeknya saat darahmu diambil?' batinnya.
Dengan perlahan, ia menuju pintu kamarnya. Diraihnya gagang pintu dan membukanya. Di depannya kini, Yuuki dengan wajah cemasnya memandang Kaname. Kaname tersenyum padanya. Lalu ia berbalik dan kembali menuju kasurnya. Ia kembali merebahkan tubuhnya di sana.
Yuuki memasuki ruangan dan melihat sekeliling. Sejenak ia merasakan sesuatu telah terjadi tadi malam, tapi kemudian pikiran itu teralihkan dengan pertanyaan sang pureblood di sana.
"Ada apa, Yuuki? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Kaname lembut.
Yuuki mendekati ranjang itu. Diperhatikannya laki-laki yang tengah menutupkan mata tersebut.
"Kaname-sama, aku dengar kau sakit. Apa kau baik-baik saja?" tanya Yuuki. Ya, ia telah mendengar kabar bahwa Kaname sakit, tentu saja kabar itu di bawa para klan-klan Kaname. Dan sore ini, di mana ia memang tak menemukan sosok yang telah ia anggap sebagai penyelamatnya, ia langsung melangkahkan kakinya ke kediaman sang pureblood itu.
Tapi, Yuuki tak sendiri. Ia bersama Zero. Memang susah mengajak Zero untuk datang ke tempat musuhnya itu, tapi mau bagaimana lagi. Jika ia tak bersama Zero, entah apa yang akan dihadapinya esok hari saat seisi sekolah tahu bahwa Yuuki menemui Kaname-sama yang sedang sakit, sendirian.
"Aku tidak apa-apa. Jangan terlalu khawatirkan aku," jawab Kaname lembut. Ia membuka kelopak matanya. Memandang kasih pada sosok perempuan itu dan tersenyum manis.
"Ne. Aku hanya khawatir jika terjadi sesuatu padamu. Maafkan aku karena aku tak bisa melakukan apa-apa untukmu," kata Yuuki kemudian.
"Aku mengerti," jawab Kaname.
Mereka terdiam. Yuuki memandang iba pada sosok Kaname. Ia memperhatikan bagaimana cara jalan Kaname tadi. Ya, ia bisa merasakan bagaimana Kaname seperti kehilangan kekuatannya. Walau ia tak tahu seberapa besar, tapi itu cukup untuk membuatnya merasa bersalah atas keadaan Kaname. Jika saja ia tahu apa yang menyebabkan orang yang dikaguminya itu menjadi seperti itu, mungkin ia akan rela mengorbankan dirinya sebagai penggantinya. Tanpa Yuuki sadari, air mata jatuh membasahi pipinya.
Kaname menyunggingkan senyumnya lagi mendapati gadis itu menangis. Kemudian, dengan tiba-tiba, ia menarik pergelangan tangan gadis itu lalu mencium bibirnya.
Yuuki tersentak dan Kaname hanya menutupkan matanya.
Sedang di luar sana, Zero yang merasa sesuatu terjadi di dalam, hanya bisa menarik napasnya panjang. Entahlah... seolah ia melihat apa yang terjadi di dalam sana. Membuat hatinya terasa sedikit tak nyaman. Ia tak tahu apa yang tengah ia rasakan, tapi ia tahu itu menyesakkannya.
Malam kembali datang. Di salah satu kamar Day Class Dormitory, seorang pemuda masih setia menatap ke arah jendela. Tangannya di silangkan di depan dadanya. Sesekali ia mengambil napas panjang dan dihembuskan perlahan. Pikirannya masih berada pada kejadian malam kemarin dan sore tadi.
Masih bisa ia rasakan rasa manis darah sang pureblood itu membasahi kerongkongannya yang kering. Dan kemudian, sebersit rasa sesal serta bersalah menyeruak masuk ke dadanya. Namun, ketika kemudian ia merasakan sesak yang dirasanya tadi sore, kedua rasa itu menghilang.
Menutupkan matanya, Zero teringat percakapannya dengan Kaname kemarin malam.
"Apa yang telah aku lakukan? Seharusnya aku membencimu. Seharusnya aku tak termakan oleh kata-katamu itu. Bukankah kau sendiri yang telah bersumpah tak akan menolongku? Kenapa kau lakukan itu? Aku bukan bonekamu, Kaname. Kau harus tahu itu," perkataan disela-sela kesibukan menghisap darah yang tengah Zero lakukan mengintrupsi kegiatannya. Ia memprotes tapi ia tak bisa berhenti.
"Aku tahu. Diamlah dan minum sepuasmu. Kau tahu jika tidak kulakukan maka kau akan celaka," jawab Kaname. Ia menekan kepala Zero, berharap pemuda itu bisa lebih leluasa menghisap darahnya.
"Kau tahu akan jadi seperti apa aku nantinya... Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" kata Zero dalam renungannya. Ia membuka kembali kelopak matanya. Kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela. Menatap langit yang kini tengah dihiasi dengan sebuah bulan purnama yang amat sangat indah.
Di tempat lain, Kaname yang juga tengah melakukan hal sama, membisikkan suatu kalimat, "Sudah hampir dimulai, Kiryuu..."
Nah, oke minna. Gomen, yang pertama emang nggak jelas. Itu cuma baru intro doang, hehe. Maap yah...
Kemudian, cerita ini sistemnya ketik-selesai-update. Jadi maaf kalo sambungannya lama. Ini dalam proses pengetikan, bukan konsep-ketik-selesai-update (pada mudeng bedanya?). Jadi yaa... terusannya pasti bakal lama, karena musti nulis dulu. So, kalo ada yang nggak berkenan, boleh protes tapi nggak boleh ngeflame, ok! Itu aja dari saya.
PS: Ehm... yang pertama kok kayaknya ancur banget yah? Nanggung lagi... perlu di re-make nggak yah?
LAST WORD, REVIEW please~~ ^^
