Halo semua!!!!!!!
Senangnya Naru bisa update fic ini.
Makasih juga buat yang udah review!!!
Balesan Review:
CHIAKI MEGUMI san:
Weh, di panggil Mike aku mau- mau aja. Eh, tapi kok kayak nama kucing?
Yang jadi vampire masih rahasia. Hehehe. Soalnya masih banyak tokoh yang mau aku munculin. Makasih sarannya yo! Nih, dah aku perbaikin. Masih ada yang salahkah? Kasih tau ya? XD
Eh, tapi chap ini nggak 2ribu kata… pardon.
HARLLOUD SCORD san:
Aku keren? Makasih!!!!! Emang banyak yang bilang –disabit-
Hoho maksih atas pujiannyo. Kalo ada yang tidak berkenan, bilang- bilang ya. Kan bisa jadi referensi. XD
Benar sekali! Disini Naru jadi cewek.
SasuNarunya menyusul. Nikmati perlahan. Hehehehe.
BEBOBOBO san:
AKH!!! Maksih pujiannya. Nih dah update… :D
NATE RIVER IS STILL ALIVE chan(?):
Sori ya aku ga bilang. Mumpung lagi diwarnet sih~ kan jarang- jarang. 8(
Namanya juga manusia kan bisa salah. –ngeles mode: on-
Makasih juga buat yang udah mau baca.
Dan sekedar note untuk fic yang kemarin :
Merci : Terima kasih
Ensemble : Sama-sama
Mademoiselle: Nona
Yosh! Kita mulai aja.
Enjoy!
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
Masashi Kashimoto © NARUTO
Mihael Keehl Is Still Alive © Éclipse et Sang
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
-
-
RENCONTRE*
-
-
"Kita telah sampai Mademoiselle." Kata kusir itu. Ia kemudian turun dan membukakan pintu untuk Naruto. Ia mengulurkan tangannya pada Naruto. "Silahkan Mademoiselle."
Naruto menyambut tangan itu. "Tangan yang dingin sekali". Pikir Naruto.
"Merci."
"Ensemble." Kata kusir itu. Ia berbalik dan kemudian tersenyum. Senyum yang menyeramkan. "makan malam kali ini pasti mewah." Dia bergumam, dan kemudian pergi.
-
-
Naruto berjalan menuju rumah besar dengan gaya Victoria dihadapannya. Taman yang luas menyambutnya. Taman itu penuh dengan bunga mawar, tulip dan matahari. Serta rumput hias yang di gunting meniru bentuk angsa dan harimau.
"Sepertinya Sai mulai punya selera baru." Gumam Naruto ketika ia melihat beberapa pot bunga yang di isi dengan bunga anggrek berwarna ungu.
Sesampainya ia dihadapan pintu berdaun dua, diketuknya pintu menggunakan pengetuk berbentuk kepala singa. Tak lama waktu berselang pintu dibuka oleh seorang wanita berambut pendek berwarna hitam.
"Silahkan masuk mademoiselle." Kata wanita itu. Ia mengenakan pakaian seorang maid dengan warna merah hitam.
"Merci, Anko." Kata Naruto pada maid itu, "dimana Sai?"
"Beliau ada diruang La salle d' artistique** bersama dengan monsieur*** Gaara."
"Kalau begitu aku ke atas dulu ya." Kata Naruto seraya melangkah menuju tangga.
"Biar saya antar."
Naruto menaiki tangga yang dibuat melingkar untuk bisa sampai ke La salle d' artistique. Ruang dimana Sai menuangkan segala imjinasinya. Dan disana pula ia mengerjakan lukisan setiap kejadian yang diliput Naruto agar bisa dipasang di surat kabar keesokan paginya.
Tok tok tok
"Siapa?" tanya seseorang dari dalam.
"Monsieur Sai, Mademoiselle Naruto datang berkunjung."
"Oh, akhirnya ia datang juga. Biarkan dia masuk."
Ceklek
"Hei, aku sudah menunggumu dari tadi." Ujar Sai, "menunggumu membuatku bosan." Katanya lagi dengan wajah kesal yang dibuat- buat.
"Pardon****. Tadi aku membantu ibu membuat Pai. Berterima kasihlah pai titipan dari ibu untuk mu tidak kumakan."
"Pai? Aku tidak mau kalau kau yang buat Naruto." Kata lelaki berambut merah yang berdiri di dekat jendela yang menghadap ke air mancur.
"Hoho. Pai yang kubuat kali ini tak akan membuatmu masuk rumah sakit lagi karena diare, Gaara."
"Apa kau yakin?" tanya Gaara seraya mendekati Naruto yang memegang keranjang berisi pai, "kau bawa banyak sekali."
"Yang ini untuk Sakura." Kata Naruto sambil meletakan keranjang dengan tali merah muda yang melilit pegangannya itu di atas meja.
"Anko, bawa pai ini dan simpan untuk acara minum teh nanti." Perintah Sai pada Anko yang masih menunggu di depan pintu, " kau kembali saja pada pekerjaanmu. Dan datanglah lagi jika waktu untuk minum teh telah tiba."
"Baik Monsieur." Kata Anko. Kemudian ia berlalu. Pandangan mata Sai, Naruto, dan Gaara mengiringi kepergiannya.
"Jadi, gambar apa yang akan kau perlihatkan padaku, Sai?" tanya Naruto.
"Ini" Sai menyondorkan segulung kertas yang sudah menguning dan berukuran besar pada Naruto. "bukalah."
Naruto membuka gulungan kertas itu perlahan. Gaara mendekat pada Naruto agar dapat melihat gambar itu dengan jelas.
Kertas itu terbuka lebar. Dan Naruto meletakannya diatas meja dikamar itu. Mata Naruto dan Gaara terbelalak lebar melihat gambar yang terlukis diatas kertas itu.
"Darimana kau dapatkan gambar ini?" tanya Garra.
"Perpustakaan gereja di tempat kejadian. Kertas ini kutemukan di daerah terlarang. Dan disana masih banyak gulungan yang sama."
"Aku tak percaya kalau dia benar- benar ada. Kukira ini hanya mitos untuk menakut- nakuti kita." Kata Gaara. Ia berjalan kembali kearah jendela, dan melanjutkan kegiatannya memandangi air mancur, " Dan setahu ku vampire itu sama dengan Dracula. Namun Dracula bukanlah setan penghisap darah. Karena sebenarnya sebuatan Dracula lebih tepat jika di berikan kepada Vlad Teppes."
"Vlad Teppes?" tanya Sai dan Naruto bersamaan.
"Dulunya ia adalah seorang raja yang memerintah di wlayah Walachia***** eropa timur. Kalau dibilang "Teppes" pasti akan langsung diterjemahkan ke 'hukuman tusuk sate'. Vlad memiliki sifat begis dan tidak menyukai kecurangan karena langsung menjatuhkan hukuman mati tusuk sate tanpa peduli pada musuh yang melakukan penyerbuan ke negerinya atau rakyatnya yang berbohong atau mencuri, makanya ia dipanggil begitu." Jelas Gaara panjang lebar.
"Namun kali ini berbeda. Korban tidak mati dengan cara yang sama seperti hukuman tusuk sate itu. Tapi ia mati kehabisan darah akibat luka tusuk dileher. Dan lagi, kurasa luka tusukan itu bukan berasal dari pisau, belati, atau senjata tajam lain." Kata Naruto sambil berusaha mengingat- ingat keadaan korban berita yang ia liput kemarin.
"Akupun merasa begitu. Dan kurasa pendapatku sama dengan pendapat monsieur Shikamaru."
"Aku merasa jika Monsieur Shikamaru sudah mengambil kesimpulan sepertu itu berarti ia memiliki alasan logis atas pendapatnya itu." Kata Naruto.
"Dan ada satu hal yang lebih menarik." Kata Gaara. Ia memalingkan wajahnya dan memandangi wajah Sai dan Naruto bergantian, "di temukannya slavia di sekitar luka. Di perkirakan pelaku menghabiskan darah korban dengan cara menghisapnya. Lalu, setelah mendengar itu apakah aku masih harus mempertahankan pendapatku kalau Vampire itu tidak ada?" tanya Gaara pada Sai dan Naruto. dan mereka saling bertukar pandang. Berusaha membaca pikiran masing- masing. Cukup lama mereka saling pandang. Sampai akhirnya terdengar suara ketukan dari luar.
Tok tok tok
"Monsieur Sai, sudah waktunya untuk minum teh." Ternyata Anko kembali untuk mengingatkan mereka waktu untuk minum teh."
"Merci Anko. Kami akan segera kesana." Kata Sai. "Naruto, apa kau akan ikut minum teh bersama kami?"
"Ah, kurasa itu tidak mungkin. Ini sudah waktunya untukku menjenguk Sakura."
"Oh, sampaikan salamku untuknya." Pesan Garra.
"Dariku juga." Kata Sai. " kalau begitu bagaimana jika kusuruh Sabuza untuk mengantarmu hingga ke rumah sakit?" tawar Sai.
"Tidak perlu. Aku bisa kesana menggunakan kereta."
"Baiklah kalau begitu. Hati- hati dijalan."
"Hm. Oh iya apa kita bisa membahas hal ini besok?" tanya Gaara. " hari ini aku akan berdiskusi tentang kasus ini dengannya. Mungkin jika ada informasi lain aku bisa memberi tahukannya pada kalian."
"Ide yang bagus. Besok aku masih libur. Jadi aku ada waktu. Dimana kita bisa bertemu?" tanya Naruto.
"Bagaimana kalau di rumahmu? Lebih strategis."
"Baiklah. Au revoir******." Kata Naruto.
"Au revoir." Kata Sai dan Gaara bersamaan.
-
-
-
Naruto berjalan menuju gerbang besar. Disana dilihatnya sebuah kereta kuda menunggunya.
"Sudah kubilang pada Sai untuk tidak memerintahkan kusirnya untuk mengantarku ke rumah sakit. Dasar keras kepala." Gumam Naruto dalam hati.
"Silahkan Mademoiselle." Kata kusir itu seraya membukakan pintu untuk Naruto.
"Merci." Kata Naruto sambil memandang wajah si kusir. "ku rasa, kau kusir yang tadi." Kata Naruto penasaran.
"Hanya perasaan anda Mademoiselle." Kata kusir itu. Setelah Naruto naik ia menutup pintunya.
"Antarkan aku ke rumah sakit Santa Maria." Pinta Naruto. Tak lama terdengar suara cambukan dan suara kikikkan kuda. Dan kereta itu bergerak.
-
-
-
Kusir POV
-
"Makan malam siap dihidangkan." Gumamya seraya menjilati bibirnya dan menjadikannya basah.
-
-
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
TBC
To Be Continued
Tubercollose
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
Note:
Rencontre : Pertemuan
Salle artistique: Ruang seni
Monsieur : Tuan
Pardon: Maaf
Walachia: sebuah daerah Rumania
Au Revoir: Sampai Jumpa
-
-
Wahahahaha… LAGI-LAGI pendek. Jangan timpukin saya! Mana Gaje lagi! Wadoh!!!!!!
Kebiasaan nih, ceritanya jadi kayak gini. Gak bisa aja kalo nggak ada yang mati.
Ya sudahlah,
Gimana? Jadi semakin menarik?
Apa semakin tidak jelas?
Saya juga nggak tau.
Hahahahahahaha
Eh, ato pada penasaran baca lanjutannya? –narsis-
Hohoho, kalo pada review, bakal saya lanjut. Kalo ga ada ya nggak lanjut. –becanda-
Nah, dengan membacanya pun Senpai dan teman- teman pasti tau apa profesi masing- masing tokoh. Iya kan?
Maaf ya masih jelek…
Jangan lemparin Naru dengan petasan –mentang- mentang lagi musim-
Review lagi ya?
Sekalian kasih tau Naru kalau ada kesalahan biar Naru bisa introspeksi. Terus kasih tau juga menurut kalian cerita ini akan lebih menarik untuk diikuti kalau jalan ceritanya kayak gimana. Buat referensi.
Aider commentaire!!!!!
(.)
))))
((((
[__] mau tanya, ada yang mau minum susu hangat? Hehehehe XD
