"Sudah saatnya," gumam seseorang di balik tirai yang menutupi sebagian kelas yang dipakai untuk pemungutan suara.

Death Day

Naruto © Masashi Kishimoto

.

Warning :

AU, OOC, Typo, M for Bloody, Ugly Language, etc.

Don't like? Don't read and don't FLAME

.

.

.

Keterangan :

Italic = flashback, kata-kata asing, dan kata-kata yang bermakna tertentu

.

.

.

© Ai Kireina Maharanii

.

.

.

Horror x Mystery x Crime x Any More

.

For FFC

.

.

Chapter 2 : The Time Is Now

.

.

Twoshot

.

.

"Baiklah semuanya," kata Sasori dari dekat pos pemungutan suara melalui speaker—seperti biasanya. "Setelah seharian ini kita melakukan pemungutan suara untuk memilih Ketua OSIS periode berikutnya, dan setelah kami melakukan penghitungan suara, maka—" Sasori menghela napas sejenak, "—yang akan menjabat sebagai Ketua OSIS selanjutnya, adalah…," Sasori kembali menggantungkan kalimatnya, "… adalah… Haruno Sakura."

Tiba-tiba saja, suasana yang tadinya tegang kini berubah menjadi riuh. Sorak sorai serta tepuk tangan saling menyahut satu sama lain. Memberikan irama sebuah kebahagiaan bagi seorang, Haruno Sakura.

"Selamat ya Sakura," kata Ten-Ten sambil menjabat tangan Sakura.

"Arigatou," balas Sakura terharu.

"Silahkan bagi Ketua OSIS yang terpilih untuk maju ke depan," kata Sasori mempersilahkan.

Sakura menghela napas sejenak, "ya."

Sakura pun mulai berpidato untuk mengucapkan rasa syukur karena ia telah terpilih. Tak berlama-lama acara ini dilaksanakan, akhirnya, tepat pada pukul tiga siang, semua murid dipersilahkan pulang.

"Ra, Ino mana?" tanya Ten-Ten pada Sakura yang baru saja keluar dari ruang guru.

"Nggak tahu. Emang tadi dia nggak bareng sama kamu?" bukannya menjawab, Sakura malah balik bertanya.

"Kalau pas di aula sih bareng, tapi tadi dia bilang mau ke toilet."

"Ya mungkin dia masih di toilet, Ten," kata Sakura asal.

"Nggak, dia nggak ada disana."

Kini, Sakura mulai merasa sedikit panik. "Ino…," teriak Sakura cepat. "Ten, aku khawatir. Coba kamu telpon ponselnya!"

"Tadi nggak aktif, Ra."

"Coba lagi!" kata Sakura sambil mencari-cari Ino di kelas terdekat.

"Dia ada di ruang OSIS!" kata Ten-Ten akhirnya.

"Ngapain dia? Bukannya Ino gak kepilih ya?" kata Sakura heran lalu menghentikan aksi pencariannya. 'Sasuke!'

"Katanya dia diajakin sama Sasori-senpai."

'Sasori?' batin Sakura bingung. "Oh, shit!"

"Kenapa, Ra?" Tanya Ten-Ten bingung melihat perubahan sikap Sakura yang drastis.

"Ayo cepat!" ucap Sakura kemudian langsung berlari pergi.

"Kemana?"

"Ruang OSIS."

.

.

.

Brakk

Suara pintu ruang OSIS yang dibuka paksa oleh Sakura dan Ten-Ten.

"Ino!" kata Sakura kencang sembari mengatur napasnya yang terengah-engah. Kemudian, ia segera melihat sekeliling. Dan sang target ternyata sedang berduaan bersama Sasori. "Ino, sedang apa kamu? Kita nyariin."

"Maaf. Tadi aku ada urusan dengan Shikamaru-senpai dan Sasori-senpai," kata Ino dengan wajah tertunduk.

"Kenapa Sakura?" tanya Sasori lembut seperti biasanya.

"Senpai sedang apa di sini? Bukankah semua orang sudah pulang yah? Bahkan guru-guru pun sudah pulang. Bukankah harusnya sekarang aku, yang bertugas mengecek sekolah saat sudah bubar? Bukan begitu?" kata Sakura dengan menatap tajam wajah baby face Sasori.

"Hahaha…," yang ditanya malah tertawa kencang.

"Ini tidak lucu Senpai! Atau…," Sakura berusaha keras untuk berpikir. Dan… "Shit! Ino cepat kemari!"

Namun terlambat, kini Ino sudah berada dalam genggaman Sasori.

"Akh!"

"Sayang sekali Sakura, kamu ini terlalu lambat. Dan apa boleh buat, kalian pun harus ikut bersamanya nanti. Oh ya, aku lupa," Sasori mengeluarkan sebuah katana dari belakang punggungnya. "… tidak perlu aku kasih tahu pun, kalian pasti akan selalu bersama bukan?"

"Apa maksudmu?" ucap Ten-Ten mulai emosi.

"We are best Friend Forever. Bukankah itu janji kalian? Kami adalah sahabat sejati selamanya.," kata Sasori diikuti tawanya yang meledak. "… mati pun kalian pasti bersama!"

"Katana itu—" Sakura angkat bicara, "—kau adalah orang yang semalam ingin membunuh kami'kan, Sasori?"

"Apa?" kata Ten-Ten kaget sekaligus tak percaya.

"Pintar juga kau ternyata Haruno Sakura. Tadinya aku ingin menghabisi kalian terlebih dahulu. Tapi… ternyata gagal. Dan sekarang adalah hari kematian kalian semua!" kata Sasori masih dengan sikap datar, tapi cengkraman tangannya di leher Ino semakin kencang.

"Akh!" pekik Ino kesakitan dengan suara tertahan.

"Ino…! Lepaskan dia Sasori!" bentak Sakura dan mulai mendekati Sasori.

"Sekarang kau sudah berani ya, Sakura kecil, memanggilku tanpa sebutan 'Senpai'?" kata Sasori sambil memain-mainkan katananya.

"Cuih, tak sudi aku memanggil orang psikopat sepertimu dengan sebutan 'Senpai'!" tantang Sakura.

"Lalu, kenapa kau ingin membunuh kami semua?" kata Ten-Ten akhirnya.

Sasori kemudian melemparkan Ino asal ke sudut ruangan hingga kepalanya membentur kursi dengan keras. Karenanya, Ino menjadi tak sadarkan diri.

"INO!" jerit Ten-Ten dan Sakura bersamaan.

"Hahahaha…," Sasori tertawa kencang sekali, "sudah kuduga. Ternyata, kalian semua memang lemah," ejek Sasori yang langsung membuat amarah Sakura semakin menjadi.

"Tenang, Ra," cegah Ten-Ten sebelum Sakura melakukan tindakan. "Jawab pertanyaanku!"

"Oke, Oke. Kenapa, hah? Aku ingin membalaskan dendam Tema-nee! Sebenarnya, incaranku hanyalah Ino saja. Tapi entah kenapa kalian yang selalu bersamanya harus kubunuh juga. Karena jika tidak, rahasia ini akan terbongkar." Sasori memain-mainkan katananya lagi.

"Oh, aku tahu sekarang. Kenapa Ino bilang padaku kalau dia incaran selanjutnya. Ternyata dia sudah mengetahuinya lebih dulu," kata Sakura geram.

"Pintar sekali kau Sakura. Aku ingin membunuhnya, karena dia adalah adik dari si bodoh Deidara yang telah ingin memperkosa Tema-nee bersama Hidan," jelas Sasori datar.

"Lalu, kenapa mereka semua mati?" dengan sisa-sisa keberaniannya, Ten-Ten mencoba mendekati Sakura yang sudah jauh berada di depannya. "Tapi, tunggu. Bagaimana dengan Itachi-nii? Bukankah dia juga ikut terbunuh, hah?"

"Tema-nee lah yang membunuh mereka sebelum mereka pun membunuh Tema-nee. Tapi, setelah membunuh mereka, Tema-nee pun tewas. Sedangkan Itachi, dia hanya korban dari keegoisan Deidara dan Hidan!"

"Tahu darimana kau?" bentak Sakura dan semakin mendekati Ino yang berada di samping sasori.

"Tak penting aku tahu dari mana. Yang jelas, kalian harus mati!"

Dengan gerakan secepat kilat, Sasori segera menggoyangkan katananya kearah Sakura. Namun sayang, itu hanya mengenai sedikit lengannya saja, karena Sakura telah lebih dulu berlari menghampiri Ino yang pingsan.

"Awas Ten!" teriak Sakura memperingati. Namun di sayangkan lagi, ternyata Ten-Ten lengah dan katana itu pun dengan mulusnya menggores lengan kanan Ten-Ten sangat dalam, sehingga likuid kental berwarna merah anyir, menyembur keluar dengan derasnya.

"Aarrggh," erang Ten-Ten kesakitan.

"La-lari… Ra," ujar Ten-Ten terbata-bata sambil memegang tangannya yang terasa amat sangat sakit. "Se-sela… mat… kan… Ino."

"Nggak Ten. Aku nggak bakal ninggalin kamu." Sakura pun segera berdiri kemudian mengahampiri Ten-Ten sambil membawa Ino yang sudah setengah sadar.

Cklek

Lampu ruangan OSIS pun seketika itu juga mati. Memberikan aura gelap pada siapa pun yang berada di dalamnya. Suara-suara asing pun mulai tertangkap oleh gendang telinga Sakura, dan berhasil membuatnya bergidig ngeri. Semilir angin malam pun mulai terasa hadir di sekeliling mereka.

"Berani juga rupanya kau, Sakura," kata Sasori sambil menyeringai.

"Diam kau brengsek! Jangan pernah menyentuh kedua temanku!" geram Sakura.

Merasa ada yang mengganggu telinganya, Ino pun segera bangun dari pangkuan Sakura. Seketika itu juga, matanya membulat lebar menyaksikan adegan asing di hadapannya. "Sakura… a-apa yang ter… jadi?"

"Ino, syukurlah kau baik-baik saja," kata Sakura lega sambil memeluk Ino.

"Ra, tanganmu kenapa? Ten-Ten juga…," Ino tak bisa menghilangkan rasa cemasnya. Tapi kemudian, ia menarik napas dalam-dalam, "Senpai…," Ino menatap tajam Sasori, "Akulah yang seharusnya mati. Bukan mereka—"

Sasori menyeringai lebar. "Dengarkan itu Sakura. Dia sendirilah yang menginginkan mati."

"Tidak Ino! Sakura, Ino ayo cepat kalian berdua lari. Biarkan Sasori aku yang tangani," ucap Ten-Ten kemudian berusaha untuk berdiri.

"Tapi Ten…"

"Cepat!" bentak Ten-Ten. Sakura dan Ino pun segera berlari keluar dari ruang OSIS. Dengan kondisi tubuh yang terluka—membuat Sakura berlari sedikit pelan. "Dan aku, adalah lawanmu, Sasori!"

"Berani kau?"

"Siapa takut!"

Jleb

Dengan cepat, Sasori mengayunkan katananya pada perut Ten-Ten, lalu mengoyak-ngoyak semua organ dalam Ten-Ten seperti anak kecil yang sedang asyik bermain.

"Uhuk!" tanpa disangka, Ten-Ten akhirnya terjatuh dan memuntahkan darah.

"Lemah."

Jleb

Jleb

Jleb

Tiga tusukan katana Sasori tepat pada organ dalam Ten-Ten, yakni paru-paru dan hatinya.

Ten-Ten pun sudah merasa tak sanggup lagi untuk berdiri. Ia hanya mampu terbaring lemas di atas lantai yang penuh dengan likuid kental merah anyir itu.

"K-kau… uhuk…," kata Ten-Ten terbatuk-batuk.

"Apa?"

Crash

"Aaarggh!"

Tanpa ampun, Sasori lalu menggores-goreskan ujung katanya pada kulit mulus Ten-Ten. Dan alhasil, kini tubuh Ten-Ten tak lagi semulus dulu. Karena kulitnya sudah penuh dengan sayatan dan likuid merah anyir itu bagaikan sebuah tinta warna yang memberikan keindahan dalam setiap ukirannya.

"Ja… jangan… bu-bunuh… I… no," ujar Ten-Ten dengan napas yang tersenggal-senggal dan penglihatan yang sudah sangat buram.

"Maafkan aku gadis kecil. Tujuan utamaku adalah membunuhnya. Bukan membunuhmu."

Crash

"Aaaarrrrggggghhhh…." Kali ini giliran wajah ayu Ten-Ten yang menjadi sasaran. Dan lukid kental berwarna merah anyir itu pun kembali mengucur dengan derasnya.

"Good bye."

Jleb

Sebuah tusukan terakhir tepat pada jantungnya—sekaligus mengakhiri hidupnya—

'Hati-hati Sakura… hahh… hahh… aku tak bisa berbuat lebih dari ini' batin Ten-Ten untuk yang terakhir kalinya.

"Aaarrrgghhhh…" erangan terakhir Ten-Ten sebelum ia benar-benar menghembuskan napas terakhirnya.

.

.

.

"Ra, sebaiknya lukamu di obati dulu!" kata Ino yang masih berlari bersama Sakura.

"Nggak ada waktu Ino!"

Brukk

Tubuh Sakura tiba-tiba saja terhuyung jatuh ke lantai.

"Sakura!" Ino yang masih setengah berlari akhirnya menghentikan langkahnya. "Aku obati dulu ya?" Ino pun segera mengeluarkan kotak P3K dari dalam tasnya.

"Ya sudah. Cepat Ino!"

Tap … tap…

"Ssstt, ada yang mendekat," ucap Sakura sangat pelan dan nyaris berbisik.

"Siapa?" jawab Ino tak kalah pelannya. "Mungkinkah Sasori-senpai?"

Tiba-tiba saja wajah Sakura menjadi pucat. "Kalau itu Sasori, bagaimana dengan Ten-Ten? Dia tak mungkin di kalahkan begitu saja. Dia kuat!"

"Tapi Ra, itu mungkin saja. Sasori-senpai kan laki-laki!" bantah Ino. "Ya, ini sudah selesai."

"Bagus, ayo cepat lari lagi," kata Sakura kemudian segera berdiri. 'Terima kasih Ten-Ten.'

"Sakura…," Ino berdiri mematung di samping Sakura.

"Apa?" Sakura segera menolehkan kepalanya kebelakang begitu mendengar ucapan Ino.

Deg

"S-Senpai sedang apa disini? Kenapa belum pulang?" kata Sakura lagi setelah mengetahui siapa yang tadi berada di belakangnya.

Ino pun kemudian membalikkan badannya. "Sasuke-senpai?"

"Hn. Kalian sendiri kenapa belum pulang?" kata Sasuke datar dan dingin.

"Kami…," Sakura menjawab pelan. Tapi, sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya, ternyata yang paling dihindari berada tepat di belakang Sasuke. "Senpai awas…."

"Hn."

Crash

"Shit!"

"Apa maumu? Mana Ten-Ten?" bentak Sakura dengan tatapan membunuh.

"Santai saja. Seperti sudah kujanjikan sebelumnya—dia sudah pulang duluan. Dan sekarang, saatnya kalian berdua menyusul." Sasori mulai mendekati Ino tapi dicegah oleh Sakura. "Oh, ada Sasuke rupanya. Sedang apa kau di sini, Uchiha?"

"Sasori, apa yang kau lakukan dengan katana itu?" Sasuke menatap tajam ke arah Sasori. 'Sudah kuduga.'

"Tenang saja Sasuke, aku takkan membunuhmu. Karena aku tahu, kamu pun pasti membenci gadis ini!" Sasori kemudian memeluk Ino dari belakang—dengan katana tepat di lehernya.

"Lepaskan dia bodoh!" Sakura meggeram kesal. Kali ini, tak ada yang dapat menghalanginya, ia pun segera mendekati Ino yang sedang dalam posisi dipeluk Sasori.

Duak

"Ugh," Sakura terjatuh setelah ditendang Sasori.

Sasuke yang sedari tadi diam, kini sudah habis kesabarannya. "Hentikan Sasori!" bentak Sasuke penuh amarah. Sasuke tidak terima jika gadis kesayangannya ini terluka, apalagi sampai meninggal. "Dendam apa? Aku sama sekali tidak mempunyai dendam pada siapapun."

"Jangan berbohong Uchiha kecil," kata Sasori sambil menyeringai. "Apa kau sudah lupa, Uchiha? Apa kau sudah melupakan Itachi-nii? Anikimu satu-satunya yang telah tiada dari dunia ini karena ulah Deidara?"

"Tidak Sasori. Aku sudah tak ingin membahas ini lagi," geram Sasuke sambil meraih tangan kanan Sakura.

Sakura berusaha berontak. Tapi apa daya, genggaman tangan Sasuke amatlah kuat. "Sasori, lepaskan Ino. Kumohon…."

Sasori malah tertawa keras,"hahaha… apa kau bilang? Lepaskan? Apakah akan semudah itu, hmmm? Sudah bertahun-tahun aku mencari siapa adiknya, dan kini setelah aku mengetahuinya, apakah harus kulepaskan begitu saja?"

"Akh!" pekik Ino kesakitan. Sasori pun dengan cepat membawa Ino pergi dari hadapan Sakura dan Sasuke.

"Apa-apaan dia?" kata Sasuke kesal. "Ayo cepat kejar!"

"Ya."

Maka terjadilah aksi kejar-kejaran antara Sasuke, Sakura dengan Sasori yang membawa Ino—di sepanjang koridor sekolah. Sementara itu, hari pun sudah semakin larut dan gelap. Sang surya telah kembali ke peraduannya dengan damai. Dan kini, giliran sang bulanlah yang akan menemani mereka semua—sekaligus menjadi saksi semua yang akan terjadi, malam ini.

"Hei Sasori, hentikan!" Sakura berusaha mengejar Sasori. Tapi langkah kaki Sasori sangatlah cepat, dan membawa mereka semua menuju atap sekolah yang sangat tinggi.

"Kenapa kesini?" kata Sasuke sambil sedikit terengah-engah.

"Hahaha… bodoh sekali ternyata kalian hah?" kata Sasori sambil terus tertawa.

Habis sudah kesabaran Sakura. "Grrrtthh… masalah itu sudah sangat lalu Sasori. Kenapa kau masih ingin membahasnya? Lagipula, apa ada yang salah dengan Ino? Dia tidak tahu apa-apa bodoh!" ia mencoba mendekati Sasori namun dicegah Sasuke.

"Biarkan dulu saja Sakura," kata Sasuke datar.

"Tapi Senpai…," bantah Sakura tapi hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Sasuke. "Baiklah," kata Sakura pasrah.

"Aku sangat tidak terima Tema-nee diperlakukan seperti itu. Apa salahnya, eh? DIA ADALAH ADIK SI BODOH DEIDARA!" teriak Sasori menggelegar. Terlihat dengan jelas, amtanya berkilat tajam, dingin dan… penuh amarah.

"Itu tidak ada hubungannya," kata Sakura berang. Baru kali ini dia bertemu dengan orang sebodoh Sasori, mungkin?

"Bodoh," umpat Sasori dingin.

"Sekarang, apa tujuanmu sebenarnya Sasori?" kata Sasuke kesal.

"Menurutmu?" Sasori menyeringai lebar.

Secepat kilat, Sasori langsung mengayunkannya katananya kearah Sakura yang berada sekitar dua langkah di depannya, dan seketika itu pula langsung mengenai tubuh bagian depan Sakura—dada dan sekitar perutnya—

"Aarrrggh," rintih Sakura kemudian jatuh tersungkur. Likuid merah pun mengalir dari bekas sayatan yang cukup besar itu. "Dasar psikopat!" rutuk Sakura.

"Hhhh…" Sasuke mendekati Sasori kemudian langsung memukul wajahnya dengan sangat keras hingga Sasori terpental jauh ke belakang. Sementara Ino, ia terbawa Sasori ke belakang karena cengkraman tangannya sangat kencang.

"I-Ino…" Sakura mencoba berdiri untuk membantu Ino dengan keadaan tubuh yang sudah banyak mengeluarkan darah, dan seragamnya yang sudah setengah terkoyak itu.

"Sasori urusanku Sakura. Sekarang, kau mundur saja," perintah Sasuke yang langsung dibantah mentah-mentah oleh Sakura.

"Tidak Senpai. Kau tidak terlibat dalam masalah ini. Aku… tak ingin sampai kau terluka," kata Sakura lirih. Tak terasa, likuid bening kristal mengalir dari pelupuknya. Membuat anak sungai kecil-kecil di pipi manisnya..

Sasuke menghela napas, "aku lebih tak tega lagi jika kau yang terluka," katanya kemudian berjalan mendekati Sasori.

"Cih," Sasori pun berdiri, tanpa melepaskan genggamannya sedikitpun dari tubuh Ino. "Kau bodoh Uchiha," ejek Sasori lalu melemparkan Ino hingga membentur pagar besi di pojok atap dekat tangga.

"Arrrggghhh…" Ino memekik tertahan merasakan kepalanya sangat pusing lalu mengeluarkan likuid merah anyir yang sangat kental—kepalanya terluka dalam.

"INO…" jerit Sakura histeris lalu kembali jatuh tersungkur.

"Hahaha…" Sasori dengan sangat cepat berlari kearah Ino kemudian merengkuhnya. Tak peduli dengan cairan kental merah anyir itu menempel di seragam putihnya. "Kalian semua harus mati!"

"Tak akan semudah itu!"

"Hiks… hiks… I… no…" isak Sakura. "Maafkan a-aku Ino… karna aku, k-kau jadi begini…" ucap Sakura dengan tangisan yang semakin menjadi.

"Kau memang lemah Sakura…" ledek Sasori dengan tawa yang semakin kencang, tapi tidak digubris sedikitpun oleh Sakura. Ia masih tetap bergeming di tempatnya.

"Sakura…" kata Sasuke pelan kemudian mendekati Sakura dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tapi masih tetap saja tidak ada jawaban.

"Bodoh!" tawa Sasori pun mereda. Kini, sorot matanya menyiratkan keseriusan yang sarat, dan bukan main-main lagi. "Jika kalian tidak ikut campur, sudah dipastikan kalian pun akan selamat. Tapi sekarang, semuanya sudah terlambat. It's too late." Sasori mengambil kembali katananya yang tadi sempat terjatuh lalu mengarahkannya pada tubuh Ino yang sudah lebam.

"Jangan bunuh dia! Atau kau pun akan kubunuh!" ucap Sasuke penuh amarah. "Jika kau membunuh dia, itu sama saja kau membunuh sahabatmu sendiri, Sasori!"

"Maksudmu, si rambut nanas itu, hah?" kata Sasori berpura-pura bodoh. Ia pun menyenderkan tubuh Ino di tembok belakangnya lalu menyeringai lebar.

"Apa yang akan kau lakukan?"

Sasori menatap tajam tubuh Ino yang sudah tak berdaya itu. Tubuhnya kini sudah kehilangan banyak darah akibat kepalanya yang tadi berbenturan hebat dengan besi itu—yang menyebabkan darahnya tak bisa berhenti mengucur. "Inikah maksudmu?" ia kemudian menggoreskan katananya pada tubuh Ino. Mulai dari atas sampai bawah-kaki.

"Sasori!" Sasuke segera berdiri. "Sakura?" ia menatap serius pada Sakura.

"Ino…" kata Sakura pelan. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. "Senpai, tolong Ino!"

"Hn." Sasuke pun segera berlari ke arah Sasori.

"Mau apa kau Uchiha? Kau tidak ada hak untuk menghentikanku," kata Sasori sambil mengarahkan katananya pada Sasuke. "Atau… kau pun ingin bersenang-senang denganku?" katanya lagi sambil menusukkan katananya pada bagian dada dan perut Ino.

"Akh!" pekik Ino dengan likuid kental merah menyembur dari perut dan mulutnya. "Sa… suke… Se-Senpai… cepat… hahhh… pergi da-dari sini… uhuk uhuk…" katanya sambil kembali memuntahkan likuid merah anyir itu. "Ba-bawa… hahhh… Sa… kura pe-pergi…"

"INO…" jerit Sakura histeris dengan airmata yang semakin deras mengalir.

Sasori pun kemudian berjalan medekati Sasuke yang tidak jauh berada di hadapannya. "Hm?" ia pun menendang perut Sasuke keras-keras hingga Sasuke terpental jauh dan hampir saja terjatuh dari atap gedung.

"Aaarrrgghhh…" Sasuke pun mengalami hal yang serupa dengan Ino—ia memuntahkan likuid merah anyir dari dalam mulutnya.

"Aku bosan dan lelah," gerutu Sasori sambil memain-mainkan katananya. "Baiklah," sorot matanya berubah menjadi serius. "Akan kuakhiri sekarang juga," ucapnya kemudian berlari kearah Ino yang sudah setengah tidak sadar.

"Sasori, kumohon… hentikan!" Sakura mencoba berdiri dengan tubuh yang cukup banyak mengeluarkan darah.

"Apa?" Sasori segera mengayunkan katananya pada Ino, dan…

"INOOO…" jerit Sakura histeris kemudian limbung tapi berhasil ditahan oleh Sasuke.

"Hahahaha…" tawa Sasori tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Sakura, kau tunggu disini saja," kata Sasuke kemudian membantu Sakura kembali duduk. Ia kemudian berlari kearah Sasori dan langsung memukulnya.

Duak!

Tubuh Sasori seketika jatuh dan katananya pun terlempar jauh sekali. Tanpa buang-buang waktu lagi, Sasuke segera mengangkat kerah baju Sasori dan kembali memukulnya, tepat pada wajahnya. Pukulan pertama, "Ini untuk Sakura dan Ino."

"Akh," Sasori meringis. Kini ia sudah tak berdaya tanpa katananya.

Pukulan kedua, "Ini untuk kau yang telah menodai persahabatan kita bertiga. Aku, kau, dan Shikamaru."

Sasori berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Sasuke. Lalu pukulan ketiga, "Ini untuk kau yang telah dengan bodoh melakukan ini semua."

Akhirnya, Sasori pun terlepas dari cengkraman Sasuke. "Mau kemana kau?" Sasuke terus mendesak keberadaan Sasori hingga berada di ujung atap.

Dan, pukulan terakhir. Sasuke menarik napas sejenak, "ini untuk KAU YANG TELAH MEMBICARAKAN ITACHI-NII DENGAN TIDAK SOPAN!" jerit Sasuke sambil melayangkan pukulan pada perut Sasori.

Duak!

Brukkk

Sasori terlempar jatuh ke bawah dari atap sekolah dengan ketinggian lebih dari sepuluh meter itu. Sasuke pun menatap tajam Sasori yang berada di bawah dengan tubuh bersimbah likuid merah kental anyir yang masih sangat sangat segar.

"Semuanya telah berakhir, Sakura."

"Arigatou, Senpai."

"Hn."

.

.

~Death Day~

.

.

"Kau baik-baik saja Sakura?" kata Sasuke kemudian medekati Sakura.

"Ya. Aku hanya butuh istirahat saja," dusta Sakura.

"Bagaimana kalau kuantar pulang?" tawar Sasuke datar tapi sedikit melembut. "Sudah ada Kakashi-sensei yang akan menindaklanjuti kasus ini."

"Baiklah," kata Sakura lemas dengan pandangan yang masih kosong.

"Kalian akan pulang sekarang?" tanya Kurenai pada Sasuke dan Sakura.

"Hn," jawab Sasuke dingin.

"Ya sudah, hati-hati. Dan Sasuke, tolong jaga Sakura baik-baik. Sensei tidak yakin jika Sakura akan pulih dengan cepat," kata Kurenai kemudian pergi dari hadapan mereka berdua.

"Ten-Ten, Ino… aku akan sangat merindukan kalian berdua," gumam Sakura sambil terus memeluk lutut kakinya dan… terus menangis!

"Ayo," ajak Sasuke sambil membantu Sakura berdiri. Mereka berdua pun pulang bersama-sama setelah melewati satu malam yang sangat menyedihkan. Dan pagi ini, mereka tak harus takut lagi. Karena semuanya sudah berakhir.

.

.

"Sakura… k-kau ba-baik-ba-baik saja'kan?" kata Hinata yang kebetulan bertemu Sakura di dekat gerbang.

"Ya. Senpai tidak masuk kelas?"

Hinata tertawa kecil, "gara-gara kasus se-malam, ha-hari ini sekolah li-libur Saku…"

"Eh, iya. Baiklah Senpai, aku pulang dulu," pamit Sakura sopan kemudian pergi bersama Sasuke menuju gerbang sekolah untuk pulang dan beristirahat dengan tenang. Dengan luka yang sangat serius itu, sepertinya mereka berdua perlu perawatan yang sangat intensif. Tapi… itu nanti. Karena mereka berdua menolaknya.

.

.

.

Top News!

Pembunuhan kejam terjadi pada remaja SMA.

The Daily—Tiga orang murid SMA, tepatnya SMAN 1 Tokyo yang sudah bertaraf Internasional itu dikagetkan dengan penemuan tiga murid yang tewas terbunuh, Selasa (12/04/11) malam. Selain penemuan tiga korban tersebut, di sana juga ditemukan dua orang saksi mata dengan inisial US dan HS. Pada saat dimintai keterangan oleh media, mereka berdua tidak buka mulut sedikitpun, hanya saja menurut pengurus sekolah tersebut, pembunuhnya adalah mantan ketua OSIS yang baru saja turun dari jabatannya, dan dikabarkan, ia pun ikut tewas dengan terjatuh dari atap sekolah yang ketinggiannya lebih dari 10m.

Dan yang paling membuat kaget, adalah penemuan mayat seorang gadis yang kepalanya sudah terlepas dari tubuhnya. Hingga saat ini, pihak kepolisian dan pihak sekolah masih terus berupaya mencari motif dari pembunuhan keji yang terjadi pada murid-murid berprestasi mereka—pada dua orang saksi mata tersebut. Menurut kepala sekolah SMAN 1 Tokyo—Sarutobi Asuma, "Kami akan menanyakannya pada mereka berdua, tapi setelah kondisi mereka benar-benar pulih total," katanya pada saat media menemui beliau di tempat kejadian. Bahkan, orang terdekatnya pun sama sekali tidak tahu menahu atas kejadian ini. Karena menurut mereka, sang mantan Ketua OSIS adalah orang yang sangat baik dan pintar. Lantas, apakah motif sebenarnya?

Hanya mereka berdualah—saksi mata kejadian—yang tahu.

.

.

.

~~ The End ~~

.

.

.

Author's Note :

Jiiiaahhhhhhhhhh….. *nepuk jidat*

Reader, tolongin otak Ai yang nggak beres ini dong! –ditimpuk orang se-RT-

Kok- malah bikin bloody-nya yang kayak gini sih…? Aneh kan? Asal-usulnya aja nggak jelas gitu. Apaagi ceritanya. CkckckcK…. TT_TT

Terus, chara-nya juga pada mati ya? Hiks…

Ending-nya ngegantung pula. Ditambah, seperti biasa, deskripsi-nya ngaak ngena, suasananya, plot, dan yang penting tuh EyD-nya… =w= *pundung*

Ada saran supaya ntar fic-fic Ai selanjutnya makin bagus di bidang gore…? –ngarep-~~~XD

Hahhhh, yasud, concritnya ya Ai minta lagi…. Yang membangun tentunya. Dan, akhirnya, fic ini terselesaikan juga. Maaf kalau makin mengecewakan….

Hiks, akhir kata, Ai minta RnR + CnC yang seikhlasnya ya dari reader… apapun itu akan Ai terima dengan lapang dada. Tapi dengan syarat itu bukan flame yah?

Arigatou, minna…

Sincerely,

Ai Kireina Maharanii

See you next time…..

= jangan lupa tinggalkan jejak yah…! = *plakk