Hinata mengangkat kepalanya secara perlahan dari mejanya lalu mulai berjalan pelan melewati kelasnya menuju lab bahasa kembali. Bibirnya masih terkatup rapat menahan gugup, baru kali ini dia bisa ceroboh seperti ini. Predikat sebagai anak terajin dan tidak pernah ceroboh sekarang harus dia tinggalkan karena hal ini.
Dia menghela napas ketika kedua kakinya sudah berhenti di hadapan pintu lab, tangannya sudah memegang cekungan yang berasal dari pintu lab itu, siap untuk dibuka olehnya. Tapi dia ragu. Rasanya seakan-akan kedua kakinya ingin segera lari menjauh dari lab, menuju kelasnya, meraih tasnya dan kemudian kembali ke rumahnya untuk menangkan diri.
Hal itu jelas-jelas tindakan pengecut.
Hinata menggelengkan kepalanya kemudian segera menggeser pintu itu sehingga dia bisa masuk kedalam. Dengan raut wajah yang dipaksakan untuk tidak terlihat gugup, dia melewati meja Anko-sensei dan kemudian duduk di tempat duduknya.
"Ayo, apa tidak ada yang mau maju?" ujar Anko-sensei tajam secara tiba-tiba. "Kalau dalam sepuluh detik tidak ada yang maju, saya akan memanggil nama kalian secara acak."
Anak-anak yang berada di kelas –termasuk Hinata, hanya tetap diam dan menunggu ucapan Anko-sensei berlanjut.
Tiga ...
Dua ...
Satu ...
Nol ...
Terdengar helaan napas keras yang berasal dari guru perempuan itu, waktu sepuluh detik yang sudah ditentukannya sebagai batas waktu sudah lewat dan tidak ada satu tanda dari anak muridnya untuk segera maju ke depan.
"Baiklah, saya memanggil Aburame Shino untuk maju ke depan kelas."
Seorang laki-laki dengan rambut hitam tebal 'berdiri' dan kacamata hitam kecil yang bertengger dipangkal hidungnya segera berdiri dari tempat duduknya dan kemudian berjalan ke depan kelas. Raut wajah yang datar mengiringi langkahnya ketika dia sampai di depan kelas dan mulai memasang kabel proyektor berikut flashdisknya ke laptop yang dibawanya.
Beberapa saat kemudian dia segera mempresentasikan tugasnya itu dan menerima sambutan tepuk tangan pelan dari anak-anak lainnya ketika presentasinya selesai. Anko-sensei memasang wajah stoic-nya dan menyuruh Shino untuk mundur, jantung Hinata mulai berdebar gugup disini. Dia tidak siap sama sekali.
"Yamanaka Ino."
Hinata mendesah lega, ternyata bukan dia.
Anak perempuan berambut pirang panjang yang membantunya tadi terlihat berjalan ke depan kelas kemudian mulai mempersiapkan presentasi tugasnya sama seperti yang dilakukan Shino. Beberapa anak lain termasuk Hinata memperhatikan presentasi itu dengan cermat sedang beberapa anak lainnya sibuk dengan urusan masing-masing.
Hal itu terus berlanjut hingga sebuah nama dipanggil.
"Uzumaki Naruto."
Terdengar sebuah umpatan pelan yang berasal dari pemuda pirang jabrik yang namanya dipanggil. Dengan gerakan lesu dia segera bangkit dari tempat duduknya lalu mulai berjalan ke depan kelas, kedua tangannya kosong tanpa membawa apapun. Hal itu jelas membuat Anko-sensei mengerutkan keningnya heran.
"Dimana tugasmu, Naruto?" tanyanya.
Naruto hanya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal seraya terkekeh pelan. "Saya lupa mengerjakannya, sensei."
Lagi-lagi ucapan Naruto membuat semua anak yang di lab segera sweatdrop berjamaah. Jawaban yang sangat bodoh untuk diberikan pada seorang guru killer.
Guru perempuan itu menatap Naruto tajam selama beberapa saat kemudian menoleh menatap anak-anak lain yang berada didalam kelas dengan tatapan yang sangat menakutkan. Jantung Hinata berdebar kencang dan tidak karuan disini. Gawat.
"Siapa yang tidak mengerjakan tugas seperti yang dilakukan oleh Naruto-baka ini?" tanya Anko-sensei keras.
Hinata menelan ludahnya gugup, anak-anak lain sibuk berbisik-bisik sambil menoleh kesana kemari untuk melihat apakah ada orang lain yang akan bernasib sama seperti Naruto.
Maju atau tidak? Hinata bertanya pada dirinya sendiri sambil memainkan jarinya gugup. Kalau dia maju sekarang, dia akan dihukum, tapi kalau tidak maju pada akhirnya dia akan ketahuan dan kemungkinan akan diberikan hukuman yang lebih berat dari yang pertama.
Gadis itu menghembuskan napas keras kemudian bangkit berdiri dari kursinya, hal itu seketika membuat anak-anak lain segera terdiam menatapnya berjalan. Hyuuga Hinata yang terkenal sangat rajin ternyata akan bernasib sama seperti Naruto-baka?! Itu sangatlah tidak terduga sama sekali.
Jantung Hinata berdebar sangat keras didadanya, kakinya terasa sangat berat untuk berjalan ke depan kelas untuk menerima hukuman dan mulutnya terkatup rapat. Anko-sensei memandangnya dengan raut terkejut dan kecewa secara bersamaan, hal itu membuat Hinata merasa bersalah.
"Kau juga tidak membawa tugasnya, Hinata?" tanya Anko-sensei.
Hinata menganggukkan kepalanya perlahan.
Guru perempuan itu menghela napas lagi kemudian menatap anak-anak yang tersisa. "Masih ada anak yang tidak mengerjakan tugas?"
Semua anak secara kompak menggelengkan kepalanya.
"Baiklah." Ucap Anko sensei lalu melanjutkan. "Berikutnya, Nara Shikamaru."
Anko-sensei kembali mengalihkan pandangannya pada Naruto dan Hinata yang saat ini berdiri berdampingan di sebelah kanan meja. Hinata yang sedang menundukkan kepalanya dalam sambil memainkan jarinya dan Naruto yang berkelakuan tidak jauh berbeda dengan Hinata.
"Naruto, kau berdiri di luar kelas dan Hinata–" Anko-sensei memberi jeda selama beberapa saat. "–Kau kembali ke tempat dudukmu."
Hinata mengerjapkan matanya kaget. "Saya tidak dihukum, Anko-sensei?"
Guru perempuan itu menggelengkan kepalanya. "Kau baru kali ini saja tidak membawa tugas dan lagipula kau sudah mengerjakan tugas itu di rumah 'kan?"
Hinata menganggukkan kepalanya, dia memang sudah mengerjakan tugas itu selama dua hari berturut-turut dan dengan proses editing berulangkali, dia bahkan rela untuk telat makan siang hanya untuk tugas itu. Tapi ...
"Saya merasa itu tidak adil, Anko-sensei." Ucap Hinata perlahan, takut menyinggung perasaan gurunya itu. "Naruto dihukum tapi saya tidak, padahal kami melakukan kesalahan yang sama."
Anko-sensei menatap Hinata selama beberapa saat lalu mendesah pelan, "Baiklah kalau itu maumu, Hinata. Silahkan kalian keluar dan merenungkan kesalahan masing-masing."
"Baik," jawab Naruto dan Hinata hampir bersamaan.
My Sister and I
Naruto by Masashi Kishimoto
Cerita ini asli dari imajinasiku yang gaje
Warning: AU, little bit OOC, little bit kaku (?)
Don't like? Don't read^^
Mereka berdua berjalan keluar kelas dalam bentuk barisan lalu menutup pintu dari luar dan berdiri di dekat jendela kelas.
Suasana hening segera menyergap mereka berdua yang saat ini berdiri bersebelahan dengan jarak dua meter terentang diantara mereka. Hinata menyandarkan dirinya ke jendela lalu mulai merenungkan kesalahannya seperti yang diperintahkan oleh Anko-sensei, tangannya melingkar dibawah dadanya dan mulai memejamkan mata.
Naruto yang berada tidak jauh dari Hinata juga melakukan hal yang tidak jauh berbeda. Kesan kekanakan, cerewet dan bodoh segera hilang dari raut wajahnya ketika dia mulai merenungkan kesalahan yang sering dia lakukan berulangkali. Tangannya terangkat untuk mengacak rambut pirang jabriknya yang tidak terasa gatal, mulai memikirkan apa yang dipikirkan ibunya nanti kalau dia tahu kalau Naruto tidak melakukan kewajibannya sebagai pelajar dengan baik.
Aku bisa dibunuh. batin Naruto sweatdrop.
Naruto melamunkan ibunya yang sangat tegas dan penyayang sekaligus, atau bisa dibilang memiliki perangai sangar dan overprotektif. Perempuan berambut semerah darah dengan mata violet itu selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dia menyediakan fasilitas lengkap berikut kasih sayang yang lebih bagi anak-anaknya, dia tidak ingin anak-anaknya merasa kurang diperhatikan seperti apa yang pernah dialaminya dulu.
Ibunya itu juga sempat menyuruhnya untuk didampingi oleh dua bodyguard selama di sekolah dengan alasan supaya dia aman dari orang jahat, Naruto segera menolak usulan ibunya itu mentah-mentah. Dia berpikir bahwa tidak ada gunanya didampingi dua bodyguard yang justru akan mengganggunya bersenang-senang dengan teman-temannya, mencegahnya untuk melakukan kejahilan yang seringkali dia lakukan ataupun membolos kelas yang membosankan. Itu sangat mengganggu.
Naruto menghela napas kemudian melirik sedikit kearah gadis berambut indigo panjang berkacamata tebal yang berdiri disampingnya. Gadis itu tidak bergerak sedikitpun dari posisi sebelumnya.
Naruto yang penasaran dengan apa yang dilakukan gadis itu tanpa sadar melangkahkan kakinya untuk mendekat. Dia melangkah sepelan mungkin supaya tidak mengejutkan gadis itu yang kemungkinan sedang melamun itu.
Ketika tiba didepan gadis itu dia dapat melihat bahwa dugaannya salah, gadis itu ternyata sedang tertidur pulas. Dia dapat mendengar nafas gadis itu yang keluar-masuk dengan teratur dan dapat melihat kedua kelopak mata gadis itu tertutup rapat dibalik lensa kacamatanya, tidak terganggu sedikitpun walaupun berkali-kali Naruto melambaikan tangan didepan wajahnya atau menjetikkan jari didekat telinga gadis itu.
Naruto terdiam dan menatap wajah gadis itu secara cermat. Wajah berkulit sewarna porselen yang sedikit tembam dengan sedikit rona kemerahan dipipinya terlihat sangat manis dimatanya. Naruto mundur selangkah sebelum memperhatikan seragam gadis itu yang terlihat cukup berbeda dari murid-murid perempuan lainnya.
Kemeja anak perempuan itu terlihat satu nomor lebih besar dari ukuran tubuhnya dan roknya pas selutut, tidak seperti anak perempuan lain yang memakai rok lima belas senti diatas lutut.
Naruto mengerutkan keningnya bingung. Seraut wajah anak kecil berambut indigo sebahu dengan terusan biru muda menghampiri benaknya. Sepertinya dia pernah melihat versi kecil gadis itu entah dimana, tapi dia tidak ingat.
Naruto berpikir selama beberapa saat sebelum mengangkat bahunya acuh tak acuh kemudian mulai melangkah kembali ke tempatnya semula, berpikir kalau tidak ada gunanya memikirkan seorang gadis yang tidak terlalu dia kenal lebih jauh.
Disisi lain, Hinata yang tertidur mulai merasakan dirinya terbenam semakin dalam ke alam mimpinya. Latar berwarna hitam dengan perasaan melayang membayangi dirinya. Hinata menatap sekelilingnya dengan penasaran kemudian terdiam ketika melihat dirinya saat masih kelas 6 SD berdiri dihadapan sebuah foto yang memasang dua wajah seseorang yang sangat dikenal dan disayanginya.
Disana dia dapat melihat orang-orang berulangkali berdiri didepan bingkai foto itu untuk memberikan penghormatan kemudian berjalan menghampirinya untuk memberi kata-kata penghiburan. Hinata kecil hanya menganggukkan kepala yang sesekali diiringi senyum kecil ketika orang-orang itu menghampirinya. Paman dan bibinya tetap setia mendampinginya selama prosesi perpisahan itu, sesekali mereka juga meremas pundak kecilnya untuk memberi dukungan. Tapi itu tidaklah cukup.
Hari mulai malam, orang-orang sudah tidak lagi berkunjung dan hanya menyisakan Hinata kecil yang bersimpuh dihadapan kedua foto itu. Paman dan bibinya sedang mengantar tamu hingga keluar dari gerbang mansion keluarga Hyuuga, tidak menyadari bahwa gadis itu sedang terpaku menatap foto yang ada dihadapannya dan mulai menangis dalam diam ketika sebuah kalimat muncul dibenaknya.
Kami akan selalu menyayangimu, Hinata ... selalu.
Hinata tersentak kaget dari tidur singkatnya, napasnya yang tadinya tenang sekarang terdengar memburu karena kaget dan matanya membulat karena shock akan mimpinya itu. Sebuah cairan hangat segera mengalir dari matanya yang terasa panas, dia menangis.
Hinata segera mengangkat tangannya kemudian menghapus jejak air mata itu dengan cepat, dia tidak ingin seorangpun melihatnya dalam keadaan menangis seperti ini. Dia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kembali, melakukannya berulangkali hingga perasaan sesak yang ada di dadanya memudar.
"Kau sudah bangun?"
Hinata menoleh dengan cepat dan menemukan laki-laki kekanakan itu memandangnya dengan raut penasaran. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya kaku.
"Kau keren banget bisa tidur dalam posisi berdiri seperti itu, gimana caranya?" tanya Naruto lagi.
Gadis itu hanya mengangkat bahunya dan menjawab singkat. "Entahlah."
Naruto bergumam 'oh' panjang, dia segera memberi kesimpulan pada orang yang ada disebelahnya itu kalau gadis itu adalah orang yang sangat pelit untuk berbicara.
Mereka sama-sama terdiam dan menatap berlawanan arah. Naruto yang merasa bosan mengerucutkan mulutnya lalu menyiulkan nada-nada riang yang mengalun agak sumbang. Hinata yang masih diposisi sebelumnya kembali memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang berasal dari lorong membelai wajahnya. Dalam hati mereka sama-sama berharap semoga bel segera berbunyi sehingga bisa terbebas dari hukuman ini.
.
Setelah bel tanda waktu pulang berbunyi disepanjang lorong sekolah, Hinata segera membereskan tasnya dengan cepat lalu berjalan keluar kelas menuju gedung lain yang berukuran lebih kecil dari gedung sekolahnya. Hinata dapat melihat segerombolan anak kecil berjalan keluar dari gedung kecil itu dengan orangtua atau salah satu keluarganya, berjalan beriringan untuk segera pulang ke rumah mereka masing-masing.
Mata Hinata dengan cepat menyusuri gerombolan itu untuk segera menemukan adik kecilnya, sesosok anak perempuan dengan rambut coklat sebahu dengan mata amethys yang menjadi ciri khas keluarga mereka.
"Nee-chan!" seru seseorang mengagetkannya.
Hinata segera menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya, tapi terlambat. Seorang anak kecil sudah berlari kencang menghampirinya dan tanpa aba-aba menubruk tubuhnya yang tanpa pertahanan dengan keras sehingga dia sedikit terhuyung.
Gadis itu berusaha cukup keras untuk menahan keseimbangan agar tidah jatuh, tapi dia gagal. Dengan sukses bokongnya mendarat di jalan tempat dia berdiri sebelumnya dan mulai mengaduh kesakitan akibat kerasnya benturan yang diterimanya.
"Hanabi-chan. hati-hati dong," seru Hinata agak kesal menerima perlakuan adiknya.
Hanabi hanya tertawa, matanya berbinar senang karena berhasil mengejutkan kakaknya yang sebelumnya tampak tidak senang. "Gomen, nee-chan."
Hinata mendesah pelan lalu tersenyum kecil, memaafkan tingkah adiknya yang agak menyebalkan. Dia mulai bangun dari posisi jatuh terduduknya lalu menepis debu yang menempel di roknya. Tangannya meraih tangan Hanabi sebelum mereka mulai berjalan melewati gerbang sekolah mereka.
"Hanabi-chan sudah membawa buku cerita yang kita beli kemarin?"
Hanabi menganggukkan kepalanya. "Hanabi sudah membawanya, nee-chan." jawab Hanabi. "Kita memang mau kemana?"
"Kita mau ke tempat bibi, sudah agak lama 'kan kita tidak kesana?"
"Nee-chan mengajak Hanabi ke rumah bibi?!" tanya Hanabi tidak percaya.
Hinata menganggukkan kepalanya. "Hanabi memang tidak kangen dengan bbi dan teman-teman di panti?"
"Hanabi kangen!" ucap Hanabi dengan bersemangat."Hanabi kangen bibi juga teman-teman yang ada disana, Nee-chan tidak bohong 'kan?"
"Enggak bohong kok."
Hanabi melonjak-lonjak bersemangat setelah mendengar ucapan kakaknya itu selama mereka berjalan, Hinata mengacak rambut adiknya lalu merogoh kedalam tasnya untuk mengambil dompetnya. Sambil berjalan dia membuka dompetnya itu lalu mengecek jumlah uang yang ada didalamnya. Cukup.
"Kita beli oleh-oleh untuk bibi dulu yuk?"
"Ayo!"
Mereka berjalan menghampiri sebuah supermarket yang berada tidak jauh dari mereka lalu berjalan masuk kedalam. Hawa dingin berikut bebauan barang-barang baru menghinggapi hidung mereka ketika berjalan semakin dalam.
Mereka menghampiri rak sekumpulan parsel buah yang terdiri dari berbagai macam isi dan berlainan harga. Hinata menatap sekumpulan parsel itu dengan cermat lalu mulai mengeceknya dan menyesuaikan harga dengan uang yang dimilikinya saat ini. Dia tidak ingin melenceng dari anggaran belanja yang pernah dibuatnya dulu dan selalu digunakan sampai saat ini.
Setelah selesai memilih dan membayarnya di kasir, mereka segera keluar dari sana kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan pelan menyusuri trotoar. Mereka berbelok melewati serangkaian gang hingga dalam beberapa menit mereka sudah sampai disebuah rumah yang berhiaskan lukisan-lukisan lucu yang berada disepanjang dinding luar.
Mereka melangkahkan kakinya melewati pagar pendek bercat putih itu lalu menghampiri sebuah pintu kaca yang menampakkan ruangan berlantai kayu. Dengan perlahan –seakan tidak ingin ketahuan, Hinata dan Hanabi memasuki rumah itu lalu berjalan secara perlahan menuju ruangan tempat sebelumnya mereka biasa berkumpul.
Matanya menyusuri lorong hingga akhirnya sampai pada sebuah ruangan yang cukup besar yang dilapisi tatami. Hinata segera membuka pintu geser tersebut sehingga menyebabkan beberapa anak kecil menatapnya selama beberapa saat lalu segera berlari menghampirinya.
"Hinata-nee, Hanabi-chan!" seru anak-anak kecil itu dengan bersemangat lalu menubruk tubuhnya dan adiknya.
Hinata tertawa riang ketika menerima sambutan anak-anak itu padanya, bibirnya mengulas senyum lembut ketika menatap anak-anak itu. "Hai, apa kabar kalian?" ujar Hinata lembut. Dia sangat rindu akan suasana hangat ini.
"Baik," jawab mereka kompak.
Hinata segera kembali terlibat berbagai serbuan pertanyaan dari anak-anak itu. Dalam sekejap ruangan yang pada awalnya sedikit berdengung akibat obrolah kecil anak-anak kini berubah menjadi obrolan besar yang cukup ramai. Hinata yang agak kewalahan masih tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan anak-anak itu. Hanabi disisi lain mulai memasuki ruangan lain yang ada di rumah itu untuk menemui teman-temannya dulu.
Salah satu anak menarik-narik ujung kemejanya lebih kencang sehingga Hinata menunduk untuk melihat siapa anak itu. "Ada apa, Chiharu-chan?"
"Nee-chan datang untuk bercerita untuk kami lagi seperti waktu dulu 'kan?" tanyanya dengan mata bulat menggemaskan. "Aku kangen pada cerita-cerita kakak."
Hinata menganggukkan kepalanya. "Tentu saja aku juga datang untuk itu, ayo kita mulai."
"Ayo ...!"
.
.
.
To be Continued
.
.
.
Balasan review:
hinata. hiyuga34: ini sudah dilanjut^^
anna. fitry: belum end kok, makasih udah dibilang menarik :3
blackschool: makasih, ini sudah dilanjut^^
guest: saya bukan om-om :v tapi makasih buat RnR nya
Soputan: makasih :)
Durara: jadi ini masih berlanjut, ada nama di describe-nya kok. Coba kau baca ulang Durara-san, pasti ketemu namanya ._.
hqhqh: ini sudah dilanjut, family untuk Hinata dan Hanabi serta beberapa tokoh lain yang belum kusebutkan namanya :)
Terima kasih sudah membaca :)
