Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rating: M
Warning: TYPO(S), Abal, AU, OOC, YAOI, Freak, and So on.
DO NOT LIKE DO NOT READ~
CHAPTER 2: What about me?
Ketika kita hidup di dunia yang begitu fana ini, pasti kita selalu menginginkan hal-hal yang begitu menarik untuk dibawa ke dunia selanjutnya saat kita mati. Namun, sepertinya hal-hal yang kita inginkan tak selalu tercapai dengan satu tepukan tangan. Terkadang apa yang kita inginkan berada jauh dari jangkauan kita. Seperti saat kita berada di balkon kamar dan tangan kita mencoba meraih bulan yang berukuran sangat kecil dalam jangkauan mata kita. Bagaikan bumi yang mencoba menjangkau matahari di siang hari.
Meskipun seperti itu, semua yang ada di dunia ini hanya sebuah halusinasi semata. Kita hanyalah sosok berjiwa yang mencoba untuk menghibur diri di tempat yang fana ini. Saat kita menatap … semua terasa nyata. Namun, saat kita memejamkan mata, semua itu terasa hanya seperti angin yang berlalu. Meskipun demikian, semua yang pernah kita jalani, sedang kita jalani, dan bahkan yang akan kita jalani … merupakan kehidupan halusinasi dengan seribu kenyataan yang dapat kita rekam dengan sangat baik.
Semua yang akan terjadi … adalah apa yang kita butuhkan. Tetaplah selalu mengucapkan kata syukur dari hati yang terdalam. Karena, tak semua orang akan merasakan apa yang akan kita rasakan. Terima itu meskipun sakit. Terima semua itu meskipun buruk. Karena, sebagian besar orang lebih menyukai awal yang buruk dan akhir yang baik. Karena … itu lebih baik. Sangat lebih baik daripada kehampaan yang mengisi kehidupan.
Sex God
.
.
Keheningan melanda sebuah kamar yang terbilang cukup besar. Tak ada suara yang begitu perlu didengar. Hanya dentuman sendok dan garpu yang saling bersentuhan satu sama lain. Tampak bocah berambut pirang sedang mengaduk-aduk makanan yang ada di depannya. Sesekali kedua netra birunya menoleh ke belakang—memperhatikan sesuatu yang ada di belakang sana. Sedikit cubitan kecil diberikannya pada pipi kanannya. Ringisan kecil keluar dari bibir mungil itu. Sosok berambut pirang itu menghela napas panjang sembari menjedukkan kepalanya pada meja di hadapannya.
"Aku lapar. Bawakan aku makanan!"
Kata-kata yang terdengar seperti perintah itu membuat Naruto mengangkat kepalanya dengan cepat. Netra birunya menatap lekat sosok yang baru saja melantunkan kata-kata tersebut. "Tidak mau. Aku tidak mengenalmu. Lagipula kau punya tangan dan kaki. Ambil saja sendiri!" ucap Naruto seraya kembali menidurkan kepalanya di atas meja belajarnya. Semenjak kejadian mengerikan tadi pagi, dia memutuskan untuk membawa sarapannya ke kamarnya saja. Lagipula, dia juga tidak melihat ada Kyuubi disana.
Sosok berambut hitam kebiruan itu tampak memijat keningnya kesal seraya bangkit dari duduknya. Netra kelamnya menatap Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedikit seringaian tampak terpatri di wajah tampan itu. Dengan langkah pelan dia berjalan menuju tempat Naruto sedang duduk dengan lesu. "Baik. Aku akan mengambil makananku sendiri," ucapnya seraya memeluk Naruto dari belakang. "Kuharap kau tidak menyesal mengatakan hal itu." Sosok berambut biru kehitaman itu tampak mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto yang sedang memasang tampang bingung sembari mengunyah makanannya. Sosok itu menyeringai dan meraup bibir Naruto. Dengan kasar dia menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Naruto dan mengambil semua makanan yang sedang Naruto kunyah menggunakan lidahnya. Sosok itu tampak menggigit bibir Naruto dengan pelan sembari melepaskan ciumannya. "Manis," ucapnya kecil seraya mengelap bibirnya menggunakan punggung tangan kirinya.
Hening.
Hening.
Hen—
"Kau … dasar sialaaaan!"
'DUAGH'
Naruto menatap sosok berambut hitam kebiruan yang sedang terduduk di ranjangnya dengan napas yang terengah-engah. Dengan kasar dia mengelap bibirnya dengan kedua telapak tangannya secara bergantian. Dia memejamkan matanya sejenak—mencoba menenangkan pikirannya yang sedang sangat kacau. Saat matanya terbuka, Naruto mendekati sosok yang sedang memegangi sudut bibirnya yang sedang terluka. "Aku menyuruhmu untuk mengmbilnya sendiri di dapur! Bukan di dalam mulutku! Dasar bodoh!" Naruto mendesis kesal sembari mengacak surai pirangnya dengan kasar.
"Salahmu. Seharusnya kau berbicara dengan jel—"
"Diam! Aku tidak mau mendengar omongan apapun yang keluar dari mulutmu! Dasar teme!" Naruto menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. Matanya menatap sosok berambut hitam kebiruan itu dengan horror. Dia terduduk tepat di hadapan sosok tersebut. Naruto memeluk kedua lututnya sembari membenamkan kepalanya di kedua lututnya.
"Sasuke. Namaku Sasuke. Jangan memanggilku teme, dobe," ucap sosok yang ternyata bernama Sasuke tersebut seraya mendudukkan dirinya di hadapan Naruto. Dengan perlahan dia menggerakkan tangannya untuk menyentuh tubuh Naruto.
'PLAK'
"Jangan pernah menyentuhku, hiks. J-jangan hiks ja-jangan lagi hiks." Naruto menepis tangan Sasuke dengan kasar seraya berusaha menyembunyikan suara tangisannya. Tubuhnya tampak bergetar akibat tangisannya yang teredam. "I-ini semua gara-gara dirimu, Teme! kau mem-membuatku takut," ucap Naruto sembari menghapus air matanya dengan punggung tangan kanannya. Dengan kasar Naruto bangkit dari duduknya. Namun, gerakannya terhenti saat sebuah tangan pucat menggenggam pergelangan tangannya.
"Aku tidak pernah meminta maaf pada orang sebelumnya. Tapi … maaf jika aku menakutimu. Aku akan pergi sebentar," Sasuke tersenyum tipis seraya melepaskan genggamannya. Dengan langkah pelan dia keluar dari ruangan itu. Beruntung karena Naruto sempat meminjamkannya sepasang pakaian. Naruto menatap kepergian Sasuke dengan mata yang berbinar-binar. Senyuman lebar terukir di wajahnya.
"Selamat tinggal!" ucapnya pelan sembari mengambil tas yang ada di atas meja belajarnya.
-VargaS. Oyabun-
Saat ini Kyuubi sedang menatap ayahnya dengan kesal. Mata merahnya beralih pada sosok perempuan dengan rambut merah panjang yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. "Kushina! Apa maksud ini semua?" tanyanya sembari menunjuk pria dengan rambut hitam panjang yang diikat kebelakang yang sedang duduk manis di meja makan keluarga rumahnya. Dengan kasar dia meletakkan tas yang disampirkannya pada bahu kanannya ke atas meja makan. "Jelaskan padaku atau aku akan membakar rumah ini!"
Mintao menatap putra sulungnya dengan tatapn sedih, "Daddy juga tidak tahu masalah ini. Sepertinya Mommy lebih tahu," ucap Minato seraya mengelus punggung Kyuubi dengan pelan.
"Jangan elus-elus! Pasti ini kerjaan kalian berdua!" teriak Kyuubi seraya memplototi sang ayah yang sedang tersenyum canggung ke arahnya. "Ishh! Sebenarnya kalian ini kurang kerjaan atau apa?" Kyuubi menatap kedua orang tuanya dengan kesal.
"Kyuubi, Mommy punya beberapa kalimat yang perlu kau perhatikan. Pertama, panggil Mommy bukan Kushina. Kedua, dia adalah sahabat barumu dari teman Daddy. Dan ketiga, sebentar lagi dia akan menjadi pembimbingmu," ucap Kushina dengan nada riang sembari tersenyum lebar ke arah Kyuubi. Masih dengan senyuman lebarnya, Kushina mendekati Kyuubi dan menariknya untuk duduk di sebelah sosok berambut hitam panjang yang sedang sibuk menikmati sarapan paginya. "Ayo duduk dan makan dulu. Mommy yakin kau pasti lelah setelah 'kegiatan' semalam dengan Itachi. Benar kan, Itachi-kun?" Kushina menyeringai lebar ke arah sosok berambut hitam panjang yang ternyata bernama Itachi tersebut.
'BRAK'
Kyuubi memukul meja makan tersebut dengan keras. Matanya menatap horror ke arah sang ibu. "AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN DENGANNYA!" teriak Kyuubi seraya meninggalkan ruang makan tersebut. Dengan kasar dia menyambar tasnya dan pergi begitu saja. Matanya sempat melirik ke arah Itachi dengan tajam. "Apa liat-liat?" tanyanya sembari mengarahkan tinjunya ke arah Itachi.
Itachi hanya mampu tersenyum miris sembari membatin, 'Ka-kan dia yang melihatku. Kenapa dia yang marah? Ha—ah sepertinya ini akan menjadi sedikit rumit. Apa kabar dengan Sasuke, ya?' Itachi menghela napas lelah sembari meletakkan sendok dan garpu yang tadi dia pakai dalam keadaan terbalik. "Terima kasih untuk ma—"
"Ah, Sasuke! Ayo sini. Kau pasti lapar, kan?" Kushina memotong ucapan Itachi saat melihat Sasuke sedang melewati ruang makan dengan santainya. Dengan perlahan dia mendekati Sasuke yang menatapnya dengan bingung. "Ayo sini! Ada Itachi, loh!" ucap Kushina seraya menarik lengan Sasuke dengan perlahan. Namun, gerakan Kushina terhenti saat tiba-tiba Sasuke mengangkat sebelah tangannya dengan pelan.
"Aku tidak lapar. Aku ingin pergi keluar sebentar," ucapnya seraya melepaskan tangan Kushina dengan lembut. Sasuke menatap Itachi sekilas sebelum benar-benar pergi dari tampat tersebut.
"Ada apa dengannya, ya?" gumam Kushina sembari kembali berjalan menuju ruang makan. Dia menatap Minato dengan bingung sebelum akhirnya menatap Itachi. "Kau tahu adikmu kenapa?"
Itachi tersenyum tipis sembari mengangguk kecil. "Mungkin dia sedang merasa de javu."
.
.
Sasuke memandang langit pagi yang ditemani matahari di ufuk wetang dengan pandangan datar. Tangannya bergerak untuk menghalangi cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Helaan napas kecil keluar dari bibirnya. Raut keterkejutan terpatri di wajahnya saat seseorang menabraknya dengan kasar.
"Maaf, aku sedang terburu-buru."
Sasuke manatap bocah berambut merah di hadapannya dengan bingung. Matanya menatap lekat sepasang netra hijau yang menatapnya balik. Sedikit anggukkan kecil diberikannya sebagai tanda bahwa dia tidak terlalu memikirkan tabrakan kecil tadi. Entah kenapa, saat bocah itu melangkah menjauh darinya, Ssauke memegang pundak bocah tersebut. "Apa kau mengenal Naruto?" tanya Sasuke seraya membalikkan badan bocah berambut merah tersebut.
Bocah tersebut tampak mengangguk pelan. "Dia teman sekelasku. Ada apa? Kau punya pesan untuknya?" tanya bocah tersebut seraya menunggu jawaban dari Sasuke.
"Tidak. Aku hanya bertanya. Maaf sudah mengganggu perjalananmu ke sekolah," ucap Sasuke seraya pergi meninggalkan sosok tersebut. Matanya sempat melihat sekilas ke arah baju bocah tersebut. "Gaara, huh?" ucapnya kecil seraya bergegas meninggalkan tempat itu.
Sosok berambut merah itu hanya memasang wajah datar sembari membalikkan badannya dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan Sasuke. Semakin lama bocah tersebut tampak mempercepat langkahnya dan menghilang di keramaian para pejalan kaki.
-VargaS. Oyabun-
"Ah!" Kiba mendesah nyaring saat Shikamaru menggigit lehernya dengan pelan. Matanya terpejam erat merasakan sensasi permainan Shikamaru yang sedang sibuk bermain dengan leher dan tonjolan di dadanya. Matanya terbuka sedikit dan mendapati Shino sedang bermain dengan barangnya di bawah sana. Kiba hanya mampu mendesah nikmat saat tiba-tiba Shino menggenggam brangnya dengan kuat dan mengocoknya. "A-ah! A-aku ha-hah! Harus s-seko-ah! sekolah!" ucap Kiba berusaha mengingatkan dua orang yang sedang asik bermain dengan badannya. Kiba menatap tubuhnya yang kini polos tak terlapis apapun dengan gugup.
"Aaaah!" lenguhan nikmat keluar dari mulut Kiba saat Shino membiarkannya mencapai klimaksnya yang entah sudah keberapa kalinya. Tubuhnya sudah tak mampu menahan dua sensasi kenikmatan yang diberikan oleh Shikamaru dan Shino. Entah ada apa sebenarnya pagi ini. Saat Kiba bangun, dua orang tersebut sudah tampak menggerayangi tubuhnya yang tak mengenakan sehelai pakaian pun.
Kiba menggerakkan tangannya untuk memegang kepala Shino yang sedang sibuk mengulum barangnya di bawah sana. "Cu-cu-ah! Cukup! A-aku tidak sang-akh! Kenapa kau menggigitnya, bodoh?" Kiba meringis sakit saat tiba-tiba Shino menggigit barangnya. Tangannya meremas sebuah buku yang ada di sebelahnya untuk menahan rasa ngilu yang dirasakannya. Sementara Shikamaru sibuk mengulum tonjolan di dada sebelah kanannya. Mata Kiba berkilat marah saat tiba-tiba Shikamaru menurunkan kepalanya dan menjilat dua bola kembarnya dengan kasar.
'TWITCH'
"HANTIKAAAAAAN!"
Dalam waktu singkat, Kiba dapat mengumpulkan energinya untuk meneriaki kedua pria mesum yang sedang menatapnya dengan bingung. "Hah-hah-hah minggir! Aku harus segera berangkat! Kalian membuatku lemas dengan cara mengeluarkan cairanku berkali-kali! Dasar sialan! Beranjak dari ranjangku atau kalian akan aku bunuh?" tanya Kiba sembari menunduk. Aura-aura menyeramkan berkumpul di sekitarnya.
Shino hanya mengangkat bahunya tak mengerti dan segera beranjak dari ranjang tersebut. Shikamaru menatap Kiba dengan seringaian tipis sembari menjauh dari ranjang tersebut. "Mendoukusai. Kami hanya mengajarimu soal se—"
"KELUAR!"
"Oke!" jawab Shikamaru dan Shino secara bersamaan sembari keluar dari kamar yang penuh aura mencekam tersebut.
Kiba menghela napas lelah sembari bangkit dari ranjangnya. Dengan terburu-buru dia memasuki kamar mandi yang ada di kamarnya dan segera membersihkan dirinya. Setelah beberapa saat, Kiba keluar dari kamar mandi tersebut dan segera mengenakan seragamnya. Matanya menatap bercak kemerahan yang berbekas di lehernya dengan horror. Beruntung pada saat itu cuaca sedang dalam keadaan dingin. Kiba segera mengambil syal berwarna merah tua yang serasi dengan celananya dan segera pergi dari kamar tersebut. Tidak lupa dia mengambil tas sekolahnya yang terletak di atas meja belajarnya.
"Kiba, kau tak ingin makan dulu?" teriak sang kakak saat Kiba melewati dapur yang dipenuhi oleh orang-orang yang membuatnya berpikir dua kali untuk menginjak dapur tersebut.
Kiba menatap kakaknya dengan malas. "Aku sudah telat! Aku pergi dulu!" teriaknya sembari menutup pintu rumahnya dengan perlahan.
"Kau tidak ingin Shino dan Shika mengan—"
"TIDAK PERLU!"
Kakak Kiba mengerutkan alisnya bingung saat mendapati jawaban seperti teriakan orang gila tersebut. Matanya lalu beralih pada dua orang pria yang sedang asik menikmati sarapan paginya. "Kenapa dia seperti itu?" tanya sang kakak sembari kembali menduduki kursinya yang sempat terlupakan. Dia menuangkan susu pada tiga buah gelas yang ada di hadapannya.
Shino dan Shikamaru hanya mengangkat kedua bahu mereka tidak tahu—lebih tepatnya berpura-pura tidak tahu. Sang kakak hanya mampu menghela napas dengan lelah sembari kembali menikmati sarapan paginya yang juga sempat tertunda.
-VargaS. Oyabun-
'BRAK'
Kiba membuka pintu kelasnya dengan kasar sembari berjalan menuju seorang guru dengan sepuntung rokok yang selalu bertengger di bibirnya, Asuma-sensei. "Maaf, sensei. Aku sedang ada masalah di rumah," ucapnya seraya membungkuk ke arah sang guru.
Asuma-sensei hanya mampu menatap Kiba dengan datar. "Tidak apa-apa. Silahkan duduk di tempatmu," ucapnya seraya mematikan rokok yang terselip di kedua bibirnya. Matanya menatap malas pada tumpukan buku yang ada di mejanya. Dia mengangkat kepalanya dan menatap punggung Kiba dengan lekat. "Ah, Inuzuka-san, kemana pekerjaanmu? Aku sudah bilang hari ini dikumpul, kan?" ucap Asuma-sensei seraya menadahkan tangannya ke arah Kiba.
Kiba tersenyum lebar dan membuka tasnya. "Sebentar, sepertinya ada disini … eh? Eh, kok? Lho? Ma-mana bukunya?" ucap Kiba seraya mengubrak-abrik tasnya. Dia mengeluarkan semua isi tasnya dan memperhatikan buku yang ada di sana. Matanya menyipit mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi. Matanya terbelalak saat mengingat kejadian tadi pagi. 'A-aku menggunakannya untuk menahan rasa ng-ngilu i-itu? Aaaaah! Bodohnya diriku,' batin Kiba seraya kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam tasnya.
Dia tersenyum lebar ke arah Asuma-sensei dan berjalan mendekati sang guru. "Gomen! Punyaku ketinggalan!" teriaknya sembari membungkukkan dirinya dengan sangat bungkuk.
Asuma-sensei memijat kepalanya dengan kasar. "Kau! Keluar sekarang juga!" teriaknya sembari menatap Kiba dengan kesal. Kiba hanya mampu menghela napas kecewa sembari keluar dari ruangan tersebut dan berdiri di depan pintu ruangan tersebut dengan lemas.
Rahangnya tampak mengeras dan tangannya terkepal erat. Matanya menatap nyalang pada pemandangan lapangan yang ada di hadapannya. 'Dua orang i-itu … benar-benar membuatku naik darah." Kiba tampak menarik napas panjang sembari memejamkan matanya. "Dasar kau sialaaaan!" teriaknya dengan nyaring.
"Dasar bocah! Sudah telat, tidak mengumpulkan tugas, dan sekarang kau berani mengatakan gurumu sialan, hah?"
"Bu-bukaaaan!"
.
.
Naruto menghela napas lelah saat mendengar cerita Kiba. Dia tampak berdiri dari duduknya dan menatap langit yang terhampar di atasnya. Saat ini mereka berdua sedang bercengkrama di atas atap sekolah. "Ki-kiba?"
"Huh?"
"Ra-rasanya ba-bagaimana?"
"Rasa apanya?"
"Sa-saat me-mereka melakukan i-itu terha-hadapmu?"
"Aku cukup menikma-APA YANG KAU TANYAKAN, BODOH?" Kiba menatap Naruto dengan horror sembari berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Mukanya tampak memerah karena baru saja keceplosan mengatakan bahwa dia sedikit menikmatinya.
Naruto menggaruk kepalanya dengan bingung sembari mendudukkan dirinya di hadapan Kiba. "Ka-kau ta-tahu apa yang terjadi padamu pada saat pertama kali kau bertemu dengan mereka? K-kau mendapati mereka sedang dalam keadaan tak mengenakan sehelai pakaian pun, bukan?"
Kiba mengangguk sembari menatap Naruto dengan lekat.
"Ka-kau tahu, a-aku mengalami hal yang sama denganmu. Mendapati seorang pria sedang dalam keadaan polos di hadapanku saat aku terbangun dan … dan dia mengatakan padaku bahwa dia adalah seorang sex god."
"…"
"…"
"APAAAA?" Kiba berteriak histeris saat dapat mencera perkataan Naruto barusan. Matanya menatap Naruto dengan horror sembari memegang kedua pipi Naruto dengan erat. "Ka-kau serius?" Naruto mengangguk. "La-lalu dia bagaimana? Orangnya maksudku, seperti apa? Apa dia tampan?"
Naruto tampak mulai mengingat-ngingat wajah Sasuke sembari menatap Kiba kembali. "Dia cukup tampan. Dan kulitnya putih mulus. Dan dia jug-NO! KENAPA KAU BERTANYA SEPERTI ITU?" Naruto mendorong Kiba dengan kasar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kasar. Berulang kali dia berusaha untuk menetralkan napasnya. Matanya menatap tajam ke arah Kiba yang sedang menyeringai ke arahnya.
"Gomen. Pasti kau lucu sekali saat pertama kali bertemu dengannya," ucap Kiba seraya memasang tampang mengejek ke arah Naruto. Dia tertawa lebar saat Naruto hanya membalasnya dengan tatapan mematikannya.
Naruto bangkit dari duduknya dan melemparkan sebuah cermin kecil.
'PRANG'
"Becerminlah! Mukamu pasti lebih menggelikan daripada mukaku saat pertama kali bertemu dengannya!" bentak Naruto sembari membuka pintu keluar atap tersebut.
Kiba menatap cermin di hadapannya dengan kesal. "Sudah pecah, bodoh!" teriaknya sembari memperhatikan cermin pecah tersebut. Dia menghela napas lelah sembari mengacak surainya dengan kasar.
.
.
.
Kyuubi menatap dua orang sahabatnya dengan datar. Dengan langkah cepat dia mendekati kedua orang tersebut. Matanya menatap kedua sosok tersebut dengan lekat. Sangat lekat.
'BLETAK' 'BLETAK'
Kyuubi menjitak kedua temannya dengan kuat sembari berjalan melewati mereka begitu saja. Dia tersenyum puas saat kedua temannya hanya mampu meringis kesakitan sembari memegang kepala mereka. "Nagato," Kyuubu memanggil pria dengan rambut merah panjang yang sedang menatapnya kesal, "Pein," lanjutnya sembari membalikkan badannya dan menatap sosok berambut oranye jabrik dengan banyak paku di wajahnya. "Aku belum puas~"
Nagato dan Pein segera bangkit dari jongkoknya dan menyilangkan tangan mereka ke arah Kyuubi, "No! Kau sudah menganiaya kami pada saat di kelas tadi!" teriak mereka secara bersamaan sembari menatap Kyuubi dengan tajam.
Ya, semenjak pagi tadi, Kyuubi sudah berkali-kali menjitak kedua temannya ini. Sepertinya kekesalan di rumah membuatnya sedikit sangat kesal. Dia menghela napas lelah sembari menatap temannya dengan pandangan datar. "Dirumahku ada orang gilaaaa!" ucapnya sembari memasang tampang horror ke arah Nagato dan Pein.
Nagato menggaruk kepalanya sembari menguap lebar. Matanya menatap Kyuubi dengan malas. "Kyuu, setiap hari juga kau ketemu orang gila. Jadi, jangan berlebihan seperti itu. Dasar!" ucapnya sembari menatap Pein yang menatap mereka berdua dengan bingung. "Ya kan, Pein?"
Pein menatap Nagato dengan bingung sebelum akhirnya mengangguk, "Hm, iya! Iya!" jawab Pein dengan nada penuh semangat.
Nagato menyeringai ke arah Kyuubi sembari merangkul Pein, "Lihat, Kyuu! Seberapa sering kau ketemu Pein? Sangat sering, bukan? Hehehehe!" Nagato tertawa nyaring sembari melepaskan rangkulannya pada Pein. Sementara Kyuubi hanya membalasnya dengan senyuman lebar. Entah kenapa, mempunyai teman seperti Pein itu cukup sangat menarik. Karena … terkadang dia terlalu sering bersikap bodoh.
-VargaS. Oyabun-
Itachi tersenyum tipis saat melihat Sasuke sedang sibuk bermain dengan seekor kucing kecil. Mata kelamnya menatap Sasuke dengan lekat sembari berjalan mendekatinya. "Bagaimana dengan Naruto?" tanya Itachi seraya mendudukkan dirinya di sebelah Sasuke. Dia tersenyum tipis saat kucing yang bermain dengan Sasuke mendekatinya. Tangannya bergerak untuk mengelus kepala kucing tersebut dengan perlahan.
"Entahlah. Sepertinya dia belum cukup umur untuk diajarkan hal-hal yang kita dalami. Dia terlalu … polos? Entahlah," jawab Sasuke cukup panjang lebar sembari membersihkan bulu-bulu kucing yang ada di tangannya. Dia menghela napas lelah sembari memejamkan matanya. Berjalan-jalan di pagi hari membuatnya sedikit letih. Apalagi saat ini sudah menunjukkan waktu siang hari.
"Kau bercanda? Dia sudah SMA, bukan? Yang benar saja!" Itachi mengerutkan keningnya dengan bingung sembari bangkit dari duduknya dan menatap Sasuke dengan lekat. Tatapan tak percaya tampak terpatri jelas di wajahnya.
"Sudahlah, jangan dibahas. Aku sedang lelah. Aku ke kamar," ucap Sasuke seraya mengangkat kucing yang ada di pangkuan Itachi dan menggendongnya dengan sangat hati-hati. Dengan langkah malas dia memasuki rumah yang ada di hadapannya. Helaan napas lega tampak meluncur dari mulutnya saat mendapati kamar Naruto sedang dalam keadaan tak terkunci. Dengan perlahan dia membukanya dan menghempaskan dirinya di ranjang yang tersedia. Sementara si kucing kecil diletakkannya di atas perutnya. Selang beberapa menit, Sasuke sudah dapat menyelami dunia mimpinya.
'TING TONG'
Suara bel tersebut membuat Itachi yang sedang berdiri di depan kamar Naruto terlonjak kaget. Dengan terburu-buru dia menuruni tangga tersebut dan segera membukakan pintu rumah itu.
"Tadai-minggir!" Kyuubi menatap Itachi dengan kesal sembari mendorong pintu tersebut dengan kasar. Tanpa melepaskan sepatunya, Kyuubi meninggalkan Itachi dan terus saja berjalan menuju kamarnya di lantai dua—tepatnya di hadapan kamar Naruto. Matanya sempat menoleh ke arah Itachi yang sedang menutup kembali pintu tersebut. Tak peduli. Kyuubi terus saja melangkahkan kakinya dan memasuki kamarnya dengan kasar dan tanpa mengunci pintu kamarnya.
Itachi menghela napas lelah sembari berjalan menuju kamar Kyuubi. Dengan perlahan dia membuka pintu tersebut. Matanya menatap Kyuubi yang sedang membuka seragamnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Kyuubi yang mendengar adanya suara pintu dibuka tampak menolehkan kepalanya.
"K-kau! Apa kau tid-hmmp!" omongan Kyuubi terhenti saat Itachi menciumnya dengan lembut. Matanya membelalak sempurna saat Itachi menggigit bibir bawahnya dengan perlahan. Sementara tangan Itachi dengan sigapnya memainkan dua tonjolan yang ada di dada Kyuubi yang terekspos. "Ssh-ah!" desisan nikmat meluncur dari bibir Kyuubi saat Itachi menggesekkan barangnya pada barang Kyuubi.
Itachi melepaskan ciumannya dan menggigit telinga Kyuubi. "Kau tahu? Sepertinya kau bukan tipe orang yang penurut. Sepertinya aku harus mengajarkanmu dengan paksaan," ucap Itachi sembari menurunkan wajahnya ke leher Kyuubi dan menggigitnya denga pelan. Kyuubi membungkam mulutnya rapat-rapat. Tangannya terus berusaha untuk mendorong Itachi. Namun sayang, sepertinya kekuatan Itachi lebih mendominan disini. Itachi menyeringai lebar sembari terus menurunkan wajahnya sampai pada dada Kyuubi. Dengan lahap dia mengulum tonjolan di sebelah kanan dada Kyuubi dengan penuh nafsu. Sementara tangan kanannya berusaha menahan tangan Kyuubi.
Kyuubi memejamkan matanya dengan erat saat Itachi menggigit tonjolannya dengan cukup kuat. Dia mengalihkan wajahnya ke samping—tak ingin melihat Itachi. "Oh my!" Kyuubi teriak cukup keras saat Itachi menelusupkan tangannya ke dalam celana Kyuubi dan menggenggam barangnya dengan kuat. Kyuubi berusaha dengan kuat agar suaranya tetap terpendam. Namun sayang, tangan Itachi yang bergerak di bawah sana membuatnya lupa akan segalanya. "Ah! Ssh-ah!" desahan-desahan kenikmatan terus meluncur dari mulut Kyuubi saat Itachi mempercepat gerakan tangannya. "A-akh! A-ahhhh!" lenguhan nikmat keluar dari mulut Kyuubi saat Itachi membuatnya mencapai klimaksnya yang pertama kali.
Itachi melepaskan kulumannya pada tonjolan di dada Kyuubi dan menatap Kyuubi dengan intens. "Kau sangat manis," ucapnya sembari menjilati tangannya yang terlumuri oleh cairan klimaks Kyuubi tadi.
'BRUK'
Suara gaduh itu membuat Itachi dan Kyuubi membulatkan matanya. Kyuubi menatap pintu kamarnya yang sedang terbuka lebar. Matanya melebar sempurna saat menatap keluar kamarnya. "Oh, shit!" ucapnya sembari mendorong Itachi. Dia segera bergegas melihat keadaan diluar. "Na-naruto!" Kyuubi mendekati adiknya yang sedang tergeletak tak sadarkan diri tepat di depan pintu kamarnya. "Hei, sadarlah!" ucapnya seraya menepuk-nepuk pipi Naruto dengan cukup kuat.
Itachi menghela napas lelah sembari menggendong Naruto dan membawanya masuk ke dalam kamar Kyuubi. "Ini semua gara-gara kau, keriput!"
"Hei! hei! salahmu terlalu nyaring saat mende—"
'BLETAK'
"Kau berani melanjutkannya dan aku akan membunuhmu! Cepat bantu aku sadarkan dia!" ucap Kyuubi sembari berusaha mencoba mencari kotak obat yang ada di kamarnya.
Itachi menghela napas sembari terus memegangi barangnya, "Bagaimana akau bisa membantumu kalau kau dalam keadaan seperti itu?" lirihnya sembari tersenyum miris. Matanya menatap Kyuubi yang sedang tak menggunakan atasan dan celananya sedikit basah serta bercak kemerahan di beberapa bagian tubuhnya.
.
.
Sasuke memijat kepalanya dengan pelan. "Ha—ah, aku terbangun karena suara Kyuubi dan Aniki yang terlalu berisik. Dan saat aku membuka pintu, aku menemukan bocah polos itu sudah tergeletak tak sadarkan diri. Apa dia shock? Ha—ah! Apa jadinya nasibku jika dia tidak bisa menerima hal-hal mesum seperti itu. Haiss!" Sasuke menggaruk belakang kepalanya sembari menatap kucing yang sedang menatapnya dengan bingung. "Ya! Ya! Aku tahu nasibku kurang baik. Tapi, hei! dia terlalu lucu untuk aku paksa seperti apa yang dilakukan Aniki. Sudahlah! Kita tidur lagi." Sasuke menggendong kucing tersebut dan kembali meletakkannya di atas perutnya sementara dia berusaha memejamkan matanya kembali.
BERSAMBUNG...
