Scene itu… tampak seperti sengaja di buat slow motion. Tampak sangat jelas… sangat detil… saat Sungmin dengan wajah penuh ketakutan mendorongnya sekuat tenaga… lalu tersenyum saat Kyuhyun telah terhempas dan…

'BRUHG!'

Tubuh itu terpental…

Jauh….

Menyisakan sebuah mini truk di depannya dan pekikan melengking ngeri.

"UMMAAAA!"

.

LETS NOT

Second Puzzle

Genre : Romance , Hurt/Comfort, Drama.

Rate : T

Pairing : KyuMin (Kyuhyun X Sungmin atau Kyuhyun X Taemin ?* Tentukan Sendiri!

Warning : Genderswitch, abal, geje, aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yang membuat fic ini jauh dari kata sempurna.

Disclaimer : Super Junior milik SME, Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun. Not alowed to bashing the cast or other, please! DON'T LIKE DON'T READ!
.

.

Kyuhyun merasakan seluruh tubuhnya melumpuh.

Namun dia tahu… dia masih memiliki kekuatan… kekuatan yang dengan susah payah dia kumpulkan untuk bangkit. Memaksa kakinya yang bergetar, dia berjalan terhuyung-hyung dengan perasaan yang bercampur aduk mendekati kerumunan di depannya. Suara tangis pilu dan jeritan-jeritan seorang yeoja kecil masih bisa didengarnya.

Seakan telah di set otomatis, kerumunan itu memberinya celah untuk berjalan ke tengah dan ke pusat kerumunan.

"UMMA! UMMA!" yeoja kecil di depannya tampak begitu gemetar hingga tak bisa mengatakan hal apapun selain memanggil sosok yang berlumur darah dalam dekapannya.

Kaki Kyuhyun berubah menjadi jelly, membuatnya jatuh berlutut di depan sosok itu… sosok yang sangat di bencinya… sosok yang telah merenggut kebahagiaannya dan…

…sosok yang telah menyelamatkannya.

"Kyuh~"

Kyuhyun menatap iris kelinci yang menatapnya sayu. Ribuan pertanyaan mendesak tenggorokannya, mencegatnya mengucapkan satu katapun.

"Ja-ga Tae-min… jag-a pu-tri ki-ta…" ujar yeoja yang terbaring lemah di atas aspal dengan napas tercekat dan terbatuk-batuk.

"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini?" hampir tak terdengar, Kyuhyun memprotes.

"Mianhe… sekali la-gi aku bertindak e-gois. Aku ha-nya tak mau o-rang yang kucin-tai mati di saat dia mem-benciku, Mian…he… dan… Gomaw—"

"UMMAAA IROENA! UMMAAA UMMAAA!"

Kyuhyun merasakan hatinya teriris begitu dalam. Dia tak tahu kenapa… kenapa rasanya seakan separuh nyawanya ikut terbang saat mendengar lengkingan pilu dari angel kecilnya. Tubuhnya memanas, matanya panas… ngilu, lemah… seakan tulang-tulangnya telah melumer.

Dan membuatnya hanya bisa terdiam.

.

.

Senja mulai turun perlahan, menyelimuti langit biru dengan keanggunan pendar merahnya. Senja yang masih menyisakan isak tangis bagi yeoja berusia tujuh tahun di depan Kyuhyun. Suasana pemakaman itu telah lenggang. Meninggalkan dua Cho yang terpisah dalam dua benteng yang berbeda. Terbatasi oleh gundukan tanah basah.

"Ummaa," rintihan pelan itu bisa Kyuhyun dengar dengan jelas.

Kini tak ada lagi jerit histeris atau raungan terluka. Hanya isakan duka dan rintihan rapuh yang angel kecilnya keluarkan. Semakin berat, semakin sakit. Kyuhyun sendiri terlalu takut, dadanya terasa separuh kosong, jiwanya terasa mengambang. Bahkan kakinya masih sulit untuk sekedar menopang berat tubuhnya yang terasa seperti kapas.

Rasanya lelah, sangat melelahkan. Dia seakan merasakan sebagian dari dirinya telah hilang sementara sebagian yang lain terselimuti kabut kebencian.

'Ini salah,' bisik batinnya.

Dia akui, dia sangat benci yeoja itu. Dia benci dan benar-benar ingin yeoja itu pergi dari kehidupannya. Tapi bukan begini. Bukan dengan kematian yang membuatnya merasa… merasa… kehilangan. Bukan dengan begini seharusnya yeoja itu pergi.

Tapi semuanya telah terjadi kan?

Kyuhyun tak punya pilihan selain menerimanya. Menerima sebagai takdir untuknya, untuk yeoja itu. Untuk Cho Taemin.

"Umma~"

Bisikan lemah itu kembali terdengar dari sosok rapuh di depannya. Ingin sekali Kyuhyun mendekat dan merengkuh sosok itu dalam dekapannya. Menguatkannya, meredakan tangisnya, membagi sakitnya. Ingin sekali…

Dan barang kali dia telah melakukan hal itu sejak awal kalau saja tak ada tatapan penuh kebencian dari iris gelap itu. Iris gelap yang membuatnya semakin takut. Membuat dadanya semakin sakit. Sebagian hatinya terasa hilang dan sebagian lagi terselimuti kebencian. Kebencian yang sangat pekat.

"Min—"

"Pergi," potong yeoja kecil itu lirih.

"Su—"

"Aku tak ingin melihatmu, pergi. Kau telah membunuh Ummaku."

Deg!

Ucapan itu… ucapan itu terucap dengan sangat lirih, namun begitu dingin. Begitu menusuk, terasa begitu nyata sakitnya di dada Kyuhyun.

"Pergi."

Dada Kyuhyun bergetar dalam ketakutan yang begitu hebat. Dia tak ingin, sungguh tak ingin yeoja itu semakin membencinya. Kyuhyun berusaha bangkit. Memilih mengikuti keinginan yeoja itu, tak ingin semakin di benci. Dan yang terpenting… dia tak sanggup bila harus menatap iris gelap penuh kebencian itu.

.

.

Masih hari ketiga. Duka itu masih dengan jelas mengambang di pelupuk mata. Bahkan Kyuhyun masih belum berani bertatap muka dengan putrinya. Dia masih takut. Dia masih belum siap untuk menerima hujaman kebencian dari iris gelap angel kecilnya.

Di sisi lain, Kyuhyun merasakan ada yang hilang dari manor besar ini. Ada yang kurang saat dia tak melihat lipatan pakaian yang telah di siapkan Sungmin di pagi hari. Ada yang kurang saat dia menatap meja makan yang kosong tanpa Sungmin dan tanpa Taemin. Ada yang kurang saat dia pulang dan tak ada Sungmin yang menyambutnya, membawakan tas kerjanya, menanyakan dia ingin makan atau mandi terlebih dulu, menyiapkan air panasnya tanpa kenal bosan meski setiap kali itu Kyuhyun akan mencacinya.

Ada yang kurang dengan udara di manor ini. Ada yang hilang. Semua itu sangat menyiksa, lebih menyiksa saat Kyuhyun tahu… dia tak bisa berbuat apapun untuk mengembalikan semua itu.

Seperti biasa. Meja makan itu kosong, tanpa Sungmin yang selalu menyambutnya dengan senyum meski hanya akan di tanggapi dengan dingin olehnya.

"Tuan, pagi ini sarapannya adalah roti isi tuna dan latte," seorang Housekeeper meletakkan piring berisi roti dan secangkir latte.

"Aaa… dimana Seohyun dan… Taemin?"

"Seohyun-ssi sedang beryoga di lantai tiga, sedangkan Nona kec—"

"Oppa… kau mau mulai sarapan tanpa aku?" sesosok yeoja yang mengenakan pakaian senam ketat muncul dan memotong ucapan si Housekeeper.

"Tuan, sebenarnya ada yang ingin kami—"

"Ya! Kau mau mengganggu sarapan Kyu Oppa eoh? Cepat buatkan sarapan untukku," Seohyun kembali memotong ucapan Housekeeper itu.

Kyuhyun melirik sedikit kearah yeoja itu. Sedikit risih dengan cara Seohyun memperlakukan Housekeepernya. Mungkin karena dia biasa melihat Sungmin ataupun Taemin memperlakukan mereka seperti mereka bagian dari keluarga. Tapi, sudahlah… dia lebih memilih tak peduli dan kembali mengunyah roti tunanya.

.

.

Ini hari ketujuh.

Hari ketujuh tanpa Sungmin dan Taemin. Kyuhyun merindukannya, merindukan yeoja kecilnya lebih dari apapun dia ingin menemuinya, sangat ingin menemuinya. Dia tak peduli bila nanti yang di dapatnya hanyalah makian atau tatapan kebencian. Dia ingin melihatnya, walau sekejap dia ingin memastikan angel kecilnya baik-baik saja.

Langkahnya cepat, menyusuri Cho manor menuju sayap kiri lantai dua. Tempat dimana kamar angel kecilnya berada. Di tangan kirinya terjinjing plastik berisi penuh banana milk dan lengan kanannya memeluk teddy bear pink berukuran sedang.

Dia tak berharap Taemin akan menerimanya, dia bahkan telah pasrah bila semua itu akan tergeletak percuma di dalam tong sampah. Dia hanya ingin… menunjukkan bahwa dia masih sangat menyanyaginya.

"Minnie chagi," dia mencoba mengetuknya sebelum membukanya. Karena bagaimanapun, dia tahu bahwa yeoja itu tak mungkin menjawabnya.

"Minnie, Appa—" ucapannya terhenti saat melihat kamar itu kosong.

Di kamar Sungminkah? Tapi kenapa rasanya ada yang aneh dengan kamar ini? Kamar ini terasa begitu dingin, seakan lama tak tersentuh pemiliknya. Pikirnya.

Kyuhyun melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya dengan perasaan tak menentu. Lalu melangkah cepat kelantai dasar. Ke kamar Sungmin.

"Tae—"

"Tuan."

Kyuhyun menghentikan gerak tangannya saat hendak memutar kenop pintu. "Waeyo?"

"Tuan mencari Nona kecil?"

Kyuhyun mengangguk ragu. Merasakan ada yang tak beres dengan gerak-gerik Housekeepernya.

"Sebenarnya, kami ingin mengatakan ini sejak lama tapi… tuan selalu kelelahan dan tak banyak waktu dan Seohyun-ssi selalu memotong ucapan kami dan—"

"Katakan saja ada apa!" sergah Kyuhyun. Merasa tak lagi nyaman dengan keadaan diantara mereka.

"Nona kecil… belum pulang sejak pemakaman."

"MWO!" serasa disambar petir. Jantungnya mencelos jatuh ke dasar perutnya dengan darah yang seakan menyusut begitu saja. "BAGAIMANA BISA!"

"Ka-kami… kami sudah mencoba mengatakannya pa-da tuan ta-tapi…."

"TELEPON POLISI DAN KUMPULKAN SEMUA BODYGUARD! AKU INGIN TAEMIN DI RUMAH INI MALAM INI!"

"Ka-kami sudah mencoba mencarinya dengan menghubungi polisi, detektif dan siang tadi Park-ah mendapatkan info kalau kemungkinan Nona kecil ada bersama Choi Minho. Tapi kami jelas tak bisa mendekati tuan muda Choi karena keamanannya lebih ketat dari pada keamanan Nona kecil."

.

Kyuhyun mengumpulkan semua bodyguardnya dalam waktu singkat. Dia tak tahu perasaan apa yang kini bercokol di dadanya. Sesak, kesal, marah, tapi entah pada siapa. Pada dirinya sendiri, mungkin. Dia memang tak bertemu Taemin sejak dari pemakaman hari itu,tapi dipikirnya, jelas bukan karena ketiadaan Taemin di rumah, tapi karena kepengecutannya sendiri yang tak sanggup bertemu Taemin.

Kepecundangannya sendirilah yang membuat dia tak mampu menatap figure putri kesayangannya. Kesayangan huh? Dia bahkan telah menorehkan luka yang jauh lebih besar dari siapapun di dunia ini.

Kyuhyun meremas kedua telapak tangannya cemas. Berulang kali memperingatkan Drivernya untuk menambah kecepatan mobilnya.

Choi Minho.

Siapa yang tak mengenal keluarga Choi? Dalam bidang usaha, Choi memang berada di bawah Cho. Tapi, di bidang lain, keluarga Choi berada jauh di atas Cho, karena Choi adalah keluarga Mafia terhormat. Dengan Choi Siwon sebagai kepala keluarganya, bahkan kini dia mampu melebarkan cengkraman kakinya hingga ke China. Dan jelas, kedudukan itu membuat Cho berada jauh di bawah Choi. Kyuhyun tak bisa bermain-main dengan datang dan mendobrak pintunya kemudian menarik Taemin keluar begitu saja.

Harus dengan 'jalan' depan. Lagi pula, setahunya Choi Minho adalah sosok 'Guardian Angel' bagi Taemin. Dulu, seringkali Taemin menceritakan tentang aksi kepahlawanan Minho untuk dirinya yang memang sering menjadi 'ladang' bullying dari teman-temannya.

Minho punya kedudukan khusus di hati Taemin, kedudukan yang membuat Kyuhyun menjauhkan kata 'Penculikan' dalam hal ini.

"Tuan," Kyuhyun menengadah segera saat mendengar suara Drivernya memecah keheningan dalam mobil itu. "Kita sudah sampai."

Benar saja. Sebuah gerbang besar berdiri di hadapan Kyuhyun, dan seorang berpakaian hitam-hitam lengkap dengan kacamata, berjalan kearahnya.

"Tuan Cho, kehormatan dapat menyambut anda," Guard itu menunduk saat kaca hitam di samping Kyuhyun turun perlahan.

"Aku ingin bertemu dengan Minho, Choi Minho," tembak Kyuhyun, tanpa basa-basi.

"Aa, Tuan Muda?" Guard itu tampak terkejut sesaat. "Beliau masih dalam jadwal judonya, Anda mungkin harus menunggu beberapa saat."

"Katakan saja padanya aku ingin bertemu," ujar Kyuhyun, keras. Tak mau posisinya diremehkan.

"Ah. Baiklah."

Guard itu memberi sebuah kode dan gerbang besar itu pun terbuka, membiarkan mobil Kyuhyun dan dua mobil tumpangan guardnya masuk. Kyuhyun akui, rumah itu berpengamanan jauh lebih ketat dari pada rumahnya. Dua orang berpakaian sama dengan yang menyambutnya tadi kini juga menyambutnya tepat di depan pintu rumah itu, mengijinkan Kyuhyun masuk tanpa membawa guardnya.

Tak banyak pilihan, namja itu mengikuti saja aturan di sana. Dia datang bukan untuk mencari keributan, dia datang untuk membawa kembali Angel kecilnya. Kyuhyun mengikuti langkah seorang dari mereka yang membawanya masuk, memintanya menunggu beberapa saat hingga…

"Cho Ahjussi, lama sekali anda datang."

Kyuhyun telah mendengar tentang sebutan 'Flaming Charisma' untuk keturunan Choi Siwon. Namun baru kali ini dia melihat sendiri bagaimana Kharisma seorang bocah berusia Sembilan tahun itu mampu terpancar begitu hebat hanya dari pandangannya. Choi Minho, berdiri di depannya masih dengan mengenakan pakaian Judonya, membungkuk rendah saat mata coklat Kyuhyun menangkapnya.

"Dimana Taemin?" sekali lagi, Kyuhyun tak ingin berbasa-basi.

Minho berjalan mendekat kearahnya, melewatinya dan duduk diatas sofa berbeludru merah menawan yang tampak elegant.

"Duduklah dulu Ahjussi," Kyuhyun tak menyiakan tawaran itu. Dia duduk tepat di hadapan bocah Choi itu dan menatapnya tajam.

"Katakan saja dimana Taemin berada, SEKARANG."

"Mianhamnida, Saya tidak dapat memberi tahukannya pada Ahjussi sekarang. Tapi percayalah, dia seaman saya dan Ahjussi saat ini."

Kyuhyun mengeram rendah. Dia merasa diremehkan oleh bocah yang usianya bahkan belum genap satu dekade itu.

"Saya punya ini," bocah itu kembali bicara dengan nadanya yang khas. Tenang, teratur dan dalam.

Kyuhyun meraih sebuah ponsel berlayar sentuh yang kini menampilkan sebuah pesan.

From : Nae TaeMinnie

Oppa, sekali ini saja, tolong bantu Minnie.
Beri Minnie tiket ke Jepang, Minnie sudah
mencoba membelinya tapi karena usia mereka
tidak mengijinkannya. Gomawo.

"Ahjussi pasti tahu siapa yang Minnie tuju di Jepang," Kyuhyun menengadah dan meletakkan ponsel itu dengan geram di atas meja.

"Dia—"

"Ahjussi tak perlu khawatir, aku berhasil membujuknya untuk tetap di Korea dan tujuanku menunjukkan pesan itu sebenarnya agar Ahjussi tahu bahwa Minnie bahkan lebih memilih tinggal bersama Sungjin Ahjussi dari pada anda. Jadi, saya mohon agar Ahjussi tidak mengganggunya untuk sementara. Ahjussi boleh mencarinya untuk memastikan bahwa dia memang berada di tempat yang aman, tapi jangan mengganggunya."

Kyuhyun diam. Dia lupa tentang keberadaan namdongsaen Sungmin yang tengah menempuh studynya di Jepang. Demi Tuhan. Apa yang akan Kyuhyun katakana pada namja itu nanti?

"Kau—"

"Dan sebaiknya jangan membuat masalah dengan saya. Maaf, saya tidak bermaksud mengancam,tapi ini demi Taemin. Saya yakin anda pasti tahu seperti apa putri anda, jika Ahjussi membuat masalah dengan saya, dia akan berpikir bahwa kehadirannya hanya menjadi beban untuk saya dan tak menutup kemungkinan dia pergi dari pengawasan saya. Sungguh, satu-satunya tempat yang paling aman untuk dia hanya bersama saya."

Sekali ini, Kyuhyun merasakan dadanya teremas sangat kuat mendengar segala penuturan namja kecil di depannya. Apa yang salah pada dirinya? Kenapa Taemin, putrinya sendiri, putri yang sangat dia sayangi, begitu membencinya?

Dia tahu, Taemin kehilangan Sungmin. tapi bukan salahnya Sungmin pergi kan? Yeoja itu sendiri yang memilih menyelamatkannya dan menghadapi kematian itu. Dan lagi… bukan hanya putri kecil itu saja yang merasa kehilangan. Dia juga merasa kehilangan.

Kyuhyun kembali menatap namja kecil di depannya, wajah serius dan tatapan tajam itu benar-benar tak sesuai untuk usianya. Tapi, apa yang harus Kyuhyun lakukan sekarang? Berterimakasih padanya karena telah menjaga Taemin selama ini atau memarahinya karena telah menyembunyikan Taemin darinya?

Apa yang salah?

Dia ingin memeluk TaeMinnienya dengan erat saat ini. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang bisa Kyuhyun lakukan?

Lee Sungmin

Apa yang akan yeoja itu lakukan bila berada di posisinya… Sungmin… yeoja itu… sangat mengerti Taemin, sangat lembut dan selalu lebih mementingkan Taemin –juga Kyuhyun– dari pada dirinya sendiri.

"Saya berjanji akan menjagannya dengan baik."

Kyuhyun menatap iris itu. Iris gelap yang menampakkan kesungguhan dan keyakinan dalam kata-katanya. Dalam hati kecilnya, Kyuhyun tahu bahwa kata-kata itulah yang dia butuhkan. Seseorang yang bisa menjaga Taemin lebih baik dari pada dirinya.

Taemin membencinya, Taemin memilih pergi dari pada bersamanya. Dia gagal, telah gagal menjadi seorang ayah yang baik untuk putrinya.

Dan sekarang, Kyuhyun merasa malu. Entah kenapa dia merasa sangat malu pada dirinya sendiri dan juga pada Sungmin.

Tak tahu apa yang bisa dia katakan lagi, namja tinggi kurus itupun bangkit. Menggumamkan kata terimakasih menyerupai bisikan dan pergi dari rumah besar itu.

.

.

"Cari tahu di mana Minho menyembunyikan Taemin, aku ingin bertemu putriku secepatnya," perintah Kyuhyun, tegas meski terdengar rendah.

Setelah mendapati anggukan dari guardnya, namja itu masuk kedalam manor besar itu. Emosinya segera tersulut saat mengingat seorang yeoja.

"SEOHYUN!" teriaknya keras, membuat beberapa Housekeeper yang berada di dekatnya terlonjak kaget. "DIMANA YEOJA ITU!"

"Di-di-dikamarnya Sajangnim."

Seperti bom dengan pemicu yang tersulut api. Kyuhyun begitu marah, kesal dan kecewa. Tinggal menunggu seseorang yang paling tepat untuk memuntahkan segalanya.

'BRAK!' dia membanting pintu.

"DIMANA TAEMIN!"

Yeoja yang baru saja terlonjak kaget itu mengerjap-erjap bingung.

"Kau tahu Taemin tak pulang kerumah ini sejak pemakaman?" kali ini Kyuhyun menggunakan volume standar. Tapi jangan abaikan intimidasi dalam nadanya.

"O-Oppa—"

"Kenapa kau membiarkan Taemin di luar sendirian? Kenapa kau melakukan itu," Kyuhyun mendesis, menatap iris yeoja di depannya dengan dingin sekaligus panas. Namja itu maju selangkah, mendekat.

"O-Oppa… aku-aku—"

"KENAPA KAU MEMBIARKAN TAEMIN DILUAR TANPA MEMBERITAHUKU!"

"Mianhe… mi-mianhe… aku… sungguh tak bermaksud seperti itu… aku—"

"Keluar dari rumahku."

"Mwo?" Seohyun menatap tak percaya pada iris kecoklatan di depannya. Tubuhnya yang sedari tadi kaku dalam ketakutan kini jatuh lemas.

"Kau dengar, keluar dari rumahku," Kyuhyun sama sekali tak memberi kesempatan bagi yeoja itu bicara. Berlalu dari kamar itu dengan menutup pintunya dengan keras.

Tak pernah ada yang membuat Kyuhyun sekesal ini, tak pernah ada yang berani membuat Kyuhyun semarah ini. Yeoja itu… berani-beraninya dia menyepelekan Taemin, berani-beraninya dia…

"ARGH!"

.

.

Pagi ini terasa sangat sepi meski hari ini adalah hari minggu. Tak terdengar sedikitpun tawa dari little angel kesayangannya, meski terkadang hanya terdengar sayup-sayup dari dalam kamar Sungmin, itu… terdengar jauh lebih baik.

Pagi ini Kyuhyun bangun dengan tubuh yang terasa sangat letih. Lalu kembali merasa kehilangan saat menatap jendela dan tirai jendela kamarnya yang masih tertutup. Kyuhyun tak mengerti, kenapa dulu dia tak pernah menyadari bahwa jendela dan tirai jendela kamarnya selalu telah terbuka saat dia terbangun. Hingga dia akan merasakan udara segar yang memasuki paru-parunya di pagi hari. Tapi sekarang, sejak delapan hari yang lalu… jendela dan tirai jendela itu selalu tertutup saat dia terbangun.

Kyuhyun menyesap teh paginya dengan pelan, bahkan rasa teh dan kopi paginya pun jadi terasa berbeda. Terlalu manis, seperti yang membuatnya adalah orang yang berbeda dengan yang biasanya.

Meletakkan tehnya di atas meja, Kyuhyun bangkit dan berjalan pelan ke bagian belakang Cho manor itu. Dengan tangan yang menyusup masuk kedalam saku celana piamanya Kyuhyun melangkah. Merasakan suasana suram dari Cho manor itu, merasakan sepinya semua ini, bukan hanya Cho manor itu yang terasa sepi tapi juga hatinya.

Rasanya begitu kosong saat rasa benci itu lenyap bersama sosok yang dibencinya. Rasanya begitu sepi tanpa sosok itu mengganggu hari-harinya. Rasanya… kehilangan itu terlalu besar hingga membuatnya tak mampu merasakan apapun selain kekosongan.

Kyuhyun berhenti melangkah begitu tiba di pintu belakang Cho manor. Mata coklatnya menatap bosan pada kebun mawar yang tampak melayu di depannya. Dia bosan, bosan dengan segala sesuatu yang tampak kehilangan hidupnya di Cho manor ini.

Semuanya tampak mati… pergi… mati bersama Cho Sungmin.

Tunggu.

Cho Sungmin, ha? Jadi kau mengakui dia seorang Cho sekarang? Setelah jiwanya pergi dan jasadnya terkubur di balik gundukan tanah?. Batin Kyuhyun mendebat.

"Aishhh," Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Ya! Kau!" panggilnya pada seorang Housekeeper yang tengah mengelapi Kristal-kristal kaca jendela Cho manor di dekat Kyuhyun.

Housekeeper itu menunduk rendah. "ne, sanjangnim, anda membutuhkan bantuan saya?"

"Siapa yang bertugas merawat kebun mawar ini? Kenapa di biarkan layu ha?"

"Eung… ano.. sajangnim, sebenarnya Sungmin-ssi yang selalu merawat kebun itu dan sepertinya Park-nim lupa menyerahkan tugas itu pada Yardman," ujar Housekeeper yang tak Kyuhyun ketahui namanya itu.

Mendengar nama Sungmin disebut, entah mengapa sebongkah rasa sakit menyerang dada Kyuhyun dalam beberapa detik berikutnya. Kyuhyun menatap prihatin pada kebun mawar kesayangan Ummanya itu. Kebun mawar yang menurut Ummanya dia tanam dengan tangannya sendiri.

"Ambil peralatan berkebun," ujar Kyuhyun dengan wajah menunduk, lalu mengambil napas dalam. "Aku yang akan merawatnya mulai sekarang."

.

.

"Cho sajangnim."

Panggilan seseorang membuat Kyuhyun menengadahkan kepalanya dari kantung pupuk berbau menyengat yang tergeletak di tanah. "Waeyo?"

"Kami melihat Min– umm… Nona Taemin disebuah toko ice cream."

.

.

Disana, Kyuhyun melihat yeoja kecil itu duduk menunduk dengan menyantap ice creamnya tanpa minat. Kepalanya menunduk menyembunyikan raut kelam dalam wajahnya. Sementara di depannya bocah namja berusia sembilan tahun tampak sedang mencoba menarik perhatiannya.

Setelah sepuluh menit lebih bergulat dengan batinnya sendiri, Kyuhyun pun memilih turun dari mobilnya. Mengepalkan kedua tangannya dan menguatkan hati sebelum melangkahkan kakinya.

'klinting'

Bell pintu yang berdenting menarik perhatian beberapa orang, namun tidak termasuk Taemin. Yeoja itu masih memilih menunduk dengan sesekali menyuapkan sendok ice cream kedalam bibir kecilnya.

"Minnie suka ice creamnya? Minnie mau tambah lagi?"

Kyuhyun tersenyum kesal saat mendengar nada lembut dari bocah namja Choi itu. Bagaimana bisa dia berkata selembut itu di depan Taemin sementara di depan Kyuhyun dia bahkan tampak seperti kakek-kakek yang sok menasehati.

Kyuhyun segera menyingkirkan pikiran-pikiran tak penting itu dari kepalanya, karena tiba-tiba saja otaknya terasa kosong saat matanya bertatapan dengan mata berkantung tebal milik Taemin. Rasa duka itu masih tergambar jelas dari wajahnya, pembawaannya dan iris gelap itu.

'Sraakk'

Taemin berdiri dengan kasar hingga membuat kursinya terdorong paksa kebelakang. Dan sebelum Kyuhyun sempat mengatakan apapun, yeoja kecil itu telah berlalu dari hadapan Taemin.

Kyuhyun gelagapan mencari udara yang rasanya tiba-tiba saja menghilang. "Minnie… Appa ingin bicara, Min—"

'Klinting'

Bell kembali berdenting saat Taemin melangkah keluar dari kedai toko ice cream itu begitu saja. Kyuhyun berlari, secepat yang dia bisa untuk menyusul yeoja kecl itu. Tak bisa. Rasanya sangat menyiksa ketika menatap iris gelap penuh kebencian padanya.

Inikah yang Sungmin rasakan saat dia menatap yeoja itu dengan penuh kebencian?

Inikah balasanmu, Cho Sungmin?

"TAEMIN DENGARKAN APPA! A-APPA INGIN BICARA, APPA INGIN MINTA MAAF!" Teriak Kyuhyun.

Angel kecilnya berhenti berlari dan berbalik menghadap Kyuhyun. Kyuhyun sedikit bernapas lega. Dia mencoba tersenyum lembut untuk putrid kecilnya.

"Pergi. Minta maaflah pada Umma dalam kuburnya!"

"Minnie Appa—"

"Minnie membencimu! Kau membunuh Umma Minnie! Minnie akan membencimu seumur hidup!" ucap yeoja kecil itu keras, tegas seakan menunjukkan kesungguhan dalam kalimatnya.

Kyuhyun memejamkan matanya, mengepalkan tangannya, menahan getar tubuhnya karena rasa sakit yang teramat hebat mencengkram dadanya. "Mianhe…," Kyuhyun berujar lirih. "Jeongmal Mianhe, jangan benci Appa."

Taemin berpaling akan berbalik kalau saja Kyuhyun tidak menahan pundaknya.

"Minnie… Appa mohon, dengarkan Appa. Appa menyesal, Appa—"

"Minnie akan membencimu seumur hidup!" ucap bocah itu sekali lagi sebelum mendorong tubuh Kyuhyun menjauh dan berlari pergi, lagi.

Kyuhyun merasakan darahnya menyusut tuntas, paru-parunya penuh sesak oleh pasir panas yang tak menyisakan oksigen. Tubuhnya tak sanggup bergerak hingga sebuah teriakan menyentak kesadarannya.

"MINNIE AWAS!"

Kyuhyun menatap Minho yang berlari kearahnya dengan wajah penuh ketakutan dan kengerian. Ketakutan yang secara nyata membuatnya merasakan rasa takut dan ngeri yang sama. Tak tahu apa yang terjadi, Kyuhyun berlari, mendahului Minho dan mencari keberadaan Taemin…

Kyuhyun masih belum bisa mencerna apa yang terjadi saat suara hantaman terdengar telinganya. Sekejap kemudian dia tersadar… ada tubuh yeoja kecil yang terpental jauh di tengah keramaian lalu lintas.

Demi Tuhan. Kyuhyun merasakan nyawanya di cabut dua kali.

"TAEMIN!"

_TBC/FIN_

Hello semuaaa~ dateng dengan bibir jontor abis nyipok seratus orang lebih. Puji Syukur Lhyn ucapin saat melihat respon yang sangat baik dari readers semua. Baru sekali ini Lhyn dapet Rifyu dengan angka yang teramat fantastis! Okhe, bagi sebagian kalian mungkin angka ini adalah hal yang biasa,tapi bagi Lhyn… SUMPAH Lhyn ampe ngecek berkali-kali apa bener Fic yang Lhyn publis ini Fic buatan Lhyn, bukan Fic author lain yang Lhyn simpen karena ga sempet baca OL. Untuk angka ini, Lhyn pengen membungkuk dalam dan berucap :

"TERIMAKASIH SEBANYAK-BANYAKNYA." Untuk :

AIDASUNGJIN, Minoru, VainVampire, BunnyMinnie, maharanidhea21, Hana, Han Neul Ra, Jang Young Wook, Diasdiasdias, Keys47, Cho MiNa, Rulilucious,PinKyu, Melani KyuminElfSha137, ChiKyumin, Rima KyuMinElf, SooHyun1997, .ELF, Mei Hyun15, aissh-ii, Kim Soo Hyun, Youngie16, Dilla Choi, KyuLoveMin, HanKyuni, .790, , Mugiwara Eimi, Kimhyena, AkemyYamato, KyuKyuSomnia, Syubidubidu, Imcherlonntan, Lytte, Ankim, Minyu, Heeyeon, UrrieKyu, iNaLeeFishy, BabyKyuTemin, KMS Kyuminshiper, Kiri Devil, Pryscil-chan, Nana Ayumu, Eunhae25, danhobak98, ChouCr-S01arisato, AfrilClouds, LovelyMin,Rafah Aulia, NiKyunmin, ChwangMine95, Cha, Mitade13, Ji0298, ELLE HANA, Zakurafrezee, Winecoup134, Hyuknie,ReaRelf, Sucikudo, Cho Sarie, Epthy. , Princess Kyumin, KyuminYewook,Minoru, Leeminad, Widyaflys24, Ayu Kyumin, Farchanie01, Daraemondut, Jaara'Kyuminshipper, Riyu, Minniemin, Diitactorlove, Hwonwon, Kyurin Minnie, El 137, ChoHuiChan, Cho Rai Sa, Yjjj1121, Kim Heeya, CMYoung137 dan 42 orang GUEST yang telah bersedia merifyu Fic Lhyn.
Lhyn Harap selanjutnya jangan ada Rifyuwers yang Lupa mencantumkan Nama, Agar Lhyn tahu kepada siapa Lhyn Harus berterimakasih. *bungkuk2*

Answer for the question *sok ingris belepotan*

Q : Masukin Siwon, Masukin Donghae?

A : whehehe.. mianhe, Siwon oppa Cuma bisa Lhyn keluarin namanya aja, orangnya Lhyn simpen buat sendiri aja *kabur dari amukan siwoners* hehe.. kalo pengen liat siwon banyak2 baca aja "After All" *promo dibalik batu*.yang minta Hae Oppa, tunggu besok ya, tapi ga banyak juga, kalo mau banyak tunggu Bitter Love *promo dalam selimut*.

Q : Berapa umur Taemin?

A : Umur Taemin 7 tahun.. Kyu 25, min 27, Minho 9 tahun. Umur Lhyn Rahasia *dibekep* #gaditanya

Q : Maksud "Kalau saja."

A : Itu bukan typo kok.. cuma kegajean Author aja dalam berdiksi.. wehehe.. gagal total ya... Mianhe...

Q : minta Nama Fb, Twitter dan Blog?

A : Facebook : Kanista ran, Twit : Ran1509 (jarang tersentuh), Blog : kanistaran dot blogspot dot com (blog asal, Cuma buat asal nyimpen Fic-Fic Screenplays Lhyn)

Lhyn mencoba menghargai semua pilihan Readers ya… bagi yang pengen Sad ending, mungkin chap ini bisa di sebut ending ya. Maaf kalau kurang puas *bungkuk2* dan untuk yang minta Happy Ending, tunggu chap 3 ya…

Kembali ngomongin Sexy, Free & Single : ada yang merasa album ini adalah album untuk Fishy? Entah Cuma Lhyn aja yang ngerasa atau emang begitu adanya kalau… Donghae punya banyak PART di SF&S! Yes! Dia juga jadi center dance di MV SF&S (sebenernya agak sebel sih, abisnya posisi ntukan paling cocok buat Eunhyuk, tapi pas liat Eunhyuk dapet part nyanyi –bukan Rap– OHO! Its Great!) Suara Donghae juga lumayan mendominasi bersama KRY di beberapa Lagu, dan di Gulliver juga Rockstar terdengar suara Rap Donghae. Yeah! Lhyn ngerasa disini SM sedang menganak Emaskan Uri Oppa Fishy!

Aish! Cukup ocehan ga jelas di atas…

Lhyn masih setia menunggu Rifyu kalian, sama setianya Lhyn menunggu Uri Leader Teukie Oppa kembali dari Wamil *berangkat aja belom*

Last.

Mind to Rif-Kyu