Cintaku akan selalu bersamamu…

Menyertaimu, di mana pun kau berada…

Sasuke memejamkan kedua kelopak matanya, "Au revoir (Sampai jumpa), Cherry…"

"Sas…"

"Goodbye… you always in my heart."

"SASUKE…!"

Sampai di sini perjalananku

Aku akan terlelap untuk selamanya.

Au revoir, Cherry…

.:*:.

AU, Out Of Characters, Ugly Diction etc.

Banyak flashback.

Don't like? Don't read!

.

.

.

Italic : flashback, kalimat tertentu dan kata-kata asing

.

Italic + bold or bold = penggalan puisi

.

Point of View Poetry : Sasuke

.

.

.

'Die' is the best way out which ever existed on this earth

Uchiha Sasuke


"Hiks…"

"Ayo…"

"Jangan menyerah!"

"Berdoalah!

"Masih banyak kesempatan. Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik!"

Piip piip piiip piiiiii—

"TIDAAAK!"

"Sabarlah, Sakura. Sasuke pasti selamat. Kau harus yakin itu!"

Kuharap saat ini bukanlah gurauan belaka

Saat masih kudengar tangismu

Saat masih kudengar suaramu

Saat masih kurasakan hangat cintamu

Meski tak dapat kulihat wajahmu

.

Flashback

.

"Apa kau percaya keajaiban? Suatu saat nanti kau pasti akan mengalaminya."

"Tidak terlalu," jawab Sasuke datar, "keajaiban hanya untuk orang-orang yang putus asa."

Sakura mengerucutkan bibirnya. "Jangan begitu. Setiap orang akan mempunyai satu moment di mana ia akan diselamatkan oleh keajaiban."

"Tahu dari mana, kau?" Sasuke berdiri perlahan menuju tepian sungai yang memantulkan sinar sang rembulan.

"Menurutku saja. Tapi itu memang benar!" ujar Sakura masih tak mau kalah. "Ingat selalu kata-kataku barusan." Sakura kemudian berdiri menghampiri Sasuke. "Keajaiban itu ada! Dan itu tidak mustahil."

"Seberapa akurat analisismu barusan?"

"Sembilan puluh sembilan persen!"

"Baiklah, akan kupegang! Kita buktikan. Apakah aku akan mengalaminya nanti."

Sakura mendesah pelan, "Biasanya keajaiban ada saat kita menghadapi ajal." Gadis itu lalu tertawa renyah.

"Hn." Sasuke memperhatikan Sakura lekat-lekat. 'Rasanya ada yang kurang. Tapi apa?'

"Sasuke?"

"Hn."

"Lihat bintang itu!" Sasuke mengikuti arah jari telunjuk Sakura. Ditatapnya tajam objek yang dimaksud kekasihnya itu. "Indah bukan? Kata orang, bintang itu adalah saudara-saudara kita yang sudah meninggal. Ia sedang melihat apa yang kita lakukan sekarang."

"Kau terlalu banyak membaca buku mistis. Orang yang sudah mati pasti ada di hadapan Tuhan," kata Sasuke tak percaya. Ia kemudian mendekap Sakura dari arah belakang. Dikecupnya singkat pipi ranum kekasihnya itu. Semburat merah tipis tampak menghiasinya.

"Kau ini…" Sakura melepaskan pelukan Sasuke lalu membalikkan badannya menghadap kekasihnya itu. "Kau harus istirahat. Besok ada rapat Senat."

"Hn."

.

.:*:.

Yang Terindah dan Terakhir

Chapter 2 : My Way

.

.

Angst – Poetry – and a little bit Romance – Friendship

.

© Ai Kireina Maharanii

.:*:.

'Keajaiban itu ada!'

Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu. Tapi Sakura masih saja terpuruk. Dia tidak ada hentinya menangisi pemuda yang amat dicintainya itu.

Seminggu saja tanpa senyumannya terasa begitu lama. Sakura menghiperboliskan bahwa waktu satu minggu itu seperti satu tahun. Keterlaluan.

Ino sudah berulang kali membujuknya agar tetap bertahan dan terus berdoa. Tapi tetap saja, tak mempan pada Sakura dengan sikap keras kepalanya itu.

Setiap hari yang dilakukan Sakura hanya melamun dan melamun saja. Entah apa yang dipikirkannya. Terkadang ia tertawa sendiri bahkan menangis. Semua orang yang berada di dekatnya tentu saja khawatir.

.

.

.

"Sedang apa?" sapa Sasuke pada Sakura yang sedang melamun sendiri di kursi taman fakultas kedokteran.

Sakura tersenyum hangat, dipalingkannya wajah ayunya itu menghadap Sasuke. "Memikirkanmu," candanya. "Apa rapat senat sudah selesai?"

Sasuke kemudian duduk di bangku sebelah Sakura yang kosong. "Sudah. Malam nanti ada acara?"

"Tidak," jawab Sakura sekenanya. "Ada apa?" ucapnya dengan nada menyelidik.

Sasuke menarik napas pelan, "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Bagaimana?"

"Tentu saja aku mau. Jam berapa?"

"Jam tujuh malam nanti kujemput di rumahmu. Sekarang ayo pulang."

Sakura berdiri dengan penuh antusias. "Siap pangeran!" Lagi-lagi ia bercanda. Tapi kali ini ada sedikit nada mengejek dalam ucapannya.

"Hn."

.

Tok tok tok

'Itu pasti dia!' batin Sakura. "Mom, aku mau pergi dulu, ya. Au revoir! (Sampai jumpa)" pamitnya sembari berlari menuju pintu depan.

"Oui. Coeur-coeur amour! (Ya. Hati-hati sayang!)" jawab ibunya dari arah dapur.

"Of course, Mom."

"Bagaimana. Sudah siap, Maȋtresse?" goda Sasuke yang sukses membuat semburat tipis di wajah Sakura.

"Tentu saja, Maȋtre."

Mereka berdua pun bergegas menuju sebuah tempat yang sudah dijanjikan Sasuke itu.

Tak selang berapa lama, mereka pun sampai di tempat tujuan. Tempat yang sangat indah.

Sebuah taman di bawah menara Eiffel. Cahaya sang rembulan terbias begitu sempurna di antara hidangan-hidangan yang tertata di sebuah meja di taman itu. Hidangan yang sederhana namun dapat berkesan lebih.

Dengan penerangan yang hanya mengandalkan beberapa buah lilin itu menjadikan tempat ini begitu romantis dan sempurna. Sasuke pandai memilih tempat rupanya.

"Bagaimana?" tanya Sasuke memecah keheningan yang melanda mereka berdua. Sebuah senyuman tipis terpeta di wajah pemuda stoic itu.

"Sasuke…" katanya dengan wajah yang berseri-seri. "Katakan padaku bahwa ini adalah mimpi."

"Ini bukan mimpi, Cherry." Sasuke membantu Sakura duduk di kursi yang telah disediakan Sasuke sebelumnya—yang kemudian disusul dirinya yang duduk di bangku sebelah depan Sakura. Posisi mereka saat ini yaitu duduk saling berhadapan. "Kau suka?"

"Sangat suka." Sakura tersenyum hangat seraya menggenggam telapak tangan Sasuke. 'Dingin'. "Sasuke, apa kau kedinginan? Cuaca di malam Natal ini tak begitu baik."

"Aku baik-baik saja, Cherry," katanya sambil mengelus pipi Sakura. Keremangan malam Natal ini diperindah dengan beberapa tumpukan salju di sekitar menara Eiffel. Tak lupa semilir angin pun ikut menambah romansa indah bagi sepasang kekasih yang sedang berbahagia ini.

"Kau yakin?" ulangnya cemas.

"Hn," responnya seperti biasa. "Ada yang ingin kubicarakan, Cherry."

"Apa?"

"Sebaiknya kau meminum coklat hangat itu dulu," kata Sasuke seraya meneguk secangkir coklat hangat miliknya—diikuti Sakura sesaat kemudian. "Udara semakin dingin sepertinya."

Sakura menaruh kembali cangkir miliknya. "Benar. Dan tanganmu pun semakin dingin, Sasu. Apa kau—"

"—sssttt…" potong Sasuke dengan jari telunjuk berada di depan mulut kekasihnya. "—aku tak akan mengacaukan moment ini, Cherry. Sudah kubilang, aku baik-baik saja."

Mau tak mau Sakura menurut saja apa kata Sasuke tadi. Ia pun mengangguk tanda mengerti.

"Sakura…" ucapnya lagi, "maukah kau duduk di sana?"

"Tentu." Mereka berdua pun segera menuju tempat yang dikatakan Sasuke tadi. "Salju sudah mulai turun."

"Hn."

"Sasuke… aku tak ingin kehilanganmu."

Sasuke mendekap pelan tubuh Sakura yang berada di sampingnya. Lalu dikecupnya singkat pucuk kepala gadisnya itu. "Me too." Ia kemudian mengambil sebuah kotak berwarna merah maroon dari dalam kantong celananya. "Ini untukmu."

Sakura menerimanya dengan wajah yang memerah. "A-apa in—"

"—sstt, buka saja. Lalu pakailah!"

Dibukanaya kotak itu perlahan. Tak bisa dihindari lagi, Sakura pun menagis bahagia. "Ini untukku?"

Sasuke mengangguk mantap. Diarahkannya wajah Sakura agar berhadapan langsung dengan wajahnya. Deru napas Sakura pun dapat Sasuke rasakan langsung. "Maukah kau menjadi tunanganku?"

Sakura tak bisa meredam tangis kebahagiaannya. Ia pun mengangguk mengiyakan. "Tapi—"

"—hn?"

"—kita bertunangan setelah kita lulus," tawar Sakura agak ragu.

"Kenapa tidak?" seringai Sasuke. Detik berikutnya jarak diantara mereka semakin menipis. Lalu kedua bibir mereka saling menempel. Membagi rasa cinta dalam kehangatan masing-masing.

Lama mereka berciuman hingga Sasuke kemudian melepaskannya. Ia terbatuk. Wajar, karena salju semakin lama semakin banyak saja. Sakura sangat merasa cemas akan kesehatan Sasuke saat ini. Ia akan merasa sangat bersalah apabila sampai terjadi sesuatu pada calon tunangannya itu.

"Sas—"

"Uhukk…"

"—SASUKE!"

.

.

.

"Sakura?" ucapan Ino sukses membuyarkan lamunan Sakura akan kenangan indahnya bersama Sasuke dulu.

"Hm?" respon Sakura malas. "Bagaimana keadaannya?" Tak terasa, bulir air mata itu kembali mengalir di pipinya.

Ino merasa semakin cemas akan kesehatan sahabatnya ini. "Kau harus makan, Sakura. Sejak kemarin kau belum makan. Kalau kau terus begini, kau bisa sakit."

"Hahaha…" tawanya hambar, "… yakinlah aku baik-baik saja. Ada siapa di dalam?"

Ino hanya dapat menghela napas pasrah, "Kak Itachi. Makan dulu, ya?" bujuknya lagi.

"Aku tidak sedang nafsu makan."

"Ayolah, Sakura. Jika ayahmu sampai tahu, ia pasti akan cepat-cepat pulang dari Amerika. Dan untung saja, ibumu juga sedang berada di Italia. Kau tidak ingin mereka cemas bukan?"

"Kalau mereka tahu pun pasti ta'kan peduli. Aku yakin…" gurau Sakura asal. "Mereka terlalu sibuk."

Lagi—Ino menarik napas pasrah. "Ia tidak akan suka melihatmu seperti ini. Sudah seminggu kau terus terpuruk."

"I will follow you…" racau gadis itu lagi dengan isak tangis yang semakin menjadi.

.

.

.

"Bagaimana?" kata Sakura di sela isak tangisnya.

"Apa kalian keluarganya?" ujar sang dokter tak mengindahkan ucapan Sakura.

"Saya calon tunagannya, Dok," jawab Sakura cepat. Ia ingin segera mendapat kepastian akan kondisi kekasihnya itu.

"Baiklah…" dokter itu menghela napasnya prihatin. "Mari ikut ke ruangan saya."

"Baik, Dok." Sakura dan Itachi pun segera mengikuti langkah sang dokter menuju ruangannya.

"Jadi…" dokter itu menautkan kedua tangannya di atas meja. Tatapannya pun menajam seiring penuturannya akan kondisi Sasuke saat ini. "Apakah Tuan Uchiha terlalu sibuk?"

"Kurasa biasa-biasa saja," jawab Itachi datar. Diliriknya Sakura yang setengah menggigil menahan tangis maupun dinginnya suhu Paris saat ini.

"Tuan Uchiha mengidap penyakit Ataksia. Penyakit yang hampir setara dengan kanker ini sudah mencapai stadium akhir. Apakah Tuan Uchiha tak pernah menceritakan kondisinya?"

"A-apa?" refleks Sakura kaget. "Sa-Sasuke tak pernah menceritakan apapun tentang kesehatannya." Ia pun kembali meneteskan air mata.

"Separah itu kah, Dok? Lalu bagaimana langkah penyembuhannya?"

"Maaf, Tuan. Sampai saat ini belum ada yang selamat dari penyakit ini. Para pasien yang menderita Ataksia hanya dapat bertahan dengan obat-obatan dan terapi saja," tutur dokter itu lagi. Wajahnya menyiratkan rasa keprihatinan yang begitu mendalam.

"Sasuke…" Sakura meringis dengan tatapan yang amat kosong. Itachi yang melihatnya pun berinisiatif untuk segera membawa Sakura keluar.

"Baiklah, Dok. Terima kasih bantuannya. Kami akan menunggu di luar. Jika ada yang perlu kami lakukan, silahkan hubungi saya," ucap Itachi kemudian mendekap Sakura dan membawanya keluar. "Kau harus sabar, Sakura."

.

.

.

.:*:.

Piip piiip piiip piiiiip piip

Suara elektrokardiogram yang memperlihatkan penampang kerja jantung Sasuke saat ini. Sejak kejadian waktu itu Sasuke terus koma sampai sekarang. Ya, seminggu telah berlalu yang dijalaninya hanya dengan berbaring di atas ranjang.

Berbagai perlatan medis telah terpasang di tubuhnya. Semua usaha telah dilakukan demi mengembalikan kesehatannya. Rencananya, setelah Sasuke sadar kakinya akan segera di-amputasi. Entah itu akan berhasil atau tidak.

"Sasuke…" diusapnya pelan kening Sasuke oleh tangan halus Sakura. "Sadarlah. Setelah kau sadar, kita akan segera bertunangan."

Sakura saat ini tengah berada di ruangan tempat Sasuke dirawat. Ini pun berkat Ino yang membujuk Sakura agar gadis itu mau makan. Ia tersenyum getir melihat tubuh Sasuke yang dipasangi berbagai peralatan medis.

"Kau tidak lupa kata-kataku, 'kan?" dibelainya lembut rambut raven pemuda itu. "Keajaiban itu pasti ada. Dan akan terjadi padamu saat ini juga."

Ino dan Shikamaru yang sedari tadi berada di belakangnya hanya bisa menatap sendu Sakura. Mereka memang tidak bisa merasakan betapa perihnya luka di hati gadis itu saat ini. Sedekat apapun Ino dengan Sakura, tapi tetap saja Sakura hanya dapat merasakan itu semua sendiri

.

.

.

Alunan piano itu kembali kudengar

Meski tak dapat kulihat seutuhnya.

Tapi sampai saat ini masih bisa kurasakan

Aroma khas tubuhmu yang menenangkan.

Akankah bisa kuulang kembali?

Segala rasa yang telah selama ini kita jalani

.

.

.

"Hn…"

Sebuah genggaman tangan yang amat dingin menyentuh pergelangan tangan Sakura. Sontak, dibukanya kelopak mata itu untuk melihat apa yang terjadi. Cahaya matahari membuatnya silau sehingga tak bisa langsung melihat sesuatu yang ada di hadapannya.

Sedetik berlalu. Alangkah kagetnya Sakura ketika didapatinya kelopak mata Sasuke yang tengah terbuka. "SASUKE!"

Teriakannya berhasil membawa segenap yang menunggu sang pemuda masuk ke dalam kamar. "Ada a—"

"Hiks… terima kasih Tuhan!" kata Sakura parau seraya mengecup telapak tangan Sasuke. "Kau percaya kan keajaiban itu ada?" lanjutnya sambil terisak.

"Sa… ku… ra…" ujar Sasuke lirih. Sebulir air mata menetes di pipinya. "Aku ba-baik sa… ja…"

"Jangan memaksakan diri, sobat," ucap Shikamaru seraya tersenyum lega, "kondisimu belum sepenuhnya stabil."

"A… ku ta-tahu itu." Sasuke menggenggam erat tangan Sakura. "Teri… ma ka-kasi… h."

"Sasuke…" Sakura memeluk pelan tubuh Sasuke. "Kita akan segera bertunangan. Kau akan mendampingiku seumur hidup."

"Bila perlu kalian langsung menikah saja," celetuk Ino yang bermaksud mencairkan suasana. Tapi tetap saja tangis haru tetap menyelimuti ruangan itu.

"Sasuke…" Itachi mengusap pelan kening Sasuke, "kau memang adikku. Kau adalah Uchiha sejati," candanya.

"Hei, Sasuke baru saja sadar. Jangan mengacaukan moment ini dengan ucapan-ucapan yang tak jelas," gerutu Ino yang merasa dirinya tak dianggap.

"Aku tahu cerewet," ucap Sakura diikuti senyuman tulus di wajahnya. Semua orang yang berada di sana terlihat lega melihat perubahan ekspresi Sakura. Meskipun kondisinya memang belum benar-benar stabil.

"Biarkan dia beristirahat dulu. Aku ingin menemui dokter. Apa kau mau ikut, Shika?" kata Itachi yang lebih menjurus ke perintah. Shikamaru hanya menggangguk mengiyakan. Ia pun mengikuti Itachi pergi menemui dokter. Sedangkan Ino masih di sana menemani Sakura.

"Semoga hasilnya tidak mengecewakan," gumam Ino sangat pelan ketika melihat kedua lelaki itu keluar dari kamar inap Sasuke.

.

.

.

Aku saat ini masih bisa bersamamu

Selalu didekatmu kapanpun aku mau

Tapi belum tentu esok dan seterusnya

.

.

.

Beberapa hari berlalu sejak Sasuke tersadar dari komanya. Keadaan mulai membaik. Tapi kini Sasuke hanya bisa mengandalkan kursi rodanya sebagai alat untuk berjalan. Tepat. Tiga hari setelah ia sadar, kakinya pun segera diamputasi.

Sulit memang mengingat ia baru saja menginjak usia sekitar dua puluh tiga tahun. Tapi ini memang sudah takdir Tuhan. Penyakit yang disebabkan faktor keturunan ini sedikit demi sedikit menghancurkan hidupnya.

Beruntunglah ia mempunyai seorang kekasih yang tulus mencintainya kala senang maupun susah. Sekitar seminggu lagi mereka akan segera menikah. Mengikatkan mereka dalam tali pernikahan yang sakral. Meski Sasuke tahu bahwa pernikahannya hanya akan menorehkan luka yang semakin besar saja untuk Sakura.

Malam kini kian larut. Beberapa orang memutuskan untuk segera terlelap. Tapi tidak untuk Uchiha bungsu ini. Ia hanya duduk membatu sambil terus melihat keluar jendela. Angin musim semi serasa menghangatkan tubuhnya.

Gemerlap bintang malam kembali mengingatkan ia pada kenangan indah di masa lalu. "Kau benar, Sakura. Keajaiban memang ada," desahnya berat.

Udara sekitar rumah sakit tiba-tiba saja berubah semakin dingin. Entah ini hanya perasaan Sasuke saja atau memang benar. Ditatapnya nanar berjuta bintang yang bertebaran di langit. "Aku akan segera berada di sana, Sakura. Ayah, Ibu, aku akan segera menyusul kalian."

"Sasuke belum tidur?" ujar seseorang dari balik punggung pemuda ini. Sasuke hanya menggeleng pelan. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah satu; Sakura.

"Tidurlah. Angin malam tak baik bagi kesehatanmu," ujarnya lagi, tapi tak dihiraukan sama sekali oleh Sasuke. Pemuda onyx ini tetap terfokus pada langit malam yang gelap itu. Suara desahan terdengar jelas dari mulut pemuda tadi—Itachi.

"Jangan lupakan kata-kata dokter, Sasuke. Jika kau ingin segera sembuh, maka istirahatlah yang baik," ucap Itachi sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Sasuke sendirian di ruangan itu.

"Hn."

Angin malam kian menusuk setiap susunana saraf Sasuke. Diputuskannya untuk berbaring sejenak guna menghangatkan tubuhnya yang benar-benar kedinginan. "Seminggu lagi." Ia berujar lirih. Hah, kemana sifat dingin pemuda itu? Sifatnya yang dulu sekeras batu dan sedingin es itu perlahan mencair, semenjak diakuinya bahwa keajaiban itu ada!

Terbesit dalam benaknya sepenggal kenangan manisnya bersama sang kasih—Sakura—setahun yang lalu.

.

.

.

"Ada apa denganmu?" ujar Sasuke heran melihat Sakura berlari ke arahnya.

"Aku berhasil Sasuke! Nilai ujianku A plus!" riangnya seraya memeluk tubuh Sasuke. "Sesuai janjiku, nanti malam kau kutraktir dinner di restorant tempat biasa kita makan. Bagaimana?"

Pemuda itu tersenyum tipis melihat gadisnya yang tengah berbahagia. "Baiklah," ujarnya datar, dingin dan tanpa emosi. Seakan ia tak turut bersuka cita mendengar kebahagiaan gadisnya itu. "Kujemput kau jam tujuh malam nanti."

"Eiitts!" sergah Sakura cepat. "Aku ingin berjalan kaki kesana. Lagipula tempatnya pun dekat dengan rumahmu, bukan? Jadi biarkan aku yang menjemputmu, Pangeran!" kekehnya geli melihat reaksi Sasuke.

"Kau yakin? Jaraknya lumayan jauh jika ditempuh dengan jalan kaki."

"Positive! Bukankah berjalan itu sehat? Misalkan jika kau menjemputku, berarti kau harus berputar arah dulu. Dan itu memakan waktu, tahu!" tukas Sakura penuh kemenangan.

"Hn." Sasuke hanya bisa menuruti saja apa yang dikatakan kekasihnya. Tapi apakah benar keputusannya?

"Bagaimana? Berjalan itu tidak buruk kan?" ucap Sakura penuh semangat. Ya, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju restorant yang biasa mereka datangi. "Berjalan kaki selain sehat, juga menghemat bahan bakar. Lalu—blablabla…"

Celotehan Sakura sama sekali tak pemuda itu indahkan. Ia tetap terfokus pada jalanan yang berada di depannya. Jalanan ini tak begitu ramai. Penerangan di jalanan ini pun kurang cukup—menurutnya. Karena sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah kegelapan yang nyata.

Sesekali mereka merapatkan mantelnya bahkan Sasuke sesekali menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya guna mencari kehangatan di tengah malam bersalju ini. Padahal, kalender baru saja memasuki bulan Desember. Seharusnya aku tidak menyetujui ucapan gadis itu, rutuknya dalam hati.

"Kau mau pesan apa?" tawar Sakura ketika mereka sudah sampai di tempat tujuan.

"Kopi rendah gula saja."

"He?" Sakura mulai berfikir, sejak kapan Sasuke suka meminum kopi, karena setahunya Sasuke amat tidak suka dengan minuman berkafein tinggi itu. Jangan-jangan ini pengaruh dari Naruto lagi, pikirnya mulai meracau. "Eng—a… Sasuke, sejak kapan kau suka minum kopi?"

"Sejak dulu aku suka minum kopi. Tapi aku berhenti ketika ayahku meninggal." Ia menarik napas sejenak. "Kurasa tak ada salahnya jika aku mencobanya kembali."

Sakura merasa bodoh sendiri. Kenapa kekasihnya ini tak pernah bercerita kepadanya? "Baiklah. Hanya itu?"

"Hn."

"Permisi, saya pesan secangkir kopi rendah gula dan segelas jus strawberry," pesan Sakura pada pelayan yang sedari tadi terus menunggunya.

"Ya. Tunggu sebentar, Nona," jawab pelayan itu sopan kemudian segera membuatkan minuman pesanan Sakura.

Lima menit berlalu, akhirnya sang pelayan kembali dengan nampan berisi minuman yang Sakura pesan. "Ini dia. Selamat menikmati!"

"Terima kasih." Sakura memberikan senyuman manisnya yang membuat pelayan itu menjadi salah tingkah. "Ayo diminum."

"Hn."

"Jadi janjiku sudah lunas, kan?" kata Sakura dengan cengiran penuh kemenangan.

"Aa."

Sakura menyeruput jusnya dengan penuh perasaan. Diliriknya sebentar Sasuke yang sedari tadi hanya terus diam membatu. "Sasuke, setelah ini kita mau kemana?"

"Pulang," katanya seraya mengambil ponsel yang berada di sakunya. Dilihatnya siapa yang mengiriminya sms.

"Kenapa?" Sakura cemberut mendengar perkataan Sasuke barusan. "Tidak makan dulu?"

Sasuke menggelengkan kepalanya, "Sepertinya akan terjadi badai salju." Ia lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Salju yang turun pun mulai banyak."

"Yah—" Sakura kecewa dengan keputusan Sasuke. "—hhh… tapi baiklah. Ayo pualng. Eh, sebelumnya habiskan dulu kopimu."

"Hn."

.

"Sasuke?"

"Hn."

Sakura semakin merapatkan mantelnya. Udara dingin seakan makin menusuk susunan sarafnya. "Apa kau tidak kedinginan? Mukamu tampak membiru. Apa ka—"

"—aku tak apa," potong pemuda itu cepat, "kau ingin berjalan bukan? Kalau begitu ayo cepat!" Langkah kaki pemuda itu semakin cepat. Ia tak menghiraukan sama sekali dingin yang semakin membekukan tubuhnya. Rasa nyeri tiba-tiba saja menyerang jantungnya ketika memasuki belokan terakhir menuju rumah mewah khas Uchiha itu.

"Terima kasih, Sasuke. Selama ini kau sudah sangat baik padaku." Sebuah senyuman penuh kebahagiaan terlihat di wajahnya. Sepertinya Sasuke tak menyadari hal itu, karena keadaan cahaya yang remang-remang.

"Hn—"

brukk

"Sa—Sasuke…!"

Kekasih yang amat dicintainya itu jatuh tergolek lemah di atas tanah bersalju tebal. Tubuhnya serasa membeku dengan wajah yang sangat pucat membisu.

Kepingan-kepingan salju mulai kembali berjatuhan. Seiring isak tangis Sakura yang semakin menjadi.

.

.

.

April, 15th XXXX

Waktu berlalu sangat cepat. Seminggu telah berlalu sejak Sasuke bisa kembali normal—meski tanpa kedua kakinya.

Hari ini adalah hari pernikahan kedua insan yang tengah melewati banyak rintangan itu. Sejak shubuh pagi tadi, mereka sudah siap untuk berangkat menuju gereja. Ada yang lain di wajah Sasuke. Air mukanya tampak agak sedikit lebih pucat dari biasanya.

"Apa kau yakin, Itachi?" Pria bermata onyx itu menatap tajam kakaknya. "Aku tidak yakin."

Itachi menepuk pelan pundak Sasuke, "Percayalah. Bukankah keajaiban itu ada? Kami di sini selalu ada untukmu, kapanpun dan dimanapun."

Sebuah tarikan napas panjang terdengar dari bibir mungil Sasuke. Matanya menyiratkan banyak arti. Salah satunya keyakinan bahwa semua ini akan berjalan dengan lancar. Dengan sebuah isyarat kecil untuk Itachi, ia pun segera pergi menuju gereja.

.

Benarkah?

Dalam berabad sejarahku

Hari ini adalah hari yang bersejarah

Apakah…

Kau tak akan sakit?

Jika aku benar-benar menjadi serpihan debu masa lalumu…

.

Cup

Sebuah kecupan tipis nan hangat mengakhiri persepsi pernikahan pagi ini. Semua yang menghadiri tampak terbius oleh suasana. Kebanyakan dari mereka menangis. Tentu saja. Kisah cinta Sasuke dan Sakura patut diabadikan sebagai kisah cinta paling dramatis selain Romeo dan Juliet; yeah, terlalu hiperbolis sepertinya.

"Sa-Sasuke…" dengan air mata yang berderai, Sakura mencoba berbicara, "… terima kasih."

Sasuke menyibakkan sedikit poni Sakura. Dihirupnya wangi Sakura dalam-dalam. "Hn. Kini kau sudah menjadi milikku." Pria itu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling penjuru gereja. "Sakura?"

"Ya?"

"Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?" Sasuke memegang erat telapak tangan Sakura yang terbalut kain lembut. Gadis itu hanya mengangguk singkat tanpa memberi komentar. "Kalau begitu…" Sasuke meneruskan kalimatnya, "… bawa aku ke taman depan gereja."

"Tentu saja."

Mereka berdua pun segera berjalan menuju taman. Sakura dengan setia terus mendorong kursi roda suaminya hingga keluar dari gereja. Seketika, tepuk tangan sudah memenuhhi ruangan itu.

Sakura kemudian mendudukkan Sasuke di bangku taman yang kosong itu—atas permintaan dari Sasuke tentunya. Disusul dirinya yang juga duduk di bangku yang sama di sebelah Sasuke.

"Sakura…" Pria itu tersenyum sangat tulus—untuk yang pertama dan terakhir mungkin. "Aku ingin tidur di pangkuanmu."

"I-iya." Lagi. Sakura merasakan rasa sesak itu memenuhi kembali rongga dadanya. Air mata yang sudah susah payah ia tahan, akhirnya kembali berlinang. Ia terus menggigit bibir bawahnya guna meredam isakan yang mungkin akan segera ditimbulkannya.

Untuk yang kedua kalinya kita di sini.

Bersama. Dalam kebahagiaan kita berdua.

Satu moment indah dalam hidupku.

Yaitu dapat membahagiakanmu, orang yang kucintai.

Memberikan apapun yang kupunya untukmu.

Diriku, hartaku, semuanya.

Meski nyawa adalah taruhannya.

Tapi ini memanglah aturan mainnya.

Tak ada kehidupan yang berakhir indah.

Karena di akhir kita pasti akan menangis.

Sepahit apapun nanti, kau harus tetap bertahan.

Sungguh, luapkanlah apa yang ada dalam hatimu.

Karena nanti kita tak akan jumpa lagi.

Kau, tahu?

Setiap kebahagiaan yang kurasakan akan langsung berakhir.

Akhir penuh luka dan duka.

Dan inilah aku yang terakhir.

Sebuah moment yang begitu indah di akhir hayatku.

Ya, 'cause you will hate your self in the end…

"Aku ingin di sini sampai senja." Sasuke memejamkan matanya tenang. Rongga dadanya pun terasa sesak—sama seperti Sakura.

Sakura menengadahkan kepalanya ke atas. Melihat langit musim semi yang cerah namun tak begitu panas. "Apa… kau yakin? Hari ini cukup panas, Sasuke." Ia tertawa hambar.

"Kenapa tidak?"

"Baiklah."

.

.

.

Berjam-jam berlalu, akhirnya senja yang dinantikan telah hadir. Semua orang sudah meninggalkan gereja sejak acara persepsi selesai. Waktu yang begitu lama itu mereka habiskan untuk terbius dalam kesunyian. Hanya semilir angin yang setia menemani mereka.

Sasuke menarik napasnya dalam, "Sakura. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."

"Ya?"

"Apakah kau tidak menyesal menikah denganku? Kau tahu bukan, bahwa aku akan segera mati," ujar Sasuke dengan suara paraunya.

Sakura terlihat sedikit bergetar mendengar penuturan Sasuke. "Ti-tidak. Kau bodoh, Sasu. Aku sangat bahagia bisa menjadi milikmu," katanya sambil sedikit tersenyum miris.

"Jangan berbohong."

"Seharusnya aku yang mengatakan begitu. Dan jangan bercanda. Kau dan aku akan mempunyai keturunan."

"Tidak mungkin. Lihat saja nanti, Sakura. Aku akan lenyap bersama senja ini." Sasuke menatap lurus gereja di hadapannya. "Lenyap di hadapanmu, dan di depan gereja ini. Semoga nanti kau bisa bahagia tanpaku."

"Jangan bercanda." Air mata yang tadi sempat kering kini kembali mengalir di pipinya.

"Sebentar lagi senja akan menghilang. Aku tak akan hidup kembali seperti dulu. Aku akan benar-benar lenyap."

Sakura memeluk erat Sasuke. "Kau tidak akan mengalami masa itu lagi. Kau akan hidup bersamaku selamanya!" Sakura berteriak histeris dengan air mata yang semakin banyak berjatuhan.

"Jangan terlalu banyak berharap." Sasuke merasakan dadanya semakin sesak. Cahaya matahari yang dapat dilihat irisnya pun semakin menipis. Yang terlihat kini hanya gradasi warna oranye yang berbaur dengan langit biru yang kian menghitam.

"Cause you will hate your self in the end…"

"SA—SASUKE!"

.

Yang pertama dan terakhir

Juga

Yang terindah dan terakhir

.

Setahun kemudian…

April 14th XXXX 20.45 p.m. London International Apartment

Brukk brukk

Terdengar suara tumpukan buku jatuh ke lantai. Dengan cekatan seorang gadis berambut sugarplum memungutnya.

"Hari ini melelahkan. Fiuh, siapa juga sih yang mengacak-ngacak tumpukan bukuku?" keluh gadis itu ketika membereskan buku-bukunya yang terjatuh tadi.

"Ini kan…" gumamnya, "buku ini… kenapa ada di sini?"

Gadis itu tak memperdulikannya. Ia tetap membereskan buku-bukunya itu. Sampai jemari lentiknya menyentuh sebuah benda yang amat berharga.

"Kotak musik ini… di dalamnya masih utuh. Sasuke…" Gadis itu—Sakura—teringat kembali akan kenangannya dulu. Diliriknya almenak yang tertempel di dinding kamarnya. "Ternyata besok, ya?" Ia tersenyum simpul seraya menyeka air matanya yang mulai menetes.

Ting ting tong ting tong…

Suara kotak musik itu mengalun lembut. Mengingatkannya akan kenangan indah bersama Sasuke bertahun-tahun silam. "Andai kata kau masih ada di sini, Sasuke…"

Malam kian larut. Sakura yang baru saja pulang bekerja lupa belum membereskan kamarnya. Terutama pintu berandanya yang ia biarkan terbuka, sehingga angin-angin malam yang nakal masuk ke dalamnya. Ia menari-menari mengikuti alunan merdu kotak musik milik Sakura.

Gadis pink itu kemudian tersadar. Ia segera berjalan menuju beranda rumahnya. Dilihatnya langit malam yang penuh bintang. "Apa kau melihatku? Hahaha… aku di sini, Sasuke… masih setia denganmu." Air mata kian deras mengalir dari pelupuk emerald itu.

"Berbahagialah tanpaku."

"—eh?" Sakura mendengar ada sesuatu yang berbisik padanya. Seperti suara… Sasuke?

"Aku tahu. Kau akan selalu hidup di sini, kan? Di hatiku…" ujar Sakura parau. Dengan kotak musik yang masih menyala, gadis itu kemudian membuka lembaran pertama buku peninggalan Sasuke yang belum sempat ditaruhnya.

Waktu untuk berpijar masih banyak

Waktu untuk menangis tidaklah terbatas

Waktu untuk tertawa bisa kapan saja

Tapi, waktu untuk bernapas tidaklah banyak

Gunakan apa yang kau bisa selagi sempat

Manfaatkan sebelum kau menjadi abu

Menjadi abu serpihan masa lalu yang hilang ditebas angin

Abu kenangan yang menyatu dengan tanah

Begitu pula dengan mimpi dan angan

Raihlah jika itu yang kau harapkan

Dan tinggalkan jika mimpi itu hanya ilusi

Ilusi setelah semuanya berlalu

Hal yang tak akan pernah terjadi selamanya

Sampai kapanpun…

Sampai kau mati menjadi abu…

Ting ting tong ting tong…

Alunan merdu piano itu menambah nuansa haru malam ini. Ya, setahun sudah kepergian seorang Uchiha Sasuke dari dunia ini. Akankah ia mendengar? Tangis haru dari seorang Uchiha Sakura.

"Sasuke…" Sakura menyeka air matanya keras. Ia kemudian berjalan gontai seraya menutup pintu beranda kamarnya. Kotak musik itu pun ia matikan.

"Cukup!" Sakura dengan keras membantingkan tubuhnya ke atas kasur. "Besok…"

.

Aku yang lemah tanpamu

Aku yang rentan karena cinta yang t'lah hilang darimu

Yang mampu menyanjungku

(Kenangan Terindah – Samsons. Haruno Sakura)

.

.

.

.

"Selamat jalan…"

Sakura kemudian menaburkan potongan bunga di atas tanah kuburan Sasuke. Setitik demi setitik air mata mulai berjatuhan. "Sayang sekali, kita tak bisa merayakannya di bawah menara Eiffle."

Gadis itu mengusap lembut nisan Sasuke. "Ohya, sekarang aku bekerja di London. Aku kesini hanya untuk merayakan setahun pernikahan kita denganmu. Semoga kau bahagia!" Ia lalu mengecup nisan itu. "Aku pulang dulu, yah. Sudah sore!"

Dengan langkah gontai dan air mata yang berlinang Sakura pun pergi meninggalkan kompleks pemakaman itu.

"Semoga saja…"

.

Terima kasih cinta

Untuk segalanya

Kau berikan aku kesempatan hidup

Meski hanya sebentar —Uchiha Sasuke.

.

.

^FIN^

.

.

::::****:::: Note :

Maȋtresse : Nyonya.

Maȋtre : Tuan.

Ataksia : Penyakit penyusutan serebelum (otak kecil) sebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, yakni mengganggu keseimbangan dan posisi tubuh.

::::****::::

Akhirnyaaaaa….. chapter kedua yang abal bin gaje ini muncul juga~ #bawapetasan

Maap beribu maap Ai ucapkan kepada semuanya~ #nangisharu terima kasih bagi yang sudah ripiu di chapter lalu, dan ini juga.

Maap juga yah soalnya fic ini kurang memuaskan. Feel-nya pun nggak kerasa sangattt… maklumlah, udah lama nggak dikerjain! #ngeles terus map ya kalo ada yang nggak berkenan sama sedikit penyisipan lirik lagu di atas? DX Ai beneran nggak sengaja dengaer tuh lagu pas ngetik, terus langsung Ai masukin sajaaa~~ hehe…

Sekedar pemberitahuan kalo nanti Ai bakal vakum dulu. Jadi mohon map yah kalo banyak salah.. /Readers : nggak penting *mewek/

Ohya, mulai saat ini panggil aku 'Vii' saja, ya? x3 soalnya kalo 'Ai' terlalu umum. Hehe… /Readers : najis banget :p

Dan kayaknya sebelum vakum proyek fic terakhirku yaitu fic buat award di fandom tetangga, terus buat SI Days sama suspense week sajooo~ :D #jiahhh

Makasih banyaknya buat yang udah nyempetin waktunya untuk mampir ke fic gajebo ini. Sekarang, boleh minta ripiunya lagi? Hoho… /ditimpuk sandal

Tengkyu~ :*

Balasan ripiu chappie yang lalu

vvvv : hehe… map ya lama ==' dan di sini pun sepertinya mengecewakan, 'kan? Ohya, tengkyu udah ripiu~ :3

jasmine fu : makasih ya atas pujiannya~ #ciumjasmine/plak semoga chapter ini juga memuaskan XD

Michiru Shizuka : maap nggak bisa apdet kilat, say~ /sokakrab gapapa dah. Jejak stemple juga saya terima :p makasih udah ripiu! ^^

Allda Nightray : gapapa kok kalo mau curhat juga. Hihi… semoga chapter ini bisa bikin kamu nangis. Eh, fave? Waaaaa…. XD makasih banget :* makasih udah mau fave fic abal saya~ hehe… makasih ya, udah ripiu…

.Hehe : makasih ya ripiunya^^ semoga chapter ini bisa bikin kamu nangis lagi /plak

Neechanku~ (Yusha Daesung) : eh dikau ganti lagi penem ya? ._. eh hai juga nee #berpelukan aku nakal? Haha.. ntar aku bilangin ya sama akang Sasu! :p /plak ya inilah aku. Kurang lebihnya mohon dikasih saran ya, neechanku yang baik! #tampanghorror semoga chappie ini juga bisa menguras air mata! ^^ /maunya

Okay, sekian. Makasih juga buat yang udah ripiu fic-fic Vii yang lainnya. Hehe…

Sweet Regards

Ai Kireina Maharanii

CnC? :3