Keesokan harinya umma menelepon keluarga calon suamiku memberitahukan perubahan calon menantu mereka. Umma memberi alasan sohyoun akan melanjutkan study dan belum siap untuk menikah, mereka ternyata sangat menerima dengan perubahan itu, mereka bahkan memintaku untuk datang langsung ke rumah mereka untuk mengenalkan diriku
Malamnya setelah sohyun membedakiku dan memberi sentuhan sedikit pada mataku, ia mengantarku sampai stasiun bus, ia melepasku sendirian, tangannya dikepalkan sambil memberi semangat padaku sebelum bus berlalu dari pandangannya
"Sana buat calon mertuamu terpesona" katanya sambil terkikik saat membedakiku, ia pasti menertawaiku membayangkan aku dan pria itu akan bersama, kepalaku tiba tiba pusing dan mencengkeram tangannya
"Kau, kau akan menerima balasannya karena menjeratku ke lubang neraka" kataku sebal
"Hei jangan begitu, kau pasti beruntung karena sudah menolong umma dan appa, ok" ia menjentikkan matanya, ih kalau ia bukan adikku sudah kujambak saja rambutnya yang panjang mengkilau itu
"Anyonghaseo, saya kim jaejoong, senang berkenalan dengan anda" aku membungkuk di hadapan mereka sambil memperkenalkan diri
"Wah ternyata kamu tak kalah cantik dari adikmu" ummanya menggenggam erat tanganku, ia begitu cantik, rasanya sangat aneh anaknya berbeda jauh dari orangtuanya. Ayahnya pun mempunyai postur tinggi, gagah dan tampan
"Terimakasih" jawabku membalas pujiannya
"Duduklah sayang, kebetulan kami ingin mengenalkanmu pada yunho langsung malam ini"
"Oh kami sudah pernah bertemu" kataku sambil mengingat kejadian yang tidak menyenangkan kemarin sore "Tapi kami belum sempat mengenalkan diri masing-masing, waktu itu aku hanya mengantar adikku" tambahku menjelaskan
"Benarkah, dimana?"
"Ceritanya panjang tante"
"Bagaimana pendapatmu tentang anak tante?"
"Hmm dia sangat baik dan berwibawa" kataku bohong, tak mungkin aku berterus terang mengungkapkan betapa kecewanya kami terhadap anaknya
"Oh kalau bagitu berarti tak ada masalah untuk menikah dengannya bukan?"
"Oh i iya" aku mengangguk lemah, sial kenapa harus aku yang dikorbankan seperti ini
"Baiklah kalau begitu, apa kau mau membantu tante memasak sambil menunggu yunho pulang? Pembantu kami baru saja keluar dan aku belum punya penggantinya"
"Oh tentu saja tante, kebetulan aku juga senang memasak"
"Aigyoo, honey kita punya calon menantu yang bisa memasak, betapa beruntungnya yunho kami" katanya kepada suaminya yang dibalas anggukan dari pria itu
"Ah...iya" kataku berusaha menyenangkan mereka
"Kau bisa memotong kol dan wortel?"
"Seperti ini?"
"Ya bagus, perfect" katanya ketika melihat hasil potonganku, aku memang jago masak dan sering membantu umma di dapur daripada si centil itu
"Ya ampun, kita kehabisan telur, yoboo tolong antarkan aku ke supermarket, kita kehabisan telur, jaejoong sayang tak apakan kami tinggal sebentar?" Kata ibunya yunho
"Oh baiklah"
"Baiklah kami pergi sebentar kalau begitu"
"Iya"
Mereka lalu pergi meninggalkanku sendiri di rumah, selang lima menit kemudian aku mendengar pintu dibuka, aku bergerak untuk melihat siapa yang datang, apa mereka telah selesai belanja?
"Tante, om kalian sudah..." kataku pada orang yang datang, tapi ternyata bukan umma dan appa yunho yang datang tapi seorang pria tinggi tampan yang kini sedang melihatku sambil mengernyitkan dahi. Apakah dia bagian keluarga ini, apa dia saudaranya yunho? Tapi kenapa yang ini beda sekali. Belum beres segala pertanyaan tentang pria di depanku itu ia sudah melemparkan diri ke kursi dan rebahan
"Siapa kamu?" Katanya menatapku tajam
"A...aku..."
"Apa kau pembantu baru?
"Apa? Pembantu?"
Aduh kurang ajar sekali anak itu, apa tampangku ini cocok sebagai pembantu?
"Ambilkan aku minum!" Perintahnya padaku, tapi aku hanya mematung karena aku bukan pembantu yang ia kira "Hei apa yang kau lakukan disana, cepat ambilkan!'" Bentaknya lagi padaku
Anak ini menyebalkan sekali, aku segera menyambar gelas dan memenuhinya dengan air putih dari kulkas lalu kusodorkan padanya dengan muka kesal
"Ini!" Kataku sebal. Ia menyambar gelas dari tanganku dan meminumnya segera
Gluk gluk suara air di tenggorakkannya bisa terdengar jelas olehku, setelah itu ia memberikan gelasnya padaku
"Ini, sekarang ambilkan aku makan!"
"Makan? Tapi masakannya belum ada"
"Cepat! Aku udah lapar sekali" katanya berteriak padaku, dengan kesalnya aku mengambil mangkok kecil dan memenuhinya dengan nasi, kutaruh di hadapannya dengan cepat, sial sekali nasibku, harus menikah dengan orang yang buruk rupa lalu saudaranya juga punya attitude yang begitu menyebalkan
"Apa ini?" Tanyanya sambil melihat hanya mangkok nasi didepannya
"Nasi dulu, yang lainnya nanti menyusul" jawabku
"Kalo aku ingin makan sekarang yang harus sekarang, ngga pake nanti-nanti!"
Hilang semua kesabaranku. Aku berdecak pinggang sambil berteriak kepadanya
"Maaf mister yang sok kasih perintah kalo mau makan silahkan masak sendiri! lagipula saya ini bukan pembantu anda!" Kataku menjelaskan dengan nada agak nyolot
"Kalo begitu apa yang sedang kaulakukan dirumahku, apa kamu maling?"
"Apa...hei aku ini..."
"Kami pulang!"
Tiba-tiba umma yunho mengagetkan kami yang sedang bertengkar, kami berdua seketika terdiam saat mereka masuk, wanita setengah abad yang masih terlihat sangat cantik itu mendekati pria itu lalu mencium dahinya
"Aduh anakku yang tampan sudah pulang, Kalian lagi bicara apa, apa kami menggangu?" Tanya dia sambil melirik padaku
"Umma siapa orang menyebalkan ini?" Tanya pria itu
"Jaejoong apa kamu belum bilang kepadanya?" Katanya padaku
"Bilang apa umma?" Tanya pria itu
"Dia itu kan calon pendampingmu. Yunho"
"Apa? calon apa?" Dia Tergagap berusaha membetulkan telinganya
"Tante, Di-dia Yunho?"
Mulutku terbuka begitu juga dengan pria didepanku yang menatapku dengan jijik
-OooO-
Suasana lalu beralih ke meja makan, semua tampak tenang di saat masakan demi masakanku dan yunho's umma dihidangkan di meja makan, aku lalu mengambil seat disebelah lelaki yang baru kuketahui ternyata yang bernama yunho, jadi siapa orang yang mengaku sebagai dirinya kemarin?, kelihatannya aku dan dirinya sama-sama terkejut setelah ibunya menjelaskan aku adalah calon istrinya dan diberitahu bahwa ia adalah anak satu-satunya mereka yang jelas jelas bernama Jung yunho. Ia kelihatannya masih shock dan matanya terus menerus menghujam dengan sinis kepadaku
"Yunho maukah kamu mengantar jaejoong pulang?" Kata umma yunho di tengah santap makan malam
"Aku ngantuk umma" jawabnya malas
"Aduh kamu ini gimana sih, jaejoong kan baru pertama kali kesini, gimana kalo dia kesasar terus diculik orang ngga dikenal, dia itu kan cute banget" jelas ummanya
"Umma aku benar benar lelah" katanya lagi meyakinkan
"Kau bisa mengantarku sampai stasiun bis" kataku kepadanya, lalu ia memicingkan matanya padaku
"Kamu bilang apa tadi?"
"Antarkan aku sampai stasiun bus aja" balasku santai, aku memang ingin berbicara empat mata dengan dia tentang dirinya yang palsu waktu itu
"Baiklah aku akan mengantarmu" ia berkata sambil tersenyum menantang, aku tahu dia juga sepertinya ingin berbicara denganku.
"Pastikan jaejoong kamu antar sampai rumah ya!" Perintah ibunya pada anak laki semata wayangnya
-OooO-
"Terimakasih atas undangan makan malamnya" aku membungkuk pada mereka sebelum masuk kedalam mobil yunho
"Dimana rumahmu?" Tanyanya sinis sambil mengemudi
"Myeondong"
"Baiklah aku antar kau sampai stasiun terdekat, kau bisa cari bis sendiri"
"Sudah tidak ada bis jam segini"
"Kamu sendiri yang memintaku mengantarkanmu sampai stasiun bus" katanya mulai kesal
"Apa salahnya mengantarku sampai rumah, lagipula banyak yang aku ingin tanyakan padamu"
"Kok jadi kamu yang ngatur sih!"
"Kemarin itu siapa? Orang yang mengaku sebagai dirimu?"
"Bukan siapa-siapa, hanya orang suruhanku untuk menakut-nakuti adikmu"
"Gara-gara kelakuanmu aku jadi dikorbankan untuk menikah denganmu"
Yunho lalu menggas mobilnya dengan sangat cepat, melewati mobil-mobil lain yang sedang berjalan tenang
"Aduh pelan pelan dong, apa kau mau bunuh diri!"
"Begitulah" jawabnya sambil menekan gas dan memutar kemudinya untuk mendahului mobil didepannya
"Eh berhenti, kau gila"
Ciiiit... dia langsung mengerem seketika, kepalaku sampai terbentur ke depan
"Aduh kepalaku" aku memegang kepalaku yang kesakitan "kau gila!"
"Kamu yang meminta berhenti!"
Yunho memasukan mobilnya ke parkiran taman kota yang luas, ia lalu membuka pintu disebelahku dan menarik tanganku dengan kuat keluar
"Jelaskan padaku kenapa anak laki-laki sepertimu bersedia menikah denganku? Dan kenapa kamu pikir aku harus menerimamu!"
"Memangnya aku punya pilihan, gara-gara kau aku jadi harus menggantikan adikku menikahi dirimu, dia sangat ketakutan melihat dirimu yang seperti itu"
"Kalau begitu tolak saja seperti yang adik kamu lakukan, aku kan memang sengaja melakukan itu karena aku tak ingin menikah dengan siapapun"
"Kalau bisa semudah itu sudah aku lakukan tapi bagaimana dengan keluargaku?. kalau aku berani menolaknya ayahmu akan memecat ayahku dan kami akan diusir dari rumah"
"Ya itu urusanmu, lagipula kalian berdua ini bukan tipeku, aku tak mau hidup seatap dengan orang yang tak kusukai"
"Dengar ya orang asing, kalau kau pikir aku mau melakukan ini dengan sukacita karena melihat dirimu yang tampan ini, kurasa kau harus mengaca diri lagi di cermin" kataku sewot
Ia menarik bahuku dan mendorongnya ke pintu mobil. Aduh dia keterlaluan sekali
"Dengar siapa namamu?" Tanyanya sambil mencengkeram bahuku kuat kuat
"Jaejoong. Kim jaejoong"
"Ok jaejoong, kurasa kamu belum tahu siapa aku, aku bukan orang yang suka mengasihani seseorang apalagi dengan muka seperti ini"
"Kalau begitu kau tak perlu takut menghadapiku kan, kita berpura-pura saja saling menyukai, aku tak akan menggangu hidupmu, sebaliknya kau pun demikian"
"Apa untungnya buatku dengan pura-pura menyukai dirimu, asal kamu tahu aja pacarku lebih cantik darimu"
"Atau kau takut akan tertarik padaku?"
"Ha ha ha jangan membuatku tertawa sampai menangis, kau cantik tapi itu tak cukup untuk menjeratku"
"Apa kau mau mencobanya? Pretend to married me?" Kataku menantangnya
"Kamu sangat percaya diri ya?"
"Begitulah"
"Baiklah kalau begitu kalau kau sangat percaya diri aku akan menghadapimu, kita lihat siapa yang akan menangis disudut rumah"
"Bagaimana kalau 3 bulan, ceraikan aku dalam tiga bulan" kataku
"Kamu menghayal, bahkan aku tak akan sampai mengingat namamu, aku sudah akan menceraikanmu"
"Dua bulan"
"No, terlalu lama, 3 minggu, 1 bulan kalau kamu menurut padaku dan tidak macam-macam" yunho tersenyum sambil memilin poni panjangku disebelah telinga
"3 minggu, alasan apa yang harus kuberikan pada orangtuaku kalau aku mau bercerai denganmu tiba-tiba begitu?"
"Bilang saja kamu tidak bisa memuaskanku"
"Sial itu akan mempermalukan harga diriku tapi baiklah kalau begitu 3 minggu, demi keluargaku"
"Kalau kamu meminta cerai sebelum waktunya kau harus membayar denda" yunho menyeringai
"Kau gila, menikah denganmu saja sudah merugikanku, sekarang kau minta aku bayar, harus kubayar dengan apa?" Tanyaku bingung
"Apa saja, kecuali dengan tubuhmu"
"Baiklah dengan syarat jangan pernah menyentuhku sekalipun, kalau kau berani menyentuh tanganku saja kau harus membayar denda padaku 50.000 won, kalkulasikan sendiri kalau kau menyerang diriku waktu aku tidur" aku balik gantian menyeringai. Baiklah tak apa menikah dengannya asal ia tak punya kesempatan untuk menyentuhku. Pikirku dalam hati
"Hahaha kamu ini benar-benar pengkhayal. Baiklah aku rasa itu bagus, ini akan menarik"
Mudah2an lebih banyak yang komen supaya lebih semangat nulisnya, thanks anyway buat yang udah nyempetin baca dan ngereview
one comment won't hurt you
