Pays de Rêve

Jika kau lihat dari luar, cafe ini memang cafe biasa. Tidak semegah Starbuck ataupun se-elegan Hard Rock. Tapi cafe ini akan selalu menjadi tujuan utama ku, karena disini aku akan menikmati Coffee Americano pahit dengan rasa yang manis. –Bang Yongguk

.

Aku lebih menyukai Milk Caramel disini dibadingkan milik cafe lainnya. Tidak ada alasan khusus, hanya saja Milk Caramel mengingatkan aku dengan dirinya yang seputih susu dan semanis caramel. –Moon Jongup

.

Butter Choco Cookies. Ini sama seperti cookies buatan rumah lainnya, rasanya bahkan kalah jauh dari cafe lainnya tapi kesungguhan sang koki yang membuat aku menyukai cookies ini dan membuat aku jatuh hati terhadap sang koki. –Jung Daehyun

.

.

.

Milk, Cookies and Coffee

.

.

.

% Choco chips?

Jung Daehyun menghempaskan tubuhnya disalah satu sofa didalam cafe bercat coklat kayu mahoni itu. Dia menjentikan jarinya tanda memanggil salah satu dari kesekian banyak pelayan disana untuk mencatat pesanannya.

"Selamat- oh kau lagi," ujar namja tinggi dengan rambut berwarna dark blue itu malas.

"Apa begitu caranya kalau kau sedang berkerja Choi Junhong?" tanya Daehyun dengan tersenyum kecil. Junhong hanya mendelikkan matanya kesal dan menendang kaki namja yang menurut Junhong itu menyebalkan. "Kau ingin pesan apa Jung- aww!" ringis Junhong pelan saat Daehyun menginjak kakinya.

"Yah! Sudah kubilang jangan menyebut namaku kalau ditempat umum," desis Daehyun kesal.

"Baiklah hyung, maafkan aku, kau mau pesan apa hyung?" tanya Junhong sambil mengeluarkan notes dan pulpen.

"Menu apa yang baru 'dia' buat?" tanya Daehyun antusias layaknya seorang anak kecil yang akan diberikan permen lollipop jumbo. "Aku ingin pesan itu ditambah Cappucino buatanmu," tambah Daehyun.

Junhong hanya mengangguk tanda mengerti dan langsung menulis pesanan Daehyun.

"Kapan kau akan menunjukan langsung dirimu dihadapannya?" tanya Junhong sambil sibuk menulis pesanan dan menjumlah total yang harus Daehyun bayar.

"Nanti," jawab Daehyun singkat. Junhong hanya menggedikkan bahunya. "Terserah kau lah hyung, dasar artis jadi-jadian," gumam Junhong dan langsung melesat pergi sebelum Daehyun men-death glarenya.

.

.

"Jae hyung ada yang memesan Butter Choco Cookies buatanmu," kata Junhong sambil meletakan notes berisi pesanan dan mulai membuat Cappucino.

"Pesanan pertama dihari ini, tumben sekali," gumam Youngjae sambil melihat pesanan itu dan mulai berkutat dengan adonan yang hanya tinggal ditambah beberapa bumbu dan mulai mencetaknya. Youngjae memperhatikan dengan lekat saat dia menambah beberapa buah choco chip disetiap adonan cookies dan mulai memanggangnya.

Junhong melihat sekilas kearah Youngjae dan tersenyum.

"Well, kau beruntung Jae hyung," gumam Junhong sambil menambah foam milk yang tidak terlalu manis dan membentuk huruf 'D' diatas foam tersebut dengan bubuk coklat.

.

.

"Ini pesananmu hyung, Butter Choco Cookies dan Cappucino sesuai pesananmu," kata Junhong sambil meletakan pesanan tersebut dimeja milik Daehyun.

"Ini buatannya yang baru?" tanya Daehyun sambil memperhatikan cookies yang tergolong sederhana tersebut, Junhong hanya mendelikkan matanya.

"Jangan banyak komentar hyung, dan jangan buat kekacauan," kata Junhong sambil berlalu dari hadapan Daehyun.

Daehyun hanya meminum cappucino miliknya sambil menatap cookies tersebut, dan baru kemudian dia mengambil sekeping cookies itu dan mulai memakannya.

Daehyun dapat merasakan renyahnya cookies itu dan rasa hangat dimulutnya bertandakan cookies itu fresh from oven.

Dia tersenyum kecil, Daehyun dapat merasakan manisnya butter yang tidak terlalu banyak dan choco chip yang meleleh. Dan Daehyun menyadari apa yang harus dia lakukan sekarang.

Membuat kekacauan.

.

.

Junhong buru-buru menembus kerumunan yang sedang mengitari meja milik Daehyun. Dia tau kalau Daehyun membuat ulah kali ini.

Dan dia melihat Youngjae menunduk sambil meremas apron miliknya.

Tidak. Dia tidak menangis tapi dia kesal.

Junhong men-death glare Daehyun namun nyatanya tidak berhasil.

"Kau ada niat tidak untuk memasak? Atau jangan-jangan kau malah ingin membuat pelanggan disini malah keracunan dan membuat cafe ini bangkrut karena ulahmu?" tanya Daehyun membuat Youngjae tersentak. "Siapa yang merekrutmu hah? Memasak saja tidak becus," kata Daehyun datar.

"Maaf ada apa ini tuan?" tanya Suho –sang manajer sekaligus pemilik cafe- itu kepada Daehyun. "Apa pegawai kami sudah membuat suatu kesalahan?" tanya-nya dengan senyum malaikatnya.

"Kau manajer disini?" tanya Daehyun sambil membaca nametag Suho. Suho mengangguk.

"Kenapa kau merekrut orang tidak berguna seperti dia. Memasak saja tidak becus," kata Daehyun sambil berdiri dan memasang gaya angkuhnya. Suho mengernyitkan keningnya tanda tidak mengerti.

"Biar aku jelaskan tuan manajer, pegawaimu itu tidak becus membuat cookies. Dia menggunakan bahan kadarluarsa sepertinya," kata Daehyun meremehkan. Seketika Youngjae langsung mengangkat kepalanya.

"Pardon? Apa yang kau bilang? Bahan kadarluarsa? Apa buktinya kalau cookies yang aku buat menggunakan bahan kadarluarsa tuan?" tanya Youngjae dengan penekanan kata 'tuan'. Daehyun tersenyum samar.

"Kau tidak dengar suaraku menjadi serak seperti ini?" kata Daehyun sambil mendekati Youngjae.

"Lalu?" tanya Youngjae sambil menatap Daehyun.

Daehyun melepas kacamata hitamnya dan membuat seisi cafe tersebut menahan nafasnya termasuk Youngjae.

"Aku ada jadwal rekaman hari ini, dan kau sudah menghancurkan suaraku yang paling berharga," desis Daehyun.

"Aku kira cafe ini seperti yang dibilang teman-temanku tapi ternyata salah. Atau... jangan-jangan kau saesang fansku?" tanya Daehyun dengan smirk yang terpatri di bibirnya.

"Aku. Bukan. Penggemarmu. Tuan," kata Youngjae disetiap penekanan katanya. "Dan tidak ada yang menyuruhmu datang kemari sebelum kau rekaman dan asal kau tau bah-"

"Aku pelanggan dan kau bukan siapa-siapa yang berhak melarangku datang ke cafe ini,"

Youngjae terdiam seketika. Skakmat.

"Dan seharusnya... manusia tidak berguna sepertimu, seharusnya lenyap," kata Daehyun sambil berjalan keluar dari kerumunan itu meninggalkan Youngjae yang kini hanya terdiam dan meneteskan air mata.

.

.

"Kerja bagus tuan Jung," kata Junhong datar kepada lawan bicaranya diujung sana.

"Ayolah, aku tidak bermaksud membuatnya menangis. Berikan nomor ponsel manajer-mu dan aku akan bicara agar chef itu tidak dipecat," kata Daehyun dari ujung sana.

Cemas? Sudah pasti. Daehyun tau kalau dia sudah kelewatan kali ini.

"Aku akan mengirimkannya nanti, aku harus menenangkan Youngjae hyung dulu, dia sekarang tidak mau keluar dari gudang penyimpanan bahan. Bye," kata Junhong sambil memutuskan percakapan.

Sementara Daehyun? Dia kini hanya bisa menyesali perbuatannya.

.

.

.

% Choco chips? End – continue to Lavender rose and Strawberry Shortcake –

~ Mind to Riview?