Fear to Get Close, Brave to Keep The Distance
Part 2
Pairing: eventual1827, jadi bukan one-sided (cuma awalnya doank mungkin)
Genre: Romance, Drama, Slight Humor
Setting: Setelah Ten Years Later Arc (Anime)
Warning : BoyXBoy, OOC pake banget, Typo(s) dimana-mana, bahasa campur aduk + tak sesuai EYD, humor gaje nyempil... Apa lagi ya? Ada yang mau nambahin?
Disclaimer : Katekyo Hitman Reborn! punya Akira Amano dan semua hasil produksi(?) yang disebutkan disini punya pemilik sahnya masing-masing.
A/N: Ugh.. lama tidak berjumpa.. Bagi yang sudah menunggu update sampai karatan.. maaf banget baru update sekarang setelah sekian lama (_ _)
Moga aja masih ada yang mau baca ini fanfic yang gak jelas nasibnya..haha*nervous*
Saya sudah mencoba sebisa saya, semoga memuaskan c:
Saya ucapkan terima kasih buat yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca, mereview, memfollow, dan memfavoritekan cerita aneh saya ini : Zee Cielova, Aoi the Cielo, TezuSezu, Natsu Yuuki, Zara Zahra, Akaichurippu960, Krisho Baby, chicken vulpes vulpes, Kikuuuu dan kamu... iya kamu.. XD *tonfaed*
Oiya, balasan review ada di paling bawah :)
DLDR!
Selamat menikmati!
.
.
.
.
Dalam kamus seorang Hibari Kyoya tak ada kata yang melambangkan afeksi. Luapan emosi semacam senyum dan tangis adalah hal lemah yang hanya ditunjukkan oleh mereka yang ia sebut herbivore. Pemuda yang menakutkan ini merupakan salah satu penikmat kesendirian, ia benci bergerombol. Entah untuk alasan apa, berada dalam satu atmosfer bersama orang lain memberikan dampak tak nyaman yang mengganggu ketenangannya -seolah dengan kentara menyatakan rasa ketidakpercayaannya pada yang lain. Atau cara berpikir Hibari hanya sesederhana mendambakan keheningan yang mampu memperpanjang durasi tidurnya; semenjak ia acap kali terbangun ditengah ritualnya (lightsleeper).
Reputasinya yang melonjak tajam berkat sifatnya yang demikian, justru menjadikannya siswa paling angker di Namimori Middle School. Dikatakan angker, bukan berarti kau bisa menggunakan presensi Hibari sebagai ajang uji nyali; bisa jadi uji nyawa. Ketenaran yang diperoleh Hibari bukan popularitas yang mengharuskan situasi dimana orang-orang berkumpul dengan mata berbinar, memberinya semacam hadiah, atau sekedar memperebutkan atensinya. Melainkan suatu keadaan yang memaksa makhluk hidup dalam radius tertentu mengukir jarak darinya. Mereka bukan terpana, mereka ketakutan.
Seingatnya, pemuda raven itu tak pernah membuat peraturan untuk memberinya batas pribadi semacam itu. Namun, ia tak keberatan, sebab berkerumun dihadapannya itu bak mencampurkan permen *entos ke dalam *oca *ola. Tak ada yang tahu siapa yang memulai kebiasaan yang lumayan berguna bagi si prefek itu, sejauh para herbivore itu tahu pada tingkatan rantai makanan mana mereka berada. Hibari tak ambil pusing -ia ambil hikmahnya saja.
Selain menakutkan, maniak kedisiplinan yang satu ini suka sekali bergelut dengan darah dan besi, hatinya pun terkenal keras bagaikan karang di lautan(?). Itulah mengapa tak ada seorang (normal) pun yang berani mendekati sang prefek Namimori, ataupun berhasil meminta ampun padanya ketika mendapatkan hukuman. Yah, meski semenjak kedatangan sesosok bayi ajaib yang mengaku sebagai seorang hitman banyak orang-orang pemberani yang sengaja menantang jiwa anti-sosial milik Hibari hanya dengan modal 100% asli kenekatan . Terlepas dari itu, setenang apapun penampakan Hibari dari luar, tak ada yang tahu apa yang dipikirkan pemuda itu.
Tak ada yang tahu kekacauan rasa yang dialami oleh laki-laki berambut hitam itu.
Tak ada yang tahu kegelisahan nan OOC yang melanda batinnya.
Tak ada yang tahu tentang karma yang membuat pandangannya sulit teralih darinya.
Tentang sebuah cerita yang melahirkan kisah yang seperti ini.
Kacau dan tak stabil.
Setidaknya, apa yang ditampilkan oleh wajahnya tetap tak berubah, stoic as ever. Sungguh kemampuan poker face yang luar biasa. Namun, ada satu hal yang Hibari Kyoya tak tahu, bahwa Kurokawa Hana tahu.
Lalu, apa hubungannya seorang Hana dengan kelanjutan cerita bak shoujo manga ini?
Hana, gadis jutek berambut sewarna Hibari yang pintar dan tak menyukai anak-anak. Mengidolakan Lambo dewasa dan membenci Lambo kecil. Mengesampingkan fakta miris ini dan menyorot pada kehidupannya yang sekarang, Hana adalah teman baik Sasagawa Kyoko. Gadis ini bisa disebut sebagai gadis yang pandai -pandai menghindari moody Hibari dan juga pandai menjauhi masalah... mungkin pengecualian untuk Tsunayoshi. Di matanya si brunet itu hanya pembawa perkara bagi dirinya dan Kyoko. Meskipun lama-kelamaan ia terbiasa juga dijatuhi masalah oleh Tsunayoshi, Hana lebih terbuka dalam mengungkapkan ketidaksenangannya.
Dan ketika nama Hibari dan Tsunayoshi disandingkan dalam satu rangkaian aksi, apa yang terjadi selanjutnya sama sekali tak pernah terbayang dalam benak gadis itu. Hana tak menyangka bahwa bukan hanya 'masalah' lagi yang akan timbul, melainkan 'bencana'. Yang satu gemar berkelahi walau selalu berakhir berat sebelah, sedangkan yang lain adalah korban perkelahian satu arah. Tak ada yang tak tahu siapa itu Hibari Kyoya, meski sama-sama populer. Sawada Tsunayoshi lebih terkenal sebagai korban penggencetan. Oleh sebab itu, ia mendapat julukan keramat dengan embel-embel 'dame' sebelum namanya. Mungkin 'Dame-Tsuna' sudah menjadi nama panggungnya di Nami-chuu.
Benar-benar... Kyoko harusnya menghindari Tsunayoshi beserta komplotan pembawa masalahnya.
Hana semakin mengerutkan dahinya. Bangku kelas yang selama ini ia duduki terasa lebih nyaman saat ini. Masih bagus hanya problema harian semacam itu yang mereka timbulkan, mendengar 'Kamikorosu' atau 'Hiieee!', itu hal yang sudah wajar. Sangat wajar bila dibandingkan dengan kata-kata laknat yang keluar ambigu dari mulut sang prefek Namimori.
Ya, Hana tahu... Lebih tepatnya, ia tak sengaja mengetahuinya. Dan mungkin ini adalah ganjaran... mungkin ini adalah hukuman dari langit atas rasa bencinya terhadap makhluk Tuhan yang paling polos(?). Atau mungkin saja tidak... Hana tak pernah percaya adanya karma. Namun, nyatanya ia kini diharuskan untuk menjadi saksi. Saksi yang kelewat beruntung hingga berujung sial. Ia bukan tukang gosip atau anggota klub koran sekolah. Tentu saja ia sama sekali tak gembira menjadi satu-satu yang mengetahui peristiwa yang melenceng dari jalan cerita aslinya seperti ini?!
Lagipula, tak seorang pun akan percaya padanya, namun ia tak berencana untuk bercerita. Setidaknya, belum. Seandainya memang ada seseorang yang (berani) mengumbar isu tentang kehidupan percintaan sang ketua komite kedisiplinan, maka tak diragukan lagi jika orang tersebut bisa digolongkan dalam kaum penyuka derita. Well, Orang normal mana yang berani membual gosip seperti itu. Sebelum berita itu terselip keluar dari mulutnya, tonfa mungkin sudah tersangkut di kerongkongannya. Hmm... sekolah yang penuh teror...
Karena itu, gadis ini diam-diam menahan gejolak batin. Kebisingan kelas sebelum kehadiran sang wali kelas seakan tak mengganggu pikirannya untuk sekedar berkelana. Mata hitamnya menyiratkan perasaan gundah gulana akibat terlalu banyak menampung rahasia tabu di otaknya. Keringat dingin mengalir di pojokan pelipisnya, menghiasi wajah yang biasanya acuh tak acuh itu menjadi sedikit berekspresi. Hana tak bersyukur soal itu. Sial, dia sama sekali tak bersyukur menjadi saksi mata atas kejadian pengungkapan menakjubkan nan langka di atap sekolah beberapa hari lalu. Ia menderita. Ia tak bisa tidur. Peristiwa di siang bolong itu terus menghipnotis pikirannya untuk terus terjaga. Siapa yang menyatakan cinta dan siapa yang dinyatakan cinta? Kenapa mesti dirinya yang tak bisa tidur?
"Herbivore, jadilah milikku"
'GAAHHH. Apa-apaan itu?! Sudah dipanggil dengan sebutan herbivore, intonasi pun berkesan monoton dan memaksa. Sama sekali tak ada romantisnya!', pikir Hana seraya menyangga kepalanya yang terasa pening dengan tangan kirinya. Penguasa Namimori itu bahkan tak berbakat dalam menyatakan cinta, simpulnya kemudian. Hana duduk terdiam dibangkunya, mencoba menelaah apa yang baru saja ia pikirkan.
'Tunggu, bukan itu masalahnya kan, Hana?', sanggahnya pada dirinya sendiri. 'Masalahnya adalah karena kamu mendengarnya. Karena kamu mendengar dua orang laki-laki menyatakan cinta. Karena kamu mendengar dua orang laki-laki kenalanmu (tidak ingin menyebutnya teman) menyatakan cinta. Karena kamu mendengar dua orang laki-laki kenalanmu yang memiliki kepribadian yang super antitesis menyatakan cinta. Karena kamu mendengar dua orang laki-laki kenalanmu yang memiliki kepribadian super antitesis menyatakan cinta seolah itu adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia.', pikirnya histeris.
Gadis berambut hitam ini mengumpat kesal, ia adalah tokoh figuran yang tak begitu banyak disorot(?), lantas mengapa harus dia yang (tak) beruntung menyaksikan adegan itu? Kenapa bukan orang lain saja? Paling tidak kenapa harus terjadi di tengah kehadirannya? Kenapa mereka tidak melakukan hal mustahil itu dalam mimpi saja? Begitu bisa mudah dilupakan..
Mimpi?
Benar juga. Ini pasti mimpi, Hana mencoba mencuci otaknya.
Mimpi. Mimpi. Mimpi. Mimpi. Mimpi. Mimpi yang buruk. Mimpi yang-
"Hei, Tsuna! Kemarin apa yang kau lakukan diatap sekolah dengan Hibari?"
Mata Hana terbelalak lebar. Sial. Ini bukan mimpi. Ini nyata dan mereka tahu temannya sedang menjadi target afeksi laki-laki lain.
"Juudaime, apa dia melukaimu?", seru pemuda satunya. Dengan gelengan singkat dan sedikit penjelasan Tsunayoshi membalas.
"Aku hanya.. agak khawatir. Hibari-san tidak bangun saat kita datang. Biasanya dia mudah sekali terbangun"
Ah, rupanya mereka tak tahu. Dan Sawada tidak menceritakannya. Ini cukup mengejutkan. Bukankah mereka teman baik?
"Katakan padaku jika si Hibari itu melukaimu, Juudaime! Aku pasti akan membalasnya berkali lipat!", ucap Gokudera tak kalah semangat dengan suporter kesebelasan.
Hana mendesah kesal. Pemuda-yang-mengaku-dari-Italia-namun-bermarga-Jepang itu selalu saja heboh dan berisik. Menyingkirkan pandangannya dari Gokudera, mata berkantung akibat kekurangan asupan tidur itu melihat pada sosok pemuda berambut coklat menjuntai dengan sudut lancip terbentuk di ujungnya. Sawada Tsunayoshi.
Astaga. Alis Hana bertaut, berpikir keras. Dilihatnya Tsunayoshi yang tengah menenangkan dua orang sahabatnya yang mulai beradu mulut berat sebelah, dari atas sampai kebawah. Dari bawah sampai ke atas. Apa yang menarik dari tubuh mungil itu hingga mampu memikat The Demon of Namimori?
Kenyataan itu dengan mudah mengangkat rasa penasarannya.
Tinggi? Tidak..
Kekar? Tidak..
Pandai? Sudah pasti tidak..
Tampan? Tentu saja ti- Tunggu..
Hana menyipitkan matanya. Ditatapnya intens pemuda itu.
'Tampan? Apa kau bercanda? Tentu saja tidak! Tapi..', Hana bergumam. "Hmm.. cukup feminim untuk ukuran laki-laki"
"Hah, apa kau bilang?!"
Oops. Ia terlalu keras berkomentar rupanya. Hana mendelik tajam pada pemuda silver yang sudah berdiri garang didepannya. Malas sekali rasanya harus berdebat dengan pemuda kasar yang tak memiliki sopan-santun pada wanita, pikirnya. Ia menghela nafas dalam sebelum akhirnya membalas gertakan Gokudera. "Kubilang cukup feminim. Kau tak lihat...", Hana dengan malas menunjuk ke arah Tsunayoshi.
"Matanya seperti mata perempuan. Badannya kecil, pendek, juga tak berotot. Jangankan berotot bahkan olah raga saja sangat payah..."
Mendengar olokan teman sekelasnya, Tsunayoshi bukannya marah, wajahnya justru memerah karena malu. Ia akui, ada kalanya ia mengeluh sambil melihat dirinya di cermin. Pendek, mata lebar, wajah bulat, tubuh ramping... hanya rambutnya saja yang terlihat seperti pejantan tangguh, selebihnya seperti kembaran ibunya. Ya Tuhan... ia bukannya mengeluh karena terlahir mirip dengan ibunya, ia hanya sekedar bertanya-tanya, kenapa sampai saat ini ia tak dianugrahi otot roti sobek walaupun selalu rajin mengikuti training dari Reborn (karena terpaksa)? Lihat apa yang terjadi sekarang, sudah dibully karena bodoh dan lemah. Sekarang teman wanitanya mencibirnya feminim. Hati Tsunayoshi serasa tertohok tonfa berduri. Ia tahu ia bukan pria idaman wanita atau laki-laki sempurna bertubuh jantan, ia masih dalam masa pertumbuhan, kau tahu. Ini artinya masih ada kesempatan baginya untuk tumbuh menjadi laki-laki sejati.
Disisi lain, kepala Gokudera sudah seperti bom yang siap meledak kapan saja. Hana mah cuek saja, tetap melanjutkan kalimatnya.
"Pintar juga tidak. Apanya sih yang dilihat Hiba-"
Hening...
Seketika Hana menutup mulutnya, dan suasana pun nyaris tanpa suara.
'Ga- gawat?! Hampir saja..', pikirnya setengah syok dengan mata yang bergetar dan keringat yang menetes. Ini bisa jadi urusan hidup dan mati. Ia tak bisa main-main...
"Dilihat apa hah?! Jangan seenaknya bicara, baka-onna! Juudaime adalah lelaki paling jantan yang pernah kutemui! Bahkan dari semua laki-laki di kota ini ia adalah laki-laki paling hebat!", Tsunayoshi hanya meringis menyaksikan teman baiknya membelanya dengan menggebu-gebu. Ia tidak menuduh Gokudera berbohong, tapi yang Gokudera katakan juga tidak benar.
"Bahkan di negara mana pun tak ada yang bisa menandingi kehebatan Juudaime! Juudaime adalah incaran semua orang!"
Oke, ia tak tahu apa artinya perkataan itu. Target pembunuhan ataukah target relasi romantis? Apalah itu.. ini sudah berlebihan, kalau begini terus ia bisa mati malu nantinya. Ia bukan pria hebat, ia hanya 'dame-Tsuna', Tsunayoshi mengkoreksi dalam hati.
"Maa, maa, Gokudera kau sudah membuat Tsuna menjadi pusat perhatian", Yamamoto mencoba mengingatkan Gokudera dengan senyum *epsod*ntnya.
"Diam kau Yakkyu-baka! Semua orang harus tahu bahwa Juudaime..", Tsunayoshi merasakan firasat buruk, buru-buru ia menghentikan Gokudera yang kalap sebelum...
"ADALAH LAKI-LAKI DARI YANG PALING LAKI-LAKI DI SELURUH DUNIA!", seru sang Smoking Bomber kesal.
Fyuuuhh... Tsunayoshi lega. Setidaknya pemuda yang mengaku tangan kanannya itu tak mengucapkan apapun soal mafia, sebaliknya kata-kata Gokudera barusan benar-benar memenuhi seisi kelas. Membuat beberapa siswa menghentikan kegiatan mereka dan mengalihkan perhatiannya sejenak pada kawanan milik Tsunayoshi.
Tsunayoshi hujan keringat. Ia tak mengira jika Gokudera memiliki ambisi untuk mengalahkan Squalo dalam hal tarik suara. Terlalu keras dan berisik. Hal ini bisa saja pertanda buruk. Backsound musik menegangkan pun diputar. Bukan.. bukan para Hiu teman Squalo yang mendekat.. melainkan...
BRAAKKK
Suara pintu yang dibuka dengan kasar mengagetkan seisi kelas.
Untuk sesaat kesunyian melanda. Hana dan Tsunayoshi senam jantung untuk dua alasan yang berbeda. Tanpa sadar mereka menahan nafas, peluh mulai bermunculan, dan tak lupa wajah yang super panik yang bertengger sama rata.
"Baik, anak-anak! Duduk ditempat kalian masing-masing! Kelas akan segera dimulai", wali kelas mereka datang tanpa dosa membawa berkah. "Untung bukan Hibari/Hibari-san", pikir keduanya sinkron.
"Juudaime? Kau tak apa-apa?"
"Hana, wajahmu pucat. Kau sakit?", tanya Kyoko terlihat cemas
Sepertinya, hari ini akan menjadi hari yang melelahkan (jiwa)...
.
.
.
Hana tak tahu sejak kapan ia bisa begitu observant, barangkali bahasa sopannya menguntit. Lebih-lebih pada sosok pemuda pendek nan tak pintar yang sedang bersenda-gurau bersama temannya sambil sesekali memunguti peralatan sekolahnya, mengemasinya ke dalam ransel yang tengah tergeletak manis di atas meja. Benar saja, bunyi bel serupa pertanda datangnya kereta sudah bergema beberapa menit yang lalu. Sinyal bagi seluruh peserta didik Nami-chuu agar pulang ke rumahnya masing-masing sebelum seseorang meng-kamikorosu mereka. Dari bangkunya, Hana menyaksikan Tsunayoshi menghembuskan nafas pelan penuh keluhan sembari tersenyum tipis, duganya ia tak mampu menahan perasaan senangnya untuk segera pulang. Ia juga. Pikirannya terlalu lelah untuk membayangkan kelanjutan seri drama yang diangkat dari kisah nyata dari orang-orang di sekitarnya. Meski terkadang rasa penasaran menggelitiknya.
Tak menyadari tatapan menerawang Hana, Tsunayoshi melanjutkan kegiatannya. Pulang cepat adalah pilihan terbaik saat ini. Entah mengapa sejak terakhir kali ia bersua dengan Cloud Guardiannya, berada satu lingkungan dengan sosok menyeramkan bernama Hibari Kyoya seakan mengurangi rentang hidupnya. Ia bukan hanya takut berpapasan di koridor, ia juga takut jika harus memulai percakapan ala kadarnya. Bila bukan karena urusan mafia, ia lebih memilih untuk tak berurusan dengan pemuda penyendiri itu.
Tak ada yang berubah?
Sejak awal sikap pemuda penakut itu memang demikian pada sang penjaga awan; menjaga jarak -memangnya Hibari truk tronton yang belakangnya tertuliskan 'awas jaga jarak', Tsunayoshi?
Walaupun selama beberapa bulan ini, pewaris Vongola kesepuluh itu menyadari kemajuan hubungan mereka bak dari SMS ke BBM. Dari intensitas pertemuan mereka yang diperbanyak oleh Akira Amano. Bukan fanservice, ini bisa saja adalah keterpaksaan Hibari mengikuti setiap gelagat Tsunayoshi karena perannya sebagai Drifting Cloud. Enggan mendekat, namun sejatinya peduli sama artinya dengan stalker -ah, lupakan.
Seperti kata peribahasa, 'Tak kenal, maka tak sayang'. Tsunayoshi sudah membuktikannya sendiri. Bukan berarti setelah mengenal dirinya, lantas Hibari menjadi sayang padanya. Pikiran Tsunayoshi tak pernah sampai kesana. Hanya saja, anak tunggal dari kediaman Sawada ini diam-diam mengakui keberadaan si prefek Nami-chuu sebagai teman -teman jauh -teman yang sangat jauh -teman yang sangat sangat jauh -teman di saat butuh; slap.
Sebab Tsunayoshi kenal baik dengan sifat Hibari yang tak akan menganggap ia dan kerumunannya sebagai teman. Namun, ini rumit. Ada hal yang tak Tsunayoshi mengerti; meskipun ia kerap gagal paham, ia bisa mengatakan bahwa hal yang tak ia mengerti kali ini memang patut untuk dipertanyakan. Disaat kritis, tanpa diduga Hibari selalu mendapatkan adegan selayaknya pahlawan yang datang belakangan. Jika, bukan karena alasan 'teman', lalu untuk alasan apa partisipasi Hibari sampai saat ini?
Ajakan Reborn?
Bujukan Dino?
Imbalan?
Iba?
Atau paksaan dari editor(?)?
Tsunayoshi tak habis pikir. Mungkinkah terselip sifat denial dibalik sifat brutalnya? Siapa tahu...
Ikatan batin setipis benang ini membuat Tsunayoshi kelabakan. Mereka tak dekat, tak akrab, bicara pun hampir tak pernah, intensitas interaksi bisa dihitung pakai jari. Dan relasi yang rapuh ini diperparah oleh situasi yang mereka buat sendiri. Bukan salah Hibari yang mengutarakan maksud untuk mengklaim sosok yang bakal ia sebut 'little animal', bukan pula salah Tsunayoshi yang tak tahu harus berbuat apa; seperti terjebak dalam pusaran rasa bersalah yang menelan nalar. Tak ayal, ia gagal melaksanakan perintah Hibari untuk melupakan kejadian itu.
Sejujurnya, Tsunayoshi masih setengah tak percaya, ia ingin menganggap apa yang dikatakan Hibari kala itu adalah sebuah mimpi -mimpi yang buruk. Namun, sesaat kemudian pikirannya mengudara, membayangkan sosok gadis yang disukainya, Kyoko.
Bagaimana jika Kyoko melakukan hal yang sama padanya; melupakan kata-kata yang dengan segenap keberanian ia lontarkan?
Tunggu, bukankah Kyoko juga melakukan hal itu padanya dulu?
Tsunayoshi menggeleng keras. Bukan, pasti bukan karena itu, saat itu Kyoko masih terlalu polos untuk mengetahui niatannya, dalih Tsunayoshi.
Intinya adalah bagaimana jika orang yang kau sukai menganggap ketulusan hatimu hanya ocehan semata dan melupakannya begitu saja?
Tunggu, bukankah ia juga melakukannya pada Haru?
...
Tsunayoshi mengaku. Sebenarnya, perasaan tak tenang karena masih sayang nyawa lebih mendominasi dari pada rasa bersalah karena merasa senasib. Ia tak bisa lupa. Serta fakta bahwa ia menyalahi kehendak Hibari untuk membinasakan ingatan itu dari otaknya, membuat bulu kuduknya berdiri. Hanya dengan sekali pandang, Hibari pasti akan menyadari kesalahannya. Terlihat dari raut wajah yang seakan mengatakan segalanya, sulit menyembunyikan sesuatu dari makhluk macam Hibari dan Reborn.
Tidak adil memang. Cinta yang bertepuk sebelah tangan itu memang tak pernah adil.
Ratap Tsunayoshi, menangisi cintanya yang sampai saat ini hanya mencapai 'friend zone'. Ditambah Haru dan Hibari.. Apa ini yang namanya cinta jajar genjang?
Dan kehidupan tak adil pula padanya.
"Sawada, bawa ini ke ruang resepsionis", perintah sang guru wali kelas yang awalnya tak berdosa itu.
'Hiiiiiieeee!', menjerit dalam hati, sontak wajah Tsunayoshi tak kalah putih dengan batu marmer milik *pong*bob.
Mendengar hal itu, Telinga Hana berkedut.
"Kau lakukan saja sendiri sana! Jangan seenaknya menyuruh Juudaime!", gerutu Gokudera berniat menyelamatkan bossnya.
Melirik Gokudera tajam, "Kau... akan kulipat gandakan PR-mu nanti! Benar-benar.. anak zaman sekarang..", terlanjur geram dengan kelakuan muridnya yang satu ini, guru setengah baya itu mengalihkan kembali pandangannya pada Tsunayoshi. "Kau juga akan kulipatkan gandakan PR-mu jika tidak berikan dokumen ini pada Hibari!"
Astaga, PR-nya yang sebelumnya saja belum karuan bisa ia kerjakan, sekarang mau dilipat gandakan?! Kalau wali kelasnya itu memang memiliki kekuatan untuk melipatgandakan sesuatu, kenapa tidak kerja sambilan sebagai pelipat ganda uang dari pada PR-nya yang sudah segunung?
Tsunayoshi ingin menangis. Bukannya membantu, tindakan pemuda yang mengaku tangan kanannya itu justru seperti menyiram bensin ke dalam api, lalu menambahkan bubuk mesiu ke dalamnya. "Jangan lupa pastikan ia menandatangani semua dokumen ini dengan segera. Setelah itu letakkan dokumennya di atas mejaku. Mengerti!", tambahnya tanpa mempedulikan raut muka muridnya yang sudah seperti anak yang tertangkap basah berbohong pada orang tuanya.
"Seenaknya-"
"Gokudera-kun!"
"Maa, maa.. "
Hana menggeleng-geleng lemah dari sudut kelas. Seperempat iba, selebihnya geli.
Tsunayoshi mengalah. Dia memang tak pernah bisa menang jika menyangkut dirinya sendiri. Membawa tumpukan dokumen yang cukup berat seorang diri -sebab, ia menolak tawaran Gokudera dan Yamamoto untuk membantunya. Kalau boleh jujur ia hanya menolak tawaran Gokudera; sifat tempramentalnya bisa saja menjadi bumerang. Namun, apa mau dikata jika ia hanya mengajak Yamamoto, hatinya yang baik akan terganggu oleh tangis lebay sang tangan kanan. Mereka seperti sepaket, simpul Tsunayoshi kala beranjak keluar dari kelasnya. Tak berapa lama, ia mulai menyesali keputusannya. Kakinya seperti enggan melangkah. Ia tak rela, usahanya menghindar dari si dia selama kurun waktu yang tak sanggup ia ingat, kandas hanya dalam sehari. Perjalanan yang harusnya memakan waktu 5 menit itu berubah menjadi perjalanan seorang kelinci yang bertelanjang kaki di atas aspal yang panas, luuamma..
Memang apa masalahnya jika bertemu dengan Hibari?
Tsunayoshi mencoba memakai logikanya. Benar, ia dan Hibari tak ada apa-apa. Kenapa ia mesti gelisah begini? Bukankah Hibari sendiri yang menyuruhnya untuk melupakan hal itu?
Ah, biar saja. Ini bukan lagi masalah senasib, sepenanggungan, iba ataupun rasa bersalah. Ini masalah nyawa eh- masalah perasaan. Ya, perasaan. Perasaan itu tak bisa dipaksakan, benar kan?
Seolah menemukan keberanian baru dari lamunannya yang menguras halaman waktu. Tsunayoshi memantapkan tekad, cepat atau lambat ia memang harus bertemu dengannya, karena Namimori tak seluas daun kelor.
'Bersikaplah biasa Sawada Tsunayoshi', ucap sang (calon) bos mafia ibarat mantra
Dan disinilah sepasang kaki pendek itu membawanya pergi. Berhenti tepat di depan sebuah pintu yang lebih banyak dihindari dari pada dibuka, karena kemampuannya untuk menghubungkan dunia manusia dengan dunia iblis(?). Berlebihan memang, karena sejatinya itu hanya sebuah pintu berlabel 'Reception Room'.
'Bersikap biasa. Bersikap biasa. Bersikap biasa', rapal si brunet komat-kamit.
Menghembuskan nafas pelan sebelum akhirnya ia membuka pintu yang tengah berdiri kokoh didepannya. Di detik bunyi pintu yang tergeser mengisi relung udara, Tsunayoshi segera melancarkan aksinya.
"Selamat siang, Hibari-san!~", serunya bersemangat dengan wajah sarat senyuman.
Salah.
Sangat salah.
Tentu saja, salah.
Itu bukan sapaan yang sebagaimana mestinya ia.
'Hiiiee! I-Itu tadi siapa?! Aku tadi ngapain?!', pekik Tsunayoshi dalam hati.
Wajah pemuda penakut itu kini berubah panik. Diletakkannya kedua tangannya di kepala yang ditumbuhi rambut coklat jabrik itu -maunya teriak histeris. Lepas pegangan, beberapa tumpuk dokumen yang sedari tadi ia bawa pun jatuh berserakan di lantai.
Semakin panik, Tsunayoshi mencoba untuk menyela-
"Huh?", kata kecil itu terselip keluar begitu saja dari mulutnya, mendapati ruangan khusus Hibari itu kosong.
Tsunayoshi bersyukur. Wajahnya kembali cerah.
"H-Hibari-san tidak ada di ruangannya? Kalau begini aku tinggal mengembalikan dokumen ini ke kantor.. bilang saja jika Hibari-san tidak ada.. Aku benar-benar beruntung", Tsunayoshi sujud syukur di dalam kepalanya. Namun, ada sesuatu yang salah..
Tanpa disuruh ia memunguti dokumen-dokumen yang terjatuh berserakan itu dengan cepat sebelum bahaya datang.
"Apa yang kau lakukan?", seonggok bayangan tipis jatuh menghantamnya bersama dengan suara baritone yang ia kenal, memunculkan kengerian dalam angan Tsunayoshi.
Nah, ini baru benar.. Tsunayoshi memang tak pernah beruntung.
"Hiiiiiieeee!"
Sebelum membahas nasib Tsunayoshi lebih lanjut, mari istirahatkan pikiran anda sejenak dari hal yang tidak-tidak dengan menyusup ke dalam pikiran si pecinta Namimori sebagai selingan.
Selain menghajar anak orang, yang menjadi kegemaran pemuda pelantun(?) Hitoribocchi no Sadame itu adalah berkecimpung di dunia satwa. Tidak secara langsung seperti menjadi pawang di kebun binatang tentu saja, hanya memberikan kasih sayang yang cukup terhadap dua jenis binatang asuhannya, seekor burung kuning kecil; Hibird dan seekor landak yang bersemayam dalam gelang ajaibnya; Roll. Hibari memang lebih suka mengumbar rasa kasihnya -yang mustahil ia tunjukkan pada sesama spesies- hanya kepada makhluk-makhluk tertentu; terutama binatang kecil. Atau paling tidak anak kecil yang masih polos yang tak tahu malapetaka apa yang tersembunyi dibalik wajah tampan itu. Sebagai pengingat, Hibari bukan pengidap pedophilia, ok? Ia hanya akan menjadi demikian jika Tsunayoshi terkena basoka 10 tahun yang rusak milik Lambo dan mengembalikannya menjadi umur 5 tahun -abaikan.
Dari awal tabiatnya yang haus akan supremasi telah membawanya pada sosok yang kaya akan intensitas diri, namun minim ambisi. Kehadiran pemuda itu sendiri merupakan sebuah anomali. Hingga penyimpangan itu menular padanya, membuatnya harus belajar menerima sesuatu yang berbeda. Ia tak keberatan, sejak esensi yang diberikan mengumbar atensi.
Sejak saat itulah ia telah terjebak.
Matanya tanpa kendali mulai membuntuti keberadaan yang lain. Dan dengan berlalunya waktu, ia dipaksa menerima sosok orang lain yang juga mengelilingnya.
Lantas, apakah ini artinya kata 'tertarik' yang sempat ia akui diam-diam kini berkembang semakin kompleks? Sampai di titik di mana ia rela untuk bergerombol? Sampai di titik di mana ia selalu memimpikannya?
Ia tak peduli. Saat ini, yang terpenting ia merasa puas dengan kasihtaksampai suguhan atraktif itu. Ia mendapatkan pengalaman yang menyenangkan saat menjadi pengamat perkembangan sang binatang mungil yang tengah belajar bagaimana caranya untuk membela diri.
Sejak awal ketua aktivis disipliner itu tidak suka meletakkan sesuatu yang tak berguna ke dalam otaknya. Memikirkannya semakin jauh justru membuatnya semakin kehilangan arah. Dan ia tak akan pernah mengakuinya jika memang benar ada sesuatu yang mampu membuatnya tersesat.
Apalagi mimpi? Jangan bercanda. Mimpi itu serupa dengan ilusi. Mempermainkan yang pasti dengan sesuatu yang nisbi. Hibari benci ilusi, karena nyata lebih pantas dimatanya. Prinsip itu tertanam sejak ia mengenal sosok berkepala nanas(#$? !).
Dan apa yang tengah dilakukan oleh penghuni pikirannya ini, berjongkok tanpa perlindungan di depan ruangannya. Tepat saat ia merasakan kekacauan rasa yang disebabkan oleh sesuatu yang tak ia ketahui, tentu ini merupakan pengalaman baru. Namun, sejauh ia bereksperimen dengan perasaannya sendiri, ia benci mengakuinya bahwa sejatinya tanpa memilikinya ia tak tahu harus berbuat apa.
Kesal. Kesal. Kesal. Kesal. Kesal. Seolah hanya satu kata itu yang mengarat dalam hati sedingin es miliknya. Sumber dari segala keanehan ini terbukti telah menghindari presensinya. Apakah sebegitu anehnya ucapannya dulu hingga dampaknya lebih hebat dari pada rasa takut?
Tsunayoshi tak berani menoleh pada pemuda yang berdiri di belakangnya. "Uhm.. a-ano...", berusaha menciptakan suara, tapi pikirannya mendadak kosong.
'Ba-ba-bagaimana ini?! Aku tidak berani menatapnya.. Tapi.. Tapi...", Tsunayoshi memejamkan matanya, mencoba menelan rasa takutnya. Bukannya, menemukan keberanian, kejadian dengan Hibari di atap sekolah justru kembali menghujani kepalanya. Ia bukannya tersipu malu saat ini, tindakan Hibari waktu itu jika dipikir kembali dengan logika membuatnya merinding ngeri. Meskipun Hibari adalah seorang pemuda yang terduga tidak memiliki ketertarikan romantis, namun ia tetap laki-laki. Dan ia juga laki-laki, dan meskipun laki-laki, ia adalah Hibari. Karena dia Hibari ia bisa saja melakukan tindakan apapun sesuka hatinya. Dengan paksa ataupun luka. Tsunayoshi berpikir nyaris frustasi.
Melihat little animal-nya hanya berdiam diri tanpa menjawab pertanyaannya dengan tubuh gemetaran. Hibari dapat menebak dengan jelas apa yang dipikirkan pemuda dihadapannya itu.
Menghela nafas dalam-dalam Tsunayoshi berbalik berdiri sambil melontarkan apa yang pertama kali terpikirkan olehnya, "Hi-Hibari-san! Aku minta maaf atas kejadian yang kemarin! Apapun yang kulakukan jika itu menyinggung perasaanmu aku minta maaf!", ia membungkuk 90°, serunya dalam satu tarikan nafas hingga bicaranya seperti orang melantur dengan intonasi yang terlalu cepat.
"Aku memang tidak bisa menjadi pa-pa-pacarmu tapi aku bisa menjadi... bisa menjadi... bisa menjadi... a-ku bisa... ", ia kehilangan kata. Tiba-tiba ia merasa tak ingin menjadi siapapun untuk Hibari. Ia tak ingin membangun relasi yang mengancam nyawa, alasannya.
"Te-te-teman?", lebih terkesan seperti pertanyaan dibanding pernyataan, setidaknya itu lebih baik ketimbang menjadi musuh, pikirnya miris.
Hibari menatap Tsunayoshi datar. Jika Tsunayoshi cukup hebat menerjemahkan arti dibalik raut datarnya yang seolah mengatakan 'Astaga, itu kejadian sudah jamuran masih juga dibahas!?'. Kini wajahnya yang datar semakin datar hingga hampir menyerupai papan triplek. 'Apa dia sengaja membuatku marah? Bukankah sudah kubilang untuk melupakannya?', Hibari bermonolog. Diamatinya sosok ketakutan di depannya dari atas sampai ke bawah. Menunggu apa yang akan diucapkan selanjutnya dan tak menutup kemungkinan, tonfanya akan beraksi sebentar lagi.
Tak mendapatkan balasan, Tsunayoshi melirik, namun sesaat kemudian matanya kembali menatap lantai menyadari bahwa manik abu itu masih menatapnya tajam, tak kalah tajam dari katana milik Yamamoto. "A-aku benar-benar minta maaf.. To-tolong jangan gigit aku sampai mati.. Hi-Hibari-san..", lanjutnya usai mengambil nafas teratur, "Ci-cinta memang tak bisa dipaksakan, bu-bukan?", Tsunayoshi menelan ludah paksa. Lagi-lagi ia mengkopi kata-kata pasaran itu dari drama percintaan yang sering ditonton oleh ibunya.
Manik abu-biru itu tiba-tiba membulat keluar karakter untuk sepersekian detik, menangkap sebuah kata yang terdengar asing di telinganya.
Cinta?
Trik macam apa itu?
Ia tak mengenal kata cinta.
WAO! Ai nante shiranai ai SHIKATA wakaranai~
Tiba-tiba lagu Hitoribocchi no Sadame berkumandang usil..
"Apa yang kau katakan", ucap Hibari pada akhirnya memecah kehadiran sang lagu sebelum kisahnya berubah menjadi song-fic.
"C-Cinta memang tidak bisa di-dipaksakan", ulang Tsunayoshi yang kini ragu dengan kalimatnya sendiri. 'Mungkin seharusnya aku tidak mengatakannya.. Bahkan aku tidak mengerti apa yang telah kukatakan...'
"Herbivore, berhenti mengatakan sesuatu yang tak kumengerti atau...", aura hitam mulai menyelimuti, "I'll bite you to death"
"Hiiiiiiieeeee!"
Tsunayoshi has failed... again.
'Astaga, bagaimana mungkin seseorang yang menyatakan cinta. Tak mengerti apa itu cinta?!', memijat keningnya dengan raut yang nampak keheranan dan tak percaya, sesosok bayangan -yang mengaku tak sengaja lewat- berkomentar dari balik gelapnya dinding koridor.
.
.
TBC.
Jawaban review:
Zee Cielova : Wah makasih XD Gomen.. gomen.. Hibari susah dimengerti . OOCnya sudah saya kurangi tapi kayaknya malah nambah deh o.O . Kalo adegan itu tunggu saja tanggal mainnya#evillaugh
Aoi the Cielo : Ok, akhirnyasetelahsekianlama ini udah lanjut XD. Semi-canon? Kayaknya sih gitu..
TezuSezu : Makasih pujiannya XD (itu pujian kan?*slap*) Memang dibuat bertolakbelakang krn karakter utamanya juga begitu(mungkin).. Ah, iya itu bukan perasaan anda.. gomen, saya lupa naruh disclaimernya T_T
Ini dia kelanjutannya.. Semoga suka..
Natsu Yuuki : Siap! ...*1 tahun kemudian..* Maaf baru update (_ _)
Krisho Baby : Terima kasih sudah menyadarkan saya jika ff ini tidak tercantum karakter yg bersangkutan sehingga menyempil. Jadi merasa senasib deh...lol
Ini lanjutannya, silahkan dibaca..
Review?
