Author Space : This is my first time as Dramione series's writer.
So, I hope you will enjoy with my storyline.
Disclamer : Harry Potter is not mine. Storyline is mine.
Rate: Semi M
Genre : Romance
Pairing : Draco x Hermione
Warning : OOC, Typo(s), Don't Like, Don't Read. No, complaiment. And the last, Don't be plagiant.
~Ein-mikara~
Present
2. Love Happens
22.00 lewat jam malam.
Draco sudah hampir menyerah ketika ia dengar suara daun pintu mengayun terbuka. Hermione melangkah masuk dengan was-was. Draco sengaja mematikan perapian dan lilin ruang rekreasi. Ia sengaja menanti Hermione dan tak ingin mengejutkan gadis itu. Entah kenapa Draco menjadi seperti ini hanya karena seorang Granger.
"Granger", suara rendah Draco sedikit membuat Hermione berjengit kaget.
1. Love Happen
Hermione tak melihat apapun. Ruangan itu terlalu redup. Ia memutar tubuhnya cepat ketika ia merasakan tangan Draco menyentuh bahunya.
"Kenapa kau menghindariku?", Tanya Draco kini mengayunkan tongkatnya untuk menghidupkan lilin-lilin yang tadinya mati.
Hermione mundur beberapa langkah, menghela napasnya kemudia berkata, "Apa yang kau inginkan, Malfoy?".
"Berhentilah menghindariku Hermione", ujar lelaki itu frustasi. "Aku tak bisa berpikir apapun jika kau menghindariku. Aku tak suka kehilangan kewarasanku".
"Kupikir kau memang sudah gila", tantang Hermione. "Jika aku tidak menghindarimu bisa-bisa aku yang akan gila, Bodoh", umpatnya.
Draco membiarkan Hermione berlalu dan memasuki kamarnya. Setidaknya gadis itu sudah mau pulang, pikir Draco.
~Ein-Mikara~
Harry menjadi uring-uringan semenjak Malfoy membuntutinya kemana-mana. Bagaimana tidak? Ia jadi tidak bisa berduaan dengan Ginny dan yang lebih parah lagi, timbul gossip tidak enak mengenai dia dan si Pirang.
"Berhentilah membuntutiku, Malfoy", ujar Harry geram. "Kenapa kau tidak meminta bantuan Ron saja sih?".
"Dia kan masih membenciku, ingat?", balas Draco sambil memutar matanya.
"Seperti aku tidak saja", gumam Harry. "Jangan buat aku menyesal karena membiarkanmu hidup, Bodoh".
"Oh, terserah kau saja", jawab Draco acuh. "Aku akan berhenti mengejarmu jika kau mau membujuknya".
"Kau tau kan dia itu keras kepala?", Tanya Harry. "Oh, aku lupa. Jelas kau tidak tau. Kau kan juga sama keras kepalanya dengan dia".
Draco terkekeh menanggapi kata-kata Harry.
"Kenapa sih kau sekarang mengejarnya?", Tanya Harry heran. Draco hanya memutar matanya. "Berhentilah bersikap menyebalkan. Pantas saja dia menolakmu".
"Aku harus bagaimana, Harry?", Tanya Draco sambil menyandarkan punggungnya di bangku penonton. Mereka saat ini sedang berada di lapangan memperhatikan tim Ravenclaw yang sedang berlatih.
"Kurasa kau sendiri tau hidupku jauh dari romantisme, jadi aku tak tau apa yang mesti kulakukan", Harry hampir tersedak mendengar pengakuan kawan barunya itu.
"Maksudmu? Kau ada maksud yang berbau romatisme pada Hermione?", Tanya Harry dengan mata melotot.
Lagi-lagi Draco memutar matanya.
"Apa kau berharap aku mengejarnya karena hal lain, Potter?", Tanya Draco sarkastik.
Harry bergeming kemudian mengangguk.
"Hanya aneh saja membayangkan kau dan Hermione",jawab Harry jujur.
"Aneh bagaimana? Bukankah bagus?"Tanya Draco tak terima.
"Pasti akan berisik", jawab Harry sambil terkekeh. Draco tersenyum masam.
~Ein-Mikara~
Ginny dengan muka ditekuk menghampiri Hermione yang sedang duduk tenang di depan danau hitam. Wajahnya menunduk menatap barisan tulisan pada buku yang bersampul kulit berwarna coklat tua dihadapannya.
"Mione", panggil Ginny sedikit membentak. Yang dipanggil menoleh sekilas sambil menyunggingkan senyum kemudian matanya kembali menatap barisan tulisan yang menarik perhatiannya itu.
"Bisa tidak sih kau memperhatikanku sebentar", ujar Ginny geram. "Bisa-bisa buku itu berakhir di dasar danau".
Hermione kini menatap Ginny heran. Ada apa dengan sahabatnya itu? Kenapa gadis itu marah-marah padanya?
"Kau kenapa, Gin?", Tanya Hermione beringsut menghampiri Ginny yang masih mengerucutkan bibirnya.
"Aku yang harus bertanya padamu", sahut Ginny. "Kau itu kenapa sih sampai-sampai Malfoy keukuh sekali mengganggu kebersamaanku dengan Harry?".
"Apa?", Tanya Hermione terkejut. "Malfoy mengganggu kalian? Kurang ajar si Ferret itu".
"Ya, dan kau tau alasannya?", Tanya Ginny sedikit menyindir.
Yang disindir hanya menggeleng pelan.
"Karena dia mencarimu, Mione",keluh Ginny. "Temuilah dia. Selesaikan masalah kalian. Apa buruknya sih berbaikan? Jangan seperti Ron yang berpikiran sempit. Kau kan lebih pintar darinya".
Hermione mendiamkan Ginny sejenak. Pandangannya menyapu danau hitam.
"Mione", panggil Ginny.
"Dia membuatku gila, Gin", jawab Hermione menolak membuat kontak mata dengan Ginny.
"Membuatmu gila?", Tanya Ginny kini terdengar antusias. "Kau sering memikirnya akhir-akhir ini, Mione?".
Hermione mengangguk singkat. "Sejak dia menci.. uh.. uh sejak dia bertengkar denganku maksudku".
"Kau berciuman dengan Malfoy?", teriak Ginny histeris. "Yang benar saja, Mione? Kau berciuman dengannya? Kau pantas menjadi gila, Mione. Andai saja dulu dia tak sebenci itu pada keluargaku, mungkin aku juga akan membayangkan berciuman dengannya".
"Astaga Gin, kau gila", gumam Hermione. "Apa kurangnya Harry hingga kau ingin berciuman dengan Malfoy?".
"Lupakan itu Mione", gusar Ginny. "Ini tentangmu. Bagaimana rasanya?".
"Rasanya?", Hermione mengernyit bingung.
"Iya, bagaimana rasanya dicium oleh Malfoy? Apa kakimu berubah menjadi agar-agar?", pertanyaan Ginny sontak membuat Hermione susah payah menghilangkan memori yang kini berlompatan muncul dipermukaan. Bagaimana rasanya? Entahlah. Hermione tak bisa mendeskripsikannya. Yang pasti gara-gara hal itu otaknya menjadi gila karena terus-terusan menanti ciuman Malfoy, lagi. Ugh.
"Lupakan, Gin", elak Hermione. "Aku tak mau membahasnya".
Hermione berdiri sambil mengangkat bukunya yang tadi tergeletak di samping kakinya dan berjalan menuju ruang Aritmacy.
Oh, oh, oh… Ginny tau sekarang. Sahabatnya kini sedang jatuh cinta dan ia sedang menyangkalnya.
~Ein-Mikara~
Draco menatap Hermione yang sedang serius mengikuti pelajaran. Entah mengapa, sejak kejadian malam itu mata Draco tak bisa lepas dari Hermione. Bahkan gerakan sekecil apapun yang Hermione lakuakan seakan menarik perhatiannya.
"Lihat siapa yang menjadi bodoh sekarang?", ejek Theo mengerling kea rah Blaise yang duduk di sampingnya, sederet dengan Draco.
"Siapa?", Tanya Blaise belum mengerti. Setelah memandang Draco dan melihat apa yang Draco perhatikan kini ia ikut menyeringai lebar. Ya, sahabat pirangnya kini berubah menjadi bodoh. Sebodoh dirinya dan Theodore Nott disampingnya.
"Selamat atas Kebodohan kalian bertiga", cibir Daphne sambil mengernyit tak suka melihat Draco yang terlihat konyol.
Lelaki itu seolah mengabaikan apapun disekitarnya. Tak ada yang menarik lagi baginya kecuali Nona Sok tau, Hermione Granger.
"Apa yang gadis itu masukan pada makanan kalian bertiga? Ramuan cinta?", cibir Daphne sewot ketika melihat ketiga sahabat lelakinya mengabaikannya.
"Oh, sebaiknya gadis itu punya stok ramuan cinta yang sangat banyak, Grenggras", sahut Seamus disebelahnya. Daphne memutar bola matanya dan mengabaiikan lelaki itu.
"Seluruh Hogwarts mengaguminya, kalau kau lupa", lanjut Seamus mengabaikan pandangan tak suka dari Daphne. "Kecuali dia menyuap para peri rumah Hogwarts untuk memasukkan ramuan cinta ke tiap makanan, mungkin seluruh siswa dan siswi disini akan memujanya bagai dewi".
Daphne tidak membalas. Ia hanya mengernyit jijik pada Seamus.
~Ein-Mikara~
Hermione sedang duduk diantara Ron dan Harry di Aula Besar. Beberapa menit kemudian Ginny datang sambil mengamit lengan Luna Lovegood. Gadis itu masih sama seperti saat sebelum perang besar berlangsung. Masih unik dengan caranya sendiri. Dan tetap setia kawan sekalipun beberapa temannya memandangnya rendah.
"Luna", seru Ron dan Hermione bersamaan. Sedang Harry kini meraih tangan Ginny dan mendudukkannya di sebelahnya. Diantara dirinya dan Neville.
"Angin apa yang membawamu kemari?", tanya Hermione antusias.
"Angin rindu", jawab Luna sambil menerawang.
"Kau merindukan kami?", tanya Ron sambil mengernyit heran.
"Tentu saja", jawab Luna mendudukkan dirinya disebelah Ron. "Bukan hanya aku saja yang merasa rindu, benar kan?".
Hermione mengangguk mantap. Ia meraih pialanya dan meneguk jus labunya.
"Sepertinya Malfoy juga merindukanmu, Hermione", sambung Luna.
Hermione sontak terkejut. Hampir saja ia menyemburkan jus labunya. Untung tidak jadi. Ia menatap Luna dengan pandangan bertanya. Luna hanya mengerling ke arah belakang Hermione. Tampak Draco sedang berdiri sambil menyunggingkan senyum ke arah Hermione.
Ginny dan Harry memutar bola mata mereka berbarengan. Ron acuh sambil menghabiskan pudingnya. Sedangkan Hermione, wajahnya seakan baru saja di serang oleh seekor (?)Troll. Shock.
Hermione berdiri dan menarik lengan Draco menjauhi Aula Besar. Puluhan pasang mata menatap kepergian mereka dengan penasaran.
Hermione menyeret Draco menuju koridor sepi. Matanya menyalang mengawasi sekitarnya. Ia tak ingin pembicaraan mereka di dengar oleh siapapun.
"Jika kau ingin memiliki privacy, bukankah asrama ketua murid adalah lokasi yang paling aman?", tawar Draco. Hermione mengangguk pelan kemudian memimpin perjalanan menuju asrama mereka.
"Kau itu kenapa sih?", tanya Hermione sambil menyebik ketika kakinya memasuki ruangan asrama ketua murid.
"Aku juga tak tau", jawab Draco sambil mengusap surai kuningnya.
"Oke, Malfoy, kita luruskan masalah ini", ujar Hermione geram. "Kita kembali seperti dulu. "Aku tak mengganggumu dan jangan menggangguku. Deal?".
"Nuh, uh", gumam Draco masih berdiri di hadapan Hermione yang menghadap ke arah perapian.
"Jangan memutuskan hal secara sepihak, Granger", timpal Draco dengan suara rendah. "Kau tau kita sudah tak lagi sama. Aku tak tau sihir apa yang kau berikan padaku. Tapi aku tak bisa melepaskanmu dari pandanganku. Bahkan hal sekecil itu, Granger, ketika kau mengibaskan rambutmu saja aku bisa melihatnya dengan detail. Seolah semua gerakanmu kau lakukan dengan perlahan, dan aku menikmati tiap detailnya".
Mulut Hermione ternganga, kemudian ia mengatupkan bibirnya dengan cepat.
"Sudah kuduga, Malfoy", cibir Hermione. "Kau mengalami gangguan otak yang akut".
"Apa kau tidak merasakannya?", Draco berjalan mendekati Hermione. Memangkas jarak diantara mereka. Hermione bergeming, bibirnya terkatup rapat. Ia gugup. Draco mendekat dan itu membuatnya salah tingkah. Seolah hal itu tidak cukup buruk, kini Draco meraih jemari Hermione dan mendekatkannya ke arah dada lelaki itu.
"Apa kau bisa merasakannya?", tanya Draco sambil menatap Hermione dengan pandangan sayu. Tangan Hermione bergetar. Ya, Hermione bisa merasakan degupan dada Draco. Sepertinya cowok itu baru saja berlari kencang. Dadanya berdegup cepat.
Hermione memutar kepalanya, ia mengalihkan pandangan dari lelaki itu.
"Aku tak merasakan apapun", bohongnya.
"Kau pembual yang buruk, Hermione", Draco meraih dagu Hermione dengan tangan kirinya yang bebas kemudian mulai menurunkan wajahnya dan mengecup bibir gadis itu.
Hermione merasa mendadak terkena serangan jantung. Oh, Merlin, jangan lagi. Batinnya. Ia tak sanggup melawan hasratnya sendiri. Ciuman Draco membuatnya hilang ingatan. Bibirnya membalas tiap pagutan yang dilontarkan Malfoy. Tangannya terangkat dan memeluk erat leher lelaki itu membawanya pada ciuman yang panjang dan dalam.
Hermione menikmatinya. Draco menikmatinya. Waktu menikmatinya. Selamat tinggal kewarasan.
~Ein-Mikara~
Hermione terbangun sambil memegangi bibirnya. Kejadian tadi malam membuatnya malu. Bagaimana mungkin ia menikmati ciuman Malfoy sementara mulutnya menyangkalnya?
Di kamar yang lain, seorang Malfoy terbangun dengan senyuman menghiasi wajahnyaa yang memerah. Semalam tidurnya terasa nyenyak. Seolah kejadian semalam menjadi obat karena beberapa hari ia mendapati dirinya kesulitan tidur. Apa yang ia lakukan dengan Hermione tadi malam membuatnya bahagia. Hatinya melambung, pikirannya terasa ringan. Ia merasa segala hal terasa mudah.
Draco bangkit berdiri, mengayunkan tongkatnya dan seketika kamar yang tadinya sedikit berantakan kini tertata rapi. Ia raih jubah mandinya yang berwarna hijau gelap kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Ketika membuka pintu kamarnya ia mendapati Hermione juga sedang menenteng jubah mandinya. Draco menyunggingkan senyumannya untuk menyapa gadis itu. Tapi alih-alih membalasnya, gadis itu malah membuang muka dan berlari menuju kamar mandi mendahului Draco.
Hahh, Draco menghela napasnya. Hermione Granger, ada apa denganmu?
~Ein-Mikara~
"Jangan mengulangi permintaan maafmu, Malfoy", ujar Hermione ketika menemuka Draco Malfoy dengan seragamnya yang rapi berdiri di depan pintu kamarnya. "Aku sudah bosan mendengarnya".
"Aku hanya ingin melakukan ini", sebelum Hermione sempat mencerna kalimat Draco lelaki itu sudah menjejalkan bibirnya kearah bibir Hermione. Terkejut, gadis itu mundur satu langkah, namun langkahnya terhenti ketika Draco melingkarkan tangannya dan memeluknya erat. Bibirnya membungkam bibir Hermione.
Ciuman itu memang hanya berlangsung beberapa menit, tapi efeknya seharian.
Draco seharian tertawa bahagia setelah berhari-hari berwajah muram. Theo dan Blaise menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Apa ada yang ingin kau ceritakan pada kami?", desak Theo tak sabar.
"Tidak, tidak", elak Draco. "Aku tak akan mengatakan pada kalian kalau aku baru saja berciuman dengan Hermione".
Theo dan Blaise serta Daphne yang kebetulan baru saja sampai di tempat mereka berada sontak terkejut. Efek jatuh cinta memang bisa membuat seseorang menjadi tolol. Seperti Draco sekarang.
"Kau berciuman dengan MudBlood?", tanya Daphne tak bisa menyembunyikan nada jijiknya.
"Tutup mulutmu, Grenggras", sahut ketiga lelaki di depannya.
Grenggras hanya memutar kedua bola matanya mengacuhkan tatapan membunuh ketiga sahabatnya.
"Oh, Draco, kau harus segera mencuci mulutmu", sambung Daphne masih dengan nada protes yang ketara.
"Sepertinya mulutmu yang harus di cuci, Grenggras", balas Draco geram. "Menyingkirlah sebelum aku mengutukmu".
Ancaman Draco membuat ketiga sahabatnya bergidik. Daphne memutar tubuhnya dengan cepat dan berlalu meninggalkan Draco bersama Theo dan Blaise.
"Kau benar telah menciumnya?", cecar Blaise.
"Oh, astaga Draco, kau kan membencinya?", sambung Theo.
"Uhm", Draco hanya mengulum senyumnya dan mengabaikan tatapan kedua sahabatnya.
Ditempat lain sang ketua murid perempuan sedang menggeram sebal. Dijejalkan kepalanya pada bagian tengah buku. Rasanya ia malu sekali. Hari ini ia tidak dapat berkonsentrasi seperti biasanya. Ia merasa ingin menghilang, kemana saja asalkan tidak ada Malfoy disekitarnya.
Anehnya, hal apapun yang ia lihat bisa berubah menjadi Malfoy. Buku ini contohnya. Entah mengapa buku ini mendadak berubah menjadi wajah Malfoy yang sedang tersenyum lebar padanya.
Ia melemparkan bukunya ke depan. Hermione terlalu terkejut. Gadis bersurai merah disebelahnya mendadak menoleh melihat kelakuan aneh sahabatnya.
"Hermione, jangan lagi deh", keluhnya.
"Apa?", tanya Hermione menatap Ginny dengan pandangan tidak fokus.
"Kau kenapa lagi? Malfoy masih mengganggumu? Kulihat hari ini dia berhenti membuntuti kekasihku", terang Ginny. Hermione masih bergeming.
Beberapa menit kemudian Hermione memungut bukunya dan berjalan dengan langkah frustasi.
"Gin, ada apa denganku?", tanya Hermione sambil berbalik menatap Ginny yang tengan menatapnya sambil menahan tawa.
"Orang terpandai adalah orang yang paling bodoh dalam cinta", cibir Ginny sambil meraih lengan Hermione. "Kau jatuh cinta, Mione".
Kalau beberapa waktu yang lalu Hermione pasti akan menyangkalnya, tapi saat ini otaknya mampu menerima teori itu.
~Ein-Mikara~
Hermione berhenti di depan pintu asramanya. Ia melakukan ritual untuk menghadapi kegugupannya. Ia tarik nafas beberapa kali kemudian mengucapkan kata sandinya. Pintu menjeblak terbuka.
Terlihat Malfoy berbalik menatapnya dengan penuh senyuman. Ugh,,
Hermione menelan ludahnya dengan susah payah. Ia melangkah menuju ruang rekreasinya. Meletakkan bukunya dimeja dan duduk di sofa merah tersayangnya. Matanya masih menghindari kontak mata dengan Draco. Entah mengapa ia merasa tak sanggup menatap manik abu-abu yang kini sedang berbinar mengawasi setiap gerakannya.
"Berhentilah menatapku seperti itu, Malfoy", guman Hermione gusar.
"Aku tidak bisa", jawab Draco ringan. "Andai aku bisa mungkin aku tak akan seperti ini. Merasa ingin menyelesaikan semua pelajaranku dan segera kembali ke asrama untuk menemuimu".
Lagi-lagi jawaban Draco membuat Hermione terkejut. Sejak kapan seorang Draco mengucapkan kata-kata menjijikkan seperti itu? Hermione bergidik sambil memunguti bukunya.
"Kuharap kau segera sadar, Malfoy", tegur Hermione sambil melangkah memasuki kamarnya. "Kau membuatku takut".
Draco termenung. Kata-kata Hermione entah mengapa sedikit membuatnya kecewa. Andai dia bisa lepas dari jerat ini…
~Ein-Mikara~
Hermione menemukan Draco sedang duduk termenung di sofa hijaunya.
"Hey", tegurnya masih menatap heran ke arah Draco. Draco tersenyum singkat tapi mengabaikan sapaan Hermione.
"Apa kau baik-baik saja?", tanya Hermione tak dapat menyembunyikan kecemasannya.
Draco menggeleng pelan. Bibirnya masih saja bungkam. Mau tidak mau Hermione merasa khawatir. Ia mendekat ke arah lelaki itu dan menyentuh dahinya. Sepertinya normal, gumam Hermione dalam hati.
"Kau kenapa jadi diam begini?", tanya Hermione masih merasa tidak tenang.
"Aku tak yakin kau ingin mendengar alasannya", gumam Draco. Hermione mengangkat alisnya.
"Jangan konyol, Malfoy", cibir Hermione. "Katakan! Ayo katakan, kita ada jadwal patroli hari ini kau ingat? Jika kau tidak baik-baik saja aku bisa melakukannya sendiri".
"Tidak, jangan", cegah Draco sambil meraih lengan Hermione yang hendak menjauh. "Aku baik-baik saja, Mione. Aku hanya..".
Hermione menunggu. Kemudian menghela napas karena lelaki didepannya masih menggantung kalimatnya.
"Sudah, lupakan Malfoy. Aku bisa melakukannya sendiri", sebelum Hermione sempat berdiri tangan Malfoy meraih tubuhnya. Mendekapnya erat.
"Jangan membenciku, Mione. Aku menyayangimu", ujar Malfoy sambil menenggelamkan wajahnya pada bahu Hermione.
Hermione tergugup. Terlalu banyak hal yang mereka berdua alami beberapa hari ini. Mau tidak mau Hermione mengakui. Ia juga menyayangi lelaki dihadapannya. Melihat Draco sedikit rapuh membuatnya iba. Ia elus surai pirang lelaki itu. Ia kecup puncak kepala sekilas. Draco mendongak, ia menatap Hermione dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.
"Jangan menciumku sembarangan lagi, Malfoy", ancam Hermione melihat gelagat Draco yang mulai mendekatkan wajahnya.
"Jika aku meminta ijin?", bujuk Draco dengan tatapan memohon.
"Tidak", sahut Hermione sambil memalingkan wajahnya.
"Sebentar saja dan kita akan berpatroli sebelum para Perfect meragukan kualitas kita", bujuk lelaki itu sambil menenggelamkan kepala dalam ceruk leher Hermione.
"Baiklah, sebentar saja", jawab Hermione dengan bibir bergetar menahan malu. Rona merah sudah menjalari wajahnya.
"Kau manis sekali", puji Darco sambil menghilankan jarak antara bibirnya dengan bibir Hermione.
~Ein-Mikara~
Hermione berjalan menuju Aula Besar mendahului Draco yang masih berada dikamar mandi. Dikoridor ia bertemu dengan Cormac McLaggen yang menatapnya penuh minat. Dia adalah salah satu kencan Hermione ditahun ke enam. Tampan sih, tapi sikapnya lebih menyebalkan daripada Draco. Cormac lebih suka membanggakan dirinya sendiri daripada mengenal siapa teman kencannya. Tak begitu salah sih, dia kan salah satu idola. Wajar saja dia bersikap seperti itu.
"Granger", sapa Cormac dengan lantang. Ia mendekati Hermione dan berjalan disebelah gadis itu.
"Oh, hay juga", sahut Hermione sambil lalu.
"Kau ikut ke Hogmeade akhir pekan ini?", tanya Cormac sambil mengerling kearah Hermione. Hermione meneguk ludahnya. Ia memutar kembali memory tentang sosok menyebalkan dihadapannya. Ugh, tidak, Jangan lagi, Mione, batinnya.
"NEWT tinggal beberapa minggu lagi. Aku tak ingin waktuku sia-sia", jawab Hermione. "Jadi jawabannya adalah tidak".
"Oh, begitu", jawab Cormac sedikit kecewa. "Kurasa kau benar. Ah, ya, bagaimana kalau kita belajar bersama?".
"Aku tak biasa belajar bersama, McLaggen", jawab Hermione sambil menghentikan langkahnya. "Terimakasih atas tawaranmu, tapi maaf aku tak bisa. Bahkan tidak bersama sahabatku juga. Aku lebih suka belajar sendiri".
Hermione melanjutkan langkahnya menuju Aula besar dan mengabaikan Cormac yang kini sedang mematung. Saat ia berpikir tentang cara lain mengajak Hermione berkencan, Draco datang mendekatinya.
"Jangan mendekati kekasihku, Cormac", ancam Draco dengan suara rendah. "Atau kau akan berakhir di neraka".
To be continue
~Ein-Mikara~
Terimakasih buat semua reader and guest reviewer.
Author Bersyukur sudah ada yang mau membaca karya ini. Jadi sesuai permintaan, author akan melanjutkan cerita ini.
