"Kau janji akan menjadi anak yang baik, kan, Kim Mingyu?"
Mingyu menganggukkan kepalanya dengan semangat. Kedua tangan mungilnya terus saja memegangi ujung baju ibunya sendiri, mencoba untuk meyakinkan bahwa ia tidak akan membuat masalah lagi.
Melihat kelakuan anak satu-satunya yang begitu menggemaskan, Nyonya Kim akhirnya tidak memiliki pilihan lain selain mengabulkan permintaan Mingyu.
"Tapi Wonwoo belum tentu mau bermain denganmu di taman" Kata Nyonya Kim sambil berjalan ke tempat telepon rumah mereka berada. Mingyu mengikutinya dari belakang.
"Kalau belum dicoba kan kita tidak akan tahu"
Nyonya Kim tersenyum ketika mendengar itu, "Kau punya semangat yang bagus, nak"
Nyonya Kim kemudian membuka buku catatan kecilnya dimana ia menulis semua nomor telepon rumah teman-teman Mingyu. Ia sebenarnya tidak yakin apa yang bisa membuat Mingyu begitu menyukai Wonwoo. Tidak, bukan karena ia berpikiran buruk tentang Wonwoo, tapi karena yang nyonya Kim tahu mereka berdua itu sering bertengkar di tempat penitipan anak. Sudah berapa kali Nyonya Kim dan Nyonya Jeon dipanggil hanya karena ulah yang mereka buat.
Jadi, hubungan Wonwoo dan Mingyu itu seperti apa? Nyonya Kim juga bingung.
"Halo, Jihyun-shi?" Mendengar nama ibu Wonwoo disebutkan, Mingyu segera mencoba untuk mengambil alih telepon itu, "Tunggu dulu, Min-"
"Halo bibi, ini Mingyu" Ya, Kim Mingyu berhasil merebut telepon itu dari genggaman ibunya. Nyonya Kim hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya itu.
"Hai Mingyu, kau mau bicara dengan Wonwoo?" Tanya Nyonya Jeon.
"Iya" Jawab Mingyu sambil menganggukkan kepalanya.
"Tunggu sebentar ya" Kata Nyonya Jeon. Mingyu kemudian dapat mendengar suara Nyonya Jeon yang memanggil nama Wonwoo.
"Halo" Suara Wonwoo terdengar seperti ia baru saja terbangun dari tidur siangnya.
"Wonwoo kau mau main di taman, tidak?"
"…"
Mingyu melirik kearah ibunya ketika ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Wonwoo sebelum akhirnya ia menambahkan, "Di taman sedang ada acara"
"…" Wonwoo masih belum menjawab dan ini membuat Mingyu agak sedikit gugup.
"Aku akan membelikanmu banyak makanan enak. Kata mamaku hari ini kita bebas memakan apapun yang kita mau. Permen kapas, es krim, coklat dan kue"
"Mama apa aku boleh makan permen kapas, es krim, coklat dan kue sesukaku hari ini?" Suara Wonwoo terdengar agak jauh dari teleponnya.
Mingyu hanya dapat menunggu jawaban dari Wonwoo sambil memainkan kabel telepon. Kalau Wonwoo menolaknya, ia pasti akan merasa sangat sedih.
"Baiklah"
Mata Mingyu membulat dan bersinar karena senang. Ia tersenyum lebar sebelum berkata, "Sampai bertemu nanti"
"Iya" Jawab Wonwoo singkat sebelum ia memberikan teleponnya ke ibunya.
"Mingyu mau kemana sama Wonwoo hari ini?" Tanya Nyonya Jeon.
"Taman. Aku akan membelikan makanan yang banyak jadi bibi jangan khawatir" Perkataan Mingyu berhasil membuat Nyonya Jeon tertawa kecil kerena gemas.
"Baiklah, sampai nanti Mingyu"
"Sampai nanti, Bibi" Dengan begitu, Mingyu menutup teleponnya.
"Hei! Mama kan belum bicara dengan mamanya Wonwoo" Kata Nyonya Kim sebelum ia kembali menghubungi nomor rumah Wonwoo untuk mengatur jam serta tempat mereka akan bertemu nanti.
.
"Wonwoo!" Teriak Mingyu ketika ia melihat Wonwoo dan ibunya yang sedang berjalan menuju kearah mereka. Wonwoo yang juga melihat Mingyu kemudian berlari kecil kearahnya. Jika dilihat dari cara Wonwoo berlari, ia terlihat begitu gembira ketika melihat teman yang mengundangnya bermain di taman itu, tapi, setelah Wonwoo hanya berjarak beberapa langkah dari Mingyu ia malah terlihat malu-malu.
"Halo bibi" Kata Wonwoo sambil membungkuk sedikit sebelum matanya kemudian melirik kearah Mingyu.
Kedua ibu dari Wonwoo dan Mingyu menyapa satu sama lain, kemudian berbagi cerita bagaimana anaknya masing-masing begitu tidak sabaran untuk pergi ke taman.
"Jangan pergi terlalu jauh!" Teriak Nyonya Kim ketika melihat Wonwoo dan Mingyu sudah pergi begitu saja tanpa menunggu ibu mereka.
Berbeda dengan Wonwoo yang tidak membawa apa-apa, Mingyu memiliki sebuah tas kecil berbentuk anjing yang melingkar di lehernya. Mingyu sudah sering diajari cara membeli barang sendiri. Ia hanya perlu memilih apa yang ia mau, mengeluarkan uang, memberikannya kepada penjaga toko dan menunggu untuk kembaliannya.
"Wonwoo ayo kita ke toko itu!" Kata Mingyu sebelum ia menggandeng tangan Wonwoo dan berjalan kearah supermarket kecil.
"Kau mau apa?" Tanya Mingyu sambil melihat cemilan-cemilan yang tertapa rapih di rak.
"Chocoball" Kata Wonwoo dengan mata yang juga mencari cemilan yang ia inginkan. Mingyu yang mendengarkan keinginan Wonwoo kemudian memutari toko kecil itu, namun sayangnya, mereka tidak berhasil menemukan cemilan yang Wonwoo inginkan.
Mingyu yang sudah mendapatkan setidaknya 3 bungkus cemilan yang ia inginkan kemudian melihat sebuah cemilan yang ia tahu juga memiliki rasa yang sama seperti Chocoball yang Wonwoo inginkan.
"Yang ini juga enak, seperti Chocoball. Yang ini saja yah?" Tanya Mingyu.
Wonwoo melihat bungkus cemilan itu sebelum ia menganggukkan kepalanya. Mingyu tersenyum, merasa lega karena setidaknya Wonwoo membeli sesuatu di toko itu. Mingyu kemudian mengambil dua botol yogurt sebelum mereka berdua pergi ke kasir.
Kali ini pun, Mingyu berhasil membeli cemilan itu tanpa kesulitan. Walaupun Nyonya Kim dan Nyonya Jeon terlihat begitu asik mengobrol, namun mereka tetap memastikan bahwa anak-anak mereka baik-baik saja setiap beberapa menit sekali.
Wonwoo dan Mingyu kemudian berjalan kearah sebuah pohon sakura dan duduk di bawahnya. Mereka mulai memakan cemilan yang mereka beli.
"Kau tahu di dalam sini ada mainannya" Kata Mingyu sambil membuka satu bungkus cemilan yang ada bonus mainan plastik kecil. Mingyu mengoleksi mainan-mainan itu dan ia sangat senang ketika ia melihat kalau mainan yang ia dapatkan kali ini berbeda dengan yang sebelumnya pernah ia dapat.
Melihat mainan lucu yang Mingyu dapatkan, Wonwoo kemudian membuka bungkus cemilan miliknya juga. Namun anehnya, Wonwoo tidak mendapatkan bonus mainannya. Ia kemudian melirik kearah mainan milik Mingyu. Ia benar-benar menginginkan mainan itu.
"Aku mau itu" Kata Wonwoo sambil menunjuk kearah mainan yang Mingyu pegang.
Mingyu mengerucutkan bibirnya, "Kau kan juga punya"
"Aku tidak dapat" Kata Wonwoo. Mingyu kemudian memeriksa cemilan milik Wonwoo dan memang benar, tidak ada mainan di dalam sana.
"Tidak boleh" Kata Mingyu sambil menjauhkan mainan miliknya dari pandangan Wonwoo. Melihat kelakuan Mingyu, Wonwoo merasa kecewa dan bahkan matanya sudah mulai berair. Wonwoo kemudian bangun dari tempat duduknya sebelum ia berlari kearah ibunya yang tak jauh dari posisi mereka.
Dengan agak sedikit kebingungan, Mingyu hanya dapat mengikuti Wonwoo dari belakang. Ia kemudian melihat bagaimana Wonwoo memeluk ibunya. Nyonya Kim memberikan sedikit tatapan tajam kepada Mingyu.
"Kau tidak boleh seperti itu, kan itu milik Mingyu" Kata Nyonya Jeon sambil mengusap-usap rambut hitam Wonwoo.
Mingyu akhirnya baru sadar kalau yang membuat Wonwoo sedih itu ya gara-gara mainan plastik ini. Mingyu melihat kearah mainan plastik di tangannya. Ia benar-benar tidak mau memberikan mainan itu kepada Wonwoo karena model yang ini belum pernah ia dapatkan. Tapi…
"Ini, hadiah untukmu" Mingyu menyodorkan mainan plastik itu kedepan Wonwoo. Pada awalnya, Wonwoo hanya melihat kearah Mingyu, tidak yakin apakah benar ia akan memberikan mainan itu. Tangan kecil Wonwoo dengan perlahan meraih mainan itu.
Mingyu memperhatikan tangan Wonwoo yang meraih mainan miliknya.
Ketika Mingyu tidak dapat merasakan mainan itu ditangannya lagi, tiba-tiba matanya berair.
Mingyu menangis.
Melihat Mingyu yang menangis begitu keras, Wonwoo segera ingin mengembalikan mainan itu tapi Mingyu menggelengkan kepalanya, mengatakan kalau mainan itu benar-benar untuk Wonwoo dan ia tidak membutuhkannya lagi. Semua itu Mingyu katakan dengan linangan air mata yang membasahi pipinya. Semua orang yang melihat juga tahu kalau Mingyu sebetulnya tidak ingin memberikan mainan itu pada Wonwoo.
Entah kenapa hal itu malah terlihat begitu menggemaskan di mata Nyonya Kim dan Jeon. Anak yang malang.
.
.
.
Enemy?
Friend?
Or…
.
.
.
"Ada apa?" Tanya Mingyu dengan nada yang ketus ketika ia melihat Wonwoo berada di depan kamar apartemennya. Wonwoo menyipitkan matanya, tidak begitu suka dengan kelakuan Mingyu yang seperti itu.
"Kau punya palu?" Tanya Wonwoo.
"Untuk apa?" Tanya Mingyu balik.
"Untuk memalu sesuatu, duh" Wonwoo memutar bola matanya malas.
"Iya sesuatu itu apa, duh" Mingyu mengikuti nada menyebalkan yang Wonwoo gunakan.
"Lemari kecil"
"Pasti untuk buku-buku barumu" Kata Mingyu sebelum ia meninggalkan Wonwoo di depan pintu untuk mengambil palu.
"Ayo"
Wonwoo kemudian tersenyum lebar ketika mendengar Mingyu mengatakan itu.
"Tidak usah senyum-senyum seperti itu. Aku tahu niatmu dari awal bukan untuk meminjam palu saja tetapi sekaligus menyuruhku membuatkan lemari kecilnya"
"Coba saja kau menggunakan otakmu yang cemerlang itu untuk belajar"
"Tch" Mingyu tidak memberikan tanggapan apapun karena ia sedang malas untuk berargumen dengan Wonwoo.
"Yah Jeon Wonwoo" Kata-kata itu keluar dengan otomatis dari mulut Mingyu setelah ia melihat apa yang ada di depan matanya, "Kau bilang lemari kecil?! Ini bahkan lebih besar dari lemari pakaianmu!"
"Ah Ayolah, kau pikir kenapa aku mau kau yang mengerjakan ini? Kalau lemari kecil mah aku bisa sendiri"
Mingyu menghela nafas dengan panjang. Ia juga memijat keningnya yang tiba-tiba berasa agak sedikit nyeri itu.
"Ayolah, nanti aku bagi kue yang aku punya" Kata Wonwoo dengan nada yang dibuat-buat.
Mingyu memutar bola matanya, "Aku yakin kue itu juga kue yang kemarin aku buat di pelajaran tata boga!"
Wonwoo pura-pura terkejut, "Sejak kapan Mingyuku ini menjadi begini pintar? Aku jadi sedih"
"Mingyuku Mingyuku" Cibir Mingyu.
"Himnae, Kim Mingyu. Aku harus belajar" Kata Wonwoo sebelum ia menyamankan dirinya di kasurnya.
"Kau tidak membantuku?" Mingyu benar-benar tidak percaya dengan kelakukan teman kecilnya ini. Bagaimana mungkin ada orang yang begini tidak tahu diri?
"Aku harus belajar" Kata Wonwoo sekali lagi. Wonwoo dapat merasakan kalau Mingyu hanya berdiri di tengah kamarnya tanpa melakukan apa-apa. Okay. Mungkin Wonwoo agak keterlaluan kali ini.
"Kau pulang saja sana" Kata Wonwoo sebelum ia meraih palu yang ada di tangan Mingyu.
Lelaki dengan mata mirip seekor rubah itu menaikkan alisnya ketika Mingyu justru menjauhkan palu itu dari jangkauannya.
"Kau belajar saja"
"Tadi kau tidak mau membantuku!"
"Ya memang aku sebenarnya malas"
"Yasudah aku bisa kerjakan sendiri"
"Lalu besok semua tanganmu itu akan penuh dengan luka, dan kau tahu apa? Aku terpaksa harus mencatat semua pelajaran untukmu juga!" Kata Mingyu sambil ia mengingat-ingat kejadian ketika mereka baru pindah ke Seoul. Seluruh tangan Wonwoo penuh dengan luka. Mingyu jadi harus mencatat dua kali.
"Aku kan tidak minta kau mencatatkan untukku"
"Ya memang benar"
"Lalu?"
"Lalu…" Mingyu juga bingung harus menjawab apa.
"Berarti itu bukan salahku, kan?" Wonwoo mendengus.
Disaat Mingyu sudah tidak bisa melawan lagi, ia selalu menggunakan cara ini untuk membuat Wonwoo kesal.
"Baiklah, baiklah" Kata Mingyu sebelum ia memegang kedua bahu Wonwoo dan menyuruhnya untuk duduk, "Duduk manis, princess. Lemarimu akan jadi dalam sekejap"
"Ya!"
"Sssstt.. sudah malam. Kau tidak mau dimarahi lagi oleh para tetangga, kan?"
"Kau harus benar-benar mengunci pintu rumahmu dengan benar Kim Mingyu, karena suatu hari aku akan diam-diam masuk kesana dan menusukmu"
"Tidak akan pernah, princess, karena sebelum hal itu terjadi aku sudah meracunimu duluan"
Kalau saja hanya dengan memberikan tatapan yang tajam dapat menghabisi nyawa seseorang, mungkin Wonwoo dan Mingyu sudah tidak ada di dunia ini sekarang.
Gaya pertemanan Wonwoo dan Mingyu itu agak sedikit….. membingungkan, yah?
.
Wonwoo sudah tidak tahu berapa lama ia terlelap, karena ketika ia membuka matanya, ia sudah ditutupi dengan selimut dan lemari bukunya pun sudah jadi. Wonwoo kemudian melihat jam di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Wonwoo kemudian juga melihat ada pesan baru dari Mingyu.
Kau benar-benar berhutang banyak padaku kali ini.
Mingyu mengirim pesan itu jam 2.32 pagi, bukankah itu berarti ia baru selesai mengerjakan lemari ini sekitar 30 menitan yang lalu?
"Haah… kan jadi gaenak" Kata Wonwoo kepada dirinya sendiri.
Wonwoo kemudian melanjutkan tidurnya setelah memastikan kalau pintu kamarnya telah dikunci.
Pagi itu, Wonwoo bangun sekitar pukul 8 pagi. Ia kemudian bersiap-siap untuk pergi ke toko buku di daerah Gangnam untuk mengisi lemari barunya itu. Wonwoo sebetulnya ingin mengajak Mingyu, tangannya yang mengepal itu sudah siap untuk mengetuk pintu kamar temannya. Namun, ia mengurungkan niatnya karena sepertinya Mingyu akan bangun lebih siang hari ini.
Sama seperti pada tahun-tahun sebelumnya, toko buku besar di Gangnam ini mengadakan undian berhadiah bagi mereka yang membeli buku dengan jumlah tertentu. Wonwoo yang memang membeli banyak buku karena memiliki lemari baru itu mendapatkan kesempatan untuk menarik undian sebanyak dua kali.
Wonwoo melihat kearah poster besar di depannya sebelum matanya kemudian berpindah ke kotak kaca bening yang dipenuhi oleh gulungan-gulungan kertas kecil. Untuk tahun ini, hadiah-hadiahnya juga tidak terlalu jauh berbeda. Ada ponsel Samsung model terbaru, kamera digital, USB, voucher restoran, voucher berbelanja di toko buku itu sendiri dan lain-lain.
Wonwoo membuka dua gulungan kertas yang sudah ia ambil. Penjaga toko yang berada di depannya bahkan terlihat jauh lebih penasaran darinya.
"Pen" Wonwoo membaca tulisan di kertas pertamanya.
Wonwoo kemudian membuka gulungan kertas yang kedua, "Voucher… Burger Bite"
Wonwoo berteriak dalam hati. Wonwoo yang memang pencinta burger ini tentu sangat senang ketika ia mendapatkan voucher gratis makan di 'Burger Bite' untuk dua orang. Ia kemudian segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Mingyu
Makan siang hari ini, Burger Bite.
Mingyu biasanya selalu membalas pesan Wonwoo dengan sangat cepat. Tapi kali ini berbeda. Bahkan ketika Wonwoo sudah sampai di stasiun MRT dekat tempat mereka tinggal, Mingyu masih belum membalas pesannya. Wonwoo juga sudah mencoba untuk menghubunginya tapi temannya itu tidak mengangkat telponnya.
"Hei, Kim Mingyu!" Panggil Wonwoo sambil menggedor-gedor pintu kamar Mingyu.
"Kim Min-"
Setelah beberapa menit, Mingyu akhirnya membukakan pintunya. Rambut Mingyu terlihat berantakan dan matanya juga masih terlihat sayu. Mingyu kemudian menguap.
"Yang benar saja kau baru bangun? Ini sudah hampir jam setengah 12"
"Gara-gara siapa aku baru bisa tidur jam 3 pagi?"
Wonwoo terdiam. Ya tentu saja gara-gara Wonwoo. Tidak heran, memang Mingyu ini seperti bayi yang butuh banyak tidur.
"Yasudah, cepat siap-siap kita makan siang diluar" Kata Wonwoo sambil mendorong Mingyu kedalam.
Setelah siap-siap selama sekitar 20 menit, Mingyu dan Wonwoo pergi ke restoran 'Burger Bite' bersama. Seperti biasa, Wonwoo memesan hamburger spesial sedangkan Mingyu memesan cheeseburger, keduanya lengkap dengan kentang goreng dan soda.
"Aku tidak menyangka kau bisa mendapatkan voucher ini lagi" Kata Mingyu sambil membuka bungkus burgernya.
"Hmm?"
"Kau juga memenangkan voucher ini tahun lalu, kan? Kau mengajakku makan disini dengan voucher gratis yang kau dapat dari toko buku" Kata Mingyu sebelum kemudian memukul mulutnya sendiri, pura-pura merasa salah berbicara, "Ups, aku lupa kalau kau tidak mau diingatkan soal itu"
Tahu betul apa yang Mingyu sedang bicarakan, Wonwoo menendang kaki lelaki tinggi di depannya itu.
"Ow!" Tangan Mingyu reflek meraih kakinya sebelum mengelus bagian yang baru saja Wonwoo tendang.
"Kenapa kau sensitif sekali soal itu sih? Putus dengan pacar kan hal yang sangat wajar, Jeon Wonwoo" Kata Mingyu.
"Aku tidak mau mengingat soal itu"
"Padahal kau kan sangat menyukainya, siapa namanya? Soyul? Kau bahkan tidak bisa berhenti tersenyum ketika kalian resmi jadian" Mingyu mendengus ketika mengingat wajah Wonwoo yang kelewat senang itu.
"Gara-gara kau" Wonwoo berguman sebelum menggigit hamburgernya.
"Kenapa kau selalu menyalahkanku, sih? Aku bahkan tidak melakukan apapun, loh"
Mingyu benar-benar tidak mengerti kenapa teman dari kecilnya ini selalu mengatakan kalau mereka putus gara-gara Mingyu. Kalau ditanya pun, Wonwoo tidak pernah mau menjelaskan sebab mereka putus.
Mingyu sebenarnya berpikir kalau Wonwoo sengaja mengatakan itu supaya ia kesal. Tapi… benarkah itu alasannya?
.
~Satu tahun yang lalu~
Ketika Wonwoo berada di kelas 11, untuk pertama kalinya ia mendapatkan seorang pacar. Gadis itu bernama Soyul, teman sekelas Wonwoo. Mereka mulai dekat sejak menjadi anggota di club yang sama, club research. Mereka kemudian resmi pacaran setelah sekitar 2 bulan dekat. Namun mirisnya, hubungan mereka bahkan tidak berjalan lebih dari 1 bulan.
Suatu hari, Wonwoo dan Soyul sedang berkencan. Mereka kemudian pergi ke toko buku di Gangnam untuk mencari beberapa buku. Saat itu, toko buku itu juga sedang mengadakan undian berhadiah. Wonwoo mendapat kesempatan untuk menarik undian sebanyak satu kali.
Dari semua hadiah yang tertera di poster, mata Wonwoo terjatuh pada voucher restoran 'Burger Bite'. Restoran yang baru buka bulan lalu itu sangat ramai dan populer. Wonwoo dan Mingyu sering sekali mencoba untuk makan disana namun selalu gagal karena antrian yang begitu panjang, apalagi harga dari burger disana juga bisa dibilang cukup menguras kantong.
Kali ini, dengan harapan bisa mendapatkan voucher itu, Wonwoo mengambil satu gulungan kertas diantara gulungan-gulungan lainnya. Ia kemudian membuka kertas itu dan ia cukup terkejut ketika tahu kalau ia mendapatkan voucher restoran 'Burger Bite' yang ia inginkan.
"Selamat" Kata penjaga toko sambil memberikan voucher itu kepada Wonwoo.
"Aku dengar burger di restoran ini begitu lezat, jadi, kapan kita akan pergi?" Soyul yang sedari tadi berada di sisi Wonwoo bertanya.
Namun setelah mendengar pertanyaan itu, Wonwoo malah membeku.
Kencan mereka untuk hari itu selesai setelah Soyul membeli beberapa cemilan di supermarket.
"Kenapa mukamu kusut begitu?" Tanya Mingyu ketika ia melihat temannya yang baru pulang dari kencan malah terlihat depresi, "Tidak berjalan lancar hari ini?"
Wonwoo menghela nafas, "Aku putus"
"Kenapa?" Mingyu tidak bisa menutupi rasa penasarannya itu. Ia tahu kalau Wonwoo dan Soyul tidak akan bisa bertahan lama jika dilihat dari sifat mereka berdua yang begitu mirip, tapi Mingyu tidak tahu kalau hari dimana mereka putus akan datang secepat ini.
"Ini semua salahmu"
Mendengar itu, Mingyu mengerutkan dahinya, "Kenapa salahku?"
"Lupakan"
"Yasudah, nanti juga dapat lagi yang baru" Kata Mingyu, berusaha untuk menyemangati temannya itu walaupun ia mengatakannya dengan setengah hati.
"Sepertinya sulit"
"Kenapa?"
"Lupakan"
"Ei, Jeon Wonwoo. Sejak kapan kita memiliki rahasia diantara kita?"
"Sejak hari ini"
"Kok begitu?! Memangnya kau putus gara-gar apa sih?" Tanya Mingyu.
"Kau tidak perlu tahu" jawab Wonwoo.
"Aku ingin tahu" Mingyu ngotot.
"Kalau begitu beritahu aku kenapa kau putus dengan Seolhyun noona dulu?"
Mingyu terdiam. Melihat itu, Wonwoo mendengus.
"Kau juga tidak mau menceritakannya. Jadi aku juga tidak akan menceritakannya"
"Baiklah, ini cukup adil"
Wonwoo sebetulnya tidak suka bagaimana Mingyu menerimanya begitu mudah. Itu berarti Mingyu benar-benar tidak mau menceritakan alasannya putus dengan Seolhyun noona, walaupun dengan cerita Wonwoo sebagai bayarannya. Wonwoo mencoba untuk menghilangkan perasaan kecewanya itu, ia kemudian mengingat satu hal.
"Besok kau ada waktu?" Tanya Wonwoo.
"Jam?"
"Makan siang"
"Tentu saja" Mingyu mengangguk.
"Kalau begitu besok kita ke 'Burger Bite' yah, aku mendapatkan voucher gratis" Kata Wonwoo sambil memperlihatkan voucher yang ia dapatkan dari toko buku itu.
Melihat voucher di tangan Wonwoo, Mata Mingyu berbinar.
"Ya ampun! Hebat sekali kau bisa mendapatkan voucher gratis! Kita sudah berapa kali gagal makan disana? Kau selama ini tidak diam-diam makan disana duluan, kan?" Tanya Mingyu.
"Tentu saja. Kita kan janji untuk makan bersama"
"Tch. Aku yakin kau akan mengingkari janji itu kalau saja kau masih pacaran dengan Soyul saat ini"
Wonwoo hanya dapat tersenyum pahit.
Kalau saja Mingyu tahu orang pertama yang muncul di benak Wonwoo ketika ia memenangkan voucher itu adalah Mingyu.
Kalau saja Mingyu tahu Wonwoo putus dengan Soyul gara-gara ia tidak mau memberikan voucher itu kepada 'mantannya' itu.
Kalau saja Mingyu tahu….. sudah dipastikan ia akan menggoda Wonwoo habis-habisan.
Eugh, hanya memikirkannya saja Wonwoo sudah kesal.
.
Begitulah bagaimana cerita Wonwoo bisa putus dengan mantannya. Bisa dibilang Mingyu cukup ambil peran dalam putusnya hubungan mereka, bukan?
Tapi, kalau dipikir-pikir. Wonwoo sendiri tak habis pikir. Memang hubungan mereka sudah sangat dekat dari kecil. Mereka akan selalu mendahulukan satu sama lain, tapi Wonwoo pikir kalau mereka punya pacar, semuanya akan berubah.
Tapi justru, Wonwoo rela memutuskan mantannya itu hanya karena hal sepele. Memalukan.
Kenapa Wonwoo bisa melakukan hal itu? Lalu, jika Mingyu ada di posisi Wonwoo apakah ia juga akan melakukan hal yang sama?
Mingyu dapat merasakan suasana hati Wonwoo yang tiba-tiba agak sedikit berubah. Ia benar-benar tidak suka ketika Wonwoo mulai menjadi diam seperti ini, jadi, ia berusaha untuk mencairkan suasana.
"Kau ingat dulu kau pernah membuat seisi kelas tertawa karena perkataanmu?" Tanya Mingyu untuk memulai topik.
"Yang mana?"
"Saat kau bilang 'Hamburger is my life'"
Dan seharusnya, Wonwoo sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu.
Karena, ya…
Hamburger is Wonwoo's life.
.
.
.
.
.
Pertanyaan serius. Awalnya kan ini cuma mau dibuat 3 chapter, jadi chapter depan udah tamat. Kalian maunya ini fanfic dipanjangin dikit jadi sekitar 5 chapter atau udahan aja lebih cepat tamat lebih baik? Hehe
Makasih banyak yah buat 56 reviews, 79 followers dan 57 favs. Hanya dalam 1 chapter… I LOVE YOU ALL.
Terusin yang kasih reviewnya… itu benar-benar bikin aku semangat untuk nulis! Hehe
Untuk yang nanyain Soulmate. Ff itu emang agak lama di updatenya karena jalan cerita yang lebih complicated *kalian bakal tahu nanti*, tapi yah… jangan khawatir, pasti aku update kok 3
