"Cepat, Sasuke!"

Dalam larinya, Sasuke mendecih tak suka saat mendengar teriakan itu. "Aku tahu, aku tahu! Tapi tidak bisakah kau tidak berteriak? Aku sudah lelah mendengar teriakanmu!"

Naruto ikut mendecih, "Jika kau masih lambat seperti ini, maka aku akan meninggalkanmu!" melihat ada satu mayat hidup yang berdiri di jalur larinya, Naruto dengan tak segan menghantamkan kepalan tangannya kearah wajah zombie itu.

Buak!

Mayat hidup tersebut jatuh ke lantai dengan keras dan kemudian menjadi pijakan kaki Naruto serta kaki Sasuke yang masih terus saja berlari.

"Bagaimana rasanya?"

Naruto sedikit memiringkan kepalanya untuk melirik Sasuke, "Sakit banget."

Sasuke sedikit menyeringai melihat reaksi sahabatnya itu.

"Itu dia! Kelas 1-A."

Sasuke dengan cepat menyamakan jalur pandangnya dengan telunjuk Naruto, akhirnya mereka sampai pada tujuan, untuk menyelamatkan saudari dari sahabatnya.

[A Live in The Dead World]

Disclaim Character: Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Typo, AU, Violence, and etc.

Summary: Naruto, remaja penggemar Zombie yang bertahan hidup di tengah-tengah sekumpulan bangkai manusia yang berjalan. Di makan, atau membunuh? Hanya pilihan itu yang kini ada pada hidupnya.

.

Chapter 2: Masih awalnya!

Srek!

"Yukata!"

Tak ada satupun sahutan yang terdengar saat Naruto berteriak seperti itu. Di dalam kelas yang di datanginya kini sunyi, tidak ada apapun, dan itu membuat Naruto menjadi frustasi secara tiba-tiba.

"Tidak mungkin..." Kali ini harapannya musnah. Dia terlambat, sangat terlambat.

Di belakangnya, Sasuke hanya bisa menatap miris dalam diam keadaan sahabatnya. Dalam situasi seperti ini ucapan sama sekali bukan sebuah solusi, dan dia tahu, karena itu Sasuke memilih diam.

Naruto tertunduk, dia menangis tanpa sedikitpun mengeluarkan suara, bahkan sesenggukanpun tidak.

"Naruto," setelah beberapa saat akhirnya Sasuke memanggil.

"Aku tahu,"remaja berambut pirang itu membersihkan permukaan wajahnya dari bekas air mata dan ingus yang sedikit keluar, "Kita harus keluar dari sin —"

Kling!

Sebuah pesan tiba-tiba masuk, dan Naruto cepat-cepat bergerak mengambil ponselnya yang berada di dalam salah satu saku membuka kunci layar pada ponselnya, dan saat dia membaca alamat pesan dari sang pengirim, kedua matanya perlahan melebar.

"Dari siapa?" Tanya Sasuke.

"Dari Yukata!" Cepat-cepat Naruto segera menekan nomor ponsel Yukata, dan di panggilnya nomor tersebut. "Halo! Yukata! Kau selamat!?"

"Aku selamat, Naruto-kun."

Mendengar jawaban itu Naruto langsung memanjatkan kata syukur dalam hati,"Sekarang kau berada dimana? Aku akan menemuimu."

"Aku sekarang berada di toilet, dan aku sedang bersama Shino-kun."

"Apa!?" Naruto berteriak.

"Ja-jangan salah paham terlebih dahulu, aku sekarang berada di toilet bersama Shino-kun dan juga bersama murid lainnya yang juga selamat."

Naruto menghembuskan nafas lega.

"Dasar siscon." Celetuk Sasuke sambil sedikit menampilkan seringai mengejek.

Naruto hanya membalas dengan delikan tajam, sebenarnya dia ingin sekali berteriak, tapi karena dia masih berada pada panggilan, akhirnya dia hanya bisa melakukan hal tersebut.

"Baiklah, aku dan Sasuke akan kesana sebentar lagi."

Sambungan panggilanpun di tutup.

Setelah Naruto kembali memasukkan ponselnya, remaja pirang itu menatap Sasuke. "Cepat, kita kesana."

Naruto kembali berhenti berjalan saat bahunya ditahan oleh Sasuke. Naruto pun menatap teman terdekatnya itu, "Ada apa?"

"Kita sudah mengonfirmasi keselamatan Saudarimu, jadi bisakah aku yang meminta bantuan sekarang?"

~o~

"Siapa yang menelponmu tadi?"

Yukata menoleh saat mendengar pertanyaan Shino yang sepertinya ditujukan padanya, "Oh, itu tadi dari sepupuku yang juga bersekolah disini. Ada apa?"

Shino menggeleng, "Hanya ingin tahu, kenapa dia tidak pergi kesini?"

"Dia orangnya memang sedikit agak lambat, mungkin sebentar lagi." Yukata kemudian memandang kearah sekumpulan murid yang tak jauh dari posisinya berada, "Kalau boleh tahu, ada apa dengan mereka?"

Shino memutar kepalanya untuk mengikuti jalur pandang Yukata saat ini, "Mereka? Oh, hanya sekumpulan para pemuja dan makhluk pujaan mereka."Shino berkata dengan suara pelan.

"Oh, begitu."

Yang kedua remaja itu lihat adalah Hinata beserta tiga siswa yang sedang berdiri gagah mengelilinya seperti seorang bodyguard. Dapat Yukata lihat kalau Hinata hanya bisa merunduk menyembunyikan wajahnya dengan malu-malu, tapi dia tahu kalau yang sebenarnya dilakukan oleh Hinata hanya sekedar akting belaka, tidak lebih dari kepura-puraan.

Yukata memandang tajam Hinata dari tempatnya berada, 'Maaf saja, tapi aku tidak akan membiarkan Naruto-kun jatuh padamu.'

.

.

Gdebuk!

Bokong Naruto kembali terhempas diatas lantai Sekolahnya yang keras dan tak berperasaan itu, nafasnya kembali dibuat tersenggal-senggal oleh Sasuke.

"Hah, hah, jadi kenapa kita ada disini?" Ruangan yang Naruto tempati saat ini adalah ruangan yang asing baginya. Bagaimana tidak? Dia tidak pernah sekalipun masuk ke dojo tempat latihan klub Kendo sebelumnya, ini yang pertama kali

Mengacuhkan sahabatnya, Sasuke malah berjalan kearah dinding yang disana terpajang sebuah pedang dengan warna cokelat yang terlihat kontras.

"Apa yang ingin kau lakukan dengan katana itu, Sasuke?" Tanya Naruto.

Sasuke mengambil pedang tersebut, "Ini adalah senjata terakhir yang terpikirkan olehku, tidak ada yang lain."

Naruto mengangkat satu alisnya, "Nanti kau bisa di hukum kalau kau mengambil barang milik Sekolah tanpa ijin."

"Oh, benar sekali. Mungkin aku akan di hukum oleh guru yang sedang mencoba mendobrak pintu disana." Sasuke menunjuk sebuah pintu masuk ruangan itu, dan Naruto pun mengikuti arah telunjuk sahabatnya.

Dapat ia lihat dengan sepasang safir miliknya seorang guru yang sudah menjadi mayat hidup yang mencoba menjebol pintu masuk, dengan terpaksa Naruto tertawa hambar.

"Ingat kawan," Naruto melihat Sasuke kembali, "Sekarang kita sudah tak terikat lagi dengan yang namanya Sekolah, tak ada peraturan yang dapat mengekang kita sekarang. Paham?"

Naruto mendengus, "Hm, tentu saja!"

~o~

"Jadi... ini yang kau sebut jalan keluar darurat?" Naruto harus menghela nafas saat sahabatnya hanya menjawab dengan sebuah gumaman rendah. Tak sedikitpun terpikirkan olehnya, kalau dirinya kini harus merangkak melalui lubang tikus karena ulah Sasuke. Lubang tikus hanya sebuah julukan.

"Sebentar lagi kita akan keluar, lebih tepatnya keluar dari gedung Sekolah."

"Apa!?" Naruto terkejut. "Bagaimana dengan Yukata!?"

Sasuke menghela nafas dalam hati, kenapa yang dipikirkan sahabatnya selalu saja sepupunya? Jangan-jangan... "Naruto, jangan bilang kalau kau mengencani sepupumu sendiri?"

Alis Naruto berkerut, "Hah?"

Sasuke mendengus pelan, "Oh, ayolah, kau pasti mendengar apa yang baru saja aku ucapkan."

"Aku memang mendengar apa yang kau ucapkan, hanya saja aku tak mengerti maksud dari perkataanmu."

Kali ini Sasuke harus menghela nafas, "Baiklah, biar aku perjelas. Apakah kau berpacaran dengan sepupumu sendiri? Kau tahu, sedari tadi yang kau khawatirkan cuma sepupu, sepupu, dan sepupu, tidak bisakah kau mengkhawatirkan yang lain? Misalnya saja, calon gagal pacarmu itu?"

Kedua alis Naruto kini berkerut tak suka, "Kenapa kau malah membawa-bawa Hinata?"

"Hei, itu hanya semisal, kenapa kau memasukkannya kedalam hal yang serius?"

"Kalau begitu, jangan bandingkan lagi Hinata dengan Nee-chan!"

"Baiklah-baiklah," dalam lorong sempit jalan keluar yang Sasuke dan Naruto pakai saat ini sudah terihat ujung yang bercahaya, "Itu dia jalan keluarnya!"

Sebelum sepenuhnya keluar, terlebih dahulu Sasuke memastikan keadaan di luar. Dia tolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, dan sejauh yang ia lihat hanya terdapat semak blukar dan pepohonan.

"Baiklah, keadaan aman." Sasuke pun keluar, di ikuti oleh Naruto di belakangnya.

"Hah? Kita berada di belakang gedung sekolah, bagaimana cara kita menemui Yukata yang berada di lantai dua?" Tanya Naruto.

Sasuke berbalik menatap Naruto, "Baiklah, dari sini akan kuperjelas. Kita akan berpisah."

Naruto mengangkat satu alisnya, "Hah? Apa maksudmu? Kau bicara seolah kita ini sepasang kekasih."

"Aku belum selesai bicara, Bodoh!" Sasuke membuang nafas sejenak, "Dari sini, kita akan berpencar. Kau, cobalah telusuri lantai dua, aku akan mencoba menulusuri lantai dasar Sekolah ini, paham?"

"Kenapa sangat tiba-tiba —" Naruto langsung terdiam saat Sasuke memberikan sisa pisau yang ia bawa dari tempat klub Memasak.

"Aku sedang tidak bercanda. Anggap ini sebuah misi bertahan hidup, hanya kita berdua yang berhasil keluar dari gedung sekolah, jadi mereka yang berada di dalam sana masih belum tahu tentang jalan keluar yang ada, karena itu kita harus menjadi penuntun."

Naruto menghela nafas sejenak, sebelum ia menyelipkan pisau pemberian Sasuke di sabuknya. "Jadi, apa rencanamu?"

Mendengar pertanyaan itu, Sasuke langsung berjongkok dan menatap tanah. "Langkah pertama sudah jelas kalau kita akan berpencar untuk menulusuri dua lantai yang ada karena lantai ketiga sudah tak bisa di telusuri lagi." Sasuke mulai menggambar sebuah petak diatas tanah dengan sarung pedang curian miliknya, "Langkah kedua adalah kita mengumpulkan murid atau guru atau siapa saja yang selamat sembari kita menulusuri dua lantai yang ada, setelah kedua langkah itu selesai kita akan bertemu dipersimpangan anak tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua, dan ingat! Jangan sampai kau beranjak dari sana sebelum kau melihat kedatanganku."

Naruto mengangguk, "Aku mengerti."

Sasuke kembali menghela nafas, "Baiklah, ini adalah langkah terakhir sekaligus langkah tersulit dalam misi ini."

Naruto mulai berkeringat dingin.

"...Langkah terakhir ini merupakan sebuah langkah awal sebelum kita memulai operasi ini, langkah terakhir itu adalah... memastikan apa kekurangan dari mayat hidup di Sekolah ini."

~o~

"Kenapa sepupumu lama sekali?"

Yukata hanya bisa menggeleng menanggapi pertanyaan yang Shino lontarkan kepadanya, "Aku harap tidak terjadi sesuatu yang buruk saat dia pergi kesini."

Yukata dan Shino kini sedang duduk dan bersandar di tembok tepat disebelah pintu masuk toilet perempuan.

"Kalau boleh tahu, sepupumu itu seperti apa orangnya?"

Yukata terseyum dan sedikit merona, "Dia baik, dia sangat baik padaku. Tapi terkadang dia juga bisa menjadi sangat tegas padaku, kupikir itu wajar karena dia adalah seorang laki-laki. Dan menurut pandanganku, dia adalah orang tertampan di dunia ini."

Shino tersenyum, "Jadi, kau menyukainya?"

"Hm! Aku menyukai semua yang ada pada dirinya!"

"Kalau boleh tahu, siapa nama sepupumu?

"Namanya —"

Dok! Dok!

Shino langsung bereaksi saat pintu masuk toilet yang ia pakai sebagai tempat persembunyian di ketuk dari luar, pemukul baseball yang ia gunakan sebagai media perlindungan diri langsung ia pegang erat-erat.

Yukata sendiri juga sudah bangkit dari posisinya semula, dia kini berdiri dibelakang Shino.

"Halo, apakah Yukata ada disini?"

Mata Yukata melebar dan mulai berkaca-kaca karena rasa senang meledak dari hatinya. Kemudian gadis itu segera meraih baju Shino, "Dia! Dia sepupuku! Cepat buka pintunya!"

Seketika bahu Shino menurun bersamaan dengan helaan nafas yang keluar dari mulutnya, "Baiklah-baiklah, akan aku buka pintunya. Jadi, tolong lepaskan bajuku."

Lalu Shino membuka pintu masuk tersebut, dari luar tampaklah seorang pemuda yang memiliki rambut pirang yang disampingnya terdapat seorang wanitayang ternyata adalah guru pengajar kelas 2, Anko Mitarashi.

"Naruto-kun!"

Naruto sedikit terkejut saat menerima sebuah pelukan mendadak dari sepupunya yang entah kenapa sepertinya terlihat senang sekali, tapi kesadaran langsung mengambil alih dirinya dan kini membuatnya menoleh kearah kanan dan kiri.

"Sebelum acara reuni ini kita mulai, sebaiknya kita segera masuk terlebih dulu."

Mendengar nada suara serius itu, Yukata jadi merasa bersalah karena sudah menimbulkan keributan. Kemudian diapun melepaskan pelukannya dan perlahan-lahan melangkah mundur dengan kepala yang tertunduk.

Naruto tak menggubris kesedihan yang dirasakan oleh sepupunya, dalam keadaan seperti ini, tak semuanya harus dicerna dengan perasaan, karena keselamatan lebih penting.

Pemuda pirang itupun masuk, bersamaan dengan Anko yang mengikutinya.

"Tuan berkacamata, tolong tutup pintunya kembali."

Shino hanya menurut saat disuruh seperti itu, setelah melakukan itu dia mendekat kearah Naruto.

"Baiklah, semuanya tolong berkumpul." Naruto mengintrupsi.

"Ada apa, Naruto-kun?"

Melihat semuanya sudah mulai mendekat kearahnya, pertama-tama yang dilakukan oleh Naruto adalah menghela nafas.

"Kalian ingin bertahan hidup, bukan?"

Pertanyaan yang Naruto lontarkan itu adalah awal dari sebuah kontroversi.

~o~

Srek!

Dengan perlahan Sasuke membuka pintu kedua yang berada di lantai dasar, matanya yang berwarna hitam kelam menjelajahi seluk beluk ruangan kelas yang ia buka.

"Kosong."Gumamnya.

Sasuke sedikit merasa heran dengan lorong tempatnya berjalan sekarang. Padahal saat dirinya tadi berada diluar gedung, banyak sekali mayat hidup yang berjalan dengan langkah orang mabuk, dan kenapa disini tidak ada apapun? Sepi, hanya sendiri.

Sasuke tak ingin memikirkan lebih lanjut masalah sepele itu, karena kini yang lebih penting adalah misi yang sekarang ia jalani, menyelamatkan siapapun yang masih bertahan. Dalam situasi ini, sebenarnya dirinya sedang diuntungkan karena indera pengelihatan mayat hidup yang bertebaran di Sekolah sama sekali tidak berfungsi.

Tapi, hal tersebut tidak sedikitpun membuat Sasuke merasa girang, karena meskipun fungsi saraf mata mereka sudah mati, penciuman mereka akan darah sudah berkembang mengalahkan penciuman manusia. Karena itu, satu-satunya cara mengelabui penciuman mereka adalah dengan menaburi tubuh dengan kotoran, atau yang lebih buruk dari itu.

Sebelum dirinya mulai menjalankan misi, sempat beberapa saat Sasuke bertanya kepada Naruto tentang cara membunuh mayat hidup, dan sahabatnya itu kemudian menjawab kalau ada banyak cara membunuh mereka, tapi ada satu cara paling efektif dari semua cara yang ada, yaitu dengan memenggal kepala mereka, menusuk kepala mereka, membuat tengkorak kepala mereka hancur, atau membuat gegar pada kepala mereka.

Sasuke kembali membuka pintu sebuah kelas, kali ini yang ketiga. "Kosong, lagi." Sasuke menghela nafas.

KYAA~!

Sebuah suaa gema dari lorong sepi itu seketika membuat nafas Sasuke tercekat. Remaja bermarga Uchiha tersebut mencoba menyeleksi darimana asal teriakan itu berasal, dan dari apa yang dia dengar barusan, tak salah lagi kalau suara itu berasal dari ujung lorong yang ia jelajahi.

Sasuke menarik nafas, "Aku harus cepat."

~o~

"Tentu saja kami ingin selamat!"

Naruto terdiam sejenak, "Kalau begitu ikutlah denganku, kita keluar dari sini."

Tiba-tiba suasana menjadi hening.

"Ada apa? Apa kalian takut?" Naruto bertanya.

"Keluar!? Apa kau gila! Di luar sana banyak sekali mayat hidup yang siap membunuh kita, apa yang sebenarnya kaupikirkan, hah!?" Hinata yang sedari tadi diam, kini akhirnya menunjukkan sifatnya yang sebenarnya.

Naruto menghela nafas, dia sudah menduga kalau akan terjadi hal seperti ini. "Dan apakah kau ingin selamanya hidup di tempat ini? Di dalam sini? Aku ingin tahu berapa lama kau bisa bertahan menghirup nafas di tempat ini, tanpa makan, tanpa minum. Aku yakin kalau kau pasti banyak mengeluh dalam hati karena sudah terjebak di tempat seperti ini, lalu kau ingin menyalahkan siapa jika sudah terjebak disini?"

Hinata bungkam dengan mata melebar. Dirinya tak percaya kalau di Sekolah ini ada yang berani melawannya, melawan keegoisannya.

"Baiklah, jika ada yang ingin bertahan hidup, ikutlah denganku. Dan jika ada yang ingin hidup, tetaplah berada disini."

To be Continued...

A/N: yah, gak ada yang spesial dari chapter dua ini, hanya ada pendeskripsian tentang mayat hidup yang berkeliaran.

Chapter depan akan ada setting dimana adegan Sasuke selanjutnya, dan tentang siapa yang ia selamatkan. Kalian tak akan bisa menebak siapa yang akan diselamatkan Sasuke, karena saya akan memakai karakter dari anime NARUTO yang hanya beberapa kali muncul, dan karakter itulah yang akan jadi ehem-ehemnya si Uchiha.

Setting tempat pada bagian awal ini hanya akan ada di area Sekolah, tak lebih dan tak kurang. Tapi setelah bagian awal ini selesai, kalian akan tahu bagaimana konflik dan kontroversi yang akan terjadi.

Oh, satu lagi. Cerita ini saya pastikan kalau ada karakter berbentuk Loli, karena saya suka Loli. Hanya saja mungkin akan sedikit lama.

Bagian awal ini gak akan lebih dari sepuluh chapter, jadi mohon sabar menunggu.

.

Ramiel de Lolicon.