Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: Naruto Uzumaki and Sasuke Uchiha
Warning: YAOI, Mungkin OOC, Typo, mungkin ide pasaran, dan kekurangan lainnya.
.
Pagi ini adalah pagi pertamanya bersama Naruto. Pria lajang berusia 25 tahun itu bersenandung pelan sembari menata piring dan peralatan makan lainnya di atas meja kayu cokelat.
"Bukankah ini pagi yang cerah~" serunya dengan nada di setiap kata yang diucapkan. " –oh. Bukankah aku calon suami yang sangat tampan dan juga berbakat," lanjutnya narsis, menyisir helai ravennya menggunakan jemari putihnya. "Naruto pasti akan bahagia karena dicintai oleh pria sepertiku."
Dia masih berbicara seorang diri, meletakkan mangkok kaca serta piring lainnya yang berisi makanan yang dimasaknya. Wajahnya terlihat lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Bahkan pria tampan ini sesekali berbicara pada burung yang bertengger di ranting pohon di dekat jendela dapur. Benar-benar pria yang penuh dengan semangat.
Setelah semua siap, pria dengan iris kelam itu melepaskan apron merah tua yang digunakannya. Merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Bagaimanapun, dia harus tampil sempurna.
"Pagi Sasuke."
Pria berhelai raven itu menoleh ke sumber suara. "Pagi," jawabnya, terdengar tidak bersemangat seperti sebelumnya.
Baru saja dia berniat membangunkan Naruto, ternyata pemuda pirang itu sudah bangun terlebih dahulu. Sasuke merasa gagal menjadi calon suami yang baik untuk Naruto, apa pemuda pirang itu akan memberikan nilai minus untuknya. Sasuke menggeleng. Dia harus selalu tenang. Masih banyak kesempatan lain.
"Kau mau kerja?" Naruto bertanya saat melihat Sasuke berpakaian dengan setelan yang rapi.
Sasuke hanya mengangguk.
"Kamu yang memasak semua ini?" Naruto bertanya setelah mendudukan diri di kursi. Merasa takjub, terlihat dari matanya yang berbinar. "Kelihatannya lezat," katanya, menyendok kuah sup. "Wah, ternyata memang lezat. Kau hebat Sasuke!"
"Tentu saja," Sasuke berkata bangga. "…apa tidak ada ciuman selamat pagi untukku," gumam Sasuke, menarik kursi di seberang meja, di hadapan Naruto.
"Ha? Tidak ada apa?" Naruto bertanya bingung. Sepertinya tadi dia mendengar kata 'cium' dan 'pagi' dalam gumaman Sasuke. "Sasu, tadi Kau bicara apa?" Naruto mengulang pertanyaannya, sedikit penasaran. Dia hanya ingin memastikan.
"Aku bilang, apa pagi ini kamu akan kuliah?" kata Sasuke, menatap mata Naruto.
Naruto menaikan sebelah alis pirangnya. Apa dia salah dengar. "Sepertinya tadi kamu bilang cium dan pagi," Naruto masih ingin memastikan.
"Apa tadi aku bilang cium dan pagi?" Sasuke melemparkan pertanyaan, tidak mengalihkan tatapannya, menjawab dengan santai. "Apa kamu ingin aku memberikanmu ciuman selamat pagi?" Sasuke sedikit mencondongkan tubuhnya, sudut bibirnya tertarik, dia menyeringai.
Naruto terkesiap, tertawa kering 'ha ha ha'. Demi apapun, Naruto merasa Sasuke sangat serius dengan perkataannya. Jujur saja, dia merasa sedikit takut. Naruto belum siap memberikan ciumannya pada laki-laki. Dia masih menyukai bibir wanita.
Seringai Sasuke lenyap begitu melihat reaksi Naruto, dia menarik diri. Apa pemuda ini homophobia? Semoga saja tidak. Karena akan sulit kalau itu memang benar.
Tenang saja Sas. Tadi Naruto mengatakan 'belum' dan 'masih'.
"Aku hanya bercanda," Sasuke mencairkan suasana yang sedikit canggung. "Makan sarapanmu."
Naruto mengangguk, dia percaya Sasuke hanya bercanda. Tidak mungkin pria menawan seperti Sasuke yang ahli menaklukan hati wanita adalah seorang penyuka sesama jenis. Kalau Sasuke seorang cassanova barulah Naruto percaya.
.
Setelah selesai dengan sarapannya, Naruto mengantarkan Sasuke ke depan pintu –atas paksaan pria itu. Kata Sasuke; jika dua orang yang tinggal bersama di satu atap. Lalu salah seorang dari penghuni rumah itu akan meninggalkan rumah, maka sudah menjadi suatu keharusan bagi penghuni lainnya untuk mengantarkan ke depan pintu. Karena hal tersebut akan mendatangkan kebahagiaan serta keberuntungan bagi si penghuni rumah dan orang yang disayanginya.
Naruto mengangguk, dia percaya saja apapun yang Sasuke katakan.
"Kau pulang jam berapa?" Naruto bertanya saat Sasuke selesai mengikat tali sepatunya.
Sasuke tersenyum lebar. "Kenapa? Apa kamu akan kesepian kalau aku tidak ada?"
"Tidak. Aku akan makan di luar kalau Kau terlambat pulang," kata Naruto. Senyum Sasuke hampir mencapai telinga. "Masakanmu enak. Aku sedang malas masak sendiri. Kau bisa memasak untukku kalau lebih cepat kembali."
Sasuke berdecak. Dia pikir Naruto bertanya karena ingin makan bersamanya.
"Aku berangkat."
"Hati-hati Sasuke!" seru Naruto saat Sasuke berjalan cepat ke arah lift.
.
.
Sepulangnya dari kantor, waktu sudah menunjukan hampir jam sebelas malam. Sasuke berjalan di sepanjang koridor dengan langkah mantap walau hatinya sedang menjerit lelah. Makhluk gaib 'pun harus melihat kesempurnaan seorang Uchiha.
Lembur bukanlah bagian dari seorang Uchiha –walau Sasuke sudah mengalaminya –kesempurnaan dan ketepatan dalam menyelesaikan pekerjaan adalah ciri khas dari seorang Uchiha sejati. Tapi, Itachi sudah menghancurkan prinsip yang Sasuke pegang selama ini. Kakaknya yang bodoh itu menumpahkan semua pekerjaannya pada Sasuke.
Seharusnya, bulan madu bukanlah alasan Itachi untuk melalaikan pekerjaannya dan memberikan tanggungjawabnya kepada Sasuke. Seharusnya, Itachi tetap membawa dan menyelesaikan pekerjaannya walau di saat sedang bermulan madu sekalipun. Seharusnya, Sasuke sudah berada di apartemen sekarang ini, karena Sasuke selalu menyelesaikan pekerjaannya jauh-jauh hari. Seharusnya, Sasuke sudah menikah dengan Naruto!
Sasuke merasa gila. Dia tidak boleh bersikap berlebihan seperti ini.
Sasuke melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 12 malam. Naruto pasti sudah tertidur nyenyak meninggalkannya. Dan semua ini gegara Itachi dan keriputnya!
Cih! Semoga saja Kyuubi sedang menstruasi. Biar tahu rasa kakaknya itu, tidak bisa menuangkan hasratnya selama mereka berbulan madu.
"Tadaima," ucap Sasuke pelan setelah membuka pintu apartemennya. Berharap Naruto menyambutnya di depan pintu dengan hanya menggunakan selembar handuk yang melingkari pinggangnya.
"Okaeri," Sasuke menoleh cepat saat mendengar suara itu.
Sepertinya Tuhan sangat menyayanginya.
Naruto berdiri di tengah ruangan dengan handuk yang melingkari pinggangnya. Tetesan air mengalir dari rambutnya yang masih basah, bergulir ke dadanya yang bidang, ke perutnya yang belum terbentuk sempurna, lalu terjatuh ke lantai. Mendadak tenggorokan Sasuke mengering, dia menjilat bibirnya cepat, berdehem.
"Kau sudah pulang Sasuke? Aku memasak, menunggumu makan malam bersama. Yah, walaupun sekarang sudah tengah malam."
Tuhan tidak hanya menyayanginya, tetapi juga mencintainya.
"Belum," kata Sasuke, berjalan melewati Naruto. Langkahnya sengaja diperlambat saat di samping pemuda itu. Menghirup napas dalam.
Tidak Sasuke. Kau sudah seperti oyaji mesum.
.
Sasuke menarik kursi di meja makan, memperhatikan Naruto yang sedang menata piring dan mengambil makanan yang sudah dipanaskan. Pemuda itu bersikeras untuk melakukannya seorang diri. Tidak ingin menyusahkan Sasuke yang lelah karena bekerja hingga larut malam, katanya.
Naruto memang pendamping hidup yang sungguh ideal.
"Aku pakai baju dulu," Naruto berkata setelah selesai mempersiapkan semua –Naruto memang belum berpakaian.
Sasuke hampir saja mencegah pemuda itu jika tidak mengingat bagaimana reaksinya pagi tadi. Sungguh disayangkan pemandangan indah seperti itu harus berlalu sangat cepat. Padahal Sasuke berharap handuk yang melingkari pinggang Naruto terlepas agar Sasuke bisa melihat apa yang ada dibaliknya.
Sungguh Sasuke sangat iri dengan bentuk tubuh pemuda itu. Sasuke memang memiliki tubuh yang tak kalah dengan Naruto, tetapi tubuhnya lebih ramping. Kulitnya juga sangat putih dan lembut. Padahal Sasuke pernah beberapa kali berjemur agar kulitnya lebih gelap, berhasil, tapi tidak berlangsung lama, karena kulitnya dengan cepat akan kembali ke warna semula.
Sasuke menghela napas. Biarlah. Toh, cepat atau lambat Naruto akan mencintainya.
Tbc.
AN
Ini NaruSasu/NaruSasuNaru
Walaupun Sasuke lebih dewasa tapi Naruto seme utamanya.
Cerita ini baru aja aku ketik. Jadi maaf kalau banyak typo atau ceritanya terkesan maksa dan aneh.
Sebenarnya chapter 2 yang asli sudah selesai dari beberapa hari yang lalu. Dan alur ceritanya sangat jauh dari yang aku publish sekarang, ceritanya berat dan banyak konflik. Tapi saat baca review dan ada yang nyumbang ide, aku jadi pakai yang ini.
Aku pakai yang ini karena hanya sedikit konflik dan ceritanya ringan.
.
Terimakasih banyak bagi yang sudah mereview, fav, mem-follow, dan yang membaca.
Terimakasih untuk:
julihrc, efiastuti, haruna aoi, naminamifrid, kangdaesung, Sora-chan, kang dae sung
.
Terimakasi bagi yang sudah membaca.
Saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan.
Ninndya
