My Love in Japan

Chapter 2:

Haloo Minna! Saya kembali lagi, sekarang saya akan membalas review dengan bantuan Shiro-chan dan Bya-kun:

Myori-chan: "Pertama dari haruki1244: Salam kenal juga. He? Senpai? Jangan panggil begitu, Myori-chan jadi malu... ^^"

Bya-kun: "Dari vvvv: Nama yang misterius. Ia nih Author pengen buat Hitsugaya jadi OOC. Habis ni Author gak tahan ama dinginya Hitsugaya." *Dapet Deathglare dari Shiro-chan*

Shiro-chan: "Dari Etsukuro: Ia nih author emang buru-buru karena di kejar PR. Kasihan sekali Myori-chan."

Myori-chan:"He? Nani? Shiro-chan manggil namaku? Kyaaaaaaaaaaaaaaa! Aku cinta padamu Shiro-chan!" *guling-guling di lantai*

Bya-kun: "Hei, bukannya kamu cinta padaku?"

Myori-chan: "Aku cinta kalian berdua!"

Ichigo:"Hei, ada apa teriak-teriak?"

Myori-chan: "Ngapain lo Jeruk! Pergi sana! Lo gak akan gue munculin disini!"

Ichigo:"Tapi aku mau Rukia." *puppy eyes*

Rukia: "Berisik lo pada. Baiklah yang terakhir dari RikurohiYuki03: Iya saya memang dokter, tapi saya kan lagi nya..umph..*Dibekap Myori*

Myori-chan: "Jangan bocorkan rahasia! Klo mau tahu kelanjutanya baca fic ini sampai selesai."

Bya-kun+Shiro-chan: "Happy Reading."

Disclaimer:

Bleach©Tite Kubo

My Love in Japan©Roronoa Myori

Pair:

HitsuRuki.

.

.

.

.

Happy Reading ^^:

*Last Chapter*

Ayolah, jangan terlalu formal. Cepat makan. Bukankah seorang pembantu harus menuruti semua perkataan majikannya? Dan sekarang aku menyuruhmu makan bersamaku."

"Ba..baiklah Hitsugaya-san."

Mereka pun makan malam bersama. Rukia merasa sangat beruntung memiliki majikan sebaik Hitsugaya Toushiro. Bahkan awalnya ia mengira kalau dirinya akan mendapatkan majikan yang kejam, ternyata dugaannya salah. Hari-hari Rukia akan berubah setelah ini, majikannya malah akan menjadi pengubah hidupnya.

*End Last Chapter*

Jam menunjukkan pukul 04.00 pagi. Rukia pun segera bangun dan membasuh muka. Setelah itu ia langsung membersihkan seluruh ruangan yang ada di apartemen milik Toushiro, majikannya. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci pakaian sampai mengelap prabot semuanya Rukia kerjakan dengan tekun.

Toushiro yang masih terlelap dalam mimpinya pun akhirnya terbangun mendengar suara yang agak berisik dari luar kamarnya. Otak Toushiro mulai berpikir yang tidak-tidak. Ia mengira ada pencuri yang masuk ke apartemennya. Toushiro melangkahkan kakinya dengan perlahan sambil membawa bantal. Ketika ia sampai di ruang nonton, ia melihat seseorang sedang berdiri di depan televisinya. Toushiro bergumam pelan,"Kena kau, pencuri." Ia berlari menuju orang itu lalu mendorongnya ke sofa. Keseimbangan Toushiro goyah sehingga ia ikut terjatuh menimpa orang yang disangkanya pencuri itu. Saat Toushiro melihat wajah sang pencuri, rupanya orang yang disangkanya pencuri itu adalah pembantu barunya. Toushiro bisa melihat mata violet pembantunya yang pekat namun indah. Ketika melihat wajah Rukia memerah, ia langsung berdiri sambil berkata,

"Gomen, kukira kau pencuri."

Rukia berusaha berdiri dan menjawab perkataan Toushiro dengan lembut, "Tidak apa-apa, ini semua salahku yang membuat gaduh pada pagi hari begini."

"Ngomong-ngomong kau bangun cepat sekali?"

"Iya, aku sengaja bangun pagi agar saat Hitsugaya-san bangun semua ruangan sudah bersih."

"Oh, tapi sekali lagi gomenasai." Ucap Toushiro sambil membungkukkan badan.

"Ti..tidak usah dipikirkan." Rukia mengibas-ngibaskan tangannya.

Karena tidak bisa tidur lagi, akhirnya Toushiro memutuskan untuk melihat Rukia bekerja. Toushiro sebenarnya heran dengan pembantunya, tangan pembantunya sangat halus seperti tidak pernah melakukan pekerjaan, tapi kenyataan malah sebaliknya, gadis itu sangat cekatan dan terampil dalam bekerja. Saking asyiknya memperhatikan pembantunya bekerja, tanpa sadar Toushiro bergumam pelan ,"Dia gadis yang menarik."

Dua jam telah berlalu, Toushiro sudah selesai mandi. Rukia heran melihat majikannya yang sudah rapi. Rukia akhirnya memutuskan untuk bertanya,"Hitsugaya-san mau kemana?"

"Aku mau ke rumah sakit."

"Apa Hitsugaya-san sakit?" wajah Rukia berubah menjadi cemas.

"Hahaha, tidak. Aku ke rumah sakit untuk bekerja."
"Hitsugaya-san seorang dokter atau perawat. Dan bekerja di rumah sakit mana?" Rukia langsung bertanya tanpa henti kepada Toushiro. Toushiro hanya tersenyum menanggapi pertanyaan pembantunya itu sambil menjawab,"Aku seorang dokter dan aku bekerja di rumah sakit milikku yang bernama Rumah Sakit Ryuu.

Kening Rukia tiba-tiba berkerut, ia menjadi ingat dengan profesi aslinya yang juga seorang dokter. Toushiro yang bingung melihat perubahan sikap Rukia langsung berkata,"Sebenarnya menjadi dokter itu tidak begitu menyenangkan dan malah menurutku membosankan."

Rukia yang tidak terima dengan kata-kata majikannya langsung berkata dengan suara yang agak melengking,"Menjadi dokter punya kebanggaan tersendiri. Kita akan merasa bangga jika kita berhasil menyembuhkan orang yang menurutku itu tidak mebosankan. Kalau Hitsugaya-san memang menganggap itu tidak menyenangkan, sebaiknya sejak awal Hitsugaya-san tak usah menjadi dokter!"

Toushiro menatap Rukia tanpa berkedip. Ia terkejut mendengar perkataan Rukia. Toushiro mulai penasaran tentang Rukia dan juga Toushiro teringat amplop yang selalu dipeluk Rukia. Toushiro berdehem untuk mengembalikan suaranya, lalu menjawab dengan santai, "Siapa sebenarnya kau? Kenapa kau begitu tahu tentang perasaan seorang dokter? Dan aku minta maaf jika kau tak suka dengan semua kata yang kuucapkan tadi."

"Aku hanya gadis biasa. Justru aku yang harus minta maaf karena sudah membentak Hitsugaya-san."

"Oh ya, aku mau pergi ke rumah sakit dulu. Sampai jumpa." Toushiro melangkahkan kakinya untuk keluar dari apartemennya.

"Umm, Hitsugaya-san! Bukankah kau belum sarapan?"

"Ah, aku bisa sarapan di jalan. Aku tak mau merepotkanmu dengan menambahkan pekerjaanmu." Toushiro menjawab dengan senyum tersungging di wajahnya. Ia akhirnya memasang sepatu dan keluar.

"Sampai bukakan pintu untuk orang yang tak kau kenal dan mungkin aku pulang nanti jam 18.00."

"Baiklah akan ku ingat pesanmu, Hitsugaya-san." Rukia membalas senyuman Toushiro.

Toushiro sekarang sedang mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Toushiro hanya senyum-senyum nggak jelas. Ia juga tak mengerti kenapa ia bisa seperti orang gila. Akhirnya, ia pun sampai di rumah sakit.

"Selamat pagi Hitsugaya-san." Para suster menyapa Tousiro yang baru saja memasuki rumah sakit. Toushiro sudah seperti Pangeran, karena para suster banyak yang menyukai Toushiro.

"Pagi." Ujar Toushiro sambil tersenyum.

"Haa... Hitsugaya-san semakin hari semakin menawan." Para suster terpesona dengan Toushiro.

Toushiro tidak peduli dengan suster-suster yang sedang terbius dengan ketampanannya. Sejak meninggalkan apartemennya, Toushiro selalu mengingat kejadian yang terjadi ketika ia bersama pembantu barunya. Sudah lama Toushiro hidup dengan kesendirian, namun setelah kedatangan Rukia, ia mulai merasa hidupnya akan lebih berwarna. Toushiro yang sedang berjalan menuju ruangannya sambil melamun, tiba-tiba dikejutkan oleh suara seseorang, "Hei, daritadi kulihat kau senyum-senyum sendiri. Apa yang sedang kau pikirkan? Dan selama kita bersahabat, aku tak pernah melihatmu seperti orang gila begini."

"Huh, kau rupanya Ishida. Kau membuatku terkejut saja." Toushiro berkata dengan nada sedikit kaget.

Ternyata orang yang menyapa Toushiro itu adalah sahabat baiknya Ishida Uryuu. Ishida juga seorang dokter di rumah sakit itu.

"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Tanya Ishida penuh selidik.

"Itu karena..." Toushiro menceritakan semua tentang kejadian yang sudah terjadi padanya. Ishida tampak tertarik mendengarkan cerita Toushiro.

"Oh, jadi kau sudah memiliki seorang pembantu. Baguslah, berarti kau tak akan sibuk lagi dengan pekerjaan rumah tangga." Ishida berkata sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Begitulah." Jawab Toushiro singkat.

Rukia sedang menatap kosong layar ponselnya. Ada 34 panggilan tak terjawab dan 86 pesan masuk. Sejak kepergiannya dari Indonesia kemarin pagi, Rukia sama sekali belum mengabari keluarganya. Ia malas jika nanti keluarganya tahu posisinya, pasti mereka akan memaksa Rukia pulang. Jujur saja, walau baru semalam tinggal di Jepang, ia sudah benar-benar betah.

Karena sejak Toushiro pergi bekerja Rukia belum minum, akhirnya tenggorokannya pun terasa sakit dan kering. Rukia melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil gelas dan mengisinya dengan air keran, lalu meneguknya sampai habis. Tiba-tiba telepon yang terletak di ruang nonton berbunyi. Rukia berlari-lari kecil menuju telepon dan mengangkatnya.

"Moshi-moshi."

"Hem.. Hei, kau sedang apa?"

Rukia yang sudah mengenal suara itu langsung menjawab,"Ah.. Hitsugaya-san, aku sedang tidak melakukan apa-apa. Ada apa menelpon?"

"Oh, hanya ingin memastikan keadaanmu saja. Sekarang sedang musim gugur. Udara agak terasa dingin, jadi sebaiknya kau tak usah membuka jendela." Jawab Toushiro panjang lebar.

"Baik Hitsugaya-san." Ujar Rukia sambil tersenyum padahal ia tahu kalau senyumannya tak akan terlihat oleh majikannya.

"Aku sedang bosan Rukia, bisakah kau bersiap-siap?"

"Bersiap-siap untuk apa?"

"Bukankah kau belum makan sejak pagi? Bagaimana kalau kita makan bersama di luar?" tawar Toushiro.

"Hum, baiklah."jawab Rukia setelah berpikir sejenak.

"Aku akan segera pulang, jadi ketika aku sampai kau harus sudah siap."

"Iya Hitsugaya-san."

Toushiro pun menutup teleponnya. Rukia hanya mandi dan sedikit memoles wajahnya dengan bedak. Ia tidak berganti pakaian karena semua bajunya hilang.

Diperjalanan Toushiro mampir kesebuah toko baju. Ia teringat dengan pembantunya yang kehilangan koper. Jadi Toushiro membeli beberapa pakaian untuk Rukia. Awalnya Toushiro bingung dengan ukuran baju Rukia, tapi setelah mengingat-ngingat postur tubuh Myori yang kurus dan lumanyan tinggi, jadi Asuka membeli dengan ukuran 'S'.

(Disini Author buat tinggi Rukia itu 160cm dan berambut panjang, sedangkan Toushiro 162cm)

Di tempat lain Rukia sedang sibuk mengikat rambutnya yang panjang. Setelah berhasil mengikat rambutnya, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Senyum Rukia pun merekah di wajah cantiknya. Ia pun bergegas membukakan pintu untuk seseorang yang sudah dinantinya sedari tadi. Saat Rukia membuka pintu, terlihat seorang laki-laki yang sedang terenyum. Dan laki-laki itu adalah majikannya.

"Ah, Hitsugaya-san selamat datang."

"Hn, Rambutmu terlihat hem.. rapi." Toushiro berkata dengan agak sedikit malu-malu.

"Arigatou Hitsugaya-san."

"Ini!" Toushiro melempar bungkusan yang lumayan besar kepada pembantunya.

"Apa ini?" Tanya Rukia.

"Baju. Pakailah."

"Arigatou Hitsugaya-san." Jawab Rukia senang.

Toushiro pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemennya. Sementara Rukia sedang memakai baju barunya, Toushiro menunggu sambil mengetuk-ngetukan jarinya di sandaran tangan yang terletak di sofa.

"Bagaimana? Apakah aku masih terlihat lucu?" tanya Rukia secara tiba-tiba.

"Hmm, kau 'manis' . Ternyata aku tak salah memilihkan baju."

"Ha.. apa? Aku manis?" seketika wajah Rukia berubah warna.

"Hahaha, iya. Ayo kita berangkat, aku sudah lapar."

"Ya, ayo kita berangkat."

Mereka pun berjalan keluar gedung menuju parkiran. Saat berada di parkiran tepatnya di depan mobil Ferrari hitam milik Toushiro, tiba-tiba Toushiro membukakan pintu untuk Rukia. Rukia sedikit salah tingkah setelah diperlakukan seperti itu oleh majikannya. Sejujurnya ini adalah pertama kali bagi Toushiro memperlakukan seorang gadis dengan "Perhatian" seperti itu. Dan anehnya, ia bersikap perhatian terhadap gadis yang baru dikenalnya sehari. Biasanya Toushiro sangat dingin terhadap perempuan. Tetapi ketika melihat Rukia, entah apa yang mendorongnya untuk memperlakukan gadis itu sedikit lebih istimewa padahal Rukia adalah pembantunya.

Tousiro melaju dengan stabil di jalanan yang cukup padat. Sesekali Toushiro melirik Rukia secara diam-diam, namun yang dilirik hanya fokus terhadap pemandangan kota Tokyo pada musim gugur. Setelah 25 menit berlalu, Toushiro menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah. Rukia hanya melongo melihat restoran itu sambil berkata, "Hitsugaya-san, apa kita akan makan disini? Maksudku ini kan restoran mewah."

"Kalau iya, memang kenapa?" jawab Toushiro santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.

"Ehm.. tidak apa-apa."

"Ayo cepat masuk. Di luar dingin sekali." Ujar Toushiro sambil mengulurkan tangannya pada Rukia.

Rukia tampak sedikit ragu melihat tangan Toushiro. Namun akhirnya ia menyambut tangan majikannya, dan berjalan masuk ke dalam restoran. Ketika sampai di dalam restoran, salah satu pelayan menyambut mereka sambil berkata, "Selamat datang, apakah kalian sepasang kekasih?"

"Ap..apa! Bu..bukan, kami bukan sepasang kekasih." Ucap Rukia cepat sambil melepaskan tangan Toushiro.

"Ah, maafkan saya. Padahal jika kalian sepasang kekasih kami akan memberikan makanan penutup secara gratis." Ujar pelayan agak menyesal.

"Tidak. Kami memang sepasang kekasih. Iya kan, Rukia-koi?"

"Apa Hitsugaya-san?" tanya Rukia dengan wajah yang sudah berubah warna.

Toushiro hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Rukia. "Bolehkah kami meminta meja untuk dua orang?" tanya Toushiro pada pelayan restoran.

"Tentu Tuan. Meja anda ada disana."

Toushiro menggandeng Rukia dan menariknya ke meja. Rukia tak berani menatap wajah Toushiro. Toushiro hanya tersenyum sambil terus memandangi wajah pembantunya. Toushiro senang, tidak bukan senang melainkan begitu menikmati memandang wajah Rukia. Satu kata yang terlintas di kepala Toushiro ketika menatap Rukia, yaitu "Cantik".

Pelayan menghampiri Toushiro dan Rukia dengan membawa buku menu.

"Mau pesan apa, Tuan dan Nona?" tanya pelayan sopan.

Toushiro melihat-lihat menu dengan sesekali melirik ke arah Rukia.

"Aku mau pesan American Beef Steak dan minumnya Italian Ice Cappuccino. Kau mau pesan apa, Rukia?"

"Ha? Aku?"

"Sini biar aku yang memilihkan untukmu. Ehm... Spaghetti Chicken Mayonnaise saja, dan minumnya American Orange Float."

"Baiklah silahkan menunggu." Kata sang pelayan sambil meninggalkan Toushiro dan Rukia.

Rukia hanya menunduk saja, ia tidak terbiasa dengan perlakuan majikannya yang "Perhatian". Keheningan menyelimuti mereka, namun Toushiro terus memandangi Rukia dan semua gerak-geriknya. Hingga lagu Wish ur My Love yang dinyanyikan oleh T-max feat J, sekaligus lagu favorit Rukia terdengar nyaring dari ponsel Rukia. Saat Rukia melihat nama yang terpampang di ponselnya, mata Rukia membulat sempurna. Namun Rukia langsung mematikan ponselnya. Toushiro yang aneh melihat tingkah laku pembantunya langsung bertanya,"Kenapa tidak diangkat?"

"Hahaha itu bukan telepon yang penting." Rukia memaksakan tawanya yang terlihat sangat aneh.

Toushiro hanya mengangkat sebelah alisnya tanda tak paham dengan ucapan pembantunya itu.

"Hei! Kau makan siang disini juga ya, Toushiro?" ujar Ishida yang baru saja masuk ke dalam restoran.

Sontak Toushiro dan pembantunya menoleh ke arah Ishida. Rukia yang melihat Ishida, entah kenapa langsung merasa tertarik terhadap laki-laki tinggi berkacamata yang tampan itu, walau sebenarnya ketampanan Toushiro masih di atas Ishida. Jantung Rukia berdetak 3x lebih cepat dari biasa, wajahnya pun memanas ketika melihat Ishida berjalan mendekat ke arah mejanya.

"Hei, aku tak tahu kalau kau sudah punya pacar, kawan?" ujar Ishida sambil tersenyum penuh arti.

"Ti...tidak benar! Aku adalah pembantu Hitsugaya-san." Bantah Rukia.

"Oh, maaf kukira kalian..."

Belum sempat Ishida menyelesaikan kalimatnya, Toushiro sudah memotong dengan cepat "Ya,ya,ya tidak apa-apa. Kenapa kau kemari Ishida?" tanya Toushiro.

"Memang aku tidak boleh makan disini?" tanya Ishida kembali.

"Hah, terserah kau saja." Jawab Toushiro dengan nada kesal.

Ishida melirik ke arah Rukia sambil tersenyum dan berkata, "Boleh aku tahu namamu?"

"Eh, namaku Rukia Kuchiki." Jawab Rukia sambil menundukkan wajahnya.

"Namamu..." belum sempat Ishida menyelesaikan kata-katanya, Rukia sudah memotong dengan cepat.

"Namaku aneh. Ya, aku sudah tahu itu."

"Emm, menurutku itu nama yang indah." Ishida berkata sambil tetap mempertahankan senyumannya.

"Hah! Menurutku itu nama yang aneh." Ujar Toushiro sinis, mungkin ia telah cemburu?

Rukia hanya menundukkan wajahnya, sepertinya ia malu karena Ishida telah memuji namanya. Akhirnya pelayan pun datang membawa pesanan Toushiro dan pembantunya.

"Hah, akhirnya kenyang juga." Toushiro berkata sambil menepuk-nepuk perutnya. Sesaat Toushiro melirik kearah Rukia dan terlihat jelas bahwa gadis itu sedang melamun sambil senyum-senyum. Toushiro mengangkat sebelah alisnya dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah pembantunya sambil berkata,"Hei, sampai kapan kau mau melamun? Ayo masuk ke mobil, aku mulai kedinginan karena angin musim gugur ini."

"He? Iya,iya. Ayo kita masuk."

Toushiro mengantar Rukia kembali ke apartemennya, setelah itu ia harus kembali ke rumah sakit untuk bekerja. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Toushiro sibuk bergelamut dengan pikirannya sendiri. Karena sudah lelah berpikir, ia pun mendesah keras sambil mengacak-ngacak rambutnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih tetap mencengkram roda kemudi, dan ia berkata pada dirinya sendiri, "Kenapa denganku? Selama ini aku tak pernah memikirkan seorang gadis sampai seperti ini. Tapi kenapa wajahnya selalu terbayang dalam benakku? Dan aku harus mengakui tadi ketika ia menatap Ishida dengan pandangan yang tak biasa, aku tak bisa mencegah hatiku untuk tidak marah. Ah! Bodoh! Apa sebenarnya yang kurasakan? Dulu aku tak pernah percaya dengan cinta pada pandangan pertama, mungkin sekarang aku harus bisa mengakuinya. Karena aku tertarik dengan pembantuku, seorang wanita yang bernama Rukia Kuchiki." Toushiro melanjutkan sisa hari itu di rumah sakit sambil melamun. Sedangkan Rukia hanya duduk di depan tv, namun perhatiannya tidak pada tv melainkan ia melamun, tepatnya memikirkan laki-laki yang baru dikenalnya tadi, seorang dokter teman majikannya yang bernama Ishida Uryuu.

TBC

Gimana? OOC Bgt ya? Nista bgt ni fic, tp autor mohon *sambil sujut-sujut* masih ada yang mau mereview.

REVIEW PLEASE?