Berhubung saya orang Makassar, sebelumnya saya mau minta maaf memang kalau saya pakai bahasa Makassar karena ada beberapa kata-katanya yang menurutku kedengaran lucu untuk dikasih masuk dalam cerita. Tapi tenang saja. Saya ada buat translation note ke bahasa Indo di akhir tiap chapter yang ada bahasa Makassarnya supaya saudara-saudara tidak bingung sendiri. Hahahaha~
Anyway, enjoy!
Disclaimer: Dalam segala bentuk dan perkara apa pun, KHR! bukan milik orang yang bikin fanfic nda jelas ini.
Chapter 2
Setelah briefing singkat di luar ruang utama (Tsuna berpikir kenapa tidak di dalam ruangannya saja), akhirnya mereka masuk dan melihat seorang berambut pirang yang duduk di sofa dan lagi sibuk main PSP.
Tapi setelah mendengar suara pintu terbuka, dia cepat-cepat sembunyikan di tempat persembunyian terdekat dan memasang muka-muka tidak berdosa.
Tsuna sweatdrop melihat reaksinya karena sebenarnya sudah kentara sekali waktu dia sembunyikan.
"Ah, kamu pasti orang barunya. Tsuna, bukan? Namaku Giotto. Senang bertemu denganmu!" sambut si pirang dengan ceria sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Eh? I-iya... Senang bertemu denganmu juga... T-Tunggu! Aku tidak pernah bilang kalau setuju dengan semua ini!" teriaknya dengan panik setelah agak lalod sadarnya.
"Hm? Bukannya kamu sendiri yang setuju? Reborn sih bilangnya begitu..." tanya Giotto yang melihat kebingungan ke arah si manajer yang sedang meneguk segelas plastik espresso.
"T-tidak mungkin aku bakalan setuju dengan semua ini! Lagipula, siapa juga yang butuh orang dame..." jawab Tsuna, namun dia mengecilkan volume suaranya di kalimat terakhir sehingga tidak ada yang dengar. Semuanya kecuali Reborn yang melirik ke arah Tsuna.
"Eh? Kamu ada bilang sesuatu?" tanya Giotto.
"T-Tidak, kok…." Jawab Tsuna.
Giotto masih meragukannya, tapi memutuskan untuk tidak tanya lagi.
"Oh iya, ayo kita ketemu dengan yang lain juga. Sekalian kau bisa kenalan dengan mereka." Giotto kemudian menarik Tsuna yang semacam protes keluar dari ruangan.
Mereka melewati koridor yang dipenuhi dengan beberapa gambar-gambar tidak jelas yang salah satunya Tsuna pikir sebagai gambar yang mungkin paling anarkis yang pernah dilihatnya. Dia jadi pikir memangnya mereka tidak dituntut karena pasang gambar begitu?
Ada juga beberapa gambar lainnya yang sama tidak jelasnya sampai-sampai Tsuna memutuskan untuk tidak akan datang melewati daerah ini tanpa ditemani oleh siapa pun, kecuali kalau dia memang sudah menetapkan mau masuk ke rumah sakit jiwa.
Setelah melewati beberapa pemandangan yang tidak baik untuk kesehatan tersebut, akhirnya mereka tiba juga di ujung koridor (tolong diingat kalau panjangnya sekitar 10 km... Nda mungkin, lah... Cuma sekitar 9 km, kok), di mana ruang yang dimaksud Giotto sebelumnya terletak.
"Sudah bisa masuk, Tsuna?" tanya Giotto yang agak khawatir dengan berbagai macam reaksi yang Tsuna perlihatkan sebelumnya waktu melihat gambar-gambar yang terpajang. Dia malah pikir kalau Tsuna jadi begitu karena gugup.
"I-iya... Buka saja pintunya, Giotto-san..."
"Yakin?"
Tsuna mengangguk.
"100%?"
Sekali lagi mengangguk.
"Tidak ada kurang-kurangnya, kan?"
"Sudahlah! Buka saja!" sahut Tsuna.
"Baiklah..." balas Giotto dengan nada-nada riang dan mendorong buka pintunya.
Reaksi Tsuna langsung jadi tambah tidak karuan, melihat orang-orang yang ada di ruangan itu, apalagi karena dia bisa lihat secara langsung dan ternyata jauh lebih keren daripada cerita-cerita yang didengarnya dan kalau dilihat lewat TV.
Salah satu dari mereka, si rambut merah, G. adalah yang pertama bicara. "Dia orangnya?"
"Yup! Dia imut, kan?" tanya Giotto dengan bangga. Muka Tsuna memerah karena malu.
Hanya satu kata yang muncul di pikiran tiap orang. 'Imut.'
"Haha... Benar, kan?" sambung Giotto seakan membaca pikiran mereka.
"A-anyway, namaku G."
"Namaku Asari Ugetsu. Biasa dipanggil Asari. Salam kenal, um..."
"Sawada Tsunayoshi. Panggilanku Tsuna."
"Haha... Baiklah, Tsuna!"
"NAMA SAYA KNUCKLE! MOTTOKU ADALAH EXTREME!" sahut cowok berambut hitam dengan handsaplast di hidungnya. Banyak orang yang kasih dia pandangan sinis karena gendang telinga mereka sudah berdengung tidak karuan.
"Hm... Saya adalah Lampo, orang yang paling hebat." Ujar cowok berambut hijau dengan malas.
"Nufufufu... Daemon Spade. Saya yakin kita akan menghabiskan waktu yang indah bersama." Kata cowok dengan model rambut yang mirip melon.
'Gah, orang freak yang namanya sama dengan program komputer!' seru Tsuna dalam hati.
Semua pandangan tertuju ke arah laki-laki berambut pirang yang dari tampaknya seperti orang Prancis, yang bersandar di tembok dekat jendela yang belum memperkenalkan diri. Merasa jengkel dengan semua tatapan yang tertuju padanya, akhirnya dia bicara juga.
"Alaude."
'Pesan untuk kebaikan diri sendiri: Jaga jarak 10 meter dari orang ini.' pikir Tsuna.
"Kelihatannya acara perkenalan diri sudah selesai." Reborn tiba-tiba muncul di depan pintu dan membuat semua orang tersentak, terutama Giotto dan Tsuna yang hampir lompat karena jarak mereka yang paling dekat.
Reborn tersenyum melihat reaksi mereka. (Dasar orang sadis) "Cepat kumpul di ruang latihan. Dame-Tsuna harus dilatih supaya tahu cara jadi aktor yang baik." kata Reborn yang kemudian pergi. Barulah kesadaran mereka semua kembali ke kenyataan.
"A-Apakah dia memang suka begitu?" Tanya Tsuna yang masih agak gemetaran.
"Sangat. Bahkan sampai sekarang saja belum ada satu pun dari kami yang sudah terbiasa. Saya yakin kalau yang tadi itu pertama kalimu."
"Tidak, ini yang kedua kalinya dan saya tetap merasa kalau bisa mati muda gara-gara dia."
"Ternyata pikiran kita sama…" balas Giotto.
Sesampainya di ruang latihan, ternyata Reborn sudah menunggu di situ dengan beberapa orang yang bekerja di studio.
"Jadi apa yang membuat para nona cantik kita begitu lama?" sindir Reborn dan membuat semuanya shock.
Reborn tersenyum. "Ayo mulai latihannya. Kita tidak punya banyak waktu. Giotto dan Asari, kalian yang urus Tsuna. Yang lain latihan untuk episode berikutnya."
Giotto dan Asari mengajak Tsuna ke samping, terpisah dari mereka yang memang latihan untuk filmnya.
"Nah, kira-kira apa yang dibutuhkan seorang aktor atau artis supaya bisa berakting dengan baik?" tanya Giotto, kedua tangannya diletakkan di pinggang.
"Ekspresi yang sesuai dengan keadaan?" jawab Tsuna. Giotto dan Asari menganggukkan kepala.
"Menyesuaikan diri dengan baik terhadap keadaan juga?" sekali lagi Giotto dan Asari menganggukkan kepala.
"Bisa tampil percaya diri?" keduanya tetap menganggukan kepala, tapi dalam hati mereka berkata, 'Kayaknya tidak terlalu penting… Tapi biarlah.'
"Bisa makan mochi?" Ok, ini mulai aneh.
"Bisa bayar tagihan listrik?" Ekspresi Giotto sudah tidak jelas, Asari betul-betul tidak bisa berkomentar lagi.
"Bisa tidur-" langsung saja Giotto potong pembicaraannya. "Tunggu, tunggu, tunggu. Kau dengar dari mana itu semua?"
"Dari guru theaterku." jawabnya dengan nada datar.
'Astaga… Polos sekali ini anak.' Giotto dan Asari sweatdrop. Tsuna hanya melihat mereka dengan ekspresi kebingungan, tidak mengerti kenapa reaksinya begitu… aneh. Terutama saat mereka bisik-bisik sambil membelakangi dia.
"Jangan-jangan gurunya bilang kayak begitu karena memang dia sendiri yang bikin?" tanya Giotto.
"Aku rasa itu jawaban yang paling masuk akal. Haah… Dasar guru-guru jaman sekarang." balas Asari sambil menghela nafas. Giotto menatap temannya yang bicara seperti bapak-bapak dengan kaget. Tsuna jadi semakin bingung dan penasaran dengan apa yang keduanya bicarakan.
"Tapi kenapa juga Tsuna sampai percaya?!" tanya Giotto lagi dengan sedikit penekanan.
"Kita kan sudah sepakat kalau dia polos sekali…"
"Oh… Iya." Giotto baru sadar. (Loh, memangnya mereka pakai telepati?)
Mereka lalu berbalik lagi menghadap Tsuna yang agak kaget dengan reaksi mereka yang begitu tiba-tiba.
"Kami mendiskusikan tentang episode berikut." Asari tersenyum pada Tsuna agar dia tidak merasa curiga.
"Maaf karena bisik-bisik seperti itu, Tsuna… Soalnya lebih baik kalau kamu yang tahu sendiri kayak bagaimana ceritanya nanti." lanjut Giotto yang tertawa kecil.
"Oh, tidak apa-apa, kok. Jadi, kita lanjutkan latihannya?"
"Tentu saja! Kita mulai dengan latihan ekspresi. Tsuna, coba kau bikin ekspresi orang yang lagi bahagia." kata Asari.
"Um, bisa kasih contoh dulu?"
"Gampang, kok. Begini-" lanjut Giotto yang kemudian memperlihatkan ekspresi 'terlalu' bahagianya.
Reaksi: shock berat.
'Kenapa kayak mirip ekspresinya papaku waktu dia kalah taruhan 1 milyar…?' kata Tsuna dalam hati. (Bukannya kebalik?)
'Teringat sama reaksinya nenekku waktu dia dengar kabar waktu kakekku meninggal.' Pikir Asari. (Memangnya si nenek dendam kayak bagaimana sama si kakek?)
Namun keduanya hanya diam supaya si rambut pirang tidak tersungging.
"Bagaimana? Bagus, kan?" tanya Giotto dengan ikutan polosnya Tsuna.
"Aku tidak sangka kamu bisa begitu… Wow." jawab Asari, masih dengan ekspresi shock. Tsuna hanya bisa mengangguk setuju.
"Oh, baguslah kalau begitu!" senyum Giotto kegirangan. Dia sepenuhnya tidak sadar kalau itu adalah sindiran.
"Sekarang coba kamu yang bikin, ya 'nak ya…"
'Maksud…?' Tsuna sweatdrop, "Uh, baiklah…" kemudian dia mencoba membuat versinya sendiri.
Akan tetapi, yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang tidak disangka oleh Tsuna.
Keduanya tiba-tiba lari ke WC dengan kecepatan tinggi.
'Saya baru tahu kalau mereka punya ketertarikan tersendiri pada WC…' (Maksud, Tsuna? Tidak nyambung sekali.)
Tidak lama kemudian, Giotto dan Asari kembali.
"Haha… Maaf, Tsuna. Tiba-tiba kebelet pipis." Kata Asari sambil tertawa kecil.
"Sorry, bro. Kebelet boker." Ujar Giotto.
*'Rantasa' .' Pikir Tsuna, sweatdrop. Dia ada feeling kalau mereka berbohong tapi lebih baik pura-pura tidak tahu saja.
"Um, sekarang latihan untuk apa?" tanya Tsuna dengan polosnya.
"Uh… Bagaimana kalau kita sampai di situ saja dulu? Berhubung latihan mereka juga sudah hampir selesai." Jawab Giotto, melihat ke arah yang lainnya yang latihannya sudah masuk ke tahap terakhir.
"Eh? Cepat banget selesainya…"
"Sebenarnya latihan hari ini hanya untuk menyempurnakan yang sebelum-sebelumnya. Jadi begitulah…"
"Oh, ok. Boleh nonton, tidak?"
Melihat Reborn yang sedang sibuk memberikan instruksi kepada orang-orang di sekitar dengan pistol di tangan, Asari langsung memberi usulan, "Uh, tapi nontonnya dari sini saja, ya. Supaya mereka kira kalau kita masih latihan."
Tsuna maunya nonton dari dekat, tapi yang dibilang Asari itu betul. (Dia tidak sadar kalau Asari bisa bilang begitu karena takut sama Reborn). Jadinya dia okok saja.
Akhirnya ketiganya nonton dari samping supaya dikira masih latihan, walaupun tidak sepenuhnya menikmati karena berkali-kali dibikin hampir kena serangan jantung oleh si manajer sadis yang kelihatannya seperti menoleh ke arah mereka padahal sebenarnya tidak. (Wajar saja orang jadi paranoid di dekat Reborn).
Tsuna, sih… Biasa-biasa saja karena saking polosnya dia sebagai anaknya orang.
Translation note:
*Rantasa' : jorok
Entah kenapa saya merasa endingnya ini chapter agak aneh… -.-
Well, yang penting sudah selesai. Jangan lupa di read and review ya ;;)
