Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah bersedia meluangkan waktu mereview ya ^^
Rose: Halo, Rose ^^ Mengenai cerita awal ByaIchi nanti pasti akan ada flashback-nya kok, begitu juga mengenai gimana nasib Renji. Tunggu tanggal mainnya aja ya :)
ndok: Rikues dikabulkan! XD Wkwkwk, no worries, say. Di sini sudut pandangnya ga bakalan cuma dari Ichigo aja kok. Grimmjow dan beberapa lainnya juga bakalan diperlihatkan. Dan kamu beruntung, chapter ini saya memang menggambarkannya melalui sudut pandang Grimmjow. Selamat menikmati :)
Zanpaku nee: Ohohoho...! Zan-chan setuju dengan saya mengenai keganasan Bya-kun saat di ranjang? ;) Saya berpikir karena biasanya cowok pendiam itu sebenernya lebih 'berangasan' daripada yang biasa aja, makanya Byakuya saya masukkan dalam kategori itu :p Soal Renji 'gimana', nanti akan diceritakan kok :D Siip~ Soal umur akan saya coba diselip-selipkan ya. Aih... Ternyata saya masih suka kepeleset ya... =_=" Sudah berusaha hati-hati padahal. Ah, semoga kali ini ga meleset lagi ya! Ingatkan lagi saya aja kalau saya masih melakukan kesalahan, jangan sungkan. :D
katskrom: A-Aih... *blush* Kamu bikin saya fidgeting dan senyum-senyum ga jelas aja :") *plak* Makasih ya, sayang x) *peluk eret* WAHAHAHA! Parah kau :)) Istrinya Grimmjow ga bakalan tewas, tapi ada cara lain buat nyingkirin dia kok ;p Setelah baca chapter ini, mungkin kamu bakalan bisa nebak gimana caranya :)
lovely orihime: Hime-chan... ;A; *ngesot ngedeketin* *plak* Yep. Emang betul, gay itu kayak semacem wabah yang menular. Bisa bikin siapa aja yang gaul dengan gay juga tertular. Namanya juga "lingkungan mempengaruhi psikologis seseorang", jadi... Hohoho, udah pasti Grimmjow bakalan nge-gay juga entarannya :D Tunggu tanggal maennya aja~ *daritadi begitu terus bilangnya* *plakplakplak* Eeeh? Byakuya bintang iklan Ponds? OAo *nanya ke orangnya langsung* Bya-kun, seriusan tuh? :o *di-senbonzakura*
Aoi LawLight: Halo, Aoi, salam kenal! ^^ Terima kasih banget udah menyempatkan diri membaca apalagi mengfavoritkan cerita ini dan juga pendahulunya. Semoga kita masih bisa terus ketemu kamu sampai cerita ini tamat ya. :)
CCloveRuki: Bener banget! Mereka mencurigakan gitu nempel-nempelnya! :o *ambil kamera* *henshin jadi paparazzi* *eh* Beneran dong Grimmy di sini udah punya bini~ Drama aleeeeeert...!
Kazugami Saichi Hakuraichi: Sama! XD *tos* Belakangan ini saya juga agak-agak gimana gitu setiap kali ngeliat Byakuya. Walau masih tetep belum bisa mengubah posisi Grimmjow dan Nnoitra di hati :") Ah, soalnya kalau Nel ga mungkin. Udah saya set sebagai sepupu Grimmjow sih. Lagipula, kalau Nel yang jadi istrinya, saya ga bisa bikin dia jadi bitchy ._. Muhuhuhuhu... Siap, Tuan! Akan saya laksanakan! XD/ Dan semangat terus untuk proyeknya ya! \(^u^)/
XOXOXO
CHAPTER 2
Disclaimer: I don't own Bleach, it's Kubo Tite. I used it just for fun...
Yang ga tahan adegan mesra Grimmjow dan Cirucci, tahan ya. Saya perlu itu untuk plot... ^^; Tenang aja, bukan lime kok, cuma kissu-kissu dikit.
Enjoy... :)
XOXOXO
Dia melampaui kata marah.
Wajahnya tidak menyembunyikan emosi yang berkobar di dalam diri, di mana ia memang tidak bermaksud untuk menyembunyikannya. Ia ingin menunjukkan semua perasaan yang ia rasakan saat ini kepada wanita yang kini terduduk di atas ranjang rumah sakit, tidak sekali pun berani menatap kedua matanya. Kekhawatiran, amarah, dan di atas semua itu ia jauh lebih merasakan kekecewaan.
Kecewa karena sang wanita telah berani melakukan apa yang telah ia lakukan. Alasan yang membuatnya kini berada di dalam kamar perawatan Rumah Sakit Karakura.
"Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu?"
Gertakan gigi. Kedua tangannya yang berada di samping tubuhnya itu mengepal kuat—menahan keinginan untuk menyiksa figur dihadapannya. Tidak biasanya Grimmjow merasakan perasaan ingin menyiksa seorang wanita. Percaya atau tidak, ia termasuk salah seorang pria yang berpedoman untuk tidak memukul kaum yang menjadi wadah utama pertumbuhan populasi manusia itu. Tapi, perkataan dokter yang memeriksa kondisi istrinya itu hampir membuatnya melupakan pedomannya.
Hampir.
Bisa ia lihat dengan kedua iris birunya bahwa Cirucci nampak gugup. Wanita bersurai ungu panjang itu tidak sekali pun berhenti memainkan jemarinya yang kini beristirahat di atas pangkuannya sendiri. Grimmjow sudah mengenal Cirucci seperti telapak tangannya sendiri, jadi ia tahu kapan wanita itu merasa gugup, takut, atau marah. Yah, tidak bisa dipungkiri kalau mereka merupakan teman semenjak keduanya masih memerlukan popok sebagai salah satu fashion.
Ia sangat menyayangi Cirucci.
Tapi, rasa sayangnya itu sempat kandas saat Unohana Retsu memberitahukan alasan pendarahan yang dialami sang istri.
"Kau pikir tidak ada yang tahu dengan apa yang kau lakukan?" Cirucci tersentak kecil saat mendengar geraman Grimmjow. Membuatnya semakin ingin membantingkan rasionalisme tepat di atas benak sang istri yang sudah menjadi orang bodoh itu. Ia tidak bisa percaya, setelah bertahun-tahun mereka menunggu kehadiran buah hati yang akan menyandang nama Grimmjow, Cirucci justru berubah pikiran. Dengan sengaja ia berusaha mengugurkan kandungannya sendiri, hingga berakhir pendarahan.
Grimmjow tidak bisa percaya kalau Cirucci benar-benar melakukannya, tapi memang begitulah apa adanya.
Seorang dokter tidak mungkin berbohong. Dan Dokter Unohana sepertinya merupakan tipe yang seperti itu juga.
Grimmjow sudah lebih dari marah.
"Bersyukurlah kamu, aku tidak pernah memukul cewek, dan tidak akan." Geraman terakhir, dan Grimmjow pun pergi keluar ruangan. Merasa saat ini jauh lebih baik dirinya menjauh dari sang istri selama beberapa waktu hingga kemarahannya mereda. Ia tidak mau jika harus maju di meja hijau karena telah melempar istrinya sendiri dari atas jendela rumah sakit. Itu akan membuatnya terlihat jauh lebih bodoh dari Cirucci. "Persetan semua ini..." Dengan kedua tangan bersembunyi di saku celananya, ia berjalan melalui lorong rumah sakit. Hidungnya berkerut ketika mencium aroma obat yang sangat kuat dari meja troli yang dibawa oleh seorang suster yang berjalan melewatinya.
Sebenarnya ia tidak suka rumah sakit. Bukan karena ia memiliki pengalaman buruk dengan institusi perawatan kesehatan profesional ini, bukan juga karena nuansanya yang membuat bulu kuduknya meremang—sedikit sih—tapi karena bau obat akan selalu menyerang indera penciumannya ke mana pun ia pergi.
Dan dirinya bukanlah seseorang yang senang menggunakan obat-obatan.
Sial.
Sekarang kalau dirinya mencoba mengingat, ia pertama kali bertemu Cirucci pun di rumah sakit. Itu yang ibunya ceritakan di hari sebelum pernikahannya beberapa tahun yang lalu. Saat mereka pertama bertemu, saat itu umur masing-masing masih belum sampai 3 tahun, jadi wajar saja kalau dirinya sama sekali tidak ingat. Tambahan lagi, ibunya yang usianya kini sudah mendekati kepala 6 itu mengatakan bahwa dirinya ketika pertama melihat Cirucci langsung berkata ingin menikahinya begitu besar nanti.
Grimmjow yakin Corinna Jeagerjaques tengah mempermainkan dirinya.
Mana ada anak umur belum 3 tahun bisa bicara selancar itu dan mengerti apa itu artinya menikah. Tapi, tidak bisa ia pungkiri juga kalau dirinya terpikat oleh Cirucci sepanjang yang dirinya bisa ingat. Baginya, Cirucci adalah sosok seorang wanita yang berjiwa kuat dan menarik. Jika ditanyakan istrinya itu cantik atau tidak, menurutnya istrinya itu cantik. Bukanlah hal yang mengherankan jika Cirucci menjadi seorang model yang namanya begitu terkenal di dunia fashion seperti sekarang ini. Makanya, ia tidak kaget ketika ia membawa Cirucci ke rumah sakit ini kemarin lalu, para wartawan pun ikut menyerbu tidak lama setelah kedatangannya.
Beruntung para monyet haus berita itu bisa diusir ketika salah seorang perawat mengancam akan memanggil polisi dan menuntut karena sudah membuat pasien yang sakit menjadi semakin sakit.
Grimmjow menghela nafas.
Sudah cukup lama ia sadari mengenai perubahan kepribadian Cirucci. Wanita yang dulunya selalu tersenyum tulus kepada siapa pun dan selalu mau memijat bahunya ketika ia baru pulang bekerja, sekarang ini menjadi congkak dan tidak lagi mau memberikan perhatian padanya. Kalau diterawang lagi, rasanya Cirucci berubah setelah namanya muncul sebagai maskot dari Brand Golondrina. Brand yang namanya menjulang hingga Paris.
Tapi, sesekali Cirucci akan kembali melembut, membuat kebencian yang sempat muncul di hati Grimmjow kembali tersapu bersih.
"DASAR BRENGSEK!" Ia sama sekali tidak menyangka Cirucci akan melakukan sampai sejauh ini hanya agar karir dan kehidupan glamournya bisa terus bertahan. Grimmjow pernah dengar banyak sekali artis yang menggugurkan kandungan hanya karena kandungannya itu bisa menurunkan pamor mereka. Semoga saja alasan Cirucci melakukannya bukan karena hal itu. Tapi, sepertinya memang hanya itu alasannya.
Mengerjapkan mata, Grimmjow menatap figur anak kecil yang berdiri tepat di depannya. Wajah anak kecil itu mengkerut, menatap ke arahnya dengan penuh kekagetan dan... ketakutan. Oh sial. Ia tidak sengaja membentak di depan anak-anak, padahal bentakkan itu sama sekali tidak ia arahkan pada sang anak. Tapi, kelihatannya anak itu salah paham.
Suara tangisan yang terdengar berikutnya itulah yang membuktikannya.
Facepalmed, keringat dingin mulai mengucur dari keningnya ketika anak itu menangis semakin keras membuat beberapa orang yang ada di sekitarnya menatapnya seperti seseorang yang sudah membuang bayi di pinggir jalan. "He-Hei... Aku bukan membentakmu kok. Tenang ya..." Grimmjow mengulurkan tangannya, namun sang anak malah tersentak dan tangisannya bertambah keras. Mengira bahwa dirinya akan memberikan pukulan.
CTIK!
Kening Grimmjow berkedut. Ia sama sekali tidak pernah berjodoh dengan anak kecil. Ia tidak suka setan-setan kecil yang ingusan dan selalu mengenakan popok itu, dan nampaknya setan-setan kecil itu pun tidak menyukainya. Fair enough. Grimmjow tidak pernah merasa masalah dengan hubungan tersebut, ia baru merasa masalah kalau dituduh melakukan yang tidak ia lakukan.
Seperti sekarang.
"Minoru-kun!"
Bersamaan dengan sang anak, Grimmjow menoleh ke arah suara tersebut berasal dan betapa senyum di wajahnya langsung merekah dengan sangat lebarnya. Ichigo. Dalam balutan jas dokter yang nampaknya agak sedikit kebesaran itu tengah berlari ke arahnya dengan wajah yang bingung, walaupun begitu, dokter muda 25 tahun itu tidak bertanya padanya dan langsung mengangkat sang bocah yang tangisannya mulai reda karena melihat orang yang dikenalnya.
"Ada apa, Minoru-kun? Kamu terjatuh?" Bocah yang ternyata bernama Minoru itu menggeleng, sebelum kemudian melihat ke arah Grimmjow dan kembali menangis, membuat Ichigo mengerutkan alis dan menatap Grimmjow dengan tatapan 'apa-sebenarnya-yang-sudah-kamu-lakukan?-sadarkah-kalau-lawanmu-ini-anak-anak?' "... Grimmjow...?" Dengan sengaja Ichigo mengambangkan kata-katanya, menunggu Grimmjow menjawab untuknya.
Dengan cepat Grimmjow bergeleng ringan sambil menghela nafas, "Ini bukan seperti yang kamu duga, Ichi." Ia mengacak rambutnya sendiri, mendadak jadi merasa tambah stress.
Ah... Ia jadi memikirkan ulang alasannya mengapa bisa menginginkan keturunan.
Ichigo tersenyum ke arah bocah kecil yang kini ia gendong yang jika dilihat dari perawakannya, usianya tidak lebih dari 6 tahun. "Sudah, sudah... Tidak akan apa-apa kok. Ayo, jangan menangis, nanti kakakmu tidak mau bermain denganmu lagi seperti waktu lalu lho." Perlahan ia kecup tepian mata Minoru, dan dengan segera Minoru pun mulai menahan tangisnya. Sadar kalau apa yang dikatakan Ichigo ada benarnya, ia pun mengangguk.
Grimmjow yang menyaksikan adegan 'usaha penghentian tangisan bocah' itu berjalan mudah, hanya bisa diam saja. Ia tahu Ichigo memiliki dua orang adik sehingga ia sudah terbiasa meladeni anak kecil, tapi baru kali ini ia melihat sosok pria muda itu menggendong seorang anak yang memiliki warna rambut terang sepertinya. Potret yang terlihat begitu damai, dan entah mengapa bisa meredakan amarah yang sempat terbangun tinggi di dalam hatinya.
"—jangan sampai lepas pengawasan lagi, Chad."
Mendengar suara Ichigo yang awalannya terputus, menyadarkan Grimmjow kalau semenjak tadi dirinya tengah tenggelam dalam dunianya sendiri. Yang ia lihat sekarang, mendadak Minoru sudah digiring oleh seseorang yang lain—sosok yang tinggi besar dan berkulit gelap. "... Siapa dia?" Ia dengar dirinya sendiri bertanya.
"Perawat yang biasa ditugasi mengawasi pasien anak-anak," Jelas Ichigo sambil menoleh ke arah Grimmjow, "Namanya Yasutora Sado, tapi aku biasa memanggilnya Chad."
"Raksasa Meksiko, eh?" Grimmjow menyeringai kecil, dan bisa ia rasakan rasa senang semakin menggebu di dalam dirinya saat mendengar suara tawa kecil sang dokter muda.
"Naay... Dia asli Jepang kok." Mengibaskan tangannya sesaat, Ichigo kemudian menghentikan tawanya dan menatap dengan serius ke arah Grimmjow. Membuat pria 29 tahun itu sempat mundur sedikit karena tatapan Ichigo menandakan bahwa mereka harus bicara secara serius. Di mana Grimmjow sebenarnya sedang tidak ingin keluar dari rasa enteng yang sempat ia rasakan. "Grimm... Aku sudah dengar dari Retsu..."
Benar kan.
Memilih bersandar pada kusen jendela yang ada di dekatnya, Grimmjow kembali menghela nafas, "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Cirucci. Tapi, aku bersyukur usahanya gagal dan anak kami tetap selamat." Saat itu, sesaat ia melihat perubahan pada tatapan mata Ichigo, tetapi langsung hilang di detik berikutnya, membuatnya berpikir kalau apa yang ia lihat itu hanyalah halusinasi. Dan sekarang, pria bersurai oranye itu nampak ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu.
"... Lalu... Apa yang akan kau lakukan?"
Entah kenapa Grimmjow merasa bukan hal itu yang sebenarnya ingin Ichigo tanyakan, tetapi sesuatu yang lain. Tapi, dengan segera ia singkirkan perasaan itu, "Entah. Bicara baik-baik dengannya, mungkin?" Ia hampir tersedak kata-katanya sendiri. Baik-baik. Semoga saja ia memang bisa melakukannya. "Oh ya, Ichigo—" Langsung ia tutup kembali mulutnya saat mendengar dering pelan ponsel yang ternyata milik Ichigo. Mengerti bahwa bukanlah hal yang benar untuk berbicara sekarang, Grimmjow hanya menunggu.
"Oh, hei... Byakuya,"
Sumpah. Awalnya Grimmjow sama sekali tidak bermaksud menguping, tapi nama yang ia yakini sebagai nama kekasih Ichigo itu telah menarik perhatiannya. Sepanjang yang bisa ia ingat, ia sama sekali belum pernah bertemu dengan pria bernama Byakuya itu. Dan sebenarnya, ia cukup penasaran. Rasa ingin tahunya begitu besar. Ingin tahu seperti apa sosok pria yang sudah merebut hati sahabatnya itu, yang dulu sempat membuat Ichigo jadi menomor-duakan dirinya, membuat waktu mereka bertemu menjadi semakin sedikit.
...
... Rasanya ada yang salah dengan pola pikirnya barusan.
"... Baiklah, aku segera ke sana. Bye."
Suara ponsel yang menutup membuat Grimmjow tersadar dari lamunannya—yang sudah kesekian kalinya hari ini, dan ekspresi yang Ichigo arahkan padanya itu membuatnya mengangkat alis, "Ada sesuatu?"
Entah cuma perasaannya saja atau bukan, tetapi Ichigo nampak gugup akan sesuatu. Dan ragu-ragu. "Byakuya mengajakku makan siang, jadi..." Menggaruk sisi belakang telinganya yang sebenarnya tidak gatal, Ichigo berharap Grimmjow bisa menangkap apa yang ia maksudkan tanpa perlu mengatakannya lebih lanjut lagi. Ia merasa tadi Grimmjow hendak mengatakan sesuatu, tapi ia harus pergi sekarang juga agar Byakuya tidak terlalu lama menunggu. Itulah yang membuatnya tidak enak.
Tentu saja, dengan mudah Grimmjow menangkap apa yang Ichigo maksudkan dengan mudah, "Pergilah, jangan buat Romeo-mu itu mati duluan sebelum bertemu Julietnya—OW!" Walaupun meringis sakit sambil mengelus-elus pundaknya yang ditonjok, Grimmjow masih tetap terkekeh-kekeh.
"Fuck you, Grimm...!"
"Terbalik, Ichi~ Terbalik~" Seringai di wajah Grimmjow terganti dengan kedua matanya yang mengerjap saat melihat wajah Ichigo memerah bagaikan kepiting rebus. Ralat. Merah sampai-sampai sesuai dengan julukannya.
Apa ada kata-katanya yang... Oh!
Menyadari apa yang tengah Ichigo pikirkan saat ini, Grimmjow menyeringai dengan sangat lebar. Tapi, belum sempat ada satu pun kata keluar dari mulutnya, Ichigo keburu kabur setelah menjorokkan dirinya ke jendela yang terbuka hingga ia hampir terjun bebas dari lantai 3 rumah sakit Karakura. Lantai 3 lho. Dokter macam apa yang mendorong orang lain begitu saja sampai membuat orang itu hampir mati? Apa pun itu, Grimmjow tidak peduli, ia hanya tidak bisa berhenti tertawa. Suara tawanya begitu menggelegar, sampai-sampai membuat beberapa perawat memarahinya, menyuruhnya untuk menurunkan volume suaranya.
Tapi tetap ia tidak peduli.
XOXOXO
Grimmjow sebenarnya ingin menghabiskan malamnya dengan bersantai sambil menonton tv di rumah, makanya ia memutuskan untuk menyerahkan kegiatan di restoran miliknya kepada sepupunya, Neliel. Dan untuk berjaga-jaga, ia pun meminta tolong Kaien untuk mengawasi, kalau-kalau Nel kepeleset seperti beberapa waktu lalu. Ia tidak mau menghabiskan uang percuma lagi hanya untuk kecelakaan yang seharusnya bisa tidak terjadi pada dapurnya.
Tapi, kelihatannya ia tidak akan bisa bersantai.
Melirikkan kedua iris birunya, Grimmjow merasa urat di dahinya berkedut saat melihat figur seorang pria tengah terbahak-bahak akibat lelucon yang sedang tayang di televisi. Rambut panjang pria itu saat ini tengah diikat tapi tetap menyisakan beberapa helai poninya jatuh menutupi mata kirinya yang menggunakan eyepatch. Mulutnya yang memang lebar saat ini terbuka lebih lebar lagi bersamaan dengan keluarnya suara tawa yang membuat Grimmjow ingin sekali memasukkan frying pan ke dalamnya. Dan ia semakin merasa kesal saat melihat satu orang lagi yang menemaninya kala itu, begitu nyenyak tertidur meskipun suara yang keluar dari televisi hampir mencapai full volume.
Akhirnya pria bersurai biru itu tidak bisa lagi menahan kekesalannya dan memilih melemparkan majalah di tangannya ke arah figur yang kini tertawa sambil memukul-mukulkan lantai, "Damnit, Nnoitra! Aku tidak melihat ada yang lucu dari guyonan ini!"
Nnoitra, nama pria yang terus tertawa itu, menghindar dari majalah yang hendak menghantam wajahnya tepat pada waktunya. Tapi, bukannya kesal, Nnoitra malah tertawa semakin keras, "K-Kau—snort—tidak... Wakakakakk—memperhatikan... nya?" Susah payah ia berkata disela-sela tawanya, "Lihat si Nobe! Dia bisa menirukan suara Doraemon dengan sangat baik!" Kali ini Nnoitra sudah berguling-guling di lantai sambil memegangi perutnya.
Nnoitra terlalu banyak tertawa, dan Grimmjow hanya bisa membuang nafas dengan kasar. Ia ingat kalau teman bertubuh kurusnya itu memang selalu tertawa akan semua hal, bahkan jika orang lain merasa iba ada anjing yang tertabrak mobil di jalan, Nnoitra lebih memilih menertawakan wajah si penabrak yang menurutnya lucu.
Memilih untuk tidak lagi mempedulikan temannya itu, Grimmjow bersandar pada punggung sofa setelah mengambil majalah lain untuk ia baca. Ia bukan seseorang yang menikmati tontonan lawak garing seperti seorang Nnoitra Jiruga. Terima kasih.
"Kau sudah bicara dengan Cirucci?"
Tidak menoleh, tapi melirik dari tepian matanya kepada sosok yang kini terbentang di sebelahnya, Grimmjow menghela nafas sebelum kemudian mengembalikan pandangannya kepada sederetan huruf yang terpampang dipangkuannya, "Bukankah kau sudah pulas, Starrk?" Ia buka halaman demi halaman, mencari bacaan yang menurutnya menarik, dan baru berhenti ketika melihat sebuah halaman yang menjabarkan mengenai resep masakan.
"Hmm... Bagaimana?"
Kembali Grimmjow menghela nafas. Sudah berkali-kali ia lakukan hal itu di hari yang sama. Membuatnya mulai bosan, tetapi tidak bisa jika tidak melakukannya. "Tidak bisa hari ini. Aku hampir memukulnya tadi." Menutup majalah di tangannya, Grimmjow mengalihkan perhatiannya secara penuh kepada pria bersurai coklat panjang disebelahnya. Jika ia tidak menghafal karakterisasi seorang Starrk Coyote, ia akan mengira pria itu masih tertidur dan hanya mengigau saat ia melihat kedua mata sang pria masih tertutup. "Entahlah, Starrk. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu aku marah karena apa." Kata-katanya itu berhasil menyita perhatian Starrk karena saat ini pria yang lebih tua 2 tahun darinya itu membuka kedua matanya dan menatap ke arahnya.
Melihat kedua alis sang pria terangkat dalam sebuah pertanyaan, Grimmjow melanjutkan, "Maksudku, kau juga tahu kan bagaimana reaksiku kalau berhadapan dengan anak-anak? Jadi, kalau aku marah karena Cirucci hendak menggugurkan sesuatu yang tidak begitu aku sukai, rasanya... aneh...?" Ketidak-yakinan tersirat jelas dalam setiap kata-katanya saat itu.
Grimmjow memang tidak pernah menyukai anak-anak, walaupun tetap bukan berarti ia tidak menginginkan darah dagingnya sendiri yang akan melanjutkan namanya. Hanya saja, semenjak menikah dengan Cirucci atau pun sebelum-sebelumnya, ia tidak pernah memikirkan mengenai hal itu.
"Aku jadi berpikir..."
Suara televisi dan tawa yang tidak lagi terdengar—di mana nampaknya acaranya sudah selesai dan televisi dimatikan, membuat Grimmjow mengalihkan perhatiannya kepada Nnoitra yang kini tengah duduk bersila di lantai, tepat disamping sofanya. Kedua tangan pria itu tersilang di dada, dan raut wajahnya yang tidak tergambarkan jelas tengah memikirkan apa, membuat Grimmjow sempat menganga sesaat.
Jarang-jarang Nnoitra memasang wajah serius.
"Apa alasan kau menikahi Cirucci?" Nnoitra melanjutkan kata-katanya, menyandarkan keseluruhan tubuhnya pada lengan sofa dan menengadahkan kepalanya demi melihat Grimmjow secara langsung.
Kedua alis Grimmjow berkerut menatap wajah yang ber-eyepatch itu dengan tatapan bingung, "Apa? Tentu saja karena—"
"Karena kau sudah mengenal Cirucci semenjak kecil dan kau mencintainya, yeah benar." Mendengus, Nnoitra mengibaskan tangannya ketika tahu dengan pasti jawaban macam apa yang akan sahabat bersurai birunya itu akan katakan. "Ayolah, Grimm... Aku bertanya begitu bukan untuk mendengarkan jawaban basi yang siapa pun bisa menebaknya."
Grimmjow, tidak pernah suka jika kata-katanya dipotong begitu saja dan diberikan komentar yang secara tidak langsung mengatakan dirinya payah, menggeram. Tapi, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Padahal banyak sekali yang ingin ia katakan pada Nnoitra. Ia tahu benar sahabatnya itu sama sekali tidak pernah menyukai Cirucci. Mengatakan istrinya itu bitchy atau semacamnya. Ia ingat pernah menghantamkan tinjunya di wajah sang pria jangkung saat menjelek-jelekkan istrinya itu.
Entah apa dendam yang tengah dipendam Nnoitra kepada Cirucci, Grimmjow tidak tahu. Tapi, sudah sebuah kewajiban bagi seorang suami untuk melindungi istrinya sendiri, bukan? Dan itulah yang akan dirinya lakukan. Demi harga dirinya sebagai seorang pria juga.
Grimmjow mengerjap.
... Itukah?
"Ceraikan saja, Grimm. Masih banyak wanita berdada besar di luar sana." Melihat tatapan membunuh yang diarahkan padanya oleh Grimmjow, Nnoitra semakin melebarkan seringai di wajahnya. Merasa menang karena sudah berhasil memancing emosi sang pria pemilik restoran itu.
Di samping suara barang pecah belah dan benturan juga makian, Starrk memilih untuk terus mengorok dan menikmati tidurnya.
XOXOXO
"Aku benar-benar minta maaf, Sayang."
Merasakan kecupan pelan di bibirnya, Grimmjow menghela nafas. Setelah 5 hari dirawat di rumah sakit, Cirucci akhirnya bisa juga pulang dengan kondisinya yang kembali prima. Dan beruntung, kelihatannya informasi mengenai kepulangan istrinya itu tidak bocor pada wartawan sehingga mereka tidak menghadapi kesulitan saat keluar dari rumah sakit tadi. Hanya ada 2 atau 3 kelompok, bukan jumlah yang sulit untuk dihindari dengan mengebut dengan menggunakan BMW-nya.
Cirucci menarik diri, dan kembali duduk tegak di kursinya, namun kedua matanya masih menatap ke arah Grimmjow, "Tekanan dalam pekerjaan kurang bisa membuatku berpikir jernih... Kau mengerti kan?"
Kembali menghela nafas, Grimmjow membelai lembut surai ungu Cirucci yang hari ini secara tumben tidak diikat seperti biasanya. "Berjanjilah kau tidak akan melakukannya lagi." Nada suaranya saat itu tidak menyisakan sedikit pun ruang bagi Cirucci untuk berkata 'tidak'. Melihat senyum yang diumbar kepadanya, Grimmjow pun sedikit menyampingkan tubuhnya dan memberikan kecupan pelan di dahi sang istri. "Sebaiknya kita makan siang dulu, kau mau makan di mana?"
"Ah, aku ingin kau yang membuatkan sesuatu untukku, Sayang. Sudah lama sekali aku tidak mencicipi masakanmu yang lezat itu."
Membiarkan istrinya memeluk lengan kirinya, Grimmjow mulai berpikir kira-kira masakan apa yang akan ia buatkan. Mungkin sesuatu yang berbau tradisional saat ini akan sangat tepat. Grimmjow mengembalikan pandangannya pada Cirucci saat mendengar istrinya itu menghela nafas dan berkata, "Lampu merah di perempatan ini memang yang paling lama." Grimmjow hanya mengangguk, dan menatap ke arah monitor yang terletak tepat di bawah lampu lalu lintas yang menunjukkan waktu lamanya lampu merah menyala. Dahinya berkerut saat melihat angka 98 tertera di sana.
Perasaan ia sudah berada di perempatan itu semenjak tadi, tapi masih ada 98 detik lagi tersisa sebelum ia bisa benar-benar jalan.
Ia memang tidak pernah suka terjebak di lampu merah.
Mengetuk-ngetukkan jarinya di kemudi, kedua iris birunya memilih untuk mengamati penyebrang jalan yang berada di depan mobilnya. Hari ini, mungkin karena hari senin dan merupakan jam makan siang, pejalan kaki jadi berjumlah lebih banyak daripada hari-hari lainnya. Pandangannya terhenti pada sosok yang ia rasa tidak asing lagi.
Ichigo?
Surai oranye dan ekspresi tawa yang sangat tidak asing baginya itu berjalan dengan tenang dihadapan mobilnya, membuat Grimmjow ingin memanggil nama sang dokter muda. Karena kelihatannya Ichigo tidak menyadari keberadaan dirinya. Namun, keinginannya itu langsung ia hapuskan saat melihat seorang pria bersurai hitam berjalan di sebelah Ichigo. Dan kalau ia perhatikan lebih teliti lagi, mereka berjalan sambil berpegangan tangan—walau nampaknya berusaha disembunyikan di antara himpitan tubuh mereka.
Mungkinkah...?
Prasangkanya itu langsung terbukti ketika ia melihat dengan jelas wajah Ichigo yang bersemu saat sang pria bersurai hitam nampak membisikkan sesuatu. Grimmjow tidak tahu mengapa, tapi adegan itu membuatnya langsung mengalihkan perhatian. Merasa tidak mau melihat keduanya lebih lama lagi.
"—Sayang? Lampunya sudah hijau."
Mengiyakan dengan gerutuan, Grimmjow kembali menginjak pedal gasnya dan menjauh dari perempatan jalan itu secepat mungkin.
.
TO BE CONTINUED
.
Ada yang sadar kalau nama anak kecil yang nangis pas Grimmjow ngebentak itu saya pakai dari nama karakter Baby And I? Ah, kangen banget dengan manga yang satu itu...
