Tittle: You're my pet_side story ; "Our Child's diary"

Characters:

Hungary_M ( Elizabeta ) – Austria_P ( Roderich ) – Russia_M ( Ivan ) – German_M ( Ludwig ) – Prussia_SP ( Gilbert ) – Italia_M/SP ( Feliciano ) – Japan_P ( Kiku ) – France_M ( Francis ) – America_M ( Alfred ) – England_P ( Arthur ) – Switzerland ( Vash Zwingli ) –Liechtenstein ( Lili ).

Rat : M ( and more…)

Genre : Angst – Hurt/ Comfort – Romance ( bigwarning: MPREG / PPREG – male!pregnant / pet!pregnant)

#kalau tidak suka dengan rat M+ dan MPreg/PPreg, langsung CLOSE! ^_^

Desc: Himaruya Hidekazu

A/N :

^_^ menggunakan nama dari character masing-masing . M ( master ) dan P ( pet ) + SP ( special pet ).

PoV : Roderich ( Austria )

-ooostart part2ooo-

Tubuh terasa dingin hingga menembus kulit putihku. Kurasakan tubuhku menggigil dan memaksaku untuk tetap terbawa dalam kegelapanku. Perlahan kubuka kedua mataku dan kudapatkan suasana yang tidak pernah kutemui sebelumnya. Ruangan ini cukup luas namun hanya bercahayakan sebuah lampu sehingga tidak cukup untuk menerangi seluruhnya. Kusadari tanganku terikat saat mau membetulkan posisiku yang tidak nyaman ini.

"Bagaimana tidurmu? Menyenangkan?," tanya seseorang yang terdengar asing ditelingaku.

Pria ini berbeda dengan kedua orang yang kutemui sebelumnya. Tubuhnya cukup tinggi dan berambut hitam sebahu. Refleks kuberjalan mundur dan kudapati pertahananku melemah. Kedua orang temannya berada dibelakangku dan pria yang berambut coklat itu menarik tanganku dengan kasar. Mau tidak mau akupun mengikuti arah gerakannya, karena tarikannya membuat tanganku terasa sakit.

"A-apa yang mau kalian lakukan?," suaraku lemah dan bergetar. Aku semakin ketakutan saat tubuhku dilemparkan diatas sebuah matras usang dan berdebu.

Pria berambut hitam itu semakin mendekatiku dan memposisikan dirinya diatasku dengan tangannya yang menarik ekor panjangku. Seluruh tubuhku terasa melemah dan menggigil hebat. Perasaan tidak menyenangkan dan geli yang tidak dapat dijelaskan kepada kaum manusia normal lainnya. Seperti ada sesuatu yang menguasai seluruh tubuh dan kita hanya bisa mengikuti arahannya saja.

"Ku-kumohon…le-lepaskan…," desahku yang tiba-tiba saja keluar dari mulutku. Kusadari wajah dan tubuhku memanas. Air mata mulai keluar dari sudut mataku.

"Sungguh menarik!," seru pria itu. Tangannya kembali menekan ekorku yang membuatku kembali terjatuh dan mendesah. Melihatku seperti ini, pria itu kembali tertawa dan mendekatkanwajahnya padaku. "Tenang saja. Sebentar lagi kita akan bermain permainan yang lebih menyenangkan," ucapnya singkat lalu menciumku dengan kasar.

Setiap kali aku melawan kepadanya, dia kembali menarik ataupun menekan ekorku. Tubuhku tidak berdaya melawan tindakannya dan hanya bisa berharap adanya seseorang yang menolongku.

"Ku-kumohon… lepaskan…"

Dia hanya tersenyum menatapku. "Kalian berdua jaga didepan, sedangkan aku akan bermain-main sejenak dengannya."

"Baik." jawabnya bersamaan lalu berjalan keluar meninggalkan kami berdua.

Air mataku membasahi wajahku dengan pasti. Ketika ada kesempatan, kuberjalan mundur menghindarinya dan mencoba untuk kabur darinya. Usahaku kembali sia-sia karena dengan mudah dia menangkapku lalu membuka kancing kemejaku dan menghirup hawa tubuhku. Tidak ada perlawanan pasti kepadanya.

Rontaan dan teriakan mengisi ruangan ini. Kuterus memohon padanya untuk melepaskan diriku namun sepertinya dia tidak mendengarkan sama sekali. Tubuhku kembali menegang hebat ketika salah satu tangannya menentuh bagian tubuhku yang paling sensitif, walau masih tertutup kain. Rasa takut sudah menguasai seluruh pikiranku. Diriku sepenuhnya sudah tidak bisa kukuasai lagi.

"Ja-jangan…," teriakku histeris.

"Bukankah terasa menyenangkan? Akan aku biarkan kamu merasa nyaman sebelum diriku," ucapnya lalu disusul tawa olehnya.

Tubuhku menggigil dan bergetar hebat. Perasaan yang sama ketika Gilbert menyentuh tubuhku, namun ini berbeda karena terasa menyakitkan. Kedua kakiku terus bergerak, mendukung tubuhku untuk lepas dari genggamannya. Namun posisiku yang tidak menguntungkan membuat itu semua menjadi sia-sia.

"Le-lepaskan…ja-jangan…"

Desakan hebat semakin keluar dari mulutku. Pandanganku mulai mengabur bercampur dengan air mataku. Tubuhku mulai menegang dan tatapanku mulai kosong.

"Keluarkan saja. Itu akan membantuku," serunya seiring gerakan tangannya semakin dipercepat.

Hawa panas memenuhi seluruh tubuh dan bergejolak hebat. Kurasakan kedua kakiku menegang dan sesuatu mengalir deras dari tubuhku. Pandanganku dan nafasku tertahan sejenak seiring cairan itu terus keluar membasahi kain penutupku. Setelah selesai, kepalaku terasa berat dan pandanganku semakin mengabur. Kurasakan tubuhku kembali jatuh. Mimpi buruk yang sudah lama kulupakan, kini kembali keluar menguasaiku.

"Bagaimana? Sekarang giliranmu untuk membantuku," tawanya tanpa memberikanku kesempatan untuk beristirahat.

Dengan mudah dia melepaskan seluruh pakaianku sehingga hanya punggungku saja yang tertutupi oleh kain. Kucoba kembali menghindarinya, tetapi rasa sakit pada tubuhku membuatku semakin lemah. Dalam waktu singkat, pria itu mengikat kedua tanganku menjadi satu dan meletakannya diatas kepalaku. Tindakannya dia lanjutkan dengan mendorong tubuhku hingga kedua lututku hampir menyentuh keningku.

Wajahku memanas dan air mata terus mengalir. Rasa malu yang begitu besar karena selama ini hanya sebatas Ivan, Francis dan Gilbert yang melihat tubuhku seperti ini.

"Ku-kumohon… he-hentikan… aku berjanji tidak akan mengatakan kepada siapa-siapa jika kamu melepaskanku," isakku sambil menutup mataku dengan lengan tanganku.

"Aku tidak bodoh dan tidak akan aku lakukan," serunya ditengah tawanya. Tiba-tiba saja dia memukul tubuhku yang berada dihadapannya berulang kali hingga rasa perih dan sakit menguasaiku. Setelah merasa cukup puas, dia melepaskan tangannya dari kedua kakiku lalu membuka kancing celananya. Kurasakan sesuatu yang hangat mulai menyentuh bagian tubuhku yang sudah memerah.

Aku kembali berteriak dan memohon untuk melepaskan diriku. Tidak ada jawaban darinya selain sebuah hentakan keras memasuki seluruh tubuhku. Teriakanku semakin keras akibat rasa sakit pada tubuhku yang secara paksa dia masukan hingga mencapai batasnya. Selain itu, dia juga menarik dan menggenggam erat ekorku. Tubuhku semakin bergetar lemah.

"Benar-benar 'sempit' sekali tubuhmu," ucapnya senang. Aku hanya bisa menangis melihat keadaanku yang seperti ini dan hanya dapat berharap bahwa ini segera berakhir.

Tubuhnya terus memasuki tubuhku hingga kurasakan pandanganku menghilang untuk sesaat. Suara desahan keras mengisi ruangan ini. "Sepertinya aku menemukan bagian 'terindahmu'," tawanya tanpa mengurangi kecepatan gerakannya.

Air mataku terus mengalir seiring pria itu yang terus menyentuh 'titik' tersebut hingga akhirnya kurasakan tubuhku mencapai batas kembali. Cairan tubuhku kembali keluar deras namun tiba-tiba saja ditahan oleh genggaman tangannya sehingga kurasakan rasa sakit yang tidak tertahankan.

"Ku-kumohon…le-lepaskan…," pintaku sambil menatapnya dibalik lengan kakiku.

"Tentu saja tidak! Aku belum puas!"

Pria itu semakin mempercepat gerakannya dan membuat tubuhku semakin kesakitan akibat cairan tubuhku yang tertahankan. Tidak lama kemudian, kurasakan 'miliknya' memenuhi seluruh tubuhku dan dalam waktu singkat tubuhku terasa panas. Cairan miliknya dia keluarkan didalam tubuhku tanpa memperdulikan rasa sakitku. Pada akhirnya dia melepaskan dirinya dan membiarkanku 'membulat' untuk sesaat. Pasrah dan menangis, itulah yang hanya dapat kulakukan. Membiarkan seseorang 'mengambil' diriku tanpa perlawanan. Kurasakan sisa cairan miliknya mengalir keluar dari tubuhku. Diriku terasa kotor dan tidak berharga.

"Kumohon… biarkan aku pergi…"

"Tidak semudah itu."

Dengan kasar dia menarikku dari tali yang mengikat kedua tanganku dan memposisikan hadapanku pada tubuhnya, sehingga pandanganku berhadapan dengan 'miliknya'. Tubuhku bergetar hebat dan menatapnya sesaat. Aku hanya dapat menggeleng menandakan bahwa aku menolak untuk melakukan ini.

"Cepat lakukan sebelum aku bertindak lebih kasar!"

Tangan kasarnya memaksa mulutku menyentuh kulit tubuhnya namun aku tetap menutup mulutku rapat-rapat. Melihat tindakanku ini, dia menarik rambutku sehingga aku kembali berteriak. "Tidak! Aku tidak mau! Kotor!"

"Kamu harus mau karena tubuhmu sudah lebih kotor! Siapa yang mau menerimamu dalam keadaan seperti ini, hah?"

Sesaat tubuhku terhentak. Rasa tegang akibat penyesalan dan rasa sedih membuatku terdiam dan menangis. Dia kembali memaksaku untuk melakukannya dan akupun terus meronta untuk menolaknya, hingga akhirnya kudengar suara keras mengisi ruangan ini.

"Siapa kamu! Berani sekali kamu memasuki ruangan ini!"

Kuarahkan pandanganku pada sumber suara tersebut. Kedua mataku terbuka lebar mendapatkan seseorang yang sudah lama ingin aku lupakan, kini berada dihadapanku. Seseorang bertubuh tinggi dengan jaket coklat sepanjang lutut dengan sebuah syal putih melingkari lehernya.

"Tu-tuan Ivan…," ucapku tidak percaya.

"Oh? Jadi dia tuanmu?," pria itu melepaskan diriku dengan kasar hingga aku tersungkur, lalu berjalan mendekati Ivan. Jarak dan rasa lelah membuatku tidak bisa berkonsentrasi dengan kata-kata yang mereka ributkan. Namun ketika pria itu mau memukul Ivan, dengan mudah dia dijatuhkan tanpa perlawanan yang banyak. Sayang sekali, pria ini bukanlah lawan yang pantas untuk Ivan yang lebih berpengalaman dalam hal beladiri. Itulah yang kutahu ketika aku masih menjadi 'peliharaan'nya.

"Roderich, kamu tidak apa-apa?," tanyanya sambil berjalan mendekatiku.

Aku mengangguk pelan dan sesaat kedua mataku kembali terbuka lebar. Pria tadi sempat terbangun dan bersiap untuk menyerang Ivan dari belakang. "AWAS!"

Ivan sungguh hebat! Penjagaan yang hebat membuatnya mudah menghindari serangan tersebut dan dalam beberapa kali pukulan, pria itu jatuh pingsan. Tanpa membuang waktu, Ivan segera mengikat pria itu dengan tali yang tidak jauh darinya lalu kembali mendekatiku.

"Roderich…" Ivan menatapku sesaat dan aku hanya bisa menangis sambil menutup tubuhku dengan lutut beserta tanganku yang terikat. Ivan melepaskan jaketnya dan diletakannya pada bahuku. "Tenanglah. Ini sudah berakhir," sambungnya dengan perlahan.

Tanpa ragu akupun kembali menangis seiring Ivan memelukku dengan lembut. Aku tahu bahwa tubuhku sudah kotor dan tidak berharga, namun aku tidak percaya bahwa Ivan yang kubenci, kini berada dihadapanku dan menolongku dari mimpi buruk ini.

"Tenang Roderich… Tenanglah….," ucapnya berkali-kali dengan tangannya yang masih mengelus rambut dan telingaku. Tangisanku semakin keras seiring Ivan mempererat pelukannya. Saat ini Gilbert tidak ada disampingku, namun adanya kehadiran seseorang yang tidak aku duga beserta kehangatan yang dibawanya, membuat rasa takut dan senang meluap menjadi satu.

Setelah beberapa waktu berlalu, Athur bersama dengan Alfred datang membawa 3 orang tersebut ke kepolisian untuk diminta keterangan lebih jelas. Sebenarnya akupun diminta memberikan keterangan, namun tekanan dan lemahnya mental, membuat tubuhku melemah. Selain itu, keadaan tubuhkupun tidak memungkinkan diriku untuk melanjutkan perjalanan menuju kepolisian. Mau tidak mau, akupun dibawa kerumah sakit terdekat untuk diperiksa, karena khawatir dengan keadaan tubuhku yang berbeda dengan manusia biasa dan mendapatkan perlakuan pemaksaan seperti ini.

-ooopovGilbertooo—

Melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan keinginan hati menjadi suatu kelebihan dan keuntungan yang tidak dapat dinilai oleh siapapun. Setiap orang mempunyai berbagai macam perbedaan dari kebiasaan ataupun kemampuannya. Namun dibalik itu semua, tidak ada seorangpun yang bisa berdalih untuk tidak mendapatkan dukungan dari seseorang disekelilingnya.

Menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari waktu yang ditentukan, membuatku semakin semangat untuk segera pulang dan menemui sang kekasih yang sudah menunggu di rumah. Kulalui udara dingin dipagi hari yang menusuk tubuh kurusku. Senyum terukir diwajahku menghilangkan rasa lelah diseluruh tubuh. Namun ketika aku tiba di rumah, hanya cahaya gelap mengisi seluruh ruang rumah. Kucoba untuk memanggil namanya, tetapi keheningan yang kudapatkan. Rasa khawatir memenuhi seluruh pikiranku.

'Kemana dia? Apa dia berada ditempat Ludwig?,' ucapku dalam hati, mencoba untuk berfikir lebih jernih.

Kuambil telepon genggam dari dalam tas kecilku dan kudapatkan sebuah pesan yang membuat tubuhku menegang dan bergetar hebat. Sebuah pesan dari Ivan mengenai keadaan Roderich.

'Gilbert, Roderich sempat diserang dan kini berada dirumah sakit. Cepatlah datang. –Ivan-'.

Tanpa berfikir panjang, kukunci kembali pintu rumah lalu dengan kecepatan yang kupunya, kupacu diriku menuju stasiun dan berlari menuju rumah sakit. Dalam waktu 30 menit, akupun sampai di rumah sakit dan menemukan Ivan duduk didepan sebuah kamar. Tanpa membuang waktu, akupun berjalan mendekatinya untuk mendapatkan keterangan yang lebih jelas.

"Ivan," seruku sambil berlari mendekatinya. "Bagaimana keadaan Roderich?."

"Kamu tidak perlu khawatir, da~. Sekarang Roderich sedang beristirahat didalam dan sebaiknya kita tidak mengganggunya dulu. Biarkan dia istirahat dan menenangkan pikirannya, da~"

Aku mengangguk perlahan. "Baiklah…" kuhela nafas sejenak, lalu kembali menatapnya. "Ivan, ceritakanlah padaku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa dia bisa sampai disini?"

Kepergianku selama kurang dari 24 jam, ternyata menjadi sebuah mimpi buruk bagi Roderich. Ivan sendiri kurang tahu mengenai kejadian secara jelasnya, namun secara tidak sengaja dia mendengar suara teriakan dari sebuah gudang dengan 2 orang penjagaan. Setelah memeriksa, ternyata sumber suara tersebut berasal dari Roderich dan dengan segera Ivan menghubungi Arthur dan menolongnya.

"Namun…," penjelasan Ivan terhenti.

"Ada apa Ivan?"

Ivan terdiam sejenak. "Sebenarnya ini menjadi kabar buruk beserta kabar baik untukmu." Ivan menanyaiku sejenak untuk memilih namun aku tidak memperdulikannya. "Baiklah. Kabar baiknya, sebentar lagi kau akan menjadi ayah, Gilbert."

"Be-benarkah?" seruku tidak percaya. "Se-sejak kapan? Bagaimana keadaannya?"

Ivan tersenyum untuk menenangkanku sejenak. "Kandungannya masih terlalu muda, hampir 3 bulan namun tanda-tandanya sudah terlihat. Hanya saja…" Ivan kembali terdiam. "Hari ini ada yang…" Ivan membisikan sesuatu ditelingaku yang membuat seluruh darah dan tubuhku terasa panas.

"A-apa? Kurang ajar! Lalu bagaimana dengan mereka?"

"Kamu tidak usah khawatir. Arthur dan Alfred sudah mengurus mereka. Lebih baik kamu tetapi disini menunggu sampai Roderich terbangun. Kita tidak ada yang tahu dengan keadaannya, da. Terakhir kulihat, pandangannya begitu kosong dan ketakutan…"

Mendengar semua penjelasan Ivan membuat tubuhku melemas dan menjatuhkan diriku duduk dibangku depan kamar Roderich. Ivan ikut duduk disebelahku dan menepuk pundakku. "Gilbert, kau harus bisa meyakinkan dirinya bahwa anak yang dikandungnya adalah anak kalian…" aku terdiam menatapnya bingung. "Dokter memberitahuku bahwa sebenarnya tubuh Roderich dipenuhi 'cairan' milik orang yang sudah mencelakainya. Namun beruntung 'cairan' tersebut tidak terserap sehingga tidak mengganggu 'janin' yang tidak secara sengaja ditemui oleh dokter. Sepertinya Roderich juga belum mengetahui berita ini…"

"Jadi, dengan kata lain?"

Ivan mengangguk. "Dikhawatirkan Roderich mengalami trauma dan menolak 'janin' tersebut. Yakinlah bahwa 'dia' adalah anak kalian. Kamu harus bisa meyakinkannya, da~"

Aku tersenyum mendengar penjelasannya yang membuatku semakin merasa yakin. "Kesesese, kamu benar-benar awesome! Terima kasih banyak, Ivan!," seruku sambil menepuk punggung besarnya.

Ivan membalasku dengan sebuah pukulan perlahan pada bahuku. Ya, aku tidak bisa menyalahkan mengenai perbedaan tenaga antara aku dan dia. Harus bisa dimengerti dan dimaklumi dengan pasti.

"Tidak apa-apa, da~ aku mengerti perasaanmu, da~ Karena akupun demikian. Oleh karena itu kita harus bi-"

"Apa maksudmu, Ivan? Aku tidak mengerti…"

Ivan tersenyum dan kali ini dia memelukku. "Akupun akan menjadi seorang ayah, da~. Saat ini kandungan Toris sudah berumur 5 bulan, da~"

Mendengar perkataannya, aku ikut tertawa dan menepuknya. "Sungguh berita awesome, Ivan! Selamat untukmu, ya!"

Kami berdua kembali tertawa sejenak, dan tidak lama kemudian Ivan berpamitan kepadaku karena hari semakin siang dan dia harus menemani Toris dirumahnya. Tentu saja aku tidak melarangnya karena aku mengerti benar bagaimana perasaannya saat ini. Setelah berpamitan, perlahan aku memasuki kamar Roderich dan mendapatkan dirinya yang sedang tertidur dengan tenang. Kuberjalan mendekati dirinya dan duduk disisinya sambil mengusap tangannya yang terlilit dengan selang infus.

"Roderich… Maafkan aku… aku sudah gagal menjagamu," ucapku sesaat dan perlahan kedua matanya terbuka lebar… ketakutan. Raut senyum diwajahku ikut berubah dengan seluruh kebingungan didalam pikiranku. "Ro-roderich? Ka-kamu kenapa?."

Roderich tidak menjawab apa-apa. Dari gerak tubuhnya, dia terlihat ketakutan dan menjauhiku. Sungguh aku tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan dirinya. Kucoba untuk mendekatinya, namun raut wajahnya semakin ketakutan dan diapun mulai melempar barang yang berada didekatnya.

"Jangan mendekat!," serunya. "Jangan mendekat!."

"Ro-roderich? Ini aku, Gilbert…"

Beberapa kali kucoba untuk memanggilnya, meyakinkan dirinya mengenai kehadiranku, namun hasilnya nihil. Roderich kembali kedalam bayangan mimpi buruknya! Tanpa meminta izin, aku langsung menarik dirinya dan memposisikan diriku berada diatasnya dengan kedua tangan yang kutahan diatas kepalanya.

"Lepaskan! Lepaskan aku!"

"Roderich! Ini aku, Gilbert! Sadarlah!"

Kutatap pandangannya yang kosong dan seperti menerawang sesuatu yang tidak aku ketahui. Dalam hitungan detik, aku langsung mendekatkan wajahku padanya, menciumnya dalam-dalam dan seketika rontaannya mulai berkurang. Kedua matanya tertutup sejenak dan tidak lama kemudian kembali terbuka dengan kedua tangan yang dia lingkarkan pada leherku.

"G-gilbert…," isaknya perlahan. "A-aku…"

"Stttt… tidak apa-apa, Roderich. Kamu hanya mimpi buruk, Roderich. Lupakan mimpi buruk yang tidak awesome itu karena aku sudah berada disisimu sekarang."

Air mata kembali membasahi wajah putihnya. Kuposisikan diriku duduk disisnya dan membiarkan dia menangis didalam pelukanku, seperti seorang anak kecil yang terbangun dari mimpi buruknya. Mengusap rambutnya dengan perlahan, sambil kulingkarkan tanganku pada tubuh kecilnya. Walau kami sudah hidup bersama, namun kusadari trauma yang dialaminya kini kembali menghantuinya.

"G-gilbert… ma-maafkan aku… maafkan aku...," ucapnya ditengah isak tangisnya.

Aku yang sudah tidak bisa menahan perasaan ini hanya bisa memeluknya semakin erat dan kusadari air mata mulai keluar dari sudut mataku. Dengan berat kucoba untuk menenangkan dirinya, "Tidak… akulah yang harusnya meminta maaf kepadamu. Aku sudah gagal melindungimu, Roderich. Akulah yang harusnya dipersalahkan…"

Roderich melepaskan pelukanku dan menatapku. Tangan lembutnya mengusap wajah panasku. "Gilbert…ka-kau…menangis? Mengapa kau yang menangis? Akulah yang salah…" Roderich memegang kepalanya dan pandangannya mulai kacau. "A-akulah yang lengah dan seharusnya aku mendengarkanmu. Tetapi aku…aku mala-"

Kukecup bibir kecilnya untuk menghentikan perkataannya yang semakin membuat perasaanku semakin tersakiti. Setelah beberapa saat, aku kembali menatapnya dan menyandarkan kepalanya pada dadaku. Melingkarkan tanganku pada tubuhnya dan mengelus rambutnya.

"Tidak… Kau tidak salah, Roderich. Tidak…" ucapku perlahan. "Sekarang lebih baik kamu beristirahat sejenak. Kamu pasti lelah setelah mengalami hari buruk ini. Tidurlah…"

Roderich melingkarkan tangannya padaku. "Kau…akan disini?"

Aku mengangguk. "Ya, aku akan selalu disini menemanimu, sampai kamu tertidur. Ah, tidak. Aku akan selalu disini menemanimu dan tidak akan meninggalkanmu lagi…"

Roderich mengangguk pelan hingga akhirnya kurasakan nafasnya mulai terasa tenang. Kuposisikan dirinya dengan benar diatas tempat tidur dan menyelimutinya. Kuraih bangku yang tidak terlalu jauh, duduk disisinya dan menatapnya seiring mengusap rambut halusnya itu.

"Roderich…Maafkan aku…maafkan aku… sungguh aku ini tidak awesome. Tidak bisa menjaga dirimu, padahal aku sudah berjanji untuk selalu berada disisimu…maafkan aku…," ucapku dalam hati seiring airmata yang terus mengalir membasahi wajahku.

-end part 2-