Title : Akudou 悪童 (Bad Boy)
Cast : Kai, Kyungsoo, Other
Genre : Teen, Romance
Disc : I don't have anyting of all below content!
.
.
.
Enjoy~
Chapter 2
Happy Reading
.
.
.
Kamis pagi, waktunya berkemas untuk ke sekolah. Setelah mengenakan seragam lengkap, aku berdiri di depan cermin, mengoleskan sedikit pelembab di wajah dan lip balm seadanya di bibir. Lalu merapikan rambut mengikatnya rapi. Sederhana. Aku bukan gadis cantik yang berdandan setiap akan pergi untuk semakin memperlihatkan kecantikanku pada semua orang. Tapi aku tetaplah seorang perempuan, jadi aku tetap harus memperlihatkan penampilan.
Baekhyun datang menjemputku setelah aku menghabiskan dua potong roti selai untuk sarapan.
"Hai, jelek~" Adalah hal pertama yang diucapkan Baekhyun ketika aku duduk di dalam kendaraannya.
Baekhyun mengenakan seragam yang sama sepertiku, dia memakai eyeliner tipis. Dia tampak lebih modis tentunya. Baekhyun dan aku benar-benar berbeda dilihat dari penampilan, tapi soal kepribadian, kami seperti saudara.
"Kai datang ke rumahku kemarin, and stole my cookies," Baekhyun menyeringai menatapku, "Real cookies, Baek. Stop your dirty thinking," aku memarahinya.
"Ya ya," dia tertawa, "bagaimana dan kenapa dia bisa sampai datang?"
"Dia mengembalikan ponselku, dan aku...eh, bagaimana dia tau alamatku?" Aku berkata bingung, menyadari ini untuk pertama kalinya, ya...darimana Kai tau?
"Menarik."
"Apa yang menarik?" Aku melihat ke arah Baekhyun.
"Tidak ada."
"Apa Baek- "
"Jadi, seorang Kim Kai entah bagaimana secara ajaib tau dimana rumahmu, ponselmu ada padanya dan sebelumnya dia juga menggendongmu ke ruang perawatan dari ruang gym dan menyelamatkanmu dari si Pelatih Mesum?" Baekhyun berbicara seperti pembawa acara gosip televisi, menjelaskan daftar semua hal yang Kai lakukan untukku, "Kai pasti punya sesuatu untukmu, Kyung!" Dia selesai bicara saat kami tiba di parkiran sekolah.
"Tidak Baek."
"Ya tentu dia- "
"Tidak!" Membuka pintu, aku segera melompat keluar meninggalkannya.
.
.
Menu khusus hari ini adalah mi dingin. Bukan makanan yang terlalu kusuka, tapi aku cukup kelaparan jadi aku membawanya dari kantin untuk kumakan di kelas, terlalu malas untuk makan di kantik, terlalu ramai.
Aku sibuk memikirkan apa yang Baekhyun katakan tadi, bagaimana Kai menemukan rumahku, kenapa dia tiba-tiba bertindak seperti teman yang sudah mengenalku? Aku benar-benar tidak mengenalnya, maksudku aku kenal –namanya, tapi kami tidak punya hubungan apapun untuk dia bisa bertindak seperti itu, dia bukan temanku.
Saat aku sedang berjalan menuruni tangga pendek yang memisahkan kantin dengan koridor, penyakit ceroboh dan kikuk-ku kambuh lagi, aku tidak memperhatikan jalan.
Aku tersandung ransel seseorang –yang entah kenapa bisa ada di lantai- dan berakhir dengan wajah –dagu yang tepat mengenai lantai.
"AWH!"
Aku memekik kesakitan, ditambah lagi sekarang wajahku belepotan mi yang ku bawa tadi. Ugh...
Lalu aku merasakan ada seseorang di depanku, berdiri menatapku. Perlahan mendongakkan kepala untuk melihat siapa itu.
Oh tidak. Dia... si babi gendut kelebihan berat badan.
Im Soora.
"Apa!" Dia membentakku dengan suara cemprengnya.
Aku menatapnya bingung –oh, dengan tatapan bodoh ditambah wajah dan baju depan yang kotor pasti aku terlihat bodoh sekarang.
"Lihat apa yang kau lakukan!"
Im Soora, mengenakan kaus kaki pelangi, sepatu converse dan rambut dikuncir. Wajahnya berlapis makeup dan kawat gigi, dan bajunya...terkena mi. Mi yang kubawa tadi tepatnya.
Im Soora terlihat seperti Godzilla yang sedang datang bulan.
Dia membenciku bahkan sejak TK, saat aku memotong rambut ekor kudanya. Tapi bagaimana aku bisa tahu, saat itu di mengajakku bermain, aku menjadi penata rambut dan dia adalah pelanggan, jadi aku memotong rambutnya – dengan bodohnya benar-benar memotongnya. Aku tidak tau kalau di tidak ingin benar-benar memotong rambut.
Ya, aku memang bodoh. Dan sejak itu dia membenciku dan selalu membully-ku.
"Aku-aku-aku...m-m-maaf!" Aku bangkit dan mendekatinya mencoba menyapukan mi di bahunya dengan tanganku.
"Jauhkan tanganmu!" Dia meraih tangkanku dari bahunya dan menepisnya dengan begitu keras, menyebabkan air mata perlahan menuruni pipiku, "you stupid little bitch!" Lagi, "kau pikir kau siapa dirimu hah, kau pikir kau cantik?!" Lagi, "yah you're little bitch! Yang selalu berkeliaran di sekitarku dari dulu sampai sekarang!"
Lalu dengan kejamnya lagi dia mendorongku kuat hingga aku terjengkang ke lantai.
"Kenapa hah? Mau menangis? Ya, pergilah mnangis dan mengadu pada ayah dan ibumu! Ups –ya aku tau, kau tidak mungkin bisa melakukan itu heh," dia mencibir jijik.
Perkataannya benar-benar menyakitiku. Sekarang aku hanya ingin menghilang dari sini.
"Dan jangan lupa, habiskan makan siangmu, little bitch!"
Dia mengambil nampan makananku tadi. Dan menumpahkan semuanya ke kepalaku. Aku bisa merasakan makanan-makanan itu menuruni kepalaku dan sekarang wajahku. Menjijikkan.
"Ups, tidak sengaja," sebagai pelengkap, dia mengambil susu kotak dari sakunya, membuka penutupnya dan menumpahkannya perlahan tepat di atas kepalaku.
Aku menyadari betapa banyak orang yang menonton, tertawa, dan bahkan merekam ini. Dan inilah aku, tidak bisa melawan, hanya bisa menunduk, menangis dan terus berkata maaf.
Apa sebenarnya yang kulakukan? Pantaskah aku menerima ini? Soora adalah murid yang juga sering dibully karena wajah jelek dan tubuh gendutnya. Dia pasti mengerti bagaimana rasanya diperlakukan seperti ini. Dan dengan tega dia melakukannya padaku. Aku tidak pernah mengganggunya.
Aku benar-benar pengecut, bahkan tidak mampu untuk berdiri, berbicara, apalagi untuk lari.
"Teruslah menangis, you little bi- "
"Apa-apaan ini?!" Aku mendongak, seperti mendapat jawaban atas doa-doaku, Kim Jongin berdiri di sana, merampas susu kotak yang ditumpahkan Soora di atasku.
Dengan datangnya Kai, semakin banyak orang-orang yang datang berkumpul, ya...karena dia datang bersama seorang yang populer juga, satu-satunya orang yang terlihat bisa dekat dengan Kai, Park Chanyeol.
"Aku-aku-aku, dia menumpahkan makanan padaku ... dengan sengaja!" Soora membela diri, wajahnya merah padam sambil menjelaskan pada Kai.
"Kupikir tidak begitu," kata Chanyeol cukup keras ke arah Soora.
"Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi," Kai menggeram, "jangan melihat, berbicara, atau menyentuhnya," dia memperingatkan Soora.
Kai segera berbalik menghampiriku, dia membungkuk dan mencoba meraihku. Tapi aku terlalu malu, aku pasti benar-benar terlihat bodoh dan lemah. Aku hanya terus menunduk, aku tidak mau dia melihatku seperti ini. Aku takut. Aku ingin menghilang saja.
"Ssh, ayo...aku tidak akan menyakitimu," dan dia meraihku lagi, memeluk dan membawaku. Kali ini aku tidak menolaknya.
Deja Vu. Tangannya di bawah lutut dan di punggungku, merengkuhku dalam aroma tubuhnya. Refleks, melihat tatapan semua orang, aku menyembunyikan wajahku di dadanya.
"Apa yang kalian lihat? Ini bukan tontonan! Bubar semua!" Suara Chanyeol keras menggelegar kantin, "Ya! Dengar tidak?! Kami mau keluar dan tidak bisa jalan jika kalian mengerubungi seperti ini!"
Setelah keluar kantin, suasana senyap, Kai terus berjalan membawaku dengan Chanyeol di sampingnya, melewati koridor-koridor sepi, lalu kemudian berbelok ke arah toilet laki-laki.
Toilet...laki-laki?!
"Aa-a-aa itu," aku tergagap, memegang pintu menahan Kai yang membawaku masuk, "kenapa masuk ke sini?"
"Kyungsoo... kita perlu membersihkan dirimu," kata Kai lembut.
"Ya, kau bau," suara Chanyeol menyahut dari dalam.
"Aku yakin kau juga bau sekarang karena menggendongku," aku menatap Kai.
Aku pengecut tapi tidak suka diperlakukan sebagai orang lemah.
"Kami sedang berusaha untuk membantumu," geram Kai.
"Aku tidak memintanya."
Kemudian aku menyadari betapa egois dan kasar perkataanku, lalu aku menyerah, melepaskan peganganku pada pintu, "maaf atas sikapku. Baiklah...a-ayo masuk," dengan suara mencicit pelan aku membiarkan mereka membawaku ke dalam.
Kai tersenyum penuh arti dan Chanyeol kembali masuk dengan 'hmpf,' dia menahan tawanya. Aku benar-benar kekanakan.
"Jadi kau gadis yang terkilir setelah memenangkan pertandingan voli waktu itu?" Chanyeol bertanya saat Kai menurunkanku untuk duduk di wastafel.
"Em, ya."
"Dan tadi itu adalah Im 'Godzilla' Soora?" Kai menyeringai padaku, kemudian meraih beberapa tisu di samping westafel, membasahinya sedikit dan dengan lembut membersihkan lenganku.
"Itu tadi kecelakaan, tidak sengaja," aku mengadu.
"Tentu, aku tau," Chanyeol tersenyum jahil menatapku, aku malu ditatap begitu apalagi dia kemudian mengedipkan matanya, aku cepat-cepat menunduk, "I like this girl, she's not like the others."
Not like the others?
.
.
.
"I don't know man, I think she looks pretty cute," Chanyeol tak melepas tatapan jahilnya padaku.
"Hentikan, Yeol," Kai mendesah, tatapannya pada kaki-ku, "Tsk," ia berhenti sejenak, sambil menunjuk ke pakaianku, "benar-benar buruk..."
Kai akhirnya memutuskan untukku memakai baju olahraga. Tapi aku tidak punya sekarang. Jadi, aku mengenakan kaus olahraga Kai, yang diambilnya dari lockernya, dan mendapati bahwa baju olahraga ini mencapai pertengahan pahaku.
Oh, aku memakai baju Kai. Hanya bajunya sekarang.
"Aw, look she's blushing," Chanyeol mencubit pipiku, aku kaget dengan kelakuannya.
"I'm not!" Aku memekik tidak setuju dan mendorong tangannya menjauh.
Kai menatap kaki-ku. Terus menatapnya. Refleks aku merapatkan –menyilangkan kaki menunjukkan ketidaknyamanan, tapi Kai terus menatapanya.
"Dude, kau membuatnya takut!" Chanyeol berseru sambil menjentikkan jari di depan wajah Kai.
"Aa-" dia menatapku, "ah, sialan...maaf," ada rona samar di wajahnya.
"Oke~" Chanyeol berkata, "sekarang kita perlu mencari cara bagaimana kita bisa keluar dengan Kyungsoo yang hanya memakai kaus olahraga."
"Bagaimana ka- "
Duk duk duk!
Suara gedoran pintu yang keras memotong perkataan Kai.
"Boys! Unlock the door!" Itu Pelatih Kook.
"Sialan," Kai mengumpat.
"Tunggu seb- " Chanyeol berseru.
"Sekarang!" Pelatih memotong perkataan Chanyeol dan berteriak geram.
"We'll play hide and seek," Kai berbisik sebelum meraih pergelangan tanganku dan menarikku ke dalam salah satu toilet.
Ke dalam toilet.
Setelah kami berada di dalam, Kai mendesakku untuk naik ke atas toilet yang tertutup, lalu dia berdiri menghadap toilet –menghadapku seolah-olah sedang melakukan 'bisnisnya'.
"Park-ssi, aku tahu kau di dalam, buka pintunya!" Pelatih berteriak.
" Alright, I'm coming," Chanyeol membalas dramatis.
Suara 'klik' pintu mebuatku gugup, tanganku berkeringat, jantungku berdetak lebih cepat, dan nafasku memburu.
"Park-ssi, bisa jelaskan kenapa pintu terkunci?"
"Err...emm..."
"Ya?"
Chanyeol menghela nafas, "aku di sini karena Jongin, aku sedang menemaninya, sepertinya ada kuman jahat di dalam perutnya dan dia butuh waktu sendiri sekarang, ehehe..."
Aku harus menahan tawa mendengar alasan Chanyeol, sementara Kai tampak tidak senang.
"Jadi maksudmu di sini tidak ada...kau tidak tahu, Do Kyungsoo di sini?"
Nafasku tercekat tenggorokan mendengar kata-kata terakhirnya.
Ya Tuhan, tolong jangan lakukan hal ini. Aku sudah menjadi anak yang baik, rajin membersihkan kamar, mendapat nilai bagus, memasak untuk nenek-
"Tidak, Sonsaeng. Hanya Kai dan aku," Chanyeol berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "nah...itu Jongin 'kan?"
Kai tampak terkejut bahwa namanya diundang ke dalam percakapan. Sebelum berbicara, Kai batuk seolah-olah ia baru menemukan suaranya. "Halo."
Aku hampir teratawa mendengan balasannya.
"Jongin bisakah kau keluar sebentar?" Tanya pelatih.
Sialan.
"Sonsaeng, saya bilang dia sedang sakit."
"Tidak terdengar sak-"
"Oh, Ya Tuhan," Kai menangis dramatis, "Itu tadi besar," serunya lagi dan aku harus menutup mulut menahan tawa, "pasti akan sangat bau di sini," dia menggunakan lengannya membuat suara kentut, "kalian...mungkin ingin keluar selagi bisa," dia selesai berakting, dengan mengedipkan mata padaku.
"Kan sudah kubilang..." Chanyeol bergumam.
Ruangan terdiam sesaat, dan aku berusaha keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Pelatih mungkin terbingung dengan ledekan Kai. Aku harus mengakui itu ide pintar tapi juga sangat menjijikkan. But what could I say, anak laki-laki memang jorok.
"Oh, ya...baik," Pelatih terdiam sejenak, "get better Jongin, aku tidak mau bintang tinjuku sakit."
"Ya-" 'kentut palsu' "Sonsaengnim."
Pelatih menggumamkan sesuatu seperti 'pastikan dia pulang sebelum seluruh sekolah menjadi bau' kepada Chanyeol saat aku melangkah turun dari toilet.
Suara klik pintu terdengar pertanda Pelatih telah meninggalkan kami.
Aku tidak percaya ide mereka benar-benar bekerja. Tidak pernah dalam hidupku terpikir untuk berbohong, apalagi kepada seorang guru. Aku selalu menjadi anak yang baik; nilai selalu bagus, patuh pada aturan, dan selalu mengulang pelajaran di rumah. Tidak pernah terpikirkan kalau ternyata hal seperti ini sangat menyenangkan.
Kai berbalik ke arahku, jarak kami sangat dekat karena ruang toilet ini juga tidak luas. Entahlah, rasanya...seluruh dunia dengan gerakan lambat dan tak terdengar suara apapun. Seolah-olah sedang berada di dunia kecilku sendiri. Hanya aku...dan Kai.
Tangan Kai bergerak di rambutku, menjalankan jari-jarinya di sana. Aku tidak tahu apakah ini hanya persaanku saja, atau memang jarak kami semakin dekat?
"Dude, apa yang kalian lakukan di toilet? Ayo keluar!" Chanyeol berteriak sambil menggedor pintu menyebabkan Kai dan aku terlonjak, terkejut.
"Sialan, kau." Kai mengumpat, menggosok bagian belakang kepalanya –karena gugup mungkin.
"Apa kalian mau keluar atau kalian butuh waktu untuk ber-"
"Ya ya aku keluar!" Kai menggeram, membuka pintu dan menemukan Chanyeol menyeringai.
"Penyelamatan yang bagus, bukan?"
.
Entah dari mana, Kai mendapatkan sebuah celana olahraga –enah milik siapa, dan aku bergegas memakainya dan mereka menyeretku keluar dari sekolah secepat mungkin.
Tentu kami mendapat tatapan aneh dari orang-orang, aku hanya menunduk hingga mereka menyuruhku masuk ke sebuah mobil. Dan di dalam mobil, Kai memaksa membuka celanaku –maksudnya, katanya dia meminjam celana itu dari seseorang yang hanya mengizinkan memakainya sebentar. Dengan berat hati aku membuka celana itu, tidak apa-apa, baju olahraga Kai cukup panjang, hampir mencapai lutut saat aku duduk.
"Where to now?" Kai bertanya, menyalakan mobil Chanyeol.
Kami menggunakan mobil Chanyeol karena tidak mungkin untuk membawa motor besar Kai. Dan juga, aku takut naik motor besar seperti itu.
"We could get ice cream!" Aku menyarankan, kemudian melihat ke arah Kai dan mendapatinya mengangkat sebelah alisnya menatap kaki telanjangku.
"Oh...ya benar, tidak usah." gumamku setelah menyadari maksud Kai –tidak mungkin pergi dengan keadaan begini.
"Kami antar pulang saja?"
Ke rumah? Bagaimana kalau nenek bertanya soal ini, aku adalah cucu yang baik dan manis, lalu pulang sekolah hanya dengan sebuah baju?
"Pulang sekolah sebelum waktunya juga bukan sesuatu yang dilakukan anak baik," Kai menambahkan seolah tau isi kepalaku.
Kai tertawa pelan melihat wajah bingungku, sambil mengedipkan mata dia berkata, "Kalau begitu ke rumahku?"
Eh. Rumah Kai?
Sesuatu yang benar-benar tak pernah terbersit.
"Baiklah."
.
.
.
TBC
.
.
.
Review pwease~~
