Cinderella Step Brother
Author: HeyKickey
Summary: Kepalanya menoleh kebelakang, karena ada yang menepuk pundaknya. Yang terlihat didepan matanya adalah, Draco. Oh, kenapa setiap dia akan kabur selalu dipergoki oleh laki-laki itu. Dia tersenyum kecut kepada Draco. "Kau mau kabur lagi? Aku boleh ikut?" "Ha? Kenapa kau selalu memergokiku saat akan kabur. Huh!" "Itu karena aku juga mau ikut kabur."
Disclaimer: Semuanya milik tante JK Rowling kooook :)
Rated: Author lagi nggak kesambet, jadi ratednya T \(' ')/
Sebelum melanjutkan baca, author mau ngucapin massive thankyou buat yang telah mereview ini fanfic, love ya :D
Hampir dua jam perjalanan Hermione menyuguhkan wajah tanpa tersenyum. Entah karena lelah, ataupun kesal kepada semua orang yang sedang ada di dalam mobil ini. Terlebih lagi dengan si anak peremuan dari keluarga Narcisa tadi, yang kalau tidak salah bernama Pansy itu.
Bagaimana tidak, sedari tadi gadis itu membunyikan lagu keras sekali, memang dia menggunakan headset, tetapi tetap saja kalau ia membunyikannya sangat keras sekali. Sampai-sampai Hermione tahu lagu apa yang sedang ia bunyikan.
Akhirnya, sampailah sudah ke villa yang akan ditempatinya selama liburan musim panas ini. Tangannya mulai membawa kopernya pergi dari kerumunan keluarga Narcisa itu, membawanya ke kamar yang juga akan ia tempati selama liburan musim panas ini.
Badannya segera ia rebahkan di kasur empuk yang sedari tadi ia idamkan. Hhh—apa yang akan ia lakukan setelah ini. Haruskah bermain dan tertawa bersama anak-anak Narcisa lainnya, oh! Sungguh liburan yang paling membosankan, pikirnya.
"Sayang, bantulah Pansy dan Draco untuk memetik beberapa sayuran dikebun. Apakah kau tak bosan sedari tadi berdiam di kamar saja."
Perintah ayahnya dengan diiringi badannya yang mulai pergi dari kamarnya menuju kebun dibelakang villa ini. Kalau saja bukan karena dia bosan dikamarnya, ia tak akan mau pergi ke kebun untuk membantu dua calon saudara tirinya untuk memetik beberapa sayuran. Dia hanya terdiam saat dua anak Narcisa memandangnya sesaat dia datang.
Peduli apa dengan tatapan mereka, yang menurut Hermione sungguh menyiksanya. Dia mulai melangkah untuk mengambil beberapa wortel dan kubis yang letaknya saling berdekatan. Tak menghiraukan apa yang sedang dilakukan kedua calon saudara tirinya itu, sampai si Nenek Sihir Narcisa datang dan menyapa kedua anaknya dan Hermione.
"Oh, sungguh menyenangkan melihat kalian semua rukun, suatu pertanda yang baik, benarkan, Hermione ?"
Tanya Narcisa, yang menurut Hermione itu hanyalah basa-basi belaka yang sok gombal. Dan sekali lagi, dia hanya terdiam menanggapinya. Tangannya sibuk memetik wortel, sampai terdengar jeritan kecil Pansy, yang mengatakan, bahwa kakinya kesemutan karena terlalu lama jongkok memetik wortel. Ha? Hanya begitukah? Mione bergedek dalam hati mendengar rengekan Pansy yang menurutnya teralu kekanakan.
"Pansy, sayang? Kau tidak apa-apa? Adakah yang sakit? Atau perlu mum panggilkan dokter?"
Kata Narcisa penuh kekhawatiran, seoalah hal yang lebih buruk dari peristiwa kesemutan itu terjadi. Sekalai lagi, dia bergedek dalam hati. Sepersekon setelah itu, Narcisa telah memandangnya. Adakah yang salah? Ataukah Narcisa tahu apa yang sedang ia pikirkan.
"Oh, Mione. Bisakah kau membawakan setumpuk sayuran, yang telah di petik Pansy ini. Kau tahu sendiri kan, dia sedang sakit sekarang."
Syok! Sungguh, oh—sudahlah. Percuma saja ia jika dia menolak dan mencoba menentang apa yang dikatakan Narcisa, pasti ia akan membulatkan kata-kata dari Hermione. Jadi, dia hanya bisa menghela napas panjang menanggapi itu semua.
Tak lama kemudian, Narcisa dan putri kesayangannya pergi meninggalkan dia dan Draco. Kedua tangannya mulai mengangkat banyak sayuran yang telah ia dan Pansy petik. Niatnya dia akan mengambal dua kali sayuran ini. Tapi! Ah, tak mungkin itu. Jaraknya cukup jauh untuk di bawa ke dapur vilanya. Draco melirik sejenak Mione, dan mencoba berpikir sejenak untuk membantu Mione. Dan, ini hasilnya. Draco mengangkat sayuran milik Pansy tadi. Hermione hanya memandanginya dengan kaget.
"Akan kubagi dua denganmu, ku pikir aku mau membantumu, walaupun tidak penuh."
"Hhh, eh—terserah." Dia tersenyum di belakang Draco. Sungguh beda dengan Pansy.
Kakinya berjalan cepat menuju lantai bawah villa. Niatnya mencari boneka kesanyangannya yang mungkin tertinggal di mobil. Karena sudah lama ia cari di kamarnya tidak ada. Jadi, mungkin tertinggal di mobil, pikirnya. Terdengar suara dua orang wanita yang sudah ia kenal. Ya, Pansy dan Narcisa. Apa yang mereka bicarakan. Mungkin Hermione tak akan curiga kepada mereka, seandainya dua orang itu tak bicara dengan sedikit pelan. Kaki Hermione mulai berjalan pelan ke arah mereka.
"Sebentar lagi, sayang. Tunggu sampai gadis sialan itu, tersiksa."
"Ah, mum. Kau akan membuat Mione dan ayahnya seperti di cerita Cinderella, yang kau ceritakan dulu benar?"
"Oh, tentu saja, sayang. Keterpurukan akan menghampiri mereka tentunya."
Apa? Terdengar tawa dua orang itu atas keadaan shock Hermione sekarang. Benar apa yang telah Hermione pikirkan. Dirinya terpaku diam di tempatnya. Bingung dengan apa yang akan ia lakukan seharusnya. Haruskah dia menghampiri dua orang itu, atau mengatakan apa yang ia dengar kepada ayahnya.
Langkahnya kali ini, memberikan jawaban atas semua itu. Sekarang dia sudah ada di dekat kedua orang itu. Dengan raut wajah dan hatinya yang kaget dengan apa yang didengarnya beberapa menit lalu. Tak hanya raut wajah kaget yang terlihat dari Hermione, tetapi di wajah Pansy juga. Tapi, berbeda dengan Narcisa, biasa saja. Itu yang terlihat di wajahnya.
"Jadi kau sudah tahu, Mione sayang?" Kata Narcisa memulai pembicaraan.
"Ka-kalia…an. Semua, oh!"
Hermione tak tahan menanggapinya, ia segera berlari ke kamarnya, membenamkan diri dari sendu tangisnya. Berharap ayahnya tahu dari maksud tangisnya itu. Dia sudah sebal sekali dengan Narcisa dan keluarganya, terlebih pada ayahnya. Bagaimana bisa ayahnya itu memilih menikah dengan Narcisa. Oh, ternyata Cinderella sudah pergi dari dongeng.
Satu detik, satu menit, satu jam, jam berjalan menjadi hari, dan hari pun mulai terhempas menggapai title beberapa hari. Belum hilang rasanya peristiwa pembicaraan antara Pansy dan ibunya. Pembicaraan yang berhasil membuat Hermione shock.
Tangannya mengaduk gula di dalam segelas teh, yang akan ia sajikan kepada tamu milik Narcisa. Sebenarnya Hermione bingung, kenapa bukan anak Narcisa saja yang membuatkan minuman. Kenapa harus Hermione? Dasar ayahnya, apakah dia tak tahu kalau dirinya itu sebal dengan Narcisa serta anak-anaknya. Selesai sudah! maksudnya selesai mengaduk teh , dan siap untuk disajikan kepada tamu milik Narcisa itu.
Ouuchh!
Sial! Irisnya mulai menatap siapa yang menabraknya tadi. Seorang gadis yang dikenalnya serta dibencinya sukses mengambil perhatiannya kini. Ya, Pansy, putri kesayangan Narcisa telah menabraknya beserta teh-teh buatannya. Sesuai dengan yang telah ia predikisikan, beberapa orang langsung datang ke a rah mereka. Dan tak lama setelah itu terdengar suara erangan Pansy yang dinilainya manja.
Dia berkata kalau tangannya panas terkena tumpahan teh. Apa? Sungguh manja tingkat dewa gadis itu. Dibandingkan dengannya, seharusnya yang marah adalah Hermione. Pansy-lah yang menabraknya, dan Pansy pula yang terkena tumpahan teh lebih sedikit.
Irisnya tetap terpaku memandang orang-orang yang sedang menolong Pansy. Sebal, eh—bukan lagi sebal, jijik mungkin melihat mereka. Kedua tangan dan kakinya mencoba berdiri dari kejadian tadi. Tiba-tiba terdengar suara ayah menyuruhnya untuk membawa cangkir-cangkir yang jatuh tadi kebelakang. Tapi—
PRANG!
"Mionee!"
Tanpa mendengar ocehan orang dibelakangnya, Hermione berlari menuju kamarnya. Terus, dan terus berlari. Pansy sialan! Narcisa, bahkan dad, begitu pikir Hermione. Kakinya iba-tiba terhenti, dengan seseorang berhenti didepannya pula.
Selanjutnya, apa yang menggoyahkan hatinya, sampai-sampai ia merasa sedih sekaligus bahagia, ada orang itu didepannnya. Sendu tangisnya tiba-tiba terdengar, semakin lama semakin jelas terdengar di sistem pendengaran orang didepannya itu. Dan tanpa sengaja, orang didepannya sudah memeluk Hermione, berniat untuk menguatkannya. Benar—orang itu adalah Draco.
Matanya masih sembab gara-gara peristiwa kemarin malam. Niatnya memberi tahu apa yang didengarnya tentang rencana jahat Narcisa sudah punah. Tergantikan dengan apa yang dilakukannya sekarang ini. Semalam Hermione berpikir, tak ada gunanya juga memberi tahu kan pada ayahnya, percuma… ya, ayahnya pasti lebih mendengar Narcisa daripada dirinya.
Jadi, inilah keputusan yang ia ambil. Pergi kabur dari liburan menyebalkan ini, entah mau kemana. Toh, tak akan ada yang mempedulikannya.
Seperti layaknya orang kabur, kakinya mulai mengendap-endap melewati tangga villa ini. Memandangi pintu kamar Pansy beserta ibunya, dan sebelahnya lagi, pintu kamar ayahnya. Diam sejenak disana. Sungguh, air matanya ingin jatuh kali ini. Bimbang antara pergi dengan tetap tinggal disini.
Kepalanya menoleh kebelakang, karena ada yang menepuk pundaknya. Yang terlihat didepan matanya adalah, Draco. Oh, kenapa setiap dia akan kabur selalu dipergoki oleh laki-laki itu. Dia tersenyum kecut kepada Draco.
"Kau mau kabur lagi? Aku boleh ikut?"
"Ha? Kenapa kau selalu memergokiku saat akan kabur. Huh!"
"Itu karena aku juga mau ikut kabur."
Hhh—Hermione menghempaskan napas panjang menanggapinya. Dibelakangnya, terlihat Draco berjalan mengikuti finett, dengan memanggul tas ransel miliknya. Ya, sebenarnya Draco sudah mengetahui rencana kabur Mione. Bagaimana tidak, kemarin malam Mione berteriak-teriak kalau ingin kabur, sedangkan kamarnya berada di sebelah kamar Hermione.
***TBC***
Reviewnya dooong, plis :D Review kalian sangat berharga bagi author. Terserah mau review kemana, lewat tombol 'review'di bawah, lewat twitter dan Y!M (yg bisa diketahui lewat profile author), terserah dimanapun kapanpun seperti appun, review kalian sangat berharga bagi kelanjutan fanfic ini. See you guys di next chapter :)
