I'M 28

An EXO fanfiction

HunKai

Rating: T-M

Pairing: Sehun X Kai, Choi Minho X Kai

Cast: Kris Wu, Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Choi Minho, Kim Jummyeon, Luhan, Krystal Jung, Lee Sungmin

Previous

"Apa yang terjadi padamu?!" pekik Kris tiba-tiba melupakan skripsinya. Meski mirip setan bagaimanapun Sehun adalah adik kandungnya dan jika terjadi sesuatu kepada Sehun, Kris bisa dimintai tanggung jawab oleh kedua orangtuanya.

Sehun tak menjawab pertanyaan Kris, dia justru menghampiri Kris dengan senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Sehun memeluk Kris dengan erat dan tidak sampai disitu bahkan Sehun mencium pipi kiri Kris sebelum melenggang pergi masih dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Adikku gegar otakkk!" Kris berteriak histeris sementara sang adik merasakan hatinya berbunga-bunga dan jantungnya berdebar kencang tak peduli dengan teriakkan sang kakak atau kecemasan sang kakak. Ah di hari biasa Sehun juga tak peduli dengan Kris sebenarnya.

BAB DUA Kencan Buta

"Seharusnya aku memecatmu Park." Dengus Jongin di belakang meja kerjanya dan Chanyeol hanya tersenyum lebar. "Aku serius Park."

"Maaf Jongin, tiba-tiba Baek menjadi manja."

"Aku tidak menerima alasan."

"Ayolah Jongin, aku akan menikah dengan Baekhyun jika kau memecatku bagaimana aku bisa menafkahi Baekhyun?"

"Itu urusanmu." Balas Jongin malas. Chanyeol memilih diam cukup tahu jika Jongin sedang merajuk.

"Sekali lagi aku minta maaf, ini untukmu." Ucap Chanyeol sambil menyodorkan amplop putih gading berukuran HVS kepada Jongin. Terlalu berlebihan, menurut Jongin.

"Undangan pernikahanmu?"

"Bukan, titipan dari Baekhyun. Sudah ya aku pergi dulu." Chanyeol memutar tubuhnya dan bergegas keluar meninggalkan ruangan Jongin. Ia yakin sesuatu dari Baekhyun untuk Jongin bukanlah hal yang baik dan Chanyeol hanya ingin menyelamatkan diri sebelum semuanya terlambat.

"Apa ini?" gumam Jongin sambil menarik penutup amplop yang melekat cukup kuat. Ada foto seorang laki-laki yang yah—tampan, Jongin membalik foto itu, tertera tulisan di sana. "Choi Minho." Jongin kembali menggumam kemudian dia meraih kertas di dalamnya yang senada dengan warna amplop.

Halo Jongin, sebagai kakak yang baik dan karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Chanyeol aku tidak bisa membiarkanmu selamanya dalam kesendirian. Kencan buta, dia sangat tampan bukan? Dia dokter, Choi Minho usianya tiga puluh tahun datanglah di kafe Boston duduk di meja yang biasa kita duduki. Minho tahu wajahmu jadi aku tak akan menyuruhmu memakai pakaian khusus atau membawa sesuatu dan satu lagi dia akan menjemputmu.

Salam sayang Byun Baekhyun

Alis Jongin seketika langsung berkedut. "Kencan buta?" gumamnya. "Sabar Jongin." Ucapnya menenangkan diri sendiri jangan sampai dia berteriak kencang dan menarik perhatian seluruh karyawan kantor. Jongin memutuskan untuk pergi ke ruangan Chanyeol dengan membawa amplop titipan kekasihnya itu.

Chanyeol sibuk mendengarkan lagu yang akan dipasang pada iklan webtoon terbaru produksi perusahaan saat Jongin tiba-tiba masuk. "Hai Jongin aku berpikir ada dua musik yang cocok untuk komik terbaru kita."

"Lupakan tentang Webtoon." Chanyeol menelan ludah kasar melihat tatapan mengerikan Jongin. Jongin mendudukkan dirinya di hadapan Chanyeol kemudian meletakkan amplop putih gading yang tadi Chanyeol berikan. "Jongin….,"

"Baekhyun hyung mengatur kencan buta untukku." Potong Jongin dan Chanyeol hanya bisa berharap kali ini Jongin tak benar-benar marah dan akan membahayakan keberlangsungan karir masa depannya.

"Ini yang terakhir Park, katakan pada Baekhyun hyung jika kali ini tak berjalan dengan baik jangan mencoba untuk mengatur kencan buta lagi untukku."

"Ten—tentu Jongin."

"Bagus." Ucap Jongin iapun pergi dari ruangan Chanyeol tanpa membawa amplop putih gadingnya kembali.

.

.

.

"Sehun tunggu!" Sehun menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh ke belakang melihat Luhan kakak kelasnya berlari ke arahnya.

"Luhan hyung." Ucap Sehun sambil sedikit membungkukkan badannya, bersikap sangat sopan menurut Luhan, dan hal itu membuat Luhan tersenyum lebar.

"Hai, kau berjalan kaki hari ini?"

"Iya Hyung."

"Tidak naik bus?"

"Saya ingin pergi ke suatu tempat dulu." Jawab Sehun.

"Kemana?"

"Toko hewan peliharaan KAWAI."

"Ah itu satu arah dengan jalan pulangku, bagaimana jika kita berjalan bersama? Untuk melawan bosan."

"Tidak apa-apa ayo Luhan hyung."

"Rambutmu berubah warna lagi?"

"Ah iya Hyung." Ucap Sehun keduanyapun berjalan bersama menyusuri trotoar dari sekolah menuju tempat hewan peliharaan yang menjadi tujuan awal Sehun.

"Kenapa? Padahal aku rasa itu sangat cocok untukmu, menyatukan semua warna terlihat sangat unik." Sehun hanya tersenyum mendengar kalimat Luhan. "Kenapa kau mengubahnya?"

"Karena permintaan seseorang."

"Kakak Sehun?" Sehun menggeleng pelan. "Bukan Hyung."

"Sia…,"

"Hyung aku masuk dulu ya." Ucap Sehun memotong kalimat yang ingin Luhan ucapkan sambil melangkahkan kakinya cepat menuju pintu depan toko hewan peliharaan. Luhan hanya mengangguk pelan, melambaikan tangannya diiringi senyuman kecewa.

Luhan menyukai Sehun tapi Sehun tak membalas perasaan Luhan, bukannya Luhan pernah menyatakan cinta tapi Sehun selalu menolak siapapun yang menyatakan cinta padanya. Terbersit rasa penasaran dalam diri Luhan tentang siapa yang sebenarnya telah mengisi hati Sehun namun dirinya belum menemukan keberanian untuk mengambil langkah.

Sehun melangkah masuk, alasan utamanya pergi ke toko hewan peliharaan adalah membelikan anak anjing untuk Jongin. Ulang tahun Jongin sudah dekat dan Sehun ingin membelikan anak anjing sebagai hadiah, Jongin menyukai anjing tapi dia terlalu malas untuk keluar dan membeli anjingnya sendiri. "Lucu," gumam Sehun ia membungkukkan badannya melihat bayi Beagle berwarna cokelat, hitam, dan putih yang terlihat sangat lincah. "Saya ingin membeli ini dan semua perlengkapannya juga." Ucap Sehun pada si penjaga toko.

Bayi anjing Beagle sangat mahal, Sehun meghabiskan seluruh tabungannya selama setengah tahun tapi untuk Jongin apapun akan dilakukannya. Sehun membawa bayi Beagle itu, menggendongnya dengan sayang di dalam otaknya memutar skenario betapa bahagianya Jongin saat menerima hadiah anak anjing darinya. Sehunpun melanjutkan sisa perjalanan pulang dengan berjalan kaki, butuh sekitar sepuluh menit lagi untuk sampai di rumahnya.

"Hyung yang malas." Ucap Sehun saat berjalan melintas ruang keluarga dan melihat Kris yang sedang menonton televisi.

"Aku tidak ada jadwal konsultasi hari ini, dan adikku sayang aku tidak punya kelas lagi." Terang Kris sekali lagi mencoba untuk bersabar. "Hei itu anjing siapa lucu sekali?!" Kris memekik sambil berdiri dari posisi berbaringnya di atas sofa.

"Tidak!" pekik Sehun sambil menjauhkan bayi Beagle dalam gendongannya dari jangkauan Kris. "Ini milik Jongin hyung."

"Dasar pelit!" dengus Kris. Tiba-tiba Kris teringat sesuatu melihat adiknya sangat tergila-gila dengan Jongin, dia merasa jika Sehun berhak untuk tahu apa yang terjadi dengan Jongin. Kris melirik Sehun yang sibuk mengusap-usap kepala bayi Beagle di atas karpet ruang keluarga mereka. "Sehun."

"Hmmm." Sehun hanya menggumam tanpa memberi perhatian kepada Kris.

"Seorang laki-laki menjemput Jongin tadi."

"Apa?!"

"Lupakan aku pernah mengatakan sesuatu padamu." Ucap Kris kemudian cepat-cepat meninggalkan ruang keluarga kabur ke kamarnya.

"Kris hyung! Katakan lebih jelas!" Sehun berteriak keras. Kris tak menjawab. "Sial kau Kim Jongin." Geram Sehun.

.

.

.

"Baekhyun datang dengan tergesa dan mengatakan sesuatu yang terdengar sangat darurat." Jongin tertawa mendengar ucapan Minho, ternyata Minho adalah orang yang sangat menyenangkan.

"Baekhyun hyung memang orang yang selalu mendramatisir keadaan." Balas Jongin kemudian menyesap tehnya.

"Kau tidak ingin memakan makanan yang berat? Maksudku bukan hanya kue saja."

Jongin menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak biasa memakan makanan yang berat di malam hari."

"Kau sangat menjaga tubuhmu."

Jongin tertawa pelan kemudian menjawab. "Aku bukan anak remaja lagi yang dalam masa pertumbuhan."

"Kau benar, aku sudah tiga puluh tahun berarti aku juga harus mulai menjaga makanku."

"Kurasa tubuhmu sudah ideal."

"Terimakasih kuanggap itu sebagai pujian." Jongin tersenyum mendengar ucapan Minho. "Aku membaca webtoon milikmu, itu hebat."

"Ada banyak komik dan game yang dikeluarkan oleh perusahaanku, cerita apa yang kau baca?"

"Seseorang yang menyukai seseorang yang lebih tua darinya."

"Ah itu…, pembacanya lumayan kurasa sekarang semua orang menyukai cerita yang ringan namun berkesan."

Minho tertawa mendengar ucapan Jongin. "Memang dulu seperti apa?"

"Dulu cerita yang rumit dan bertele-tele, menguras perasaan, bagaimana menjelaskannya ya—mungkin seperti ini saat kau pergi ke toko serba ada untuk membeli daging kau harus mengitari seluruh toko, sekarang saat kau menginginkan daging langsung ke bagian daging dan memilih jenis daging yang kau inginkan."

"Langsung ke inti." Minho menatap Jongin lekat-lekat.

"Seperti itu." Jongin menikmati sisa pie apelnya setelah menanggapi Mino.

"Sudah pukul sepuluh malam bagaimana jika aku mengantarmu pulang? Maksudku—sangat menyenangkan mengenalmu Jongin tapi besok masih hari aktif."

"Aku mengerti, aku juga harus ke kantor pagi."

"Apa aku boleh menghubungimu setelah ini?"

"Tentu." Jongin tersenyum kemudian menyesap sisa tehnya.

Keduanya berjalan beriringan keluar dari restoran menuju tempat parkir restoran. Minho membuka pintu penumpang depan untuk Jongin. "Terimakasih banyak." Ucap Jongin dan Minho hanya tersenyum menanggapi kalimat Jongin.

.

.

.

Sehun duduk di sofa ruang tamu, membuka jendela dengan bayi Beagle di pangkuannya. Menatap tajam pagar rumah Jongin, rumah dalam keadaan gelap Jongin belum kembali padahal sekarang sudah pukul sepuluh malam. "Sehun makanlah dulu." Sehun mengabaikan sang kakak. Kris hanya bisa menggeleng pelan. "Dia benar-benar terobsesi dengan Jongin."

Kedua mata sipit Sehun menatap tajam mobil sedan hitam yang berhenti di depan pagar rumah Jongin. Seorang laki-laki keluar dan memutari mobil membuka pintu mobil dan Jongin keluar. Jongin terlihat sangat manis dan imut dengan mantel merah membalut tubuh rampingnya. "Sehun!" Kris memekik saat sang adik melesat pergi tanpa mengatakan apapun padanya.

Sehun melangkah melintasi halaman rumahnya dengan pelan karena Jongin menatapnya mungkin dia tertarik dengan bayi Beagel dalam gendongannya. Sedan hitam itu sudah pergi beberapa detik yang lalu, Sehun mendorong pagar rumahnya dan berjalan menghampiri Jongin. "Selamat malam Jongin hyung."

"Kau belum tidur? Sudah pukul sepuluh malam."

"Ini masih sangat awal untuk tidur."

"Dasar bocah badung!" cibir Jongin ia memutar tubuhnya membuka kunci pagar dan bersiap untuk masuk.

"Aku menunggumu Jongin hyung untuk memberikan ini." Kalimat Sehun menghentikan langkah kaki Jongin.

"Apa?" tanya Jongin.

"Ini." Ucap Sehun sambil mengangkat bayi Beagel ke hadapan Jongin.

"Kau—bercanda kan?" Sehun menggeleng pelan kemudian tersenyum imut.

"Dia lucu sekali Sehun." Pekik Jongin sambil mengambil alih bayi Beagle dari gendongan Sehun dan mengusap kepala anak anjing itu dengan gemas.

"Aku membawakan tempat makan dan tempat air, makanan, pasir, dan wadah pasir. Campur serealnya dengan sedikit air Hyung."

"Ah maaf, masuklah Sehun." Sehun mengangguk pelan.

Sehun meletakkan kantong plastik berisi berbagai perlengkapan untuk bayi Beagle ke atas konter dapur. "Dia sudah diberi makan?"

"Tadi sudah."

"Beri makan lagi Sehun." Perintah Jongin seenaknya sendiri dan Sehun hanya menurut mengeluarkan tempat makan, menuang sereal mencampurnya dengan sedikit air, Sehun juga mengisi tempat air dengan air mineral.

"Sudah Jongin hyung." Jongin berdiri dari sofa menggendong bayi Beagle dan menurunkkannya di dekat tempat makan dan tempat minum.

"Kau sudah memiliki nama untuk bayi anjingnya?"

"Ini kan milikmu Hyung, hadiah ulang tahunmu karena bulan Januari mungkin aku akan ke Australia mengujungi kedua orangtuaku."

Jongin tersenyum lebar menatap Sehun, Sehun merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. "Terimakasih banyak Sehun, aku beri nama Brown karena bulunya cokelat."

"Itu nama yang cocok." Jongin tersenyum mendengar kalimat Sehun.

"Ah!" Jongin memekik pelan kemudian berdiri dan mengambil ponsel dari saku jaketnya, Sehun bisa mendengar suara getaran ponsel Jongin dengan cukup jelas. Tangan kanan Sehun mengusap pelan kepala Brown agar dirinya tak terlihat sangat jelas sedang mengawasi.

"Siapa Hyung?" tanya Sehun, sebenarnya Jongin tak ingin menjawab namun karena hari ini Sehun sudah berbaik hati memberinya anak anjing jadi memberinya sedikit jawaban sebagai ganti tidak ada ruginya.

"Choi Minho." Ucap Jongin.

"Siapa?"

"Kenalanku."

"Sangat dekat?"

Jongin memutar tubuhnya memunggungi Sehun ia lepas mantel merahnya kemudian meletakkannya ke atas sofa. "Hanya teman untuk saat ini."

"Saat ini?"

"Sudah malam Sehun pulanglah."

"Hyung?" Sehun kembali menuntut dan Jongin merasa sangat jengkel sekarang.

"Ya untuk saat ini mungkin hubungan kami akan berlanjut karena kurasa Choi Minho orang yang cukup menyenangkan, Baekhyun hyung mengenalkannya padaku."

"Semacam kencan buta?" Jongin mengangguk pelan. Amarah Sehun benar-benar meledak sekarang tidak ada seorangpun yang boleh memiliki Jongin. Jonginnya, Jongin miliknya.

"Aku minum banyak susu supaya tinggi Hyung."

"Hmmm itu bagus." Jongin menanggapi seadanya ia sudah mendudukkan dirinya di atas sofa.

"Aku juga berolahraga untuk membentuk badanku."

"Aku bisa melihat hasilnya kau sangat keren, buktinya banyak laki-laki tampan dan perempuan cantik yang menginginkanmu." Jongin memutar tubuhnya menatap Sehun dan menaikkan jempol tangan kanannya. "Kau hebat!" pekik Jongin.

"Aku juga sudah menandatangani kontrak dengan agensi untuk menjadi model, aku debut awal tahun depan."

"Itu sangat hebat, aku salut padamu ternyata meski terlihat badung kau hebat juga!" Jongin memekik bahagia terlalu polos untuk menyadari bahaya yang akan datang.

"Aku melakukan semua itu untukmu Hyung."

Jongin menghembuskan napasnya jengah iapun berdiri dari sofa menatap Sehun mencoba untuk bersikap sabar, bagaimanapun Sehun masih tujuh belas tahun dan dia adalah remaja dengan emosi tinggi dan melawannya dengan amarah tak akan menjadi baik. "Pulanglah Sehun."

Sehun menatap Jongin tajam tangan kanannya bergerak cepat mencengkeram lengan kiri Jongin. "Apa yang kau lakukan?!" Jongin memekik kencang sambil berusaha untuk melepaskan tangan Sehun. Sehun tak bergeming ia dorong tubuh Jongin membuat laki-laki yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu terjatuh dengan punggung membentur lantai berlapis karpet. "Sehun!" Jongin kembali memekik namun Sehun tak peduli.

Sehun meletakkan kedua lututnya pada paha Jongin menahan kaki Jongin, ia juga menahan tangan Jongin. "Apa yang kau inginkan?! Lepaskan aku Sehun!"

Sehun menyeringai. "Aku—yang kuinginkan adalah menjadikanmu milikku Hyung apa kau tidak tahu jika selama ini aku mencintaimu. Mencintaimu Jongin hyung!" kali ini giliran Sehun yang berteriak kencang.

"Dasar gila kau Sehun!" Jongin berteriak marah. "Aku dua puluh delapan tahun dan kau tujuh belas tahun, jarak usia kita terlalu jauh!" Sehun tak peduli, ia tundukkan kepalanya dan meraih bibir Jongin. Jongin mencoba melawan dengan menggigit bibit Sehun bukannya menyerah tindakan itu justru membuat Sehun semakin beringas. Sehun memaksa bibir Jongin untuk memberinya celah, berhasil, dan lidah Sehun melesak masuk menjelajahi setiap inci mulut Jongin.

"Sehuuuuuun! Ibu menelpon!"

Sehun mendesis malas, di luar pagar rumah Jongin, kakak laki-lakinya menghancurkan rencananya. "Baiklah, kali ini kau selamat Jongin." Ucap Sehun. "Tapi jika kau macam-macam aku bisa melakukan hal yang lebih lagi padamu." Ancam Sehun, iapun bergegas bangkit dan melenggang pergi sementara Jongin masih berbaring di atas lantai berlapis karpet, terlalu syok dengan kejadian yang baru saja terjadi.

Tangan kanan Jongin bergerak perlahan menyentuh permukaan bibirnya. Ciuman pertamanya, ciuman pertamanya diambil oleh anak badung, tengil, dan ingusan, macam Oh Sehun. "Sialan kau dasar bocah setan!" Jongin berteriak sekuat tenaga, setelah menemukan kesadarannya, sayang Sehun sudah pergi. Jongin langsung duduk, mengambil ponsel yang ada di atas sofa dan mulai mengetikkan sesuatu di mesin pencari. "Aku harus mengakhiri tindakan barbarnya." Tekad Jongin penuh semangat. "Ah aku belum mengunci pagar." Jongin tiba-tiba teringat kecerobohannya, ia tinggalkan ponselnya di atas karpet dan melesat keluar.

"Dingin!" Jongin berteriak saat membuka pintu rumahnya, ayolah, dirinya hanya memakai sweter tipis di tengah musim dingin bersalju tebal. Tapi Jongin juga terlalu malas untuk kembali mengambil mantel. Toh, hanya mengunci pintu pagar.

"Dimana mantelmu?" kepala Jongin otomatis mendongak, Sehun berdiri di balkon kamarnya. Jongin memilih bungkam dan melanjutkan kegiatan mengunci pagarnya. "Jangan sampai sakit, kau tinggal seorang diri, siapa yang akan mengurusmu saat sakit? Aku mau saja mengurusmu jika kau sakit, tapi aku ini kan harus sekolah, les, latihan karate, belajar, bermain dengan temanku, training, ah tapi aku bersedia kok meninggalkan semuanya untukmu Jongin."

Jongin memutar tubuhnya dengan cepat, mengabaikan Sehun. "Mulut korslet," gumam Jongin yang tentu saja tak didengar oleh Sehun.

"Selamat tidur, Sayang!" Sehun memekik menyebalkan dan rasanya Jongin ingin menimpuk kepala bocah badung itu dengan batu besar. Siapa tahu setelah terbentur batu, otaknya waras. Jongin berlari memasuki rumah, mengunci pintu rdan berlari ke kamar setelah mengambil ponselnya.

"Dingiiiiinnnnn!" Jongin berteriak sendiri sambil bergelung di dalam selimut tebalnya. "Ah ya ampun dingin sekali, baiklah, baiklah, sekarang apa yang akan aku lakukan tadi? Ah iya, mencari tips menghindari orang yang tidak kita sukai."

Bibir Jongin tanpa sadar mengerucut. "Kenapa yang ada adalah tips menghindari mantan agar tak terpikir untuk mengulangi hubungan? Tidak cocok, aku tidak punya mantan, kekasih saja tidak punya." Jongin kembali mencari dan mencari dan pada akhirnya artikel yang dia inginkan tak bisa ditemukan. "Baiklah kurasa ini bisa dipakai dengan sedikit penyesuaian." Putus Jongin sebelum meletakkan ponselnya ke atas nakas dan memilih untuk tidur.

.

.

.

Jongin rela berangkat ke kantor pukul lima pagi membawa selimut dan bantal, ini adalah langkah awal dari rencananya menghindari si bocah badung Oh Sehun. Sungguh, Jongin tak menyangka cerita salah satu webtoonnya terjadi pada dirinya. "Apa ini karma?" Gerutu Jongin sambil berlari menghampiri pagar rumahnya untuk membuka kunci.

"Kenapa Hyung berangkat sangat pagi?"

"Astaga!" Jongin memekik histeris mendengar suara Sehun namun tak melihat penampakan Sehun.

"Di atas Hyung." Kepala Jongin otomatis mendongak, Oh Sehun, bocah badung itu berdiri di balkon lantai dua rumahnya menatap Jongin tajam. Kenapa dirinya lupa jika si anak badung memiliki kamar di lantai dua dengan balkon, dan setiap hari dia selalu berdiri di sana untuk meneror ketenangan Jongin setiap pagi, menjelang berangkat kerja. "Ada alasan yang bagus? Atau aku akan melompat dan mengikutimu Hyung."

"Aku bekerja, aku sangat sibuk, kau tidak akan mengerti. Anak badung!" Jongin mendengus kemudian berjalan menuju mobilnya, masuk, menyalakan mesin, mengeluarkan mobil dari halaman rumahnya, keluar dari mobil dan bergegas berlari menuju pagar untuk menutup dan mengunci pintu pagar. Jongin memasukkan anak kunci ke dalam saku mantel musim dinginnya. "Astaga!" Jongin berteriak cukup kencang, punggungnya menabrak besi pagar cukup keras. "Awww," ringis Jongin.

"Kau tidak apa-apa Hyung?" Sehun bertanya dengan penuh perhatian sambil memegang lengan kanan Jongin.

"Singkirkan ini!" dengus Jongin sambil mengibaskan tangan Sehun dari lengan kanannya.

"Aku kan cemas jika Hyung sakit."

"Alasan." Jongin menggerutu pelan. "Ini kan salahmu, kenapa kau muncul tiba-tiba? bagaimana caramu muncul?! Apa kau hantu?!"

Sehun mengerutkan keningnya, membuat tatapannya semakin tajam padahal dia merasa pening dengan pertanyaan Jongin yang bertubi-tubi. "Aku berlari keluar dari kamarku, menuruni anak tangga, lari ke pintu, lari menyeberangi halaman rumah, membuka kunci pagar dan berdiri di belakangmu Hyung." Sehun membalas panjang lebar.

Jongin melongo untuk beberapa detik. "Tapi kau cepat sekali." Gumam Jongin masih tak bisa mempercayai penjelasan Sehun seratus persen.

"Kakiku panjang." balas Sehun pendek dan sedikit sombong.

"Aku pergi dulu jangan menghalangi jalanku Sehun."

"Kapan Hyung pulang?"

"Aku belum tahu, sebentar lagi komik baru akan diluncurkan jadi butuh pekerjaan ekstra."

"Aku tahu Hyung bohong."

"Apa kau cenayang?"

"Bukan, tapi aku tahu dengan jelas jika Hyung berbohong. Dan kau merencanakan sesuatu Kim Jongin." Sehun merangsek mendekati Jongin kedua tangannya terangkat untuk mengungkung tubuh Jongin, Jongin tidak tahu harus pergi kemana punggungnya sudah berhimpitan dengan pagar besi.

"A—aku tidak bohong." Jongin langsung menggigit pipi bagian dalamnya, kenapa dia harus tergagap, kenapa dirinya harus takut dengan anak ingusan?! "Menyingkir!" pekik Jongin sambil mendorong tubuh Sehun namun itu tak berhasil karena kedua tangan Sehun berpegangan pada pagar besi. Mati aku! Teriak Jongin di dalam hati.

"Jangan main-main denganku Hyung….," Sehun belum sempat melanjutkan kalimatnya saat Jongin merendahkan tubuhnya dan meloloskan diri. Jongin berlari kencang, melompat ke atas kursi kemudi, menutup pintu mobil, dan tancap gas. "Baiklah kali ini kau aku lepaskan." Ucap Sehun sebelum melangkah pelan untuk pulang, dia ingin tidur dan bangun agak siang tak masalah datang ke sekolah terlambat.

.

.

.

"Astaga!" Chanyeol benar-benar terkejut, dia pikir dirinya adalah satu-satunya orang yang datang paling pagi. Tapi saat dia pergi ke ruangan Jongin bermaksud untuk memberikan lagu pilihan untuk tema game ternyata Jongin sudah datang. "Jongin—Jongin kau baik-baik saja kan?" kali ini Chanyeol bertanya dengan nada lembut.

Jongin berbaring di atas lantai kantor, beralaskan koran dan memakai selimut serta bantal miliknya sendiri, Chanyeol tahu itu pasti jika orang yang sedang berbaring adalah Jongin, siapa yang memiliki bantal bulat warna biru dan selimut warna hijau bergambar kodok lucu. Chanyeol berjongkok di samping tubuh Jongin yang berbaring miring. Menyentuh pelan pundak kanan Jongin. "Jongin."

"Aku butuh Baekhyun hyung." Jawab Jongin hampir tak terdengar.

"Baiklah! Baiklah akan aku hubungi Baekhyun, dan dia akan datang ke sini secepat mungkin!" entah mengapa Chanyeol memekik panik, bagaimana tidak panik jika wajah Jongin sudah mirip orang sekarat?

"Aaaahhhh, ya ampun….," keluh Jongin sambil menarik selimutnya hingga menutupi kepala. "Apa salahku Ayah, Ibu? Kenapa aku dihukum seperti ini? Kenapa harus Sehun? Kenapa remaja ababil tujuh belas tahun?" racau Jongin meneruskan kegiatan mengeluhnya.

Jongin berdiri dari posisi berbaringnya, sebenarnya ia tidur di sofa tadi tapi entah mengapa tubuhnya terasa panas, tapi setelah berbaring di atas lantai tubuhnya menggigil. Jongin sudah mendudukkan dirinya kembali ke atas sofa, menekuk kedua kakinya dan membungkus tubuhnya dengan selimut. "Aku meriang, aku demam sepertinya." Ucap Jongin pada dirinya sendiri, ia sentuh pelan dahinya dengan punggung tangan. "Haaahhh…," desah Jongin. "Benar-benar demam."

"Baekhyun setuju untuk datang, kau ingin memesan sesuatu?" Chanyeol bertanya setelah memutar tubuhnya menatap Jongin.

"Aku demam." Balas Jongin singkat, Chanyeol mengangguk pelan kemudian kembali memunggungi Jongin untuk berbicara dengan sang kekasih.

"Sebentar lagi Baekhyun tiba, berbaringlah kau mau minum air? Aku bisa mengambilkan air."

"Tidak, aku sudah mengambil air tadi. Ada botol air mineral di atas mejaku kau tidak melihatnya?"

"Kenapa kau sewot sekali hari ini." Keluh Chanyeol.

"Suasana hatiku tidak baik, aku demam, dan aku diganggu anak ingusan, bagaimana aku tidak sewot?!" Jongin menggerutu panjang lebar, Chanyeol hanya bisa menatap Jongin tanpa bisa mengatakan apa-apa.

"Aku letakkan flash disk berisi pilihan lagu tema di atas meja kerjamu." Jongin mengangguk pelan. "Baiklah, aku pergi dulu karena ada pekerjaan yang belum aku bereskan." Jongin kembali mengangguk.

Jongin berbaring di atas sofa, setelah pintu kantor tertutup. Ponselnya di atas meja bergetar, Jongin langsung menyambar ponselnya. Nama Choi Minho tertera pada layar ponsel pintar di tangannya. "Halo Hyung."

"Jongin, aku hanya berpikir untuk mengajakmu makan siang jika kau ada waktu."

"Tentu Hyung."

"Baguslah, pukul satu siang bagaimana?" Jongin melirik jam dinding sekarang masih pukul enam pagi.

"Baiklah Hyung yang dekat saja bagaimana jika Boston kafe?"

"Ide bagus aku akan menjemputmu di kantor."

"Tidak, aku akan berangkat sendiri."

"Sampai nanti Jongin."

"Sampai nanti." Jongin menghembuskan napas kasar dengan ponsel berada di genggaman tangan kanannya, ia putuskan untuk kembali ke kamar memilih pakaian ganti kemudian mandi.

BRAK! "Jongin apa terjadi sesuatu?!" Baekhyun masuk dengan heboh, Jongin hanya melempar tatapan malas masih meringkuk di atas sofa. Baekhyun merangsek mendekati Jongin setelah menyingkirkan meja kopi yang menghalangi gerakannya. "Kau demam." Jongin mengangguk pelan, Baekhyun menurunkan tangannya dari dahi Jongin. "Kau sudah makan?"

"Belum."

"Kurasa sebaiknya kau pulang, ayo aku antar pulang."

"Hyung aku butuh bantuan, aku ingin pindah rumah."

"Pindah rumah? Apa anak badung itu terus mengganggumu?" Jongin mengangguk pelan.

"Tapi apa tidak sayang pindah rumah? Rumah itukan penuh dengan kenangan kakek dan nenekmu."

"Aku harus bagaimana?"

"Aku akan mencarikan rumah untukmu tapi sebelum itu aku akan mencoba bicara dengan Sehun." Jongin tersenyum lebar mendengar kalimat Baekhyun.

"Ya, bicaralah pada Sehun, Baekhyun hyung." Jongin tak bisa menahan seringaiannya membayangkan Sehun dimarahi habis-habisan oleh Baekhyun.

"Mau aku antar pulang?"

"Tidak, aku akan tidur beberapa jam lagi lalu bangun dan mengerjakan sesuatu. Aku baik-baik saja."

"Baiklah kalau begitu, hubungi Chanyeol jika demammu semakin naik."

"Tentu." Jongin tak ingin mengatakan tentang pertemuannya dengan Minho, bisa-bisa Baekhyun akan memekik histeris nanti. Belum tentu hubungannya dengan Minho akan berlangsung dengan baik atau berlanjut ke jenjang yang lebih serius, karena itu untuk sementara Jongin tak akan memberitahukan perkembangan hubungannya dengan Minho kepada Baekhyun.

TBC

Terimakasih untuk pembaca sekalian, terimakasih untuk WyfZooey, Mizukami Sakura-chan, Keepbeef Chiken Chubu, hunkai 69, ucinaze, unknowngirl, youngimongi, nandaXLSK9094, HamsterXiumin, sejin kimkai, Hun94Kai88, Kim Jongin Kai, Hayoung708, kj, Kaisyaa, asakasufa, eatertane, cute, MIKKIkane, Guest, jjong86, miyuk, Kim jea, elfarani, melizwufan, KalunaKang61, Guest, NishiMala, hunkaisoo69, Nadia, laxyvords, Lusiana, Kamong Jjong, jungdongah, KaiNieris, lustkai, VampireDPS, harmiyuna, milylove0000170000, troalle, sayakanoicinoe, yukinaaa, Odult Maniac, estkai, atas review kalian. Maaf lama update dan maaf dua fic tak tersentuh saya kehabisan energi. Sampai jumpa di cerita selanjutnya yang semoga saja bisa diupdate cepat (merasa tak berdaya) hehehe