By : Han Kang Woo
Cast : Do Kyungsoo, Kim Jongin, Exo Member, etc.
Main Cast : KaiSoo
Genre : Romance
Warning : BL (Boys Love),
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja
Rated : M
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
o
o
o
o
Kyungsoo membatin. Dia kaget bukan main. Namun dia berusaha terlihat biasa. Mungkin saja namja yang bernama Kai aka Jongin itu bukan betul betul anak pemilik sekolah. Semua masih harus dibuktikan.
Siswa yang baru berseru itu mendekati Jongin, dia menepuk pelan bahu lebar namja itu.
"Kau harus mentraktir kami semua lagi." kata namja itu, namanya Baekhyun. Namja menor dengan eyeliner tebal menghiasi mata sipitnya.
Jongin tampak tidak mendengar dan mengubris seruan Baekhyun, yang notanene sahabat sekaligus teman kelasnya. Dia memandangi Kyungsoo, agak lama.
Disisi lain, Kyungsoo mendesah panjang. Dia juga memandangi Jongin, pandangan penuh selidik seperti seorang detektif profesional. Hingga beberapa saat, namja itu pergi tanpa mengatakan apa apa.
Tap tap tap.
Jongin mengamati penampakan Kyungsoo yang hilang dibelokan jalan.
"Apa kau pernah melihatnya?" tanya Jongin, kepada Baekhyun yang ada disampingnya.
"Melihat siapa?" Baekhyun malah bertanya balik.
"Namja yang tadi. Masak pohon yang bergoyang."
"Oh, aku belum pernah melihatnya. Mungkin siswa baru."
"Entahlah." Jongin mendesah.
"Kenapa dengannya? Apa dia melakukan modus kepadamu?" tanya Baekhyun, lalu cekikikan tidak jelas.
"Ah, tidak." Jongin menjawab otomatis. Dia lekas menutupi bagian selangkangannya yang agak sedikit basah, maklum saja tetesan spermanya habis onani sempat mengenai celana sekolahnya.
"Baguslah. Kau anak pemilik sekolah. Anak orang kaya. Pasti banyak orang orang yang mengincarmu. Mengincar uangmu tentunya." Baekhyun berujar, seperti pengacara kasus KDRT artis.
"Ya, seperti kau. Yang mengincar uangku." Jongin menimpali.
"Bukan uangmu. Tapi uang appamu."
"Itu sama saja. Uang appaku, uangku juga."
"Whatever. Yang penting sekarang kau harus mentraktir kami semua. Aku, Chanyeol, Sehun dan Suho. Mereka semua menunggu uluran tanganmu." Baekhyun tertawa keras.
"Memangnya kalian anak panti asuhan, yang perlu uluran tangan."
"Ayo cepat. Aku sudah mengincar restorant Italian yang terkenal."
"Kau mau pergi sekarang? Ini masih jam sekolah."
"Bolos sekali kali tidak mengapa kan. Kau kan anak pemilik sekolah... Satpam pasti dengan senang hati membukakan pintu." Baekhyun melancarkan aksi membujuknya.
"Ok. Baiklah."
"Yuhu, yes." Baekhyun bersorak kegirangan.
Kedua namja itu kembali ke kelas mereka. Dalam perjalanan, Jongin mencari cari sosok namja bermata bulat yang sama sekali belum diketahui namanya itu. Namun setelah melihat kesana kemari, dia tidak menemukan si namja.
'Dia sangat aneh."
o
o
o
o
O...O...O...O
Kyungsoo sama sekali tidak masuk kedalam kelasnya. Dia malah pergi dan masuk kedalam perpustakaan sekolah. Duduk dan pura pura baca buku, dia berpikir keras didalam ruangan ber AC dan sangat tenang seperti kuburan itu.
'Bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan pemilik sekolah ini?' Kyungsoo membatin, mencari celah. Dia betul betul akan memastikan jika si pemilik sekolah ini adalah orang yang sama yang telah membunuh kedua orangtuanya.
Kyungsoo tidak ingin salah orang, dan otomatis salah bunuh.
Pikirannya melayang layang, dan entah mengapa, mendadak penampakan namja yang bernama Jongin tiba tiba muncul dihadapannya.
"Aish, sial. Kenapa malah namja itu yang kupikirkan." gumam Kyungsoo, seraya memukul pelan kepalanya sendiri. Ini baru pertama kalinya terjadi padanya. Terutama bagian 'kejantanan' si namja yang sempat dilihatnya. OMG.
"Hei, kau membaca buku terbalik." tiba tiba seseorang menegur Kyungsoo, namja yang duduk tidak jauh dari posisinya.
Kyungsoo agak kaget, dia tidak sadar sedang membaca buku dengan posisi terbalik. dia memang tidak membaca, hanya sekedar menaruh benda segiempat itu didepan wajahnya, pura pura membaca. Namja itu dengan cepat memperbaiki posisi bukunya, normal lagi.
Si namja yang menegur Kyungsoo, bergerak pelan, mengganti posisi dan duduk agak dekat dengan Kyungsoo.
"Apa kau siswa baru? Aku tidak pernah melihatmu. Aku sudah menghafal wajah anak kelas satu, tapi aku belum pernah melihatmu." kata si namja, dengan name tag Kim Taehyung.
Kyungsoo tidak menimpali perkataan Taehyung itu, dia fokus melihat name tag nama itu.
'Kim Taehyung... Uhh, lagi lagi bermarga Kim. Aku benci marga itu.' batin Kyungsoo. Jelas saja, karena nama orang yang membunuh kedua orangtuanya adalah Kim Young Min, yang juga bermarga Kim.
"Hei, aku berbicara padamu. Apa kau bisu?" Taehyung nampak kesal karena pertanyaannya tidak digubris oleh Kyungsoo.
"Sopan sedikit. Aku kakak kelasmu." ucap Kyungsoo akhirnya. Wajahnya masih datar dan tidak bersahabat.
"Oh, ternyata kau tidak bisu." Taehyung tertawa pelan, dia mengabaikan buku mengenai psikologi umum dihadapannya. Buku itu kini tergeletak dengan posisi terbuka.
Kyungsoo mendengus tidak kentara, dia tidak memperdulikan kehadiran namja itu didekatnya.
"Kau sendirian? Apa kau tidak punya teman?" tanya Taehyung, sedikit mengeraskan suaranya. Dia memang tipe namja blak blakan dan apa adanya.
Kyungsoo tidak menjawab pertanyaan itu.
"Baiklah, sepertinya kau adalah namja pendiam dan tidak bisa bersosialisasi." Taehyung menghela nafasnya. Namja itu menarik pelan bukunya, ingin pergi alias keluar dari ruang perpustakaan sekolah, namun seseorang melihatnya dari luar, memanggilnya.
"Ahh, kau ternyata ada disini." itu adalah suara Jongin, namja yang hobi onani sendirian.
"Hyung." balas Taehyung, dia melambai dan menyuruh Jongin masuk kedalam perpustakaan.
Jongin lekas masuk, dia meninggalkan beberapa teman genknya diluar perpustakaan. Ini adalah kali ketiganya masuk kedalam ruang banyak buku itu. Dia memang tidak suka membaca dan anti perpustakaan.
"Aku menelfonmu beberapa kali. Kenapa ponselmu mati?" tukas Jongin, setelah posisinya dihadapan Taehyung.
"Maaf hyung. Ponselku lobet." jawab Taehyung, memperlihatkan ponselnya yang mati.
"Ya sudah. Ikut denganku... Teman temanku ingin pergi ke restorant Italia. Aku mengajakmu juga." jelas Jongin.
"Ehh, tapi appa sudah mengatakan untuk tidak bolos lagi. Appa sudah memperingatkan hyung."
"Sekali kali tidak apa."
"Tapi hyung sudah membolos beberapa kali."
"Kau ini cerewet sekali, seperti Baekhyun."
"Bukan begitu hyung. Kita harus memberi contoh baik. Walaupun kita adalah anak pemilik sekolah ini, tapi kita..." Taehyung menghentikan sejenak kalimatnya, karena lawan bicaranya itu malah fokus ke hal lain.
Jongin tidak memandang Taehyung, tapi malah memandang sosok namja yang duduk disisi lain, Kyungsoo.
"Hei, kita bertemu lagi." kata Jongin, yang sama sekali tidak mengubris Taehyung lagi. Namja itu langsung duduk manis tepat dihadapan Kyungsoo, posisinya mereka hanya dihalangi sebuah meja panjang.
Kyungsoo yang sejak tadi diam diam memperhatikan percakapan antara Jongin dan Taehyung, sontak berpura pura membaca kembali, dia tidak memandang wajah Jongin.
Terjadi keheningan yang lama. Jongin menunggu tanggapan atau paling tidak sepatah kata dari Kyungsoo, namun setelah menunggu agak lama, namja bermata bulat itu tidak mengucapkan apa apa.
"Hm... Kau sepertinya anak baru disini. Dan sepertinya lagi kau kesepian dan tidak punya teman. Bagaimana jika kau ikut bersamaku. Maksudku bersama kami." kata Jongin, dia mengucapkan kalimatnya dengan lugas dan jelas.
Kyungsoo berhenti memandang buku dihadapannya. Dia kemudian berdiri dari duduknya. Kali ini namja tersebut menatap wajah Jongin, lekat lekat.
"Apa kalian berdua saudara?" tanya Kyungsoo, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir lovenya.
Sejenak Jongin dan Taehyung saling pandang, lalu Jongin memberikan jawaban.
"Yeah. Aku dan manusia kutu buku ini bersaudara. Kulit kami memang beda. Tapi kami memang saudara kandung. Dia sering kali tidak mengakuiku sebagai saudaranya. Tapi aku juga kadang kadang tidak mengakuinya.. Hahahaa..." Jongin menjawab dengan panjang lebar, namja tan itu tertawa membahana. Taehyung yang ada disampingnya menyikutnya keras.
Entah mengapa ekspresi Kyungsoo berubah drastis saat mendengar pengakuan Jongin itu.
'Mereka saudara, berarti mereka berdua anak si pembunuh itu?' Kyungsoo berkata dalam hati, pertanyaan yang jawabannya belum pasti.
"Kenapa kau bertanya mengenai itu?" giliran Taehyung yang berujar, dia merasa aneh dengan pertanyaan Kyungsoo barusan. Matanya menyipit, selidik.
Kyungsoo memandangi Jongin dan Taehyung bergantian, lalu tanpa mengucapkan apa apa, namja bermarga Do itu berlalu alias meninggalkan ruangan perpustakaan.
Tap tap tap.
"Hei tunggu dulu, kita belum selesai bicara!" seru Jongin, ingin mengejar si namja, tapi terlambat, Kyungsoo sudah semakin jauh, malah sudah menghilang dibalik pintu perpus.
Si namja tan mendesah kasar.
"Oh, sepertinya ada yang merasakan sesuatu." Taehyung berkata, dia terkikik pelan.
"Apa yang kau bicarakan?" Jongin bertanya, namun matanya terus mengarah ke pintu perpus.
"Hyungku yang tidak tampan sepertinya menyukai seorang namja. Oh my god." jawab Taehyung, masih terkikik. Agak geli dengan kalimatnya sendiri.
"Kau bicara apa? Aku sama sekali tidak mengerti."
"Aku tahu dari tatapan mata hyung. Hyung menyukainya."
Mendengar candaan Taehyung, Jongin melayangkan sebuah jitakan keras ke kepala namja itu.
Tak.
"Hyung. Itu sakit..." Taehyung menjerit kecil, mengusap kepalanya yang sakit.
"Maka dari itu, jangan bicara sembarangan. Aku tidak menyukai namja itu. Hanya penasaran saja... Dia sepertinya mengalami hidup yang menyedihkan, yaa mungkin." Jongin bergumam, namja itu menerawang.
Taehyung berhenti mengusap kepalanya, dia sependapat dengan jawaban Jongin.
"Ya, aku juga merasa demikian. Aku tadi menyapanya, tapi dia begitu dingin... Seakan aku ini monster menyeramkan yang ingin menerkamnya. Mungkin saja dia namja sebatang kara." ucap Taehyung, pelan.
Dua namja itu saling angguk, pandangan mereka sama. Mungkin karena mereka saudara. Ya, Jongin dan Taehyung memang saudara. Anak anak pemilik sekolah dimana mereka kini mengenyam pendidikan. Dua saudara yang berbeda karakter dan gaya. Taehyung lebih bisa diandalkan dalam bidang akademiknya, sedangkan Jongin jauh dari itu. Jongin sama sekali tidak bisa diharap dalam hal pelajaran. Kecuali onani di toilet, Jonginlah jagonya.
o
o
o
o
O...O...O...O
Beberapa menit yang lalu, Kyungsoo pulang dari sekolahnya. Namun dalam satu hari itu, dia sama sekali tidak masuk ke kelasnya. Namja itu sibuk memikirkan mengenai rencana selanjutnya. Rencana untuk bertemu langsung dengan si pemilik sekolah.
Kini Kyungsoo mengayuh sepeda bututnya, menyusuri jalan jalan sempit mirip gang, jalan yang menuju rumah kontrakannya. Dia ingin langsung pulang, namun batal, karena mengingat dia belum punya cukup uang membayar kontrakan. Dia akan menunggu malam agak larut. Si pemilik kontrakan pasti sudah menggedor lagi kamarnya, uhh sangat menyebalkan.
Namja itu singgah membeli makanan disebuah warung dekat pinggir jalan. Makanan sederhana yang hanya cocok dimakan oleh pekerja bangunan. Namun dia sama sekali tidak peduli. Bisa makan saja sudah syukur.
Gajinya sebagai pengantar koran selama ini tidak pernah mencukupi. Dia harus mencari pekerjaan lain, pekerjaan yang bisa dilakukannya sambil sekolah.
Namja itu makan dengan pelan. Dia menyandarkan punggungnya ke tembok gang, sedangkan sepedanya diparkirkan tidak jauh dari jangkauannya. Dia sudah terbiasa seperti itu, jadi hal itu bukanlah masalah.
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Sehabis makan, Kyungsoo berjalan jalan untuk mencari pekerjaan tambahan. Kali ini dia tidak memakai sepedanya, dia berjalan sementara dua tangannya menuntun kemudi sepedanya itu.
"Maaf, ahjussi... Apa rumah makan ahjussi ini membutuhkan karyawan baru?" tanya Kyungsoo kepada salah seorang pria paruh baya. Pemilik sebuah rumah makan bergaya Korea China.
"Tidak. Pekerjaku sudah cukup." jawab si pria, ketus.
"Terima kasih ahjussi." Kyungsoo membungkuk sebanyak dua kali, kemudian pergi.
Itu adalah kali kesekian dia ditolak bekerja. Sepertinya pemilik pemilik usaha itu sama sekali tidak percaya dengan kemampuan bekerja Kyungsoo. Mungkin karena penampilan namja itu yang kurang meyakinkan. Entahlah.
Kyungsoo tidak patah semangat, dia terus berusaha. Dia pasti menemukan pekerjaan yang tidak membutuhkan ijazah. Dia juga bukan tipe namja yang akan memohon mohon untuk diterima. Jika dia sudah ditolak, maka dia akan membungkuk, berterima kasih kemudian pergi. Mengemis ngemis bukanlah stylenya.
Malampun tiba, Kyungsoo belum juga mendapatkan pekerjaan baru. Dia memutuskan untuk pulang dulu, besok akan dilanjutkan lagi.
Ditengah perjalanan, dia mendengar bunyi langkah kaki, bukan langkah orang berjalan, namun berlari. Derap langkah itu semakin keras.
Tap tap. Drap drap.
Lalu...
Brugh.
Seseorang berlari cepat, dua orang mengejarnya dari belakang. Orang yang dikejar itu malah menabrak Kyungsoo dan sepedanya. menabrak lalu bersembunyi dibelakang Kyungsoo.
"Dasar pencuri. Kau harus membayar dua kali lipat sosis panggang yang kau curi itu." teriak salah seorang yang mengejar. Dia mengacungkan tangan ke udara, geram.
Melihat kejadian itu, Kyungsoo langsung paham. orang yang kini bersembunyi dibelakangnya adalah pencuri yang dikejar.
"Pencuri kecil. Kesini kau." seru si pengejar.
Yang dikejar malah semakin bersembunyi dibelakang Kyungsoo, dia adalah seorang namja, namun lebih muda beberapa tahun dari Kyungsoo. Dia memegang ujung baju Kyungsoo.
"Pencuri... Sini kau. Kau harus..."
"Berapa harga barang yang dicurinya?" Kyungsoo memotong kata kata si peneriak.
"Dia mencuri sosis panggang jualanku. Dia harus membayarnya dua kali lipat. Harganya 2.000 Won." jawab orang itu, membahana.
Kyungsoo mengangguk, kemudian merogoh sakunya. Dia mengeluarkan semua isinya, uang miliknya. Lalu memberikan uang itu kepada orang tersebut.
"Ada uang, ada barang. Begini jadi beres." orang itu berlalu, memberikan kode kepada rekannya untuk pergi. Dia sudah mendapat untung dari sosis jualannya yang kecurian.
Kyungsoo mendesah, persediaan uangnya semakin menipis. Padahal uang itu adalah uang untuk biaya makannya sehari hari. Dia susah membayar kontrakannya, dan sekarang malah membantu seorang namja yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Te..terima kasih." ucap si namja, dia sudah tidak bersembunyi lagi. Dia membungkuk sekali.
"Kenapa kau mencuri?" tanya Kyungsoo, nadanya tetap saja datar.
"A..aku lapar, dan tidak punya uang." jawab si namja.
"Tapi tetap saja mencuri itu tidak baik." tukas Kyungsoo.
"Maafkan aku." si namja menundukkan wajahnya.
"Mana appa dan ommamu?" tanya Kyungsoo lagi.
"Ap..appa dan omma sudah lama meninggal." jawab si namja, lirih, nyaris berbisik.
Oh, Kyungsoo jadi menyesal bertanya seperti itu. Jawaban si namja malah membangkitkan memori kematian orangtuanya lima tahun lalu. Hatinya pedih kembali. Status mereka kini sama. Sama sama yatim piatu.
"Dimana kau tinggal?"
"Aku tidak punya rumah. Aku hidup berpindah pindah."
"Jadi kau tidak punya keluarga lagi? Satupun?"
"Tidak." si namja menggeleng pelan, seraya menceritakan kisah hidupnya yang juga memilukan. Orangtua yang meninggal dalam kecelakaan mobil sejak beberapa tahun yang lalu. Juga bibinya yang membuangnya karena sudah tidak punya orangtua dan harta lagi. Dia hidup terlunta lunta.
Kyungsoo mendengarkan penuturan dan cerita si namja tanpa menyela. Pada dasarnya dia adalah pendengar yang baik dan pembicara yang buruk.
"Siapa namamu?"
"Jungkook."
"Marga?"
"Aku tidak tahu margaku."
"Aku harap bukan marga Kim." Kyungsoo berkata seperti itu tanpa sadar.
"Eh? Hyung bicara apa?" tanya si namja, tidak paham. Dia memutuskan menggunakan kata hyung untuk memanggil Kyungsoo.
"Bukan apa apa. Sebaiknya kau pulang."
"Akukan sudah bilang, aku tidak punya rumah." namja bernama Jungkook itu mendongakkan wajahnya, tingginya hampir sama dengan Kyungsoo. Keimutan wajah mereka juga mirip. Ekspresi wajahnya seakan mengatakan : bawa aku ke rumah hyung.
Kyungsoo mendesah lagi. Kali ini desahan panjang. Dia memegang kemudi sepedanya erat. Berpikir sejenak, lalu kemudian menjalankan sepeda itu dan meninggalkan Jungkook.
Sret sret.
Kyungsoo berjalan lambat, memandang lurus kedepan. Hati nuraninya bergetar. Dia tidak bisa setega ini. Kyungsoo menghentikan pergerakan, kemudian menolehkan wajahnya.
"Apa kau mau tinggal denganku?" tawar Kyungsoo. Datar.
"Mau hyung. Sangat mau." jawab Jungkook. Girang bukan kepang. Dia terlonjak senang.
"Tapi tempatku tidak begitu baik."
"Tidak masalah hyung."
"Baiklah."
Kyungsoo akhirnya membawa Jungkook untuk tinggal bersamanya. Mereka berjalan beriringan dengan sepeda disamping Kyungsoo. Sepeda itu tidak punya dudukan dibagian belakang, jadi dia tidak bisa membonceng namja itu.
Kyungsoo yang sejak dulu berkomitmen tidak akan berteman dengan siapapun, tidak akan pacaran, dan berbagai pernyataan 'tidak' lainnya, sepertinya harus mengingkari komitmennya dengan membawa Jungkook serta bersamanya. Dia hanya bisa berharap bahwa kehadiran Jungkook tidak akan mengganggu misi utamanya : membalas kematian kedua orangtuanya.
Semoga.
o
o
o
o
O...O...O...O
Di kediaman Keluarga Kim.
Kim Jongin dan Kim Taehyung turun dari mobil yang dikendarai Jongin. Beberapa menit yang lalu mobil itu penuh dengan sorakan dan riuhan, namun sekarang tidak lagi. Dua namja bersaudara itu berjalan bersama, Jongin memarkirkan mobilnya didepan halaman.
"Apa wajahku sudah terlihat tidak mabuk lagi?" tanya Jongin, agak sempoyongan. Ya, namja itu memang habis minum dalam jumlah lumayan.
"Tentu masih. Tapi dengan ini pasti akan lebih baik." tukas Taehyung, seraya menyiramkan sebotol air mineral ke wajah seksi Jongin.
Byuurrr.
Jongin basah kuyup.
"Apa yang kau lakukan? Hah."
"Membuat wajah hyung normal lagi." Taehyung tertawa pelan.
Dua saudara itu baru saja menghabiskan waktu mereka berjalan jalan tidak jelas bersama teman teman kelas Jongin. Mereka makan di restorant Italia, nongkrong di pusat perbelanjaan, berkaraoke ria, dan terakhir masuk kesebuah Bar. Dan tentu saja banyak Won yang habis sehari itu. Namun itu bukan masalah, ayah mereka banyak uang.
"Jujur saja hyung. Aku sebenarnya tidak suka dengan gaya teman teman hyung itu. Terutama Baekhyun... Sepertinya namja itu sengaja menguras uang hyung." kata Taehyung, jujur dan apa adanya.
"Wajahmu itu mirip Baekhyun. Apa kau tidak senang dengannya?"
"Bukannya tidak senang. aku hanya tidak suka caranya itu. Lihat saja, dia memesan banyak minuman beralkohol dan membuat hyung mabuk juga." jelas Taehyung, mengingat kembali aksi teman teman kakaknya itu di Bar.
"Itu tidak masalah. Aku tidak mabuk... Appa kita banyak uang." jawab Jongin, dia mengelap pelan wajahnya yang basah.
"Aku tahu appa banyak uang. Tapi bukan berarti kita seenaknya menghabiskan uang. Banyak diluar sana orang yang kelaparan dan..."
"Eits, jangan ceramah lagi. Nikmati saja." Jongin memotong kalimat adiknya itu. Dia lalu berjalan.
Taehyung mendesah panjang, mengekor dibelakang kakaknya yang menurutnya kadang menyebalkan itu. Mereka lagi lagi berbeda dalam hal pola pikir, dalam hal ini Taehyung bisa dibilang lebih dewasa dan berpikir kedepan.
Jongin dan Taehyung masuk kedalam rumah. Mereka tidak perlu repot dimarahi oleh ayah mereka karena pulang agak larut. Maklum saja, ayah mereka sibuk dengan bisnisnya, sibuk dengan kolega. Sibuk dan sibuk. Setiap kali mereka pulang, yang menyambutnya adalah para pembantu yang siap meladeni keinginan mereka.
Kehidupan sebagai anak seorang pengusaha yang kaya raya memang menyenangkan, sangat menyenangkan. Semua kebutuhan hidup akan terpenuhi dengan sangat mudah. Namun, mereka juga harus tahu bahwa ada namja namja diluar sana yang kehidupannya berbanding terbalik dengan mereka. Namja namja yang hidup miskin dan menderita karena kehilangan orang tua.
o
o
o
o
Jongin merebahkan diri diatas ranjang king sizenya. Namja itu menatap langit langit kamarnya dengan satu tangan dibawah kepala dan tangan lainnya masuk kedalam celananya.
"Eh, kau masih disitu. Sana masuk kamarmu sendiri." tukas Jongin, mengusir adiknya sendiri yang masih berdiri di pintu kamarnya.
"Aku tahu, hyung mau onani lagi?" Taehyung tidak beranjak dan malah menggoda kakaknya itu.
"Apa apaan kau. Sana pergi." Jongin melempari Taehyung dengan bantal.
Bug.
Taehyung menghindar, bantal itu mengenai pintu kamar.
"Onani berlebihan itu tidak baik hyung. Bisa mengurangi kualitas sperma. Lebih baik hyung menikah saja, lakukan bersama pasangan hyung yang sah. Dan..."
"Sana pergi...masuk kamarmu."
Jongin bergerak seperti ninja, bergaya salto dan langsung memegang kedua bahu Taehyung, mendorong adiknya itu keluar kamar. Setelah itu, menutup kamarnya lagi dan menguncinya.
Blam.
"Adik tidak becus dan menyebalkan." gerutu Jongin.
Namja itu kembali merebahkan dirinya diatas ranjang, dengan terlebih dahulu membuka baju kaosnya yang sedikit basah akibat disiram oleh Taehyung tadi. Namja itu kini telanjang dada.
"Apa apaan dia. Melarang onani... Semua namja muda melakukannya, sembunyi sembunyi. Dan aku yakin yeoja juga banyak yang melakukan, dengan cara berbeda... Itu wajarkan." Jongin berbicara sendiri, seperti bandar togel yang kalah judi poker.
Hening sejenak.
Namja seksi itu ingin memulai lagi ritualnya, namun secara mendadak teringat dengan namja bermata bulat yang belum diketahui namanya. Ingatan itu muncul begitu saja.
'Kenapa aku malah teringat namja yang sama sekali tidak kutahu namanya itu... Apa mungkin karena dialah yang pertama melihat 'anuku' waktu di toilet itu?' Jongin membatin.
Dia malah langsung membayangkan namja bermata bulat itu memegang dan mengisap isap punyanya sampai klimaks dan ejakulasi. OMG, pikiran yang aneh.
"Baiklah, besok aku akan mencari tahu, siapa namanya, dimana dia tinggal dan sebagainya. Kim Kai, kau mendapat target baru." gumam Jongin, senyum senyum sendiri.
Setelah berjibaku dengan pikiran dan rencananya, akhirnya namja tampan itu kembali memasukkan tangan kedalam celananya. Berfantasi liar.
"Ahhhh..."
o
o
o
o
o
o
o
TBC
O...O...O...O...O...O...O
Chapter 3 update. Maaf, jika ceritanya tidak sesuai espektasi pembaca semua. Tapi aku sudah berusaha keras memberikan yang terbaik.
Terima kasih reviewnya chingu. Agak kecewa juga dengan akun yang hanya follow dan favorite, tanpa memberikan komen. Padahal komen itulah yang memberikan semangat. Tapi itu kembali pada masing masing sih, mau komen atau tidak.
Namun yang pasti, Review kalianlah yang membuat aku terus melanjutkan FF dan mempublishnya. Mungkin banyak yang berpikir : toh biasanya Han Kang Woo publish cepat chap selanjutnya, nggak perlu komen. Menurutku tidak selalu begitu, aku sangat gembira jika ada satu atau dua komen yang masuk. Itulah penyemangatku selama ini dalam melanjutkan FF.
Wah, A.N-nya kepanjangan nih, hehehee... Review lagi ya teman teman.
Salam sayang.
Han Kang Woo
