The Mystery of Life

By : Mizu Kanata

Disclaimer : Mashashi Kisimoto


Chapter 2

Tenten mendorong koper kecilnya melewati pelataran parkir yang saat ini penuh sesak. Liburan dimulai! Hari ini mereka semua akan pulang, melepas rindu pada keluarga. Ya, meskipun Tenten tidak terlalu menyukai hari libur, ia cukup menantikannya. Setidaknya, tidak ada tugas sekolah yang menunggu.

Gadis itu mengedarkan pandangannya, mencari sosok Neji, yang tentu saja tidak ia temukan di tempat sepadat ini. Tenten menarik nafas, merutuki dirinya karena tidak menanyakan di mana mobil Neji diparkirkan atau sekedar menanyakan warnanya.

"Tenten-san!" Panggil Hinata.

"Oh… Pagi, Hinata!" Balas Tenten sambil tersenyum.

"Mobil Neji nii-san diparkir di sebelah sana," kata Hinata sambil menunjuk sebuah mobil silver di kejauhan. Dan Tenten bisa melihat Neji yang melambai pada mereka.

"Ah, terimakasih!"

"Ya, sama-sama," kata Hinata, gadis itu tersenyum menatap kepergian Tenten. Namun, entah mengapa senyum itu tiba-tiba menghilang menjadi kekhawatiran.

"Neji, maaf menunggu lama," kata Tenten begitu sampai.

"Tidak kok. Lagipula aku yang lupa memberitahumu yang mana mobilku," kata Neji.

"Ya sudah, ayo pergi," ajak Tenten.

"Tenten! Tunggu!" Teriak seseorang yang setengah berlari ke arahnya.

"A-ada apa Tsunade-sama?" tanya Tenten cukup kaget, tidak biasanya Tsunade menghampirinya di depan banyak orang.

"Tolonglah kalian berdua, bawa semua data calon murid dari kantorku ke rumah Tenten."

"Ke-ke rumahku?" tanya Tenten sambil menunjuk dirinya.

"Ya. Kau harus membantuku, Shizune masih sakit," kata Tsunade.

"Ah, baiklah."

"Bagus, aku akan ke rumahmu besok malam."

Tenten mendesah saat melihat R. Kepala Sekolah yang berantakan.

"Sepertinya saat dulu kita kemari, keadaannya jauh lebih rapi dari ini," kata Neji.

"Ya. Mungkin saat Tsunade-sama tidak ada, Shizune-sensei membersihkan ruangan ini. Dan rumahku juga pasti akan berantakan saat Tsunade-sama datang," kata Tenten, kemudian tertawa. "Ah, lagipula itu masih rumahnya."

Neji tersenyum, "Jadi, di mana datanya?" tanyanya.

Lagi-lagi Tenten mendesah, "Entahlah, Tsunade-sama langsung pergi."

Mereka langsung menelusuri ruangan yang berantakan itu. Mencari-cari data calon murid di antara meja-meja penuh kertas.

Suasana menjadi hening saat mereka terus mencari. Dan Tenten mulai merasa tidak nyaman dengan ini. Gadis itupun membuka mulut.

"Neji, maaf ya… Aku selalu merepotkanmu, seharusnya kau sudah berada di rumah sekarang," kata Tenten.

"Kau bicara apa sih? Asal kau tahu aku beruntung 'menemukanmu' saat itu," kata Neji tanpa menatap Tenten. Pemuda itu menatap ke luar jendela, menatap tahun-tahun yang telah berlalu.

Tenten menundukkan kepalanya, lagi-lagi ia merasakan pipinya memanas. "Tanpa kau… Aku tak kan berada di sini saat ini."

Tenten kecil menatap sendu pada kamar sempitnya. Air mata anak itu sudah habis, terkuras tak tersisa. Tubuh kecilnya meringkuk di kasur, dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya. "Aku ingin pulang…" bisik anak itu lirih.

Hanya Tenten yang tahu arti kata pulang itu. Pulang yang dimaksudkannya adalah panti tua yang sudah ditempatinya selama 6 tahun. Ia menyesal telah menyetujui menjadi anak angkat dari orang tua kejam itu. Ya, pada mulanya mereka bersikap baik pada Tenten. Hingga mereka mulai menawari Tenten mengambil salah satu peran di drama mereka. Orang tua angkat Tenten memang mempunyai pertunjukkan drama sendiri.

Anak itu menutup matanya saat teringat tawaran mereka, "Jika kau yang jadi pemerannya, pasti semua orang akan datang. Kau 'manis' sekali sih!"

"Baiklah, aku akan mengambil peran itu!" kata Tenten sambil tersenyum.

Dan akhirnya, mereka mulai mempekerjakan Tenten tanpa henti.

Tenten menutup telinganya saat bayangan-bayangan mengerikan memenuhi benaknya.

"Tidak! Aku tidak mau lagi memerankan drama kalian!" Teriak Tenten.

"Tenten… Bukankah kau anak yang 'manis'?" tanya ibu angkatnya sambil tersenyum mengerikan, membelai rambut panjang Tenten. "Kau harus menurut pada kami."

"Aku bukan anak 'manis'!" Balas Tenten.

"Oh, jadi kau sudah mulai memberontak ya?" tanya ayahnya, lalu menarik tangan kecil Tenten dengan kasar.

"Apa yang akan kau lakukan?!" Tanya Tenten.

Ayahnya tidak menjawab. Ia membuka pintu kamar Tenten dan memasukkan anak itu ke dalamnya, menutup pintu dengan keras.

"Hukuman untukmu," katanya.

"Tidak! Keluarkan aku!" Teriak Tenten sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya yang sudah terkunci dari luar.

Dan disinilah ia sekarang, begitu menyedihkan…

Tenten kembali terisak dan air mata yang semula telah kering kembali mengalir di wajahnya. "Ibu…" bisiknya.

Tenten memang tidak pernah mengenal orang tuanya. Tapi anak itu tahu pasti, jika ibunya bersamanya. Ia tak akan, tak akan pernah membiarkan Tenten mengalami kejadian ini…

Senja yang datang membuat kamar Tenten sedikit gelap. Tenten terdiam sementara air matanya masih mengalir, ia merasa sangat lelah… Perlahan, mata anak itu tertutup. Tapi, sebelum alam mimpi membawanya, ketukan di jendela membuat Tenten kembali sadar.

Gadis kecil yang penasaran itupun berjalan ke arah jendela dan membuka gorden hijau yang menutupi. Tenten terlihat kaget melihat anak laki-laki yang mungkin seumuran dengannya itu ada di depan jendela.

"Siapa kau?" tanya Tenten, membuka sedikit jendela kamarnya.

"Aku akan membawamu pergi dari sini," kata anak itu, menatap lurus pada mata cokelat Tenten.

"A-apa?" tanya Tenten tak percaya. Tapi, ia memang ingin meninggalkan rumah ini. Tenten menatap berkeliling dengan khawatir, takut-takut orang tua angkatnya melihat ini. "Kau akan membawaku pergi dari sini?" tanya Tenten lagi, mungkin saja anak yang ada di hadapannya ini hanya bercanda.

"Ya," anak itu mengangguk, dari sorot matanya, Tenten yakin anak itu sungguh-sungguh.

Sekali lagi, Tenten mengedarkan pandangan pada kamarnya, dengan tajam matanya menatap kenop pintu itu. Tidak, tidak bergerak sama sekali.

Tenten mulai mengangkat kaca jendela dengan lebar. Ia menyelipkan tubuh kecilnya hingga kakinya mencapai tanah. Gadis itu merasa lega setelah ia berada di luar sepenuhnya. Perlahan, ia kembali menutup jendela kamarnya.

"Kau kenal daerah sini kan?" bisik Tenten pada anak itu. Ya, orang tua angkatnya tidak pernah mengizinkannya keluar rumah.

Anak laki-laki itu lagi-lagi hanya mengangguk.

Tepat saat itu Tenten melihat sinar dari lampu yang baru dinyalakan di depan rumahnya. Jantung anak itu kembali berdetak cepat, bagaimana jika mereka melihatnya?

"Cepat, ikut aku," bisik anak itu, mengggenggam tangan Tenten dan membawanya pergi.

Langkah-langkah kecil mereka berlari cepat. Entahlah sudah berapa lama mereka berlari, tapi Tenten merasa benar-benar kelelahan.

"Hei, ber-berhenti, aku lelah," kata Tenten.

"Ah, baiklah," kata anak itu.

Langit sudah sangat gelap. Pertokoan di sekitar mereka sebagian besar sudah tutup. Tenten melangkahkan kakinya pada teras toko yang juga sudah tutup. Anak laki-laki itu mengikutinya. Dan merekapun duduk.

"Omong-omong, siapa namamu?" tanya Tenten.

"Aku Neji Hyuuga. Dan kau anak yang sering bermain di drama itu kan?" tanya Neji.

"Ya, bagaimana kau tahu?"

"Sepupuku sangat menyukai karaktermu. Paman yang menyuruhku untuk menemaninya menonton. Oh ya, siapa namamu?" tanya Neji.

"Tenten. Hanya Tenten," kata gadis itu, tidak ingin memasukkan nama belakang orang tua angkatnya. "Ta-tapi, bagaimana kau tahu aku tinggal di rumah itu?"

Neji terlihat sedikit bingung, ia hanya mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu, tapi aku selalu mendengar tangismu."

Tenten mengernyitkan dahinya, "Jadi kau tinggal di sebelah rumahku?" tanya Tenten.

"Tidak, rumahku jauh dari rumahmu," jawab Neji.

"Lalu, bagaimana kau bisa mendengar saat aku menangis?" tanya Tenten penasaran.

"Aku juga tidak tahu. Tapi, aku sungguh-sungguh mendengarnya."

"Hei, kau Neji kan?" tanya seorang wanita yang entah bagaimana tiba-tiba ada di depan mereka. Mungkin mereka tidak memperhatikannya.

"Kau siapa?" tanya Neji balik.

"Tsunade. Pamanmu menyuruhku mencarimu. Dia khawatir kau hilang," kata wanita itu. "Dan... siapa kau?" tanya Tsunade menatap Tenten.

"Dia teman baruku," kata Neji sebelum Tenten menjawab.

"Ya sudah, ayo. Aku akan mengantarmu pulang," kata Tsunade.

Neji terlihat enggan, "Tapi dia…" kata Neji menunjuk Tenten.

"Ayo, kau juga ikut denganku. Tenanglah, aku tahu siapa kau. Aku tak akan memberikanmu pada orang tua angkatmu," kata Tsunade sambil tersenyum tipis padanya.

'Ba-bagaimana ia tahu?' tanya Tenten dalam hati.

"Aku masih tidak mengerti, bagaimana kau bisa mendengarku menangis?" tanya Tenten.

"Entahlah… Sudah kubilang aku tidak tahu. Yang terpenting adalah, aku menemukanmu," jawab Neji.

Tenten tersenyum menatap Neji.

"Pertemuan pertama kita saja sudah diliputi misteri," kata Tenten sambil tertawa. Tangannya membuka-buka laci meja kerja kerja Tsunade.

"Benar. Mungkin sudah takdir kita menghadapi surat kosong saat itu," kata Neji.

"Hei, ini datanya!" Kata Tenten.


To Be Continue