Original Story belong to Skylar Otsu
Re-write by Christal Alice
Moonrise (I'm Yours)
Pair : KrisTao
Fandom : Ex/EXO's member and other
Genre : Drama/Romance/ Hurt Comfort/Smut scene/ Mpreg
Disclaimer : Judulnya di ambil dari tema lukisan Van Gogh yang berjudul sama
.
©KrisTao©
.
07.00 A.M
"Ah…nghh~Kriss…ggeeh~"
"Kkh~ ahh…"
Suara desahan basah itu seolah menggema ke seluruh penjuru kamar. Detak jarum jam di dalam ruangan itu menjadi saksi bisu perilaku menyimpang Kris pada sosok manis Tao.
Tak peduli akan suara detak jantung Tao yang berdetak lebih cepat, seolah Kris menulikan telinganya atas eluhan yang keluar dari bibir mungil itu. Pemuda manis itu di buat tak berdaya. Apa yang di lakukan Kris pagi ini hanyalah sebagian kecil dari 'kewajiban'nya karena tidak hanya pagi ini saja pemuda bersurai pirang itu menggauli tubuh ringkih Tao.
"Aahh~ Kris—ughh…nghh~" Tao meremas bahu kokoh Kris erat.
Wajah manisnya tampak memerah dan bibir kucingnya tidak hentinya mengeluarkan desahan basah. Sedangkan Kris masih asik bergumul di bawah sana. Ia tahu sudah berapa kali pemuda manis di bawahnya itu ber orgasme akibat perlakuannya. Namun ia merasa tidak cukup dengan hanya ini.
Kris mengangkat ke 2 kaki Tao ke bahunya dan dengan cepat memasukkan batangnya ke dalam lubang pemuda itu.
"AAAAKKHH!" Tao refleks mencengkeram bantal dan menggigit bibirnya sebagai pelampiasan rasa perih di lubangnya.
"Hhh…Kris―gehh…aahh~"
Saat tempo Kris semakin cepat, suara nyaring yang berasal dari ponsel Kris berdering memenuhi penjuru kamar yang luas itu. Pria itu semakin cepat bergerak dan akhirnya mencapai kepuasan yang di inginkannya bersamaan dengan Tao yang kembali berorgasme.
Pemuda manis itu memejamkan matanya menikmati sisa-sisa kenikmatan pasca orgasme dan mengatur napasnya. Kris segera beranjak dan menghampiri meja. Tao hanya bisa mengawasi pria itu dengan lemas, masih dengan posisi awal.
Tao melirik ke arah jam dinding di mana jam sudah menunjuk di angka tujuh lewat lima belas menit, lalu kembali menatap Kris yang kini tengah berpakaian. Pria itu terlihat sangat tampan dengan baju formalnya.
Sesaat pandangan mereka bertemu dan refleks Tao membuang muka, ia tidak pernah kuat beradu tatap dengan pria itu. Sementara itu Kris segera mendekat dengan dasi yang belum di benahi menggantung di lehernya. Pria itu duduk di pinggir ranjang.
"Benahi dasiku" perintahnya.
Mau tak mau Tao membalikkan tubuhnya dan membenahi dasi kerja Kris. Pemuda manis berusaha untuk tidak beradu tatap dengan pria itu yang kini tengah menatapnya intens.
"Selesai" kata Tao pelan.
"Kenapa kau tetap diam ?" tanya Kris tiba-tiba.
"Eh ?"
"Kenapa diam saja ? Kenapa tidak protes ?"
"Soal apa Kris-ge ?" tanya Tao ragu.
"Bukankah aku cukup tidak adil memperlakukanmu ?"
Semula Tao tidak tahu kemana arah pembicaraan mereka, kini mulai paham dengan apa yang di maksud Kris. Pemuda manis itu tersenyum lalu menggeleng pelan. "Aku sudah sangat senang berada sedekat ini dengan Kris-ge"
"Kenapa ?"
"Karena kau lah yang memilihkan kehidupan ini untukku…"
"Bukankah aku semakin menghancurkannya ?"
Tao menggeleng lagi. "Justru sebaliknya, Kris-ge melakukannya dengan cara Kris-ge sendiri, dan itu membuatku merasa dibutuhkan"
"Kau tidak lelah ?"
"Tidak. Aku akan tetap di sini selama Kris-ge tidak membuangku"
"Kalau begitu menuntutlah sesuatu"
"Kenapa harus ? Aku percaya Kris-ge tidak akan memperlakukanku dengan buruk."
"Lalu ini ?"
"Aku mengerti, setiap orang memiliki kebutuhan sendiri akan seks"
Kris berbalik dan kini membelakangi Tao. "Karena itu aku benci pada orang yang pasrah sepertimu" ujar Kris dingin.
"Kalu begitu…aku akan berusaha untuk menjadi orang yang tidak di benci olehmu"
Kris menghela napas. Ia bangkit berdiri dan meraih jasnya yang berada di atas sofa. "Aku berangkat dulu" pamitnya kemudian.
"Baik, hati-hati di jalan"
.
©KrisTao©
.
Suasana riuh ruang rapat siang ini tetap tidak mengusik pikiran Kris akan suatu hal. Pria itu masih memasang ekspresi datarnya sambil menatap lurus ke depan. Padahal saat ini para bawahannya sedang ribut mendiskusikan sesuatu.
BRAK!
Sebuah gebrakan pada meja panjang itu membungkam semua mulut yang tadinya berbicara. Orang-orang di sana sontak menunduk dan tidak berani menatap ke arah bos mereka. Meski begitu mereka tahu bahwa pria tampan itu tengah murka.
"Kalian ini sedang diskusi atau sedang belanja di pasar ?" tanya Kris ketus.
Semakin hening.
Pria itu menghela napas samar lalu bangkit berdiri dan merapikan jas nya. "Beri laporan padaku setelah rapat selesai" ujar Kris kemudian, lalu melenggang keluar dari ruang rapat diikuti asisten pribadinya. Seluruh bawahannya yang ditinggal pun dapat bernapas lega karena sudah tidak mendapatkan kemarahan yang lebih.
"Boss" panggil seorang wanita tinggi yang berusaha mengejar langkah lebar milik kris. Pria itu menoleh sedikit dan menghentikan langkahnya.
"Ada apa ?" tanyanya dengan nada datar seperti biasa.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda"
"Siapa ?"
"Bang Yongguk-ssi , beliau sudah menunggu di ruangan anda"
Orang itu lagi―batin Kris malas."Kenapa kau tidak bilang kalau aku sibuk ?"
"Sudah. Tapi beliau tetap memaksa untuk bertemu anda"
"Baiklah, kembalilah bekerja"
"Baik"
Kris mempercepat langkahnya menuju ruangan pribadinya dan dengan kasar membuka pintu di sana. Terlihat seorang pria berambut hitam cepak yang tengah duduk di salah satu sofa di ruangan itu menoleh ke arahnya.
"Sudah kukatakan aku sibuk, kenapa tetap ke sini ?"
"Aku akan menunggu sampai kau tidak sibuk"
Kris berdecak pelan, lalu memutuskan untuk duduk di depan pria bernama Yongguk tersebut."Langsung katakan saja apa tujuanmu datang kembali"
"Masih soal yang kemarin, Kris"
"Aku sudah menolaknya"
"Tapi aku tetap tidak menyerah" ujar Yongguk dengan nada santai.
"Aku tidak akan menjual perusahaan itu" kata Kris dengan nada penuh penekanan. Yongguk tersenyum miring.
"Aku akan tetap datang sampai kau menyerah" balasnya.
Kris menatap tajam pria di hadapannya ini. "Tidak tahu malu, kau bersikap seperti ini padaku" cela Kris sambil tersenyum sinis.
"Bisnis adalah bisnis. Aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya.
"Sampai kau bertekuk lutut di kaki ku pun tetap tidak akan ku jual"
"Ah! Lalu bagaiman dengan gosip yang selalu aku dengar ?"
"Bicara soal apa kau ?"
"Ku dengar kalau kau membeli seorang bocah untuk kepentingan pribadimu. Apa itu benar ?" tanya Yongguk setengah memancing dan tersenyum licik saat melihat wajah kaget milik Kris.
.
©KrisTao©
.
Bosan.
Hal itulah yang selalu dirasakan Tao setelah kepergian Kris ke kantor. Tidak banyak yang dapat di lakukannya di mansion besar itu. Mungkin hanya hal-hal sepele seperti membersihkan kamar dan menonton TV.
Sesekali ia ingin sekali pergi keluar hanya untuk menghirup udara segar. Tao berguling di atas sofa besar yang ada di ruang tamu. Ia sama sekali tidak mau menonton tayangan televisi yang dinyalakannya sejak beberapa jam lalu.
"Kau tidur, Tao ?" Tanya bibi Mei. Pemuda manis itu hanya menggeleng dengan posisi tengkurap.
"Kok lesu?"
"Aku bosan…" gumam Tao dengan suara yang teredam.
"Oh, kalau begitu mau bantu Bibi ?"
Tao mengangkat wajahnya cepat. "Mau! Apa itu Bi ? Katakan"
Mei hanya tersenyum lalu memberikan secarik kertas pada Tao. "Apa ini ?" tanya Tao dengan wajah bingung yang lucu.
"Bibi kehabisan beberapa bumbu dapur. Tolong belikan di minimarket ya"
"Okay! Aku berangkat sekarang!" ujar Tao dengan penuh semangat.
"Ini uangnya. Jangan lama-lama dan langsung pulang begitu kau mendapatkan semuanya, mengerti ?"
"Iya Bi, aku bukan anak kecil lagi" dumel Tao.
"Jangan lupa pakai mantelmu dan topi karena di luar panas.
"Aku mengerti~"
.
©KrisTao©
.
Tao tengah mengecek belanjaannya sebelum menuju kasir. Setelah mencocokan dengan daftar yang diberikan oleh Bibi Mei tadi. Pemuda manis itu pun segera menuju ke kasir.
Tidak butuh lama untuk mengantri, karena siang ini minimarket itu sedang sepi. Tao tidak sengaja melihat deretan kit-kat di dekat kasir dan pemuda panda itu sempat tersenyum sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil beberapa buah.
"Tolong ini juga dihitung" kata Tao memberikannya ke arah kasir di hadapannya.
Pegawai minimarket itu pun menghitungnya. Setelah transaksi pembayaran selesai, Tao mengangkut belanjaanya tanpa kesusahan sedikitpun. Namun saat ia keluar dari minimarket, seorang bocah dengan penampilan kumal menarik perhatiannya.
Bocah itu berusia sekitar enam tahun, tengah menatap kantong belanjaannya. Tao merogoh plastik belanjaan di tangannya itu dan mengambil sebuah kit-kat yang dibelinya tadi. Tanpa sadar jika ada seseorang yang berada di dalam sebuah mobil hitam di pinggir jalan tengah memotretnya diam-diam.
TBC
Christal Otsu
