"Yah, aku benar-benar merasa tidak enak sampai merepotkan keluargamu."
Ini sudah ketiga kalinya dalam hari ini Kiyoshi merapalkan permintaan maafnya pada Izuki, dan untuk ketiga kalinya Izuki tersenyum lemah, "sudah kubilang kan tidak apa-apa."
Baik keluarga Izuki dan Kiyoshi sudah setuju untuk menjaga kakek dan nenek Kiyoshi selama ia menjalani pengobatan kakinya di Amerika. Kiyoshi tidak akan mungkin dapat menahan rasa khawatirnya bila kedua lansia yang telah membuatnya sebesar sekarang harus hidup sendiri. Setidaknya dengan keputusan ini, semua orang juga mengharapkan Kiyoshi dapat menyelesaikan pengobatannya tanpa rasa bersalah.
Satu malam sebelum berpisah, Kiyoshi membawa dirinya untuk ikut mendiami rumah keluarga Izuki.
"Ngomong-ngomong Izuki…"
Dari bola matanya, Kiyoshi dapat mengintip bahwa Izuki dan keluarganya benar-benar menerima keberadaannya dan kakek neneknya di tengah mereka. Namun, jelas terlihat terdapat satu orang yang terusik melihatnya tersenyum terus sepanjang hari.
"Kenapa Hyuga juga ada disini?"
"Memangnya kenapa kalau aku ada disini?!"
MORE STEPS
Chapter 2: Kiyoshi Steps
Warna oranye telah merajai tanah Jepang, mempersiapkan jalan bagi ratu bulan untuk menguasai bumi. Di senja yang seolah tenang ini, Hyuga tidak dapat menemukan ketenangan makan malam di dalam jiwanya.
"Wah, jarang sekali kita makan malam seramai ini! 'Rame' seperti ramen!"
"Oh bu! Hidangan 'kemaren" ramen kare."
"Bagus Mai! Shun, tau tidak? Makanan kesukaan Kamen Rider ramen kare!"
"Ah! Bagus sekali kak!"
"Hahaha, lelucon yang bagus!"
Hyuga benar-benar kesulitan menelan ramennya dengan semua lelucon ini.
"Rumah Hyuga sedang direnovasi. Orang tua dan adiknya menginap di kampung halaman kakeknya, jadi dia menginap disini sampai rumahnya selesai direnovasi." Akhirnya Izuki menjelaskan kehadiran Hyuga di rumahnya pada Kiyoshi.
"Wah, malam ini pasti sangat menyenangkan hahaha."
Semalaman bersama senyum Kiyoshi dan lelucon Izuki, ini pasti hukuman dunia bagi Hyuga Junpei.
"Terima kasih untuk makanannya." Kiyoshi dengan sigap mengulurkan tanggannya untuk mengangkat sisa piring di meja, namun niatannya terhalang begitu Ibu Izuki berkata, "ah, tidak apa-apa. Lebih baik kau bantu kakek dan nenekmu ke kamar."
Kiyoshi untuk yang kesekian kalinya hanya dapat tersenyum pasrah kepada kebaikan yang ia dapatkan. Walau hanya berandai-andai, ia sungguh berharap kalimat tersebut keluar dari bibir ibu kandungnya juga.
"Ah iya, sebelah sana"
Sudah menjadi keseharian Kiyoshi untuk meringankan sakit di punggung kakeknya sebelum tidur. Terkadang, sulit bagi kakek Kiyoshi untuk tidur saat Kiyoshi pulang larut sehabis latihan dan absen dengan keseharian memijatnya ini.
"Teppei,"
"Hm?"
Tubuh lansia ini berbalik dan menatap diam tangan Kiyoshi cukup lama. Entah termenung atau tertidur dengan kedua bola mata terbuka.
"Tanganmu," ada jeda sejenak "sangat besar. Berapa ya umurmu sekarang? 14 tahun? Ah tidak, itu tahun kemarin. Sekarang 15 tahun ya?"
"Duh kakek ini bagaimana, Teppei kan masih 14 tahun."
Kiyoshi hanya bisa tertawa kecil dengan percakapan antara kakek dan nenek ini. "Sekarang aku 17 tahun."
"Hm? 17 tahun? Kau memang sudah besar ya sekarang."
Kiyoshi sudah cukup setahun lamanya menyadari hal ini. Tidak hanya penglihatan dan pendengaran, ingatan keduanya pun sudah semakin menurun mengingat berapa lamanya kini mereka telah bernafas. Hal inilah yang semakin membuatnya enggan meninggalkan kedua orang ini melanjutkan hidup tanpanya.
"Teppei,"
"Hm?" Kiyoshi pun sudah terbiasa menunggu apa yang akan dikatakan orang tua di hadapannya ini dengan sabar. Terkadang bahkan sang kakek hanya memanggil lalu lupa kalau sudah memanggilnya.
Perlahan tangannya meraih lutut Kiyoshi yang terduduk dan menggenggamnya erat. "Teppei."
"Hm?"
Termenung selama 5 menit.
"Teppei."
"Kakek, kau sudah memanggil Teppei sebelumnya."
"Hm? Sudah ya nek? Ah Teppei…"
"Hm?"
"Apa lututmu masih sakit?"
"Sedikit, haha…" Kiyoshi memang tak pernah berbohong di hadapannya, namun kakeknya dapat melihat hal lain dari bola mata Kiyoshi.
"Teppei, jangan menahan diri karena kami."
"Eh?"
"Istirahatlah yang cukup, lakukan pengobatanmu dengan rutin, lalu, sering-seringlah pergi main dengan temanmu itu."
Kiyoshi hanya dapat tersenyum kecil mendengarnya. Mereka, memang selalu memperhatikannya seperti ini.
"Jangan khawatirkan kami. Kami bisa menjaga diri kami sendiri. Memangnya kau pikir kami ini sudah sangat tua sampai lupa umurmu?"
Ya, Kiyoshi tahu. Ia hanya ingin tertawa mendengarnya. Mereka, selalu seperti ini. Justru karna inilah, Ia semakin berberat hati untuk melangkah sendiri.
"Kiyoshi." Terdengar suara Izuki dari sebrang pintu.
"Oh, Izuki, Hyuga."
"Kami mau ke minimarket. Kau mau ikut?"
Kiyoshi memalingkan wajahnya dan tampak senyum sang kakek yang mengayunkan tangannya, menyuruhnya untuk segera pergi bersama kedua temannya tersebut.
"Eugh! Dinginnya."
"Bodoh. Sudah tau dingin malah beli minum yang dingin."
Mendengar percakapan ini, membuatnya semakin tersadar: Besok, tidak ada lagi berjalan seperti ini dengan mereka. Begitu banyak keengganan yang ia pikul untuk pergi besok. Tapi kalau ia tiba-tiba membatalkan perjalanan, Hyuga pasti tetap akan menyeretnya masuk pesawat.
Kiyoshi terus merasakannya, 'mereka semua terlalu baik'
"Kiyoshi? Kenapa kau tersenyum?"
"Hah? Eh?" Kiyoshi berhenti melangkah. "Kenapa ya?"
"Mana kami tau?! Kan kau sendiri yang tersenyum!"
'Ah, waktu itu juga seperti ini.' Izuki bergumam.
Kiyoshi yang hanya mematung sambil terus tersenyum membuat Hyuga mengambil langkah menuju bangku terdekat yang dapat ia jangkau, diikuti kemudian oleh Izuki dan Kiyoshi.
"Bagaimana dengan tawarannya?"
"Ta-tawaran apa?"
Hyuga mulai kesal sekarang. "Kau pikir sudah berapa lama kami mengenalmu?"
"Kami lihat kau ditawari masuk tim nasional ketika upacara penutupan Winter Cup." Jelas Izuki. Serapat apapun Kiyoshi menutupi hal itu, sedari awal Izuki dan Hyuga memang sudah melihatnya.
Namun Kiyoshi tetap menutup mulutnya.
"Oi, jangan diam saja."
"Aku menolaknya. Aku tidak akan masuk tim nasional."
Izuki harus mengedipkan matanya berulang kali untuk sadar bahwa ia tidak bermimpi. "Kiyoshi, aku tau kakimu sedang cedera. Tapi setelah operasi‒"
"Bukan, aku tidak menolaknya karena cedera ini," kalimatnya tertahan. Lidahnya terasa ragu untuk memulai cerita.
"Kau, tidak membicarakan hal ini dengan kakek dan nenekmu?"
"…tidak."
Karena kata tersebut keluar dari mulut seorang Kiyoshi Teppei, sang Iron Heart, Hyuga dan Izuki merasa yakin untuk tidak menanyakan alasannya. Alasan tersebut, sudah tertulis jelas di depan wajahnya.
"Kiyoshi, aku rasa kau lupa kalau aku pernah bilang ini," Mereka bertiga hanya menatap kedepan, menunggu kalimat Hyuga selesai.
"Aku tidak suka denganmu." Kiyoshi tidak bereaksi sedikitpun.
Tawa kesal spontan keluar dari ekspresi tidak sabar Hyuga. "Kau pikir kau siapa? Malaikat? Tuhan? Memangnya siapa yang memberimu hak untuk mengurusi hidup orang lain?"
Kiyoshi tidak bereaksi apapun, tidak ada ekspresi apapun. Izuki yang berada di tengah keduanya pun hanya duduk santai, seolah tak ada percakapan apapun di antara mereka.
"Kebiasaan meremehkan orang lain mu ini yang sangat menyebalkan. Kau pikir orang lain tidak bisa melakukan apa-apa tanpamu?"
Kekesalan Hyuga sudah diambang batasnya, berada di jarak 1 meter bersama biang kekesalannya pun membuat kaki Hyuga gatal untuk segera pergi. "Berhenti mengurusi hidup orang lain, selesaikan dulu saja masalahmu sendiri." Itu kalimat terakhir yang dapat Kiyoshi dengar dari Hyuga
Izuki, masih tak bergeming dari tempatnnya.
"Kiyoshi, aku juga sama kesalnya dengan Hyuga."
Kiyoshi akhirnya memiringkan wajahnya pada Izuki, namun mulutnya terkatup.
"Sejak pertama kali tau basket, hal pertama yang menjadi cita-citaku saat itu bergabung dengan tim nasional. Tapi, mendengar jawabanmu barusan," Izuki tersenyum kecil. "Aku baru tau bisa sekesal ini denganmu, Kiyoshi."
Kiyoshi hanya dapat tersenyum kecut ketika Izuki akhirnya berdiri. Mau mengelak atau memberikan rincian alasan apapun juga tidak akan berguna sekarang. Kiyoshi paham betul, Izuki dan Hyuga sudah mengerti permasalahannya.
"Ya, aku sudah mengganti keinginanku juga sih," Izuki berbisik kecil‒ditunjukkan bagi dirinya sendiri.
"Kiyoshi, kalau kakek dan nenekmu tau kau menolak masuk tim nasional karena mereka. Menurutmu mereka bagaimana?"
Kiyoshi hanya dapat menatap punggung Izuki yang semakin menjauh. Bola matanya saling bertatapan dengan bayangannya yang tertunduk.
"Hm? Kau sudah pulang Teppei?"
"Kakek? Kenapa belum tidur?"
"Hmhm, kamu ini. Padahal kakek yang sudah tua, kenapa malah kamu yang menyuruh kakek tidur?"
"Ah bukan begitu. Disini dingin, lebih baik masuk ke dalam kek."
Bukannya mengindahkan permintaan Kiyoshi, sang kakek malah memberi isyarat untuk mengikutinya duduk. Kedua pasang mata itu mengisi penglihatan mereka dengan pemandangan di taman kecil milik keluarga Izuki. Tiap hembusan nafas berembun mereka tak dapat berbohong, betapa mengigilnya kulit mereka saat ini.
"Kakek tidak mau masuk ke dalam?" Kiyoshi memohon.
"Teppei, lihat ini" Jari tuanya menyentuh lembut kelopak bunga liar kecil yang tumbuh tak jauh dari kakinya.
"Bunga ini, kecil, liar, dan tumbuh sendiri." Senyum terutas dari bibir keriputnya, "tapi dia bisa mekar dengan cantik."
Suaranya terdiam ketika selembar amplop surat terulur dari tangan kanan kakeknya. Bola matanya terlekat pada surat tersebut, namun bibirnya terbisu.
"Kenapa kau membuang surat ini?"
Itu surat dari tim nasional basket.
Berdiam seribu kata pun, Kiyoshi Teppei bukanlah orang yang sulit dibaca perawakannya. Dan itulah yang jelas terbaca oleh lansia berusia hampir 80 tahun itu.
"Teppei, semua makhluk hidup diberi kehidupan karena mereka punya kekuatan untuk menjalaninya."
"Eh?" Kiyoshi tersadar dari kebisuannya.
"Seperti bunga liar ini. Dia diberi kehidupan, karena dia punya kekuatan untuk tumbuh. Begitu pula dengan kakek dan nenek." Senyum semakin mengembang di wajah tuanya. "Kami masih bisa hidup sampai saat ini, karena kami masih punya kekuatan untuk hidup."
Mata keduanya saling terhubung, seolah tanpa kata pun tatapan mata keduanya sudah menjelaskan segala kegundahan yang ada.
"Jangan menahan hidupmu sendiri karena orang lain."
Sentuhan lembut menyapa tangan Kiyoshi. "Setiap orang, harus menjalani sendiri kehidupan yang dipilihnya. Kau sudah menjadi anak yang baik sampai saat ini, sekarang, hiduplah sebagai pria yang berani mengambil jalannya sendiri. Buatlah kami bangga."
Kata-kata tak berani keluar dari suaranya, air mata yang tak tertahankan membendung di kelopak matanya.
Selama ini, ia ingin selalu dapat bersama orang-orang yang disayanginya. Karena itu, ia selalu berusaha menjaga kehidupan yang pernah menyapanya. Karena semua hubungan itu, bagaikan nyawa yang membuatnya terus dapat hidup.
Dibalik tubuh besar dan senyum bodohnya, terselubung jiwa anak laki-laki kesepian yang tidak ingin meninggalkan, atau ditinggalkan.
"Ya ampun kakek, Teppei, kenapa malah diluar?"
Keheningan keduanya meleleh begitu suara sang nenek memasuki indra pendengaran mereka.
"Ah Teppei, ini" sejumlah lembaran uang Yen terjulur ke hadapannya. "Biaya disana pasti besar. Ini, gunakan untuk keperluanmu disana."
"Tapi nek‒"
"Aduh, ayo cepat ambil. Nenek dan kakek tidak bisa menemanimu disana, jadi, kalau kau perlu sesuatu, telepon saja kakek dan nenek. Mengerti?"
"…iya" Ia tidak bisa menutupinya lagi.
"‒Ya ampun! Kenapa kamu malah menangis? Teppei, apa lututmu sakit lagi?"
Entah untuk kesekian kalinya, ia lupa bahwa perasaan dilindungi ini juga sungguh ia butuhkan.
Hatinya terasa begitu hangat, hingga kedua matanya bahkan tak mampu membendung rasa tersebut. Anak laki-laki itu menumpah ruahkan air matanya tersedu-sedu dihadapan kedua lanjut usia yang begitu menyayanginya. Tangan lemah terbuka lebar merangkul tubuhnya. Membawanya pada rasa perlindungan penuh kasih sayang keluarga.
"Cucuku sayang," begitu lembut diucapkannya.
"Hati-hati ya dijalan. Jangan khawatirkan kakek dan nenekmu, kami akan menjaga mereka dengan baik."
Senyuman terus terpancar dari wajah Kiyoshi. "Terima kasih banyak." Ucapnya. "Ngomong-ngomong, Izuki dan Hyuga…"
"Ah, mereka sudah jalan duluan tadi ke halte bus."
'Apa mereka masih marah ya…' gusarnya.
"Teppei," untuk terakhir kalinya pelukan lembut itu menyapanya.
"Cepatlah sembuh dan kembali. Kami akan selalu menunggumu."
Namun bukan untuk yang terakhir kalinya ia akan memanggil nama itu, "Iya, kakek, nenek."
EPILOGUE
"Hyuga, Izuki?"
"Dasar, kenapa lama sekali sih. Kami hampir mati kedinginan menunggu disini!"
"Kan sudah kubilang lebih baik menunggu di rumah tadi. Kau sendiri yang memaksa untuk cepat pergi, Hyuga."
"Berisik Izuki."
Melihat keduanya, kini suaranya terasa jelas untuk mengutarakannya. "Aku sudah memutuskannya. Setelah pengobatanku selesai, aku akan bergabung dengan tim nasional."
Keduanya mematung menatap Kiyoshi, tak berekspektasi untuk mendengar pernyataan Kiyoshi yang berbalik 180 derajat dari tadi malam.
"Bodoh. Buat apa kau memberitau kami?"
"Kau harus menepatinya ya. Walapun kita pernah satu tim, aku tidak akan melatihmu dengan ringan, Kiyoshi."
"Hah? Izuki, kau bicara apa?"
Izuki hanya tersenyum, tak berniat sama sekali untuk menjelaskannya.
"Oi kalian berdua, bisnya sudah datang. Kalau telat sampai bandara, kita bisa kena pukul Riko."
"Ubi yang paling enak dimakan saat musim dingin adalah 'R'ikong bakar. Kitakore!"
"Izuki, kalau Riko tau namanya jadi bahan plesetanmu kau bisa kena pukul."
"Eh?"
