Bukiyou na Shizu-chan kara no Purezento ch. 2
by : Hashizora Shin
Desclaimer : Durarara! By Ryohgo Narita
All characters and whole of Durarara!'s story is not belong to me
Warning : BoyXBoy, OOC, plain story, simple Shizaya, typo, etc
Only this story is belong to me, inspired by my experience
My first Shizaya fanfiction story
Enjoy!
Tak perlu waktu lama bagi si pirang itu untuk menemukan toko yang menjual apa yang ia ingin beli. Segera ia masuk kesana, diiringi tatapan kaget dan ketakutan dari penjaga tokonya melihat toko mereka dimasuki oleh pria yang terkenal seantero Ikebukuro karena kekuatannya yang abnormal dan luar biasa itu.
Tapi Shizuo tak ambil pusing dan lanjut mengitari toko itu mencari botol air minum yang pas. Bingung. Shizuo belum pernah beli botol minum, atau lebih tepatnya beli hadiah untuk orang lain, selain adiknya. Apalagi ini adalah untuk musuh bebuyutannya. Shizuo mengepal tangannya, berulang kali menarik nafas panjang, mencoba menyingkirkan segala hal yang bisa memicu kemarahan. Ia benar – benar tidak mau mengamuk di tempat itu.
Sekitar 15 menit berlalu, setelah cukup menimbang – nimbang yang mana dan memilih dengan kikuk, Shizuo berhasil mendapatkan botol air minum yang ia inginkan dan cocok untuk Izaya. Lalu ia beranjak menuju tampat yang menjual berbagai macam tas. Bingung lagi. Tas seperti apa ya?
Shizuo mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari orang yang bisa ditanya. Dan lewatlah seorang pegawai toko.
Shizuo bertanya dengan ragu – ragu. "Anu.. bisa minta bantuan?"
Si pegawai toko menoleh dengan ekspresi kaget berlebih, dan menjawab dengan gagap parah. "A-a-aa... y-ya, si-si-silakan! A-ada yang bi-bisa saya ba-bantu?"
Shizuo lega ia digubris. "Begini, bisa berikan aku rekomendasi tas yang cocok untuk membawa botol air minum seperti ini, untuk.. jalan – jalan?" tanya Shizuo.
Yang ditanya masih gagap, tapi berusaha mati – matian merespon permintaan Shizuo tanpa menatapnya. "A-ah be-begitu, ba-baik silakan i-ikut sa-saya..." si pegawai toko berjalan menuju tempat tas selempang, kemudian cepat – cepat mengambil contoh tas selempang yang cocok untuk botol air minum. "Si-silakan lihat contoh – contoh tas ini, apa ada yang sesuai dengan yang Anda butuhkan?" tanya si pegawai toko grogi.
Shizuo berpikir sebentar, ia membayangkan image Izaya. Entah kenapa Izaya itu selalu terlihat cocok dengan apapun yang gelap, ah tunggu bukannya tidak beralasan sih, karena sejak awal kepribadian dan kelakuannya itu sudah segelap imagenya, tapi ia penasaran apa hanya warna hitam yang cocok untuk Izaya, pikir Shizuo. Karena semakin dipikirkan semakin menyebalkan, ia memutuskan untuk memilih asal saja, dan akhirnya tangannya terulur memilih tas selempang berwarna hitam. "Yang ini saja kalau begitu."
"A-ah baiklah, kalau begitu silakan bawa tas ini ke kasir untuk pembayarannya.." ujar si pegawa toko sembari menyerahkan tas yang dipilih Shizuo dengan kikuk.
"Baiklah. Terima kasih banyak" lalu Shizuo segera menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Kamudian ia terpikir lagi, hadiah itu biasanya dibungkus dengan kertas kado kan? Shizuo tidak pernah membungkus kado. Jadi bagaimana caranya agar hadiah yang ia beli bisa ia bungkus dengan kertas kado? Shizuo pun bertanya kepada kasir.
"Apa disini juga menjual kertas kado?"
"A-ah tentu saja ada, apakah Anda ingin membungkus barang yang Anda beli sebagai hadiah?" tanya si kasir. Tampaknya si kasir bisa mengendalikan emosinya dan tidak grogi berlebih seperti pegawai toko yang tadi. Shizuo lega ia tidak perlu menjelaskan karena si kasir sudah tahu maksudnya.
"Ah.. ya begitulah.. apa aku juga bisa minta dibungkuskan? Aku tak pernah membungkus kado soalnya.." tanya Shizuo grogi. Menyadari grogi dan kikuknya sejak tadi, si pirang bermata coklat madu itu merasa dirinya makin seperti laki – laki yang kebingungan dan grogi membeli hadiah untuk pacarnya pertama kali, sampai Shizuo ingin muntah membayangkan hal konyol begitu, seakan – akan Izaya adalah pacar– ah tidak, bukan begitu. Tetap harus fokus kepada tujuan awal, mengerjai Izaya. Jangan sampai pikiran melanturmu melayang – layang sampai kesimpulan seperti itu. Dan Shizuo pun mencoba kembali berpikir lurus. Sampai ia disadarkan dari dunia pikirannya oleh suara pegawai toko yang merespon pertanyaannya.
"Tentu saja bisa. Silakan menuju ke arah sana, disana ada petugas yang menjaga display kertas kado dan Anda bisa meminta bantuannya."
"Ah, begitu ya, baiklah. Terima kasih banyak." ujar Shizuo singkat, setelah mengambil plastik belanjaannya dan uang kembalian, kemudian ia menuju display kertas kado.
"Permisi, aku ingin membeli kertas kado untuk membungkus barang yang kubeli ini..." ujar Shizuo grogi. Sejujurnya ia malu sekali mendapati fakta ia akan meminta seseorang membungkuskan kado untuknya.
"Selamat datang. Silakan pilih kertas mana yang mau dipakai..." jawab si pegawai toko itu ramah. Yang kali ini benar – benar profesional dan sepertinya ia tak takut dengan Shizuo.
"Hmmm..." Shizuo mengernyitkan dahi. Lagi – lagi ia harus bingung memilih. Merepotkan, pikirnya.
Si pegawai toko membaca kebingungan Shizuo dan memberi saran. "Kalau boleh saya tanya, hadiah ini untuk laki – laki atau perempuan?"
Shizuo tersengat tak nyaman dengan pertanyaan itu. Ia tidak bisa segampang itu menjawab untuk laki – laki, tapi ia juga tidak bisa berbohong itu untuk perempuan. Ia tidak mau dianggap menyimpang kesana, apalagi pasangannya si kutu sial itu, pikirnya. Shizuo terjebak dalam ketidaknyamanan jawabannya, tapi akhirnya ia memilih jujur saja.
"U-untuk laki – laki..."
"O-oh begitu, untuk usianya? Kalau mengetahui itu kita bisa memilih dengan mudah mau warna dan desain seperti apa.." jawab si pegawai toko ramah.
Shizuo naik darah. Pegawai toko ini menyebalkan sekali! Kenapa harus bertanya sampai seperti itu HANYA UNTUK MENENTUKAN KERTAS KADO?!, pikir Shizuo murka. Tangan Shizuo sudah gatal ingin melempar sesuatu dan itu harusnya terjadi sejak tadi jika saja pegawai toko itu bukan perempuan. Sebab Shizuo punya prinsip tidak melukai perempuan. Lalu dengan hembusan kemarahan di tiap nafasnya, ia berusaha menjawab pertanyaan tersebut setenang mungkin.
"Usianya... sekitar... yah, sama denganku..." jawab Shizuo perlahan dalam intonasi tenang yang dibuat – buat. Dan sepertinya si pegawai itu merasakan aura kemarahan Shizuo.
"O-oh be-begitu, ba-baik, bagaimana kalau warna dan desain ini? Saya rasa akan cocok..."
"Ya baiklah, apa saja tak masalah. Tolong dipercepat." Shizuo merespon dengan nada memerintah. Ia sudah muak dengan semua ini.
Si pegawai toko bergegas membungkus botol air minum dan tas yang dibeli Shizuo dengan wajah panik dan aura kegugupan, karena Shizuo terus memperhatikannya dengan tatapan yang intense. Sebenarnya bukan maksud Shizuo menatapnya dengan tatapan begitu tapi kejengkelan karena pertanyaan – pertanyaan tadi menguasainya. Si pirang itu memperhatikan bagaimana si pegawai toko membungkus hadiahnya seapik mungkin.
Tak sampai 10 menit, si pegawai toko yang cekatan itu memenuhi harapan Shizuo karena berhasil menyelesaikan pembungkusan kadonya dengan sangat cepat. Si pirang tak menyangka kado yang akan ia berikan kepada kutu loncat sial itu akan berwujud seapik dan sebagus ini. Shizuo menghargai hasil kerja si pegawai toko dengan memberinya senyuman dan ucapan terimakasih yang jujur sebelum meninggalkan toko tersebut. Yah, meskipun tadi menyebalkan, tapi hasil kerjanya tak buruk juga, pikir Shizuo.
Dan sekarang, saatnya ia pulang kerumah dan mungkin ia harus menambahkan ide dalam rencana simpel dan manisnya untuk Izaya besok. Mungkin ia harus keluar rumah pagi, dan berharap Izaya muncul lebih cepat. Atau mungkin ia datang saja ke Shinjuku...
4 Mei, 8.00am
Izaya mengetuk – ngetuk meja kerjanya dengan malas. Mata merahnya memandangi layar laptopnya dengan frustasi, bosan, dan jengkel. Hari ini ia sedang sial. Pekerjaannya kali ini tampaknya menemukan jalan buntu. Padahal dari awal semuanya berjalan lancar sebagaimana biasanya dan seharusnya pekerjaannya sudah berakhir kemarin. Tapi kenyataannya ia harus begadang semalaman karena harus berurusan dengan program komputer rumit dan menyusahkan yang tidak mudah ia tembus pertahanannya. Padahal tinggal itu, dan Izaya benci sekali halangan macam ini. Mungkin setelah ini ia harus menyiapkan rencana balas dendam kepada klien menyusahkan yang berani membuatnya kerja keras seperti ini. Merasa moodnya akan tambah buruk karena kebosanan dan kejengkelannya, terbesit ide untuk sejenak bermain – main dengan mainan kesayangannya, si monster Ikebukuro.
Namie melewati meja kerja Izaya dengan membawa nampan berisi kopi dan roti untuk sarapan pagi, melihat suasana hati bosnya sepertinya sedang buruk, dia jadi gatal untuk menggodanya. Ia bertanya dengan datar.
"Bagaimana pekerjaan kali ini? Kelihatannya kau menemukan jalan buntu. Moodmu terlihat jelek sekali pagi ini."
Menyeringai, si informan menjawab dengan nada sinis. "Kau mengerti sekali, Namie. Akan lebih menyenangkan kalau kau tak bersuara yang tak perlu, lho."
Namie tak peduli dengan buruknya suasana hati Izaya, ia memang ingin menggodanya. Ia berlalu meninggalkan bossnya, kembali menyelesaikan pekerjaaannya. Tak lupa dengan balasannya yang tak kalah sinis. "Sayang sekali ya, di hari seperti ini..." lalu menghilang dibalik pintu.
Izaya makin benci suasana ini. Lebih lama bersama dengan sekertarisnya yang brother complex parah ditambah lagi dengan buntunya pekerjaannya, membuat kepalanya berdenyut hebat dan ia harus segera mencari kesenangan.
Tanpa banyak pertimbangan Izaya beranjak dari kursinya, menyantap sarapan yang disediakan Namie dengan cepat dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia segera berpakaian dan menyambar jaket bulu kesukaannya. Tak perlu pamit pada Namie, wanita itu pasti tahu Izaya kemana.
Di jalan Izaya menyeringai senang membayangkan akan bertemu dengan monster kesayangannya itu. Bukan hal khusus bertemu Shizuo, tapi Izaya memang selalu berdebar – debar antara senang dan penasaran, serta adrenalin yang terangsang, membayangkan apa permainan yang bisa ia lakukan kali ini dengan Shizuo. Terutama hari ini, secara khusus ia akan jujur bahwa ia amat sangat ingin bermain dan melakukan permainan hidup mati itu dengan monster kesayangannya.
Dan tentu saja, Izaya berharap semoga Shizuo tidak akan bersikap tak terduga dan sekali ini saja, bereaksi seperti ekspektasinya.
Boleh – boleh saja kan berharap? Toh ini hari dimana dia punya hak untuk berharap kok, sama seperti manusia – manusianya yang punya satu hari dalam setahun dimana ia bisa berharap dan berdoa apa saja.
Tapi, kau terlalu naif untuk percaya semudah itu, Izaya.
Author note
Yap, chapter 2~
Lambat ya? Maaf... nggak nyangka perkembangannya bakal selambat ini, terlalu banyak yang pengen saya jelasin.. pupus sudah keinginan saya bikin one shot
Sebenarnya saya pengen lebih banyak ngejelasin psikologi dan pola pikir mereka berdua, tapi ceritanya bukan cerita yang perlu banyak mikir, idenya aja simpel begini, jadiya seadanya aja.. Izaya pun jadi terlihat simpel, jadi merasa bersalah saya... Izaya itu nggak simpel soalnya, Shizuo juga sebenarnya nggak simpel... tapi ya sudahlah
Saya harap ada yang mau kasih kritik dan saran dari cerita abal ini, saya pengen banget bikin cerita berkualitas buat pairing terfavorit saya ini _
Please review, guys!
