[bagian dua]

.

Hari-hari setelah kejadian penculikan Sousuke terekam dalam jejak blur di ingatan Sakura. Selain terus berusaha menjaga Sousuke sejarak panjang lengannya, Sakura hanya mendedikasikan waktunya di rumah sakit dengan mengambil shift ganda. Sakura memerlukan sesuatu yang bisa berhenti membuat malam-malamnya tanpa tidur, dan tampaknya bekerja ekstra adalah jawaban. Ketika Sakura hendak tidur, walaupun dengan pikiran dan benak kalut, kelelahan akan selalu lebih dulu mengklaim kesadarannya. Tidur Sakura berakhir tanpa mimpi, seperti kehendaknya.

Di hari kelima tingkah overdramatisnya, Sousuke akhirnya menyerah untuk terus bersabar menghadapi ibunya. Lima hari tanpa kehidupan normalnya cukup untuk membuat Sousuke meledakkan emosi. Dia bahkan tidak bisa memainkan piano yang dicintainya. Beruntung dia masih punya Uchiha Sasuke untuk menemani hari-hari membosankannya dikurung di rumah sakit—dan tampaknya adalah satu-satunya tempat yang Sakura izinkan untuk Sousuke datangi selain kamar mandi dan bilik kamar dokter jaga. Ruangan bercat hijau itu perlahan-lahan menimbulkan klaustrofobia terhadap jiwanya yang bebas. Syukurlah pihak rumah sakit merasa perlu untuk membebastugaskan Dokter Haruno selama setidaknya tiga hari ke depan, mengingat dokter satu itu telah berhasil meng-cover shift tiga dokter sekaligus. Jadwal jaga rumah sakit menjadi luar biasa kacau. Belum lagi dengan banyaknya keluhan yang datang dari rekan kerjanya.

Dan 'ketegangan' sudah tidak lagi patut untuk mendeskripsikan apa yang Haruno Sakura rasakan. Beban tekanan, kemarahan, dan ketakutannya membuatnya luar biasa sensitif dan lekas marah. Bukannya Sakura dari awal sudah punya tulang-tulang ramah, tetapi setidaknya bentakan-bentakannya tidak pernah keluar dari ruang UGD. Kini pihak-pihak tak bersalah yang mendapat berkah dengan tidak bekerja di UGD turut mendapat semprotannya. Untungnya, bentakan itu hanya melibatkan pekerjaan—perawat yang ketahuan mengobrol dan cekikikan, dokter-dokter yang tak cekatan menangani pasiennya, hingga petugas kebersihan yang lupa memasang papan peringatan 'AWAS LICIN' di koridor. Setiap kali dia membentak, rasanya ketegangan Sakura bertambah satu. Gerakan pertambahannya mengikuti kurva eksponensial setiap detiknya.

"Kau tahu, Sakura-chan, kau jadi lebih galak daripada Tsunade-baachan." Naruto memandangi wanita muram di depannya dengan tatapan was-was.

Wanita yang disebut-sebut serta merta mendongak dari makan malamnya. "Oh…" Hari ini dia berhasil dibujuk (setengah dipaksa) untuk mau menginap di kediaman Uzumaki dan tengah berusaha merelakan putranya dibawa Gaara ke latihan resitalnya. Ibu satu anak itu akhirnya menyerah terus-terusan mengurung Sousuke walaupun luar biasa segan.

Uzumaki Hinata yang duduk tepat di seberang Sakura melemparkan senyum kecil kepada saudarinya. Tangannya menepuk-nepuk punggung tangan Sakura, turut prihatin. "Kau hanya terlihat bingung, Sakura-chan."

Setelah menyesap sedikit jus jeruknya, Sakura mendesah. "Hmm, galak, sensitif, dan sering kehilangan orientasi. Aku sudah mendengarnya puluhan kali dalam satu minggu ini." Sakura mendengus sebal.

Pasangan Uzumaki di depannya saling lempar senyum 'aku-paham' mereka. "Bicaralah kepada kami," bujuk Hinata lembut.

Tak kuasa melawan penawaran pasangan suami-istri itu, Sakura kembali mendesah. Dia sandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya meremas lap makannya. "Ini tentang kesaksian Sasuke."

"Ah aku mendengar sedikit tentang adegan berdarahnya," Naruto terkekeh kecil.

Sambil mencoba menyusun kalimat penjelasannya, Sakura mendongak memandang langit-langit apartemen Naruto. "Jadi di hari kejadian itu, sekitar pukul tiga siang, Sousuke sedang berada di taman dekat sekolahnya. Sendirian." Sakura memberi penekanan mantap pada kata terakhirnya. "Dia sedang menunggu Gaara menjemputnya untuk latihan rutinnya—Demi Tuhan aku sudah ingatkan bocah satu itu untuk menunggu di sekolahnya, selalu kukatakan begitu, tapi harusnya aku cukup tahu Sousuke itu luar biasa keras kepala."

Pasangan Uzumaki mencoba untuk tidak melemparkan argumen dari mana datangnya kekeraskepalaan itu. Keduanya tidak berkomentar dan mengisyaratkan Sakura untuk melanjutkan penjelasannya.

Sakura mendengus keras-keras. "Singkatnya, sore itu Sasuke tengah melewati jalan di depan taman ketika dia melihat Sousuke yang sedang dipaksa masuk mobil van oleh ugh—" Sakura memasang wajah seakan siap muntah kapan saja.

"Kabuto…" imbuh Naruto pelan.

"Ya terima kasih," sergah Sakura sensitif. Dia tidak suka mendengar nama pria sinting itu disebut-sebut. Sakura kemudian memberi jeda untuk menarik nafas dalam. "Sasuke yang melihatnya segera diam-diam mengikuti mobil yang membawa Sousuke. Aku tidak tahu kenapa pria itu tidak menghubungi polisi atau apa, duh, aku sama sekali tidak tahu apa yang ada dalam otak jeniusnya!" —menanggapi ledakan kecil temannya itu, Naruto mengulum senyum. "Sasuke membuntutinya, yang ternyata menuju pengadilan. Dan di situlah bagaimana pria terkutuk itu tahu aku sedang berbincang dengan Obito, menelponku untuk menakut-nakutiku. Sisanya kalian tahu sendiri," tutup Sakura dengan desah nafas panjang.

"Sasuke-teme membuntutinya lagi ketika mobil van itu dikendarai sampai di blok bekas gudang dan akhirnya memutuskan untuk mengonfrontasi langsung?" tanya Naruto memastikan.

Sakura mengangguk sebal. "Di sanalah dia terluka, tapi berhasil membawa Sousuke—yang syukurnya masih bisa mengingat nama rumah sakit tempatku bekerja walaupun tengah syok. Yang kusayangkan adalah kenapa Sasuke tidak merasa perlu memanggil polisi selama aksi nekatnya itu. Jelas-jelas akan berbahaya mengonfrontasi langsung seorang penculik. Bagaimana kalau ternyata pria sial itu punya anak buah yang—" Sakura tidak punya daya melanjutkan. Mukanya berubah pucat pasi ketika membayangkan skenario terburuk yang mungkin terjadi waktu itu. Sasuke yang akan terluka lebih parah atau bahkan lebih buruk, dan dia akan kehilangan Sousuke.

Menyadari ketakutan sahabatnya itu telah mencapai stadium mengkhawatirkan, Naruto dengan tangkas mengalihkan perhatiannya. Sahabat seumur hidupnya itu terkadang punya imajinasi yang terlalu gamblang bahkan untuk kebaikannya sendiri. "Sousuke sudah aman sekarang dan Sasuke-teme juga mendapat perawatan terbaik."

Sakura memejamkan mata, menarik nafas panjang, dan berusaha menenangkan diri. Yang terpenting adalah tidak satu pun dari imajinasinya menjadi kenyataan. Sasuke dan Sousuke baik-baik saja. Benar kata Naruto. Itu yang terpenting. "Kau benar," desahnya perlahan.

Dengan seringai lebar Cheshirenya, mata biru Naruto mengeluarkan gemerlap janggal. "Omong-omong, kau perhatian sekali kepada Sasuke," godanya.

Sakura memberinya tatapan sengit. "Dia penyelamatku," sergah Sakura defensif. "Keadaannya tentu saja menjadi urusanku."

Tanpa bisa dicegah, tawa Naruto membahana dalam ruangan. "Kau menyukainya," klaimnya seketika. Sepasang alis emasnya bergeliut menggoda. "Cinta, barangkali?"

Hell no.

Kedua pipi Sakura memerah—akibat kejengkelan atau rasa malu, Sakura sendiri tidak tahu. "Tidak, aku sangat berterima kasih kepadanya. Hutangku sangat besar," tandas Sakura dengan nada final dan wajah keras kepala.

Naruto bisa-bisanya memasang wajah merajuk. "Kau tahu, ada lima tahap umum yang dialami seseorang ketika jatuh cinta."

Ketika Naruto memulai lagi kebiasaan sok tahunya, Sakura selalu membalasnya dengan ketertarikan yang dibuat-buat. "Coba katakan kepadaku."

Pria itu mengangguk penuh semangat, menyalahartikan antusiasme Sakura. "Dimulai dari ketertarikan, disusul ketakutan, sedikit penyangkalan, lalu penerimaan, berakhir dengan penyerahan diri dan di situlah cinta berada."

Sakura mendengus mencemooh. "Bagaimana mungkin kau tahu begitu banyak hal tidak berguna?"

"Ha-ha," ujar Naruto kering, sengaja tidak memedulikan sarkasme Sakura. "Kau sedang di nomor dua: ketakutan," konklusinya.

"Sayangnya aku belum memasuki nomor satu, jadi tidak mungkin aku sudah di nomor dua atau bahkan tiga," bantah Sakura.

"Itu karena kau sedang menyangkalnya," tukas Naruto.

"Oh, aku di nomor tiga sekarang?" Sepasang alis Sakura naik tinggi, menantang.

Terlihat frustasi dengan perdebatan mereka, Naruto menggerutu. "Kau tertarik pada Sasuke-teme, aku yakin itu.

"Aku berhutang budi kepadanya. Yang aku rasakan adalah rasa berterima kasih yang tidak bisa kugambarkan besarnya."

"Itu juga bisa jadi sebuah ketertarikan, Sakura-chan! Kau merasa berhutang budi, ingin terus mengetahui kondisinya, kesehariannya, kemudian hidupnya, dan TADDA!" Naruto membentangkan tangannya ke depan, spektakuler. "Pernikahan."

Sakura menyeringai mencemooh. "Lalu apa yang terjadi dengan nomor dua hingga lima, fox boy?"

Untuk kali ini, Naruto kelabakan. "Tidak penting! Akhirnya kau akan menikah dengannya. Itu yang terpenting. Tenang saja, Sasuke sudah setuju."

Sepasang mata hijau bening Sakura melebar luar biasa besar. "Setuju?!" pekiknya tanpa sempat menghentikan diri. "Apa maksudmu dengan setuju?!"

Naruto dan Hinata sama-sama meringis mendengar pekikan tak manusiawi Sakura. Ruang makan mereka tidak terlalu besar, menyebabkan suara Sakura memantul-mantul di dinding dan kembali menyerang gendang telinga mereka yang tidak berdosa.

"Aku sempat menceritakan ideku kepadanya," aku Naruto malu-malu sambil menggosok-gosok daun telinganya.

Sakura masih melolot, kalau bisa kini sudah lebih besar dari sebelumnya. Rasa-rasanya dua bola optik itu bisa menggelinding ke atas meja kapan saja.

"Dia…dia setuju, kau tahu. Dia dengan tekun mendengarkan dan terlihat sepakat denganku."

"Memangnya dia bilang apa?" tanya Sakura dari balik gigi-giginya yang gemeletuk.

"Sasuke tidak berkata apa-apa, hanya diam—"

"Lalu bagian mana dari itu semua yang menunjukkan 'setuju', Naruto?" sergah Sakura tak sabar, memotong kalimat Naruto.

"Kalau kau cukup mengenal Sasuke, yang begitu itu sudah tanda kesepakatan. Dan karena aku sangat mengenal Sasuke, aku tahu apa artinya!" kata Naruto ofensif.

"Idemu itu konyol, terima kasih." Sakura mendengus dan melipat tangan di depan dada. "Coba koreksi jalan pikiran suamimu ini, Hinata." Ketika wanita yang disebut hanya menatap balik Sakura dengan pandangan penuh sesal, Sakura tahu dia telah kalah melawan pasangan lovebird itu. Dia lemparkan tangannya ke udara, merasa dongkol tetapi tidak mampu berkata-kata. "Ugh—"

"Ayolah, Sakura-chan. Ini ide bagus! Kau butuh seorang suami—"

Sakura serta-merta melemparkan lap makannya ke wajah Naruto yang berbinar luar biasa terang. "Kau yang butuh suami!" sergah Sakura tajam. "Jangan libatkan aku!"

"Sousuke sudah menganggap Sasuke seperti ayahnya sendiri!" kilah Naruto. "Kau lihat sendiri 'kan bagaimana senangnya Sousuke setiap kali bersama Sasuke, dan dari pengamatan seseorang yang mengenalnya dengan baik—yaitu aku—Sasuke juga gembira ketika Sousuke datang. Sasuke memang bukan tipe kebapakan, tapi lihat saja bagaimana interaksi mereka."

Kehilangan kata-kata pedas untuk membalas argumen konyol sahabatnya, Sakura hanya melemparkan tatapan belatinya. Dia lipat tangan di depan dada dan menutup mulut rapat-rapat. Hinata yang sedari tadi dengan bijak menyingkir dari perdebatan dua sahabat itu akhirnya menghela nafas panjang. Dia punya seorang saudara yang perlu ditenangkan dan seorang suami yang perlu diberi pengertian. Bukan suatu posisi yang dia idam-idamkan. Percayalah.

Pintu kayu bercat hitam itu terbuka tanpa suara ketika Sakura memutar kenop logamnya. Hanya terdengar suara halus yang berasal dari televisi yang tengah menampilkan berita jeda siang. Sang penghuni kamar, Uchiha Sasuke, duduk dengan wajah bosan di ranjangnya sambil bersandar ke dinding. Sebuah majalah otomotif terbuka begitu saja di pangkuannya, terlupakan. Ketika pintu kamarnya terbuka, dia segera menoleh dan mendapati Sakura tengah memasang wajah geli, berdiri di ambang pintunya. Wajahnya yang impasif serta-merta memberengut melihat wanita yang merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa seseorang yang sehat seperti dirinya masih belum mendapat izin bebas dari rumah sakit.

"Halo, Sasuke-kun. Apa kabar?" sapa Sakura manis, berpura-pura tidak menyadari kemasaman yang seolah menguar di udara bebas di sekitar pria itu.

"Hn," Sasuke memberinya gerutuannya yang biasa.

Sakura segera mengambil duduk di sebelah ranjang Sasuke sambil menenteng dua tas kertas. "Kalau terus memberengut nanti jahitan di dahimu terbuka lagi," omel Sakura halus. Ada nada geli dalam suaranya yang tertangkap telinga Sasuke.

Menyadari dia tengah diejek, Sasuke mendengus, masih enggan mengeluarkan suara. Fokusnya kembali pada layar televisi yang dipasang di seberang ruangan. Televisi layar datar itu kini tengah menyiarkan acara reality show komedi. Sakura yang turut menekuni televisi ikut tertawa panjang di setiap guyonan dan tingkah konyol yang dilontarkan dalam acara itu. Sasuke, entah dengan kekuatan yang dari mana asalnya, hanya diam dengan wajah impasifnya lagi. Tidak sedikit pun ada kerutan humor di wajahnya.

"Kau tidak suka menonton komedi?" tanya Sakura heran begitu derai tawanya reda. Dia raih tas kertas yang lebih besar dan meletakkannya di atas ranjang di sisi pasiennya.

Sasuke menunduk melihat barang bawaan Sakura, kemudian tanpa berkata-kata mulai membongkar isinya. Beberapa buah segar, tetapi tidak ada favoritnya. "Aku tidak mendapat kesenangan dengan melihat orang-orang bertingkah konyol dan membodohi dirinya sendiri."

Selalu saja serius. Sakura mendengus mendengar alasan Sasuke. "Itu namanya hiburan, Sasuke."

"Hn." Setelah beberapa saat membongkar isi bawaan Sakura dan mendapati tidak ada satu pun buah di sana yang bisa dia makan tanpa perlu dikupas, Sasuke mencampakkannya. Fokusnya kembali ke televisi, melewatkan sepasang mata Sakura yang diputar malas menanggapi sikapnya.

Tanpa diminta, Sakura meraih pisau lipat yang juga dia bawa dan mulai mengupas salah satu apel. Begitu potongan pertama dia letakkan di atas piring, tangan Sasuke sudah meraihnya dan mulai makan tanpa sedikit pun memindahkan tatapan dari layar televisi. Begitu seterusnya hingga tiga apel tandas di tangan Sasuke seorang. Sakura hanya diam menekuni apel-apel yang harus dikupasnya dan Sasuke yang makan apelnya dengan kunyahan pelan sambil memperhatikan tayangan di depannya. Keduanya enggan repot-repot memulai pembicaraan. Keheningan adalah satu hal yang sama-sama mereka nikmati ketika berdua. Setelah apel ketiga Sasuke dan jeruk kedua Sakura lenyap, Sakura mulai bersiap-siap pergi.

"Aku harus kembali bertugas. Apa ada yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Sakura sembari bangkit dari duduknya dan meletakkan sisa buah yang dibawanya di meja samping ranjang Sasuke.

"Selain berkas-berkasku atau tanda tangan surat bebasku, tidak usah repot-repot," sergah Sasuke malas. Uchiha tidak meminta, lebih-lebih merajuk.

Sakura memandang pria itu malas. Namun kemudian, dia meraih tas lain yang dia bawa dan menjatuhkannya ke pangkuan Sasuke. "Itu untuk dua hari dan hanya berkas yang sangat sangat sangat penting yang kubawa. Ucapkan sampai jumpa untuk berkas yang lain, Sasuke-kun."

Kali ini Sasuke yang memandang Sakura dengan dongkol walaupun sedikit tersembunyi dengan wajah impasifnya.

"Berterima kasihlah karena aku masih mau membawakanmu beberapa. Melihat kondisimu, kau masih perlu rawat inap hingga seminggu ke depan," tutur Sakura dalam mode dokternya.

Sasuke hanya mampu menatap wanita yang berdiri di depannya dengan pandangan tak percaya. "Kau menyebalkan, kau tahu itu?"

"Terima kasih." Dia memutar bola mata tak peduli. "Nanti sore Sousuke akan ke sini. Jangan habiskan jatah kerjamu seketika, kau paham?"

"Hn."

Sakura kemudian tersenyum manis, meremas lembut tangan Sasuke sebelum berbalik dan menghilang di balik pintu, melanjutkan shiftnya di UGD.

Ingatkan Haruno Sakura sekali lagi mengapa penting baginya untuk berada di sini sekarang, meninggalkan Sousuke bersama Sasuke di rumah sakit, dan tidak menjambak rambut siapa pun, khususnya tamu di hadapannya, untuk menyampaikan niat luhurnya—di sebuah kafe mungil yang manis (demi Tuhan, manis!), di suatu senja yang syahdu bersama seorang pria yang tampak gagah dengan pakaian rapi dan wajah penuh suka citanya.

Ini semua adalah ide cemerlang seorang wanita yang mengaku-aku sebagai sahabat terbaiknya yang tengah berusaha berbuat baik. Kalau saja Sakura tidak mengenalnya selama separuh hidupnya, barangkali dia sudah akan menjadikan seorang pria duda bahkan sebelum menikah. Oh jangan lupakan pula Naruto dan ide yang seharusnya-brilian itu.

Suami? Sakura tidak seputus asa itu, terima kasih, tetapi keselamatan Sousuke? Itu tidak bisa ditawar-tawar. Perlindungan terhadap putra delapan tahunnya bisa dia dapatkan dari pihak berwajib. Bukankah seharusnya mereka punya satu divisi sendiri yang menangani keselamatan saksi dan korban? Ya, ya, Sakura memang brilian.

Menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan menghimpun kesabarannya yang nyaris tiada, Sakura kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia perlu pikiran dingin untuk melewati sore ini tanpa perlu berurusan dengan pihak berwajib karena motif yang sama sekali berbeda. Niat awalnya mengatur pertemuan ini adalah untuk berkonsultasi dengan Uchiha Shisui, seorang detektif yang dengar-dengar punya rekam jejak cemerlang di Kepolisian Kyoto.

Kata kuncinya adalah niat awal. Kalau saja pria tiga puluh lima tahun—yang telah lama tidak menjalin hubungan dengan wanita lain sejak musim gugur tahun lalu (sebuah kebaikan tak terkira dari Uchiha Shisui yang merasa perlu mencantumkan informasi tersebut ke riwayat hidupnya)—kini tidak tengah sibuk menjinakkan rambut hitamnya yang selalu tampak acak-acakan bagai terkena tiupan angin badai.

Sakura tengah membutuhkan seorang detektif profesional dengan prestasi gemilangnya, bukan pria lajang yang mati-matian berusaha mencuri perhatiannya. Sudut alis Sakura berdenyut tak menyenangkan memikirkannya. "Aku butuh kerja samamu sebagai detektif di sini," ujar Sakura kaku membuka pembicaraan.

Air muka Shisui langsung jatuh, menampakkan wajah bingung dan kecewanya. "Uh?"

Berlagak gagap sekarang? Sakura bertambah jengkel. Barangkali kejengkelan dan keengganannya memang tampak jelas, tak peduli sebesar apa upayanya untuk membentuk satu senyum di wajah—atau seringai maniak? Pria di depannya kini justru terlihat seperti cacing kepanasan. Kemeja kremnya yang untuk sekali ini terlihat seolah baru keluar dari penatu tampak lusuh seketika, mengikuti gemerlap di wajahnya yang ikut menghilang.

Merasa pria tersebut belum akan sadar dari keadaan stupornya dalam beberapa menit ke depan, Sakura mengalihkan perhatiannya pada sedotan plastik di tangan. Benda sekali pakai itu telah sukses dia ubah menjadi origami bintang. Pada sedotan keempat, Sakura mulai bosan dan tak sabar menunggu Shisui berhenti bersikap bingung.

Untungnya, kejenuhannya segera teralihkan berkat kedatangan seorang pelayan—yang merasa perlu turun tangan meminta pesanan langsung dari meja mereka dua, melihat kedua tamu itu tidak tampak akan melakukannya dalam waktu dekat.

"Apa Anda ingin memesan sekarang?" Usia pelayan perempuan itu pasti tak lebih dari delapan belas. Melihatnya mengerling setiap tiga detik ke arah Shisui benar-benar tidak membantu mengurangi kejengkelan Sakura.

Menyadari interupsi yang ditunggu-tunggu, Shisui tersentak. Entah dari mana datangnya kilasan senyum manis membutakan yang diarahkan kepada pelayan itu. "Apa yang kau punya?"

Pelayan satu itu dengan malu-malu mengulurkan buku menunya kepada Shisui dan bersiap dengan bolpoin dan catatannya.

Merasa campur tangannya di sini tidak dibutuhkan, Sakura kembali menekuni origaminya dan diam-diam merasa puas. Hmm, dia memang terampil menggunakan tangannya, yang sepertinya telah dia wariskan kepada Sousuke.

Lepas dari pengawasannya, sepertinya pria itu telah memesan nyaris separuh jenis muffin, pancake, dan cheesecake yang dimiliki kafe ini. Sentakan kaget pelayan mereka lah yang kemudian menyadarkan Sakura. Namun sebelum dia sempat menengahi, pelayan itu sudah buru-buru pergi dengan pesanan tak manusiawi Shisui.

Begitu gadis itu lepas dari pandangan, Sakura memicingkan mata ke arah sang detektif. Kalau saja tatapan bisa membunuh, tak diragukan lagi Sakura adalah top scorernya.

"Apa…kau ingin sesuatu yang lain?" tanya Shisui was-was ketika menerima tatapan sengit Sakura. Dia tampak resah. "Umm…aku hanya tidak yakin apa yang kau sukai," akunya lamat-lamat.

"Kau bisa bertanya, Romeo," sergah Sakura, "dan aku sangat mampu memberikan jawaban."

Wajah resah dan takut-takut itu menghilang begitu saja. Dia kembali mengeluarkan wajah bohlamnya yang membuat Sakura memutar bola mata jengkel. "Apa itu artinya kau Julietku?" tanyanya berseri-seri.

"Tentu, kita memang ditakdirkan menjadi malapetaka bersama," ucap Sakura dengan nada suara dan ekspresi wajah datar. Tanpa merasa perlu mencurahkan perhatian berlebih pada perubahan drastis air muka Shisui yang semasam cuka glasial, Sakura segera membuka topik tujuannya. Ayo selesaikan kegilaan ini. "Omong-omong, aku ingin mengajukan permintaan perlindungan kepada kepolisian. Kau bisa mengurusnya?"

Momen yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba juga; tepatnya di hari keenam penyanderaan Uchiha Sasuke di rumah sakit oleh seorang dokter keras kepala yang menolak menandatangani surat bebas rumah sakitnya.

"Minum ini dua kali sehari, pagi dan malam sehabis makan. Kau hanya boleh bekerja dengan komputer maksimal delapan jam sehari—" Pada tahap ini, Sasuke memicingkan mata dan keduanya terlibat semacam kontes siapa yang punya tatapan paling sengit. Sakura menang—Sasuke menggerutu jengkel, lagi. "Kau harus tidur setidaknya enam jam sehari—jangan beri aku tatapan itu, mister. Di sini aku dokternya." Sakura menyergah sebal.

Ketika Sasuke lagi-lagi membalas sergahan Sakura dengan satu hn jengkelnya, Sakura akhirnya memutuskan untuk menandatangani berkas keluarnya.

"Omong-omong, Itachi sudah menunggu di lobi."

Sambil merenggut pakaiannya dari kursi, Sasuke melangkah dengan langkah lebar-lebar menuju kamar mandi; tak sabar untuk segera melepas pakaian rumah sakitnya yang mulai membuatnya memunculkan reaksi alergi kulit dan mata. Uchiha Sasuke tidak pernah menyukai gagasan umum sebuah rumah sakit. Dan dirawat—koreksi, ditahan di bangunan super steril dalam jangka waktu lebih dari dua puluh empat jam sudah cukup mengganyang habis kewarasannya. Berani bertaruh, kalau Sasuke tidak juga dilepaskan dari sini dia akan menjadi pasien tetap rumah sakit jiwa dalam waktu dekat.

Sasuke tidak menghabiskan waktu lama mengganti pakaian rumah sakitnya. Dia nyaris merobek dua kain hijau tipis itu karena urgensi. Pakaian kasualnya yang terdiri dari celana bahan dan kemeja flannelkini terasa seperti pakaian surgawi. Oke, Sasuke kelewat hiperbolis, tetapi yang jelas dia lega sekali bisa menanggalkan pakaian tahanannya.

Ketika dia keluar dari kamar mandi, ranjang panggangnya dan tas hitam yang berisi peralatan pribadinya telah rapi. Sakura kini tengah memasukkan berbagai botol dengan isi warna-warni ke dalam sebuah kantung kertas.

Sakura segera mendongak ketika mendengar pintu terbuka. Alisnya terangkat geli. "Tak sabar ingin pulang, mister?"

Sasuke mendengus, memilih untuk tidak meladeni Sakura dan ejekannya. Dia meraih tas pakaiannya dan setengah hati mengambil kantung kertas yang Sakura siapkan secara pribadi. Kemudian mereka berjalan bersama menuju lobi rumah sakit, dimana Uchiha Itachi telah menunggunya.

"Sasuke!" Suara melengking bocah delapan tahun terdengar dari lobi. Dia yang tadi duduk di samping Itachi kini melonjak berdiri dan melompat-lompat riang.

"Apa yang Ibu katakan tentang sopan santun, Sousuke?" Sakura merespon nyaris seketika.

Sousuke segera berhenti melompat-lompat. Walaupun rona berseri-seri di wajahnya tidak meredup, bocah itu berdiri lebih tegap. "Maaf, Ibu."

Sakura mengangguk puas, tidak melewatkan ekspresi geli di wajah dua Uchiha bersaudara itu. Sakura membalas kedua pria itu dengan wajah memberengutnya.

"Ibu, Itachi bilang—"

—Sakura menyentakkan kepalanya ke arah putranya dengan wajah tidak setuju.

"Biarkan saja," Sasuke menyela dan harus rela menjadi penerima tatapan tajam dokter dengan temperamen setipe petasan itu.

"—eh, Paman Itachi," koreksi Sousuke dengan wajah sedikit cemas, "bilang akan mengantarku ke tempat Paman Gaara. Apa boleh, Ibu?"

"Asal Paman Itachi tidak keberatan, tentunya."

"Aku tidak keberatan," dukung Itachi. "Kami bisa sekalian makan siang bersama."

"Dengan Sasuke juga!" Sousuke kembali berseru girang.

Dan ibu satu anak itu kembali memasang wajah tak setujunya kepada Sousuke. "Sousuke."

"Eh," Sousuke gelagapan, berkedip berkali-kali karena bingung, "tapi rasanya aneh, Ibu. Namanya sama dengan namaku," keluh Sousuke dengan bibir mencebik. Yep, sudah pasti kebiasaan yang dia pungut dari ibunya.

"Nama kalian berbeda," elak Sakura penuh penekanan, merasa sedikit jengah karena menyadari putranya punya nama yang senada dengan pria yang berdiri di sampingnya. Well, pasti ada yang salah dengan Sakura. Kedua nama itu adalah nama yang umum dan siapa saja bisa memilikinya. Sakura dulu mempunyai tiga teman bernama Makoto dan beberapa pasiennya ada yang bernama Sakura, tetapi entah mengapa kali ini dia justru jengah setengah mati.

"Biar saja. Aku tidak keberatan," kata Sasuke dengan nada suaranya yang monoton.

"Kalau-kalau kau lupa, mister, dia anakku," sergah Sakura dengan wajah memberengut.

Uchiha Sasuke hanya berdecak, tidak menggubris rentetan kekesalan dokter yang mengeluhkan tentang sopan santun yang harus diajarkan sejak dini dan berbagai perkara lain yang hanya seorang ibu yang akan menganggapnya penting. Dia berjalan menuju meja resepsionis, berbincang dengan seorang perawat untuk sejenak dan menuliskan sesuatu di atas kertas. Ketika dia kembali, selembar post-it tertempel manis di kening Sakura. "Kertas jimat," katanya.

Sakura memberengut, menyentak lepas kertas merah muda itu dan membaca tulisan di atasnya. "Apa ini semacam mantranya, tuan pendeta?" tanyanya dengan dengusan.

Sasuke menyeringai arogan. "Ayo pergi, Sousuke. Cheeseburger dan milkshake sudah menunggu," ujarnya seraya mengacak-acak rambut berantakan Sousuke.

Bocah delapan tahun itu tersenyum berseri-seri, kontras dengan wajah ngeri ibunya.

"Kau tidak berencana memberi anakku makan siang seperti itu 'kan, tuan-tuan Uchiha?" ancam Sakura dengan mata memicing.

Sasuke melemparkan tatapan tak sabarnya. "Yang benar saja, dia ini delapan tahun."

"Tidak, tidak, mister. Kau tidak akan membawanya ke sana. Pola hidup sehat harus dibiasakan sejak dini," klaimnya tandas.

Lagi-lagi Sasuke mengabaikannya. Dia meraih tangan Sousuke dan menuntunnya keluar rumah sakit. "Lihat saja, Dokter," ejeknya, meninggalkan Sakura yang memberengut kesal memandangi kertas jimat yang bertuliskan mantra pengusir mara bahaya: nomor ponsel pribadinya.

Haruno Sakura tidak lagi mencoba mengarahkan kemana kaki-kakinya harus melangkah, atau berlari. Sakura juga tidak mengingat kapan kali terakhir dia berlari begitu cepat, pun sejauh ini. Kalau ingatannya tidak salah, dia sudah melewati tiga blok; masih mengenakan scrubs biru gelapnya, sepatu kanvas, dengan rambut yang terikat luar biasa berantakan. Jangan tanya bagaimana wajahnya sekarang. Jangan. Kalian tahu apa yang telah shift angker lakukan kepadanya.

Berbelok ke kiri, menabrak apa saja yang mendapat kesialan dengan berdiri di jalur larinya, Sakura berlari semakin cepat. Otaknya belum memahami mengapa dia justru berlari ke arah yang ditujunya sekarang, dan kakinya pasti punya pusat komando sendiri selain otak dan tulang belakangnya. Kini dia mendapati dirinya berdiri dengan nafas yang tidak lagi satu-satu tetapi sudah setengah-setengah, di depan sebuah gedung berlantai dua puluh dengan dinding-dinding kaca yang gemerlap langit dan emas ketika tertimpa sinar matahari siang.

Apa yang kulakukan di sini, adalah apa yang pertama kalinya tercetus dalam benak Sakura ketika dia mengenali gedung yang berdiri gagah dan kokoh di depannya.

Realife Homes Ltd. Kantor pusat perusahaan real estate paling bergengsi saat ini.

Dan itu tidak menjelaskan apapun, kecuali jika tambang uang itu adalah satu-satunya tempat dengan peluang tertinggi baginya untuk menemui Uchiha Sasuke.

Dan mengapa Haruno Sakura berlari empat blok jauhnya dengan sepatu kanvas tipis yang mulai menyakiti telapak kakinya ketika bergesekan dengan aspal yang terpanggang matahari musim panas, menuju kantor Uchiha Sasuke?

—karena pria itu adalah satu-satunya yang terpikir pertama kali dalam benak Sakura. Bukan Naruto, bukan Ino, bahkan bukan pula polisi yang seharusnya dia gantungkan untuk menangkap pria sial yang baru tadi menerornya lagi. Kali ini tak segan-segan, langsung dari nomor rumah Sakura sendiri. Gila. Dunia semakin sadis kepadanya.

Kapan semua ini akan berhenti?

Ketakutan menghantamnya bagai tsunami.

Tidak ada deskripsi lain yang lebih sesuai untuk menggambarkan gejolak emosinya tadi, dan kini. Tanpa bisa diberi kesempatan berpikir dua kali oleh kakinya, Sakura sudah melesat dari ruang kerjanya, berlari ke satu-satunya arah yang tampak jelas dalam benaknya yang dihalangi awan tebal ketakutan. Dia bahkan tidak berpikir untuk mengganti pakaian lusuh dan berdarahnya dengan sesuatu yang lebih bersih dan pantas.

Sakura masih mengingat dengan kejernihan luar biasa bagaimana suara itu terdengar di telinganya. Sakura mengingatnya dengan kejelasan yang terlalu baik. Dan merasakan mual seketika.

Ketika ketakutan itu kembali menyerangnya, Sakura kehilangan kemampuan berpikirnya. Dia kembali berlari menyerbu pintu masuk ganda gedung itu, tidak memedulikan dua petugas keamanan yang luar biasa bingung dan kaget melihat seorang dokter UGD yang tampak baru turun dari rollercoaster neraka, tidak memedulikan para karyawan yang sibuk bekerja dan yang dia tabrak tanpa ampun. Dia baru berhenti ketika kedua lengannya ditarik dari belakang oleh sebuah tenaga yang luar biasa kuat, tepat empat meter dari pintu lift.

Sakura tersentak berusaha melepaskan diri, tetapi kekuatannya mengkhianatinya.

"Lepas!" sergah Sakura parau.

"Anda tidak punya izin, ma'am. Silakan temui resepsionis kami lebih dulu untuk membuat janji yang diperlukan." Sebuah suara dalam khas seorang pria terdengar dari belakangnya.

Sakura membeliak. Mana ada waktu baginya untuk menemui resepsionis bodoh? Lebih-lebih menyusun janji bertemu? Nyawa Sakura sedang dipertaruhkan di sini. Kewarasan Sakura sedang dilelang bebas sekarang ini.

"Tidak—Sasuke!" Sakura gemetar dalam cengkraman tak kenal belas kasih pria itu. Matanya masih membeliak menatap pintu lift yang terbuka dan tertutup, pintu yang akan mengantarkannya menuju ruangan Sasuke, dimana pria itu akan bisa menyelamatkan Sakura. Lagi.

Namun, pintu logam hitam itu justru semakin lama semakin jauh dari jangkauannya. "Tidak—jangan!" pintanya parau. Sakura harus segera bertemu Sasuke. Karena kini, satu-satunya tempat teramannya hanyalah bersama pria itu. Karena kini, tempat perlindungannya telah diserbu tanpa ampun. Pertahanan terakhirnya—rumahnya—telah runtuh. "Sasuke!" Sakura tidak menyadari seberapa keras dia berteriak. Yang bisa dia rasakan adalah cengkraman yang menahannya bagai lidah api dan membakar kulitnya; pandangannya yang mulai mengabur; tenggorokannya yang tersiksa ketika dia tergugu di bawah tarikan pria asing itu. "Sasuke—"

Dan keajaiban kadang-kadang datang menyapa.

Pintu ganda lift hitam itu terbuka, menampakkan lima orang pria dalam setelah jas kerja mereka yang licin tanpa noda dan kusut.

Sakura berteriak lagi, entah kepada siapa, karena hanya itu yang bisa dilakukannya. Pandangannya telah buram sepenuhnya. "Sasuke!" Sakura mengedipkan mata, pandangannya kembali jernih, tetapi sedetik kemudian kembali blur. "Sasuke…" Kini, giliran suaranya yang berkhianat. Kekuatannya belum kembali, masih tertahan di bawah tekanan cengkraman dua tangan di lengannya, memaksa kaki-kakinya terseret mundur.

Dia tidak bisa menangkap dengan jelas raungan kemarahan yang tiba-tiba terdengar, mengagetkan siapa pun yang mendengarnya—bahkan pemilik tangan yang tengah menarik Sakura. Namun Sakura, tubuhnya gemetar oleh euforia. Lebih-lebih ketika lengan kebasnya terbebas. Yang tidak disangkanya adalah kaki-kakinya tidak lagi mampu menahan beban tubuhnya. Lantai marmer di bawahnya membesar dan bersiap mendekapnya dalam pelukan dingin. Alih-alih, sepasang lengan lain datang kepadanya.

Sakura mencoba meraih apapun yang bisa jemari berkuku tumpulnya raih, meremas apapun yang bisa tangan gemetarnya remas, mencakar apapun yang bisa kuku-kukunya cakar. Sakura putus asa, tetapi kedua lengan yang kini menyangga hidupnya kokoh menahan Sakura di pinggang. Dia tersedu, tidak membiarkan apapun menjauhkannya dari nirwananya, tidak membiarkan apapun menghalanginya dari pusat dunianya.

"—tidak seorang pun yang bisa melarangnya menemuiku!" Sakura mendengar pria itu berteriak, gemuruh amarahnya tertangkap jelas telinga Sakura yang menempel di dada hangat itu, di atas jantung yang berdetak mantap.

Sakura mencoba kembali bicara. Suara datang dengan putus-putus. "Sa—suke—"

"Husssh…"

Sakura merasa dirinya ditimang, ketakutannya tersapu bersih. Didekap pria itu adalah tempat teraman yang membuatnya mampu meluruskan rasionalitasnya yang kacau. Bibirnya gemetar ketika dia mencoba. "Kabuto—" bisiknya susah payah. "—dari apartemenku."

Hanya yang seperti itu sudah memakan banyak tenaga darinya. Ketakutan membuatnya linglung. Sakura tidak bisa mendata apa yang terjadi di sekelilingnya. Dia hanya menurut, membiarkan kaki-kakinya disapu dari lantai dan kepalanya bersandar di bahu yang kokoh, dan hanya rasa kehangatan yang berasal dari Sasuke yang bisa dia rasakan.

Kekalutan dan rasa syok itu masih membayang pekat dalam benaknya, mengelabui logikanya. Sakura akan menimpakan kesalahan pada ketakutan, nanti; setelah dia mendapatkan kembali akal sehatnya. Namun kini, dia enggan memikirkan hal-hal selain rasa aman dan tenang ketika Sasuke membiarkannya menyandarkan kepala ke atas bahunya; membiarkannya menautkan jemarinya ke lehernya; membiarkannya berlaku bahwa yang begini adalah hal paling alamiah bagi keduanya.

Samar-samar dari balik indra yang mulai tumpul akibat rasa lelah yang menerjang, Sakura merasakan bibir dingin mengusap keningnya yang panas. Dia membiarkan hela angin halus, ayunan langkah mantap, dan rasa hangat berbau cendana menyelimutinya dengan sempurna, dan kesadarannya hilang tanpa bekas.

Ombaknya telah kembali tenang.

Sakura berdiri gamang di ambang genkan apartemen yang sudah menjadi rumahnya selama hampir enam tahun ini; tempat pelarian pertamanya begitu terbebas dari kekejaman masa lalunya. Satu-satunya tempat yang merupakan rumah baginya karena, Tuhan Mahamengetahui, dua rumahnya sebelumnya adalah neraka dan panggung penyiksaan—secara harfiah. Namun rumah ini, rumah ini adalah perlindungannya, menawarkan ketentraman dan realita bahwa kehidupan mulai berbelok ke arah yang lebih baik. Dan di sini kini dia berdiri mematung, memandangi beberapa agen polisi berkeliaran di dalam rumahnya—membongkar ini itu, menyodok ini itu—dengan tatapan nyaris hampa.

Sakura tidak lagi tahu harus berpikir apa, harus bereaksi bagaimana selain terpaku menatap kesibukan di hadapannya berlangsung. Sakura merasa telah kehilangan harapan.

Kabuto telah mengulitinya, meninggalkannya tanpa kekuatan dan hanya bisa memandang hampa pada apa yang tersisa. Pria itu benar-benar tahu bagaimana caranya mematahkan arang kehidupan Sakura; arang kehidupan yang tak lagi bermakna. Jiwanya telah terpapar panas inferno, hanya menyisakan bongkahan arang hitam dalam jiwanya. Sakura dalam beberapa kesempatan bertanya-tanya kapan kiranya sebongkah hitam itu terkikis rapuh dan habis menjadi abu.

"Ayo duduk," suara berat familier yang datang dari belakangnya adalah yang menyentak Sakura dari keadaan tak sadarkan dirinya.

Uchiha Sasuke berdiri di belakangnya, memegang kedua siku Sakura di kedua tangannya yang besar dan dengan gerakan membujuk mendorong Sakura masuk, sesekali memanggil namanya untuk membawa kembali kesadaran wanita itu. Dengan kehadiran Sasuke dan jaminan keamanannya, Sakura tidak bisa mundur ke tempat pengasingan dirinya—dunia lain yang dia bangun di luar realita; dunia yang sering Sakura masuki ketika kehidupan memberinya sengsara terlalu banyak untuk dia tanggung seorang diri. Rasa hangat yang menjalar dari siku ke tangan, meresap ke dalam dada, membuat Sakura tersadar. Ketika dia menginjakkan kaki di apartemennya, seolah alam lain yang dimasukinya dan bukannya apartemen berkamar dua yang wangi vanila dan jeruk. Kalau bukan karena keberadaan kekuatan mantap Sasuke, entah bagaimana jadinya Sakura sekarang.

Pria itu mendudukkan mereka berdua di sofa yang ada di ruang tengah; duduk dengan jarak minimal, puas dengan ketenangan masing-masing. Keberadaan Sasuke mencegahnya melarikan diri; membuatnya lebih mantap memandang realita, tetapi di satu sisi telah membuat realita menakutkan itu lebih mudah diterima. Secara instingtif, Sakura menyandarkan tubuhnya ke sisi tubuh Sasuke yang, Sakura syukuri, segera memosisikan diri untuk mengakomodasinya lebih baik. Kepalanya beristirahat di lekukan bahu Sasuke.

Dia hirup aroma hangat di sekitarnya. "Baumu harum—seperti cendana dan salju," tanpa sadar Sakura menggumam dengan suara mengantuk. Keberadaan Sasuke selalu membuatnya lupa untuk bersikap awas; rasanya sulit untuk tetap bangun dan bertahan ketika rasa tenang menjadi tak terbatas. "Pohon cendana yang tertimbun salju."

"…hn."

Sasuke membiarkan Sakura mengendus lehernya dan merapat. "…seperti rumah."

"Aku tidak tahu soal itu." Suara dalam Sasuke menyebabkan gemuruh di dada.

"Kau membuatku merasa tenang, merasa semuanya baik-baik saja—"

Sasuke dengan cepat menimpali. "Semuanya memang baik-baik saja."

Sakura mengangguk. Senyum mengantuk terbentuk di wajahnya. "Aku tahu. Karena kau di sini." Sakura tersenyum mengantuk.

Mereka kemudian membiarkan kebisuan mengisi jarak di antara keduanya. Kehangatan yang meresap ke dalam pori-porinya meninabobokannya, dan Sakura dengan senang hati membiarkannya.

"Bagaimana latihan resitalmu, Sou-chan?" Uzumaki Hinata yang duduk di seberang Haruno Sousuke membuka pembicaraan di meja makan ketika esok malamnya mereka makan bersama di apartemen Naruto.

Sousuke mendongak dari makan malamnya, kemudian melemparkan senyumnya yang berseri-seri. "Hebat sekali, Bibi! Paman Gaara sangat jeli mengajariku. Mengoreksiku di sana-sini," lapornya bahagia, "tapi terkadang menyebalkan karena rasanya Paman Gaara tidak pernah puas," tambahnya dengan wajah murung. "Apa yang harus kulakukan dengan jari pendekku ini?" desah Sousuke gemas memandangi jemarinya—yang pendek karena usianya yang belum matang.

Pasangan Uzumaki terkekeh.

"Dia guru yang hebat," ujar Sakura sambil tersenyum menenangkan. "Paman Gaara hanya berusaha untuk menjadikanmu lebih baik."

Terlihat belum puas dengan jawaban ibunya, Sousuke hanya mengangguk. "Ya, Paman sangat hebat. Aku ingin menjadi sepertinya nanti kalau sudah besar."

"Kalau begitu jangan mengeluhkan latihannya," Sasuke mengacak-acak rambut putra yang duduk di sebelahnya. "Kau akan menjadi pianis hebat."

Sousuke berseri-seri dan mendongak memandang Sasuke. Dia mencintai ibunya nomor satu, tetapi Sasuke adalah sosok yang diletakkannya dua langkah di depan—figur contoh yang ingin dicapainya.

Sakura memberengut. "Duh sekarang dia lebih mempercayai kata-katamu daripada ibunya," gerutunya.

Sasuke dan Sousuke menyeringai miring. Pasangan Uzumaki tertawa kompak.

"Anak laki-laki memang selalu lebih menurut kepada ayahnya, Sakura-chan."

Jika kalimat yang Naruto lontarkan tanpa berpikir itu mengganggunya, Sasuke tidak menunjukkan reaksi berarti. Pria itu hanya mengacak-acak rambut Sousuke yang sedikit berantakan dengan seringai tipis di sudut bibir, bahkan seolah tidak mendengar selorohan Naruto. Sousuke semakin berseri. Sakura hanya memutar bola mata, merasa kalah melawan logika Naruto.

Mereka kembali melanjutkan makan malam dengan obrolan singkat di sana-sini; menanyakan hari-hari Hinata mengajar, pekerjaan Naruto yang sempat dua kali lipat karena Sasuke yang sempat cuti, shiftSakura yang lebih banyak didominasi shift petang hingga dini hari, kebosanan Sasuke yang sudah bukan rahasia, dan latihan resital Sousuke.

"Omong-omong, kalian berdua akan tinggal dimana sekarang?" tanya Naruto.

"Apa maksudmu?" Sakura balas bertanya dengan kening berkerut. "Tentu saja di apartemenku, Naruto."

Naruto menghela nafas, mirip ayah yang telah lelah berusaha meluruskan logika anak lima tahunnya. "Apartemenmu tidak aman, Sakura-chan."

"Kalian bisa tinggal bersama kami," tawar Hinata. "Di sini terlalu sepi saat Naruto lembur."

"Yeah terima kasih, teme," kata Naruto sarkastik.

"Bukan salahku kalau kau terus menumpuk berkasmu dan baru mengingatnya sehari sebelum tenggat hari," sergah Sasuke defensif.

Dengan seringai di wajah Sakura berkata ringan, "kurasa sudah waktunya kalian punya anak sendiri."

Tidakkah imut menyaksikan pasangan suami-istri yang sudah menikah selama empat tahun masih tetap merona karena topik mengenai momongan? Sakura tak habis pikir.

"Ka—itu urusan nanti, Sakura-chan!" elak Naruto tergeragap. "Yang penting sekarang adalah keselamatan kalian berdua!"

"Oh terima kasih sudah menjadikan aku dan putraku alasan. Aku sangat menghargainya." Sakura mendengus, membuat Naruto seketika merasa bersalah.

"Ah—tinggallah bersama kami untuk sementara, Sakura-chan," pinta Hinata halus dengan wajah memerah.

"Tidak ada yang salah di apartemenku sendiri," elak Sakura enggan. Sejujurnya saja dia takut berada di apartemennya seorang diri, tetapi dia harus tetap kuat. Kabuto tidak akan macam-macam dan ada polisi yang akan melindunginya dan Sousuke. Semuanya akan baik-baik saja. Itu mantranya.

"Di sana tidak aman," Sasuke berargumen. Jari telunjuknya memutari tepi gelasnya. Pandangannya tidak diarahkan kepada Sakura tetapi kepada Sousuke yang masih berusaha menyumpit ikannya tanpa merusak susunan durinya. Ketekunan yang ditunjukkan anak delapan tahun itu mengejutkan Sasuke karena dirinya sendiri bukan anak yang tekun.

"Aku bisa menjaga diri, Sasuke," bantah Sakura keras kepala.

Sasuke menghela nafas berat. "Ini bukan hanya tentang kau dan harga dirimu," ujar Sasuke menyatakan pikirannya. Sakura yang duduk di seberangnya mengerutkan kening hendak protes, tetapi Sasuke lebih dulu menyela. "Aku tahu kau bisa menjaga dirimu, tapi yang lebih penting adalah Sousuke." Bocah yang disebut-sebut mendongak, kemudian tersenyum kepada Sasuke. Sasuke membalasnya dengan senyum tipisnya sendiri di sudut bibir sebelum kembali menekuni keseriusannya. "Biarkan orang lain membantumu."

Sakura terdiam dengan bibir gemetar yang dikatup rapat. Dia menghela nafas, menyadari tatapan Naruto dan istrinya yang menyerukan persetujuan mereka pada pendapat Sasuke. Dia tidak terlalu suka kalah berargumen. Itu membuat kekeraskepalaannya dipertanyakan.

Sakura adalah wanita yang kuat dan independen. Hidup telah mengajarkan kepadanya banyak hal, tetapi memercayai orang lain bukan salah satunya. Dia perlu berusaha keras mengizinkan orang lain masuk ke dalam hidupnya. Tuhan tahu betapa sulit pekerjaan itu baginya. Namun, pria ini…pria yang duduk di seberangnya, yang udara di sekitarnya berteriak 'patuhi aku!' kepada setiap orang di dekatnya, yang tanpa susah payah telah menguapkan segala pertahanan diri Sakura; begitu mudahnya dia memasuki hidup Sakura dan menjadi bagian penting di sana, bagian yang tak tergantikan.

Sakura tahu, seperti dia tahu apa yang terbaik bagi Sousuke, dia tidak bisa membantah Sasuke. Tidak ketika pria itu benar. Membantah Uchiha Sasuke yang salah tidak pernah merupakan perkara mudah, lebih-lebih yang benar.

"Aku tahu…" desah Sakura menyerah. "Aku akan tinggal bersama Naruto dan Hinata."

Suasana tegang di meja makan itu, yang terlewatkan oleh Sousuke yang terus tekun bersama ikannya, akhirnya berakhir. Dan seperti yang semua orang ketahui, Naruto tiba-tiba berseru.

"Ah, bagaimana kalau kalian tinggal bersama Sasuke-teme saja?" tawarnya. Alis blondenya bergeliut menggoda.

Sasuke yang tidak tampak sedikit pun kaget mendengar celetukan tak logis Naruto (Sakura berani taruhan Naruto yang berpikir belakangan itu sudah tidak lagi mengagetkan Sasuke) hanya sekilas memandangi pria blonde itu sebelum mengambil sumpitnya dan membantu Sousuke memisahkan daging ikan dari durinya. Sousuke kembali tersenyum berseri-seri kepadanya. Pria itu praktis telah menjadi idolanya.

Sakura melemparkan tatapan sengit, membakar, dan menjanjikan tiada ampunan bagi Uzumaki Naruto. Puji Tuhan, Sakura menyayangi Hinata layaknya saudari sedarah.

"Eh tapi itu ide bagus, Sakura-chan!" pekik Naruto berusaha membela diri sebelum Sakura murka. Kedua tangannya terangkat ke udara. "Sasuke tinggal sendiri di condonya yang besar dan menyedihkan. Kujamin di sana lebih aman!"

Sakura menutup mulut. Dulu ide pernikahan, sekarang ide tinggal bersama? Duh. Sumpit kayu di tangannya terancam patah jadi dua. Dia kemudian memandang Sasuke dengan tatapannya yang masih meradang. "Aku heran kenapa sampai sekarang logikanya yang seperti emmental ini belum membuat bangkrut perusahaanmu."

Uchiha Sasuke menghela napas.

Setelah penolakan kerasnya waktu, siapa sangka Sakura justru mendapati dirinya berdiri di depan pintu kayu eboni berpoles mengilap yang terbuka separuh itu, memberinya sedikit celah untuk mengintip ke dalam rumah. Tas-tas besar berserakan di sekitar kakinya. Tangannya yang berkeringat menggenggam tangan Sousuke, mencari kekuatan dari kehadiran putranya yang ceria. Duh, dia mulai gugup.

Siapa pula yang tidak?

Mengategorikan condo yang berada bilangan pusat kota sebagai sebuah rumah yang besar adalah suatu penghinaan.

"Rumahmu indah sekali," puji Sakura takjub.

Berdiri di sampingnya di ambang pintu, Sasuke mendengus. "Ini hanya ruangan bersekat berdinding empat."

"Setiap orang yang tidak buta dan idiot akan berkata ini rumah yang indah, Sasuke."

"Tidak," bantah pria itu. "Orang bisu tidak akan berkata begitu."

"Ugh." Dia kesal tiap kali mulut tajam Sasuke melontarkan hal-hal menjengkelkan seperti itu. Selera humor pria itu benar-benar patut dipertanyakan. "Bagaimanapun juga, ini rumah yang indah," ujar Sakura tandas.

Menghela nafas berat, Sasuke menyerah. "Rumahmu lebih indah." Sakura sudah hendak menyangkal dengan 'apartemenku hanya separuh condomu dan sederhana', tetapi Sasuke segera memotong. "Setidaknya apartemenmu adalah rumah, bukan bangunan yang hanya kau gunakan untuk sekadar tidur di malam hari."

Sakura terkejut, kemudian merona. Lidahnya sukses terkunci.

"Masuklah."

Dengan ragu-ragu, Sakura menuntun putranya yang tampak sama takjubnya dengan dirinya memasuki condo mewah itu. Dan di sini Sakura merasa begitu kecil, tidak signifikan dalam dunia glamor seorang calon CEO keluarga tersohor. Bukannya latar belakang keluarga Sakura patut dipertanyakan, toh keluarganya juga tidak jauh-jauh dari dunia Sasuke berasal. Sederhana bukanlah nama tengah kedua orang tuanya, tetapi Sakura sejak awal tidak pernah mau repot-repot mengenal dunia mereka. Palsu, menurutnya, karena pertemanan hanya beralasan kekayaan dan setiap orang selalu meragukan maksud orang lain.

"Kita akan tinggal di sini, Ibu?" bisik Sousuke terkagum-kagum, setengah memastikan.

"Uh—sepertinya begitu…?" jawab Sakura ragu-ragu. Fokus matanya ditujukan ke mana saja selain sosok Sasuke yang sedang berjalan mendekat dengan tas-tas bawaan Sakura di tangan.

"Ayo kutunjukkan kamarmu, Sousuke," Sasuke mengulurkan tangan yang dengan segera diterima Sousuke senang hati. Senyum menyeringainya luar biasa lebar dan mata hazelnya berbinar seperti warna hijau hutan di musim panas.

Begitu dua laki-laki itu menghilang di lantai dua, Sakura mendudukkan diri di sofa yang ada di ruang tengah dan tepekur memandang lantai berkarpet. Karpet di bawah kakinya terasa lembut dan tebal, sewarna es dengan pola melingkar-lingkar rumit keperakan di tepinya. Semua barang di tempat ini terlihat sederhana, tetapi tidak gagal meneriakkan kemewahan. Bahkan lapisan sofa tempatnya duduk sehalus beludru. Orang tidak perlu takut sakit pinggang jika harus tidur di sofa. Nah sekarang, bagaimana dia bisa sampai di sini? Lebih-lebih bersama seluruh barang-barangnya.

Sakura tidak bisa memberikan penjelasan lengkap, mengingat dia sendiri hanya samar-samar mengingatnya. Barangkali karena kerepotannya ketika harus bolak-balik membawa Sousuke dari apartemen mereka ke tempat Naruto atau ke apartemen Ino, atau membawanya ke rumah sakit karena tidak ada yang bisa menjaga Sousuke selama shift malamnya. Dan Sasuke membuktikan peran besarnya di sini. Dia tidak tahu bagaimana Sasuke mengetahui kapan harus menelponnya dan membawa Sousuke, tetapi nyatanya Sasuke selalu ada ketika Sakura tidak lagi punya seseorang untuk dimintai bantuan. Ketika akhirnya kerepotan itu terus berlanjut hingga lebih dari seminggu dan Sousuke mulai rewel karena lelah dilempar ke sana-sini, Sakura memutuskan untuk menyerah dan setuju pindah ke tempat Sasuke.

Sakura jadi bertanya-tanya kemana perginya sosok wanita yang tegas, mandiri, dan kuat itu. Oh kau tidak membutuhkannya lagi sekarang, suara lain dalam benak Sakura menimpali, pria itu bisa menjagamu lebih baik. Bahkan dari dirimu sendiri.

Sakura kemudian menanyai dirinya 'lalu apa yang harus kulakukan kalau dia tidak lagi ada?', tetapi pertanyaan itu dihadang keheningan yang menulikan.

"Jadi, Sakura," Yamanaka Ino melemparkan senyum cemerlangnya seraya mengaduk-aduk cappucinonya. Mata almond sebiru padang conflower itu gemerlap oleh binar yang sudah Sakura hafal sebagai suatu tanda bahaya. "Sekarang kau tinggal bersama Uchiha Sasuke?"

—yep, berbahaya. Sakura lihai melihat pertanda, tetapi tidak cukup cepat menghindarinya.

Entah berapa kali sudah Haruno Sakura menghela nafas berat kepada sahabatnya satu ini. "Ya, Ino. Sekarang aku tinggal bersama Sasuke."

Yamanaka Ino terkekeh, tetapi anehnya tidak berkomentar. Kini, gemerlap di mata ekspresifnya berubah serius. "Dia pria baik."

Apakah Yamanaka Ino yang itu baru saja memuji seorang pria? Koreksi Sakura kalau pendengarannya berkhianat. Tidak? Bahkan tunangannya sendiri saja tidak pernah dia puji-puji selain dengan sumpah serapah dan gerutuan 'pemalas'. Beruntung bagi Ino, tunangannya itu terlalu malas untuk benar-benar menanggapi amukan wanita itu.

"Kau memuji seseorang!" seru Sakura tanpa sadar.

Ino memberengut. "Apa? Aku juga bisa memuji, kau tahu!" sergahnya defensif.

Mendengarnya membuat Sakura tertawa geli. "Ya, ya, aku tahu Sasuke pria baik. Sangat baik. Memangnya kau mengenalnya?"

Ino mengangkat bahu sembari menyesap cappucinonya. "Tidak juga. Shikamaru mengenal keluarganya. Aku memintanya memberitahuku sedikit tentang Sasuke."

Sakura bertanya-tanya sedikit yang seperti apa yang Ino maksud tadi. "Ah…"

"Keluarga terhormat, terpandang, mereka semua gentleman. Pria-pria Uchiha, maksudku, tapi dengar-dengar, mereka bukan pria-pria yang ekspresif."

Dalam benak, Sakura mengamini. Selama seminggu mereka tinggal bersama, Sakura menyaksikan sendiri tata krama pria itu yang hanya bisa dikategorikan sebagai seorang gentleman. Pria itu bahkan merombak salah satu ruangan di condonya menjadi ruang hobi untuk Sousuke; repot-repot mengerahkan jasa pindahan untuk membawa grandpiano Sousuke dari apartemen Sakura ke tempatnya, memasangnya gagah di ruang tengah yang nyaris kosong. Putranya begitu gembira dan melompat memeluk pria yang diidolakannya itu, menyeringai lebar hingga Sakura meringis karena takut mulutnya bisa robek, dan semenjak hari itu moodnya secerah musim panas yang garang. Sousuke dua kali lebih semangat berlatih pianonya.

Selama itu pula Sakura menyadari Sasuke jarang berbicara. Dia hanya berbicara ketika Sousuke melibatkannya dalam percakapan, itu pun dengan jawaban secukupnya. Sakura tidak kaget sebenarnya, mengingat selama lebih dari seminggu dia telah merawat Sasuke di rumah sakit. Namun kala itu, Sakura mengira sikap pendiamnya diinduksi karena keengganannya tinggal lebih lama di sana. Nyatanya, pria itu pendiam hingga ke tulang-tulang. Benar-benar berkebalikan dengan Sousuke yang selalu kesulitan menghentikan mulutnya.

"Dia cocok untukmu. Tipe-tipe pria yang kau butuhkan."

Barangkali Sakura harus mematenkan muka cemberutnya. "Baiklah, nona sok tahu. Tipe pria seperti apa yang aku butuhkan selain yang bekerja sebagai polisi?"

Ino menyeringai nakal dan alisnya bergeliut menggelikan. "Yang bisa menaklukan kekeraskepalaanmu, tahu bagaimana cara menjinakkan emosimya yang berdaya ledak nuklir itu, punya aura memerintah, berani menghadapi monstermu."

"Separuhnya berisi hinaan terhadapku," protes Sakura.

Ino hanya mengangkat bahu. "Memang begitu. Kau tidak mau dibantah, tidak mau bergantung kepada orang lain, sok mandiri, dan berderet-deret sifat yang tidak manis sama sekali."

"Memangnya kenapa? Justru aneh kalau aku berisik, manja, dan suka main-main sepertimu setelah semua ini."

"Maka dari itu Sasuke yang cocok," sergah Ino tak sabar. "Dari ceritamu, dia terdengar seperti pria yang penuh perhatian, pengamat yang jeli, dan sensitif."

"Kau sendiri yang bilang pria-pria Uchiha tidak ekspresif. Pengamatanmu salah, nona."

"Duh, Dokter Haruno," keluh Ino main-main. "Mereka memang tidak ekspresif, tertutup, tapi bukan berarti mereka tidak punya perasaan. Hanya karena ketiadaan bukti, bukan berarti bukti itu benar-benar tiada 'kan?" argumennya.

"Menarik, Sherlock, menarik, tapi dalam teori probabilitas Bayesian perspective, ketiadaan bukti sama saja dengan bukti itu tidak ada karena telah gagal mendukung hipotesis." Sakura mendecih sinis.

"Carl Sagan, terima kasih," koreksi Ino, "dan aku tidak peduli dengan apa yang Asian itu katakan."

"Bayesian, nona, Bayesian!" sambar Sakura mengoreksi.

"Masa bodoh, tapi serius saja. Aku mendukungmu kalau-kalau kau memerlukan dorongan dariku. Dia pria hebat. Sousuke sudah menganggapnya ayah, jadi kau hanya perlu menganggapnya suaminya, dan semuanya beres."

"Apa kau menyamakan gelombang berpikirmu dengan Naruto? Rasa-rasanya otak kalian bekerja dengan mekanisme serupa. Seperti emmental, kau tahu."

Ino membeliak di kursinya. "Apa aku baru saja mendengar kau menyamakan otakku dengan keju emmental, nyonya Uchiha?"

"Dan kau baru saja memanggilku nyonya Uchiha!" sergah Sakura kasar.

"Dan otakku tidak berlubang-lubang seperti keju bodoh itu!"

"Dari segi anatomi otak memang bukan struktur padat dan penuh, asal kau tahu saja, nona."

Kehabisan amunisi, Yamanaka Ino menyudahinya dengan 'hmph' keras kepala.

Keduanya kemudian menolak bicara untuk beberapa menit, hingga akhirnya Ino kembali memulai percakapannya. "Kau juga membutuhkan dia, Sakura, bukan hanya Sousuke."

Sakura terdiam memandangi muffin karamelnya yang utuh. "Aku tahu."

"Aku merasakan ada tapi di sana."

Sambil menarik nafas panjang, Sakura berusaha menyusun kata-katanya ke dalam kalimat koheren karena kini otaknya terasa penuh dan terisi dengan berbagai hal tak masuk akal. "Aku hanya…aku tidak terbiasa dengan ini semua. Aku terbiasa sendiri, melindungi Sousuke dan diriku dengan kekuatanku sendiri. Lalu tiba-tiba dia datang, melucutiku dari setiap pertahanan diri yang kubangun susah payah selama ini, membuatku dan Sousuke bergantung kepadanya…bergantung terlalu banyak kepadanya…"

Pandangan mata Ino meneduh, memahami. "Kau takut."

"Tidak," sanggah Sakura. "Aku sudah menginjak ranah histeria," lanjutnya getir. Rahangnya mengeras dan dia susah payah menelan ludah supaya tidak tersedak nafasnya.

"Memangnya apa yang salah dengan ini semua, Sakura?" Ino meraih tangan sahabatnya, membongkar tinju tangan Sakura yang memutih. "Ini…sempurna."

"Itu dia! Ini semua sempurna, kalau kau tidak memasukkan Kabuto di sini." Sakura menarik nafas panjang dan dalam, menenangkan monster yang menjepit jantungnya tanpa ampun. "Terlalu sempurna sampai membuatku berpikir ini semua mimpi, dan ketika aku terbangun aku harus kembali menghadapi neraka itu bersama Sousuke. Aku tidak bisa—" Sakura berusaha menahan pandangannya tetap jelas karena kini sudut-sudut matanya mengerut berusaha memeras air mata. "—aku, aku dan Sousuke bisa gila kalau ternyata ini semua tidak nyata; kalau suatu hari Sasuke akan pergi dari kehidupan kami yang kacau, berkata dirinya telah lelah berurusan dengan ini semua. Aku…aku bergantung terlalu banyak kepadanya, Ino. Dia penyelamatku, pahlawan Sousuke…"

Ino hanya bisa terdiam sambil menggenggam tangan sahabatnya, memandangnya pilu tanpa daya. Dia sudah mengenal wanita hebat di depannya ini sejak mereka masih kecil. Dia telah menyaksikan binar kebahagiaan di mata Sakura meredup hingga akhirnya tandas tak bersisa. Dia adalah saksi hidup kekacauan dunia yang mempermainkan kehidupan seorang Haruno Sakura. Dan kini, dia kembali menyaksikan binar itu menyala, tetapi ada kabut tebal bernama ketakutan traumatis yang membayanginya.

Ino mengerti dengan baik, memahami dari mana ketakutan ini berasal. Dia tidak belajar psikologi hanya untuk gengsi semata. Dia paham, tetapi tidak pernah kuasa membantu sahabatnya. Sakura tumbuh dewasa menjadi wanita kuat, tetapi tempurung granitnya itu dibangun hanya untuk melindungi dirinya yang sebenarnya rapuh. Dan kini, Sakura telah sedikit demi sedikit membuka tempurung yang selamanya membungkusnya, mengizinkan seorang pria asing mengintip jauh ke dalam jiwanya.

Pria ini—pria beruntung ini punya kekuatan yang sebenar-benarnya untuk menghancurkan seorang Haruno Sakura beserta kewarasannya yang tersisa. Namun, Ino ingin percaya. Hingga saat ini, dia tidak pernah menyesal memercayai instingnya, dan kali ini instingnya mengatakan bahwa Uchiha Sasuke adalah pria yang tepat untuk sahabatnya. Dia ingin memercayai ada kehidupan dimana Sakura dan Sousuke bisa berbahagia, sebenar-benarnya: bersama Sasuke. Dia mati-matian ingin memercayainya, dan lebih ingin lagi Sakura memercayai hal yang sama.

Ino terus diam memandangi Sakura yang berusaha mengumpulkan ketenangannya. Di depannya, wajah Sakura mengerut seolah menahan sakit yang sangat, seolah dia bisa hancur kapan saja, tetapi matanya tetap kering. Dia kemudian tertawa dengan suara parau, serak, dan berkarat seolah dia telah seharian menangis, dan suara itu lebih menyakitkan daripada mendengar deguk tangisnya yang sesungguhnya. "Aku bertanya-tanya apa yang salah denganku."

"Tidak ada yang salah denganmu. Mungkin kehidupan yang salah." Ino kembali meremas lembut tangan Sakura, kemudian mendekatkan minuman yang masih tersisa separuh kepada pemiliknya. Dia tunggu dengan sabar sahabatnya menyesap minuman dinginnya, melihat ketenangan kembali menguasai rautnya. Ino memutuskan untuk mengalihkan topik. "Jadi kau akan kemana setelah ini?"

Sakura menggigiti ujung sedotannya. "Supermarket, kurasa. Aku perlu berbelanja untuk makan malam. Ini sudah jam tiga. Kau mau ikut?"

Ino mendengus, berusaha menahan semburan tawanya. Matanya kembali gemerlap. "Aww istri yang baik." Humornya kembali sekuat tenaga. Beginilah berteman dengan Haruno Sakura. Gurauan dan candaan, kemudian momen dari hati ke hati, dan mereka bisa kembali saling bercanda. Sakura serasa punya kemampuan menyimpan rapat-rapat sisi lemah dirinya, seperti yang baru saja terjadi. Begitu tersimpan rapi, dia bisa menerima apa saja.

Sakura memberengut. "Aku seorang ibu," ujarnya tandas.

Ino mengibaskan rambut pirang pucatnya ke belakang bahu. "Tentu, tentu. Kau seorang ibu: de facto dan de jure. Kau seorang istri, hanya perlu membuatnya de jure karena sekarang kau sudah memenuhi de facto."

Haruno Sakura terus memberengut dengan mata terpicing, tetapi mendapati dirinya tidak bisa membalas kata-kata sahabatnya. Duh, kemana perginya lidah sarkatisnya? Barangkali tersimpan dalam brangkas emosionalnya.

"Masa bodoh. Aku harus segera pergi."

"Hai, hai, aku ikut, nyonya."

Keduanya kemudian mengemudikan mobil masing-masing menuju supermarket terdekat. Suasana supermarket serba ada itu lumayan padat, terutama oleh pengunjung wanita.

"Kau mau masak apa?" tanya Ino seraya mengambil kereta belanja dan mendorongnya untuk Sakura.

"Hmmm…" Sakura bergumam panjang sembari mengedarkan pandangan. "Sousuke tidak akan keberatan dengan casserole ayam, tapi aku tidak tahu apa yang Sasuke sukai…"

Di sampingnya, Ino mendengus. "Duh kalau menjadi istri serumit kau, kurasa aku harus mengulur tanggal pernikahanku."

"Lucu, Ino, lucu sekali," balas Sakura sarkatik. "Pernikahanmu tinggal…berapa minggu lagi? Kurang dari empat minggu." Kini mereka telah berdiri di konter daging ayam dan Sakura tengah menimbang-nimbang dua potongan ayam di tangannya. Antara daging dada dan paha.

"Kenapa tidak menelpon dan tanya langsung saja dia mau makan apa?" sergah Ino, mulai merasa frustasi melihat ketekunan sahabatnya memilah-milah daging ayam di depannya. Di matanya, semua daging ayam itu sama. Yang dia ketahui perbedaannya hanyalah ayam mentah, digoreng, dibakar, dipanggang, atau direbus. Selain itu, Ino tidak bisa membedakannya. Siapa yang peduli soal dada, paha, atau punggung? Apa ayam bahkan punya punggung? Nah, lupakan.

"Oh kau pintar juga!" seru Sakura dengan senyum lebar.

"Ha-ha, senang bisa membantu," gerutu Ino sambil bersedekap.

Sakura kemudian mengeluarkan ponsel lipatnya dari dalam tasnya, kemudian menekan speed dial nomor satu. Telponnya kemudian langsung terhubung ke ponsel Sasuke.

Di dering ketiga, panggilannya tersambung. "Sakura? Ada apa?"

"Oh, tidak apa-apa! Hanya ingin menanyakan apa yang kau mau untuk makan malam."

"Makan malam?" ulang Sasuke. Sakura bisa membayangkan pria itu tengah mengangkat kedua alisnya. Dia kemudian mendengar kekehan dari belakang Sasuke dan deheman keras.

"Siapa itu?" tanya Sakura penasaran.

"Bukan siapa-siapa, hanya dobe dan beberapa direktur divisi."

Sakura terkesiap. "Kau sedang rapat? Uh, maafkan aku!"

"Tidak apa-apa," potong Sasuke segera. "Bukan rapat penting."

"Oh baiklah… Jadi kau ingin makan malam apa?"

Sasuke kemudian terdiam sejenak. "Aku oke-oke saja dengan apa pun yang kau masak." Suara gelak tawa dan deheman menggoda itu terdengar semakin lantang.

"Jangan ganggu bos besar, rekan-rekan, dia sedang menelpon istrinya!" Suara lain dari sisi Sasuke berseru, diikuti gelak tawa yang lain.

Sasuke menggeram. "Aku masih bisa memecat kalian, tuan-tuan."

Di lain pihak, kini Sakura berusaha keras menyembunyikan rona merah di pipinya dari mata tajam Ino. Sasuke sekali lagi tidak menyanggah asumsi salah bawahannya.

"Uh…baiklah. Casserole ayam, kalau begitu."

"Hn. Kedengaran lezat."

Sakura memutar bola mata, tetapi bibirnya gagal membentuk kerut bosan. "Suara tidak terdengar lezat, mister."

"Smartass," gerutu Sasuke.

"Lanjutkan saja rapatmu," Sakura tertawa.

"Hn."

"Sampai jumpa di rumah."

Sebuah 'hn' lagi dan sambungan mereka terputus.

"Dan di sini kukira aku yang akan menikah dulu."

"Aku sudah pernah menikah sembilan tahun lalu, kalau-kalau kau lupa."

"Yang itu tidak masuk hitungan."

Kejengkelan Sakura tampaknya tidak mampu menutupi rona merah di wajahnya. Demi Tuhan, dia seperti gadis enam belas tahun saja, tersipu luar biasa hanya dengan satu panggilan telpon!

Wanita itu kemudian merenggut kereta belanjanya dan dengan cepat menyelesaikan belanjaannya, mati-matian berusaha memblokir godaan Ino yang semakin lama semakin menjadi-jadi.

Sebagai suatu kebiasaan, dua keluarga kecil itu bertemu untuk makan malam di luar bersama. Pasangan Uzumaki, Sakura dan Sousuke dengan tambahan Sasuke. Mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran keluarga yang ramai, tidak jauh dari blok apartemen Naruto. Para wanita mengobrol bersama Sousuke membahas agenda sekolah musim gugur nanti dan kegiatan ekstra kurikulumnya. Sementara itu, Sasuke dan Naruto terlibat pembicaraan serius.

"Ow! Kau tidak akan mengirimku menemui pak tua itu, bos!" seru Naruto jengkel seraya menudingkan sumpitnya ke depan hidung Sasuke.

Pria yang ditodong sumpit itu melemparkan tatapan tajam. "Kenapa tidak?"

Naruto memucat, mematung dengan mata terbelalak lebar. Sakura yang duduk di sisi kanan Sousuke, sebaris dengan Sasuke, berubah cemas. Mode dokternya kembali bertugas. "Kau baik-baik saja, Naruto? Apa kau tersedak? Dadamu sesak?"

"Tidak," jawab Naruto dengan suara tercekik. "Tapi aku akan mati besok. Maafkan aku Hinata-chan," bisiknya penuh teror. Mata electric bluenya membesar dan berkilat oleh air mata ketika menatap mata impasif Sasuke.

"Apa?" Sakura terkejut luar biasa, nyaris melompat di kursinya kalau saja Hinata tidak menahan tangannya. "Apa maksudmu?!"

"Teme menyuruhku menemui ketua direksi," isaknya dengan wajah pucat pasi.

"Jangan berlagak dramatis," sergah Sasuke tak sabar.

"Aku tidak dramatis! Pak tua itu lebih menyeramkan dari Tsunade! Kau kira aku harus menari pompom dengan senang hati karena kau suruh aku bertemu dengannya?" Naruto meraung tak terima.

"Well, yang itu sudah pasti bohong," Sakura yang sudah tenang kini mendengus sambil melipat tangan di depan dada. Bagaimana mungkin ada orang yang lebih galak dari seorang Senju Tsunade, mereka hanya mitos.

Naruto, yang merasa dikhianati, melemparkan tatapan terluka ke arahnya.

"Dia tidak menyeramkan, hanya mengkritisi," sanggah Sasuke.

"Dia selalu ketus kepadaku! Selalu mencari-cari kesalahan orang lain," bantah Naruto membela hidupnya.

"Itu memang tugasnya."

"Kalau kau begitu memahaminya, kenapa tidak menemuinya sendiri? Toh kau yang bakal menjadi CEOnya. Aku tidak mau bertemu dengannya," tolak Naruto mentah-mentah.

"Memangnya dia harus bertemu siapa, Sasuke?" tanya Sakura. Siapa orang yang lebih galak dari Tsunade? Ini baru yang disebut berita panas.

"Shimura Danzo, ketua dewan direksi. Dia yang bertugas menghubungkan seluruh dewan direksi dengan CEO."

"Lalu kenapa kau malah menyuruh Naruto bertemu dengannya?" tuntut Sakura heran.

Naruto yang telah kembali menemukan rona di wajahnya mengangguk penuh semangat melihat Sakura kali ini memihak kepadanya.

"Dia ingin membicarakan proyek cottage yang digagas Naruto," Sasuke mengedikkan bahu. "Naruto yang bertanggung jawab soal itu, jadi sekalian saja dia yang berangkat."

"Tapi…tapi…" Naruto tergagap. "Oh ayolah, Sasuke… Jangan jahat begini kepadaku," rengeknya.

Sasuke yang luar biasa kebal terhadap rengekan Naruto hanya melempar tatapan kosong kepada rekan sekaligus sahabatnya itu. "Kau lakukan tugasmu, kulakukan tugasku," ujarnya tandas tanpa menyediakan ruang bantahan.

Merasa ada bijaknya tidak membantah atasannya, Naruto akhirnya tutup mulut dan kembali menyantap makan malamnya dengan wajah bersungut-sungut.

"Ah omong-omong, resitalku sepuluh hari lagi!"

"Oh!" Sakura terkesiap memandang putranya yang duduk di sisi kirinya. "Benar juga!"

Sousuke tersenyum lebar kepada ibunya. Matanya berpendar hijau karena kegembiraan.

"Sepuluh hari lagi? Tanggal berapa itu?" tanya Hinata dengan kening berkerut.

"Dua puluh tiga Juli nanti!" seru Sousuke ceria.

"Uh?" Naruto bertukar pandang kaget dengan Sasuke. "Oh Tuhan, itu 'kan hari ulang tahun Sasuke-teme, pengangkatannya sebagai CEO juga."

Ibu dan putra itu terkesiap. "Oh benarkah?" seru Sakura.

Di samping ibunya, Sousuke berubah murung. "Jadi kau tidak bisa datang ke resitalku, Sasuke?" tanyanya lesu dengan kepala tertunduk dan bahu merosot.

Sasuke yang duduk di sisi kiri Sousuke terlihat bingung. Sekilas dia bertukar pandang dengan Naruto dan Hinata yang sama-sama terlihat menyesal. Dia menggosok tengkuknya, tidak tahu harus menjawab apa.

"Pestanya sampai tengah malam 'kan?" gumam Naruto lebih kepada dirinya sendiri. Hinata meraih tangan suaminya dan meremasnya lembut, merasa sama kecewanya karena itu artinya Naruto tidak bisa menonton resital Sousuke. Panggilan tugas. "Bibi Mikoto juga sudah merencanakannya besar-besaran," keluhnya muram, sama sekali tidak meringankan kemuraman di wajah Sousuke. Bocah itu bahkan terlihat hampir menangis, tetapi bersikeras menahannya.

Setelah beberapa saat lamanya, Sasuke menghela nafas berat, menangkap wajah prihatin Sakura dari ekor matanya. Wanita itu mungkin memang tidak akan memintanya secara langsung, tetapi Sasuke tahu Sakura akan berusaha melakukan apa pun supaya putranya senang. Dan sejujurnya, begitu pula dengan Sasuke.

"Aku akan datang, nak," janjinya begitu saja tanpa sempat memikirkan konsekuensi atas tindakannya.

Bukan hanya Sousuke yang gembira luar biasa, ibunya pun turut berseri-seri. Naruto dan Hinata yang bingung tidak bisa berkomentar apa-apa. Keduanya hanya memperhatikan respon Sasuke dalam menghadapi Sousuke yang gembira luar biasa.

"Oh ya Ibu, omong-omong aku harus pakai apa untuk resitalku?"

Haruno Sakura seketika terhenyak, memukul jidatnya dan menggerutukan 'duh bodoh sekali aku' berulang-ulang. "Besok kita beli tuxedo untukmu!"

Sakura baru saja menyelesaikan shiftnya yang dimulai dini hari ketika ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. Sambil duduk dengan wajah lelah dan penat di ruang istirahat dokter, Sakura merogoh saku jas dokternya, mengangkat telponnya tanpa mengecek penelponnya. "Halo?" sapanya dengan suara serak.

"Sakura? Kau di rumah?"

"Oh Sasuke. Tidak, belum. Shiftku baru berakhir. Ada apa?" Sakura berusaha menahan kuapannya akibat terjaga sejak pukul satu dini hari.

"Aku meninggalkan beberapa berkas di rumah. Ada di meja kerjaku, tiga folder hitam dengan label April, Mei, dan Juni. Apa kau bisa mengantarkannya untukku?"

"Oh tentu. Kapan kau membutuhkannya?"

"Rapatnya setelah makan siang nanti."

"Baiklah, aku akan segera pulang."

"Hn. Pakai taksi saja."

Sakura mengerutkan kening. "Aku bawa mobil, tenang saja."

"Kau lelah, jangan menyetir."

Karena berusaha menyanggah seorang Uchiha Sasuke sama saja dengan sia-sia, dengan segera Sakura menyerah. Dengan gerutuan. "Ya, ya, ya, tapi aku perlu harus pergi membeli jas untuk Sousuke."

Sakura bersumpah dia bisa melihat Sasuke memutar bola mata. "Nanti sore saja, biar kuantar."

Wajah Sakura serta merta memerah. "Oh…baiklah."

Dengan satu hn, sambungan diputus.

Sakura kemudian segera berkemas dengan vigor baru, yang entah dari mana datangnya. Dia mengganti pakaian dokternya dengan setelan kemeja dan rok yang dibawanya sebagai ganti, membasuh muka lusuhnya, dan bergegas keluar ruangan.

"Hanabi, aku pulang sekarang. Tolong urus semuanya," pesannya kepada dokter muda yang tengah menekuni catatan harian pasiennya.

Dokter Hyuuga sejenak mendongak dari pekerjaannya, kemudian melemparkan senyuman menggoda. Dokter Haruno yang dulu tidak akan melangkah keluar dari UGD sebelum pukul tiga sore setelah shiftmalam dan akan tinggal hingga setidaknya pukul tujuh malam setelah selesai dengan shift paginya. Semua orang di UGD, barangkali hingga seisi rumah sakit itu, menyadari perubahan positif yang dialami dokter kepala mereka. Bukannya lebih ramah atau sabar atau bagaimana, hanya saja pembawaan wanita itu tidak sekaku dan setegang dulu-dulu. Dokter kepala mereka sedang bahagia, tidak seorang pun yang meragukannya, tetapi mereka cukup bijak untuk menyimpannya dalam benak masing-masing.

"Oh tentu, Dok. Sampaikan salamku untuk Sousuke. Kuharap aku bisa menonton resitalnya."

Sakura balas tersenyum. "Tentu. Kau bisa menontonnya di lain waktu." Sakura kemudian berpamitan kepada dokter jaga dan perawat lain, kemudian segera memanggil taksi begitu keluar dari rumah sakit.

Perjalanan dari rumah sakit ke condo Sasuke tidak memakan waktu lebih dari dua puluh menit. Wanita itu bergegas masuk setelah meminta sopir taksinya untuk menunggu, mengambil berkas-berkas yang diminta Sasuke, dan lima belas menit kemudian dia sudah di dalam taksi lagi menuju kantor yang dimaksud.

Ini adalah kali kedua bagi Sakura datang ke kantor Sasuke. Kali pertama tidak berlangsung mulus. Setelah menyaksikan kemarahan pimpinan mereka—yang tidak pernah terjadi sebelumnya—tidak seorang pun kini berani berkomentar ketika melihat Sakura. Mereka hanya mengangguk sopan dan mempersilakan Sakura melenggang bebas di kantor pusat itu.

Kantor pribadi Sasuke sendiri berada di lantai teratas gedung itu, satu-satunya ruangan di sana selain perpustakaan arsip. Lobi di depan ruangannya dihuni sekretaris pribadinya, wanita perfeksionis yang baru-baru ini Sakura kenali sebagai kakak perempuan guru piano putranya, Temari.

"Halo, Temari," sapa Sakura ramah begitu menjejakkan kaki di lantai kantor Sasuke.

Temari yang sedang mengetik luar biasa cepat di keyboardnya, mendongak dan balas tersenyum. "Oh Sakura. Masuk saja. Sasuke sudah menunggumu."

Sakura mengangguk dan kembali tersenyum, kemudian beranjak menuju pintu ganda mahogani itu. Tanpa merasa perlu mengetuk, Sakura melangkah masuk.

"…Ibu…tidak, tidak sore ini…Aku tidak bisa, aku sudah ada janji…Bukan…tapi…ya, ya…" Sasuke tengah berdiri membelakangi Sakura ketika wanita itu masuk tanpa suara. Satu tangannya memegang ponselnya ke telinga, sementara tangan yang lain mengacak-acak rambutnya—satu gestur yang Sakura cermati sebagai kebiasaannya ketika merasa kesal. "Aku tidak bisa janji…biar Itachi saja…Ibu…"

Dengan senyum kecil di sudut bibir, Sakura mengendap-endap di belakang Sasuke, kemudian meletakkan berkas-berkas di tangannya ke atas meja kerja Sasuke yang luar biasa berantakan. Mendengar suara debaman rendah itu, Sasuke berbalik dengan terkejut, lalu buru-buru menguasai diri. Jari telunjuknya terangkat sebagai isyarat bagi Sakura untuk menunggu.

"Nanti kutelpon lagi…Tidak...Tidak sekarang, Ibu. Aku tidak bisa janji…Kubilang aku sudah ada janji…Tidak kali ini…Sudahlah. Sampai jumpa." Sasuke kemudian mengakhiri panggilannya secara sepihak dan mendesah sambil mengantungi lagi ponselnya.

"Apa itu ibumu?" tanya Sakura, tidak bisa mencegah rasa penasarannya.

Sasuke mengangguk malas. "Terima kasih untuk ini, omong-omong."

"Tidak masalah." Sakura tersenyum. "Jadi yang tadi itu apa?"

Sasuke mendesah panjang. "Hanya Ibu dan undangan makan malamnya."

"Oh, tapi kenapa wajahmu kusut begitu?"

"Aku tidak bisa datang dan Ibu memaksa," Sasuke memutar bola mata. "Dia tidak pernah mendengarkan."

Sakura mendengus geli. "Sepertinya aku tahu itu siapa."

Pria di depannya melemparkan tatapan impasifnya. "…hn," membuat Sakura kembali mendengus.

"Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, 'kan?"

"Ha-ha," kata Sasuke jengkel. "Aku tidak bisa datang karena kita harus pergi mencari tuxedo untuk Sousuke 'kan."

Sakura terperangah dan tergeragap. "Oh…oh…kau, kau tidak harus mengantarku. Aku bisa pergi sendiri. Kau pergi saja makan malam dengan ibumu," tolak Sakura halus.

"Nonsense." Sasuke mengibaskan tangan ke udara. "Tuxedo Sousuke lebih penting. Aku bisa makan malam dengan Ibu kapan saja."

Sakura terhenyak, merasakan dadanya perlahan-lahan menghangat dan matanya basah. Dadanya mengembang bahagia menyaksikan kepeduliaan pria di hadapannya untuk putra tercintanya. "Terima kasih…" bisiknya serak.

Sasuke memandanginya bingung. "Untuk apa?" tanyanya dengan kepala dimiringkan.

"Karena sudah ada dalam kehidupan kami," ujar Sakura parau dengan suara gemetar, "…karena sudah memedulikan kami."

Sasuke membalasnya dengan pandangan dalam ke mata Sakura yang basah. "Justru kebalikannya," jawabnya, melangkah memutari mejanya dan berdiri di samping Sakura yang mendekap tangan di depan dada.

"Sousuke…dia begitu berharga. Aku—kami tidak akan tahu harus bagaimana kalau kau tidak ada…" ucapnya tersedu.

Tanpa ragu, Sasuke meraih Sakura ke dalam lingkaran lengannya, menyandarkan dagunya di puncak kepala wanita itu. Sakura terasa pas di lekukan lengan dan bahunya. "Kau tidak perlu mencari tahu," bisiknya dengan janji tak tertulis—karena itu tidak akan terjadi.

Haruno Sakura baru tahu menjadi sepotong tuxedo bisa begitu sulit—lebih sulit daripada menemukan gaun yang sesuai dengan selera wanita paling pemilih yang Sakura kenal: Ino. Uchiha Sasuke, yang hanya diam mengekor di belakang dengan kedua tangan tenggelam dalam-dalam di saku celana sejak dua jam lalu, menyeringai tipis.

"Sudah menyerah?" godanya dengan dengusan yang sangat Sasuke.

Sakura menggembungkan pipi kesal. Tangannya masih sibuk memilah-milah lusinan jas ukuran junior dari raknya. "Tentu saja tidak. Ini baru toko…" Sakura menggantung kalimatya, berpikir, kemudian meringis, "lima?" Dia bahkan tidak lagi ingat. Semuanya blur dalam ingatannya, sama seperti puluhan setelan jas yang sudah dilihatnya, yang tak satu pun sesuai. Kalau bukan ukurannya, warnanya, modelnya, sekecil apa pun itu rasanya tidak ada yang sesuai keinginan Sakura.

Sasuke menanggapinya dengan mata berputar malas. "Tujuh," koreksinya. Dia pandangi punggung wanita di depannya itu, ekspresi wajah masih impasif walaupun kini sudah diwarnai keheranan dan sedikit kejengkelan. "Memangnya kau mencari jas yang seperti apa?"

Sakura menggerutu dalam dari tenggorokannya. "Hitam."

Kalau saja bisa, tatapan Sasuke sudah pasti lebih impasif dari sekarang. "Dan bagaimana mungkin kau menemukannya di rak warna biru?" tuntutnya. "Pelayan toko di sini tidak buta warna, kau tahu."

Sakura berbalik dengan pipi menggembung kesal. "Karena aku sudah mencari di rak bagian hitam dan tidak ada yang bagus!" sergah Sakura setengah memekik.

Sasuke menaikkan sebelah alis. Beban tubuhnya ditumpukan di satu kaki. Dia berdiri menjulang satu setengan kepala lebih tinggi di depan Sakura. "Atau kau yang tidak tahu harus mencari jas yang seperti apa," tuduh Sasuke.

Kedua pipi Sakura merona, tetapi dia menolak menyerah. "Tentu saja aku tahu!" sangkalnya.

Sasuke lagi-lagi membalasnya dengan alis terangkat, menantang.

"Sesuatu yang…" Suara Sakura terdengar ragu sejenak sebelum dia berseru, "klasik!" Sakura kemudian menganggukkan kepala kuat-kuat, setuju dengan kata-katanya. "Ya, ya! Klasik adalah kata kuncinya."

"Klasik?"

Sakura mengangguk mantap. "Harus yang spesial."

Pria itu kemudian mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mengamati barisan rak demi rak di toko tersebut. Dikarenakan kunjungannya yang sudah tak terhitung banyaknya, Sasuke sudah hafal dimana letak model jas, jenis bahan, motif, ukuran, hingga harganya. Dan sesuatu yang klasik tidak lagi disediakan di toko pakaian kerja modern seperti ini.

"Kalau yang seperti itu, kau salah masuk toko."

"Uh?" Sakura memiringkan kepala bingung. "Lalu aku harus pergi kemana? Ini toko dengan koleksi terlengkap."

Sasuke terdiam sejenak memikirkan jawaban yang juga belum diketahuinya. "Bagaimana dengan rumah kedua orang tuaku?"

"Oh! Mereka punya butik?"

Sasuke memandangi wanita di depannya seolah Sakura baru saja menumbuhkan kepala baru. "Tidak."

Sakura memberengut. "Lalu apa yang bisa kudapat dari sana?"

"Setelan jasku…?" tawarnya ragu-ragu. Sasuke yakin postur tubuhnya dulu tidak jauh berbeda dengan Sousuke saat seumurannya.

Sakura kemudian melemparkan senyum berseri-seri. "Oh!"

"Bagaimana menurutmu?"

"Sempurna!" dukung Sakura. "Tapi bagaimana kalau ukurannya tidak sesuai?"

"Kita bisa membawa serta Sousuke."

"Uh…" Sakura menggaruk daun telinganya. "Membawanya…sekarang?" tanyanya ragu.

Sasuke mengangguk.

"Lalu bagaimana dengan makan malam bersama ibumu?"

Tanpa jeda, Sasuke menjawab, "sekalian saja, bersama kalian berdua."

Mengategorikan Haruno Sousuke dalam mood bahagia tidak lagi pantas untuk menggambarkan suasana hatinya sekarang, pikir Sakura, melihat bocah delapan tahun itu nyaris kesulitan duduk tenang di bangku belakang mobil. Kalau bukan karena sabuk pengaman yang menahan dada dan pahanya, barangkali putranya itu sudah menggelinding hingga ke jalan. Sesekali Sasuke akan melirik ke belakang melalui spion dan Sakura akan mendapati seringai tipis di sudut bibir pria itu. Sasuke juga, cermat Sakura, tampak puas melihat Sousuke gembira.

Barangkali di mobil ini hanya Sakura yang berkeringat dingin karena kegugupan. Dan tebak apa yang menjadi korban kegugupan Sakura? Rok dan ujung kemejanya yang malang. Kusut nyaris permanen akibat dia remas kuat-kuat. Kegugupannya membuat lidahnya terkunci. Sedari tadi Sakura hanya diam memandangi jalan, mengamati jalur pepohonan rindang di jalur avenue. Pohon-pohon ginkgo yang menghijau tampak asri. Bayang-bayang indah tentang musim gugur di area ini sedikit mengalihkan perhatian Sakura dari realita masa kini.

Begitu jalur avenue berakhir, Sasuke membelokkan mobilnya ke kanan dan memarkir mobil di pekarangan rumah tiga lantai. Sakura memandangi rumah bercat putih, kelabu gelap, dan kuning matahari itu dengan sedikit terperangah, lebih-lebih ketika Sasuke membuka sisi pintunya dan turun. Bahkan ketika Sousuke telah turun, dibantu oleh Sasuke, Sakura belum menampakkan tanda-tanda akan keluar.

Sasuke melongok lagi ke dalam mobil, Sousuke duduk di pinggangnya bergelayut malas. "Kau tidak ingin keluar?"

Sakura tersentak sadar, kemudian buru-buru keluar dari mobil. Dengan usaha keras dia merapikan setelan kerjanya yang merupakan kemeja merah hati lengan panjang, rok warna biru es pucat selutut, dan sepasang sepatu bertumit datar.

Sousuke, yang masih bergelantung di lengan Sasuke, tertawa melihat usaha ibunya yang sedikit di luar kebiasaan. "Ibu cantik, tenang saja. Iya 'kan, Sasuke?"

Sang ibu, yang enggan termakan pujian putranya, memberi tatapan memperingatkan. "Kau sudah cukup besar untuk berjalan sendiri," ucap ibunya, membuat Sousuke memberengut.

Sasuke hanya memutar bola mata. "Ya, ibumu cantik."

Sousuke tertawa senang, sementara Sakura menarik nafas tajam karena tiba-tiba wajahnya memanas. Sasuke, yang sama sekali tidak menduga akan melihat reaksi rona kemerahan di wajah Sakura, memutuskan untuk beranjak menuju pintu depan dan menekan bel rumah. Sakura segera mengekor di belakangnya.

"…bahkan tamu-tamu ini lebih suka berkunjung daripada adikmu…" Terdengar omelan panjang dari dalam rumah.

"Ya, Ibu. Putramu yang tidak patuh ini pulang." Sasuke berujar pasif begitu pintu rumah dibuka dari dalam.

"Oh!" Wanita berusia pertengahan lima puluhan itu berseri-seri. "Lihat siapa yang pulang!" Pandangannya kemudian beralih dari Sasuke ke bocah lelaki yang bergelayut di leher putranya dan wanita yang berdiri satu langkah di belakang Sasuke dengan kepala tertunduk. "Dan membawa serta keluarga rahasianya," Uchiha Mikoto berujar nakal.

Uchiha Itachi menunjukkan wajahnya dari balik bahu sang ibu. Sepasang mata gelapnya berpendar jenaka. "Benar sekali, Ibu," dukungnya.

Sasuke memberengut dengan gaya Uchihanya. "Senang melihatmu masih hidup, baka aniki."

Sakura memicingkan mata berbahaya. Tangannya meraih lengan atas Sasuke yang tidak menggendong Sousuke dan mencubitnya keras. "Jangan mengontaminasi Sousuke dengan kata-kata kasarmu."

Sasuke meringis menahan sakit. "Kau tidak boleh menirukannya, Sousuke, kau dengar?" ujar Sasuke rendah dari balik gigi-gigi yang digeretakkan.

Sousuke tertawa. "Baik, Pak," saluirnya, kemudian meminta Sasuke menurunkannya. "Selamat sore, Paman Itachi, uhm…" Mata hazelnya beralih ke nyonya rumah.

Mikoto menunduk untuk menyamakan tinggi dengan anak lelaki itu, kemudian tersenyum lebar hingga matanya berubah sabit. "Mikoto. Nenek Mikoto," ajarnya.

Sousuke mengangguk senang. "Nenek Mikoto. Perkenalkan, aku Sousuke dan ini ibuku, Sakura."

"Selamat sore, Mikoto-san, Itachi."

"Halo, Sakura," sapa Mikoto, jelas-jelas luar biasa senang dengan kehadiran tiga tamu tak terduganya.

Sebelum sang ibu memberondong mereka dengan berbagai rupa pertanyaan yang sudah dipastikan akan membuat mereka jengah, Sasuke buru-buru menyela. "Ibu, aku membutuhkan setelan lama jasku."

Mengetahui maksud tak tersembunyi putranya untuk menghalangi niatnya, Mikoto memandang jemu ke arah Sasuke. "Setidaknya biarkan Ibu mempersilakan Sakura dan Sousuke masuk," tegurnya.

Sasuke hanya memutar bola mata, tetapi kemudian mendorong Sakura dan Sousuke dari belakang, membujuk mereka masuk dan duduk di ruang keluarga.

"Kutebak jas ini untuk Sousuke yang manis?" tanya Mikoto lebih kepada Sousuke, yang kini tersenyum sumringah.

"Apa ukurannya muat, Bu?"

Tanpa menoleh ke arah putranya sendiri, Mikoto mengangguk. "Kalian punya postur yang kurang lebih sama." Wanita ceria itu bertepuk tangan, kemudian meraih tangan Sakura dan Sousuke bersamaan. "Ayo ayo, kutunjukkan semua koleksi jas Sasuke saat masih kecil. Juga foto-foto masa kecilnya yang menggemaskan."

Sasuke mengerang, tetapi tidak kuasa menghentikan sang ibu. Dia hanya bisa memandang kepergian ketiga orang itu ke lantai atas dengan tatapan jengah. Duduk di seberangnya, Itachi tertawa kecil. Tak lama berselang, sang tuan rumah turun dari tangga. Kentara sekali bahkan dari wajahnya yang impasif bahwa dia sedikit kesal. Tak salah lagi, Uchiha Fugaku baru ditendang keluar dari ruang belajarnya dan dipaksa bergabung bersama kedua putranya.

"Ayah," sapa kedua putranya berbarengan.

"Jadi, bagaimana proses penyelidikannya?" tanya Sasuke tiba-tiba kepada kakaknya.

"Paman Obito sedang mencari cara supaya kasus ini dilimpahkan kepadaku. Shisui sudah hampir menyelesaikan penyelidikannya dan Kisame sudah mengumpulkan bukti-bukti secara independen."

"Apa kau juga akan menyertakan tuntutan tentang kasus suapnya?" Fugaku buka suara. Dia sendiri adalah pensiunan hakim kepala, dan sama seperti banyak rekannya yang lain, masih berurusan dengan dunia hukum dan masih memegang kekuatan dalam tubuh pengadilan.

Itachi mengangguk. "Dia masih berhutang lima tahun penjara. Aku tidak berniat melupakannya."

"Berapa lama tuntutan hukumannya?"

Itachi memandangi adiknya sejenak, melakukan kalkulasi sederhana dalam benaknya. "Sepuluh tahun, setidaknya. Catatan hukumnya sudah cukup memberatkan."

Sasuke mengangguk dalam, menyusun berbagai skenarionya sendiri. "Kapan persidangan perdana?"

"Dua bulan lagi, itu yang paling cepat."

"Terus kabari aku."

"Tentu, Adik."

Ketiganya kemudian terlibat percakapan mendalam bersama keheningan, membiarkan kesunyian menguasai atmosfer ruangan. Suara tawa Sousuke beberapa saat kemudian adalah yang memecahkan fokus mereka dari pikiran masing-masing. Bocah delapan tahun itu, dengan setelan jas hitam yang dulu adalah milik Sasuke, tertawa keras sambil menuruni tangga, kemudian berlari ke arah Sasuke.

Sasuke, yang sudah terbiasa dengan kehadiran anak lelaki lincah itu, bangkit dari duduknya dan tanpa sadar telah membuka lengan lebar-lebar. Sousuke melompat ke dalam pelukan pria yang telah dia anggap sebagai seorang ayah, yang dengan mahir menangkapnya.

"Sousuke! Apa yang Ibu katakan tentang dilarang berlari di dalam rumah?" Sakura menyusul beberapa saat kemudian, berderap cepat turun dari tangga; kening berkerut dan wajah memberengut kesal.

Dalam pelukan Sasuke, Sousuke masih tertawa. "Bagaimana aku bisa lolos dari Ibu kalau aku tidak lari?"

Belum sempat Sakura buka mulut untuk memulai omelan keibuannya yang luar biasa panjang, Sasuke telah lebih dulu membungkamnya dengan meraihnya dalam dekapan lebarnya bersama Sousuke di lengan. Sakura yang hanya setinggi dadanya terangkum sempurna.

"Semua akan baik-baik saja," bisik Sasuke mantap dalam pelukan mereka.

Sakura terdiam, kaget dan bingung pada awalnya. Ketika dia membiarkan aroma cendana dan salju yang akrab baginya bercampur dengan berry dan kebahagiaan yang berasal dari Sousuke melingkupinya, kebahagiaan membuncah di dada, seperti kembang api musim panas yang semarak dan tak tertahankan; harapannya membumbung tinggi. "Semuanya baik-baik saja," koreksinya, balas berbisik.

Tuhan, betapa dia menginginkan akhir bahagia untuk kali ini. Karena dalam pelukan pria ini, dia baru saja menemukan apa yang selama ini dia kira tidak dia inginkan lagi; karena kali ini, dia menginginkannya, walau hanya untuk sementara.

Pulang ke rumah yang sunyi senyap bukan lagi perihal asing baginya. Di rumah masa kecilnya, kesunyian adalah karib; kedua orang tuanya, sekalipun ketika masih bersama, sudah sejak awal jarang menampakkan diri. Di rumah penyiksaannya, kesunyiaan adalah peraduannya. Di rumahnya sendiri, kesunyian mewujud dalam dengung konstan keresahan karena dalam sunyi dan sepi itu monsternya kembali mencabik-cabik dari dalam dan Sakura hanya mampu mempertahankan kulit luarnya yang telah mengeras seiring dengan berlalunya waktu.

—tetapi rumah ini berbeda, Sakura menyadari. Keheningan di dalamnya tidak mencekik Sakura dan tidak memanggil-manggil monster yang terkurung dalam-dalam di dada. Kesunyian di sana membungkus Sakura akrab, mengundangnya untuk menenangkan diri; seperti selimut, perapian, dan cokelat panas di malam berbadai.

Sakura tidak mempertanyakannya karena dia tahu jawabannya sudah tertulis di balik tempurung yang melingkupi jiwa rapuhnya. Asal dia punya keberanian untuk mengintip ke dalam jiwanya yang telah retak, hancur, dan carut-marut. Dia tahu jawabannya hanya ada satu—jawaban paling rasional; jawaban yang merupakan satu-satunya logika dalam kekacauan hidup ini.

Ketika sore itu Sakura pulang dari shiftnya sejak pagi di UGD, Sakura mengira condo yang sudah hampir sebulan ini menjadi rumahnya akan sepi tanpa ada tanda-tanda keberadaan orang lain. Di jam-jam ini, Sasuke biasanya masih tekun di balik meja kerjanya dengan tumpukan berkas—yang walaupun telah dilarang keras oleh Sakura, tetap akan dibawanya pulang. Sousuke sendiri semakin hari semakin intensif berlatih dan jarang ada di rumah sebelum makan malam. Namun, pemandangan di depannya ini jauh dari praduganya.

Suara musik lembut yang dimainkan berulang-ulang terdengar di penjuru lantai dasar condo, berasal dari ruang tengah. Samar-samar, di balik senandung melodi itu, terdengar dengungan halus mesin cuci dari ruang cuci di sudut jauh lantai. Dua lelaki penghuni rumah itu duduk bersebelahan di bangku piano; dalam pakaian rumahan mereka yang hanya berupa celana pendek dan kaus tipis. Tirai jendela kaca yang mendominasi dinding dari lantai hingga langit-langit dibiarkan terbuka; cahaya matahari sore masuk dengan sempurna, kuning dan oranye, dan mewarnai keduanya dalam pijar keemasan yang menakjubkan.

"Pakai tangan kananmu untuk meraih nada atas sisi kirimu," ujar Sasuke dengan suaranya yang rendah. "Kalau kau cukup cepat, kau bisa melanjutkan bagian tangan kananmu sesudahnya."

Sakura berdiri di ambang ruangan, membatu; bukan karena takut, lebih karena kaget. Dia hanya bisa mengamati interaksi keduanya dengan perasaan penuh yang membuncah—perasaan yang, sayangnya, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata; tidak ada padanan kata untuknya, tidak ada yang cukup patut untuk mewakili rasa di dada. Dengan cermat dia memperhatikan air muka Sousuke yang frustasi memandangi deretan balok hitam dan putih di depannya dan Sasuke yang terang-terangan menunjukkan wajah geli samar.

"Aku tidak mengira kalian sudah pulang," gumam Sakura, mengulum senyum setelah akhirnya mampu menguasai diri.

Kedua laki-laki itu mengangkat pandangan. Sousuke tersenyum lebar untuknya. "Okaerinasai."

Sakura membalasnya dengan vigor senyum yang sama. "Tadaima."

"Okaeri," susul Sasuke.

Sapaan balasan Sasuke itu tidak terduga, dan hanya membuat kadar senyum di wajah Sakura meningkat. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyanya seraya berjalan mendekat dengan langkah tanpa suara.

Sousuke sudah kembali fokus pada partitur musiknya. Sasuke menjawab, "hanya sedikit membantunya dengan perpindahan nada."

"Lagu apa yang kau pelajari sekarang, sayang?"

"Gymnopédie No.1," jawab Sousuke. Suaranya berupa gerutuan parau akibat rasa frustasi yang membuncah.

Sakura seringkali terpukau melihat putranya dengan fasih mengucapkan serangkaian judul komposisi piano klasik, tetapi selalu gagal membedakan cara membaca kanji yang tepat. Barangkali kalau diizinkan, Sousuke akan lebih mahir mengarang cerita menggunakan not balok sebagai alfabet ketimbang menulisnya dengan hiragana dan katakana. Terkadang jenius memang begitu. Seolah darah Sousuke sudah sejak dulu berdesir dengan nada dan gagal mengadopsi bahasa manusia; seperti Sakura yang hanya tahu bagaimana caranya menjadi dokter dan buta terhadap yang lain. Ibu dan anak itu serupa di banyak hal.

"Oh, aku tidak tahu kau bisa bermain piano, Sasuke-kun."

Sasuke hanya mengedikkan bahu. "Hanya pengetahuan dasar," katanya dengan hawa bukan-perkara-besar-nya.

Memang tidak semua orang adalah prodigi all-rounder seperti Uchiha tertentu satu itu. Sakura membatin geli.

Pria itu kembali memperhatikan Sousuke. Tangan besarnya merangkum tangan Sousuke yang lebih kecil dari miliknya dan menuntunnya menekan tuts di sana-sini. Kakinya menggantikan kaki Sousuke memainkan footwork. "Kau harus tahu dimana jarimu harus berada setelah melewati nada ini," tutur Sasuke sambil mempraktikkan versi lagunya yang satu tempo lebih cepat.

Sousuke bukannya pemain lamban. Hanya saja, rentang jemarinya masih pendek, menyebabkannya sulit meraih nada bahkan yang hanya berjarak satu oktaf.

"Apa Sousuke ada masalah dengan lagunya?" tanya Sakura penasaran. Satu tangan menahan dagu dengan siku bertumpu pada penutup piano yang biarkan tertutup. Tidak biasanya dia melihat putranya kesulitan memainkan lagu. Bocah itu seolah membaca partitur lagu dalam satu kedipan dan jemarinya seakan selalu menemukan tuts yang tepat dan tanpa ragu. Tetap saja, batin Sakura, Sousuke masih delapan tahun dan keterbatasan fisik adalah hambatan terbesarnya.

"Jarinya masih terlalu pendek untuk meraih nada atas di bagian ini," jawab Sasuke, menekankan maksudnya dengan mempraktikkan langsung potongan nada yang dimaksud. "Dia kesulitan bahkan untuk meraih satu oktaf."

"Aku ingin jari yang lebih panjang. Sepertimu," keluh Sousuke dengan bibir mencebik, memandangi jari Sasuke yang menekan berbagai kombinasi nada dengan mudahnya.

"Nanti, kalau kau sudah besar," ganti Sakura yang menjawab. "Jarimu sudah tergolong panjang untuk ukuran anak delapan tahun, sayang. Tidak ada yang salah dengan jarimu yang sekarang."

Sasuke mengacak-acak rambut merah Sousuke yang berantakan. "Dengarkan ibumu baik-baik," tutur Sasuke dengan nada omelan halus. "Semua ada waktunya."

Yang terdengar kemudian hanyalah keheningan, denting halus tuts piano yang ditekan, dan dengungan samar mesin cuci yang masih bekerja. Sakura bersandar pada badan piano sembari mengamati keduanya membicarakan ini dan itu. Sakura tidak paham sedikit pun; tentang staccato, fermata, ritardondo, meno, adagio, crescendo, allegro, molto, andante, dan semua istilah yang terdengar lebih sulit diucapkan daripada merapal nama-nama latin bakteri dan virus patogen. Sakura menyadari, Sasuke adalah guru yang sabar.

Sakura mendesah panjang, merasa puas dengan sore yang berjalan lambat. Dia membiarkan keheningan menguasai sedikit lebih lama sebelum memecahnya, "apa yang bisa kusiapkan untuk makan malam?" tanyanya halus.

Sasuke dan Sousuke kompak mendongak. Mata besar keduanya menatap Sakura dalam-dalam, menampakkan kepolosan. Jantung Sakura berdetak lebih mantap di rongga dada dan perutnya seakan diaduk-aduk. Barangkali, pikirnya kemudian, yang begini inilah rupa rumah yang diinginkannya sedari dulu.

Dokter UGD Haruno Sakura baru saja keluar dari ruang ganti untuk mengganti baju operasi berdarahnya dengan bajunya setelah melakukan operasi darurat seorang pasien UGD yang datang siang tadi. Kasus bunuh diri, polisi berkata demikian. Depresi berat, menurut penuturan tetangga-tetangganya. Pasien wanta berusia awal tiga puluhan itu cukup beruntung karena kepalanya terhindar dari benturan langsung ketika memutuskan terjun dari lantai delapan apartemennya. Namun sayangnya, Sakura tidak bisa mengatakan hal serupa untuk tulang rusuk, kaki, dan beberapa organ internalnya. Wanita itu harus mengucapkan selamat tinggal kepada salah satu ginjalnya karena organ penting itu tidak bisa Sakura selamatkan.

Sakura harus menahan gemetar ngeri kala memikirkannya. Dia tidak tahu latar belakang peristiwa mengenaskan itu selain sesuatu yang melibatkan suami yang meninggalkannya demi wanita lain dan hutang besar. Beberapa melalui hidup buruk, beberapa yang lain hidup yang mengerikan.

Dia tidak tahu ke dalam kategori mana hidupnya dan wanita itu tergolong. Sakura cukup bersyukur karena dia masih diberkahi kewarasan dan sesuatu yang bisa dia genggam erat sebagai jangkar. Kalau saja di dalam hidupnya tidak ada Sousuke, Sakura tidak yakin dirinya akan hidup melewati usia dua puluh. Pada satu atau dua hal absurd, Sakura mensyukuri jalan hidupnya.

Dengan desah nafas berat, Sakura memasuki ruang ICU tempat pasien terbarunya dirawat. Satu papan jalan yang berisi informasi mengenai pasien itu dipegang lemah di tangan.

"Dokter Haruno."

Sakura mendongak, kemudian tersenyum tipis. "Dokter Yuuhi," sapanya balik kepada wanita cantik berambut legam yang tengah berdiri di samping alat deteksi tanda vital yang menampilkan informasi detak jantung, tekanan darah, dan tingkat saturasi oksigen. "Apa kau sudah memeriksa berkas pasien?"

Yuuhi Kurenai, dokter bedah saraf berusia di awal empat puluh tahun itu, mengangguk sambil memandangi wanita pucat yang masih tak sadarkan diri dengan alat bantu pernafasan menutupi hidung dan mulutnya. "Aku minta maaf aku tidak datang tepat waktu."

Sakura mengibaskan tangan ke udara. "Kita masih harus menunggu kondisi pasien stabil lebih dulu. Kondisi organ dalamnya tidak begitu baik." Sakura meringis masam, membuatnya mendapat senyum miring Kurenai.

"Aku cukup yakin kau baru saja melakukan keajaiban dengan membuat alat ini menunjukkan tanda vital berarti," gurau Kurenai. Kembali dia amati ritme detak jantung pasien yang masih lemah, tetapi cukup memuaskan untuk kondisinya. Tekanan darahnya masih terlalu rendah dengan saturasi oksigen hanya berkisar di angka delapan puluh persen. Apabila mengingat kondisi awal dan operasi besar yang baru dijalaninya, pasien ini beruntung karena masih hidup. Prodigi Haruno Sakura memang melakukan keajaiban, dan Yuuhi Kurenai tidak bergurau.

"Dia kehilangan satu ginjal," gumam Sakura muram. "Benar-benar hancur. Terjadi pendarahan paru-paru akibat luka dari patahan rusuk dan—"

Kali ini ganti Kurenai yang mengibaskan tangan ke udara. "Dia sudah baik-baik saja, untuk sekarang. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk orang yang bahkan tidak lagi ingin hidup."

Sakura meringis masam, kemudian tenggelam dalam keheningan kamar dan membiarkan ritme mekanis tanpa harmoni itu mengisi kekosongan di antara mereka.

"Bagian ortopedi akan menjadwalkan operasi penyambungan tulang setelah kondisinya lebih stabil," ujar Kurenai lamat-lamat. "Aku juga perlu memeriksa tulang belakangnya."

Sakura mengangguk menyetujui. "Aku justru akan kaget kalau tulang punggungnya baik-baik saja. Keberuntungannya telah menyelamatkan kepalanya."

Walaupun dokter yang lebih muda darinya itu tengah berusaha melucu, Kurenai gagal mendapati humor di sana. Yang ada, sudut-sudut dalam mata Sakura tegang, begitu pula dengan bibirnya yang membentuk garis lurus. "Keberuntungan yang sangat besar," gumam Kurenai sambil memandangi langit-langit kamar yang tiba-tiba lebih menarik dari hal apa pun di sekitarnya.

"Terkadang aku bertanya-tanya," Sakura berujar lamat-lamat, seolah menyesapi setiap kata dalam kalimatnya baik-baik. "Kenapa aku repot-repot menyelamatkan orang-orang sepertinya, yang tidak lagi punya keinginan untuk berada di dunia ini. Tidakkah ini membuatku kejam? Tujuan wanita ini sangat jelas; aku seolah mengabaikan keinginannya, keinginan mereka yang ingin membebaskan diri dari ini semua. Dan kini, ketika dia sadar nanti, hidup akan lebih sulit baginya. Tubuhnya nyaris hancur dan dia tidak lagi punya siapa-siapa karena dia telah meninggalkan segalanya sebelum memutuskan untuk terjun dari beranda rumahnya. Aku bertanya-tanya apakah kematian memang merupakan jawaban bagi sebagian orang. Terkadang aku bertanya-tanya apa aku juga tampak seperti mereka."

Kurenai terdiam, masih mengalihkan tatapannya pada hal apa pun selain Sakura yang berdiri di seberang lain ranjang. Dia memilih lukisan vas bunga kosong di meja di depannya. "Aku tidak tahu. Aku juga belum punya jawaban bagus untuk pertanyaan seperti itu. Sekali, aku pernah mempertanyakan diriku sendiri dan kedua tangan yang mencoba membenahi kerusakan orang lain; sepertimu. Aku kadang bertanya kepada pasien-pasienku apakah mereka menyesal karena telah kuselamatkan. Beberapa berkata tidak peduli, hidup dan mati sama saja menurut mereka; beberapa menyadari kesalahan yang diperbuatnya; beberapa menuntut jawaban kepadaku, bertanya kenapa aku berusaha keras menyelamatkannya ketika dia tidak tahu lagi dimana dia seharusnya berada, apakah dia pantas hidup ketika yang ada di sekitarnya hanyalah kematian." Kurenai menarik nafas panjang, membiarkan kata-katanya terendap dalam diri Sakura yang bimbang. "Tapi seorang pasien gila menyadarkanku bahwa yang bisa kulakukan hanyalah berusaha dan berharap dan berdoa sekuat tenaga semoga mereka semua bisa memunguti pecahan kehidupan mereka selagi menelusuri kembali jalan hidup yang mereka tinggalkan; mencari-cari kiranya dimana letak persimpangan yang telah salah mereka ambil; berharap bahwa ada orang lain di luar sana yang tidak menyerah terhadap mereka ketika justru merekalah yang pertama kali menyerah atas diri sendiri."

Sakura memasukkan kedua tangannya ke saku jas dokternya, menahan senyum manis-pahit yang sudah terbentuk di sudut bibirnya. "Aku berani taruhan Asuma akan mengamuk kalau dia tahu kau memanggilnya pasien gila."

Kurenai memutar bola matanya acuh. "Di suatu waktu, dia memang pasienku yang paling sulit ditangani. Setengah gila karena depresinya. Barangkali harusnya kutendang dia ke psikiater sebelum dia sempat membuat kerusuhan dalam hidupku."

Kini Sakura sudah menyeringai seperti wanita gila; lebar-lebar, begitu lepas. "Itulah kenapa kau dan Asuma memang cocok untuk satu sama lain. Dia membuat kerusuhan dan meninggalkan sisanya untuk kau punguti; karena memang itu tugasmu sebagai seorang dokter."

"Oh please, aku juga ingin jadi wanita. Tidak selamanya dokter." Kurenai mendengus, tetapi tidak mampu menahan seringai yang mulai terbentuk di bibirnya. Terkadang kegembiraan bisa menulari orang lain.

"Oh kau cukup wanita untuk Asuma, tenang saja," selorohnya menggoda dengan kerlingan nakal.

Kalau saja tidak ada seorang pasien kritis yang tengah tak sadarkan diri di antara keduanya, barangkali Kurenai sudah melesat dan mencekik Sakura di lantai. Namun, wanita itu punya keanggunan tingkat dewi sehingga dia hanya tersenyum pedas kepada juniornya. "Kurasa kau ingin buru-buru pergi, Dokter Haruno," ejek Kurenai.

"Ah mengusirku sekarang?" balas Sakura sarkatis.

"Well, hanya mengingatkan. Ini sudah jam empat. Dan seingatku kau punya satu resital eksklusif yang harus dihadiri." Yuuhi Kurenai menggeliutkan kedua alisnya main-main dan untuk sejenak Sakura benar-benar mempertimbangkan untuk mencabut alis sempurna itu dari tempatnya.

"Oh sialan!" Namun apa daya, dia hanya bisa berlari keluar dari ruang ICU menuju ruangannya sendiri setelah melemparkan papan jalan berkas pasiennya kepada Kurenai yang tertawa tergelak-gelak.

Dalam perjalanannya menuju ruang kerjanya untuk mengemasi barang-barang, Sakura kembali memikirkan sosok Yuuhi Kurenai dan suaminya. Pria rongsokan (begitu dia menyebut dirinya sendiri) itu selalu meninggalkan berbagai potongan dirinya di sepanjang jalan, perlahan-lahan kembali tenggelam dalam depresinya yang mendalam, tetapi Kurenai selalu di belakangnya—tanpa kata dan suara memunguti potongan-potongan tak berarti yang merupakan suaminya, mengumpulkannya, dan memasangnya kembali dengan kecupan di dahi.

Sakura bertanya-tanya apakah ada yang berdiri di belakangnya dan melakukan seperti apa yang Kurenai lakukan untuk Asuma.

Suasana belakang panggung tempat para pemain bersiap-siap petang itu begitu ricuh. Para pemainnya, yang seluruhnya adalah anak-anak usia di bawah sepuluh tahun, sibuk membuat kegaduhan—yang lebih sering disebabkan karena usaha mereka menjauhkan diri dari belitan orang tua masing-masing yang ingin menyempurnakan penampilan putra-putri mereka, dimana sang putra dan putri hanya ingin bermain musik.

Jiwa pemusik memang tidak banyak dimengerti.

Di salah satu sudut ruangan, di kursi paling pojok, nasib seorang pemain resital juga tidak jauh berbeda dengan rekannya. Haruno Sousuke, gagah dengan setelan jas hitam klasik dan kemeja kelabu pucatnya, tengah berusaha lepas dari pegangan ibunya yang memegang dasi hitam mengilat.

"Tidak, Ibu…" rengeknya sambil menggelengkan kepala keras-keras.

Berjongkok di depan putranya, dengan gaun biru tua dan abu-abu terang berpotongan sederhana, berusaha membujuk putranya. "Hanya sekali ini, sayang. Kalau kau pakai jas, kau juga harus memakai dasi."

"Peraturan macam apa itu?" tolak Sousuke mentah-mentah. Dia kemudian beralih ke arah Bibi Ino yang berdiri di sampingnya dengan wajah geli. "Tidak ada aturan semacam itu 'kan, Bibi?"

Yamanaka Ino tersenyum mengedip. "Ya, tapi dasi membuatmu semakin keren, sayang."

Sousuke memberengut. "Sasuke tidak pernah memakai dasi dan tetap keren!" tudingnya ke belakang bahu Sakura.

Ino terbahak-bahak mendengar celetuk polos Sousuke. Rambut pirang pasirnya yang diikat tinggi bergoyang-goyang. "Oh dia memang keren sampai ke tulang-tulang, kuakui."

Mengikuti arah tudingan putranya, Sakura menoleh ke belakang, mendapati objek pembicaraan mereka berdiri lima langkah di belakang dengan alis sebelah terangkat, terlihat luar biasa dengan setelan jas kelabu pucat dan kemeja gelap. Sousuke segera melepaskan diri dari pegangan ibunya yang tengah terbagi fokusnya.

"Sasuke!"

Sasuke merendahkan tubuhnya untuk menangkap Sousuke yang, lagi-lagi, melompat gesit ke arahnya. "Sudah siap, kawan?" tanyanya dengan seringai kecil ketika Sousuke sudah nyaman duduk di pinggangnya. Tangan kecilnya melingkari leher Sasuke erat.

"Kau datang!" seru Sousuke gembira. Suara nyaringnya nyaris membuat Sasuke mengernyit.

"Aku sudah janji," katanya ringan seraya membawa Sousuke kembali mendekat kepada dua wanita yang menunggunya.

"Oh!" seru Ino tiba-tiba. "Kalian bertiga mencocokkan baju atau apa? Memangnya yang begitu masih menjadi tren keluarga?" Ino mendengus. Mata birunya berbinar menggoda.

Ketiga orang yang menjadi topik segera mengamati pakaian masing-masing, kemudian saling melempar tatapan bingung satu sama lain.

Ino kontan gemas melihatnya. Jari telunjuknya yang ramping menuding Sasuke. "Kau pakai jas abu-abu dan kemeja biru."

"Ini hitam," koreksi Sasuke.

"Midnight blue, mister!" sangkal Ino.

Ini yang selalu membuat Sasuke bingung luar biasa. Wanita suka sekali merepotkan diri; menyebut satu warna dengan banyak padanan. Ada scarlet, marun, merah bata, merah jambu, merah hati untuk satu merah. Coral, pink muda, orchid, misty rose, salmon, hot pink, sampai deep pink untuk menyebut merah muda. Belum lagi sea green, forest green, olive, chartreuse, spring green, dan segala macamnya hanya untuk hijau. Bagi Sasuke, merah adalah rona di pipi Sakura; pink adalah yang seperti rambut Sakura; hijau adalah mata Sakura. Untuk apa belasan nama seperti itu ketika orang bisa menyebut satu untuk tiga sekaligus?

"Ini masih disebut hitam," bantah Sasuke ngotot.

"Untuk yang ini aku setuju dengan Ino. Kemejamu itu midnight blue, belum hitam," dukung Sakura sambil lalu. Tangannya sudah terangkat lagi untuk memasangkan dasi di kerah Sousuke.

"Tidak mau, Ibu!" berontak Sousuke.

"Oh, ayolah, sayang." Sakura kemudian beralih ke arah pria yang menggendong putranya. "Sasuke, jangan diam saja. Bantu aku!"

Sasuke, dengan sebelah tangan menyangga Sousuke dan satu tangan lain tenggelam di saku celana, mengangkat alis tinggi-tinggi, kemudian mendengus. "Maaf saja, nyonya, aku benci dasi."

"Dasar kekanakan!" tuding Sakura memberengut, merasa dikhianati.

"Jangan hina dirimu, Sakura."

Percekcokan mereka terus berlanjut, melupakan kehadiran Ino yang menyaksikan interaksi ketiganya bagai tontotan paling menarik yang pernah ada. Ini bagus sekali, pikir Ino

Haruno Sousuke duduk di balik grandpiano putih di atas panggung. Jas hitamnya yang licin kontras dengan nuansa panggung yang ditata putih dan krem. Anak lelaki itu menunduk memandangi deretan tuts hitam-putih piano besar di depannya. Mata hazelnya yang berkilat nyaris pucat di bawah sinar terang lampu menilik ke arah deretan kursi penonton terdepan, dimana dia tahu Sakura dan Sasuke duduk.

Beberapa saat kemudian Gaara turut naik ke panggung, menghampiri Sousuke dengan membawa serta wireless microphone. Sousuke kemudian bangkit dari dudukannya, menerima uluran pengeras suara tersebut, kemudian berdiri di tengah panggung. Sorot lampu berubah redup dan dia berdiri menjadi pusat perhatian. Rambutnya yang merah tembaga terlihat sepucat rambut merah ibunya.

"Uh…" mulai anak lelaki itu. Posturnya tampak ragu dan berat tubuhnya berpindah dari satu kaki ke kaki lain dalam jeda tiga detik. "Seharusnya aku memainkan Largo dari Bach sebagai pembuka, tapi..." matanya diarahkan kepada Sasuke yang hanya berupa siluet gelap dari panggung tempatnya berdiri, "hari ini sangat spesial, jadi lagu pembuka dariku adalah lagu pertama yang kupelajari sendiri saat aku enam tahun; untuk laki-laki yang menjadi pahlawanku, dan penyelamat bagi ibuku. Terima kasih, terima kasih karena sudah ada untuk kami—karena kalau aku bisa punya ayah, itu adalah kau." Mata hazelnya berair, tetapi senyum lebarnya tidak goyah.

Sakura duduk dengan tangan didekap di depan dada. Matanya turut berair menyaksikan putranya berdiri gagah di depan. Desah nafasnya menjadi lebih berat dan tajam. Dia memandangi pria yang duduk tanpa suara di sampingnya dengan sorot mata cemas dan penasaran. Sakura tidak tahu apa yang dipikirkan pria itu tentang dirinya dan putranya—sementara Sakura merasa dirinya dan Sousuke terang-terangan menunjukkan ketergantungan terhadapnya.

Sasuke duduk memandang bocah kecil itu dengan tatapan intens. Wajahnya impasif seperti biasa, bebas dari emosi, tetapi Sakura bisa melihat bahunya turun lebih rileks, sudut-sudut matanya berkerut, dan ujung bibirnya ditarik samar—seolah pria itu tengah menahan tangisnya sendiri. Sakura menyadari ini adalah momen pribadi Sasuke, karenanya dia memutuskan untuk tidak berkomentar. Satu yang dia ketahui dengan pasti, Sasuke sama bangganya dengannya terhadap Sousuke. Anak lelaki itu telah menjadi kebanggaan dan kehormatannya.

Sousuke kemudian kembali ke posisinya semula setelah mengembalikan microphone yang dipegangnya kepada Gaara yang tersenyum kecil untuknya. Dia memosisikan jemari kecilnya di atas tuts hitam-putih, tampak penuh konsentrasi, tetapi kemudian buyar begitu saja. Dengan sebelah tangan, Sousuke merenggut dasi biru yang berhasil Sakura pasang di momen-momen terakhir, hingga tertarik kendur dari lingkar lehernya.

Sang ibu memicingkan mata kesal, lebih-lebih setelah mendengar suara dengus tawa rendah dan singkat yang berasal dari pria di sampingnya. Ditambah beberapa kekehan yang berasal dari sekitarnya. Dasi itu sudah sempurna di kerah kemeja Sousuke! Sakura merasa ingin menjerit saja.

Dan Sousuke mendahuluinya dengan satu staccato ringan yang menandai permulaan permainannya. Iringan melodi ringan dan ceria itu kemudian menggema di seluruh hall, menangkap perhatian seluruh penontonnya, membungkam setiap percakapan yang tadi sempat berlangsung.

Sakura mengerutkan kening mendengar melodi yang rasa-rasanya tidak asing itu setelah beberapa menit. Dia mencoba mengingat-ingat kiranya dimana dia mendengar melodi yang luar biasa akrab itu. Dan Sakura dianggap tuli nada bukan tanpa sebab. "Bukannya ini lagu alfabet untuk anak TK?" komentar Sakura tanpa sadar. "Apa judulnya…hmm Twinkle Twinkle Little Star?

"Dua belas variasi Ah vous dirai-je, maman dari Mozart," koreksi Sasuke dengan segera.

"Huh?" respon Sakura bingung. Apa dia baru saja mendengar Sasuke dan lidah Perancisnya yang seksi?

"Judulnya."

Sakura memandangi Sasuke impasif. Sorot matanya aneh seolah pria itu punya tiga kepala. "Semua orang juga tahu ini melodi lagu alfabet," kilah Sakura. "Kenapa anakku memainkan lagu ini di resital piano klasik?"

Kali ini ganti Sasuke yang memandangi Sakura seakan-akan wanita itu punya kepala tambahan atau sudah gila. "Ini komposisi piano Mozart, klasik," jawab Sasuke dengan suara nyaris bosan. "Sousuke sedang memainkan variasi ke-sembilan sekarang."

Di variasi ke-sebelah dan dua belas, tempo melodinya sedikit berbeda dari yang sudah-sudah. Sakura sudah akan menanyakan perihal ini kepada Sasuke, tetapi pria tersebut seakan-akan telah membaca isi kepalanya dan dengan segera menjawab, "adagio di variasi ke-sebelas dan allegro di dua belas."

Benar sudah; Sakura memang buta dan tuli nada. "Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak hal?" tuntutnya beberapa saat kemudian setelah Sousuke menyelesaikan permainan solonya. Pertanyaannya beradu dengan suara riuh tepukan tangan penonton yang memantul-mantul di dinding hall.

"Karena aku Uchiha Sasuke," jawabnya kalem, dan pada momen itu Sakura merasa dia siap jika harus dibekuk pihak berwajib atas kasus pembunuhan sadis.

Gejolak kejengkelannya dengan segera padam ketika suara Sousuke sekali lagi menguasai perhatian seluruh penonton. "Penampilan keduaku malam ini," Sousuke berkata dari tempatnya duduk di balik grandpiano, "untuk ibuku tersayang. Satu-satunya lagu yang bisa dikenalinya dengan mudah walaupun ada puluhan lembaran musik berceceran di rumah dan aku sudah memainkan sangat banyak lagu untuknya—" Pria kecil itu tertawa. "Sepertinya hanya ini lagu klasik favorit ibuku yang buta dan tuli nada."

Kalau yang sebelumnya tawa Sasuke hanya berupa dengusan pendek, kali ini pria itu sudah berani menertawakan Sakura terang-terangan. Suara tawanya rendah, kikuk, singkat, dan suaranya parau dan sengau seolah dia tidak pernah menggunakannya untuk tawa sebelumnya—yang barangkali memang begitu adanya. Pria itu, Sakura sadari, tidak punya banyak hal yang bisa membuatnya tertawa. Namun di malam ini, barangkali Sousuke berhasil membahagiakan pria itu lebih dari penobatan CEOnya yang berlangsung fantastis sepanjang pagi hingga sore.

Sakura kemudian memilih untuk kembali memperhatikan putranya yang sedang bersiap untuk lagu keduanya, dengan sengaja mengabaikan komentar miring dua lelaki itu—sesuatu tentang buta dan tuli nada, huh?

Tak lama berselang, Sousuke mulai memainkan nada-nada yang sangat Sakura kenal. Nadanya lembut, dimulai dengan tempo lambat yang mendayu-dayu. Denting pianonya jernih dan tegas. Sang ibu meleleh di kursinya.

"Aku heran kenapa aku tidak kaget mengetahui satu-satunya lagu yang kau kenal adalah Clair de Lune," gumam Sasuke.

Ada nada mencemooh yang menggoda dari suara Sasuke, tetapi Sakura terlalu bahagia untuk memedulikannya. "Maaf saja, tapi Debussy memang patut dikenang," balas Sakura, berusaha membuat nadanya pedas tetapi gagal mentah-mentah akibat genangan air mata di kedua matanya menjadikan suaranya bergetar dan lembek.

Sasuke melirik wanita yang duduk di sampingnya dengan wajah damai. Puas melihatnya, Sasuke memejamkan mata dan membiarkan alunan lembut itu menguasai indranya.

Ketika koran pagi dicetak dengan headline besar-besar tertulis 'Pewaris Realife tinggalkan malam penobatannya, tertangkap tangan hadiri resital piano' lengkap dengan foto dari belakang sang pewaris yang disebut-sebut tengah menggendong bocah delapan tahun di pinggangnya, CEO baru Realife itu tidak pernah repot-repot mengklarifikasi siapa si anak lelaki yang digosipkan adalah putra rahasianya.

Condo yang dibelinya nyaris empat tahun lalu itu sebelumnya tidak pernah bermakna banyak. Hanya sebuah tempat tinggal yang membuatnya merogoh kocek dalam-dalam, bukan sebuah rumah—lebih sering digunakannya sebagai perpanjangan tempat kantornya. Kalau tidak di ruang kerja, ruangan yang konstan dia pakai hanyalah kamar tidur dan kamar mandi. Dia tidak mengingat seberapa lama dia tinggal di condonya dalam sehari.

Uchiha Sasuke tidak lagi mengingat bagaimana kehidupan dulu, yang monoton dan kontinu tanpa ada suatu hal yang berarti selain perjanjian kerja sama dan rapat setiap harinya, sebelum ibu dan anak itu datang dan mengubah segalanya. Tidak ada keluhan di sini, percayalah.

Perubahan yang lumayan drastis itu pada awalnya membuat keteraturan dalam hidupnya kacau. Ritme hidupnya berubah. Kesehariannya berganti. Kebiasaannya ditinggalkan. Semuanya baru, selayaknya pusat kehidupannya tanpa sadar dan secara alami berpindah titik.

Dan kini, Uchiha Sasuke tidak bisa mengingat bagaimana dulu dia hidup. Uchiha Sasuke hanya bisa termangu terheran-heran, bertanya-tanya kepada dirinya sendiri bagaimana dia bisa menjalani tiga puluh dua tahun kehidupannya tanpa kehadiran dua figur itu. Kini, gambaran kemungkinan itu membuatnya mengernyit tak suka dan dadanya sesak.

Uchiha Sasuke yang dulu pasti sudah gila karena merasa puas dengan kehidupannya, sementara di sini segalanya menjadi lebih dan lebih baik setiap harinya.

Bagaimana mungkin yang seperti itu dia terima begitu saja dulu? Dan semua orang berkata Uchiha Sasuke adalah pria yang ambisius dan berkeinginan kuat.

Mereka salah. Uchiha Sasuke sudah lama tidak lagi memperjuangkan keinginannya. Semenjak dia menyaksikan punggung kakaknya menjauh, di bawah derai hujan, pergi menyongsong mimpinya sendiri, Uchiha Sasuke sudah tidak lagi memikirkan keinginan pribadinya. Dia hidup mengikuti arus takdir, kemana pun dia terbawa. Kini, sebagai pewaris tunggal dan kehilangan mimpinya.

Bukankah Tuhan itu adil?

Hidup, pada mulanya, tidak adil kepadanya, tetapi Tuhan lah yang demikian. Dia merelakan satu hal dan kini diberkati satu hal lain, yang tidak akan dia tukar dengan apapun bahkan jika neraka membeku karenanya.

Lihatlah dua pasang sepatu tergeletak berantakan di genkan condonya, tempat tinggal yang kini adalah rumah yang selalu ditujunya setiap hari, dan udara di dalamnya tidak lagi beku karena ketiadaan penghuninya.

Yang begini ini, pikir Sasuke, sempurna walaupun terkadang begitu sempurna sampai-sampai terasa bagai mimpi. Tak masalah jika memang mimpi, karena Sasuke akan mewujudkannya.

Sebuah rumah dimana dia akan pulang, mengucapkan tadaima, dan akan ada yang membalasnya dengan okaerinasai.

"Tadaima," ulangnya membeokan gema yang seirama dengan apa yang ada di dada.

Si wanita yang berdiri di balik konter dapur dan membiarkan si anak menyebar lembar-lembar partiturnya di meja makan, tersenyum hangat untuknya. "Okaerinasai."

—yang begitu itu, sudah cukup baginya.

"Maukah kau menikah denganku?"

Sudah lama Sakura tidak merasa seperti ini, seolah saraf indranya mati rasa dan otaknya beku. Aneh juga kalau Sakura tidak merasa demikian, mengingat apa yang terjadi lima hari lalu.

"Maukah kau menikah denganku?"

Sakura tidak pernah tahu mengucapkannya bisa semudah itu dan mengatakan 'tidak' bisa lebih mudah dari itu. Sakura bertanya-tanya sejenak siapa yang sebenarnya gila di sini.

Sore itu, lima hari lalu, semuanya berlangsung normal-normal saja pada awalnya. Dia pulang dari rumah sakit, menjemput Sousuke dari kelas pianonya yang sudah tidak sesibuk dulu, pulang dan menyiapkan makan malam untuk bertiga. Kemudian terjadilah satu 'Maukah kau menikah denganku?' yang disusul dengan satu 'Tentu saja tidak' yang luar biasa konyol dari pihak Sakura. Jika diingat baik-baik, Sakura bahkan tidak memikirkannya. Jawabannya terlempar keluar begitu saja dari bibirnya, dan meninggalkan gejolak aneh dalam dadanya. Terlebih ketika menyaksikan gurat kekecewaan yang dengan profesional dihapus dari wajah impasif Uchiha Sasuke. Semenjak sore itu, Sakura tidak lagi berani bertatap mata dengan pria itu. Praktisnya dia menghindar, kembali mengambil banyak shift hingga akhirnya Sasuke terbang ke Hokkaido untuk perjalanan bisnis tiga hari lalu dan jika sesuai jadwal, pagi tadi dia sudah mendarat di Kyoto lagi. Penyesalannya tidak juga berkurang sejak hari itu, tidak dalam waktu-waktu dekat.

Haruno Sakura mengerang keras dan memukulkan kepalanya ke atas meja di ruang perawat. Beberapa perawat yang ada di sana terlonjak kaget.

"Dokter baik-baik saja?" tanya Matsuri cemas luar biasa. "Apa aku perlu menjalankan CT scan, Dokter?"

Dengan kening masih menempel di atas meja, Sakura mengerang. "Tidak perlu."

Matsuri bertukar pandang dengan Mikoshi, rekan perawatnya yang lain. "Lalu apa yang bisa kami lakukan untukmu, Dok? Sepertinya Dokter membenturkan kepala sangat keras."

Tidak, erang Sakura membatin, barangkali dengan begini dia jadi sedikit lebih waras! "Kau bisa membantuku dengan menelpon rumah sakit jiwa dan memesankan satu ruang permanen untukku. Aku sudah gila."

Dua wanita muda itu menghapus raut cemas di wajah masing-masing dan menggantinya dengan wajah impasif. "Mikoshi, coba kau telpon Uchiha Sasuke. Nomor telpon sekretarisnya ada di buku catatan di dekat telpon," ujar Matsuri dengan nada datar. Belakangan ini, dia sudah belajar banyak untuk menghubungi seorang Uchiha tertentu kalau-kalau dokter kepalanya bertingkah aneh.

Tiba-tiba Sakura mengerang keras, merenggut tangan Mikoshi yang sudah bergerak menuju meja telpon. "Jangan telpon!" pintanya, separuh memelas separuh memerintah.

"Dokter Haruno," mulai Matsuri. "Uchiha Sasuke-san sudah menyampaikan instruksinya kepada seluruh kru UGD untuk melapor kalau-kalau terjadi sesuatu yang aneh kepada Anda."

"Memangnya siapa atasanmu? Dia atau aku?" sergah Sakura dengan erangan. "Dan aku tidak aneh! Aku baik-baik saja," klaimnya tandas.

Matsuri dan Mikoshi kompak berdecak panjang.

"Ada apa ini?" Dokter Hyuuga yang baru menyelesaikan pemeriksaannya memasuki ruang perawat dengan kening berkerut bingung.

"Kita perlu menghubungi Sasuke-san, Dokter Hyuuga," lapor Matsuri dengan mode profesionalnya, seolah baru menangani pasien keras kepala yang menolak diinjeksi.

"Oh?" Sepasang alis gelap Hyuuga Hanabi naik tinggi. Dia kemudian memandangi dokter kepalanya dengan mata curiga. "Apa yang terjadi, Dokter Haruno?"

"Tidak ada," sentak Sakura nyaris segera, justru meningkatkan kecurigaan ketiga rekan kerjanya. Sakura melemparkan tangan ke udara. "Kenapa kalian tidak percaya? Aku baik-baik saja!"

"Tidak ada orang yang baik-baik saja yang meminta dipesankan kamar rawat di rumah sakit jiwa," ujar Mikoshi menginformasikan.

Menyaksikan kekalahan adalah akhir dari pertarungannya, Sakura bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan dengan langkah menghentak yang sedikit kekanakan. Dokter satu itu segera keluar dari wilayah UGD menuju bagian dalam rumah sakit, tidak benar-benar tahu harus kemana. Pakaian operasi standarnya masih belum diganti walaupun shiftnya sudah berakhir satu jam lalu.

"Sakura, apa yang kau lakukan di sini?"

Suara berat dan malas-malasan yang sudah dia hafal itu membuyarkan Sakura dari lamunan tak tentu arahnya. Wanita itu melemparkan tatapan ke samping kanan, mendapati Hatake Kakashi memandanginya dengan sorot mata bingung, kalau tidak bercampur geli ketika menyadari seberapa kacaunya dokter itu.

"Rumah sakit adalah tempat dimana dokter wajar ditemukan. Justru aku yang harus bertanya apa yang pengusaha sukses sepertimu lakukan di rumah sakit? Kecuali untuk mendapatkan perawatan medis karena dementia akut tapi itu artinya kau harus pergi ke gedung timur, atau kau sedang tersesat di jalan kehidupan?"

"Ha-ha." Hatake Kakashi mendengus malas mendapat sarkasme Sakura. Wanita satu ini punya lidah luar biasa tajam, seakan sarkasme adalah nama tengahnya. Sarkasme itu selalu muncul sepuluh kali lipat intensitasnya ketika Sakura tengah berusaha menyembunyikan sesuatu. Wanita itu berusaha mengarahkan fokus orang lain ke aspek selain masalahnya; salah satunya adalah dengan membuat mereka sibuk dengan emosi negatif mereka sendiri dan lupa menanyakan perihal Sakura. Namun tentunya, Kakashi adalah salah satu pengecualian di sini; dia bukan lagi amatir. "Aku di sini untuk menemui Rin, kalau-kalau kau lupa dia sekarang menjadi volunteer menjaga anak-anak di sini. Dan yang kumaksud adalah kenapa kau, dengan baju operasi lusuh dan berdarah begitu, datang ke bangsal anak? Kau sadar tidak, kalau kau menakuti anak-anak manis ini, membuat mereka berpikir ada pembunuh berantai lepas kendali di rumah sakit."

"Ha-ha," ulang Sakura menirukan jemu. "Aku ke sini juga mencari Rin."

"Ada apa memangnya?"

"Obrolan wanita," jawab Sakura tandas.

Kakashi lagi-lagi mendengus. Bertahun-tahun hidup bersama wanita yang sulit dikendalikan telah mengajarkan Kakashi banyak hal. Sekarang, dia sudah mahir mengartikan 'obrolan wanita' yang disebut-sebut. Wanita tidak benar-benar punya hal rahasia yang perlu disembunyikan, kecuali itu adalah sesuatu yang memalukan hingga ke tulang-tulang. Dan Kakashi berani bertaruh Sakura juga menggunakannya untuk alasan yang sama kali ini. "Kalau begitu ayo, kita bisa pergi bersama," tawar Kakashi yang tidak tolak oleh Sakura.

Keduanya kemudian berjalan bersama dalam keheningan menuju bagian tengah bangsal anak. Sakura kembali tenggelam dalam pikirannya dan Kakashi lebih dari rela membiarkan wanita itu bergulat dengan pikirannya sendiri. Setelah beberapa belokan dan koridor panjang, keduanya sampai di ruang bermain bangsal anak dimana Hatake Rin berada.

"Rin," sapa sang suami kepada istrinya yang tengah bersimpuh dikelilingi beberapa anak kecil berpakaian pasien.

Hatake Rin menoleh ke sumber suara. Senyumnya cerah. "Kau datang lebih awal," katanya gembira. "Oh Sakura?"

"Halo, Rin," sapa Sakura dengan senyum ketat yang dengan segera dipahami oleh Rin sebagai pertanda tidak baik.

Setelah memisahkan diri dari anak-anak manis yang mengerubunginya dan membiarkan mereka bermain bersama Kakashi yang menggerutu setengah hati, Rin berjingkat pergi dan duduk di sofa di pojok ruang bermain bersama Sakura.

"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya langsung ketika keduanya telah duduk nyaman.

Sakura terdiam sejenak memandangi jemarinya yang saling bertaut, merasa bimbang dengan kemelut hatinya. "Ini…tentang Sasuke," mulainya enggan.

"Kau bisa menceritakan apapun kepadaku, Sakura. Aku akan sediam tembok kali ini."

Sakura tertawa kecil mendengarnya. "Tidak perlu sedramatis itu."

Rin menyeringai miring yang mirip sekali dengan seringai nakal suaminya. "Dramatis adalah nama tengahku," tukasnya bangga. Ketika Sakura tidak menampakkan pertanda akan melanjutkan pembicaraan serius mereka, Rin menggeser duduk lebih dekat dan berbicara nyaris berbisik, "apa sesuatu terjadi di antara kalian?" tanyanya halus.

Sakura mendesah panjang. "Tidak, entahlah. Hanya…" Sakura menggigit bibir bawahnya gemas. "Lima hari lalu, Sasuke tiba-tiba melamarku."

Hatake Rin yang luar biasa kaget bahkan sampai tidak bisa menemukan suaranya. Mulutnya terbuka lebar seiring dengan matanya yang serasa hendak melompat keluar dari rongganya.

"Mengagetkan, ya?" kata Sakura setengah bercanda. "Mau dengar yang lebih mengagetkan lagi?" tawarnya dengan senyum hambar.

Rin mengangguk antusias, kontras dengan rona di wajah Sakura.

"Aku langsung menolaknya."

Wajah kaget Rin yang tadi sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan wajahnya yang sekarang. Sakura bahkan tidak lagi menemukan padanan kata yang pas.

"Jenius ya?" sindirnya lebih kepada dirinya sendiri.

Barulah kali itu Rin menyadari kepahitan dari nada suara Sakura. Sambil mengumpulkan otaknya, Rin menarik nafas panjang. "Apa kau menyesalinya? Menolak lamaran Sasuke?"

Sakura memandangi wanita yang lebih tua darinya itu dengan pandangan ragu. "Aku tidak tahu soal itu, tapi yang kusesali adalah membuatnya kecewa. Dia menyembunyikan emosinya dengan baik, tapi untuk beberapa saat aku melihat kekecewaannya. Aku menolaknya dengan begitu…tegas, seakan-akan jawabannya sudah sangat jelas dan tidak perlu lagi ditanyakan." Sakura menarik nafas dalam-dalam, menenangkan jantungnya yang menghentak keras-keras di rongga dada. "Tentu saja tidak, kataku kepadanya." Sakura mencibir, mencemooh kebodohannya sendiri. "Dan seketika matanya—demi Tuhan, aku bersumpah melihat di matanya ada kekecewaan dan perasaan terluka—" Sakura memaksa keluar suaranya yang kini terdengar serak. Dia berusaha keras menahan tangisnya di tepian.

"Kenapa kau tidak menerimanya? Terlepas dari keenggananmu mengecewakannya. Apa kau…tidak pernah membayangkan hidup bersamanya? Kalian tinggal serumah sekarang, Sousuke mengidolakannya, dan…semuanya tampak baik-baik saja."

"Aku tidak mencintainya, Rin," jawabnya lemah. Bibir bawahnya digigit kuat. "Aku tahu aku bodoh, tapi setelah semua ini aku tidak bisa lagi membayangkan pernikahan lain. Aku tidak bisa…lebih-lebih tanpa cinta."

"Jadi, ini karena cinta?" Rin memastikan. "Karena kau pikir kau tidak mencintainya?"

"Aku tidak mencintainya," ulang Sakura dengan suara lebih mantap, tetapi entah mengapa bagi Rin Sakura terdengar seolah tengah meyakinkan diri sendiri. Seperti kebohongan yang ratusan kali dirapal hingga mengucapkannya menjadi begitu mudah, layaknya kebenaran.

"Kau salah," wanita bersuami itu mengulum senyum manis. "Kau mencintainya. Kau sudah mencintainya," koreksinya. Ketika Sakura hendak buka mulut untuk protes keras, dia segera menyambung kalimatnya. "Kau mencintainya. Kau mencintainya," ulangnya berkali-kali, diucapkan seperti mantra ajaib. "Kau hanya belum tahu cinta seperti apa yang kau punya untuknya. Karena cinta mewujud dalam banyak bentuk, memilih banyak warna untuk masing-masing orang." Rin meraih tangan Sakura yang gemetar dan meremasnya lembut, berusaha membagi keberaniannya dengan wanita yang penuh keraguan itu. "Beberapa punya api membara dalam cinta mereka; membakar habis seperti api dan mesiu, meledak ketika bersama. Beberapa punya cinta yang meracun, tapi tetap saja itu adalah cinta, seperti yang orang bilang antara Heathcliff dan Catherine," dia kesulitan menahan tawa di sini. Dia sadar kata-katanya terdengar konyol dengan selingan kisah roman klasik, tetapi dia perlu membuka mata wanita menawan di depannya ini lebar-lebar, untuk melihat apa yang benar-benar ada di depannya. Karena memang, gajah di pelupuk mata seringkali tidak terlihat. Manusia memang seperti itu; mengabaikan apa yang mereka punya dan baru menyadarinya ketika mereka telah kehilangan. Rin tidak ingin Sakura begitu. "Warna cintamu mungkin tidak merah, barangkali putih dan bernoda di sana-sini dan kau harus bisa membedakannya, tetap menyadari cintamu ada di sini." Dia meletakkan tangannya di dada Sakura, merasakan detak mantap jantung di bawah telapak tangannya.

"Bagaimana…" Sakura tersedak deguk air matanya. "Bagaimana jika itu tidak cukup?"

Rin memandangi Sakura dengan sorot mata yang hangat, keibuan dan memahami. "Pertanyaan yang seharusnya adalah apakah kau cukup berani mempertaruhkan apa yang kau punya?"

"Aku…aku tidak tahu," jawab Sakura jujur, terlihat luar biasa bingung.

"Kenapa kau tidak mencari tahu apakah Sasuke juga cukup berani?"

Untuk sejenak, Sakura hanya diam di sana. Mata hijau apelnya lebar memandang balik sepasang mata gelap Rin, mencari sesuatu di sana. Wanita itu sepertinya menemukan apa yang dicarinya dari Rin karena tiba-tiba saja dia melompat berdiri dari sofa dan berderap dengan langkah berisik, menghilang di balik pintu. Rin membiarkan tawanya menggema di dalam ruangan, menarik perhatian suaminya yang tampak geli memandangi kepergian Sakura.

Gedung dua puluh lantai yang merupakan kantor pusat Realife Homes, Ltd. tetap ramai di jam-jam makan siang ketika Haruno Sakura melangkahkan kaki melewati pintu kaca gandanya. Petugas keamanan yang berjaga mengangguk melihatnya, juga beberapa karyawan yang membagi salam selamat siang mereka dan menawarkan untuk bergabung makan siang. Sakura terus melangkah melewati meja resepsionis, seperti biasa, ketika suara wanita yang ramah dan tegas itu membuyarkan fokusnya. Sakura segera berhenti dan melemparkan senyumnya, berharap senyum itu tidak goyah.

"Selamat siang, ma'am. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang resepsionis yang baru Sakura lihat ketika dia berhenti di seberang meja penerima tamu. Pakaian kerjanya mulus, senyumnya teguh, dan suaranya jelas, tetapi Sakura bisa menangkap kegugupan yang terpancar dari sepasang mata kelabunya.

Dengan benak yang sama gugupnya, Sakura memaksa senyumnya lebih lebar. Dia edarkan pandangan cemas ke sekeliling lobi perusahaan yang ramai dengan puluhan karyawan keluar-masuk. Tidak biasanya ada yang menyapanya begini. "Apa Uchiha Sasuke ada di kantornya?" tanyanya dengan suara sedikit goyah.

Wanita muda dengan nametag bertuliskan Yamazaki itu menunduk memandang layar komputernya, mengetikkan sesuatu di keyboard, kemudian kembali memasang senyum untuk Sakura. "Benar, ma'am, tapi beliau sedang menerima tamu penting sekarang."

Demi Tuhan ini sudah jam makan siang. Tidakkah perusahaan ini punya jam-jam kunjungan tertentu untuk tamu bisnis? Dan di sini dia juga hendak bertamu. Sakura merasa sedikit hipokrit.

"Oh terima kasih," ucapnya, kemudian berniat melanjutkan langkah, tetapi suara resepsionis itu kembali menghentikannya.

"Anda harus membuat janji bertemu dengan sekretaris pribadi beliau, ma'am. Apa Anda sudah punya janji?" Wanita muda itu menyelipkan rambutnya yang terlepas dari sanggul ke belakang telinga. Sakura bisa melihat tangannya sedikit gemetar. Pengalaman bekerja pertama memang jarang menyenangkan. Sakura sendiri hampir-hampir tidak mengingat pengalamannya sendiri karena otaknya yang kacau saat itu.

Sakura yang kebingungan hanya bisa menggeleng. "Tidak…" jawabnya muram.

Yamazaki melemparkan senyum penuh sesal. "Kalau begitu Anda tidak bisa menemui beliau. Barangkali saya bisa menghubungkan Anda dengan sekretarisnya untuk membuat janji baru?" tawarnya ramah.

"Oh aku tidak bisa langsung menemuinya saja?" tanya Sakura gamang. Seingatnya dulu Sasuke memberinya akses tanpa batas untuk bertemu dengannya. Atau barangkali haknya sudah dicabut? Sakura meringis masam. Sakura cukup paham kalau memang begitu yang terjadi.

"Maaf sekali, ma'am. Hanya orang-orang tertentu yang mempunyai izin bertemu langsung dengan beliau. Uchiha-sama orang yang sangat sibuk."

Apakah itu kekaguman yang Sakura tangkap dari nada suaranya? Bachelor Uchiha Sasuke memang dambaan hati banyak wanita. Dan Haruno Sakura gagal menerima keberuntungan mendapat lamarannya. Kau di sini untuk mengoreksi, bukan begitu? Sakura menyemangati dirinya.

Wanita itu sudah hendak menanyakan apakah namanya sudah tidak tercantum dalam daftar yang disebut-sebut ketika seorang wanita berseru dari arah belakang.

"Oh Sakura, apa yang kau lakukan di sini?"

Sakura memutar tubuh, mendapati Temari berdiri tak jauh darinya sambil memegang gelas kertas yang berisi kopi. "Halo, Temari," sapa Sakura. "Aku baru akan membuat janji bertemu dengan Sasuke."

Mendengarnya membuat Temari memberengut. "Huh? Kau bisa langsung naik saja, bodoh. Untuk apa membuat janji segala?" protes Temari tak habis pikir.

"Aku tidak yakin aku mendapat izin. Kudengar Sasuke sedang menemui tamu penting," jawab Sakura sambil menghela nafas.

Temari memutar bola mata, kemudian melangkah mendekat. "Kau bahkan bisa menyela rapat dewan direksi kalau kau mau."

"Temari-san!" sergah resepsionis itu halus, sedikit bingung menyaksikan adegan di depannya.

Temari beralih memandangnya, kemudian berdecak. "Ah kau orang baru. Ini Haruno Sakura. Kalau dia datang, beri tahu saja dimana Sasuke. Dia punya akses bebas di sini. Tidak akan ada yang menyalahkanmu kalau kau mengizinkan wanita gila menerobos masuk, asalkan dia berambut pink seperti ini."

Sakura memberengut mendengarnya. "Rambutku tidak pink," protes sia-sia Sakura.

Sekretaris pribadi Sasuke itu hanya mengibaskan tangan ke udara, kemudian memandangi si dokter, kali ini dengan kerutan di kening yang semakin dalam. "Dan kenapa pula kau merasa harus mendapat izin? Sebelumnya tidak pernah, jadi kenapa sekarang harus?"

Sakura hanya bisa melemparkan senyum masam penuh sesal kepada resepsionis baru yang kini memucat. "Aku hanya merasa tidak enak."

"Memangnya ada apa?"

Sakura menghembuskan nafas keras-keras, membuat poninya yang jatuh berantakan menutupi keningnya tertiup ke atas. "Tidak ada apa-apa, sebelum keberanianku hilang. Omong-omong terima kasih, Yamazaki-san." Dengan satu senyum sesal lagi, Sakura menarik sekretaris pribadi Sasuke itu bersamanya berjalan menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai teratas gedung baja itu.

Selagi mereka berdua mengobrol ringan di dalam lift yang sepi, Sakura berusaha mengatur debaran jantungnya yang mulai tak terkendali. Begitu lampu indikator menunjukkan angka dua puluh dan pintu logam mengilat itu terbuka, Sakura sudah siap kembali menuju lantai dasar. Dia hampir saja menekan tombol yang akan mengantarkannya ke lantai satu kalau bukan karena tatapan heran yang dilemparkan Temari kepadanya.

"Kau baik-baik saja, Sakura? Kau sedikit biru."

Sakura mencoba meneguhkan senyumnya, tetapi ringisan getir yang justru terbentuk.

"Sasuke ada di ruangannya, masuk saja."

"Ba—bagaimana dengan tamunya?" tanya Sakura tergeragap. Diam-diam dia berharap tamu kali ini sangat sangat penting hingga membuat pria itu tidak bisa diganggu. Setidaknya untuk beberapa jam ke depan.

Siang ini Haruno Sakura pasti berlaku tidak seperti biasanya karena kini Temari menatapnya seolah-olah Sakura baru saja menumbuhkan satu kepala lagi, atau tujuh. "Kau tamu penting nomor satunya, kalau-kalau kau lupa." Dengan sepasang alis sabit terangkat tinggi, Temari berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya, kemudian mulai memeriksa pesan masuk di telponnya.

Merasa jengah berdiri sendirian tanpa tujuan di koridor yang sepi, Sakura akhirnya melangkah menuju satu-satunya pintu besar ganda yang ada di lantai tersebut. Pintu kayu itu setengah terbuka, mengizinkan Sakura mendengar gumaman percakapan yang tengah berlangsung di dalam sana. Kembali merasa ragu, Sakura menunduk memandangi lantai.

Apakah dia sedang melihat dirinya mengenakan sepatu kanvas dan scrub lengan pendek royal bluenya? Sakura terkesiap horor. Demi Tuhan dia baru saja memasuki wilayah perkantoran paling padat dengan pakaian seperti ini. Apakah yang di ujung bajunya itu adalah darah? Dalam hati Sakura mengerang dan memukul dahinya. Bagaimana dengan wajah dan rambutnya? Bekerja pada shift paling menyeramkan tidak lantas membuat penampilannya menjadi lebih baik.

Sibuk dengan perdebatan internalnya, Sakura gagal menyadari dua sosok yang berdiri di hadapannya dan yang kini tengah bingung memandanginya.

"Sakura?"

Yang dipanggil namanya tersentak keras dan mendongakkan kepala cepat. Sepasang matanya kemudian melebar menyadari siapa kedua pria yang berdiri tepat di depannya; yang satu tengah memandanginya heran, yang satu terang-terangan menunjukkan binar geli di matanya. Hebat, Sakura melenguh dalam batin, barangkali dia lebih menyeramkan daripada badut.

"Oh kau tamu pentingnya, Itachi?" Tanpa bisa dicegah, nada setengah mengejek itu terlepas begitu saja dari mulutnya. Sakura mengerang dalam benak.

Merespon ucapan pedas wanita di depannya, kilau geli di mata Itachi semakin menjadi-jadi. Entah bagaimana pria itu tetap berhasil menjaga ekspresinya tetap netral ketika matanya saja sudah cukup untuk menunjukkan gelak tawa di sana. "Kau terlihat menarik."

Kalau Sakura tidak mengenalnya lebih baik, dia pasti sudah melewatkan balasan ejekan dari cara bicaranya yang sopan itu. Kini Sakura memicingkan mata. "Ha-ha," katanya masam.

Dua bersaudara itu kompak menyeringai miring.

"Well, kurasa kita bisa makan siang bersama lain kali saja, little brother. Akan kuberikan update terbaru secepatnya." Itachi kembali tersenyum miring, kali ini sedikit berbalik untuk menatap adiknya yang berdiri satu langkah di belakang. Gemerlap di matanya semakin jelas, membuat Sakura mati-matian menahan diri untuk tidak mencekik pria lajang itu di tempat.

Sasuke memberi kakaknya satu anggukan singkat. Sakura yang baru saja menyadari dirinya telah mengganggu acara dua bersaudara itu buru-buru menyela.

"Tidak perlu membatalkan janji begitu. Aku bisa kembali lagi nanti," cegah Sakura seraya menahan lengan Itachi.

"Tidak perlu khawatir, Sakura," Itachi menepuk-nepuk tangan wanita yang kini bertingkah kelabakan itu hingga cengekeramannya lepas. Dengan tubuh mini begitu, Itachi tidak akan tertipu. Salah-salah dia justru dibanting ke lantai.

Sial. Padahal Sakura baru saja menemukan celah untuk lari pulang.

"Oh—baiklah," gumamnya lemah, menyerah untuk mencoba lari.

Sasuke yang sedari tadi masih diam hanya mengamati wanita itu dengan pandangan bertanya-tanya. Sudah lebih dari seminggu dia tidak melihat Sakura. Walaupun mereka masih tinggal satu rumah, tetapi wanita itu telah sukses menghindarinya—dan tanpa sengaja menghindari Sousuke juga, yang kini tengah frustasi (kalau bocah dianggap bisa merasakan frustasi) karena jarang bertemu ibunya. Bocah delapan tahun itu tadi menelponnya, setengah memaksa dan menyuruh, meminta Sasuke menjemput ibunya karena sepertinya shift dini hari Sakura berakhir siang ini.

"Masuklah," ucap Sasuke dengan suaranya yang berat. Dia buka pintu kerjanya lebih lebar, mempersilakan Sakura masuk.

Itachi segera mengambil langkah ke samping, menyediakan ruang bermanuver bagi Sakura.

"Oh…" responnya payah.

Begitu Itachi sudah menghilang ke dalam lift yang akan membawanya turun dan mereka berdua telah aman di dalam ruang kerjanya, barulah Sasuke bicara. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.

"Tentu, hanya sedikit lelah."

Sakura mengawasi Sasuke yang sedikit memiringkan kepala ke samping seraya memandanginya. "Tidak ada gangguan lagi?"

"Tidak, kenapa kau bertanya begitu?" tanya Sakura dengan sedikit noda kebingungan dalam suaranya.

Kali ini Sasuke yang tampak bingung mencari jawaban. "Kau datang ke kantorku," katanya sembari mengedikkan bahu, terlihat sedikit tidak yakin dengan dirinya sendiri.

"Ya aku di sini, memangnya kenapa? Aku jelas mengganggu sesuatu, tapi—" Sakura belum memahami arah pembicaraan mereka.

Sasuke buru-buru menggeleng. "Kau bisa datang ke sini kapan pun kau mau. Hanya saja kau tidak pernah kemari kalau tidak terjadi sesuatu."

Oh astaga, apakah memang demikian? Sakura meringis dalam hati. Sekarang dia terdengar begitu dingin, hanya datang jika membutuhkan bantuan.

"Tidak, aku baik-baik saja. Aku minta maaf kalau sikapku selama ini membuatmu berpikir begitu." Rasa bersalah yang dirasakan Sakura semakin besar saja. "Aku ingin…membicarakan sesuatu denganmu."

Sasuke tidak merespon, hanya diam memandangi Sakura dengan seksama. Sakura yang sudah pandai mengartikan sikap diam pria itu susah payah mengatur nafas. Dia kemudian menelan ludahnya gelisah. "Tentang…seminggu lalu…" ucapnya lirih, nyaris tidak terdengar oleh Sasuke.

Untuk beberapa saat lamanya, Sasuke tetap diam tanpa komentar. Keheningan di sekitar mereka menjadi lebih berat di setiap detik yang berlalu. Sakura mulai bergerak-gerak seperti cacing di kursinya. Lama hingga akhirnya Sasuke merespon, "Ah…"

Hanya begitu saja?! Ah, katanya? Sakura nyaris membeliak dan lari melompat dari kursinya. Dia rasa dia bisa mati kapan saja akibat menanggung rasa malu yang tak manusiawi ini.

Apa yang sebenarnya dia pikirkan?! Tiba-tiba datang membicarakan lamaran berhari-hari lalu setelah dengan sukses menghindar seperti maling yang kepergok. Bagaimana kalau Sasuke sudah mengubah rencananya? Bagaimana jika pria itu menarik lagi kata-katanya?! Toh waktu itu Sasuke hanya sekadar bertanya; tidak benar-benar melamar. Lebih seperti kalimat yang tak sengaja dia ucapkan. Bisa jadi dia hanya bercanda 'kan? Atau setidaknya terhanyut oleh atmosfer suasana saat itu.

Nekat terjun ke dalam palung tak berdasar, Sakura menarik nafas panjang. "Kau tahu…Naruto kesal sekali mengetahui reaksiku tentang ucapanmu minggu lalu; maaf aku sembarangan menceritakan hal itu kepadanya, kuharap dia tidak menyulitkanmu. Yah yang jelas dia mulai menceramahiku panjang lebar tentang keluarganya, pernikahannya, dan cintanya kepada Hinata, juga Rin dan Kakashi—" Sakura meringis sesaat. "Aku—aku tidak tahu bagaimana kau mendefinisikan cinta atau pernikahan atau keluarga; aku tidak tahu kau ingin membangun kehidupan yang seperti apa di masa depan. Yang kutahu hanya apa yang kurasakan." Sakura meremas kuat-kuat kedua tangannya di atas pangkuan, mencoba meredakan getaran halus yang sedikit demi sedikit mulai melumpuhkan indra-indranya. "Rin bilang ada banyak bentuk cinta dan pernikahan. Aku tidak merasakan sesuatu yang intens seperti halnya Kakashi dan Rin; atau pemujaan mendalam seperti yang ada di antara Naruto dan Hinata; atau kesabaran dan pengertian Kurenai untuk Asuma; tapi kekaguman dan hormat dan rasa berterima kasih—hanya itu yang aku punya. Kalau kau tidak masalah dengan itu, aku—"

"Tunggu."

Sasuke yang sedari tadi penuh perhatian mendengarkan tiba-tiba memotong. Buru-buru dia berjalan menuju meja kerjanya yang dipenuhi kertas dan tumpukan berkas, membuka paksa salah satu lacinya; satu tumpukan berkasnya jatuh berantakan di lantai dan tidak dia pedulikan. Sasuke kembali menghampiri Sakura, kali ini berdiri tepat di depan wanita yang tampak membiru di kursinya, sambil menggenggam kotak kecil di tangan kanannya. Dia kemudian berlutut di depan Sakura, menyejajarkan pandangannya dengan mata Sakura yang terbelalak lebar.

"Uh—apa yang kau lakukan?" tanya Sakura semakin gugup. Dia mulai memperlihatkan gejala asma akut.

Tanpa kata, Sasuke mengulurkan kotak beludru biru itu dan membuka tutupnya. Sakura langsung terkesiap dan merasakan Sasuke sekaku papan.

"Ini—" Sakura mencoba mengeluarkan reaksi dari mulutnya, tetapi tanpa hasil. Dia hanya bisa memandangi isi kotak kecil di depannya dengan mulut ternganga lebar. Pandangannya berpindah dari kotak tersebut ke wajah Sasuke yang ditata luar biasa kosong, berkali-kali hingga pandangannya mulai mengabur dan kepalanya pusing. "A—"

"Aku harusnya mengubah kalimat lamaranku, atau setidaknya tidak melamar dengan tangan kosong," ujar Sasuke lamat-lamat setelah berhasil menguasai fokus wanita di depannya. "Aku berencana melamarmu untuk kedua kalinya, tapi aku justru tidak mendapat waktu bertemu denganmu."

Merasakan beban rasa bersalah yang sama, Sakura menunduk. "Maaf," gumamnya dengan suara gemetar.

Dengan lembut, Sasuke mengangkat dagu Sakura hingga pandangan mereka kembali bertemu. "Sousuke sangat merindukanmu," ujarnya dengan suara yang dengan jelas mencerminkan kelembutannya.

"Aku juga merindukannya, merindukanmu juga," aku Sakura lemah.

Sasuke tersenyum tipis. "Aku punya cincin untukmu. Apa kau mau menerimanya bersama dengan lamaranku?"

"Itu—emerald yang indah sekali…" komentar Sakura payah, memandangi cincin bermata tunggal hijau bening itu dengan mata berair.

"Berlian," koreksi Sasuke dengan mata berkelip geli. "Batu kelahiran Sousuke."

Sakura merasa hatinya meleleh. Matanya berkaca-kaca melihat permata hijau yang diklaim Sasuke sebagai berlian. "Tapi ini hijau…seperti emerald," bantahnya dengan suara parau.

"Tidak, bukan hijau seperti emerald. Hijau seperti peridot, seperti matamu."

Sakura kesulitan menelan nafasnya. "Berlian hijau…bukannya sangat langka?" Duh, yang benar saja. Bukannya menerima lamaran pria menakjubkan di depannya itu, Sakura justru mengomentari kelangkaan berlian hijau. Sakura heran kemana perginya logikanya di saat-saat krusial begini. Tanpa menunggu perintah otaknya, kaki-kaki Sakura bergerak menegakkan diri. Kini dia berdiri di depan Sasuke yang masih berlutut bingung. Nafasnya berubah sesak. "Ini pasti mahal sekali. Aku tidak bisa menerima—" Hentikan dirinya sekarang! Tuhan, dua kali sudah dia menolak lamaran Sasuke.

Untungnya, Sasuke buru-buru menyela sambil kembali berdiri menjulang di depan Sakura. Ekspresi wajahnya tak terbaca, tetapi ada kesabaran yang luas di caranya memandang Sakura. "Apa kau tahu kalau sebenarnya berlian berwarna adalah barang cacat?" —Sakura kehilangan jantungnya; mati rasa mendengar kalimat itu terlontar begitu saja. "Tidak lagi murni disusun oleh karbon. Berlian hijau terbentuk karena terjadi penyinaran matahari selama proses pembentukannya. Berlian ini tidak sempurna, cacat, gagal terbentuk, tapi yang membuat heran harganya sangat mahal. Indah saat dia telah cacat. Sepertimu."

Dada Sakura serasa diremas kuat, membuat udara tertekan keluar dari paru-parunya dan kontraksi otot-otot rusuknya terhalang. Aliran udaranya tertahan di tenggorokan; tidak bisa keluar maupun masuk. Sakura merasa akan runtuh saat itu juga. Hatinya sakit lebih dari yang bisa dia duga. Namun, Sasuke tidak membiarkan Sakura berspekulasi lebih menyakitkan dari itu.

"—kau telah dilukai, berkali-kali menderita dan rusak, tapi kau yang di sini lebih indah dari permata mana pun." Dengan gerakan perlahan, Sasuke mengeluarkan cincin platina dengan berlian tunggal itu dari kotaknya, kemudian menggenggam tangan kiri Sakura yang gemetaran. Suaranya mantap dan terkendali, membuat Sakura iri. "Aku tidak tahu bagaimana caranya mencintaimu; aku tidak tahu ayah seperti apa yang Sousuke butuhkan; aku tidak tahu pernikahan dan keluarga yang seperti apa yang kau inginkan setelah semua mimpi buruk itu…tapi sebuah rumah dan tadaima, setiap hari—aku bisa memberikan itu."

Setetes air mata jatuh di pipi kanannya. Dengan bibir gemetar dan nafas tersenggal, Sakura berusaha mempertemukan pandangannya dengan Sasuke, mencari-cari sesuatu dari wajah tegas pria yang berdiri satu langkah di depannya. Dadanya sakit, tetapi bukan karena monster bernama kesedihan yang memenjarakan jantungnya. Nafasnya dangkal dan masing-masing berjeda tiga detik karena dia harus kembali mengajarkan dirinya bagaimana cara bernafas. Tangannya yang masih digenggam Sasuke terasa lebih hangat dari sinar matahari musim panas—rasa hangat yang membuatnya ingin terus tenggelam. Di sini, dia berdiri dalam balutan baju operasi lusuh dan wajah yang tak kalah lusuhnya di depan seorang pria luar biasa menawan dan menakjubkan; tengah disuguhi sebuah cincin paling sempurna yang pernah ada.

Uchiha Sasuke tahu dia cacat, tidak sempurna, seperti berlian yang dia persembahkan untuknya, tetapi dia masih menemukan keindahan di dalamnya—di dalam diri Sakura.

Dengan jemari yang bergerak sama lembutnya dengan suaranya, Sasuke mengusap pergi air mata di pipi Sakura. Ekspresinya tetap tidak terbaca, tetapi Sakura menemukan ada gurat kelegaan di sudut-sudut mata pria itu.

"Pernikahan juga penuh resiko, resiko yang tidak pernah kupelajari cara mengatasinya. Mungkin saja hubungan kita nyatanya tidak berjalan baik; akan ada kesalahan yang terjadi. Akan selalu ada perceraian di ujung lain sebuah pernikahan. Jika menikah, bisa jadi esok hari kita akan menandatangani surat perceraian; bisa jadi kita akan bertengkar dan saling menyakiti. Bisa jadi." Sasuke meremas lembut tangan Sakura yang terus bergetar hebat. "Aku tidak bisa memberimu janji; hanya sekadar sebuah rumah dan salam, tapi kau adalah resiko yang siap kuambil. Apa kau juga bersedia menerima setiap resiko dengan hidup bersamaku?"

Tak lagi memercayainya suaranya untuk bekerja menjawab lamaran ketiga Uchiha Sasuke, Haruno Sakura hanya bisa mengangguk berkali-kali—nyaris merasa kebas, dan membiarkan air mata berhamburan dari matanya. Rasa kebas itu perlahan-lahan menghilang; digantikan sensasi tajam di seluruh tubuhnya ketika Sasuke menyelipkan cincin platina itu ke jari manisnya, dan begitu Sakura memperoleh kembali seluruh indra-indranya, dia mendapati dirinya telah aman dalam dekapan pria itu.