=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Fullmoon Fever

[Case Closed?]

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

.

.

.

"Jadi, bagaimana kondisi seseorang bernama Big Al itu sekarang?"

Lelaki dalam balutan kemeja putih dan berkalung stetoscope menghela napas menanggapi pertanyaan yang diajukan. Senyum ramah sebagai bentuk keprofesionalitas kerja tersemburat di bibir. Terlebih dahulu memperbaiki sedikit letak kaca-mata yang sering merosot dari lekuk tulang hidungnya, seorang dokter bernama lengkap Hiyama Kiyoteru mulai memberi penjelasan pada tamu yang tampak tegang sejak dipersilahkan duduk di kursi ruang pribadinya.

"Saudara Big Al masih belum tersadarkan diri karena kehilangan banyak darah." Riak wajah lelaki bersurai hitam itu, perlahan namun pasti berubah serius.

"Dia mengalami luka sayatan cukup dalam," Bulatan coklat di balik lensa bening alat bantu pengelihatan menatap tajam manik keemasan lelaki muda bertopi bulat di seberang meja kerjanya. "Kurang lebih lima belas goresan panjang," ia melanjutkan, seraya menunjukkan beberapa foto saat proses penjahitan luka dari sebuah map yang dia ambil dari balik laci meja.

"Empat buah diagonal di betis kanan belakang, tiga membujur di kiri dan delapan sisanya di punggung, saling bersilangan." Jemari lelaki berpakaian serba putih itu beralih satu persatu dari dua foto berukuran sedang dan satu foto berukuran besar di atas meja.

Lelaki muda, yang tak lain adalah Yuuma, menarik mundur tubuhnya. Bersandar pada sandaran kursi plastik, menjepit dagu. Bola mata bergulir ke sana ke mari meneliti setiap detil foto, sesekali melenguh. "Semua luka ini, korban tengah berlari dan di serang dari belakang," ia bergumam mengutarakan isi kepala. Mencoba memberi asumsi secara garis besar kronologi asal muasal luka-luka tersebut, khususnya delapan luka di punggung. Tapi ia belum menemukan dugaan akurat pada sepasang foto yang lain. 'bagaimana cara pelaku membuat luka pada bagian paling bawah tubuh korban saat ia berlari mengejarnya?'

Secara, luka-luka tersebut bisa saja dibuat oleh senjata khusus milik pelaku. Dia psikopat gila dalam imajinasi logisnya, kenapa tidak mungkin? Namun apa yang ditunjukkan di kedua betis itu sama sekali, atau hampir mustahil bisa diraih..

Kecuali pelaku mampu berlari dengan tubuh sangat merunduk dan mengait-ngait seperti gerakan kaki kucing ketika sedang memainkan gulungan bola wol. Ah, itu jelas tidak masuk akal bagi Yuuma. "Dokter, jika luka di betis lebih dulu diberikan oleh pelaku. Menurut anda, apakah korban masih bisa berlari?"

Kiyoteru menggeleng, "Mustahil. Luka ini cukup menganga, sekuat apapun korban berusaha, sebagian besar jaringan sel ototnya telah terpotong." Yuuma memicing, "Kemungkinan, korban akan jatuh tersungkur atau menyeret tubuh sebisa mungkin sebelum luka lain diberikan di betis selanjutnya. Dia cukup beruntung karena jatuh ke sungai dan seseorang menolongnya."

Dugaan lelaki ini meleset. Untuk luka di punggung, melihat perawakan tubuh Big Al, ia bisa mempercayai kalau orang itu sanggup menahan perihnya dan masih berusaha menyelamatkan nyawa. Tapi untuk deretan luka di kakinya, Kiyoteru jelas-jelas menyatakan tidak mungkin. "Korban diserang dari belakang oleh pelaku. Delapan luka membujur diberikan terlebih dahulu sebelum tujuh lainnya yang ada di betis," Yuuma menggumam. "apakah manusia bisa berlari dan memberi luka semacam itu di betis orang yang dia kejar?"

Dokter berkacamata itu diam sejenak untuk mencerna maksud perkataan kliennya. "Menurut pengetahuan saya, struktur tubuh manusia tidak memungkinkan untuk melakukan hal sedemikian rupa," ucapnya kemudian. Kerutan di antara kedua alis Yuuma tampak semakin bertambah pertanda dia tengah berpikir keras setelah mendapat keterangan demikian. Namun dokter di depannya kembali tersenyum. "Jika yang anda maksud adalah serangan langsung."

Kali ini lelaki bertopi bulat itu mengangkat dagu menatap lawan bicara. Kedua alisnya naik membentuk dua garis gundukan. "Tetapi, jika seseorang berlari dalam kondisi panik, kemungkinan tubuhnya pasti lebih condong ke depan dan jengkal salah satu kaki sedikit menjorok ke belakang. Kesempatan itu bisa di gunakan untuk melukai betis korban." Yuuma tersentak. Ah, kenapa hal itu tidak terlintas di pikirannya? Dua rekan kantor tadi pasti mulai memberi dampak buruk bagi kecerdasannya.

"Korban akan jatuh tersungkur saat kaki tersebut menjadi tumpuan di langkah berikutnya." Lelaki bermanik keemasan ini mengimbuhkan, "Namun, jika dalam hal ini korban jatuh ke sungai, kemungkinannya adalah karena ia melompat secara langsung setelah berlari. Empat buah luka saat kaki kanan terulur kebelakang, tiga buah saat kaki kiri menghempas berat tubuh." Senyum tipis tersungging di bibir.

"Cukup masuk akal." Kiyoteru mengangguk pelan.

"Jadi… kapan sekiranya dia akan tersadar?" tanya Yuuma segera. Alasan kedatangannya kemari tidak lain adalah mengecek kondisi Big Al dan memintai keterangan dari satu-satunya korban selamat selama sepuluh bulan terakhir ini jika dia telah siuman. Ia cukup yakin lelaki berbadan besar itu termasuk orang yang bisa sejalan dengan pikiran logisnya. Namun, sebelum Kiyoteru menjawab...

"Kyaaa~aaa ! ! !"

Lelaki berkacamata itu tersentak oleh teriakan yang dia kenali dari suster sekaligus asistennya dalam menangani pria tersebut. Keduanya saling bertukar pandang sekilas, sebelum berlari berhamburan menuju ruang rawat khusus yang memang tidak berjarak jauh. Begitu sampai di tempat dan pintu tersingkap, perempuan berambut gulali dalam balutan seragam suster tampak merinding ketakutan, menyambut mereka. Dia duduk mendatar melipat kedua kaki di lantai dan bersandarkan tembok, kelereng biru langitnya terbelalak.

"Luka! Ada apa?!" seru sang dokter yang berjongkok di dekatnya. Satu telunjuk kanan bergetar lemah terangkat, mengarah ke ranjang pasien. Lelaki itu segera mengikuti isyarat yang diberikan, dan ikut terbelalak.

Begitu pun Yuuma yang seketika berdiri terpaku di bingkai pintu.

Di depan mereka bertiga, satu-satunya korban selamat sekaligus petunjuk Yuuma untuk mengungkap kemelut kasus yang tengah dia hadapi telah mati terbunuh. Mayat lelaki malang itu tergolek bisu di ranjang bermandi darah. Tulang rusuknya dibongkar paksa, jantungnya lenyap.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Di atas gedung rumah sakit, sepasang figur tampak bercengkerama. Satu di antaranya seorang gadis remaja dengan rambut berkuncir dua, hijau aqua. Sedangkan satu lagi seekor makhluk besar berambut lebat, menggeram memejam mata saat jemari lentik membelai lembut ujung kepala.

Gadis itu sekarang berada dalam posisi dimanapun seseorang selain dirinya pasti akan menjerit ketakutan. Berbaring telentang, tertawa senang. Sementara lidah makhluk itu menjilati wajah cantiknya seperti halnya anjing lakukan kepada majikan yang dia suka.

"Onii chan, geli!"

.

.

.

"Hei, ada apa dengan wajah kusutmu itu, Kurone? Jangan bilang kau menyesal."

"Huh?... Ya... sedikit."

.

.

.

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

Fullmoon Fever

[Case Closed?]

Story © Nekuro Yamikawa

Vocaloids © YAMAHA, Crypton Future Media & joined companies

Genre : Fantasy / Tragedy

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

THANKS FOR READ...