HALLO MINNA-SAN...
Hehe akhirnya Chapter 2 update.
Maaf yah baru update sekarang. Pasti banyak yang nungguin yah? *PLAK ... * (kagak ada yang nungguin keles).
Oke langsung aja...! capcuzzz Cinnn..." HAPPY READING YA MINNA"
Chapter 2
"Biar ku tebak, gadis itu yang membuatmu memutuskan untuk menjual miniatur piano ini kepadaku? Karena kau tidak ingin mengingatnya lagi?" kata sang kakek tua yang menatap penuh makna kepada pria muda di depannya yang tak lain adalah Sasuke Uchiha.
"Hn.." sashut Sasuke dengna senyuman tipis di bibirnya. Dapat dipastikan bila para fans girl nya melihat senyuman itu mereka akan langsung pingsan tak sadarkan diri selama 24 jam.
"sesuatu pasti telah terjadi pada kalian" kata Jiraya dengan tatapan penuh selidik.
".." Sasuke hanya memandang jiraya dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.
Flashback On
Sudah beberapa hari setelah kejadian Sasuke dipermalukan oleh sang Gadis berambut pirang di depan umum dan selama itu pula Sasuke telah dengan sengaja maupun tanpa sengaja membuat kehidupan sang gadis yang ternyata bernama Namikaze naruto tersebut berubah 180 derajat. Dari hari pertama setelah kejadian Sasuke telah meneror kehidupan Sang gadis dengna cara memerintahkan Sang Gadis untuk menemuinya di taman dan setelah bertemu dengan seenak jidatnya Sasuke memberikan perintah Sang gadis untuk membelikan secangkir kopi amriccano di sebuah cafe yang jaraknya sukup jauh dari taman tersebut. Sebenarnya Sasuke agak kassihan juga melihat gadis itu berjalan cukup jauh dari tempatnya kini untuk membelikan sebuah kopi. Walaupun begitu dia cukup puas melihat ekspresi wajah kalah dari sang gadis karena tentu saja di akalah berdebat dengan Sasuke dan dengan amat sangat terpaksa dia menuruti perintah Sasuke. Sedangkan Naruto Sang Gadis Pirang, hanya bisa mengumpat lirih bila dia kalah debat dengan Sasuke.
Sasuke PoV
Hari ini aku menyuruhnya ketaman... lagi. Hahaha ini bukan kali pertama kami untuk bertemu di taman ini setelah kejadian memalukan itu. Aku tahu bahwa dia pasti sangat jengkel dengan ku. Tapi aku sudah memaksa dia untuk menyetujui kesepakatan yang ku buat dengannya bahwa agar dia bisa terbebas dari tuntuntan yang mengharuskannya meminta maaf kepadaku atas perbuatan dirinya yang hampir saja membuat penyamaranku terbongkar. Dan kesepakatannya adalah 'Dia harus menuruti keinginanku selama 2 minggu'. Awalnya dia menolak keras kesepakatan yang telah ku ajukan dan bersikukuh tidak mau meminta maaf kepadaku. Tetapi dengan sedikit ancaman bahwa aku sudah mengirim seorang mata-mata membuntutinya agar dia tidak dapat melarikan diri dan bisa saja aku menyuruh mata-mataku untuk menculiknya serta menyekapnya ditempat yang tidak akan pernah terbayangkan olehnya, dengan sangat terpaksa akhirnya dia 'meng-iyakan' kesepakatan yang ku ajukan. Seperti saat ini, aku menyuruhnya untuk datang ke sebuah taman yang ada di pusat kota Tokyo. Dan dengan muka cemberut dia datang kepadaku yang sedang duduk di debuah bangku taman di bawah piohon sakura, menikmati pemandangan yang ada di depanku. Aku melihatnya berjalan dengan langkah malas menghampiri ketempat dimana aku berada. Tatapannya matanya seolah ingin memangsaku hidup-hidup tapi entah kenapa hal tersebut membuatku tersenyum tipis. Hal yang sangat jarang ku lakukan bila bertemu dengan orang lain.
"cepat katakan untuk apa kau menyuruhku untuk datang ke taman ini teme? Kau mengganggu acara tidur siangku!" desisnya marah setelah sampai di tempatku duduk.
"seperti biasa tolong berikan aku segelas Americcano hangat dan setelah itu temani aku duduk disini" kataku dengan wajah datar. Dengan memutar matanya yang indah dia berjongkok mengambil sesuatu di sebelah tasnya. Tunggu! Apakah aku tadi berfikir bahwa matanya indah? Oh tidak, aku sudah mulai memujinya. Ini sangat berbahaya.
" Ini!" katanya sambil memberikan satu Cup Americcano hangat kepadaku. Aku hanya bisa mengernyit heran bisa melihat tangannya memegang Cup Kopi yang ku pesan tadi.
"jangan Heran Teme aku sudah tau kau akan meyuruhku untuk membelinya, jadi untuk mengirit tenaga aku tadi sekalian mampir ke cafe langgananmu."
"Cih.. tapi itu sudah dingin dobe!" kataku dengan sedikit kesal karena niatku untuk mengerjainya sudah gagal tetapi tetap saja tanganku terulur untuk meraih Cup tersebut.
"hh kau ini pemilih Teme. Sudah untung ku belikan." Katanya sambil menghempaskan tubuhnya disampingku. Aku hanya dapat melirik Naruto dari kaca mata hitamku. Dia hari ini memakai Dress berwarna putih yang dihiasi dengan renda dan bunga-bunga putih di bagian pinggang dan dadanya. Lalu ditambah dengan topi pantai berwarna Crem yang cukup menutupi wajahnya dari sinar matahari serta sepatu Flat berwarna Crem senada dengan topi lebarnya itu. Rambutnya yang berwarna kuning di gerai dan akan berkibar halus bila terkena angin musim panas. Dia sangat cantik dan polos.
Mata naruto yang berwarna biru cerah itu memandang hamparan bunga yang ada di depannya. Sebuah senyuman muncul di wajahnya yang halus dan menambah kesan eksotis di wajahnya yang berwarna Tan.
"Sasuke?"
" ..." aku yang tidak mengerti mengapa baru kali ini Gadis itu mau berbicara biasa denganku. Aku hanya dapat memandang takjub melihat Naruto yang kini sedang mengulum senyum yang sangat indah.
" Aku dengar kau itu pianis hebat yah?" katanya sambil menunduk. Entah mengapa saat dia mengatakan hal itu ada sedikit nada sendu di dalam kata-katanya. Atau mungkin hanya perasaanku saja karena aku melihatnya sedikit tersenyum saat ini.
"Hn"
" pasti sangat menyenangkan bukan bisa menjadi pinis terkenal?"
".." aku yang tidak mengerti arah pembicaraanya hanya dapat diam sambil menunggu dia melanjutkan kata-katanya.
" Hidup sesuai dengan keinginanmu tanpa harus ada yang mengaturnya. Hidup bebas seperti angin. Kau sangat beruntung Sasuke." Katanya lagi sambilmatanya menerawang jauh. Ada apa sebenarnya dengan gadis ini?
"tidak semua kata-katamu itu benar Dobe. Kadang kau akan merasakan jenuh juga dengan kehidupanmu."
"entahlah Sasuke. Aku merasa hidup sepertimu sangatlah indah. Kau sesekali merasakan jenuh tapi dilain waktu kau akan merasakan bangga, rindu, maupun bahagia dengan hidupmu"
"sebenarnya ada apa Naruto?" aku hanya dapat memandang heran ke arah gadis di sebelahku ini. Aku merasakan bahwa ada sesuatu tabir tipis tak terlihat yang membatasi kehidupan gadis ini. Melihatnya saat ini sangat menggangguku. Aku lebih suka melihat dia cemberut karena kalah debat dariku. Aku tidak terlalu suka dengan Dobe yang tenang dan tiba-tiba berbicara mengenai kehidupan.
"Sasuke, apa masih ada hal yang kau butuhkan dariku?" katanya sambil memandangku dengan pandangan biasa. Sepertinya dia akan pulang. Aku benci saat tanpa terasa waktu kebersamaan kami akan berakhir. Aku harus memikirkan cara untuk mencegahnya pulang.
"Ayo temani aku makan"
"Haahhh? Maksudmu?" katanya sambil memandang tak percaya kearahku.
"..."
"kau serius Sasuke?" katanya lagi dengan wajah yang berbinar-binar.
"Hn" aku langsung berdiri dan berjalan kearah jalan untuk menuju ke reataurant terdekat.
"hei Teme! Tunggu aku!" Naruto meneriakiku sambil terburu-buru sangat konyol sekali. Sepertinya dia sangat menyukai ideku.
Kami berjalan beriringan menuju reataurant langgananku yang ada di sekitar daerah ini. Sepanjang jalan, dengan penuh semangat naruto bercerita tentang apa saja yang ada di dalam pikirannya. Dari ketidakmenyangkaanya tentang diriku yang mau mengajaknya makan. Hingga tentang kenapa kebanyakan wanita yang kami temui di sepanjang jalan menatap dirinya aneh. Aku hanya menanggapi dengan 'Hn' ku saja ataupun dengan diam. Aku tidak terlalu menyukai sifatnya yang ternyata lebih berisik dari yang kubayangkan walaupun sebenarnya akhir-akhir ini aku telah terbiasa dengan kekonyolannya itu. Ada desiran aneh yang kurasakan setiap aku melihatnya bertingkah heboh seperti itu.
End POV Sasuke
Okokokokokokokokokokokokokokok
Normal POV
Di sebuah rumah yang mewah terlihat sesosok pria setengah baya sedang memandang ke arah jendela besar yang berada disisi kanan ruangan dengan berinterior mewah. Wajahnya tidak tampak senang. Sesekali asap rokok keluar dari mulutnya yang selalu menyunggingkan seulas senyum tak bersahabat. Dibelakangnya seseorang dengan kostum ninja bersandar dipojok ruangan yang gelap sambil membersihkan sebuah katana panjang yang terlihat sangat tajam dengan sapu tangan putih. Salah satu sisi sapu tangan tersebut terlihat sebuah lambang bunga mawar merah yang indah.
"Bagaimana? Apakah burung elang sudah masuk kedalam sangkar?" tanya pria tua itu.
" Sedikit lagi tuan. Akan kupastikan dia tak akan dapat keluar dari sangkar emasnya"
"Bagus. Kau boleh menghajarnya jika diperlukan. Tapi kau jangan pernah membunnuhnya tanpa perintah dariku. Aku tidak ingin dia mati secepat itu." Kata pria tua itu dengan seringai diwajahnya.
"aku tidak bisa berjanji tuan. Karena kurasa pedangku ini sangat menginginkan darahnya yang manis"
"hahaha... kau selalu sadis seperti biasanya.. Himawari-sani1"
TBC
Maaf yah minna kalo gak sesuai harapan kalian..
Terima kasih banyak buat yang udah ngerepiu dan pengen FF ini lanjut. Thax banget buat dukungan kalian semua. :D
Jujur ini FF pertamaku, jadi Rin rada bingung juga buat bikin alur cerita dan lain-lainnya.
Rin membutuhkan berbagai masukan maupun komentar dari kalian. Jadi jangan segan-segan yah buat komen di kotak repiu. Salam Semua!
