Author note :
Saya kembali membawa chapter baru. Maaf jika chapter kemarin masih banyak yang nggantung. Dan chapter ini pun saya nggak janji kalau lebih baik dari chapter kemarin.
Mungkin chap depan baru ada genre misterinya.
Terima kasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita saya yang… begitulah. Dan terima kasih pula pada kak Panda (boleh saya panggil begitu?) yang udah mau review. Sekedar curhat, kalau soal narasi saya memang pusing tujuh keliling.
Sekali lagi, saya mau berterima kasih pada yang mau fav dan follow cerita saya. Meski cuma satu, tapi saya udah terharu.
Enjoy!
.
Atas usulan (jebakan) wali kelasnya, Yuuma resmi bergabung dengan kelompok orang gila berlabelkan klub misteri. / "Kalau kita tak pernah mendapat satu pun klien, klub kita bisa saja dibubarkan."/ /""A-ano, apa ini ruang klub misteri?"/
Disclaimer : Yamaha Corp., Internet Co., etc.
Warning : Abal, garing, typo bertebaran, dll.
Misteri II : klien pertama
Yuuma mengangguk-angguk, menghayati kata demi kata yang tertuliskan di buku Matematika. Saat ini jam kosong dan Yuuma tak tau harus bersyukur atau malah mengumpat karenanya. Bersyukur karena yah, jam kosong, atau mengumpat karena kelasnya berubah jadi ajang tinggi-tinggian nerbangin pesawat kertas.
Apabila sebuah ruang berbentuk persegi panjang dengan panjang 40 m dan lebar 10 m akan dipasangi ubin dengan panjang 10 cm, berapakah ubin yang diperlukan?
Oke, plis, itu bukan urusannya, itu urusan kuli bangunan. Kenapa soal Matematika mengharuskannya menghitung ubin yang bahkan entah mau dipasang di ruangan antah berantah dari belahan dunia mana? Apa sekolah mau membuatnya yang ketje tujuh turunan ini jadi kuli?
Maaf aja, Yuuma mah ogah. Nggak level.
Oke, lanjut ke soal yang berikutnya.
Dalam sebuah acara terdapat 25 orang, apabila setiap orang bersalaman dengan orang lainnya, berapakah salaman yang terjadi?
Bagian atas wajah Yuuma menggelap. Apa soal ini penting? Memang jika dia bisa menghitung berapa kali orang bersalaman itu berguna untuk masa depannya? Coba jawab apakah di seluruh dunia ini ada pekerjaan menghitung orang bersalaman? Sungguh soal yang sangat berfaedah sekali.
Maaf, Yuuma hanya sedang sensi. Soal matematika cuma pelampiasan, emosi nembus kepala masih dendam sama wali kelasnya.
Tapi Yuuma hanya menghela nafas, menyilang pilihan jawaban 300 dengan pandangan bosan. Netranya mengamati soal-soal lainnya. Sesekali mengomentari soal-soal yang sungguh kurang kerjaan. Namun itu tak berlangsung lama, karena hanya selang lima detik,
Teet teet teet
Bel jam pulang sekolah menggema dengan indahnya, siap mengantar Yuuma ke mimpi terburuk selama lima belas tahun hidupnya. Jika ia bolos, bisa-bisa besok pagi dirinya muntah silet dan kejang-kejang gara-gara guna-guna.
Ilmu santet itu mengerikan –dan ide siapa pula mengajari anak SMA ritual menyantet orang?
Yuuma menyambar tas dengan satu gerakan tangan, hendak langsung menuju gedung barat tempat tiga orang anggota lainnya berkumpul. Yah, itu niatnya sebelum disela sebuah suara feminim bertanya padanya dengan nada terheran yang amat sangat.
"Sakaki-kun, kau mau kemana?" Ke RSJ, mau ikut?
Yuuma menoleh pada sang empu suara, senyum pangeran diaktifkan. Aura ikemen memancar kira kira mabushi. Tapi image cool dan keren dijamin langsung hancur saat Yuuma berkata bahwa ia sekarang bagian dari klub buangan di pojok gedung barat. Dicap sebagai chunibyou jelas nggak ada keren-kerennya.
"Ke ruang klub," jawabnya sopan dengan senyum pangeran. Membuat sang lawan bicara menutup mata saking silaunya. Mungkin dulu waktu hamil Yuuma, ibunya ngidam lampu sejuta watt.
"Kau bergabung ke klub? Klub apa?" itu pertanyaan sakral, nona. Bahkan untuk menjawab saja rasanya Yuuma sudah mules duluan.
Tapi ia harus jujur. Buat apa ikemen tapi hobinya bohongin orang? Ganteng tapi pembohong itu tak ada artinya. Eeaa~~
Itu pesan dari kakak Mizki tercin-eh, enggak tercinta juga, sih.
"Klub misteri, Yuzuki." Melongo. Cengo. Nggak percaya. Bahkan mulut sang gadis –Yuzuki Yukari- sudah terbuka tiga jari. Tinggal diberi resonansi, itu teknik dasar menyanyi –kok makin absurd?
"Aku pamit dulu, Yuzuki." Lalu Yuuma langsung balik kanan bubar jalan. Ambil langkah seribu secepat kilat daripada disantet sama penghuni ruang klub yang seorang titisan setan. Peduli amat ia baru saja membuat anak orang shock sampai dalam kondisi paralysis.
"Yukari, kau kenapa?" suara teriakan di belakang hanya jadi angin lalu saja.
Maafin Yuuma, Yukari.
.
.
Jika Yuuma disuruh membagi manusia menjadi dua kategori, maka ia akan membagi dalam 'biasa' dan 'abnormal'. Biasa, seperti teman-temannya yang lain. Paling kalau lagi rada-rada sarap memang bisa berlaku seenak jidat. Kalau yang abnormal yah...
Krieet
Yuuma membuka pintu, masuk ke ruang klub dan disambut oleh pemandangan absurd.
"YUM, TOLONGIN GUA!" ia mendapati Dell meraung-raung berlutut di hadapan Kokone dan memandangnya dengan tampang memelas. Apa lagi sekarang?
Si ketua klub tersedu-sedu, memukul-mukul lantai. Sedangkan Kokone hanya menyeringai dan melihat ketua dengan pandangan puas dan tersembunyi sejuta niat biadab.
Apa perlu dijelaskan yang satu lagi? Yang abnormal itu yah... seperti teman-teman satu klubnya. Yang setiap saat kelakuannya di luar nalar logika. Membuat Yuuma mules seharian jika sampai memikirkannya.
Selamat tinggal kehidupan SMA yang normal, selamat datang masa depan absurd.
"Kenapa, ketua?" Yuuma masih gagal paham, oke? Ini bahkan belum genap lima menit ia menapak di ruang klub, dan kenapa pemandangan ambigu ini yang malah ia temukan?
"Biarkan saja dia, Yuuma. Ketua lagi galau berat," Yuuma terlonjak, sumpah ia kaget ketika Fukase tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Apa ia titisan pemain basket fandom sebelah?
"Fukase, ketua galau berat?" alis Yuuma naik sebelah. Sedang Fukase hanya menjawab ogah-ogahan seraya melanjutkan pekerjaan menggambar pentagram di lantai. Yang sampai sekarang masih membuat Yuuma bertanya-tanya, siapa yang bertugas membersihkan hasil karya Fukase yang disebar di segala penjuru ruangan?
"Waifu ketua terancam. Kokone hampir membakar foto dan dakimakura koleksi ketua," oke, niat sekilas Yuuma untuk menolong sang ketua hilang sudah. Kalau Yuuma mah sudah menyeret ketua untuk dirukyah secepatnya.
"Kokone, kembalikan hartaku, aku tak bisa hidup tanpa mereka," ucap Dell dengan tampang nelangsa dan aura ngenes level dewa. Yuuma menghela nafas, sudah siap sedia menelepon orang untuk merukyah sang ketua.
"Ketua, kalau kau tak mau koleksimu hilang dilalap api, turuti perintahku," Kokone menyeringai, lalu dilanjut tawa jahat sampai sang empu keselek dan batuk kronis. Yuuma dan Fukase sweatdrop. Kesan horor hancur seketika, dan sekarang Kokone malah sedang lari-larian mencari air di segala sudut ruangan.
"Apa perintahmu, Kokone? Yang penting kembalikan semua itu," Dell nangis bombay, sedang Kokone berdehem dan kembali memasang tampang cool dan kalem. Sok lupa dengan kejadian barusan yang langsung merusak imaji horor dan malah lebih menjurus ke taraf 'malu-maluin diri sendiri'.
"Cari jodoh di dunia nyata. Kasihan jodohmu jika kau tergila-gila pada gadis dua dimensi,"
What?! –oke, Yuuma beneran gagal paham dengan segala yang terjadi disini. Kenapa syaratnya harus seabsurd itu? Dipikir nyari jodoh itu kaya nyari kucing liar? Tinggal mungut di pinggir jalan?
Tapi, Dell memincingkan mata serius. Dell bahkan tak pernah seserius ini waktu ulangan dadakan guru paling killer seantero sekolah. Dan dengan nada gentleman, ia berkata,
"Baiklah," jawabnya, nada suaranya menjadi tegas. Meski di mata Yuuma, nggak ada keren-kerennya barang secuil pun.
Tiba-tiba saja, Kokone menepuk tangan dua kali. Lalu ia menoleh pada Yuuma dan Fukase, senyum aneh sudah terpasang di wajahnya. Dan jelas segudang pikiran negatif langsung menghampiri tokoh utama kita. Horor. Serem. Dan yang terpenting, terlihat mengancam raga maupun jiwa.
"Bersambung. Silakan tonton kembali besok di jam yang sama" Ucapnya ambigu. Yuuma melongo. Ha?
Dell kemudian berdiri, menghela nafas lalu menguap lebar. Tampang nelangsa tadi sudah hilang entah kemana.
"Jadi, hari ini hanya sampai scene ini ya?" oke, ketua, bisa jelaskan pada Yuuma apa yang sebenarnya terjadi disini? Kenapa Yuuma berasa oon sendiri?
Jangan-jangan ini drama?! Ini drama?!
"Ketua, ini... drama?" Dell kedip-kedip dengan senyum ngajak berantem. Andai Yuuma punya bawaan psikopat, maka dipastikan Dell sudah dia cincang sejak pertama jumpa. Lalu ia masukkan ke dalam karung bertuliskan 'makanan singa'.
"Tentu saja, Yuuma. Ini akting," boleh tanya kenapa kalian malah main drama gaje di dalam ruang klub? Memang memikirkan kelakuan mereka hanya akan membuat Yuuma mules tak karuan. Tuhan, Yuuma nggak kuat. Yuuma pengen kabur ke kota sebelah.
"Judulnya 'cintaku terhalang waifu gebetan'"
Rasanya telinga Yuuma langsung berdarah.
.
"Yum, cari bangkai tikus untukku," perintah Fukase jelas membuat Yuuma pening. Bangkai tikus? Yang benar saja. Ia juga sedang makan, jangan membuatnya mual, tolong. Dan kenapa pula Fukase masih saja hobi menggambar lingkaran pemanggil iblis di lantai?
"Hei, carikan korban untukku juga." Ketua, kenapa kau malah ikut-ikutan?
"Maukah kau mengambilkanku genosida sekalian?" Genosida?! Itu mau digunain buat apa, Kokone?!
"Tidak, cari saja sendiri." Sebagai anggota paling normal –Yuuma memutuskan gelar itu sendiri- menghabiskan waktu sebentar saja di ruang klub sudah mampu membuat Yuuma mengalami penyiksaan batin. Semoga ia bisa tetap menjaga kewarasan.
Lalu, topaznya mengamati sekeliling.
Tapi, sumpah, yang mereka lakukan sejak tadi hanya duduk-duduk melakukan hal –apalah, terserah. Ini klub kerjaannya apa, sih?
"Klub ini bener-bener nggak ada kerjaan? Memang harusnya apa pekerjaan klub –err, kita? " tanya Yuuma, meski lidah agak kepleset di bagian akhir. Ia masih belum menerima kenyataan, tolong mengertilah.
"Kita hanya bekerja kalau ada klien –AHH, SIAAAAL, KAMERA YANG KUPASANG DI KELAS A RUSAK!" Ketua, itu kriminal. Kenapa kau memasang kamera di kelas? Dan bukannya itu kelas Yuuma?
"Dan sampai sekarang kita tak pernah punya satu pun klien," lanjut sang ketua setelah puas memaki-maki sang kamera nan jauh disana.
Aahh... Yuuma tau betul apa alasannya. Kalau mendekat saja sudah haram hukumnya, kenapa kau harus meminta bantuan pada klub yang isinya orang gila semua? (Tentu saja Yuuma pengecualian.)
"Tapi, ketua, kau ingat ucapan guru pembimbing kita? Kalau kita tak pernah mendapat satu pun klien, klub kita bisa saja dibubarkan," Kokone buka suara. Dell shock, meski shock, pandangan tidak teralih dari layar laptop.
"Meski kita sudah dapat anggota baru?"
"Ya," Hening... meski Dell masih tak beralih dari layar. Hei, bahkan Fukase saja berhenti menggambar lingkaran ritual di –eh, meja?! Bukannya tadi dia masih di lantai?
"Tapi, dengan reputasi kita, mendapat klien itu mustahil," Fukase, anda realistis sekali cenderung terlalu jujur, lihatlah wajah Dell yang sudah kaget setengah hidup.
Fukase anak baik, anak baik tak boleh berbohong. Kalau nyantet orang baru boleh.
"Ngomong-ngomong, siapa guru pembimbing kita?"
"Meiko-sensei," Yuuma tau harusnya ia tak usah bertanya.
"Tapi, bayangkan betapa marahnya dia jika klub ini sampai bubar. Atau lebih tepatnya bayangkan nasib kita jika klub ini sampai bubar," jangan pernah bayangkan kalau tak mau mendapat mimpi buruk tujuh hari tujuh malam. Karena bahkan seorang Fukase saja sampai bisa merinding disko.
"Secinta itu Meiko-sensei pada klub ini?" semua membuang muka, seolah menghindari pertanyaan sakral Yuuma.
"Yah, sebenarnya klub ini hanyalah alasan Meiko-sensei untuk bermalas-malasan. Kalau klub ini sampai bubar, bisa-bisa kita semua tinggal nama." Horor amat itu guru sejarah. Itu bukan preman nyasar sekolah, kan?
Jujur saja, jika mencoba realistis, mencari klien itu hanya sebatas angan-angan. Kalau pojok ruang ini saja tak pernah terjamah makhluk hidup selain empat orang ini, bagaimana seorang klien bisa datang dengan ajaibnya?
Namun jika mereka benar-benar tidak mendapat satu pun klien dan klub ini sampai dibubarkan, katakan selamat tinggal pada dunia. Yuuma harus nyiapin surat wasiat dari sekarang.
Krieet
Semua menoleh shock. Ke arah pintu yang terbuka hanya berapa senti. Awalnya tak ada apa-apa, sebelum sebentuk kepala berambut putih dengan ahoge melirik malu-malu dari balik sana.
"A-ano, apa ini ruang klub misteri?"
Tanpa aba-aba, sang sosok random langsung dikeroyok oleh anggota klub selain tokoh utama.
"SERANG!"
Entah untuk yang keberapa kalinya, Yuuma kembali melongo.
.
Senter dinyalakan, diarahkan ke arah tawanan. Tiga sosok berjejer memincing curiga. Satu figur lain di belakang sedang jedotin jidat ke arah tembok. Diduga sedang resah, puyeng, dan putus asa.
"Apa maumu datang kemari? Apa kau mata-mata sekolah?" Dell –dengan atribut jubah hitam dan senter pinjeman dari Kokone- bertanya dengan nada dengki tralala trilili.
"Hmph-heeemmm-hmppppph" sekedar mengingatkan, itu orang mulutnya masih di lakban.
Tak cukup hanya dengan lakban, sang sosok random diikat di kursi. Dan diinterogasi oleh anggota klub yang figurnya berselimut aura hitam dan senyum iblis serta backsong mantra kutukan yang berulang kali dibaca Fukase, Yuuma yakin itu orang butuh waktu berhari-hari untuk sembuh dari trauma batin.
Lalu, Yuuma sendiri? Ia ditinggal di belakang. Ikhlas menyiapkan teh dan camilan bagi sang sosok random setelah kumpulan manusia disana puas dengan interogasi antah berantah mereka.
"Sepertinya aku pernah melihat wajahmu,"
Ketua, jelas lihat dari seragamnya kalian satu sekolah, satu angkatan pula. Kalau pernah ketemu itu wajar lah.
Nafas dihela lagi, Yuuma tak akan pernah paham kelakuan mereka. Ketika topaznya melirik ke arah manusia korban barbar anggota lainnya, ia kasihan juga. Meski heran pula itu anak kesini mau ngapain. Apa ia tak sadar bahwa ia ibarat berjalan ke mulut singa?
Setelah berpikir kalau jahat juga kalau ia membiarkan sang sosok random begitu saja, Yuuma berjalan mendekat. Menyingkirkan sosok sang ketua yang menghalangi jalan dengan tangannya juga menatap tajam ke arah tiga anggota lainnya.
"Apa yang kalian lakukan? Dia tamu kita dan kenapa kalian malah menjadikannya tawanan?" semua saling berpandangan. Lalu mulai menatap Yuuma dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Memangnya nggak boleh ya?" Yuuma memijit kening. Pusing. Apa mereka tak tau membuat orang jadi tawanan itu termasuk tindak kriminal? Ia tak mau ikut-ikutan ditangkap gara-gara dituduh sebagai partner in crime. Sudah cukup ia berurusan dengan anggota-anggota yang dipertanyakan kejiwaannya, ia tak mau harus ditambah dengan berurusan dengan bapak polisi yang terhormat.
Lalu Yuuma mengalihkan pandangan ke arah sang tawanan. Melepaskan lakban yang menempel, dan membungkukkan badan agar wajahnya sejajar. Hm, sepertinya Yuuma memang pernah lihat. Wajahnya cukup cantik juga, tapi kok.. pakai celana?
"Aku tak akan memperlakukanmu seperti mereka. Jadi katakan apa maumu kemari." Yuuma tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi-giginya. Meski jika dilihat secara seksama, itu lebih tepat disebut sebagai menyeringai.
"Jika kau tak ada urusan, kusarankan kau pergi sekarang juga sebelum pemuda berambut merah disana mengutukmu tujuh turunan." Ancaman Yuuma sungguh wow sekali. Membuat sang lawan bicara gemetar setengah mati. Ternyata kau sama-sama nyeremin, Yum.
"A-aku hanya ingin meminta bantuan kalian." Ucapnya kemudian. Setelah menahan kaki yang gemetar meminta kabur dari tempat terkutuk ini.
Seluruh anggota cengo. Saling berpandangan tak percaya. Termasuk tokoh utama kita.
Mungkin Yuuma harus mengemasi barangnya, bersiap-siap mengungsi karena kemungkinan badai akan datang. Karena sebenarnya nggak mungkin klub mereka bisa dapat klien.
Sungguh nggak mungkin... kan?
Omake
"Yum, aku penasaran, mengapa Meiko-sensei bisa memaksamu masuk ke klub ini?" pertanyaan Dell membuat Yuuma keselek lagi.
Yuuma mengelus dada, untung saja Dell tak tau. Untung saja Dell tak seserba tau seperti yang ia kira.
"Apa dia memegang rahasiamu?" tanya Kokone. Yang sukses membuat Yuuma hampir kena gagal jantung. Yuuma membuang muka, pura-pura budeg ceritanya.
Mengerikan. Insting wanita itu mengerikan.
"Sepertinya hari ini cuacanya cerah."
Sakaki Yuuma. 15 tahun. Kabur dari kenyataan.
~TBC~
