Putih...
Pucat...
Sayu...
Mata itu...
Penuh luka...
Wajah itu...
"Tidak..." Ratapan kesakitan, kesendirian, kesedihan.
Pelipisnya bersimpah darah...
Merah...
Sebuah senyum...
"Jangan pergi..." Dia tak ingin kehilangan.
"Kumohon."
...
"...bangunlah."
Air matanya mengalir, membasahi pipinya. Jatuh di atas gumpalan darah di wajah pucat itu. Menyatu dengan pekatnya warna merah yang mengotori kemeja putihnya. Membuat perlahan sepasang mata di wajah pucat itu tertutup... terlelap... untuk selamanya. Tak akan pernah lagi menunjukkan pesonanya. Sosok yang sebentar lagi akan terpendam dalam gelapnya bumi.
"BANGUN!" Tak ada lagi yang bisa di dengarnya... bahkan ketika teriakan itu sampai di telinganya. Tak ada lagi yang bisa ia dengar, yang bisa ia rasakan, yang lagi bisa ia lihat dengan sepasang matanya, tak ada lagi. Hidupnya sudah berakhir... semua sudah selesai. Dunia ini telah meninggalkannya, dunia ini tak lagi mau bersanding bersamanya. Dunia ini... dunia ini telah mengirimnya ke tempat lain. Tempat yang begitu jauh. Tempat dengan indah. Bukit-bukit dengan ilalang-ilalang kecoklatan. Sinar mentari yang menyala terik.
"Kau bahkan tak memberi kukesempatan, BODOH!"
'Kau tahu? Aku sudah berkali-kali memberimu kesempatan.'
2R
Yu Gi Oh! Is never be mine!
Gelap, luas, dingin... kamar itu. Pemiliknya seakan enggan memberikan sedikit lampu di dalam kamarnya, membiarkan saja kamar itu gelap tanpa pernah berniat menghiasnya dengan cahaya terang dari lampu, bahkan dari kunang-kunang kecil sekalipun. Sang pemilik kamar, pemuda berkulit pucat dengan iris dark purple di dalam sepasang matanya. Pemuda itu lebih memilih berdiri di depan laptop silvernya sambil mengeguk segalas bir. Matanya sayu... sembab. Garis hitam tampak melengkung di bawah matanya. Entah sudah berapa lama pemuda itu menghabiskan waktunya untuk tetap membuka matanya. Meneliti bari demi baris kalimat yang terpampang di depannya. Kalimat-kalimat yang membentuk rangkaian cerita, menghujam jiwanya bergantian. Mencabik rasanya semakin dalam...
Aku ragu... apa dia pernah melihatku? Benar-benar melihatku? Atau menganggap aku ada? bahwa aku ini eksis?
Huft... lupakan sajalah. Tak ada mungkin dia membiarkan sepasang mata indah itu menatap diriku yang hina.
Perih... kristal bening berukuran kecil itu telah berdesakan memenuhi pelupuk matanya. Membuat sepasang mata itu terasa penuh dengan pasir. Debu sebesar bola kelereng seakan memaksa masuk kedalam matanya. Perih... sakit... entah apalagi yang harus ia katakan untuk mengungkapkan bagaimana pedih yang ia rasakan.
Sepasang matanya terpejam... kembali menggali masa lalu bertahun-tahun silam. Masa keangkuhannya, masa kebanggannya...
Kenapa?
Kenapa waktu itu dirinya begitu kejam? Kenapa dulu ia begitu tega memalingkan wajahnya? Kenapa selalu pandangan intimidasi yang telah ia asah begitu tajam? Kenapa... kenapa bukan sapaann ramah yang keluar dari mulutnya? Kenapa harus kata-kata berisi kritik yang berujung menghujam kalbu? Kenapa harus seperti itu? Kenapa harus semua itu yang ia tunjukkan? Kenapa? KENAPA?
Kenapa semua hal itu membuat orang itu terluka? Dan kenapa... kenapa orangitu tetap bertahan dengannya...
...tetap mencintainya.
Memangnya dia pantas untuk dipuja segila itu? Apa dia pantas? Dipuja layaknya dewa agung yang begitu perkasa dengan semua kekuasaannya?
'Aku tidak pernah pantas... kau bodoh!' Batinnya bergejolak... amarah dan putus asa.
Dirinya bukan dewa...
Dia bukan Ra yang dipuja oleh rakyat Mesir,
dirinya bukan Zeus, pemimpin para dewa-dewi Yunani...
Dia bukan siapa-siapa... hanya manusia angkuh yang memuja kefanaannya.
Tapi kenapa? Kenapa seorang malaikat suci harus terjerat dalam dosa karena jatuh dalam pesonanya. Pemujaan gila pada dirinya, melanggar kodratnya di dunia. Mengorbankan segala dayanya hanya untuk memuja dirinya yang penuh dosa, penuh kegelapan. Dirinya yang egois, keras kepala, angkuh, sombong... apa yang dilihat malaikat itu dari sosoknya?
"Kau benar-benar bodoh... Yugi." Air matanya mengalir, hanya untuk satu orang... pemuda bertubuh mungil yang sudah merubah hidupnya. Membawanya pada sesuatu yang selalu ia dambakan. Dan pemuda itulah yang mengambil semuanya...
Yugi dengan mudah mengambil semua kenangan indah itu. Tepat saat tubuh kecilnya bersimpah cairan merah pekat... darah. Yami tak akan pernah bisa melupakan bau anyir itu. Dia tak akan pernah bisa lupa bagaimana darah Yugi lengket di tangannya, tak akan pernah bisa lupa saat tangan lembut itu menyentuh pipinya, saat senyum kesakitan itu tampak di wajah malaikatnya... dan dia tak akan pernah bisa lupa besarnya rasa penyesalan yang selalu menghantui mimpi-mimpinya. Tak akan... sampai kapanpun.
"Yami... aishiteru."
Dia tak akan pernah lupa saat suara lembut itu mengalun lembut di telinganya. Saat serta merta jantung dalam tubuh mungil itu berhenti berdetak. Saat air matanya meleleh keluar... pertama kalinya semenjak kematian ibunda tercintanya. Tak akan pernah lupa prosesi pemakaman yang sunyi dan hanya dihiasi dengan isak tangis. Racauan sahabat-sahabat terdekatnya, wajah pucat sang malaikat yang ada di dalam peti.
"Aku berharap bisa secaptnya menyusulmu..."
PRANGGGG
Atem Yami _POV_
Semua sudah berakhir... tak ada lagi cahaya. Tak ada lagi malaikat... tak ada lagi... senyuman itu.
BRENGSEK!
Kenapa aku harus kehilangan dia? Kenapa harus di saat aku menginginkannya? Kenapa harus dia yang tertabrak mobil sialan itu? Kenapa bukan aku atau anak kecil sialan itu? Kenapa harus MUTO YUGI? Kenapa harus bocah pendek itu? Kenapa aku begitu bodoh baru menyadari perasaannya padaku? Kenapa aku tak pernah sadar?
Apa kau puas Yugi? Anggap saja ini hukum karma karena dulu aku mengacuhkanmu... aku tak pernah peduli padamu? Kau senang? Tertawalah di surga sana sepuasmu! Biarkan aku menderita dan jadi gila karena ke pergianmu. Karena ulahmu! Lihat Yugi... LIHAT! Lihat dari tempatmu sekarang... aku juga memujamu. Kau adalah cahayaku... jangan berkata bahwa kau saja menderita... aku juga, aku lebih menderita di tempat ini! AKU MENDERITA KARENA KAU!
Kenapa tidak kau berikan aku kesempatan lagi? Bangun Yugi... buktikan pada mereka kalau kau hanya tidur... tidur yang cukup lama... bukan untuk selamanya... kumohon. Aku berjanji, aku akan membuatmu bahagia. Aku tidak akan pernah berpaling darimu, tidak akan pernah membuatmu terluka! Please...
Kembali ke sini, bodoh...
Kau bilang akan melakukan apa saja untuk membuatku bahagia. Membuatku tersenyum dan tak menunjukan wajah sedih atau kecewa. Buktikan Yugi.. BUKTIKAN! Buktikan janjimu itu... buktikan kalau kau mencintaiku. Bangunlah... tunjukan dirimu... lihat aku... Aku membutuhkanmu, menginginkanmu, kumohon... Kembalilah... ke sisiku...
Lihat betapa menyedihkannya dewa-mu ini sekarang, lihat betapa rapuh dan hancurnya aku tanpamu...
LIHAT SEMUA INI BODOH!
Arghh... air mata sial ini membuat mataku perih. Apa kau pikir aku sudah gila? Ya mungkin... mungkin aku sudah bisa disamakan dengan orang gila. Diam di tempat duduk ini berhari-hari, tanpa tidur, tanpa makan, memecahkan setip gelas dan botol bir yang isinya tinggal setengah itu... aku gila... ya aku gila! HAHAHAHAHA... bagus sekali bukan? Ini aku Yugi... YAMI-MU, aku jauh lebih gila darimu... aku memujamu yugi, lebih lama daripada kau!
Kau ingat bertahun-tahun lalu? Apa kau masih ingat ketika kita masih menjadi bocah nakal yang menyebalkan. Kau berdiri di depan pintu sebuah kedai makanan waktu itu. Kau menangis, ketakutan, kau ingat itu? Dan aku melihatmu... mendekatimu, bertanya padamu. Bisa kau tebak apa yang kupikirkan saat pertama kali aku melihatmu? Apa kau pernah berpikir yang kukatakan adalah 'Oh Kami-sama, apa yang kumimpikan semalam sampai-sampai aku bisa melihat malaikat dari surga?' Aku berani bertaruh yang kau pikir akan kukatakan adalah 'Cengeng sekali anak kecil ini!' Huh.. aku benarkan? Kau selalu merendah Yugi.
Apa kau masih ingat percakapan pertama kita waktu itu? Saat aku bertanya, "siapa namamu?" dan kau hanya tetap menangis dan berkata, "kakek-ku meninggalkanku." Apa kau ingat wajah kebingunganku? Lalu... saat aku mengelus-elus kepalamu dan berkata, "mungkin dia hanya pergi sebentar" dan kau malah menangis semakin kencang... Apa kau masih ingat saat-saat itu? Masa-masa lucu dan unik itu? Apa kau masih ingat waktu tiba-tiba ayahku datang dan ikut menenangkanmu? Waktu itu kami membawamu ke dalam kedai, membelikanmu semangkuk cemilan manis dan susu panas rasa coklat. Kau langsung diam dan melihat cemilan di meja... wajahmu waktu itu manis sekali. Aku tahu kau lapar, dan kau takut untuk mengatakannya. Apa kau ingat saat ayahku pergi meninggalkan kita berdua? Saat dia memilih menelpon seseorang di luar? Saat aku mendekatkan mangkuk itu ke wajahmu. Kau menunduk dan memanikan jari kecilmu...
"Makan saja... ayah membelikannya untukmu."
Apa kau pernah ingat akan perkataanku waktu itu? Apa kau pernah ingat senyum tulusku yang kuberikan padamu waktu itu? Aku masih ingat saat kau mencoba memberanikan diri mengambil benda bulat berisi coklat manis itu dengan tangan kecilmu. Setelah itu kau mengucapkan terimakasih dengan suara yang nyaris tak terdengar. Apa kau ingat aku pernah mencium keningmu waktu itu? Setelah kau menghabiskan semangkuk penuh kue bulat itu? Setelah itu, aku mencoba menanyakan namamu lagi, dan lagi.. kau hanya menundukkan kepalamu dan berkata begitu pelan. Dan saat aku bertanya lagi, kakekmu datang... Orang tua itu datang bersama ayahku. Dia langsung menggendongmu, orang tua itu langsung memelukmu begitu erat. Kau tahu? Sejujurnya... aku tak suka, aku cemburu. Aku diam saja waktu itu, ayah menghampiriki. Dia menggandeng tanganku dan mengenalkan kakek tua itu padaku. Aku masih ingat waktu kau mencuri waktu melirikku dan tersenyum padaku. Kau benar-benar manis yugi... sangat manis!
Setelah kau dan kakekmu pulang, ayah mengajakku pulang. Tapi bukan kerumah megah di pusat kota negara sakura, rumah yang sudah kuhuni sejak aku lahir. Dia membawaku ke bandara, membawaku ke daerah yang tak ku kenal sama sekali. Dia membawaku ke Kairo, aku melanjutkan pendidikanku di sana. Aku kecewa... aku tak menyangka dia akan membawaku ke tempat itu. Entah kenapa, aku merasa kehilangan, aku takut... aku kehilanganmu. Baru satu malam di sana dan aku langsung teringat senyum manismu waktu itu. Apa kau tahu? Waktu itu aku mencoba berontak, ayah marah... Dia menghukumku terus, terus, dan terus. Sampai akhirnya aku menyerah. Aku memilih cara halus, aku memintanya kembali ke Jepang. Aku katakan aku merindukan Ibuku, aku katakan aku ingin mengenang masa-masa indahku bersamanya.
Ayah mengizinkaku... dia berjanji tepat setelah aku lulus sekolah dasarku di Kairo dia akan mengizinkanku bersekolah di Jepang. Aku benar-benar senang saat itu, aku lupa diri. Yang kuinginkan saat aku kembali ke Jepang nanti adalah, aku ingin melihat wajah malaikatmu dan memlukmu seerat mungkin. Aku akan memintamu untuk selalu bisa bersama denganku.
Terdengar gila? Untukmu Yugi... untuk mereka...
Tapi bukan untuku, itu wajar. Aku menyukaimu, aku mencintaimu. Perasaan itu ada dalam setiap tubuh manusia'kan? Cinta, suka, sayang, benci, semua itu...
Mendengar ceritaku, kau pasti akan bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa aku malah begitu dingin padamu? Kenapa aku seakan tak pernah mengenalmu? Kenapa?
Kau mau tahu?
Semua itu karena orang bodoh yang selalu bersama. Itu semua karena kuso-Ryou-mu. Karene pemuda sialan itu. Mengerti?
Saat pertama kali aku datang ke Jepang. Aku langsung menyuruh beberapa orang mencari data tentang dirimu. Huh- susah sebenarnya. Aku tak tahu namamu. Yang bisa ku ingat dengan jelas hanyalah gaya rambutmu yang mirip denganku dan wajahmu yang manis. Mata indah itu. Aku hanya berusaha mendeskripsikannya sebaik mungkin pada para orang-orang itu. Mereka menemukanmu, mengabadikan sosok indahmu dalam sebuah foto. Memberikan foto itu padaku. Kau manis.. sangat manis. Aku langsung bisa mengenalimu begitu melihat foto itu.
Akhirnya, setelah mendapat data tentang dirimu, aku langsung memasukan diri ke sekolah yang sama denganku. Saito juga langsung ikut masuk ke sekolah yang sama. Perintah ayahku katanya. Bullshit...
Aku menjalani hari pertamaku dengan bahagia, sekelas denganmu... mendapat tempat strategis untuk bisa selalu melihatmu. Saat aku datang padamu, memperkenalkan diri ini padamu. Kau hanya tersenyum, kau benar-benar lupa Yugi? Hatiku meringis, sakit... perih... Ku pikir pertemuan kita bertahun-tahun lalu akan menjadi sangat berkesan. Untukmu, dan untukku.
Nyatanya? Pertmuan itu hanya berbekas dalam hatiku saja. Kau mengecewakanku...
Tapi aku tak menyerah, aku ingin kau mengingat saat manis itu, kenangan manis di sebuah kedai di tengah hujan deras. Aku mendekatimu, aku membantumu, aku selalu ada saat kau butuhkan aku... tapi kau tak pernah sadar. Kau selalu sibuk sendiri di sisi sana. Bersama manusia berambut putih landak itu. Kau begitu dekat dengannya. Kau tertawa bahagia bersama orang itu. Kau selalu lebih rileks bersama dengan orang itu.
Kau tahu? Aku hanya bisa tersenyum kecut melihatnya. Bertanya terus-menerus, setiap hari... kenapa kau dapat senyum itu bukan bersamaku. Kenapa rasa nyaman itu tidak datang ketika kau bersama ku. Kenapa? Kenapa bagiku tidak adil. Kenapa Kami-sama begitu kejam. Kenapa? Bisa kau jawab itu. Aku menemuinya. Ryou-mu aku menghajarnya, aku memukulnya, aku yang membuat anak itu keluar dari sekolah.
Kau sendiri yang merubahku menjadi monster kejam Yugi. Berhati dingin. Hati baja... Aku tak pernah peduli. Tepatnya, aku tak mau peduli lagi tentangmu. Aku ingin lupakan semua hal tentangmu! Dan kau tahu? Aku gagal! Aku tidak pernah berhasil. Apa kau pikir aku tak tahu saat kau mencuri padnang padaku? Apa kau pikir aku benar-benar menikmati saat-saat aku harus menutup mulutku dan mempertajam pandanganku padamu? Kau pikir aku bahagia Yugi? Kau pikir aku senang? Kau pikir memag itu yang aku inginkan? TIDAK!
Aku tak pernah menginginkannya. Kau yang membuatku melakukannya. Kau yang mengubahku. Kau mengubah tujuanku datang ke tempat ini. Aku membunuh semua harapan yang sudah di pupuk ayah padaku. Aku bertengkar hebat dengannya. Aku marah besar. Tepat ketika dia memergoki melihat fotomu. Saat pak tua itu datang tiba-tiba dan langsung masuk ke kamarku tanpa permisi. Dia memakiku, mengatakan aku hanyalah pembohong besar yang terlalu sering mengecewakannya. Dia berteriak padaku tentang betapa besarnya harapan yang ia gantungkan padaku. Aku tak mau kalah.
Aku menatapnya aku ungkapkan semuanya. Aku berteriak padanya. Aku masih sangat ingat saat-saat itu. Masih begitu ingat ekspresi wajahnya ketika kukatakan apa yang terjadi dalam diriku. AKU MENCINTAI YUGI, AKU GUY, DAN BAGIKU ITU BUKAN MASALAH!
Kau benar-benar merubah hidupku Yugi. Kau membuatnya indah dan kemudian menghancurkan semua hal itu.
Hampir dua tahun aku mencoba masa bodoh soal keberadaanmu, hampir dua tahun aku lebih menyibukkan diriku dengan gadis-gadis lajang di luar sana. Hampir dua tahun aku merana. Tapi aku tak pernah berhasil melupakanmu, aku selalu bisa menangkap sosokmu di antara kerumunan banyak. Aku bahkan masih sering datang ke kedai sederhan itu. Berharap suatu hari kau datang lagi dan ingat akan semuanya. Ya! Aku menunggu begitu lama. Sangat lama...
Sampai akhirnya. Kau datang, kau tiba-tiba datang ke kedai itu. Kau melihatku dan entah mendapat keberanian dari mana kau menyapaku. Bertanya padaku, 'boleh aku duduk di sini?' dengan suara lembutmu. Aku hanya mengangguk. Menatap ke arah luar, berusaha menghindari kontak mata denganmu... Tapi aku tak pernah bisa. Dengan beralasan meminum kopiku, aku melirikmu. Semangkuk kue bulat berisi coklat telah tersedia di depanmu. Aku tertegun... apa kau ingat? Itu yang pertama kali menghantui batinku. Kau memakan kue itu dengan sangat lahap, kau seakan menganggapku tak ada. Mungkin...
"Kau suka kue bulat itu?" Tampangku pasti sangat aneh saat mengatakan itu.
Kau mengangguk dan tersenyum, kau bertanya. "Apa kau mau? Rasanya enak." Aku hanya tersenyum kecil. Sayang sekali aku benci sesuatu yang terasa manis. Kecuali kau.
Kita sama-sama terdiam saat itu. Dan aku mencoba lagi. Sebuah harapan di masa lalu yang sudah ku kubur jauh-jauh. Apa kau ingat?
"Sejak kapan kau menyukai kue itu." Kau hanya mengangkat bahumu. Memakan sebutir kue lagi. Membuat pipimu menggembung dan terlihat semakin manis. Kalau aku tidak mempertahankan egoku waktu itu. Mungkin saja aku sudah mencubit pipimu dan memelarkannya dengan kedua tanganku. Tapi aku tak bisa. aku sadar aku egois. Mencoba membunuh rasaku sendiri.
"Mungkin juga sejak waktu itu." Kau berkata sebisamu. Mengeluarkan aksen yang aneh karena bulatan-bulatan itu belum habis tertelan di mulutmu. Aku tersenyum. Yah... sebuah senyum. Mungkinkah 'waktu itu' yang kau maksud adalah ketika kita bertemu dulu? Saat hujan deras itu? Apakah masih ada harapan? Masihkah orang hina ini punya kesempatan untuk bersanding dengan seorang malaikat? Masih bisakah aku menggantungkan harapanku?
Tentu...
Sadarkah kau? Sejak itu, aku kembali mencoba mendekatimu. Mencoba kembali untuk selalu bersamamu. Mencoba mengubur semua sakit hati dan ikrar kejamku untuk melupakan dirimu dari kehidupanku. Api itu tumbuh lagi. Api membara untuk mendapatkan dirimu. Lagi... aku punya kesempatan.
Kita mulai terbiasa menghabiskan waktu bersama, mengerjakan PR bersama, kuliah di tempat yang sama. Tapi kenapa? Kenapa di hari itu... kenapa ketika aku sudah menyiapkan sebuah cincin untukmu. Ketika aku sudah menyiapkan rangkaian kata indah untuk diperdengarkan padamu. Kenap semua itu harus terjadi? Kenapa kau harus merelakan dirimu menabrak truk sialan itu? Kenapa kau lebih memilih menyelamatkan nyawa bocah itu? Kenapa kau seakan tak menghargai apa yang sudah kupersiapkan untukmu? Kenapa kau seakan membalas dendam padaku? Dan kenapa... kenapa kata-kata indah itu harus kau ucapkan pada saat yang sama sekali tidak indah! Kenapa kata 'aishiteru'mu harus kau lantunkan pada saat terakhir YUGI!
Dan kau membuatku kembali menderita. Kau kembali membuatku merana. Kau sekali lagi menghancurkan kehidupanku... kau membuat segalanya menjadi butiran debu. Kau membuat hati ini mati rasa. Lagi... untuk kedua kalinya. Kau membunuh nyawaku. Apa kau puas? Tertawalah di atas sana. Ayo tertawa bersamaku!
HAHAHAHAHAHA
_End of Yami POV_
Sebuah Tv di ruangan mewah itu menyala seperti biasanya. Hanya saja, kali ini. Sang penonton sekaligus sang pemilik TV tampak begitu terpana melihat siaran yang ada dalam kotak itu. Wajahnya yang sangat arabia dengan garis-garis wajah yang sangat kelihatan itu tampak begitu pucat. Handphone yang sejak tadi bertengger di telinganya jatuh begitu saja ketika serangkaian kata dari seorang reporter berita sampai dan dicerna dengan baik oleh otaknya.
'Hari ini telah terjadi sebuah kecelakan di perempatan Shibuya. Sebuah truk yang sedang melaju dalam kecepatan kencang menabrak seorang pemuda yang ingin menyelamatkan seorang anak kecil. Menurut data yang kami dapat dari tim medis, pemuda itu langsung meninggal di tempat. Sedangkan anak kecil yang ditolongnya selamat, anak itu hanya mengalami beberapa luka ringan dan sedang diobati. Sementara itu, seakrang polisi sedang mengamankan sang pelaku untuk dibawa ke kantor polisi dan dimintai keterangan lebih lanjut. Beberapa saksi menga...'
Pria yang sudah berumur itu tampak lebih kaget ketika mendapiti sesosok mayat yang sedang ditandu oleh beberapa perawat. Dia mengenalinya. Pemuda itu... pemuda yang sejak kecil telah tinggal bersamanya. Pemuda yang selalu jadi kebanggaannya tak peduli seberapa banyak anak itu mengecewakannya. Pemuda itu.. Atem Yami.
Putranya...
~Owari~
Arigatou minna-san :D
Semoga puas dengan chapter ini!
R
E
V
I
E
W
.
P
L
E
A
S
?
