Previous Chapter :
Hinata merasakan situasi di sini mulai berbahaya.
"N-Ng! Mi-Minggir dariku!" Secara spontan Hinata memejamkan kedua matanya rapat-rapat, dan memberontak dengan cara mendorongi tubuh pria itu dengan pukulan lemahnya.
"Kenapa harus aku yang minggir? Bukannya kau yang mendatangiku pertama kali?" Ia menggunakan suara yang sedikit menggoda. Dan dengan cepat—seakan terbiasa—ia mengambil kedua tangan Hinata agar tidak lagi mengganggunya dan menahannya ke masing-masing sisi kepala Hinata.
"He-Hentikan dan tolong minggir sekarang juga!"
Bukannya menuruti permintaan itu, ia malah semakin mendekatkan wajahnya yang sudah menyunggingkan sebuah seringai jahil.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
.
.
Hinata melihat kedua sapphire yang sedang menatapnya intens. Dan sewaktu ia semakin mendekat, dapat Hinata rasakan hembusan nafas orang itu yang menerpa permukaan wajahnya—yang otomatis membuat semua aliran darah di tubuhnya seakan terhenti. Hinata pejamkan kedua matanya rapat-rapat. Tanpa diminta pipi Hinata memanas seperti terbakar.
Kemudian karena Hinata sudah yakin wajah pria pirang ini tepat beberapa senti di hadapannya, ia mencoba menelan ludah, menepis semua rasa takut yang sempat terasa.
Sesudah Hinata menghela nafas, sedikit ragu ia langsung memandangnya. "Ja-Jangan sekali-sekali mendekat lebih dari ini. A-Atau..."
Naruto sedikit menahan tawa karena mendengar ancaman paniknya. "Atau apa...?" Tanyanya dengan berani.
"A-Atau aku akan me-menendangmu!" Hinata mengusahakan agar suaranya tinggi, seolah-olah berteriak agar terkesan seram. Tapi tampaknya hal itu tidak mempan untuk Naruto, ia malah terkikik geli.
"Sudahlah, jika bersamaku kau pasti senang..."
Selagi Naruto berbicara, Hinata sedikit menekuk salah satu sendi lutut kakinya, mengambil ancang-ancang nekat.
"Memangnya anak kecil sepertimu bisa apa—?"
Bukh!
.
.
.
LOVE IN BOARDING
Sanpacchi's Fanfiction 2011
Naruto is Masashi Kishimoto's | NaruHina & SasuHina | Fanfiction-net
Genre : Romance, Drama, Friendship. | Warning : AU, OOC, Typos, Mature Themes, etc. | Jika ada kesamaan ide harap dimaklumi.
MATURE CONTENT—YOU HAVE BEEN WARNED!
.
.
Love In Boarding no II. Namikaze
.
.
Hinata sukses menendang 'barang' orang yang berada di atasnya itu menggunakan lutut kakinya. Setelah beberapa saat kemudian, perlahan ia mencoba sedikit mengadah untuk memeriksa keadaan. Di sisi atas, Hinata menemukan wajah pria itu yang bukan lagi menatap ke arahnya, melainkan sudah ke samping—wajahnya tertekuk seperti menahan sakit sampai tubuhnya bergetar.
Hening.
Sepertinya benar-benar tepat sasaran. Buktinya orang itu tidak bergerak sama sekali setelah Hinata berhasil menendang organ vital tersebut.
Kemudian, tiba-tiba dada bidang Naruto bergerak. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya bersama geraman. "Uhk! S-Si-Sialann!"
Brukh!
"—!"
Entah saking sakitnya tendangan tadi, mendadak Naruto yang jauh lebih besar menjatuhi tubuh Hinata. Tentu saja gadis itu terkejut. Selain berat, kulit mereka saling bertemu—karena Naruto bertelanjang dada; tidak memakai bajunya.
Wajah pria itu terjatuh pas di samping kepala Hinata, membuat bibirnya sempat bertabrakan dengan kulit leher Naruto. Badan mungilnya terhimpit di atas ranjang.
Sekarang Hinata benar-benar sudah ditimpa olehnya.
Merasa beban yang dia tanggung terlalu over untuk tenaganya, Hinata mencoba untuk meronta-ronta agar Naruto segera menghindar dari atasnya supaya ia dapat kembali bernafas.
"Uhh, be-berat..."
Mungkin karena Naruto terlalu mengurusi rasa sakit di selangkangannya, ia sampai lupa kalau ada seorang gadis di bawahnya. Padahal seharusnya ia tau, kalau menahan tubuh seorang pria itu bukanlah sesuatu yang ringan.
"Ba-Banguun!"
"Tsch, ke-kenapa kau bisa-bisanya memukul 'adik'-ku di saat ia lagi tegang-tegangnya, hah!? Argh, shiit!" Bukannya mendengarkan keluhan Hinata, Naruto malah sibuk sendiri merutuk secara frontal.
Hinata sudah hampir mau mati rasa. Ia tidak peduli lagi dengan kalimat Naruto yang menyalahkannya.
"Uhhk... ba-banguun! A-Aku tidak bisa bernafas!" Pintanya sambil menaikkan intonasi suaranya. Bersama tenaga lemah, Hinata berusaha menggeserkan badan Naruto. Tapi sayangnya tidak bisa.
Tapi mendadak saja kedua mata Hinata mendelik saat merasakan seseorang yang ada di atas tubuhnya itu bergerak meringkuk. Itu memang karena ia menahan rasa sakit, namun nyatanya pria itu malah menaruh pipinya—yang dihiasi oleh tiga garis halus di masing-masingnya itu—ke dada milik Hinata yang bisa terbilang besar.
Hinata membeku di tempat.
Awalnya ia kira si pirang itu akan cepat berpindah, tapi bukannya pindah Naruto malah mengadahkan wajahnya ke Hinata yang sekarang sudah merah merona. Ia tersenyum menggoda.
"Aku suka ukuran dadamu."
Pria ini... sengaja!
"KYAAAAA!"
Entah dari mana kekuatan yang ia dapat, Hinata langsung mendorong pria itu dan membuatnya terjungkal ke samping. Dengan nafas tersengal segeralah Hinata bangkit dan akan beranjak dari ranjang. Tapi tangan Naruto sudah keburu menahan tangannya.
Dengan wajah yang memerah karena menahan malu, Hinata menatap iris sapphire yang sedang menatapnya serius. "A-Apa?" Hinata mencoba untuk terbebas dari cekalan Naruto, tapi sepertinya tidak bisa. "Tolong le-lepaskan..."
Lalu pandangan matanya itu berubah menjadi lunak. "Aku Naruto, siapa namamu?"
Naruto mengabaikan kalimat Hinata, dan malah mengajaknya berkenalan.
Jika orang-orang yang sudah lama mengenal Naruto melihat pandangan mata pria itu, pastinya mereka akan menjerit kesenangan dengan histeris. Karena, di saat inilah Naruto sedang terpesona.
Masalahnya Hinata sudah tidak mau menilai pandangan Naruto yang sedang menatapnya. Naruto terlalu mesum untuk dia puji lagi di dalam hati.
Karena kesal yang berlebih, Hinata melepaskan tangan Naruto yang menggenggamnya dan ia pun berlari ke arah pintu untuk keluar.
Cklek!
Saat kenop pintu diputar, pintu tidak mau terbuka seperti fungsinya. Dan sebabnya hanya ada satu hal... dikunci.
"Ma-Mana kuncinya?" Hinata berbalik, lalu berbisik sambil menggigit bibir bawahnya. Dilihatnya Naruto yang masih tiduran di ranjang, dengan kedua lipatan tangan yang dijadikan bantalan.
"Ada di aku..." Ia menjawab santai dan tersenyum tiga jari, menyebabkan Hinata sedikit berpikir kalau wajah Naruto sangatlah imut, tapi cepat-cepat ia menggeleng untuk membuyarkan pikirannya.
"K-Ke-Kemarikan..." Dengan suara gugup, Hinata memohon.
Naruto tertawa pelan. "Makanya, ayo sini... aku tidak akan menggigitmu kok."
Mata Hinata sedikit menyipit tanda ia ragu. Tapi perlahan-lahan ia mulai mendekat dengan gerak was-was—kalau jujur, dia tetap ragu kalau cowok itu tidak akan menggigitnya bila dia ke sana.
Saat Hinata sudah berdiri di samping ranjang, Naruto mulai membenarkan posisinya menjadi duduk, membuat batu kristal yang terkalung di lehernya itu tergantung. Naruto mengambil sesuatu dari saku celana, lalu ia memainkan benda tersebut di jemarinya.
Itu sebuah gantungan kunci yang memuat tiga kunci berbeda di sangkutannya.
"Mau kunci ini?" Tiba-tiba saja Naruto melirik kepada gadis itu.
Hinata yang dari tadi memperhatikannya dari samping pun memalingkan wajah, terpaksa mengalihkan pandangannya ke tempat lain untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Entah kenapa sewaktu Naruto memandangnya, jantungnya malah berdetak tidak normal.
Terlalu lama melamun, Hinata malah lupa akan pertanyaan Naruto yang sebelumnya.
"A-Apa? Bisa kau ulangi...?"
Naruto tersenyum manis. "Mau kucium—?"
"Tidak!" Jawaban Hinata yang cepat itu langsung membuat Naruto terkikik geli.
"Padahal kalau kucium, kunci ini aku akan langsung aku kasih loh..." Cengirannya langsung membuat muka Hinata memerah layaknya tomat masak.
Lalu pria jabrik tersebut tiba-tiba saja menarik tangan kiri Hinata—yang sempat membuat Hinata kaget—dan menaruhkan kunci itu tepat di telapak tangannya. Tapi sebelum Naruto melepaskan pegangannya dari tangan putih Hinata, si pirang menatap mata lavender Hinata.
Gadis itu tertegun melihat wajah tampan Naruto dari dekat.
Kini Hinata baru sadar kalau orang yang sedang menggenggam salah satu tangannya ini adalah orang yang begitu rupawan. Jabrik, pirang, iris seindah langit cerah, dan kulit tan yang seakan-akan bersinar. Entah kenapa hanya karena melihat senyumannya, itu sudah cukup membuat Hinata terpesona seperti sekarang.
Walaupun kelakuan awalnya tampak seperti orang yang bukan baik-baik, Hinata dapat merasakan kalau pria yang bertelanjang dada di depannya ini bukanlah orang jahat. Hanya saja lebih dapat dikatakan... iseng.
"Nah..." Orang itu kembali mengeluarkan suara. "Karena aku sudah memberi kunci ini secara cuma-cuma, aku akan memberikan permainan untukmu... dengarkan baik-baik." Sebelum memberikan peraturan, ia menghirup oksigen banyak-banyak.
"Selagi aku menghitung angka, keluar dari ruangan ini secepatnya. Kalau sampai hitungan kelima kau masih ada di sini, aku tidak akan mengizinkanmu pergi sampai besok." Jelasnya cepat dalam satu kali hembusan nafas.
Lalu mata sapphire-nya seakan menantang Hinata ketika melihat gadis yang sedang terbengong itu—tampaknya ia belum mencerna sederet kalimat yang baru saja ia dengar.
"A-Apa? Aku tidak dapat mendengar—"
"Satu..."
Karena Naruto sudah mulai menghitung, dengan panik Hinata langsung berlari ke arah pintu untuk memasukkan kunci ke lubangnya—mencoba membuka pintu.
"Dua..."
Sialnya kunci yang dia masukan tadi bukanlah kunci pintu tadi—karena dari satu gantungan kunci itu ada tiga kunci yang berbeda. Tanpa pikir panjang Hinata langsung mencoba yang kedua. Sekarang yang mendapatkan kefokusan Hinata adalah angka yang diucapkan pria itu, dan juga detak jantungnya yang mengebu-ebu.
Semua permainan yang menggunakan waktu sebagai akhir memang membuat sesuatu jadi lebih menegangkan, dan memang itulah maksud Naruto.
"Tiga..."
Sambil menghitung, Naruto terlihat menikmati gerak-gerik lucu dari gadis yang tidak dikenalinya itu. Bahkan ia sampai menahan tawa sewaktu melihat kepala Hinata yang terbentur pintu saat ia mengambil gantungan kunci yang sempat terjatuh—sudah pasti karena alasan terburu-buru.
Sampai akhirnya ia pun diam-diam turun dari ranjang, dan berjalan ke arah Hinata.
"Empat..."
Cklek!
Pas di saat angka empat disebutkan, di saat itu juga Hinata berhasil membuka pintu. Tapi ketika ia baru saja memutar daun pintu agar dapat keluar, ia malah dikagetkan oleh kedua tangan yang menepuk masing-masing bahunya dengan keras. "SELAMAT! YOU WIN!"
"KYAAAA!" Tepukan pelan itu langsung direspons langsung oleh Hinata menggunakan aksi teriakan kaget yang membuat keseimbangannya sendiri menjadi oleng.
Memangnya siapa yang tidak kaget kalau dikagetkan tiba-tiba ketika sedang panik?
Jdukh!
Dahi Hinata langsung menabrak pintu di depannya dan membuat bekas yang berwarna merah.
"Aaa, sakiit..." Keluhnya sambil memegangi memar merah yang sedikit tertutupi oleh poni ratanya.
"Ah, maaf... padahal aku hanya berniat mengagetkanmu. Sakit di mana?"
Bersama nada khawatir dan suara tawa yang sengaja ia tahan, Naruto bertanya. Ia putar tubuh Hinata agar mereka saling berhadapan. Tanpa izin Naruto langsung menyingkap poni itu ke samping, dan melihat satu bagian yang memerah di sana.
Sedangkan Hinata terpaku di tempatnya berdiri. Tentu saja karena posisi mereka sudah saling bersentuhan seperti sekarang.
Melihat gestur Hinata yang malu-malu kepadanya, Naruto menaikkan kedua sudut bibirnya.
"Di sini, ya?" Bersamaan dengan kalimat itu, Naruto menempelkan bibirnya dengan lembut ke dahi Hinata. Bukannya senang, Hinata malah kaget. Tanpa sadar gadis itu mendorong dada Naruto—berharap ia menjauh.
Awalnya Naruto sempat heran, mengira dirinya ditolak saat Hinata menjaga jarak darinya, tapi sesaat melihat wajah merah Hinata yang sedang berpaling, Naruto malah tersenyum dan mengecup pelan pipi gembil Hinata.
Tapi ia belum mau melepaskan pipi Hinata, dan berbisik di sana—membuat hembusan nafasnya menerpa sisi wajah Hinata yang ikutan memerah. "Pipimu merah juga, makanya aku ci—"
Bukh!
Setelah suara keras itu terdengar, pintu tertutup bersama bantingan, meninggalkan Naruto sendirian di dalam kamarnya dengan posisi terjungkal di lantai.
Setelah dia sendirian, Naruto pun mengerucutkan bibirnya sembari mengusap tengkuknya. Ia menggumam sebentar, tapi kemudian dia pegangi pipinya—yang habis di pukul Hinata. Setelah itu barulah ia tersenyum, sampai akhirnya dia hembuskan nafasnya panjang-panjang.
"Tingkahnya lucu..." Naruto tertawa. "Sentuhannya juga lembut. Tapi pukulannya kok bisa sakit, ya?"
.
.
: love in boarding | sanpacchi :
.
.
Di lain tempat, seseorang pria berambut biru dongker keluar dari sebuah rumah megah. Wajahnya kesal, terlihat dari cara ia membuka pintu dan memasuki mobil kepunyaannya. Dan sebelum orang itu menutup—yang sebenarnya lebih mendekati membanting—pintu mobil, pintu itu sudah terlebih dahulu ditahan oleh seorang pria dewasa.
"Sasuke..." Panggilnya dengan nada yang terkesan lelah. Ia tunjukan panggilan itu untuk seseorang yang kini berada di dalam mobil.
"Hn, apa lagi?"
"Terima saja permintaan Okaasan."
Seketika, pria yang sedang menyalakan mesin mobil itu pun langsung menghentikan kegiatannya. Dia pandangi kedua mata kakaknya menggunakan tatapan kesal. "Kalau kau mau membuat Okaasan senang, kau saja yang menerima permintaannya untuk menjodohkanmu dengan keluarga Hyuuga itu, Itachi."
"Aku sudah menikah. Lagi pula apa salahnya mencoba untuk menerima permintaan keluarga?" Tanya Itachi yang masih mencoba meyakinkan adiknya.
Tapi Sasuke malah terdiam. Dibalasnya segala kalimat Itachi dengan sebuah bantingan pintu mobil. Tanpa ada kata-kata yang keluar lagi dari bibirnya, Sasuke langsung menginjak pedal gas, dan pergi begitu saja.
Itachi hanya bisa melipat kedua tangannya di dada, dan menghela nafas pasrah dengan muka stoic-nya.
.
.
: love in boarding | sanpacchi :
.
.
Sejak Hinata keluar dari ruangan yang benar-benar membuatnya malu setengah mati itu, ia berlari menuju lift. Dan yang benar saja, ternyata ia salah lantai. Ruangan administrasi yang sedang ia cari itu berada di lantai 8, tapi sebelumnya ia malah menekan menjadi tombol 9.
Secara kasar ia menghela nafas lelah. Ia merutuki dirinya sendiri karena begitu bodoh saat melihat angka di depan pintu kamar Naruto yang bertuliskan 910 (baca: lantai 9 dan ruangan 10). Tapi bukannya menekan tombol 8, sekarang ia menekan tombol untuk ke lantai dasar. Ia tidak peduli lagi dengan sekolah ini, yang penting ia hanya ingin menenangkan detak jantungnya terlebih dahulu.
Hinata tidak mau lagi bertemu dengan anak pirang itu. Tidak mau sama sekali.
Saat pintu lift sudah terbuka lebar, ia langsung berlari menelusuri bangunan mewah itu agar bisa keluar secepatnya dari sana. Sewaktu sudah di luar, pandangan Hinata mulai mengelilingi sekitar gedung utama untuk menemukan Kakashi—yang juga sedang menunggunya.
Tapi di saat yang sama, seorang pria berparas angkuh itu keluar dari mobil pribadinya yang telah diparkirkan secara asal. Dengan wajah stoic yang sudah menjadi keturunan keluarganya, ia berjalan menuju sekolah.
Karena keduanya sama-sama tidak berjalan dengan memandang ke depan, tidak sengaja bahu Hinata menabrak pria itu.
Orang yang ditabraknya tadi memang baik-baik saja, tapi Hinata yang langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke samping, membuat kulit kakinya bergesekan dengan bata putih yang menjadi alas jalan.
"Uuh..." Hinata pun langsung menepuk-nepuk kotoran yang menempel di sekitar tangan dan kakinya—juga menahan tangis kesakitan yang sempat membuat matanya berkaca-kaca.
Tapi ia mencoba menolehkan wajahnya ke belakang, sedikit berharap bahwa orang yang menabraknya itu membantunya berdiri atau minimal meminta maaf. Tapi kenyataannya orang itu sama sekali tidak peduli.
"Jalan pakai mata." Hardiknya dengan nada datar dan juga tatapan sinis. Bahkan bukan hanya itu saja, pria berambut raven itu juga sampai menepuk bahunya yang sempat tertabrak Hinata menggunakan punggung tangannya dengan gaya yang menyebalkan.
Melewati keterkagetannya, Hinata baru sadar kalau orang yang tadi menabraknya itu adalah murid di Konoha BS juga. Yang artinya memungkinkan Hinata untuk bertemunya lagi jika ia benar-benar bersekolah di sana.
Dan Hinata—sangat—tidak ingin hal itu terjadi.
.
.
: love in boarding | sanpacchi :
.
.
Ditemani oleh secangkir coklat hangat yang baru saja dibuatkan Kakashi untuknya, Hinata hanya mengaduk-aduk minumannya dengan wajah lesu. Kini di rumah Hinata yang baru, ia baru saja menceritakan apa yang telah dia lalui di sekolah barunya. Namun butler-nya itu malah tertawa, bukan mendukung keluhannya.
"Sudahlah, Hinata-sama..." Kakashi—yang sedang menyiapkan makan malam—mencoba menenangkan Hinata dengan senyumannya. "Mungkin pria itu hanya bercanda.."
"Ta-Tapi, candaannya kelewatan..." Hinata berujar lirih.
"Kan sudah kuajarkan jurus terhebat untuk menghindari pria mesum..."
Hinata menghela nafas. Ia memilih untuk mengabaikan candaan Kakashi—yang sebenarnya memang ia praktikan kepada Naruto (karena apa yang diajarkan Kakashi adalah menendang kemaluan pria apa bila dia sedang diserang oleh lelaki). Lalu dengan wajah lesu ia kembali menyeruput coklat panasnya.
"Aku tidak ingin bersekolah di sana..."
Mendengar kalimat Hinata, Kakashi menghentikan kegiatannya. Lalu pria itu seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Setelah beberapa detik terlewat Kakashi berjalan ke salah satu lemari, dan mengambil sesuatu dari sana.
Ada sebuah surat.
"Ah, ya. Hinata-sama, tadi saya menerima surat dari sekolah. Isinya menyatakan bahwa Anda tidak diperbolehkan untuk tinggal di luar asrama." Ucapnya sambil memberikan amplop yang sudah ditempeli prangko bermaskot sekolah Konoha BS.
Kalimat Kakashi langsung membuat Hinata terkejut. "Eh? Ke-Kenapa?"
"Saya juga baru tau setelah membaca surat ini. Dan sepertinya ada yang aneh dengan pengirimnya." Kakashi langsung menujuk tulisan tambahan yang terdapat di bawah tanda tangan sang kepala sekolah.
Berbeda dari surat yang dicetak lewat komputer itu, sederet kalimat aneh ini tampak ditulis dengan spidol berwarna merah.
Perlahan, Hinata pun membaca kalimat yang ada di sana...
Main lagi denganku di kamar 910 ya, Hinata-chan! Kamu lucu sih! Kalau bisa, datangnya malam saja, dijamin tidak ada yang akan mengganggu kita berduaan :3
By : Namikaze Naruto
Hinata merinding saat membaca sederet pesan tadi, terutama karena orang tersebut—yang ia tau siapa—jelas-jelas menggodanya.
Dalam beberapa detik, pikiran Hinata langsung terbayang-bayang oleh pria berambut pirang yang sedang menyunggingkan senyum tiga jari.
Ia menelan ludah.
Jangan-jangan dia cowok pirang yang itu?—Hinata membatin frustasi.
"Ba-Bagaimana caranya dia bisa meminta kepala sekolah Konoha BS untuk melarangku tinggal di luar sekolah?"
"Setau saya, Naruto Namikaze itu memang putra tunggal dari si pemilik sekolah."
"Hah? A-Apa?"
"Iya, yang membuat Konoha BS itu adalah keluarga Namikaze."
Hinata langsung terduduk lemas di tempatnya. Awalnya Kakashi ingin menyemangati Hinata, tapi ia sempat teringat akan sebuah surat yang baru saja dikirimkan oleh Hizashi. "Ah, Anda juga mendapatkan surat ini dari Hizashi-sama."
Hinata melirik Kakashi dengan gigitan kecil di permukaan bibir bawahnya. "Ada apa lagi?"
Kali ini firasat buruk Hinata bertambah.
"Hm, seperti yang pernah Anda ketahui sejak kecil, Hinata-sama akan ditunangkan dengan—"
"Hiks..."
Belum sempat Kakashi menyelesaikan kalimatnya, kedua pipi merah Hinata langsung di aliri oleh air mata. Gadis mungil itu menangis.
Ia memang pernah diberitahu oleh ayahnya—sewaktu beliau masih hidup—kalau ia akan ditunangkan oleh seseorang jika umurnya sudah mencukupi.
Dan ia juga tau kalau hal ini akan cepat atau lambat akan datang.
Tapi kenapa harus sekarang?
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Sansan's Note :
Banyak yang ending-nya pengen SasuHina ato ngga NaruHina nih. Wah, wah, masalahnya aku sendiri suka dua-duanya, haha. Ya, sudahlah, terima kasih bagi yang sudah membaca dan review. Love u all! :))
Oh, iya... untuk chap 3 aku publishnya bakalan lebih cepet kok. Ngga nyampe lewat 3 bulan deh pokoknya (abis aku udah nulis setengahnya sih). Semoga masih sabar untuk menunggu adegan lemonnya, ya. Ngomong-ngomong, 'itu' pertama untuk pembukaan maunya Hinata sama siapa nih? Ada yang punya pendapat?
.
.
Super Thanks to :
Hyu Chan, Lop u all, Shaniechan, hinamori, Eviel glow, uchihyuu nagisa, KyDe gx login krn stres, Temari Kim, Dhens, Kitsunebi Kuro Hyuuga, Keira Miyako, Megu TS, Yuuki d'gray girl, Sieghart, HaruMichi, Ichaa Hatake Youichi, Lollytha-chan, Song ha ra, lily asano, Tabita Pinkybunny, shin-chan, NH4EVER, dila-chan, Nara Aiko, Hinata lover, Rufa Kha, Hina bee lover, ika chan, INDONESIAN reader, Midorikawaii, Meyuki Uzumaki, Ayyu Hyuuga, elf, No Name, Cutiewhite, Kirana Naru Natsuhiko, lonelyclover, Lavender Orange.
.
.
Frequently Asked Question :
Apa ada pairing? Hn, tentu saja ada ;) Mau ada GaaHina sama SasuHina dong. Awalnya aku mau buat GaaHina ada juga, tapi bingung sama ceritanya.Apa yang di chap 1 itu Naruto? Yups. Ini fict NaruHina apa SasuHina? Di chap ini udah ada NaruHina-nya udah banyak, tapi SasuHina-nya masih sedikit. Sabar aja, ya? Naru jadi pervert, Sasu jahat, dan Neji yang mau gituin adiknya sendiri. Kok gitu? Hm, mungkin bener sih Naruto ngga cocok, jadi aku malah suka kalo Naruto kayak gitu. Kalo Sasuke jahat udah biasa, tapi yang Neji, aku malah suka Neji yang jahat sama Hinata. Aku maunya NaruHina, tapi sepertinya Author suka SasuHina, jadi aku ngga terlalu berharap. Aku suka komentar dari Sieghart-san yang nge-review ini. Aku emang suka SasuHina, tapi aku cinta NaruHina. Gemana tuh kalo gitu? ;D Sansan ngga suka OOC, tapi buat yang OOC. Makanya ini udah diedit lagi. Kalo ada lemon, gak bakal ada yang asem-asem, kan? Sebenernya tergantung tingkat mood kenistaanku aja:pHinata dan lima laki-laki? Siapa aja? Niatnya Naruto, Sasuke, Neji, Gaara dan Kiba. Tapi aku sadar kalo ngebuat fict pairing-nya jangan rakus-rakus #halah. Jadinya cuma NaruSasuNeji.Sekolahnya kayaknya bermasalah deh. Haha, tapi aku malah mau seasrama sama NaruSasu. Kayaknya jalan ceritanya terlalu kecepetan dan bahasanya terlalu kaku. Woke, aku sudah perbaiki dan akan kugunakan bahasa yang ngga terlalu baku.
.
.
Next Chapter :
"Jangan salah, kalau Hyuuga itu lain..."
"Hinata-chan! Tunggu sebentar! Aku ngga akan menciummu secara tiba-tiba lagi kok!"
"A-Ano... tolong lepaskan aku."
"Sepertinya kau harus mengetahui satu hal... dia adalah milikku."
.
.
I'll pleased if you enter your comment
Mind to Review?
.
.
SANSANKYU
