Author's note: Adegan main UNO dihapus.
A story from Shinjuku Risa
Alice wa Maid-sama!
Chapter 2
Disclaimer: Jun Mochizuki
ERR!
(Enjoy,Read,Review!)
1
2
3
ACTION!
Hari 1
Hujan yang mengguyur daerah Latowidge dan sekitarnya mulai mereda. Gaung-gaung dari petir juga sudah tidak terdengar lagi.
Begitupun juga Alice dan Oz, pertandingan UNO mereka sudah selesai.
Alice duduk bersila membelakangi Oz, ia melipat tangannya di depan dada. Raut wajahnya sangat kusut, pipinya setengah menggembung. Beberapa tumpukan kartu UNO terkapar tak berdaya, dan berserakan dimana-mana.
Oz tertawa dengan penuh kemenangan, suaranya menggema di seluruh penjuru korridor. Berkali-kali ia bersorak kegirangan, bahkan suaranya lebih heboh daripada guntur yang menggema saat hujan.
Pembaca sudah bisa menebak apa yang sudah terjadi,kan?
"Sesuai perjanjian, yang kalah harus menuruti apa saja keinginan yang menang,kan?" Oz berjongkok di dekat Alice yang cemberut. Alice memalingkan mukanya dari Oz.
"Aku tidak mau" Jawab Alice. Raut wajah Oz yang tadinya berseri-seri, kembali menjadi normal lagi. Kali ini Alice bersikap sedikit 'tidak sportif'. "Alice, ini perjanjian. Sportif,dong..sportif!" Oz membujuk Alice yang ngambek karena termakan perkataannya sendiri.
Alice tetap tidak mau.
"Aku tidak peduli. Pokoknya aku tidak mau!" Sanggah Alice. Oh, Alice. Kau sendiri,kan yang mencetuskan perjanjian ini?
'Sekali lagi Oz membujukku, akan kuseret dia menuju Abyss!'
Beda orang, beda juga pendapatnya.
Bagi Oz, Alice yang sedang ngambek terlihat lima kali lebih manis. Niat jahil pun mulai menghinggapi otak Oz. Ia mendekati Alice, lalu mengambil beberapa helai rambutnya. Halus. Alice tersentak ketika Oz mendadak membelai rambutnya. Belum sempat Alice menyatakan rasa terkejutnya, tiba-tiba Oz menarik wajah Alice mendekati wajahnya. Alice yang takut, kaget, dan malu mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia bisa merasakan hembusan nafas Oz yang menerpa kulit wajahnya.
"Hmm. Kalau kau tidak mau..nanti aku akan.." Oz menyingkirkan rambut yang menutupi telinga Alice. Lalu, ia membisikkan beberapa kalimat ke telinga kiri Alice. Lebih tepatnya, Oz membisikkan beberapa kalimat 'ancaman' untuk Alice. Refleks iris violet-nya terbelalak mendengar apa yang telah Oz bisikkan tadi. "Kau tidak mau hal seperti itu terjadi, kan?" Tanya Oz dengan nada menginterogasi. Mau tidak mau, Alice mengangguk dengan enggan. Ternyata, Oz pintar mengancam juga. Sungguh cara mengancam yang cerdas, pikir Alice.
Oz tersenyum puas. Sesaat kemudian, Oz ber 'hmmm' ria sambil memijit dagunya, berpikir permintaan apa yang akan ia katakan kepada Alice.
"Kalau begitu..." Oz menjentikkan ibu jarinya. Sepertinya, ia sudah menemukan permintaan yang tepat.
"Mulai sekarang, kau akan menjadi Maid pribadiku!"
MAID?
"Apa? Aku tidak mau!" Alice menolak permintaan Oz mentah-mentah. Ini sama saja dengan Alice bertukar peran dengan Oz,kan?
Oz tidak menggubris penolakan Alice. Ia malah melepas jas seragamnya, lalu memakaikannya ke Alice secara paksa. Alice bertanya-tanya, kali ini apa lagi yang akan dilakukan Oz?
Tidak hanya itu...
Tiba-tiba Oz menggendong Alice ala Bridal Style. Alice yang merasa risih dengan posisi seperti ini berontak. Ia memukul-mukul dada Oz. Namun yang dipukul malah berkata,"Pegangan yang kuat, ya?"
Alice tambah bingung dengan perilaku Oz. Pertama, ia sangat menentang ide Oz untuk menjadikannya seorang maid. Kedua, untuk apa Oz melepas jasnya? Ketiga, tiba-tiba Oz menggendongnya dengan gaya seperti ini. Keempat, pegangan yang kuat? Apa maksudnya! Oh, dunia memang aneh, pikir Alice.
BATS! TAP! TAP!TAP!
Oz berlari sekuat tenaga menerjang hujan deras yang mengguyur Latowidge. Ternyata, ini tujuan Oz yang sebenarnya. Ia nekat berlari menuju Asrama Latowidge ditengah-tengah derasnya hujan. Alice tiba-tiba teringat satu adegan di novel favorit milik Sharon. Dimana seorang pangeran menyelamatkan putri yang dikurung di menara, dan membawanya menuju istana dengan gaya seperti ini. Tapi, kali ini Alice tidak akan dibawa ke istana. Yang menggendongnya memang seorang pangeran, namun tujuannya bukan istana.
Asrama laki-laki, atau tepatnya, kamar Oz.
Alice tidak menyangka manservant-nya akan berbaik hati mau mengantarkannya ke Asrama, meskipun di luar sedang hujan deras. Tapi, kenapa ke Asrama laki-laki?
Itu tidak masalah. Asrama perempuan dan Asrama laki-laki terhubung oleh jembatan. Jadi, Alice tetap bisa kembali ke Asrama perempuan melalui jembatan.
Akhirnya, mereka tiba di depan kamar Oz dengan selamat. Oz basah kuyup. Rambut emasnya lepek karena terguyur air hujan. Berbeda dengan Alice yang sama sekali tidak basah. Kalaupun basah, mungkin hanya sedikit di bagian rambutnya saja.
"Oz, terima kasih atas tumpangannya! Aku bisa kembali ke asrama sekarang!" Alice segera berlari dengan gembira menuju Asrama perempuan.
GREB!
Tiba-tiba Oz menarik tangan Alice yang baru saja mengangkat kakinya dari kamar Oz. Alice menoleh heran.
"Mau kemana, Alice?" Tugasmu sebagai Maid baru saja akan dimulai."
Air muka Alice berubah menjadi kecewa. Ia yang tadinya sudah ingin kembali ke Asrama dan berencana untuk minum teh hangat bersama Sharon, teman sekamarnya, kini harus dibatalkan karena sepertinya sang 'majikan baru' akan memberinya sebuah perintah.
"Mulai sekarang, panggil aku tuan muda. Dan perintah pertamamu adalah.."
Inilah saatnya...
"Buatkan aku milk tea! Harus siap kurang dari 4 menit!" Oz memerintah Alice layaknya seorang raja pada budak. Dengan muka cemberut, Alice pergi menuju dapur di kamar Oz sementara sang majikan duduk santai di sofa sambil bergumam,
"Hmmm..ini baru namanya hidup!"
~At Kitchen~
Ketika Alice mulai memasuki dapur, ia mencium bau harum masakan yang sangat lezat. Tidak hanya mencium, ia juga mendengar suara fals yang menyanyikan lagu 'I Heart You –SM*SH-' di dapur. Ternyata sudah ada yang lebih dulu memakai dapur di kamar Oz. Alice mempercepat langkahnya untuk melihat siapa yang sedang memasak makanan seharum ini di dapur.
Dan ternyata orang itu adalah Gilbert Nightray, teman sekamar Oz.
Alice melihat deretan makanan yang menggugah seleranya, membuat air liurnya nyaris menetes. Beef Teriyaki, Norimaki, dan Curry Rice terhidang rapi di meja makan.
"Wakame atama! Ini semua kau yang buat?" Seru Alice. Ia berjalan mendekati meja makan lalu menyomot seiris Beef Teriyaki dari meja makan.
"Baka Usagi! Mau apa kau kesini? Ini asrama laki-laki,tahu!" Gilbert benar-benar terkejut akan kedatangan Alice. Gilbert berharap Alice tidak mendengar ia bernyanyi lagu 'I Heart You' selagi memasak tadi.
"Aku tidak peduli. Yang jelas, masakan ini enak sekali!" Puji Alice. Gilbert hanya tersenyum lalu melanjutkan kegiatannya tadi –memasak-. Gilbert tidak berani menyanyi untuk sementara karena saat ini ada 'pengganggu' di dapur.
Ketika Alice ingin mengambil seiris Beef Teriyaki untuk yang kedua kalinya, matanya terhenti ketika ia melihat dua cangkir milk tea yang terhidang di atas meja. Ia kembali teringat perintah Oz barusan, dan mengambil jalan pintas untuk memenuhi perintah majikan barunya tersebut.
"Ini tehnya, tuan muda." Alice menyodorkan secangkir teh pada Oz dengan wajah tanpa ekspresi. "Cepat sekali. Kau berbakat menjadi Maid, Alice!" Oz meraih cangkir teh dari piring kecil yang Alice bawa. Lalu, Oz menyeruput teh hangat itu dengan perlahan. Ia mengecap-ngecap lidahnya untuk meneliti rasa milk tea yang diseruputnya tadi.
'Rasanya seperti teh buatan Gilbert..' pikir Oz.
Namun, Oz membuang rasa curiganya dan memberi Alice perintah baru. "Hmm..kakiku menjadi kotor karena nekat menerjang hujan tadi. Alice, kuperintahkan kau untuk membersihkan kakiku sekarang!" Oz mengangkat kedua kakinya yang kotor ke atas meja, sementara pemilik kaki itu merebahkan tubuhnya pada sofa sambil menyeruput kembali teh hangatnya.
Enak saja! Tidak bisakah kau mencuci kakimu sendiridi kamar mandi?" Alice menolak mentah-mentah perintah yang satu ini. Mana sudi Alice mencuci kaki ex-manservant nya!
"Ya sudah kalau begitu..Gilbert, kemarilah! Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan kepada.." BATS! Belum sempat Oz melanjutkan kata-katanya, Alice menutup mulut Oz dengan telapak tangannya. Mungkin bagi pembaca, Oz hanya ingin memanggil Gilbert. Namun bagi Alice, apa yang Oz katakan tadi merupakan bentuk ancaman baginya. Setelah ditunggu beberapa lama, untung yang dipanggil tak kunjung muncul. Mungkin tidak dengar.
"Ba..baiklah! aku akan mencuci kakimu. Tapi, jangan panggil Gilbert!" Alice segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil sebaskom air hangat dan sehelai handuk. Sekembalinya dari kamar mandi, ia langsung melakukan perintah majikannya tadi. Alice mencelupkan handuk kedalam baskom berisi air hangat, lalu memerasnya. Uap hangat mengepul dari dalam handuk hangat ditangannya. Dengan menahan perasaan marah, malu, dan jijik –padahal kakinya Oz mulus tak berbulu(?)- Alice mulai mengusapkan handuk hangat pada kaki majikannya. Oz merasa nyaman. Tapi, tentu saja rasa 'tidak tega' juga menghinggapi hati Oz.
10 menit tidak terasa, tahu-tahu kaki Oz sudah kembali bersih. Mungkin karena ia terlalu menghayati tiap gerakan handuk hangat yang mengusap kakinya dengan lembut.
"Sekarang, kau akan memerintahku untuk melakukan apa lagi?" Ucap Alice sewot sambil meletakkan handuk hangatnya kedalam baskom air hangat dengan kasar, sehingga beberapa tetes air jatuh ke lantai.
"Ahaha, Alice..kau tidak perlu sewot begitu.."
"Bagaimana aku tidak sewot? Hari ini kau menyuruhku untuk melakukan berbagai kerjaan bodoh! Sudah, cepat katakan apa maumu agar aku bisa cepat menyelesaikan tugasku sebagai Maid untuk hari ini!" Jelas Alice panjang lebar. Satu-satunya hal yang Alice inginkan saat ini adalah segera kembali ke Asrama nya dan tidur sampai besok pagi.
"Kalau begitu, tolong keringkan rambutku!"
Ok, ini perintah ketiga.
Tanpa basa-basi, Alice lalu pergi ke kamar Oz untuk mengambil handuk kering di lemari baju. Ketika kedua tangannya mulai membuka dua sisi pintu lemari, ia bengong terheran-heran karena tidak ada sehelai baju pun di lemari Oz.
Sraaak!
Dan tibalah saatnya ketika Alice harus mengeringkan rambut emas Oz yang dikagumi oleh seluruh gadis di Latowidge, kecuali Alice tentunya. Dan, Alice berdebar-debar ketika jari tangannya menyentuh rambut emas yang halus milik Oz. Wajahnya memerah, seumur hidup Alice tidak pernah menyentu rambut seorang lelaki. Alice tidak menyangka kalau ex-manservant nya bisa merawat rambut dengan baik. Diam-diam Alice memperlambat kerjanya, menghayati halusnya tiap helai rambut Oz yang menyentuh jari tangannya.
Tugas ketiga Alice sudah selesai. Ia yakin setelah ini Oz akan memerintahnya lagi.
"Aku ingin mengganti bajuku yang basah ini, tapi..bajuku ketinggalan di ruang ganti dekat lapangan Olahraga, hehehe.."
Tap!
Alice segera pergi meninggalkan kamar Oz. Instingnya berkata, pasti Oz akan menyuruhnya untuk mengambil baju-baju itu di ruang ganti. Tanpa diperintah, Alice langsung angkat kaki dari kamar Oz menuju lantai paling bawah.
"Tunggu,Alice! Aku tidak memerintahkannmu untuk mengambil baju itu!" Oz berlari mencegah Alice agar tidak pergi ke ruang ganti. Namun sayang, bayangan gadis itu sudah tidak terlihat lagi. Mungkin sudah menuruni tangga menuju ruang ganti.
Mengapa Oz melarang Alice untuk pergi ke ruang ganti?
Dan apakah tugas-tugas Alice yang akan dilakukannya besok?
TBC
Yahhii~ Chapter 2 selesai!
Duh, fict ini susunan kalimatnya berantakan banget! apalagi yang bagian akhir-akhir..ugh -ngegetok pala sendiri-
Yah, habis author juga lagi galau -hiks- Tapi ada kemajuan juga, fict ini Shinju buat sekitar 4 hari. Dulu waktu masih hari-hari pertama bikin fict, bisa semingguan baru jadi. Yosh~ pokoknya ini kemajuan!
Biasa, di akhir cerita biasanya Shinju curhat -halah-
Oke, sebelum memulai curcol Shinju, Shinju ucapin makasih banyak buat yang ngereview previous chapter, sekaligus buat yang ngereview chapter ini. Shinju sepakat ngehapus adegan main UNO, soalnya UNO sendiri emang susah buat dipelajari. Shinju butuh waktu 3 minggu buat bener-bener ngerti soal UNO. Latar belakang fict ini, soalnya di kelas Shinju lagi demam UNO atau nggak bekel. Ya udah, iseng deh diambil jadi ide cerita. Tapi, parno banget kan kalo Alice jadi maid gara-gara kalah maen bekel? Jadi ide yang diambil ya UNO.
Ya udah, kali ini Shinju ga banyak curhat, takut readers pada kabur semua.
Alright, see you in next chap and don't forget to review!
Love, Shinjuku Risa.
