ACTA EST FABULA

SVT & MONSTA X

YAOI, bahasa acak-acakan, OOC

Cast milik Tuhan YME, ortu dan agensi. Saya hanya meminjam nama mereka

.

.

.

Bukan ranjang yang berantakan atau tubuh yang lemah yang Wonwoo lihat pertama kali. Dia melihat bahwa dirinya sudah terbaring nyaman di kamarnya, dengan baju dan selimut yang terpasang apik di badannya. Wonwoo nyaris mengira itu semua mimpi saat dia merasakan sakit yang hebat di seluruh tubuhnya, dan dia tercenung kembali.

Itu semua bukan mimpi, itu kenyataan.

Wonwoo tertawa lirih, bahkan suaranya nyaris tak bisa keluar karena kejadian semalam.

Pintunya terbuka, dan terlihatlah Kihyun yang membawa sebuah nampan. Wonwoo mengalihkan pandangannya cepat, masih marah dan malu pada kejadian kemarin.

"Jangan sok marah," kata Kihyun pelan. "Kau butuh makan dan istirahat, dengan tubuh begitu baru besok kau bisa bekerja."

Wonwoo tidak menanggapi satu kata pun, Kihyun hanya menghela nafas malas. "Ngambek? Kecewa? Kau tak bisa melakukan apapun, ketiga tuan muda tidak akan membiarkanmu pergi. Kalau bisa pun, kami semua sudah pergi."

Wonwoo menatap cepat Kihyun yang tersenyum miris. "Kau kira adik kesayanganku, Hyungwon, tidak mengalami apa yang kau alami? Dia bahkan pingsan 2 hari."

"Kenapa ini harus terjadi?" gumam Wonwoo dengan mata yang siap mengeluarkan air mata. Rasanya dia menjadi sensitif sejak kejadian itu. "Kalian tahu, ketiganya begitu jahat. Tapi mengapa..."

"Nyawa kami taruhannya!" potong Kihyun cepat. "Shownu hyung, Wonho dan aku mungkin bisa bertahan, tapi Hyungwon sangat lemah. Hidup dalam pelarian takkan membuatnya membaik."

Wonwoo bisa merasakan keputus-asaan dari tatapan Kihyun, karena dia juga merasakannya sekarang. "Kau harus bertahan," kata Kihyun lembut, dan sekali lagi Wonwoo merasakan ketulusan dalam kata-kata Kihyun. "Mungkin kau hanya orang asing, tapi kau cukup membuatku berpikir bahwa aku menyayangimu. Sebagai adikku, sebagai rekan kami..."

Wonwoo merasa tersentuh mendengar perkataan Kihyun, dia mencoba menggerakan tubuhnya dan untungnya Kihyun membantunya. "Aku akan menemanimu sampai makanannya habis," katanya lugas. Dan Kihyun benar-benar merawatnya dengan telaten. "Obat itu, oleskan pada bagian yang sakit, lalu yang ini vitamin untukmu."

Setelah memberikan beberapa arahan terkait tugasnya besok, Kihyun mengangkat nampan berisi mangkuk dan gelas keluar.

"Aku akan pergi, beristirahatlah dengan baik."

Belum sempat Wonwoo balas menjawab, Kihyun sudah menghilang di balik pintu kamarnya. Jika dengan Kihyun hubungannya sudah seperti ini, bagaimana dengan Wonho? Wonwoo hanya menggelengkan kepalanya, dia harus fokus menyembuhkan diri.

Sepanjang hari dia habiskan dengan tiduran dan membayangkan beberapa skenario terburuk yang akan terjadi besok.

ACTA EST FABULA

Saat beker berbunyi, bahkan Wonwoo sudah bersiap dengan baju pelayannya. Baju dengan jas melambai itu membuatnya teringat komik tentang kehidupan pelayan yang pernah dia baca, lalu setelah menyiapkan yang lain-lain dia pergi ke dapur.

Dapur masih kosong dan Wonwoo teringat bahwa kemungkinan pelayan yang lain masih tidur atau sedang bersiap, kalau itu benar entah dia kepagian atau mereka yang lambat. Setelah menuliskan tugas yang harus mereka lakukan hari ini di sebuah kertas dan menempelnya, dia bergegas membuat teh karena ketiga vampire tuannya sangat menyukai kegiatan bangsawan seperti ini. Dan sebagai tambahan, daun teh yang dia masak sudah dicampur semacam cairan merah yang Wonwoo asumsikan sebagai darah, entah dari mana asalnya.

Setelah selesai, dia menaruh semuanya di kereta dorong dan membawanya sampai ke kamar Seungcheol selaku yang tertua. Wonwoo menghirup udara dalam-dalam, tentu saja dia merasa takut karena perkenalan pertama dengan ketiganya tidak menyenangkan. Beberapa kali hirupan dia lakukan sebelum membuka pintu.

"Selamat pagi, Tuan Seungcheol."

Wonwoo terus membawa kereta dorongnya sampai ke samping tempat tidur Seungcheol. Seungcheol sendiri tampak bergerak dari tempat tidurnya dan mengangguk pada sapaan Wonwoo. "Teh hari ini?"

"Assam, apa tuan ingin menambahkan susu?"

"Tidak perlu."

Tangan Wonwoo bergerak cekatan saat menuangkan teh ke cangkir yang ada, dia menyerahkan cangkirnya pada Seungcheol yang mengusak matanya. "Lumayan," gumam Seungcheol yang langsung membuat Wonwoo membungkuk. "Terima kasih."

"Siapkan pakaian untuk meeting hari ini! Lalu susun berkas-berkas di meja itu, aku akan mandi."

Perintah Seungcheol dilaksanakan dengan cepat, Wonwoo ingat masih ada 2 tuan muda yang belum dia bangunkan. Selanjutnya dia meninggalkan kamar Seungcheol yang sangat teratur menuju ke kamar Jun dengan tegang.

Cklek.

"Selamat pagi, Tuan..."

Kata-katanya berhenti saat melihat Jun sudah terbangun. Wajah tampannya kelam dan makin terlihat kesal dengan kedua tangan yang dlipat di dadanya. "Maaf, saya terlambat," kata Wonwoo sambil membungkuk. Jun mengibaskan tangannya. "Tidak apa, aku hanya tidak bisa tidur. Apa hari ini teh Assam?"

"Betul, Tuan Jun," jawab Wonwoo yang lalu mengulang kegiatannya tadi. Jun tidak berkomentar apa-apa tapi Wonwoo cukup senang, setidaknya dia tidak dimarahi. "Masih sakit?"

"Maaf?"

"Dua hari lalu, apa masih sakit?"

Ternyata Jun lebih baik dari yang dia perkirakan. Wonwoo ragu menjawab 'tidak' dan Jun hanya mengangguk. "Taruh semua pakaianku nanti di lemari, Kihyun hanya menaruh beberapa kemarin." Dan Jun berlalu.

Wonwoo mengerjab tak mengerti sebelum tersadar, masih ada seorang lagi yang harus dibangunkan. Dia mengecek jam tangannya, sudah 10 menit berlalu dan tentu saja Wonwoo langsung menuju ke kamar Mingyu.

"Selamat pagi, Tuan Mingyu."

Hening. Mingyu tampak tidak bergerak sama sekali dan Wonwoo cukup geregetan, dia masih punya pekerjaan menanti. Mau tak mau dia menggoyangkan tubuh Mingyu. "Tuan Mingyu, hari sudah pagi... UWAH!"

Dalam sedetik tubuh Wonwoo sudah dipeluk erat oleh Mingyu, tangan kanannya ditangkap tangan Mingyu sementara tangan yang lain memeluk erat pinggang Wonwoo. Wajah Wonwoo seperti memerah dan dia cukup kaget.

"Pagi juga, Wonwoo," bisik Mingyu yang sibuk menciumi rambutnya. Wonwoo tidak berani berontak karena memori 2 hari lalu masih membekas di pikirannya, karena itu juga tubuhnya agak gemetar.

"Oh, takut? Imut sekali."

Mingyu memeluknya lebih erat dan itu membuat Wonwoo makin berdebar, tapi dia merasa hangat. "Kalau dipikir-pikir, kami memang kasar. Maaf, tapi kau harus tahu kami kehabisan waktu," katanya sambil memainkan rambut Wonwoo. "Maaf, oke?"

Baru kali ini Wonwoo mendengar majikan meminta maaf pada pelayan, dua kali malahan. "Saya yang harusnya minta maaf, saya tidak boleh terbawa perasaan seperti ini," kata Wonwoo yang berusaha bangun dari tubuh Mingyu. Sayangnya Mingyu bahkan bergeming dengan kekuatan Wonwoo.

"Itu artinya kau manusia, hal-hal seperti ini tak familiar untukku."

Mingyu berguling ke samping dan tentu saja Wonwoo ikut terguling, kali ini Mingyu bermain-main dengan leher Wonwoo yang terekspos. "Maaf tuan, tapi bukankah tuan memiliki jadwal pagi ini?"

"Tidak, pemotretan hari ini ditunda untuk minggu depan. Hari ini aku bebas," jawab Mingyu. Tangannya memeluk Wonwoo makin erat, seperti anak yang mencari kehangatan dari ibunya? Bukan, lebih mirip seseorang yang sedang bermanjaan dengan kekasihnya. Pikiran itu membuat Wonwoo ingin menampar dirinya sendiri.

"Aku akan mandi, temui aku di perpustakaan nanti."

Dan dengan kasar Mingyu melepaskan Wonwoo, Wonwoo sempat tercenung sebelum akhirnya menarik diri.

ACTA EST FABULA

Mingyu membaca sebuah buku tebal dengan Wonwoo yang berusaha menahan pegal di kakinya, entah dengan alasan apa Wonwoo diminta menemaninya. Untung Wonwoo sudah melakukan beberapa tugasnya, termasuk membawa pakaian Jun ke kamarnya. Dia melirik Mingyu yang masih asyik, terlihat tak ada tanda-tanda dia akan diminta pergi. Karena bosan Wonwoo melirik sebuah lukisan di belakang Mingyu. Lukisan itu berisi seorang wanita muda telanjang tampak menengadah dan menghadap ke samping, walau begitu Wonwoo tetap bisa merasakan kesedihan luar biasa dari raut wajah itu. Wanita muda itu seperti ingin berdoa karena suatu kemalangan menimpanya atau sedang memrotes kehendak Yang Di Atas atas kemalangannya.

Wonwoo masih asyik melirik saat tiba-tiba Mingyu berkata. "Duduk di sampingku, Wonwoo."

Akhirnya, terima kasih karena masih mengingat butler yang satu ini.

Wonwoo duduk patuh dan secara otomatis Mingyu menggeser bukunya ke arah Wonwoo. Dia melihat tulisan yang membuatnya pusing, bukannya dia tak suka membaca tapi dia tak memahami bahasa apa yang ada di sana. "Itu bahasa Bulgaria," kata Mingyu yang menjawab pertanyaan yang tak diucapkan Wonwoo. Wonwoo terdiam, dia ingin sekali bertanya banyak hal karena pelayan lain sangat tertutup mengenai majikannya. "Oh? Kau terlihat bingung."

Merasa diberi pancingan, Wonwoo memutuskan bertanya. "Tuan mengetahui banyak bahasa..." Dia sengaja tak meneruskan dan Mingyu pun menyambut tak senang. "Langsung saja ke intinya, umurku sudah lebih dari seabad dan kami berasal dari negara balkan."

Oke, menjelaskan beberapa hal dan Wonwoo mengangguk. Mingyu bukan tipe yang suka basa-basi sepertinya. "Maaf jika melenceng, tapi para pelayan di sini bukan manusia?" tanyanya yang membuat Mingyu mendengus. "Menurutmu? Mereka terlihat seperti itu, membuatku berpikir mereka manusia."

Mingyu menengok ke belakangnya. "Kau dari tadi memerhatikan lukisan ini kan? Bagaimana menurutmu?" tanyanya yang membuat Wonwoo bingung. Apanya yang bagaimana? Lukisan itu...

"Bagus. Maksud saya, saya bisa merasakan kesedihan di dalamnya, wanita itu tampak kehilangan sesuatu yang berharga."

Walau tanggapan Wonwoo sangat klasik, Mingyu tampak terkesan. "Dia ibuku, cantik ya? Saat dia masih manusia bahkan dewa pun memujanya."

Wonwoo menatap Mingyu, wajahnya yang arogan terganti dengan wajah seorang anak yang polos. "Dia sangat cantik," kata Wonwoo membenarkan. Raut wajah Mingyu kemudian berubah sendu dan dingin. "Tapi keindahan sempurna hanya pantas dihancurkan, benar kan? Dewa pun mengutuknya."

Mingyu kembali terdiam dan Wonwoo yang merasa tak pantas mengomentari juga terdiam. Sejujurnya pandangan wanita itu mirip dengan seseorang.

Tapi dimana aku melihatnya? Rasanya baru-baru ini ada yang memiliki pandangan seperti itu.

"Namanya Lamia, kalau kau belum tahu."

Wonwoo langsung menengok, kaget atas keterusterangan Mingyu sementara Mingyu menatapnya malas. "Jangan bilang para pelayan tidak memberitahumu apa-apa?" tanyanya yang dibenarkan Wonwoo. Wonwoo hanya menerima informasi sepotong-sepotong dan dia hanya menangkap bahwa dirinya adalah salvator yang menjadi makanan mereka, juga merangkap butler yang mengurus rumah ini.

"Kau tentu tahu kan Lamia itu siapa? Jika sudah aku akan memberitahu hal lainnya. Kami semua anak Lamia, bukan anak yang dilahirkan begitu tapi Lamia yang membesarkan kami semua. Dia menemukan dan merawat kami, mungkin jika tidak ditemukan kami semua sudah tewas." Mingyu menarik nafas sebelum lanjut berbicara. "Pada awalnya vampire adalah manusia yang sudah tewas atau meninggal tak wajar, mereka meminum darah manusia hidup untuk bertahan hidup. Kami pun demikian, tewas karena dibuang atau penyakit dan akhirnya diselamatkan."

Wonwoo tampak tak yakin bertanya, tapi Mingyu mengangguk membolehkan. "Berarti tuan sudah melalui begitu banyak tahun, berarti pastinya begitu banyak salvator sebelum saya?"

Mingyu tersenyum. "Hanya ada 2 dan kau satu-satunya yang mortal. Salvator bukan hanya dari manusia saja, malah justru merepotkan kalau manusia." Tangan Mingyu malah menarik tubuh Wonwoo sehingga Wonwoo berada di pangkuannya sekarang. "Tapi kau berbeda," bisik Mingyu. Wonwoo sendiri hanya terdiam kaku, nafas Mingyu hangat menerpa lehernya dan sangat menakutkan bila Wonwoo merasa nyaman.

"Saya tidak memiliki kualitas tertentu untuk dipandang seperti itu," kata Wonwoo merendah. Dia tak bercanda, memang dibanding para makhluk-entah-apa pelayan dan majikannya dia tak ada apa-apanya. Mingyu sendiri tampak menggeram marah. "Kenapa kau berpikir begitu?! Aku memilihmu sejak lama bukan untuk mendapat kerendahdirian-mu, seorang salvator dari keluarga ini harus berdiri dengan angkuh dan bermartabat. Lagipula kau juga butler dari keluarga ini, bersikaplah seperti semestinya!"

Wonwoo mengiyakan dengan hormat, dia tetap saja seorang pelayan yang harus patuh. Walau mentalnya tak pernah kuat, ketakutan terus menggerogotinya bersamaan dengan tubuhnya yang gemetar, dia takkan bisa menolak atau membantah. "Ingat, walau kau salvator kami aku takkan segan padamu!"

Mingyu masih memertahankan pelukannya pada Wonwoo, dia terus membaca bukunya dalam diam. Wonwoo agak heran, apa Mingyu tidak terganggu dengan posisi begini? Dia sendiri tak berani bergerak dan Mingyu juga tampak senang.

Aneh, Tuan Mingyu tampak nyaman... denganku?

ACTA EST FABULA

Wonwoo baru tahu bahwa pekerjaan akan sesulit ini, dia selalu mengira bahwa pelayan lainnya bisa lebih disiplin dan berpengalaman darinya. Tapi pertengkaran Kihyun-Hyungwon, Shownu yang kadang merusak peralatan dan Wonho yang bisa menghabiskan bahan makanan ternyata membawa malapetaka sendiri baginya. Wonwoo ingin sekali mempunyai tips dari butler sebelumnya tentang menangani hal semacam ini.

Sudah beberapa hari semenjak perannya sebagai butler dan Wonwoo sudah mulai terbiasa akan rutinitasnya. Tugas butler adalah mengawasi pekerjaan pelayan lainnya, untuk itu dia pergi ke tempat para pelayan bertugas. Pertama Wonwoo pergi ke dapur, Kihyun terlihat sedang menguleni adonan sambil bersenandung. Di lorong lukisan pun, Shownu membersihkan dengan cermat. Wonho sendiri mengganti arang di perapian terdekat sementara Hyungwon masih merawat tanaman di taman herbal. Dalam hal pekerjaan, keempat pelayan memang sangat ahli walau tingkah mereka tidaklah demikian.

Tugasnya yang lain adalah menyambut kedatangan para tuan muda. Wonwoo menghela nafas, ketiga tuan mudanya belum pulang padahal sudah jam 6 petang. Walau Seungcheol adalah pengusaha, Jun adalah aktor dan Mingyu adalah model, seharusnya mereka sudah pulang. Wonwoo sebenarnya bingung kenapa mereka bekerja seperti manusia, tapi Mingyu pernah bilang bahwa mereka tidak ada kerjaan makanya mereka memulai kesibukan. Alasan yang menurut Wonwoo tidak aneh, tapi tetap saja mengherankan.

Kehidupannya sebagai butler tentu saja diselipi kenyataannya sebagai salvator. Sudah disepakati bahwa mereka bertiga meminum darah Wonwoo seminggu sekali untuk satu orang, tapi hubungan seks akan dilakukan kapan saja. Wonwoo sendiri tak bisa membantah walau dibolehkan, karena tugas pelayan adalah mengiyakan segala permintaan tuannya. Tapi dengan segala kesibukan mereka, tak ada satu pun yang menyentuh Wonwoo dan ini sudah akhir minggu. Wonwoo cemas kalau-kalau Jun yang menindihnya, dia masih takut padanya.

Cklek.

"Selamat malam, Tuan Mingyu."

Wonwoo dengan cepat mengambil alih jaket dan tas yang Mingyu bawa, lalu membawanya ke kamar sang empu. Mingyu tidak meminta apa-apa, sehingga Wonwoo menarik diri.

Jarum jam menunjukkan pukul 9, tapi setelah Mingyu hanya Seungcheol yang terlihat.

"Mungkin... ke labirin?"

Seungcheol menjawab acuh sambil terus berjalan ke ruang kerjanya, Wonwoo sendiri untung-untungan bertanya pada Seungcheol dan agaknya berterimakasih. "Aku akan memeriksa beberapa dokumen, coba kau cek di labirin. Ini sudah terlalu malam." Setelahnya Wonwoo menarik diri, walau dia masih terpikir 'bukannya vampire juga makhluk malam?' jadi apa maksud pernyataan Seungcheol tadi? Murni kepeduliannya?

Mungkin saja demikian, pasalnya dia tahu Seungcheol pemimpin sekaligus yang tertua. Mungkin dia merasa bertanggung jawab.

Wonwoo langsung menuju taman labirin, angin malam berhembus kuat membuatnya agak kedinginan. "Oh, Wonwoo?"

Wonwoo menengok dan ternyata Hyungwon yang memanggilnya. "Sudah terlalu malam, tapi Tuan Jun belum kembali. Hyung tahu dia ada di sini?" tanyanya dengan penekanan. Hyungwon mengangguk tanpa beban. "Dia selalu berada di sana sebelum kau tiba, kukira dia takkan melakukannya lagi tapi..." Hyungwon mengangkat bahunya. "Tuan Jun pasti akan memarahimu nanti, tapi tidak apa itu biasa."

Setelahnya Hyungwon memberinya peta labirin itu, dia membuatnya untuk jaga-jaga dia lupa jalan keluar labirin. "Di antara kami, hanya kau yang mampu membawa Tuan Jun kembali. Cepat pergi dan bawa dia kembali." Kata-kata Hyungwon membawa gema mengerikan, seolah-olah Jun akan melakukan sesuatu yang berbahaya dan hanya dia yang sanggup memberhentikannya. Lagipula kenapa setiap orang di rumah ini selalu menggantungkan perkataannya?

Seperti ada rahasia yang belum boleh diketahui, atau dalam novel belum saatnya terkuak.

Ujung-ujungnya Wonwoo membawa sebuah senter dan peta untuk menyusuri labirin itu. Hyungwon menolak ikut karena 'akan ada sesuatu yang buruk bila aku pergi', katanya. Wonwoo tak bisa memaksa juga jadi dengan keberanian di ujung tombak dia berjalan cepat, nyaris berlari malah. Dia merasa jika tidak cepat-cepat akan ada sesuatu terjadi, sesuatu yang tidak mengenakkan dan sejak dulu Wonwoo selalu memercayai instingnya. Kalau dipikir-pikir mengherankan dia bisa sepeduli ini pada 3 orang yang sangat dibencinya, setidaknya itu pikirannya.

Mungkin karena pekerjaan? Shownu pernah bilang bahwa kesehatan majikan kita adalah yang utama, tapi ketiga tuan muda adalah vampire yang seharusnya takkan sakit bila berada di luar malam-malam. Jadi kenapa Wonwoo berlari sekuat tenaga ke jantung labirin?

"TUAN JUN!"

Jun tampak terdiam sejenak sebelum menatap jengkel Wonwoo. "Apa yang kau lakukan di sini?!" katanya lantang. Wonwoo ikut kaget melihat Jun karena Jun tampak tidak seperti biasanya. Wajah angkuhnya lebih diliputi kesepian dan kefrustasian. Dan lagi, sesuatu tampak berkilat dalam kegelapan tadi. Bukankah itu pisau perak?

"KUTANYA, APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!"

Wonwoo nyaris kehilangan kata-kata, bukan karena kemarahan Jun yang membuncah tapi lebih ke arah penampilannya yang sangat tidak 'Jun'. Kemana pandangan angkuh dan dingin itu pergi?

"Saya ingin..." Wonwoo berusaha mencari kata yang tepat. "Tugas saya sebagai butler adalah memastikan Anda dalam kondisi prima, bukankah hari sudah terlalu malam?" tanya Wonwoo sambil berusaha menekan rasa penasaran dan ketakutan. Jun hanya menatapnya dengan kejam, tapi Wonwoo bisa merasakan sebersit kesedihan di dalamnya. Aneh sekali seorang Jun bisa menampakkan ekspresi semacam itu.

"Kau tahu ini bunga apa?"

Pertanyaan yang tak disangka itu membuat Wonwoo tertegun, dia memang tak tahu banyak hal soal bunga. Dan Jun sendiri sepertinya tidak menduga Wonwoo mengetahuinya, karena dia menjawab sendiri. "Ini magnolia. Seluruh bunga di sini magnolia."

Wonwoo sendiri baru mengamati karena sedari tadi terlalu fokus pada Jun. Jantung labirin ini berisi sebuah taman kecil dengan paviliun. Dan karena Jun sudah menyinggungnya, seluruh bunga yang di tanam di sini pastilah magnolia. Paviliun yang Wonwoo kira berwarna cokelat gading dan terbuat dari marmer ternyata berwarna merah terang dengan ukiran oriental. Agak aneh karena taman bergaya Eropa ini menyatu sempurna dengan budaya timur yang kental.

Bunga magnolia sendiri tidak seperti kebanyakan bunga yang sudah berevolusi, karena itu kelopaknya masih agak lebar karena kumbanglah yang membantu penyerbukannya. Memang Wonwoo akui dia tak begitu suka magnolia, tapi melihatnya bergoyang lembut seiring angin berembus membawa kesejukan tersendiri. Di tengahnya terdapat sebuah air mancur kecil dengan patung yang tidak sama dengan patung Lamia di halaman utama. Patung itu adalah seorang pria yang memakai hanfu, dan tidak seperti Lamia yang menampilkan raut sedih justru patung ini menatapnya dengan tatapan menantang. Tapi bukan itu fokus utama Wonwoo, karena ada keindahan tersendiri saat patung yang jelas tak bergerak itu dilatarbelakangi bunga magnolia dan air mancur. Seperti sedang menari dengan alam sebagai musiknya.

"Nympha?" bisiknya yang mendapat sahutan tajam Jun. "Kau sudah mengenal hal-hal seperti ini?"

Wonwoo mengangguk takut. Dia memang sengaja mencari tahu banyak hal soal makhluk mitologi agar bisa mengimbangi para pelayan dan tuan mudanya. Nympha diasosiasikan sebagai perwujudan alam atau lokasi tertentu tempat mereka berdiam, tapi dari beberapa sumber buku yang Wonwoo baca menyatakan Nympha adalah pemimpin dari para mediocris atau peri. Jika mediocris mewakili suatu bunga dalam hutan, maka nympha adalah hutan itu sendiri.

Dengan seluruh keberaniannya, Wonwoo lancang bertanya. "Tuan memiliki kerinduan pada nympha ini?"

Jun hanya menatapnya dengan tatapan mematikan, dan sayangnya kesedihan itu masih tersisa. Tidak ada yang bergerak atau berbicara, angin pun kembali berembus dengan kencang. Apa karena sudah musim gugur?

Wonwoo yang ingin membujuk Jun untuk masuk kembali melangkahkan kakinya. "Tuan, mari masuk," katanya pelan. Mungkin bila dia menggunakan suara pelan Jun akan menurut?

Sayangnya tidak.

Jun memojokkan Wonwoo di salah satu pilar, sangat cepat sampai Wonwoo tidak sempat berteriak atau berkedip. Tenaga dan aura Jun cukup membuat Wonwoo gemetar. "Kau takut," kata Jun. Pernyataan itu diamini Wonwoo dalam diam, dia menutup matanya saat tangan Jun menyentuh rahangnya. Jun tampak menilai entah apa dalam dirinya dan di saat tak terduga, suatu benda lembut menyentuh bibir Wonwoo.

Itu bibir Jun, Wonwoo sangat yakin walau dia bertahan dengan tidak membuka matanya. Tangan Jun memegang erat dagu Wonwoo, memberi perintah tak terucap untuk membuka mulutnya. Dan Wonwoo memutuskan patuh, membuka mulutnya dan membiarkan lidah Jun bermain-main di dalam mulutnya. Rasanya aneh dan geli, tapi sial baginya karena Wonwoo sangat menikmatinya. Entah kerasukan apa, Wonwoo balas melumat Jun dan sang tuan tampak menyukai tanggapan Wonwoo.

Wonwoo tahu bahwa ciumannya dengan Jun tidak akan berakhir begitu saja. Dari mulut turun ke rahang, lalu turun lagi ke leher. Tapi untung bagi Wonwoo karena Jun tidak akan menghisap darahnya, walau begitu gigitan Jun tidak bisa dibilang lembut. Di tengah kegiatan itupun Wonwoo mengerang kesakitan dan nikmat, seks pertamanya sangat kasar dan tanpa dia duga memunculkan kelainan yang akan menghantuinya. Dia menyukai diperlakukan dengan kasar dan Jun adalah orang yang kasar, mereka benar-benar saling melengkapi.

Jun masih mampu menarik celananya dan Wonwoo saat kedua tangan sang butler memegang erat lengannya yang kekar. Refleks Jun memegangi tubuh Wonwoo yang panas. "Kakiku," bisiknya menahan tangis. Oh, jadi Wonwoo sudah menyerah pada gairahnya sendiri. Jun sendiri melingkari kedua kaki Wonwoo ke pinggangnya, dan Wonwoo langsung melingkarkan tangannya ke leher Jun.

Jun tampak mengambil ancang-ancang sebelum menabrakan punggung Wonwoo lagi ke dinding. Wonwoo berteriak, karena pada saat yang bersamaan Jun kembali menyerang bibirnya. Tenaga Jun memang besar, tapi saat ini kelihatannya dia mengeluarkan lebih banyak tenaga untuk menjepit Wonwoo dan bibirnya. Samar-samar Wonwoo mencium bau anyir dari bibirnya sendiri, dan dia yakin Jun akan mengeluarkan klimaksnya sekarang.

Jun benar-benar menyerang bagian bawahnya tanpa ampun, milik Jun yang dulu nyaris merobek lehernya kini nyaris merobeknya lagi dari sisi lain. Gerakan Jun cepat dan keras, bahkan Wonwoo hanya bisa mengerang sambil membenturkan kepalanya ke dinding. Seksnya kali ini terasa lebih sakit padahal hanya Jun seorang yang menyerangnya, mungkin karena Jun melakukannya tanpa pelumas.

Tangisan Wonwoo berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, karena Jun tampak senang merobeknya. Tubuh Wonwoo malah makin memanas, pertanda bahwa nafsunya masih ada. "Ada apa, salvator?" bisik Jun dengan suara serak. Wonwoo menangis lagi saat Jun masih terus menghajar bagian bawah tubuhnya. Karena demi Lamia, ibu para tuan mudanya, dia merasa nyaris mati.

Tapi Wonwoo berbohong kalau dirinya tidak menikmati perlakuan Jun, seks yang tak biasa dan menantang ini membuatnya makin bernafsu. Dia ingin diperhatikan, dia ingin dimasuki lebih dalam lagi.

Dengan pemikiran itu, wajarlah jika Wonwoo mengerang nikmat bersamaan dengan bisikan Jun. "Astaga, kau cantik sekali. Kau..."

Mata Wonwoo masih terus terpejam menikmati perlakuan Jun, tapi dia nyaris berteriak marah saat Jun menggumamkan sebuah kata yang asing. Sebuah kata yang sama sekali bukan bagian dari namanya.

"Hao..."

Tapi bisikan itu tidak berlangsung lama karena Wonwoo mengerang keras saat milik Jun dilepaskan dengan kasar dari tubuhnya, diganti dengan bisikan lain yang agak menenangkannya. "Boneka cantikku, Wonwoo..."

Jun masih memandang dirinya sekarang. Tubuhnyalah yang dimasuki Jun tadi, yang memuaskan nafsu kasar Jun. Tatapan dingin itu memujanya.

Wonwoo hanya mampu menyenderkan kepalanya pada bahu Jun, dia sempat didudukan ke sebuah sofa karena Jun masih waras untuk memakaikannya dan Wonwoo celana. Untung lagi celana itu tidak robek parah. Wonwoo masih belum mampu berjalan, karenanya Jun menggendong Wonwoo. Melewati labirin panjang dan kembali ke rumah yang dingin, selama itu Wonwoo berusaha mencari kehangatan dengan menggulung dirinya pada Jun. Tapi Wonwoo kembali sadar bahwa vampire adalah manusia yang sudah mati, tentu saja tubuh Jun dingin bahkan setalah kegiatan panas yang mereka lakukan. Walau begitu dia masih nekat menyamankan diri pada dada Jun yang terbentuk apik, dan ternyata tubuh Jun tidak sedingin yang dia duga.

"Dimana kamarmu?" tanya Jun dingin. Dengan suara lirih Wonwoo menjawab pendek, toh Jun tahu betul denah rumahnya jadi Wonwoo tak perlu memberi arahan lagi.

Walau Jun membuka pintu kamar Wonwoo dengan kasar, dia tetap menaruh Wonwoo dengan lembut di ranjang. Walau Wonwoo masih tetap mendesis, tapi dia tak bisa protes mengingat bahwa ini perlakuan terlembut yang pernah Wonwoo terima. "Aku akan menyuruh Kihyun ke sini," katanya sebelum akhirnya pergi. Tak berapa lama Kihyun muncul dengan nampannya dan raut khawatir, tampaknya dia begitu terburu-buru karena ada sisa tepung di wajahnya. Wonwoo ingin tertawa tapi raut serius Kihyun menelan semua gelinya.

Kihyun benar-benar seperti seorang ibu, dia merawat Wonwoo dengan telaten bahkan dia tampak tidak rela saat Wonwoo memintanya pergi. "Tidak apa, besok aku bisa langsung bekerja," lanjut Wonwoo. Kihyun sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, lagipula Wonwoo tampak teguh akan ucapannya.

"Kau lebih baik dari yang kuduga," kata Kihyun sebelum meninggalkan Wonwoo dalam kesendirian. Wonwoo menatapnya bingung dan lega. Setidaknya Jun sudah kembali menjadi dirinya sendiri tadi. Senyum yang terbit itu kemudian pudar, diganti dengan kernyitan di kening.

Kenapa aku segini khawatirnya pada Tuan Jun? Dan siapa itu Hao?

ACTA EST FABULA

Saat Wonho mengantarnya ke sebuah ruangan, Wonwoo sudah merasa ada yang tak beres. Pertama, raut datar Seungcheol saat memanggilnya tadi menganggunya, selain itu wajah pias para pelayan mau tak mau membuat Wonwoo memikirkan beberapa skenario terburuk yang ada. Wonwoo yakin sudah melakukan tugasnya sebagai butler dengan baik, tidak tahu tanggapan para tuan muda tentang kinerjanya sebagai salvator.

Wonwoo masih ingat saat tadi ketiga tuan mudanya berdebat untuk mengizinkan Wonwoo bertemu dengan seseorang. Seungcheol kukuh menolak pernyataan menyerang Jun, sementara Mingyu tampak masa bodo tapi mendorong Seungcheol untuk menyetujuinya. Dan ketika perdebatan semakin memanas, Seungcheol mengizinkan. Dia tahu bahwa dua lawan satu, pemenangnya pasti yang dua. Jadilah Wonho diutus mengantar Wonwoo bertemu dengan seseorang, dengan para pelayan yang memandangnya waswas.

Mereka melawati lorong asing yang baru Wonwoo lewati, dia ingat bahwa Shownu memberinya peringatan keras untuk tidak memasuki lorong ini. Waktu itu Wonwoo membiarkan karena dipikirnya pekerjaannya tidak bertambah banyak, tapi sekarang dia kepikiran. Ada apa di lorong ini dan siapa yang akan ditemuinya? Lamia? Tidak mungkin, pernyataan tersirat dari para tuan muda membuatnya yakin bahwa Lamia sudah lama meninggalkan mereka, entah apa alasannya. Apa salvator lainnya?

Ketika pemikiran itu mengahantam Wonwoo, Wonho berhenti mendadak dan membuat Wonwoo nyaris menabraknya. Wonho membuka pintu sebuah ruangan dan menyuruh Wonwoo masuk. "Dia ada di dalam, masuklah," suruhnya yang Wonwoo lakukan tanpa banyak bertanya.

Ruangan itu sama persis dengan kamar miliknya, hanya saja ada satu perbedaan mencolok. Wonwoo nyaris memekik melihat sebuah jendela besar yang ditutup rapat oleh tirai. Dia yakin dibalik tirai itu benar ada jendela karena ada seberkas sinar matahari yang samar-samar terlihat. Di tengah ruangan terdapat ranjang besar dengan sesosok pria berbaring lemah di sana, walau begitu Wonwoo terkesima dengan raut wajah pria itu yang tampak tenang dan lembut. Sepersekian detik kemudian, mata yang tadinya tertutup sempurna kini terbuka lebar. Kristal cokelat yang senada dengan rambutnya itu menyapanya ramah, bersamaan dengan suara halus yang mengalun. "Halo, apa ini Wonwoo?"

Wonwoo mengangguk bingung. "Tuan Seungcheol sudah menceritakannya, kemarilah," kata pria itu yang dituruti Wonwoo. Pria itu sangat kurus, walau terdapat alat infus dan beberapa alat kedokteran yang tidak dia pahami, tapi kesan mengerikan di ruangan itu tidak ada. Mungkin karena wajahnya, atau aura lembutnya. Yang jelas Wonwoo merasa tenang bila melihat pria itu tersenyum, seperti seorang malaikat.

"Aku Joshua," kata pria itu. "Kudengar kau salvator mereka yang baru? Apa mereka memerlakukanmu dengan baik?"

Wonwoo agak malu saat menggeleng, Joshua hanya menganggukkan kepalanya. "Awalnya memang begitu, tak perlu khawatir. Aku juga mengalaminya." Wonwoo langsung menatap Joshua dengan cepat, jadi dugaannya benar.

"Kau tahu kan tugas salvator apa?"

"Menjadi makanan utama bagi para tuan muda, dan pelepas segala keburukan mereka," jawab Wonwoo pelan. Joshua nyaris tergelak mendengarnya. "Kau harus mencari kosakata yang lebih halus lagi," katanya maklum. "Tapi hal itu memang benar, Tuan Jun pasti senang mendengar sarcasm darimu."

Hening kembali melanda saat Joshua terdiam. "Bisa tolong bukakan jendelanya?" pintanya yang membuat Wonwoo tak enak menolak. "Tapi para tuan muda?" tanyanya hati-hati. Joshua kembali tersenyum sambil menggeleng. "Tidak apa, kalau begitu buka saja tirainya."

Saat Wonwoo membuka tirai beludru itu, kamar sedikit menghangat. Mungkin Wonwoo salah lihat, tapi wajah pucat Joshua tampak jauh lebih berwarna saat sinar matahari menembus ruangan ini. Suasana pun tampak lebih menghangat karenanya, dan tanpa sadar Wonwoo menghela nafas lega.

"Rindu sinar matahari ya?" tanya Joshua ramah. Wonwoo mengangguk sambil duduk di kursi yang ada. Sejujurnya memang klasik, tapi Wonwoo sering dibangunkan karena tirai kamarnya dibuka oleh sang ibu. Sinar matahri yang menyengat langsung menerpa wajahnya tanpa ampun, dan jika belum cukup sang ibu akan mengguncangkan tubuhnya atau bahkan Jinwoon akan menyiramnya dengan air. Itu sudah cukup untuk membuat seorang Jeon Wonwoo menggerutu kesal di menit pertama dia bangun.

"Ada apa? Matamu berkaca-kaca, Wonwoo."

Wonwoo tersentak, dia menatap Joshua kosong. Dia ternyata merindukan keluarganya sedemikian rupa. "Rindu keluarga?" tanya Joshua pengertian. Wonwoo mengangguk lemah, air matanya bertahan di sudut matanya. "Tak bisa pergi? Para tuan muda tak mengizinkan?"

Anggukan Wonwoo kembali membuat Joshua tersenyum sedih. Dia sudah menduga Wonwoo akan merasa seperti, dia sudah tahu dengan jelas. Tapi Joshua tak bisa melakukan apapun selain melihat Wonwoo menahan emosinya sedemikian rupa sampai dia tenang sendiri.

"Maaf," bisik Wonwoo yang mendapat angukkan lagi. Agaknya Wonwoo bersyukur karena Joshua memilih, dia menjadi sedikit tenang. "Joshua-ssi..."

"Hyung saja," potongnya yang membuat Wonwoo mengangguk paham. "Joshua hyung, apa sudah merasa baikkan?" tanyanya murni kepedulian, makanya dia menggeleng kuat saat Joshua balik bertanya. "Kau bertanya karena sudah lelah dengan peranmu?"

"Kulihat kau menyayangi mereka."

Pernyataan itu membuat Wonwoo melongo kaget. Dia menyayangi para tuan muda? Ketiga mahkluk malam yang tidak hanya memisahkannya dari keluarga dan memaksanya bekerja, juga selalu meminum darahnya dan berhubungan seks tanpa persetujuan mutlak dari Wonwoo? Apa Joshua memiliki selera humor yang buruk?

"Aku salah?" tanyanya yang diiringi tawa kecil. Derai suara itu tidak mengandung kesinisan ataupun geli, tapi suatu rasa lega dan wajar aneh yang membuat Wonwoo makin bertanya-tanya. "Saya tidak mungkin menyayangi..." Lalu Wonwoo terdiam. Ya, dia tak mungkin menyayangi mereka.

"Coba pikirkan, apa kau mengkhawatirkan mereka lebih dari seharusnya?" pancing Joshua. Wonwoo masih menggeleng bandel, dia mengkhawatirkan mereka karena pekerjaan sebagai butler. Seorang butler harus memastikan tuannya berada dalam kondisi prima. Makanya Wonwoo begitu repot untuk memastikan dirinya sendiri sehat, sehingga para tuan muda bisa meminum darahnya tanpa hambatan.

Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa dia tidak memperburuk keadaan diri supaya para tuan muda tidak sehat setelah meminum darahnya? Apa dia takut mati atau dia sepenuhnya menyerah pada takdirnya sebagai salvator?

"Saya kira..." Wonwoo menelan ludah sebelum melanjutkan perkataannya. "Pendapat hyung ada benarnya." Wonwoo tidak suka itu, tapi dia mulai memaksa dirinya untuk percaya, dia menyayangi ketiga tuan mudanya.

Wajah halus Joshua tampak sedih, dia membelai tangan Wonwoo hati-hati. "Kau anak yang baik," katanya. "Ya, tapi kau sangat dibutuhkan olehnya. Makanya semua bisa begini, maafkan aku anak manis."

Joshua menyentuh kening Wonwoo dengan seluruh kekuatannya. "Kau menerima restuku, pergilah dan selesaikan ini semua. Keselamatan kami beradadi tanganmu."

Wonwoo merasa seperti sesuatu yang besar menghantam kepalanya, tatapannya mengabur dan dia terhuyung ke belakang. Dia menatap Joshua kaget, tapi yang bersangkutan terus terbatuk. Wonwoo masih terbengong saat Wonho menariknya mundur, bisa dilihatnya Seungcheol yang terburu-buru memasuki ruangan Joshua.

"Malaikatku..."

Pintu pun tertutup.

Wonwoo menatap Wonho kaget, dia jarang berinteraksi dengan Wonho dan malah canggung. Wonho menatapnya dengan tatapan menyelidik. "Kau mendapat sesuatu?"

Wonwoo refleks mengelus dahinya. "Memang apa yang kudapat?" tanyanya polos yang membuat Wonho memicingkan matanya. Tapi yang bersangkutan tidak bertanya apa-apa lagi.

"Terserahlah."

ACTA EST FABULA

Sejak kejadian itu, suasana rumah yang dingin semakin dingin. Bukan hanya karena fakta musim dingin yang menggantikan musin gugur, tapi juga hubungan antara ketiga tuan muda yang membuat para pelayan hanya bergidik. Kalau boleh jujur, dulu yang sedikit menghangatkan keadaan rumah itu adalah fakta bahwa Seungcheol lebih ramah dan murah senyum daripada kedua tuan muda lainnya, Jun lebih sering tersenyum sinis sementara senyum Mingyu lebih tepat disebut serigai. Sekarang aura ramah itu berganti dengan marah yang tak terdefinisi, Jun yang sering meng-konfrontasi Seungcheol pun memilih bungkam. Malah pertengkaran nyaris berdarah sekarang selalu terjadi di antara Seungcheol dan Mingyu.

Sejak saat itu pun kerja Wonwoo lebih sering teledor dan tentu saja sudah tidak terhitung lagi omelan Kihyun yang bergema di rumah itu. Bahkan Shownu yang biasanya diam ikut menasehatinya.

"Tak bisakah kau fokus?!" pekik Kihyun saat dirinya melihat Wonwoo nyari mengiris jarinya. Demi apapun, yang dia butuhkan adalah bantuan saat memasak, bukannya pekerjaan tambahan mengawasi orang lainnya. Wonwoo bergumam minta maaf, dan Kihyun hanya mendengus kesal. Kalau saja Wonho tidak pergi membantu Hyungwon membersihkan salju atau Shownu yang pergi untuk suatu urusan, dia takkan mau meminta bantuan Wonwoo yang seperti hilang harapan.

"Aku menyuruhmu memotong daging untuk mengembalikan fokus kerjamu, bukannya untuk melukai jari-jarimu," kata Kihyun masih terus mengomel. "Apa aku bisa mempercayaimu untuk mengurus pembuatan Glühwein?" tanya Kihyun yang diangguki Wonwoo. Wonwoo yang dalam keadaan bingung pun dituntun dengan cermat oleh Kihyun.

Glühwein sendiri adalah minuman beralkohol khas Jerman yan terbuat dari dry red wine yang direbus bersamaan dengan rempah-rempah seperti star anis, cengkeh, kayu manis, potongan lemon, gula dan air. Dengan kandungan itu tentu saja rasa Glühwein menjadi manis dan pedas, sangat cocok untuk menghangatkan diri saat musim dingin. Dan untuk memberi sedikit alkohol di dalamnya tidak lupa Wonwoo menambahkan brandy. Setelah Kihyun memberitahunya, Wonwoo mengangkat dan menuangkan Glühwein yang sudah jadi ke gelas-gelas wine.

Kihyun sendiri membuat Schweinepfeffer, daging babi cincang yang dibumbui pedas dengan darah babi. Sejujurnya Wonwoo agak mual mencium bau amis darah saat Kihyun memasaknya sampai campuran daging dan darah itu merata. Tapi liurnya agak menetes saat Kihyun menatanya di meja makan, walau dia sedang banyak pikiran tetap saja makanan nomor satu.

Kali ini Wonwoo benar-benar berhasil memfokuskan dirinya untuk membantu Kihyun. Kihyun masih sibuk menggiling daging untuk membuat Bratwurst, sosis babi. Terkadang Wonwoo heran mengapa mereka tidak membeli makanan setengah jadi, karena Kihyun harus bersusah payah mengolah daging mentah dulu. Dan Wonwoo benar-benar menanyakan hal tersebut pada Kihyun, sambil mencampur telur dan beer dalam mangkuk tentunya.

"Ini untuk besok kok," jawab Kihyun. "Bratwurst harus didiamkan selama 24 jam di kulkas. Untuk dessert aku akan membuat Lebkuchen, kue jahe dari Jerman. Tunggu, kau tahu kan dari tadi kita membuat masakan Jerman?"

Wonwoo menggeleng. "Selama ini kita membuat masakan khas eropa atau korea, tapi aku sudah menduga kok."

Kihyun terus menggerakkan tangannya sambil berceloteh. "Sejujurnya ini request Shownu hyung. Masakan Jerman namanya saja yang sulit, tapi intinya sama saja kok. Coba aduk ini sampai merata, aku akan memanaskan madu dan mentega. Waktu kita mepet sekali sih."

Setelah selesai mengaduk adonan itu, Wonwoo menutupnya dengan plastic wrap dan memasukannya ke kulkas. Kihyun sendiri membiarkan adonan Lebkuchen setengah jadi mendingin lalu memanaskan oven. Wonwoo menyibukan diri membuat cokelat panas dan memberikannya dengan Kihyun. Dia mendesah lega saat meminum minuman buatannya sendiri. "Enak kok," kata Kihyun setelah minum cokelat panasnya. Baru seteguk yang mengalir ke kerongkongan mereka saat Kihyun menyuruh Wonwoo membulatkan adonan itu.

Semua terasa melegakan saat Wonwoo menaruh semua bulatan adonan itu di baking trays dan memasukannya ke oven. Kihyun sudah menyiapkan wire rack dan alat untuk icing seperti gula, putih telur, dan lainnya. Semuanya membutuhkan 20 menit dari pemasukan adonan ke oven sampai proses icing. Mereka pun membiarkan kue itu agak mendingin.

Kihyun memutuskan untuk memanggil Hyungwon-Wonho selama Wonwoo mencuci beberapa peralatan kotor. Shownu sendiri datang sedikit lebih cepat dari Kihyun yang berhasil menyeret Hyungwon-Wonho dari rumah kaca. Mereka masih memakan makanan itu dengan lahap saat Mingyu secara tak terduga menghampiri mereka. Wonwoo bahkan nyaris tersedak saat menyadari kepulangan cepat dari Mingyu.

"Tidak, tidak. Lanjutkan saja makanmu, aku memang pulang lebih awal karena pemotretan berakhir lebih cepat," kata Mingyu yang memotong permintaan maaf dari Wonwoo. Mereka berdua tidak sadar bahwa pelayan lainnya menatap mereka dengan tatapan kaget. Mingyu hanya memerhatikan Wonwoo yang terburu-buru menyelesaikan makanannya, dia tersenyum kecil melihat Wonwoo yang begitu lucu.

"Ini dry red wine kan? Kalau begitu, ini pasti Glühwein. Kau mencampurnya dengan apa?"

Kihyun sendiri memilih menjawab pertanyaan tersebut karena Wonwoo sibuk minum air putih. "Dengan rempah-rempah, tuan. Apa Tuan Mingyu mau mencicipinya?" tanya Kihyun yang sigap berdiri. Anggukan Mingyu membuat Kihyun langsung mengambil gelas wine baru dan menuangkan Glühwein dengan tambahan darah babi yang tersisa, kalau tidak Mingyu takkan merasakan apapun.

Wonwoo yang sudah siap dengan perannya sebagai butler dikejutkan dengan Seungcheol yang menghampirinya dengan tatapan mematikan. Mingyu yang akan meminum Glühwein-nya pun langsung menaruh gelasnya dengan kasar. Mingyu langsung mengamankan Wonwoo ke balik tubuhnya. "Ada apa?" tanyanya sinis.

Seungcheol sendiri langsung memukul Mingyu, tapi hal itu tak cukup untuk membuat Mingyu tumbang. Sebelum tangan Seungcheol sempat menangkap tangan Wonwoo yang gemetar, Mingyu sigap mendorong Seungcheol ke arah lain. Keempat pelayan lainnya tidak ada yang menghentikan itu karena Seungcheol berteriak. "JANGAN GANGGU ATAU KUBUNUH KALIAN!"

Intinya Seungcheol sangat murka, dan Wonwoo bahkan tidak tahu apa alasannya.

Mingyu dan Seungcheol selalu bertengkar dengan mulut dan ini pertama kalinya mereka menggunakan fisik sebagai bahan aduan. Dalam hal ini mereka imbang, tapi amarah Seungcheol membuatnya lebih kuat sehingga pada akhirnya Mingyu mengaduh kesakitan dengan darah di sana-sini. Wonwoo pun menghampiri Mingyu karena pikirnya Mingyu lebih membutuhkan dirinya dibanding Seungcheol. Sayangnya dia melakukan hal yang sangat salah.

"KEMARI JEON WONWOO!"

Desakkan untuk patuh itu membuat Wonwoo menghampiri Seungcheol. Matanya terus menatapi lantai sementara tubuhnya agak gemetar. Lagi-lagi dia mendapat kejutan saat Seungcheol menarik kasar tangannya dan memaksa kedua kakinya nyaris berlari. Seungcheol membawanya ke kamar Wonwoo sendiri, meninggalkan para pelayan dan Mingyu yang menatapnya luka.

"Apa yang diperbuat Wonwoo?" bisik Kihyun penuh kengerian. Wonho sendiri punya sebuah teori yang akan dia beberkan, tapi itu bisa menunggu karena Mingyu harus diobati terlebih dahulu. "Kihyun, siapkan peralatan. Biar aku yang memapah Tuan Mingyu kembali ke kamarnya, lalu Wonho tenangkan Hyungwon."

Perintah Shownu membuat mereka bergerak cepat, dan Mingyu mau tak mau membiarkan dirinya dipapah. Seungcheol dan tenaganya memang tak bisa diremehkan.

ACTA EST FABULA

Seungcheol membawanya ke tempat yang tak terduga, kamar Wonwoo sendiri. Dibukanya kasar pintu itu dan terus diseretnya Wonwoo sampai ke perpustakaan mini. Dari sana, Wonwoo kembali menemukan sebuah rahasia lainnya. Pintu sebuah ruangan yang terkunci, yang tak pernah Wonwoo jamah sekalipun berhasil dihancurkan oleh Seungcheol dan menguak isinya yang mengerikan.

Ruangan itu hanya diterangi lampu redup berwarna merah, dan di pusatnya terdapat sebuah ranjang dan di atasnya terdapat tali. Tidak hanya itu, di dindingnya terdapat berbagai cambuk, tali, choker, juga dildo. Belum lagi dengan aura tak menyenangkan dari ruangan itu yang membuat Wonwoo bergidik, benar-benar kenyataan terburuk bahwa ruangan ini tercipta.

Seungcheol menghempaskan Wonwoo ke dinding sambil bernafas kasar. Wonwoo mengaduh tanpa suara melihatnya, dia takut tentu saja. Tapi daripada takut, ada perasaan kecewa dan marah yang dia simpan. "Dengar," kata Seungcheol dalam. "Aku berusaha sangat keras untuk tidak menyakitimu, tapi bantahan Mingyu makin membuatku kesal."

"Kau! Aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan, tapi Joshua musnah segera setelah kau mengunjunginya!"

DEG.

Wonwoo memandang Seungcheol dengan mata memelalak. Kenapa Joshua?

"Padahal kami berencana melepaskanmu setelah Joshua sembuh, padahal Joshua sudah mulai membaik." Nada bicara Seungcheol tidak hanya melembut, tapi juga menyedihkan. "Tidak mungkin jika dalam satu jam keadaannya begitu drop sampai begitu! Katakan, apa yang telah dia berikan padamu?!"

Wonwoo memilih dipojokan dengan cekikan di lehernya daripada dipandangi begitu oleh Seungcheol. Tatapan menusuk Seungcheol bahkan cukup membuat Wonwoo kehilangan kata-kata, seperti memaksa untuk menceritakan kebenaran. Tapi apa yang diketahui seorang Jeon Wonwoo? Harusnya akal sehat Seungcheol sudah meneriakan hal ini.

"Tidak ada," cicitnya yang membuat Seungcheol menamparnya kuat. Bukan hanya sudut bibirnya yang berdarah, tapi juga kepalanya berputar sampai-sampai dia jatuh. "Kau berbohong." Bahkan Seungcheol bukan mengeluarkan pertanyaan tapi pernyataan.

"Kau tidak punya hak lain selain menjawab pertanyaanku sekarang!" kata Seungcheol masih berusaha bernegosiasi. Kediaman Wonwoo dianggapnya ketakutan, yang ternyata kurang tepat. "Mengapa tuan mengatur hak dalam hidup saya?"

Pertanyaan itu mengejutkan Seungcheol yang mengira dirinya mampu menekan Wonwoo secara fisik maupun psikis. "Saya... tak bisakah saya memiliki hak untuk marah? Apakah karena saya dibawa sebagai penjamin hutang makanya harga diri saya sudah sama dengan nol?"

"SAYA!" Wonwoo menatap Seungcheol dengan isak tertahan. "Saya... apakah tuan sekalian menandai saya sejak lama? Apakah saya sejak awal ditargetkan sebagai penjamin hutang yang tak seberapa? Apa..."

Dan kali ini tidak hanya tamparan tapi juga pukulan di tubuhnya yang Wonwoo rasakan. Seungcheol yang murka, semakin murka karena Wonwoo begitu lancang. "Jadi inilah yang Joshua beritahui?!" Suaranya makin menggelegar dan kekelaman tampak di sekitar Seungcheol saat tangannya tidak hanya sibuk membuat memar di tubuh Wonwoo dan melucuti pakaiannya.

"Ya! Memang sejak awal saat kami melihatmu 15 tahun yang lalu, kami memutuskan untuk menandaimu sebagai salvator baru! Tapi kau tak berhak menyalahkan kami, karena orang tuamu-lah yang menjualmu pada kami!"

Seungcheol mengambil sebuah cambuk dan memaksa Wonwoo berpose seperti kucing. "Mereka menjualmu untuk harta, kekuasaan, dan kemakmuran!"

Satu pecutan terjadi dan Wonwoo berteriak kesakitan.

"Mereka bilang bahwa kau diturunkan hanya untuk tumbal pengganti anak mereka!"

Satu pecutan lagi dan punggung mulus itu tergores darah.

"Mereka tak lebih dari sepasang manusia yang mengaggungkan uang, bahkan aku yakin kau akan dijual sebagai gigolo kalau kami tak manandaimu! Harusnya kau berterima kasih, karena yang menyentuhmu hanya kami bertiga!"

Pecutan demi pecutan terus dilakukan Seungcheol. Bagai seorang petani yang memaksa kerabunya terus membajak, atau bagai seorang pawang kuda yang memaksa kudanya berlari cepat. Tapi bagi Seungcheol, pecutan ini tidak hanya untuk pelajaran Wonwoo tapi juga penyaluran emosinya selama ini. Dan Wonwoo tak bisa membantah lebih banyak karena yang keluar dari mulutnya hanya erangan kesakitan, walau begitu di tengah kegilaan Seungcheol dia masih tetap membantah.

"Yang kau lakukan adalah menumbuhkan kegilaan akan harta dari dalam diri mereka."

Seungcheol semakin gelap mata saat menyeret Wonwoo ke ranjang dan mengikat kedua tangan dan kakinya erat. Cahaya mata Wonwoo sejak awal sudah mati dan hanya terisi air mata, tapi dia masih berusaha berontak. Tangisnya makin hebat saat Seungcheol mengeluarkan dildo berukuran besar, dan tidak hanya satu tapi 4.

"Salvator lancang," desis Seungcheol. Dia bahkan tak menyiapkan Wonwoo sama sekali, yang Seungcheol lakukan murni kefrustasian. Tanpa memerhatikan Wonwoo yang memandangnya ngeri, dimasukkannya dildo itu ke bagian tubuh Wonwoo. Satu persatu, tanpa persiapan.

Setelah keempat dildo itu masuk, digerakannya benda itu dengan cepat. Wonwoo semakin histeris karena demi apapun itu sakit. Sangat sakit. Dildo itu keras dan benda mati, bahkan panjangnya melebihi milik ketiga tuan mudanya. Bagian bawahnya serasa dihancurkan secara perlahan, dan gesekan kasar yang terjadi terus menyakitinya. Mungkin ini seks paling menyakitkan yang pernah Wonwoo lakukan, sekali pun dia terangsang tetap saja itu hanyalah reaksi naturalnya.

Kedua tangan dan kakinya masih terus meronta bersamaan dengan tangisnya. Dalam keadaan begitu bahkan Seungcheol tidak menampakan belas kasihan sedikit pun, seolah Wonwoo bukan manusia tapi sejenis makhluk yang pantas untuk diciderai. Dan penderitaannya belum cukup sampai disitu karen Seungcheol membiarkan 4 benda terkutuk itu terus di dalamnya.

"Kau terangsang kan? Bagus, aku akan pergi."

Membiarkan seorang yang sedang klimaks pergi dengan keempat dildo? Jelas-jelas Seungcheol menginginkan Wonwoo menjadi budak seksnya. Dan sang tuan benar-benar pergi setelah menutup kedua mata Wonwoo dengan kain satin hitam.

"Uhh~ Tolong..."

Desahan itu masih terus memenuhi ruangan terkutuk milik Seungcheol sampai sang empu pingsan karena lelah.

ACTA EST FABULA

Jika Wonwoo berharap bahkan penyiksaan yang dia alami mimpi atau sudah berakhir, maka dia berharap terlalu banyak.

Dalam keadaan mata tertutup dan tubuh tidak bisa digerakkan, juga dildo di dalam tubuhnya, maka dia tak bisa menebak sudah berapa lama dia berada di sini. Tidak hanya bagian bawah tubuhnya yang sakit, tapi juga punggungnya yang mungin infeksi karena bekas pecutan itu masih basah. Kali ini tak ada satu pun pelayan yang bisa menolongnya, bahkan Kihyun mungkin tak bisa merawatnya.

Jadi dia akan mati di sini sebagai sex doll, apa bedanya dengan menjadi gigolo?

Ada saat dia mendengar suara pintu dibuka, dan ternyata itu adalah Seungcheol dan Jun. Seungcheol melepaskan dildo dari dalam tubuhnya, sementara Jun menghisap darahnya. Jika Jun menyerang bagian tubuhnya dengan pelan, maka Seungcheol menyerangnya tanpa ampun, walau Wonwoo bingung kenapa mereka seperti bertukar kepribadian.

Tapi tidak peduli berapa lama waktu dan kesakitan yang dia rasakan, Mingyu tidak pernah muncul.

Ketika Wonwoo sudah terlalu lemah untuk menangis dan hanya bisa terisak, ketika kemarahan Seungcheol tidak berkurang, dan ketika kehadiran makin lama makin menipis, Mingyu tak juga datang. Jadi tidak hanya dibuang Seungcheol dan Jun, Mingyu juga tidak peduli lagi padanya.

Setelah memperkirakan nasib keluarganya yang tidak dia tahu sudah lama mati, Wonwoo memutuskan untuk mati. Tapi Seungcheol sedikitnya memberi air untuk bertahan hidup, jadi dia tak bisa mati dengan cepat. Mungkin dia akan mati karena infeksi luka, atau mati saat vibrator yang sudah menggantikan dildo di tubuhnya bergetar terlalu keras.

Tapi Seungcheol masih belum mau Wonwoo mati dengan cepat. "Mati tidak semudah itu," bisiknya sambil menyetel vibator sampai maksimum. Seungcheol menginginkannya hidup dengan penuh penderitaan sebagai ganti nyawa Joshua yang takkan kembali.

"Kkhh~"

Hal yang menyedihkan lainnya adalah dia hanya bisa mendesah sebagai ganti teriakan minta tolong, desahan adalah simbol kenikmatan dan seolah-olah Wonwoo menikmati perlakuan ini. Menjijikan.

Di sela desahannya Wonwoo selalu berbisik tolong, jika ada Seungcheol dia akan kembali ditampar, tapi kali ini Seungcheol sudah pergi. Jadi Wonwoo bisa terus berbisik tolong pada dinding dan pintu yang terdiam tak berdaya, atau pada seorang tuan yang tak pernah menengoknya.

"Wonwoo?"

Sebuah bisik dengan nada suara lain seolah menjawab permintaannya. Wonwoo sendiri selalu mengira itu hanya delusi pikiran rusaknya, makanya dia tidak menjawab bisikan itu. "Shh... Tolong... Ahh~"

"Wonwoo?"

Kali ini bisikan itu membesar, diiringi suara terbukanya pintu. "Wonwoo..."

Di tengah pikirannya yang berkabut, Wonwoo bisa mendengar seseorang terus memanggilnya, seseorang yang selalu dia harapkan.

"Aku akan melepas ikatannya, jangan khawatir oke? Ah, vibratornya..."

Alat yang membuat Wonwoo menangis sambil mendesah itu berhenti dan dikeluarkan dengan hati-hati. Setelah itu kaki dan tangannya dilepaskan dari rantai, prosesnya cukup cepat sampai-sampai Wonwoo menyangka dia berdelusi lagi.

"Wonwoo, jangan khawatir. Aku akan merawatmu, aku..."

Tapi yang Wonwoo lakukan adalah berusaha menggigit lidahnya, tapi sayangnya terhalang oleh lengan seseorang. Tenaganya tak bisa membuatnya melepaskan lengan itu, tapi dia juga tak mau menghentikan gigitannya.

"Wonwoo! Kau... kau ingin bunuh diri?! Kau..."

Wonwoo masih menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak mau diselamatkan untuk menjadi tumbal apapun, dia tak mau memilih apapun, dia hanya ingin mati.

"Wonwoo, kumohon... aku akan melepaskan tanganku, tapi jangan berpikiran untuk menggigit lidahmu," pinta orang itu yang masih berusaha menenangkan Wonwoo. Wonwoo sendiri bandel menggeleng, dia capek. Dia hanya ingin istirahat panjang melalui kematian.

"Wonwoo, aku... aku minta maaf karena telah menandaimu. Aku yang salah, tapi aku tak ingin kehilanganmu. Aku mencintaimu. Aku akan merawatmu, menjagamu dengan seluruh kekuatanku, jadi tolong..."

Wonwoo hanya menangis saat lengan itu berhasil dilepaskan, tapi dia tidak berencana menggigit lidahnya. Dia hanya terus terisak dengan pelukan seorang tuan yang sangat dia kasihi, pelukan dari seorang Kim Mingyu.

Jangan tinggalkan aku.

.

.

.

TBC

Hai Panda akhirnya lanjut nih~ Sepertinya Panda kebelet up, karena setelah ngetik bagian akhir chap ini Panda memutuskan untuk langsung publish XD Dan terima kasih udah menunggu lama sampai ff ini up karena emang Panda dapat banyak halangan -uts, capek, gak mood, wb dll- buat ngelanjutinnya. Oh ya kalau kalian penasaran sama asal para tuan/ pelayan, Panda udah kasih petunjuk sih XD

Terus ada salah satu pembaca yang komen tentang hutang keluarga Jeon, dan bocoran ini gak bisa Panda ceritainn jadi harus ditulis di sini. Keluarga Jeon itu terobsesi sama kekayaan, dan mereka punya perjanjian spiritual sama para vampire untuk menjadikan mereka berkuasa dan makmur. Tapi ya emang para vampire licik aja, akhirnya hutang itu menjadikan Wonwoo sebagai tumbal/ penjaminnya XD. Kekuasaan ini berupa jabatan di perusahaan/ pemerintahan, makamur itu maksudnya uanggggg XD.

Panda sangat mencintai cerita uke yang menderita secara psikis dan fisik, makanya di akhir chap Wonwoo selalu tersiksa. Dan Panda gak bisa bikin adegan seks yang detail karena... tidak kuat XD dan Panda gak sepervert itu ya, lagipula adegan seperti itu enaknya kan eksplisit XD Terus maaf ya, BDSM-nya kurang oke karena plot cerita tidak memungkinkan -atau penulisnya aja yang tidak ahli-. Sekarang Panda mau balas review para pembaca~ Sebelumnya, Panda mau mengucapkan banyak terima kasih, karena review kalian sperti menghantui Panda untuk lanjut secepatnya, juga follow dan fav-nya juga mengerikan. Kenapa? Karena baru kali ini Panda dapat review, fav, dan follow sebanyak ini melalui 1 chap TT *peluk cium satu-satu *alay dikit tidak apa. Terima kasih semuanyaaaaaa.

ananda12alpam: Sudah Panda lanjut kok.

kimnimgyu: Ehe, jadi malu.

mochikyung: Udah ketahuan kan, yang sayangggg banget sama Wonwoo siapa? Tapi sebenarnya mereka semua sayang kok, tapi ya gitu XD.

ichinisan1-3: Kakaaaaaa! Review panjang dan detail seperti biasa TT Emang salah Panda sih, harusnya nyebutnya mansion karena emang besarrrr banget. Nonu disayang kok, tapi Mingyu emang keliatan lebih sayang sih, dan iya semua salvator kerjaannya di gangbang gitu, sakit tapi kan ena(?). Tapi Panda gak kepikiran tentang keadaan kamar abis mereka begituan, karena mereka begituan tidak di kasur masing2 XD Makanya ancur aja ruangan itu, dan yang beresin siapa? Shownu XD selaku pelayan senior.

RahilahKim: Ehe, Panda punya obsesi aneh terhadap 4some walau nyatanya adegan mereka kurang sih.

meanieons: Jadi kamu suka Wonu menderita? Sama sih XD. Sudah dilanjut ya

pims13: Ehe, Panda pun suka menulis cerita ini. Dan memang semacam penghormatan karena ka ichinisan req ke Panda

17karat: Sebenarnya Panda agak tergugah baca reviewmu, tapi kenapa ujungnya Wonwoo harus menikmati 4some penuh paksaan XD. Tapi dia menikmati kok, sama Jun di chap ini dia menikmati.

KimSparkles: Tampol aja, karena emang mereka keterlaluan *apalagi di chap ini. Dan Wonu itu kuat kok XD.

sansan33: Oho, Panda tersapu XD. Dan enggak, ini bukan 1shoot walau dulunya Panda berencana begitu.

diciassette: Karena para vampire di sini kasar jadinya Mingyu dibuat gitu TT, tapi dia nanti soft ke Wonwoo kok.

sebongiee: Sudah Panda berikan jawabannya ya~ Dan hutang mereka itu berbunga sampai akhirnya mereka gak bisa menebus Wonwoo lagi, mereka nyesel lho menjadikan Wonwoo sebagai penjamin XD

Jeon Yeowoo: Gak bisa berkata-kata karena terlalu keren ya? Panda juga kok *narsis. Tapi bagian naenanya.. udah lumayan jelas kan sekarang? Panda tak sanggup... maaf XD

Anatsuki25: Sudah dilanjut~

: Yup~ Dan paling lama itu Joshua juga

wanUKISS: Panda senang membacanya XD, bahasa yang sulit, seperti apa ya? Apa kita terkena language barrier? XD

Nava550: Ehe, ini dia lanjutannya~

Someonelol: Yup~ udah dilanjut ya

ZendWu00: bahasanya rame? ribet gitu ya XD

whatamitoyou: monggo udah dilanjut~

Sekali lagi Panda mengucapkan terima kasih atas review, fav dan follow. Apa lanjutannya membosankan? Apa BDSM-nya kurang kejam? Apa bagian seks kurang hot? Atau lanjutannya cukup memuaskan rasa penasaran? Silakan di komen, fav+follow bagi yang belum, dan beritahu Panda pemikiran kalian akan chap ini. bye ^^