Holla minna, kembali akhirnya Mbik bisa up-date hari ini. Sebelumnya selamat lebaran ya…
Maaf kalau Mbik ada salah sama kalian m(_ _)m
Kemudian, Mbik ucapkan banyak-banyak terima kasih pada :
―Hinahime, Rifvany Hinata-chan, Yukori Kazaki, Clara-AVRIL, Nara Kazuki, Guest, dan Hasegawa Michiyo Gled― yang sudah nge-review cerita Mbik ini.
#hug you guys#
So, tanpa perlu ba..bi...bu.. let's read and enjoy it!
Chap 2
Sinar matahari pagi masuk dengan malu-malu dari balik tirai. Beberapa sinar mengenai mata seorang pemuda yang masih asyik di alam mimpi. Matanya bergerak gelisah karena cahaya silau dari sang surya. Pelan-pelan matanya terbuka dan tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Mata onyxnya menatap sekeliling ruangan kemudian tangannya meraba wajah dan tubuhnya.
'Sepertinya aku masih hidup. Syukurlah,' batin pemuda itu. Ia melihat jam yang ada di nakas yang menunjukkkan pukul 06.45, sambil mengumpat pemuda itu langsung berlari menuju kamar mandi.
Kurang dari 10 menit ia keluar dari kamar mandi. Cepat-cepat ia memakai seragam dan segera menuju ruang makan.
"Tumben kau kesiangan, Sasuke?" tanya Nyonya Uchiha yang sedang menyantap sarapannya.
"Kenapa tidak membangunkan aku, kaa-san?"
Sasuke kesal karena bangun kesiangan yang mengakibatkan dirinya melewatkan ritual paginya, menyapa Mayu-chan. Sepertinya hari ini Sasuke benar-benar sial dan itu semua berkat CD bodoh dari Naruto.
"Tadi kaa-san sudah berusaha membangunkanmu, Sasuke. Pasti kau begadang lagi, ya?"
"Hn. "
Pertanyaan nyonya Uchiha hanya dijawab dengan dengusan kesal Sasuke.
"Aku pergi dulu, kaa-san." Sasuke berkata sambil mencomot selembar roti da meminum beberapa teguk susu.
"Hm. Hati-hati di jalan, ya!"
Mikoto hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak bungsunya itu. Mungkin karena waktu hamil Sasuke, Mikoto ngidam makan es batu sehingga sifat anaknya menjadi sedingin es.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
..
Help Me, Sasuke~ © Mbik Si Kambing
..
Pairing: SasuHina
..
Genre: Horror/Comedy
..
Warning: OOC(Super duper), AU, Bahasa diluar EYD, Typos, Gaje, Garing, and many more..
..
If U don't like, please don't read
.
.
Sesampainya di sekolah, Sasuke langsung menarik kerah Naruto dan mengajaknya pergi ke kebun belakan sekolah. Gadis-gadis SFC hanya bisa melotot dan berbisik-bisik melihat tingkah pangeran pujaannya itu. Mereka berpikir apa jangan-jangan gossip yang bersedar bahwa Sasuke dan Naruto memiliki hubungan khusus benar adanya.
Tanpa mengindahkan tatapan tajam dari beberapa siswa, Sasuke tetap menyeret Naruto. Naruto yang dipaksa hanya bisa meronta-ronta.
"Apa maumu, Teme?!" teriak Naruto setelah mereka sampai di tempat tujuan. Naruto merapikan seragam sekolahnya yang kusut akibat tarikan Sasuke. Ia sangat kesal dengan perilaku kasar temannya itu.
"Nih… kukembalikan CD konyolmu."
Sasuke melempar bungkusan hitam ke arah Naruto. Pemuda berkulit tan itu dengan sigap menangkapnya. Matanya melotot menandakan dirinya sedang disulut api amarah. Ia tidak terima CD kesayangannya diperlakukan semena-mena seperti itu. Keterlaluan! Tidak bisa dibiarkan! Naruto yang hilang kesabaran mulai menyemburkan kata-kata pedas.
"AKU SUDAH BAIK MEMINJAMKAN CD INI. TAPI KAUU… KAU MALAH MELEMPARNYA ASAL-ASALAN. SUDAH UNTUNG AKU JADI SAHABATMU… SEBENARNYA AKU SUDAH MUAK DENGAN SIFAT SOK-MU. DASAR NARSIS..! TUKANG PESOLEK…!"
Mata onyx Sasuke membola mendengar teriakan-teriakan Naruto. Sasuke kecewa. Sasuke sakit hati. Ternyata Naruto menganggapnya seperti itu. Apalagi ketika mendengar kata-kata terakhirnya 'dasar narsis, tukang pesolek'.
Tukang pesolek?
Demi Kyai Oro dan rambut indahnya, Sasuke bukan tukang pesolek. Ia hanya menggunakan BB cream di wajah tampannya. Ia tidak pernah memakai mascara, bedak, eye shadow, bahkan lipstick.
Hanya BB Cream! Tidak lebih dan tidak kurang. Ingin rasanya ia mencekik sahabatnya itu. Amarahnya sudah sampai tahap maximal. Mungkin sebentar lagi ia akan meledak.
"KAU…" geram Sasuke. Tubuhnya bergetar hebat. Sepertinya sebentar lagi amarahnya akan keluar.
"Kau…ja-jahat… Naruto. Hiks…hiks.." Sasuke memalingkan wajah dan terisak.
Hah?! Terisak? Maksudnya mengeluarkan air mata, gitu?
Yups! Satu lagi kelemahan Sasuke, cowok cakep itu kalau sudah marah sampai tahap maximal, bukan caci maki yang keluar tapi air mata. Air mata. Tidak ada yang tahu 'kan kalau Sasuke itu hatinya selembut pantat bayi. Sedikit saja terluka, air matanya akan keluar.
Naruto yang melihat sahabatnya yang terkenal cool, pendiam dan jutek itu nangis hanya bisa bengong dan mengerjapkan mata beberapa kali, ga' tau harus berbuat apa-apa.
"Cup..cup..cup. jangan nangis dong, Sasuke. Nanti mukanya tambah jelek, lho…."
Niatnya sih ingin meredam tangisan Sasuke, tapi tangisan Sasuke semakin keras. Terang aja nangis, siapa coba yang ga' sedih kalau dikatai jelek. Apalagi kalau Sasuke yang notabane-nya selalu ganteng, tiba-tiba dikatain jelek.
Naruto semakin panik. Ia mulai membuat wajah-wajah jelek dan berjoget aneh agar Sasuke berhenti menangis.
"Bluuu eee… Ci…luk… ba…. Dang ding din dang ding dung…"
Tangis Sasuke berhenti, namun Naruto yang tidak melihat hal tersebut masih asyik meniru gaya topeng monyet,
"Naruto pergi ke pasar..," ucap Naruto sambil membungkuk dan menggaruk-garuk kepalanya ala monyet. Sasuke yang sudah berhenti menangis, menonton pertunjukan gratis itu.
"Hentikan itu, Naruto. Kau membuatku muak," ucap Sasuke datar dan setelah itu pergi meninggalkan Naruto.
Naruto berhenti. Mulutnya terbuka lebar melihat reaksi Sasuke yang berubah drastis. Bukannya tadi Sasuke masih menangis tersedu-sedu? Tapi sekarang Sasuke sudah memasang wajah stoic-nya kembali.
'Apa Sasuke punya kepribadian ganda, ya?' tanya Naruto dalam hati.
Ia menggendikkan bahu dan berjalan menghampiri Sasuke.
"Sa~su~ke~~" panggil Naruto. Sasuke tidak menggubris sapaan si bocah jabrik. Naruto yang diacuhkan malah tersenyum aneh. Ia semakin ingin mengusili Sasuke.
"Tadi kamu menangis, ya~~" kata Naruto dengan nada menjengkelkan.
"Kau..! jangan ceritakan ini pada siapa-siapa, awas sampai berita ini tersebar," Sasuke mendekat dan mengarahkan telunjuknya ke wajah Naruto. Niatnya sih ingin mengancam Naruto, tapi sayang kurang berhasil. Ancaman Sasuke malah membuat pemuda jabrik itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Ppffu…hahaha… Okey…okey! Tidak masalah. Rahasiamu aman bersamaku, Sasuke. Tapi nanti traktir aku makan ramen di kedai Ichiraku pulang sekolah nanti."
"Hn."
"Hahaha… sebaiknya kau lihat wajahmu ketika kau menangis, Teme. Lucu sekali.." kata Naruto sambil memegang perutnya yang sakit akibat menahan tawa.
"NARUUTOOO!" teriak Sasuke.
Sasuke mengejar Naruto yang kala itu masih saja tertawa.
"Hahaha…Kejar aku, teme."
"Awas kau kalau tertangkap."
Dari kejauhan para penggemar Sasuke alias SFC yang melihat adegan kejar-kejaran Sasuke-Naruto―yang menurut mereka sangat mesra―hanya bisa menangis frustasi.
"Sasuke-sama~"
"Sasuke-sama…"
Para fans Sasuke memanggil nama sang idola sambil menggigit sapu tangan, karena tidak tahan melihat adegan tersebut.
"Minna.., nanti malam kita kumpul di tempat biasa untuk melakukan ritual," ucap ketua klub―Uzumaki Karin mantap.
Anggota yang lain mengangguk. Mereka paham maksud perkataan sang ketua. Malam ini mereka akan mengadakan ritual khusus, yaitu doa bersama untuk kesembuhan Sasuke. Emang Sasuke sakit apa? Ya, apalagi kalau bukan penyakit disorientasi seksual yang mereka kira diderita sang pujaan hati.
Semoga dengan digelarnya doa bersama, idolanya tersebut kembali ke jalan yang lurus.
Amin.
.
.
.
.
.
.
.
Pukul enam sore, Sasuke dengan langkah gontai sampai rumah. Si doi telat karena harus mentraktir Naruto makan ramen di kedai Ichiraku. Naruto itu memang pintar mencari kesempatan emas, mumpung ditraktir Sasuke, ia yang biasanya makan hanya dua mangkuk ramen, tadi makan 4 mangkuk sekaligus. Sasuke pingin nangis rasanya ketika melihat dompetnya yang menipis.
Sepertinya ini memang hari sial Sasuke.
"Tadaima."
Hening dan gelap.
Ternyata tidak ada siapa-siapa di rumah Sasuke yang luas itu. Sasuke menghidupkan lampu ruang tengah dan melihat secarik kertas di atas meja. Sambil mengernyit, Sasuke membaca tulisan tangan ibunya.
Dear Sasuke,
Gomen. Kaa-san harus menjemput Itachi dan Tou-san di bandara. Sebenarnya kaa-san ingin ngajak kamu, tapi kamu ga' datang-datang. Ya sudah kaa-san tinggal. Kamu jaga rumah yaa…
Tenang, ada yang nemenin kamu, koq ;)
Peluk cium,
Kaa-san
Sasuke menghempaskan diri di sofa dan kembali membaca ulang pesan terakhir ibunya yang terkesan ganjil itu.
'Tenang ada yang nemenin kamu, koq.'
Memangnya siapa ? tidak ada siapa-siapa di rumah, hanya ada Sasuke.
Sendirian. Di dalam rumah yang besar ini.
Krik…krik…krik.
Hanya terdengar suara jangkrik dari kebun belakang rumah.
Sasuke menelan ludah. Ia mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan. Tiba-tiba adrenalinnya berpacu cepat. Mulai dah kambuh sifat parno-nya. Cepat-cepat ia menghidupkan seluruh lampu, bahkan lampu gudang yang ada di loteng juga tidak ketinggalan. Tidak hanya itu, ia memasang musik dan TV keras-keras.
Setelah dirasa aman, Sasuke kembali duduk di ruang tengah.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Lima menit. Sepuluh menit. Orang tua dan kakaknya belum juga pulang. Sasuke semakin gelisah. TV yang tadi dibiarkan nyala tidak ia diperhatikan.
"Lebih baik aku tidur saja," ucapnya pada diri sendiri.
Setelah mematikan TV dan musik, Sasuke melangkah menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Ketikanakan menuju tangga, kakinya berhenti karena mendengar sesuatu.
'Hiks.. hiks..hiks.'
Sasuke yang telinganya masih normal bisa mengetahui bahwa yang didengarnya adalah suara tangisan.
Glek.
Sasuke meneguk ludah.
"Imajinasi, Sasuke. Ya, hanya imajinasi."
Sasuke meyakinkan diri sendiri dan menaiki tangga menuju kamarnya. Membuka pintu, pemuda berambut emo itu langsung tiduran di kasurnya yang empuk.
'I want you… I need you… I love you..'
Terdengar suara dering ringtone 'Heavy Rotation' milik AKB 48 dari saku celana Sasuke.
'Mungkin kaa-san,' batinnya.
Tapi belum sempat ia mengangkat, deringnya sudah terputus. Ia melihat layar HP dan melihat siapa yang menelpon.
'Private Number'
Ia meletakkan kembali smartphone-nya di meja. Selang beberapa detik, teleponnya kembali berbunyi, namun kembali mati sebelum Sasuke berhasil menganggkatnya.
Tiga kali sudah, teleponnya berbunyi dan tiga kali juga telponnya mendadak mati. Kembali rasa takut menghantuinya. Ia menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali untuk menenangkan detak jantungnya.
"Hanya orang iseng, Sasuke. Tenanglah."
Pip. Pip.
Kali ini Sasuke menerima SMS dari si 'private number'. Sambil memeluk bantal hati bergambar Mayu-chan, ia membacanya. Mata onyxnya menelusuri kata demi kata yang tertera di layar.
'Sasuke… tolong aku.
Disini gelap. Aku tidak bisa keluar.
Tolong aku, Sasuke.'
Glek.
Entah sudah berapa kali Sasuke menelan ludah. Sial. Siapa sih yang berani-berani mengusilinya.
'Apa Naruto? Pasti Naruto!' batin Sasuke yakin.
Lamunan Sasuke buyar ketika mendengar kembali dering handphonenya. Ia sambar handphone-nya itu.
"Naruto! Permainanmu tidak lucu, tau!" teriak Sasuke.
"…" tidak ada suara dari seberang telepon.
"Hallo?"
"Saa..suu.. kee.." bulu kuduk Sasuke berdiri mendengar suara dari seberang telepon. Suara wanita yang terkesan dalam namun mengerikan. Sasuke kembali meneguk ludah, keringat dingin meluncur dari dahinya, entah mengapa ia tidak bisa merespon si lawan bicara.
"Hiks… hiks.." terdengar suara tangisan.
"Tolong aku Sasuke…"
Cepat-cepat Sasuke memutuskan sambungan dan melempar handphonenya jauh-jauh.
Ia merutuki nasip sialnya hari ini.
'I want you… I need you..'
Kembali handphone Sasuke berdering dan merinding mendengar nada dering tersebut. Ia menutup telinganya erat-erat seraya berdoa semoga keluarganya cepat pulang.
Suara dering telepon berhenti, Sasuke membuka telinganya, namun suara tangisan kembali terdengar, bukan dari handphone-nya melainkan dari kebun belakang rumah. Kamar Sasuke terletak tepat di depannya, sehingga dari jendela kamar Sasuke bisa melihat jelas kebun tersebut.
'Hiks… hiks..' suara tangisan berasal dari dalam sumur. Sumur tua yang sudah lama kering.
Oh my goat! Jerit Sasuke dalam hati. Apa jangan-jangan muncul sosok hantu dari dalam sumur seperti video yang ditontonnya kemarin? Sasuke parno. Parno tingkat akut. Ia mulai gemetaran, giginya bergemeletuk, dan keringat mengucur deras.
Ia butuh bantuan. Sebuah pertolongan dari seorang yang professional.
Ia berlari dan menyambar handphone yang tadi dilemparnya, memencet nomor yang pertama kali diingatnya.
Naruto Uzumaki.
Tut… Tut…
'Kumohon… angkat, Naruto.' Batin Sasuke. Selang beberapa detik, Naruto menjawab teleponnya.
"Hallo."
"Naruto.. cepat kesini! Sepertinya ada hantu dirumahku." kata Sasuke bertubi-tubi.
"…"
"Hallo… Naruto, kau masih disana? Jawab aku!"teriak Sasuke frustasi.
"Kau sakit Sasuke? Jangan-jangan gara-gara kebanyakan makan ramen?"
"EErrr…Bukan, aku serius! Dia ada di dalam sumur tua yang ada di kebun belakang," jelas Sasuke sambil menggigit kuku jarinya.
"Kau serius?"
"Kapan aku pernah bercanda, Naruto?!"
"Hantu di dalam sumur? Jangan-jangan Sadako. Apa kau pernah menonton The Ring?"
"Sadako? The Ring? Tidak, aku tidak pernah menontonnya." Sasuke yang takut hantu jelas tidak pernah menonton film tersebut.
"Baiklah kalau begitu, aku berangkat sekarang. Lebih baik kau mengambil garam, Sasuke. Menurut kyai Oro, garam adalah penangkal hantu yang baik," jelas Naruto. Sepertinya Naruto juga penggemar acara 'memang dunia lain'.
Setelah menelpon Naruto, Sasuke berjalan ke dapur dan mengambil setoples garam.
Dari arah sumur, Sasuke kembali mendengar rintihan dan tangisan yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.
'Jangan takut, Sasuke. Ada garam disisimu.' Sasuke menggenggam toples yang berisi garam dengan erat dan melangkah ke kebun belakang.
Tap. Tap. Tap.
Tanpa sadar ia sudah sampai di kebun tak terawat itu. Rumput dan ilalang yang tumbuh liar menambah kesan angker. Angin malam yang berhembus menyebabkan dahan-dahan bergesekan dan menimbulkan suara-suara aneh.
Kriet.. kriet..
"Sasuke, kaukah itu?" tanya suara dari dalam sumur. Tubuh Sasuke mendadak tidak bisa digerakan ketika ia melihat tangan ramping dan putih menjulur keluar dari dalam sumur, persis seperti video yang ditontonnya kemarin malam.
Tangannya bergetar ketika membuka tutup toples. Sambil berteriak, ia melempar garam ke arah sumur dengan membabi-buta.
"Pergi kau hantu… pergi!"
Sepertinya tidak mempan, karena tangan satunya kembali terjulur dan memegang tepian sumur. Tiba-tiba kakinya lemas dan membuatnya jatuh terduduk.
"Sasuke… Sasuke…" suara itu masih memanggil-manggilnya.
Sasuke membalikkan badan dan merangkak menjauhi sumur.
Hap.
Langkahnya tiba-tiba terhenti. Sebuah tangan ramping dan dingin mencengkram erat pergelangan kakinya. Ia terlalu takut untuk menoleh ke belakang.
Sasuke parno, menjerit berkali-kali dan melupakan sifat dingin yang diagung-agungkannya selama ini. Ia berusaha menendang-nendang sosok yang mencengkram pergelangan kakinya.
"Pergi kau! Pergi… Aku belum mau mati. MAYU-CHAANN! Tolong aku!" teriak Sasuke.
Apakah ini akhir dari hidupnya? Mati karena dimakan hantu? Sasuke memejamkan mata, pasrah menerima akhir hidupnya.
.
.
.
"Lho, Sasuke… apa yang kau lakukan disini?"
Matanya membuka lebar mendengar suara yang sangat ia kenal. Setitik air mata keluar dari ujung matanya. Sebuah rasa syukur memenuhi relung hatinya.
"Oka-san.. tolong aku," kata Sasuke sambil menjulurkan tangannya.
Disamping ibunya, berdiri Itachi, Naruto dan ayahnya. Mereka berempat menatap Sasuke dengan pandangan tidak percaya. Sasuke yag sangat OOC itu. Bahkan mulut Itachi sampai terbuka lebar.
"Hinata, apa yang kau lakukan disini?"
'Hinata?'
Pertanyaan Itachi langsung membuat Sasuke menoleh ke arah belakang. Sasuke melotot tidak percaya. Rupanya sosok yang dikira hantu selama ini adalah Hinata, tetangga sekaligus teman masa kecilnya. Sasuke malu bukan kepalang, dari ekor matanya dapat dilihat Naruto berusaha menahan tawa.
Sial. Benar-benar sial!
Buru-buru ia berdiri dengan wajah sedikit terangkat dan menepuk-nepuk bajunya yang kotor, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Hehehe… tadi aku tidak sengaja jatuh ke dalam sumur, baa-san," jelas Hinata.
Sasuke yang mendengarnya ingin sekali menjedukkan kepalanya.
"Apa?! Apa kau terluka, Hinata?" tanya Itachi.
"Emm… hanya luka kecil dibagian lutut."
"Kalau begitu harus segera diobati," ucap Mikoto.
Mikoto mengajak Hinata pergi namun buru-buru Sasuke mencegahnya.
"Aku ingin bicara dulu dengan Hinata, kaa-san."
"Baiklah, tapi jangan lama-lama."
Setelah keluarganya serta Naruto pergi kedalam rumah, Sasuke menatap Hinata tajam.
"Jadi kau yang menelponku tadi?"
Hinata menggangguk.
"SMS tadi?"
Kembali Hinata menggangguk.
"Tapi kenapa kamu atur menjadi private number, Hinata?" tanya Sasuke frustasi. Tangannya gatal ingin menjambak rambutnya.
"A-aku tidak tahu, Sasuke. Mu-mungkin Hanabi-chan yang merubahnya."
Jawaban Hinata membuat Sasuke menepuk jidatnya, "Kemudian kenapa kau bisa jatuh ke dalam sumur? Dan kenapa kau bisa ada di dalam rumahku?"
"Ee.. tadi Usa-chan…," kata Hinata sambil mengelus-elus kepala kelinci putih, "..lari kebelakang kebun dan aku berusaha mengejarnya. Mungkin karena tidak hati-hati aku terpeleset dan jatuh ke dalam sumur. Sedangkan kenapa aku ada di sini,karena ibumu menyuruhku untuk menemanimu selama beliau pergi," jelas Hinata panjang lebar.
Sasuke mengangguk-angguk.
"Baiklah, dan soal aku yang berusaha menendangmu aku minta maaf."
"Iie. Tadi tendanganmu tidak mengenaiku sama sekali 'kok."
"Ayo aku obati lukamu," Sasuke tersenyum dan menarik tangan Hinata. Sedangkan Hinata sendiri sedang blushing berat. Wajahnya memerah bagai kepiting rebus.
"Sasuke…"
"Apa?"
"Terimakasih tadi mau menolongku," kata Hinata.
"Apa maksudmu?" Sasuke tidak mengerti perkataan Hinata barusan. Menolong? Bukannya ia malah menendang-nendang Hinata?
"Bukannya tadi kau memberikan tali padaku?" tanya Hinata.
"Tali?"
"Iya. Tuh.. lihat masih ada di sana," kata Hinata sambil menunjuk tali yang ujungnya diikat di pohon.
Aneh. Apa jangan-jangan…
Mata onyxnya melirik ke arah sumur dan sedikit terlonjak melihat sosok berambut panjang muncul dari dalam sumur.
"Sasuke… Sasuke… ada apa?" tanya Hinata khawatir melihat wajah Sasuke yang tiba-tiba memucat.
"Ti-tidak ada apa-apa, Hinata. Sebaiknya kita segera masuk."
Hinata menggangguk dan mengikuti Sasuke masuk ke dalam rumah, sementara Sasuke untuk terakhir kalinya ia menoleh ke belakang dan mendapati sosok itu melambai-lambaikan tangannya―tangan putih dan keriput―dan tersenyum mengerikan.
Glek.
Sasuke memejamkan matanya dan ketika membuka mata, sosok itu lenyap bagaikan debu terbawa angin.
'Apa Sasuke harus menghubungi tim 'memang dunia lain' dan Kyai Oro untuk datang ke rumahnya?'
.
.
.
.
.
.
THE END
Krik..krikk… apa-apaan tu ending ceritanya?
Garing ya… jelek kah?
Maaf kalo ga sesuai selera :( Mbik uda berusaha semaksimal mungkin untuk buat cerita ini.
Tapi Mbik senang karena ada karya Mbik yg SasuHina yang tamat:D
Diharap pada para pembaca untuk meninggalkan jejak berupa review. Bisa berupa kesan, pendapat, kritik dan saran.
Don't be a silence reader, okey!
Sampai jumpa di karya Mbik laennya ya :)
