Ketika itu ia hanyalah pemuda 23 tahun yang suka menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang di sela waktu luangnya. Ketika tidak ada jadwal kuliah, ia akan datang ke club malam untuk memuaskan hasrat mudanya. Jung Yunho bahkan mengabaikan perintah ayahnya agar segera menyelesaikan kuliahnya dan bergabung di perusahaan. Yunho berpikir jika ia tidak ingin dibebani urusan pekerjaan.

Namun hari itu tidak seperti biasanya. Ayahnya mengancam akan membekukan seluruh fasilitasnya jika Yunho tidak segera menyelesaikan kuliahnya. Yunho menggerutu bahkan mengumpat di sepanjang jalan. Ia tidak terbiasa beraktivitas di hari libur. Namun karena ancaman itu, Yunho mau menemani sepupunya untuk melihat sekolah milik ayahnya.

Sebetulnya, jika ia mau Yunho bahkan bisa lebih hebat dari pemuda yang tengah berjalan di depannya

Namun ia bukanlah Kim Junsu yang terlalu serius dalam menjalani hidup. Ia bukan Kim Junsu yang selalu menuruti segala perintah orang tuanya demi bisnis. Lihatlah, ia bukan Kim Junsu yang telah sukses sebagai pengacara dalam satu tahun. Ia adalah Jung Yunho yang bersemboyan, masa bodoh dengan perusahaan.

Yunho berhenti berjalan ketika ia mendengar suara seseorang tengah bernyanyi. Mata musangnya beralih ke sosok yang tengah memainkan gitar di pelukannya. Itu adalah pertama kali ia melihat Changmin.

.

.

.

DBSK Fanfiction

Present

November with Love © Ran Hime

DBSK © Themselves

Mimi Homin Vers © Chonzakajaejae

Drama, Hurt/Comfort

Homin Slight Yoomin, YunJae

M Rated

Yaoi, OOC, Typo, etc.

.

.

.

Chapter 2

.

Yoochun menatap wajah pucat Changmin. Ia masih tidak percaya dengan penjelasan demi penjelasan yang Changmin ucapkan. Dia kah Jung Yunho yang telah membuat Changmin menangis lima tahun yang lalu. Dia kah Jung Yunho yang telah meninggalkan pemuda yang ia cintai?

"Alasan mengapa aku tidak bisa menerimamu adalah dia," ujar Changmin lirih. Matanya masih fokus ke jendela yang memperlihatkan sebatang pohon dengan dedaunan hijau, "egois jika aku menerimamu sementara aku tidak dapat melupakan Yunho hyung."

Yoochun masih terdiam. Ia semakin dalam menatap Changmin. Ia tahu Changmin tengah merahasiakan sesuatu tentang Yunho. Ia tahu Changmin tidaklah menceritakan semua hal tentang Yunho kepada dirinya.

"Jika orang yang kau maksud adalah pria kemarin, lalu kenapa kalian seolah tidak saling mengenal?" Yoochun meraih tangan Changmin.

"Aku tidak akan memaksa dia untuk bersikap seolah kami saling mengenal," Changmin menoleh, menatap wajah sedih Yoochun, " ia tidak membenciku karena kecelakaan hari itu saja sudah cukup. Aku tidak banyak berharap ketika aku tahu Yunho hyung selamat dari kecelakaan itu.

Yoochun membiarkan Changmin menarik tangannya. Ia tidak akan memaksa Changmin untuk mengatakan segalanya tentang masa lalunya bersama Yunho. Ia bisa mencari tahu sendiri tentang kecelakaan itu.

Yoochun membantu Changmin untuk kembali beristirahat. Ia menyelimuti tubuh kurus Changmin. Sedikit tersenyum sebelum ia kembali ke kantor dan meninggalkan Changmin.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Yunho memperhatikan pemuda yang sedang sibuk membetulkan rantai sepedanya. Ia tersenyum memperhatikan setiap gerak-gerik pemuda itu. Hari itu adalah hari kedua ia melihat pemuda yang bersekolah di Yayasan milik keluarganya. Yang ia ketahui dari data siswa, pemuda itu bernama Shim Changmin. Siswa pandai yang mampu mempertahankan beasiswanya selama hampir 3 tahun.

Yunho tersenyum sembari berjalan mendekati Changmin. Pemuda itu yang menjadi alasan kenapa ia selalu datang ke Sekolah Shinki setiap hari minggu. Dari informasi yang ia dapatkan dari penjaga sekolah, Changmin memang selalu menghabiskan setengah hari minggu di ruang seni untuk menyelesaikan lukisannya.

"Butuh bantuan?" seru Yunho sembari tersenyum.

Changmin mendongak, menatap wajah Yunho dengan datar.

"Yunho!" seru Yunho sembari mengulurkan tangannya, "namaku Jung Yunho!" lanjutnya sembari tersenyum.

Dengan ragu Changmin membalas uluran tangan Yunho, "Shim Changmin!"

.

Setelah pertemuan hari itu di restoran, Yunho sering kali memimpikan hal-hal bersama Changmin. Bahkan ketika ia terdiam dalam lamunan, sekelibat wajah Changmin datang. Hanya rasa sakit yang dirasakan di kepalanya, setiap kali ia sedikit mengingat hal itu.

Yunho mengambil ponselnya di meja kerjanya. Ia tidak mungkin mencari tahu sendirian tentang Changmin. Dan sepupunya adalah satu-satunya orang yang dapat membantunya.

"Junsu-ya!" seru Yunho ketika orang di seberang telepon sana menjawab.

"Ada apa Yunho hyung?"

"Bisakah kau menolongku? Aku butuh bantuanmu."

"Katakan saja."

"Shim Chamgmin!" seru Yunho sembari menjeda kalimatnya. Ia terdiam sebentar, "bisakah kau membantuku mencari informasi tentangnya? Ia bekerja di tempat Jaejoong."

"Tentu saja!" seru Junsu setelah lama terdiam menimang permintaan sepupunya.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Ini sudah hari kelima Changmin tidak masuk kerja, dan selama itu pula Jaejoong belum lagi melihat Changmin. Sejujurnya, ia ingin menjenguk salah satu pegawainya itu, namun sesuatu yang ia temukan di meja kerja Changmin membuatnya mengurungkan niatnya untuk menemui Changmin.

Jaejoong menatap selembar photo di tangannya. Di sana, di lembar photo itu nampak Changmin ketika masih SMA tengah tertawa bersama pemuda yang mirip tunangannya, Jung Yunho. Ia tidak mau berprasangka buruk, namun ponsel usang milik Changmin yang ia temukan di meja kerja Changmin pun menjelaskan siapa pemuda itu.

Walau statusnya kini sebagai tunangan Yunho, jujur saja Jaejoong tidak banyak tahu tentang masa lalu pria itu, kecuali mereka pernah kuliah di tempat yang sama.

Jaejoong menghela nafas panjang ketika ia tidak dapat menerka hubungan Changmin dengan tunangannya. Jaejoong menaruh photo tersebut lalu berjalan ke arah jendela ruang kerjanya. Dari tempatnya ia memperhatikan jalanan di bawah sana. Nampak kendaraan yang terjebak macet.

Jaejoong memegang kepalanya ketika tiba-tiba rasa sakit kembali menyerang kepalanya. Selalu saja seperti itu ketika ia melihat keramaian kendaraan. Ada apa dengan dirinya? Ada apa dengan masa lalunya? Mengapa tidak ada yang ia ingat sedikitpun tentang semua hal kecuali ketika ia baru terbangun setelah mengalami kecelakaan bersama Yunho.

Jaejoong meraih ponselnya di saku celananya. Dengan ragu ia menekan nomor telpon Yunho dan menunggu tunangannya itu mengangkat panggilan darinya.

"Yun!" serunya lirih. Mendengar suara Yunho, tiba-tiba dadanya sesak.

"Boo ... Kau baik-baik saja?" seru Yunho dari seberang ketika tidak ada lagi terdengar suara Jaejoong.

"Aku baik-baik saja!" ujarnya sembari tersenyum walau Yunho tidak mungkin dapat melihatnya, "kau sudah makan siang?"

"Ya ... Aku baru saja makan siang bersama klien."

"Yun..." Jaejoong kembali terdiam, nampak keraguan ketika ia ingin bertanya tentang Changmin, "aku merindukanmu, cepat pulang!" ucapnya urung menanyakan tentang Changmin.

Jaejoong mematikan telponnya dan kembali menatap jalanan di bawah sana.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Changmin menatap pemandangan kota seoul lewat atap rumah sakit. Pertemuannya dengan Yunho lima hari yang lalu membuatnya kian berharap akan segera meninggalkan dunia. Ia tidak berharap akan merepotkan Yoochun lebih dari ini. 7 tahun pria itu menemani dirinya, namun hanya kekecewaan yang bisa Changmin berikan.

"Dia kehilangan ingatannya semenjak kecelakaan itu."

"Kumohon Changmin! Tinggalkan Yunho. Biarkan dia hidup tanpa kau. Aku ibunya! Sudah cukup aku kehilangan Yunho selama ini."

Kalimat dari nyonya Kim kembali ternginang. Sejujurnya, ia tidak pernah bermaksud membuat Yunho menjadi anak pembangkang seperti yang ibu Yunho katakan. Ia tidak bermaksud membuat Yunho terus bersama dirinya. Namun perasaan tidak mampu berbohong dan Changmin juga menyayangi Yunho.

Changmin mengeratkan jas musim dinginnya. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan atap rumah sakit. Sekali saja biarkan ia mengenang hari-hari indah bersama Yunho. Biarkan ia melihat kenangannya bersama Yunho lima tahun yang lalu sebelum ia tidak akan mampu lagi mengingat semua.

Bukankah keinginannya cukup sederhana? Ia tidak akan memaksa keadaan agar membuat Yunho mengingat dirinya. Yunho hyung-nya sudah bahagia. Yunho hyung-nya sudah hidup lebih baik dengan pengusaha sukses. Lalu apa yang tersisa untuk dirinya? Tidak ada! Kecuali sisa waktu untuknya bertahan.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Yoochun berlari dari ruangan inap Changmin. Ia begitu kalut ketika tidak menemukan Changmin dimanapun. Ia tidak menyangka Changmin akan kabur lagi seperti dulu. Ia tidak habis pikir tentang apa yang dilakukan Changmin. Kenapa pemuda itu tidak henti membuatnya cemas. Mendengar penyakitnya kambuh lagi dan sudah sebegitu parahnya saja, ia benar-benar syok. Apalagi mengetahui jika Changmin tidak berniat melakukan perawatan.

Yoochun terengah-engah disela larinya. Ia memutari halaman rumah sakit dan memfokuskan pandangannya mencari Changmin. Dadanya terasa sesak bahkan matanya mulai terasa panas. Apakah sebegitu putus asanya Changmin hingga benar-benar tak berharap untuk sembuh bahkan hidup. Sebegitu besarkah cintanya kepada Yunho hingga ia tidak mampu menggantikan posisi Yunho?

"CHANGMIN AH ... KUMOHON KEMBALILAH!"

Yoochun terjatuh terduduk di tengah halaman rumah sakit. Sesakit itukah hati Changmin ketika ia harus kehilangan Yunho dulu? Yoochun meremas dadanya sambil meneteskan air matanya.

.

.

.

To be Continue...

.

.

Thank's to:

mochi, k. shima, Guest, kimmy ranaomi