Vocaloid © Yamaha. No commercial profit taken.
Semua judul lagu, sinetron, iklan, yang nyempil di sini bukan milik saya.
No copyright infringement is intended.
Warning lack of humor. Kesamaan ide harap dimaklumi.
"Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi."—Dee.
.
.
.
Falling in Love
by datlostpanda
#2
Akaito mengalihkan perhatian dari majalah porno di tangannya, menatap lurus adik laki-lakinya.
Kaito baru saja pulang dan langsung menghampiri kakaknya yang sedang asyik dengan koleksi buku-buku haramnya di kamar. Saat Akaito bertanya ada urusan apa, Kaito malah duduk di kursi belajar dan bercerita tentang Yuuma.
Gumiya dan Kaito pulang bersama tadi. Selama perjalanan, mereka membahas Yuuma. Sebenarnya ini agak ironis, mengingat anak lak-laki SMA normal kebanyakan membahas tentang siswi imut yang kadang mereka jumpai, tapi Kaito dan Gumiya justru membicarakan tentang Yuuma. Bukan. Bukannya mereka mau menjelek-jelekkan Yuuma di belakang, mereka bukan teman durhaka. Tapi ini justru karena mereka peduli akan masa depan asmara Yuuma.
Gumiya berspekulasi, jika Yuuma terus-menerus diam, mungkin Luka malah akan lebih dulu jadian dengan orang lain. Memang sih, selama ini Luka selalu menolak laki-laki yang menyatakan perasaannya, tapi bagaimana kalau suatu saat dia menerima seseorang? Pemikiran ini sangat logis. Mengingat Luka termasuk siswi yang banyak dikenal karena pergaulannya luas, maka sudah pasti banyak orang yang mengharapkan Luka jadi milik mereka. Dengan kata lain; Yuuma banyak saingan. Dan kebetulan, saingannya kelas berat semua.
Osuga Meito yang lebih dulu menyatakan cinta pada Luka adalah salah satu pentolan dari kelas 2-5. Wajah Meito tidak cantik seperti para personil boyband yang sedang digilai gadis abg masa kini. Sebaliknya, ia punya paras maskulin dan badan yang sangat lelaki. Jika ada casting model celana dalam laki-laki untuk remaja, pastilah Meito keluar sebagai juara.
Gumiya diam-diam iri dengan kekuatan otot lengan Meito, karena dia belum pernah sekali pun menang melawan Meito dalam adu panco. Pemuda itu pun bertanya-tanya, apakah Meito mendapatkan bentuk tubuh atletis itu dengan latihan angkat barbel atau justru angkat beras sekarung? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Sekarang bayangkan, jika Meito yang terbukti pejantan tangguh saja ditolak dengan kejam, bagaimana dengan yang lain—dalam hal ini, Yuuma?
Yuuma adalah pemuda berperawakan sedang-nyaris-ceking. Wajahnya nanggung—terlalu ganteng untuk dibilang jelek, tapi juga terlalu jelek untuk dibilang ganteng. Dibandingkan dengan semua yang Meito punya, tampilan fisik Yuuma jelas kalah jauh. Dengan kata lain, secara data, Yuuma kalah tanding. Tidak punya kesempatan.
Memang sih, ada yang bilang; Menilai kualitas buku hanya dari sampulnya adalah hal bodoh. Tapi ini adalah realita dimana hal bodoh sering terjadi.
"Kalau Luka sampai jadian dengan orang lain, Yuuma pasti gantung diri," ucap Gumiya.
Kaito kemudian membayangkan headline koran pagi yang penuh dengan berita kematian Yuuma; Patah Hati, Siswa Crypton Gakuen Nekat Gantung Diri. Dia mengangguk miris.
Harus Kaito akui, meski punya kebiasaan melakukan hal-hal sinting, Gumiya adalah orang yang pemikirannya paling logis di antara semua teman sekelas Kaito. Dia bahkan mampu bersikap tenang di saat semua orang terjebak dalam kepanikan. Misalnya saja dua minggu lalu, ketika teman-teman sekelasnya stress dan frustasi dengan ulangan Fisika dadakan dari Pak Guru Kiyoteru, Gumiya tetap duduk santai. Dia bahkan masih bisa kentut dengan damai.
"Lalu, kita harus apa?" tanya Kaito. Polos.
"Sebagai teman yang baik, kita harus bantu, dong!"
"Bantu mendekatkan Yuuma dengan Luka, begitu?"
"Jelas."
Tapi, ada satu masalah kecil. "Bukannya kau dan aku sama-sama tidak pintar dalam urusan mendekati wanita, ya?"
…
Hening.
Langkah mereka berhenti. Angin berhembus menerbangkan rambut mereka berdua. Dramatis.
Benar juga. Kalau Gumiya dan Kaito tahu bagaimana caranya merebut hati seorang gadis, mana mungkin mereka sekarang memegang status jomblo forever alone. Realita memang kejam.
Setelah hening panjang yang melantun, Gumiya tiba-tiba saja menoleh.
"Bagaimana kalau minta bantuan kakakmu saja, Kai?"
Dan di sinilah Kaito berakhir. Kamar kakaknya. Duduk manis sambil menceritakan konflik batin yang dialami Yuuma. Tentu saja Kaito melebih-lebihkan ceritanya di beberapa bagian supaya ada efek dramatis. Misalnya, setiap kali Yuuma berpas-pasan di koridor dengan Luka, pemuda itu langsung mematung di tempat. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat karena luapan rasa gembira yang tak dapat dilukiskan.
Di versi Kaito, Yuuma diceritakan kena serangan ayan.
Ya, kadang Kaito memang bisa jadi teman paling bejat.
"Jadi," Akaito bangkit dari posisi berbaring, "kau memintaku memberi saran supaya temanmu itu bisa berkenalan dengan gadis yang ia suka?"
Kaito mengangguk.
Akaito berpikir sejenak, kemudian berdiri. "Yah, aku memang sudah mengira orang tampan yang kaya akan pengalaman cinta sepertiku, cepat atau lambat, akan dimintai tolong hal-hal seperti ini."
Kaito langsung menatap kakaknya dengan hina.
Sejujurnya, kalau tidak benar-benar kepepet, Kaito juga tidak mau minta tolong pada Akaito. Bukan karena dia benci atau apa, tapi Kaito tidak tahan dengan sifat narsis kakaknya yang sudah akut. Kalau tidak ingat kualat, Kaito ogah mengaku punya hubungan darah dengan Akaito. Malu-maluin.
"Tapi, satu-satunya orang yang bisa dimintai tolong cuma Akaito," ucap Gumiya beberapa saat sebelum mereka berpisah di persimpangan jalan.
Benar. Yang bisa dimintai tolong hanya Akaito.
Dari sekian banyak orang yang Kaito kenal, hanya Akaito-lah yang paling master dalam urusan menggaet hati perempuan. Kaito sendiri sebetulnya enggan mengakui ini, tapi kakaknya itu memang punya semacam kharisma yang hanya dapat dilihat para perempuan. Dengan kharisma itu pula, Akaito dapat dengan mudah jalan dengan tiga gadis berbeda hanya dalam kurun waktu seminggu.
(Semacam klarifikasi. Sebenarnya, istilah kharisma di sini dibuat sendiri oleh Akaito untuk menyebut pesona yang melingkupi dirinya. Sebagai adik yang sudah lelah dengan kelakuan kakaknya, Kaito lebih senang menyebut itu dengan susuk.)
Pernah suatu hari ada seorang gadis datang ke rumah sambil menangis dan minta pertanggung jawaban Akaito. Tangannya mengelus perut yang membuncit. Hari itu, Akaito hampir saja tewas dicincang ayahnya karena sudah menghamili anak orang. Tapi insiden berdarah itu tidak terjadi karena setelah diselidiki lebih jauh, rupanya yang ada di perut gadis itu adalah bola basket. Ketika orangtua Akaito bertanya mengapa dia melakukan hal itu, gadis itu menjawab ini karena ia sudah lama suka dengan Akaito dan ingin sekali jadi kekasihnya.
Kaito sendiri tidak mengerti, kenapa gadis itu mau nekat melakukan hal seperti itu? Memangnya bagian mana dari Akaito yang memesona? Baginya, Akaito cuma seorang narsis yang mengerikan. Tidak lebih. Ya, memang sih, dulunya Kaito juga sempat ngidol kakaknya—tapi itu masa lalu.
Akaito berjalan ke meja belajar untuk mengambil secarik kertas kosong dan pena, kemudian menuliskan sesuatu di sana. Kaito memperhatikan. Selang beberapa saat, Akaito kemudian memberikan kertas tersebut pada adiknya.
"Nih."
"Ini apa?"
"Untuk temanmu. Aku menuliskan cara-cara yang biasa aku gunakan untuk berkenalan dengan seorang gadis."
Kaito tersenyum lebar. Rupanya kakaknya tidak seburuk yang ia duga. "Terima kasih, Kak!"
Akaito hanya membalas dengan gumaman tak acuh kemudian kembali meraih majalah porno yang tadi sempat terabaikan. Namun, belum sampai semenit, tiba-tiba saja Akaito sudah menoleh lagi. "Hei, Kai."
"Kenapa, Bang?"
"Minggu di rumah, 'kan?"
Kaito teringat akan janji menonton pertandingan voli dengan kawan-kawannya. Dia menggeleng. "Mau ke sekolah. Klub voli ada sparring. Mau nonton. Kenapa?" pemuda itu agak sedikit heran. Selama ini, kakaknya lebih rajin mengomentari motif kolor yang Kaito kenakan ketimbang menanyakan jadwal kegiatan hariannya.
"Hari Minggu ada teman kampus Abang mau ke sini, balikin buku. Masalahnya, Sabtu dan Minggu, Abang pergi," jelas Akaito. Dan Kaito langsung teringat bahwa kakaknya menjadi panitia dalam OSPEK Jurusan di kampusnya dan harus mengikuti acara yang digelar selama dua hari satu malam tersebut. "Tadinya Abang mau minta kamu buat diam di rumah. Tapi, karena kamu bilang mau pergi, Abang suruh orangnya datang hari Rabu aja."
Kaito mengangguk saja dan membiarkan kakaknya meraih ponsel di nakas. Sementara itu, ia sibuk memasukkan kertas yang tadi diberikan Akaito. Mungkin setelah ini, dia akan menghubungi Gumiya. Setelah itu, mereka berdua akan menyuruh Yuuma untuk mengamalkan isi catatan sakti tersebut.
"Ngomong-ngomong, Kai," Akaito kembali bicara, "tumben mau keluar hari Minggu."
Akaito adalah orang yang paling tahu bahwa Minggu adalah harinya Kaito hibernasi. Dia cuma bangun dari tempat tidur untuk makan dan ke kamar kecil, menunaikan panggilan alam. Adalah hal yang asing bagi Akaito mendapati adik semata wayangnya mau bepergian di hari libur.
"Iya," sang adik menjawab minimalis. "Diajak Gumiya nonton sparring klub voli."
"Sparring sama siapa, sih?" Akaito adalah lulusan Crypton Gakuen. Kebetulan, pernah juga gabung dengan klub voli, meski hanya setahun. Adiknya sampai rela mengorbankan hari libur, bukankah artinya lawan yang dihadapi memang kuat?
"Utau Gakuen."
Alis Akaito naik satu. "Itu sekolah Meiko, 'kan?"
"…iya…." Kaito menunduk, tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Meiko adalah teman pertamanya, gadis yang pertama ia suka, gadis yang pertama ia nyatakan cinta, sekaligus gadis pertama yang menolaknya. Sampai sekarang, Kaito masih bisa merasakan pahit dan getir penolakan yang ia terima. Iya, selama ini Kaito menyandang predikat sebagai Jonatan—Jomblo Nyangkut di Gebetan. Perih.
Akaito terdiam. Dia tahu semua yang terjadi pada adiknya, termasuk perkara Meiko ini. Ia pun menaruh kembali ponsel di nakas. "Kai—"
"Tenang, Bang. Aku belum tentu ketemu Meiko, kok. Yang datang cuma anak-anak klub voli." Kaito berusaha melupakan fakta bahwa gadis itu aktif di klub voli sewaktu SMP.
Akaito hanya menatap, bungkam.
"Lagi, kalaupun ketemu, ya bukan masalah. Sudah hampir dua tahun. Aku juga sudah move on, kok. Sudah lama banget move on." Kaito menoleh ke jendela kamar kakaknya yang belum tertutup tirai. Semesta mulai menghitam.
Semesta berkata lain.
[to be continued]
balasan review (bales di sini aja ya, karena ini MC dan saya takut nyepam inbox kalian wwww)
kindovvf: hehehe makasih, nggi. tapi ini ke depannya nggak bakal humor lagi, piye? :')))) thanks udah mampir yaaa /o/
reynyah: untuk penyebutan, yang betul majas hiperbola. saya pake suffix -is karena yang saya maksud hiperbol-nya, jadi menyatakan sifat berlebihan. :')) sudah di-update. makasih banyak review-nya :))
Rini Desu: waaahh sayang banget, saya KaiMei shipper. Jadi, ya, saya akan pasangkan Kaito dengan Meiko. chapter ini... yah, seperti yang diliat, pemeran utamanya Kaito. ke depannya juga emang bakal Kaito sih, karena posisi dia netral. jadi, sudut pandang dia paling enak buat digunain. makasih udah nyempetin mampir (:
Hana Shianata: makasih banyak. sudah diapdet. semoga masih menghibur :D
Kuzuryuu: uwaaaahh m-makasih / /malu duh, kamu suka Gumiya, ya? maaf ya, dia di sini hina banget. eh, semuanya hina, sih. pokoknya maafin saya karena bikin mereka ngenes orzorz corethabisnyadiriinitakpuaskalautidakmenistakanmerekacoret orzorzorz sudah di-update. makasih banyak review-nya :)))
SyifaCute: saya nggak masukin Miku ke sini. kalaupun ada, saya hanya akan jadikan dia cameo hehehe sorry ;) untuk masalah siapa yang cocok sama dia, yaa… karena Miku sendiri dirilisnya single dan tanpa counterpart, saya rasa dia bisa dipasangkan sama siapa aja. mengenai siapa yang paling cocok, itu tergantung selera pribadi kamu. sadly to say, but I'm not her fans, so I don't pay attention to her ;;;;; makasih review-nya :))
kritik dan saran yang membangun amat sangat dinanti.
sign,
datlostpanda
EDIT: ada error waktu save doc. jadi beberapa kata ada yang otomatis ganti orzorzorz
