A/N : To Nilza : Thank you very much for your advice. Don't worry, I'm not that kind of author who always beg for review since I write to express, not to impress XD

I do not own Boboiboy


Friends of Another Dimension, Teman yang Tak Kasat Mata

Rasa kesepian mungkin sudah menjadi bagian dari hidup Boboiboy.

Tidak. Bocah berumur tujuh tahun itu bukanlah seorang anti social, yang selalu menyendiri menjauh dari kerumuman orang banyak. Juga bukan seorang yang tak disukai, karena hampir semua siswa dan guru di sekolah mengakui ketampanan dan kecerdasan yang dimiliki anak itu.

Hanya satu yang membuat mereka merasa janggal saat berada di dekatnya ; Ia selalu berbicara sendiri.

Awalnya, para siswa di sana menganggap Boboiboy sedang bernyayi atau membaca pusi sendirian di sudut sekolah ketika waktu istirahat. Tapi lama kelamaan mereka sadar, kata-kata yang diucapkan anak itu bukanlah berupa sajak atau syair lagu, melainkan berupa percakapan. Ya, benar. Percakapan yang seharusnya dilakukan oleh dua orang atau lebih.

Masalahnya, mereka tidak pernah dapat memergoki dengan siapa bocah itu bicara. Bukan dengan hewan, bukan dengan tumbuhan, juga bukan dengan manusia. Hanya udara kosong.

"Aku sedang bermain dengan mereka." Boboiboy memberitahu ibunya suatu hari ketika sang wali kelas, dengan sengaja, memanggil orang tuanya demi memperjelas kelakuan aneh muridnya di ruang guru.

"Mereka siapa?"

"Teman-temanku."

Ibunya memegang pundaknya dengan lembut. "Dimana mereka sekarang, Sayang?"

Boboiboy menggeleng sambil cemberut. "Sedang bersembunyi. Mereka tidak suka dilihat orang lain."

Entah sejak kapan bocah itu mulai berbicara sendiri. Dari pengamatan yang dilakukan oleh orangtuanya, Boboiboy pada mulanya terlihat tersenyum dan tertawa sendirian ketika umurnya belum mencapai dua tahun, ketika mereka sedang menonton televisi bersama, tepatnya. Kemudian pada saat berusia lima tahun, anak itu hampir tidak akan makan sebelum melemparkan beberapa sendok nasi dan potongan wortel kesamping dengan riang, seolah-olah ia sedang bermain perang makanan dengan seseorang. Dan ketika malam tiba, Boboiboy akan memilih tidur agak merapat ke tepi kasur super king size nya, memberikan ruang yang kira-kira cukup lebar untuk tiga-empat anak berbaring disana.

Ayahnya tidak pernah memusingkan hal itu ; terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor untuk memperhatikan tingkah laku putra satu-satunya.

Barulah saat usianya mencapai enam tahun, seminggu sebelum ulangtahunnya yang ke tujuh, sesuatu yang membuat orangtuanya bergidik terjadi.

Ibunya baru saja pulang dari berbelanja ketika melihat Boboiboy sedang berjongkok di bawah meja tamu sambil tertawa cekikikan. Rasa penasaran tinggi memaksanya untuk mendekati anak itu dan bertanya.

"Apa yang kau lakukan disini, Sayang?"

"Ssstttt … " bocah itu langsung meletakkan telunjuk di bibir dengan wajah serius, memberi isyarat untuk diam. "Aku lagi main petak umpet."

Mata ibunya langsung membesar, kaget. Ini bukan pertamakalinya Boboiboy bertingkah laku aneh. "Dengan siapa?"

"Teman-temanku. Ibu jangan disini." anak itu berbisik cepat, sedikit panik. "Nanti mereka bakal menemukanku."

Beberapa siswa perempuan yang hobi membaca kisah fantasi percaya Boboiboy sedang berbicara dengan makhluk tak kasat mata ; seorang peri. Beberapa siswa lelaki yang lebih berani mengatakan anak itu bisa berkomunikasi dengan hantu. Merasa percaya dengan teori masing-masing, para murid itu berebutan ingin berkenalan dengan teman-teman yang sering dibicarakan Boboiboy.

Namun seiring usia yang bertambah, pikiran rasional dan logika mereka juga mulai tumbuh. Tidak ada hantu, tidak ada peri.

Hanya saja, Boboiboy tetap ngotot mempertahankan eksistensi akan teman-temannya.

"Mereka itu nyata!" teriaknya pada Ahmad, salah satu teman sekelasnya. Ia telah berusia sepuluh tahun waktu itu.

"Bodoh! Kau cuma mengkhayal! Hantu itu tidak ada."

"Mereka bukan hantu! Mereka teman-temanku!"

"Hahaha … teman, katamu?! Tunjukkan wajah mereka sekarang juga kalau mereka memang ada." Ahmad menantangnya.

"A-Aku tidak bisa," ucap Boboiboy. Keraguan terdengar di nadanya. "Mereka pemalu."

"Kalau begitu kau pembohong."

"Aku bukan pembohong. Lihat saja, nanti kau juga bakal percaya."

Siangnya, ketika para siswa sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah bersama-sama, Ahmad –anak yang tadinya berseteru dengan Boboiboy- baru saja akan menyeberang jalan besar ketika ia secara tiba-tiba berteriak kesakitan. Jarinya menunjuk sesuatu tak terlihat didepannya. Matanya melotot dengan ngeri sambil mengibaskan kedua tangan keatas, seperti sedang mengusir lalat. Beberapa anak perempuan memekik ketakutan, mengira anak itu sedang kesurupan. Selama tiga menit jeritannya bercampur dengan hiruk-pikuk keramaian kota hingga akhirnya anak itu berlari melintasi jalan besar – tidak menyadari adanya sebuah sedan hitam yang meluncur dengan kecepatan tinggi mengarah kepadanya.

Jelas sekali Boboiboy tidak dapat disalahkan atas peristiwa kecelakaan itu. Lagipula, ia tidak ada di TKP pada saat itu terjadi. Tapi semua murid sudah terlanjur percaya kejadian itu memiliki hubungan erat dengan dirinya. Terlepas dari apakah hantu itu ada atau tidak, tidak ada lagi diantara mereka yang berani berurusan dengan Boboiboy.

Pada saat ulangtahunnya yang keduabelas, ia benar-benar dikucilkan di sekolah.

Tidak memiliki teman di sekolah, dijauhi hampir oleh seluruh murid serta dianggap gila oleh sebagian besar orang bukanlah merupakan hukuman terberat baginya selama teman-teman tak kasat matanya ; Halilintar, Taufan, Api dan Air – begitu ia memanggil mereka - tidak pernah meninggalkan sisinya.