Chapter 2
Jaejoong the Secret Admirer
Tatapan mata Jaejoong bertemu dengan Yunho. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya yang membeku. Ia bahkan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun, lidahnya ikut kelu. Hatinya terasa sakit saat ia memandang pria di hadapannya itu.
"Mengapa kau belum tidur? Apakah kalian masih belajar?" tanya Yunho dengan ekspresi datar.
Jaejoong memerlukan beberapa detik untuk mengambil kembali kendali atas tubuh dan pikirannya. "Aku merasa haus."
"Oh." Yunho berbalik dan mengambil sebotol air minum dari dalam lemari es untuk diberikan kepada Jaejoong. "Bawalah air ini ke kamar!"
Tangan Jaejoong bergetar saat menerima botol air itu dari tangan Yunho. "Terima kasih, Paman." Ia terlihat sangat lesu.
"Kau terlihat sangat kelelahan. Tidurlah agar besok kalian bisa belajar lagi! Selamat malam!" Yunho pun meninggalkan Jaejoong untuk pergi ke kamarnya.
Setelah kepergian Yunho, Jaejoong masih berdiri di tempat yang sama. Ia tidak bisa menahan air matanya. "Ia sudah memiliki seorang kekasih." Hatinya terasa sangat sakit. Yunho adalah cinta pertamanya. Pengalaman pertamanya untuk jatuh cinta terasa begitu menyedihkan.
.
.
.
Jaejoong terbangun dengan rasa sakit di kepalanya. Tubuhnya terasa sangat lemas dan tak bertenaga. Ia merasa tubuhnya seperti melayang di atas awan.
"Apakah kau sudah bangun putri tidur?" Junsu berdiri di samping Jaejoong yang masih berbaring di atas tempat tidur. "Lihatlah jam berapa sekarang!"
Jaejoong bangkit dengan posisi duduk. Ia menggosok-gosok matanya. Ia merasakan kepalanya berdenyut sakit. "Memangnya jam berapa sekarang?"
Junsu menyodorkan jam weker tepat ke hadapan wajah Jaejoong. "Pukul satu siang."
Jaejoong membelalakkan matanya. Ia memandang jam weker tersebut. Apakah ia tidur selama itu? Ia pun kemudian berlari ke kamar mandi.
.
.
.
"Kau beristirahat saja hari ini." Junsu memasukkan termometer ke dalam mulut Jaejoong. "Aku bisa belajar sendirian untuk hari ini."
"Jun-chan, aku tidak sakit." Jaejoong mencoba bangun, tetapi Junsu mendorongnya untuk kembali berbaring.
"Aku tidak ingin kau sakit karena terlalu lama belajar. Jangan sampai kau sakit pada saat ujian." Junsu sangat peduli kepada Jaejoong. Jaejoong adalah orang yang sangat berharga baginya. "Apakah aku perlu memberi tahu ibumu bahwa kau sakit?"
Jaejoong menggeleng. "Jangan! Ibuku pasti akan merasa khawatir dan menjemputku untuk pulang. Jika aku pulang, bagaimana dengan dirimu?"
"Enak ya punya seorang ibu." Tiba-tiba Junsu merasa sedih. Ia merasa iri kepada Jaejoong yang masih mempunyai ibu.
Jaejoong teringat akan Yunho yang sudah mempunyai kekasih. Hatinya kembali terasa sakit. "Mungkin sebentar lagi kau akan mendapatkan ibu baru."
"Apa maksudmu?" Junsu menatap Jaejoong dengan tajam.
"Bukankah ayahmu mempunyai seorang kekasih?" Rasanya berat bagi Jaejoong untuk membicarakan hal ini.
"Ayahku bisa berhubungan dengan wanita mana pun, tetapi jangan harap aku akan merestuinya untuk menikahi wanita itu!" Junsu menyeringai.
"Mengapa? Memangnya apa salah wanita itu kepadamu?" tanya Jaejoong penasaran.
"Ini bukan pertama kalinya ayahku menjalin asmara dengan seorang wanita setelah kepergian ibuku." Junsu menghela nafas. "Semuanya berakhir dengan kekecewaan. Wanita itu tidak bisa menerima keberadaanku sebagai anak ayah. Kali ini pun pasti akan berakhir sama. Ayahku akan kembali menelan kekecewaan."
"Aku bisa menerimamu sebagai anak ayahmu," balas Jaejoong spontan.
"Hah?" Junsu tidak mengerti maksud Jaejoong. "Tentu saja kau mengakui bahwa aku adalah anak ayahku. Memangnya kau pikir aku adalah anak siapa?"
Jaejoong merasa beruntung karena Junsu tidak menangkap maksud kata-katanya. "Bagaimana jika kali ini wanita itu mau menerimamu dan menganggapmu sebagai anaknya sendiri?"
"Tidak semudah itu aku memberikan restuku. Wanita itu harus bisa mengambil hatiku terlebih dahulu." Junsu terlihat sangat angkuh.
"Kriteria seperti apa yang kau inginkan untuk pendamping ayahmu?" Dalam benaknya Jaejoong bertanya-tanya wanita seperti apa kekasih Yunho itu.
"Tentu saja seseorang yang bisa mengerti diriku, yang bisa menjadi sahabatku," jawab Junsu. "Dan aku bukanlah orang yang mudah terkesan oleh seseorang. Wanita itu akan memerlukan usaha yang sangat keras untuk meluluhkan hatiku."
Jaejoong tersenyum kecut. "Hal itu saja tidak cukup sebagai sayarat untuk menjadi pendamping ayahmu. Yang pasti ayahmu harus mencintainya."
Junsu mendecak. "Tentu saja. Bagaimana bisa ayahku menikahi wanita yang tidak ia cintai?"
Jaejoong merasa bahwa tidak mungkin bagi dirinya untuk mendapatkan cinta Yunho. Ia tidak ingin membicarakan hal ini lagi. "Jun-chan, aku ingin tidur."
.
.
.
Jaejoong sudah merasa segar pada sore hari. Ny. Jung membuatkannya sup ginseng agar ia bisa mendapatkan kembali tenaganya.
"Makan yang banyak agar kau segera pulih dan bisa belajar lagi!" Ny. Jung memerhatikan Jaejoong yang sedang menyantap sup buatannya.
"Terima kasih atas sup ginsengnya, Nek! Maafkan aku karena aku telah merepotkan nenek!" Jaejoong merasa tidak enak kepada Ny. Jung.
"Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Kau sudah seperti cucuku sendiri. Aku sangat senang memasak untuk keluargaku." Ny. Jung tersenyum sambil membelai kepala Jaejoong.
"Ehem, mengapa aku tidak dibuatkan sup juga?" Junsu berpura-pura merasa iri.
"Kau kan tidak sakit, Jun-chan," tatap Ny. Jung.
"Kucari-cari di bawah, ternyata ibu ada di sini." Yunho memasuki kamar Junsu. Ia mencari Ny. Jung.
Jaejoong segera memalingkan wajahnya. Ia sedang tidak ingin melihat Yunho. Jika ia melihat wajah Yunho, ia akan teringat akan percakapan Yunho di telepon semalam.
Yunho melihat putrinya belajar sendirian di meja belajar, sedangkan Jaejoong berbaring di atas tempat tidur ditemani oleh Ny. Jung. Ia mengerutkan keningnya. "Apakah Jaejoongie sakit?"
"Ia demam." Ny. Jung menyentuh kening Jaejoong dengan telapak tangannya. "Sekarang demamnya sudah turun."
"Oh," komentar Yunho singkat.
"Ada apa kau mencari ibu?" Ny. Jung bertanya kepada Yunho. "Apa kau baru pulang?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa heran karena tidak bisa menemukan ibu di mana pun di lantai bawah. Biasanya ibu memasak di dapur, menonton drama di ruang keluarga, atau merajut di taman belakang," jawab Yunho. "Ya, aku baru saja pulang dari bandara."
"Mengapa ayah pergi ke bandara?" Junsu merasa penasaran.
"Ayah harus mengantarkan teman ayah yang pergi ke luar negeri." Yunho tersenyum-senyum membayangkan kekasihnya. Ia sudah sangat tidak sabar untuk mempertemukan Jihyun dengan Junsu. Jihyun tidak keberatan dengan keberadaan Junsu.
Jaejoong memejamkan matanya. Ingin rasanya ia terlelap sekarang juga agar ia tidak mendengar obrolan keluarga Jung mengenai kekasih Yunho itu.
"Mengapa kau baru pulang? Bukankah kau mengatakan bahwa pesawatnya lepas landas pada pagi hari?" tanya Ny. Jung. Yunho selalu bercerita segala sesuatu kepada ibunya, termasuk mengenai hubungannya dengan Jihyun. Ibunyalah yang paling mengerti dirinya.
"Penerbangannya diundur karena ada masalah teknis. Aku menemani temanku itu di bandara sampai pesawatnya lepas landas," jawab Yunho.
Jaejoong mulai membayangkan hal apa saja yang bisa Yunho lakukan bersama kekasihnya saat menunggu pesawat. Ia sudah tidak tahan lagi untuk mendengar cerita Yunho.
.
.
.
Selagi berbaring di atas tempat tidur Junsu, Jaejoong mulai memikirkan masa depannya. Ia tidak boleh terus bersedih. Mustahil baginya untuk berjodoh dengan Yunho. Ia tidak boleh seperti ini. Ia harus bangkit, apalagi ia akan menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Meskipun hatinya terasa sakit, roda kehidupan terus berjalan. Aku tidak boleh bersikap manja dan merasa seolah-olah akulah orang yang paling menderita di dunia. Semua orang pasti pernah merasakan patah hati dan yang dialami oleh orang lain mungkin lebih menyakitkan daripada yang aku alami.
Jaejoong pun bangkit dari atas tempat tidur. Ia harus bekerja keras demi menggapai cita-citanya, bukan hanya bermalas-malasan di tempat tidur. Ia pun menghampiri Junsu yang tampak serius belajar. Ia tidak boleh kalah semangat dari Junsu.
"Apakah kau sudah merasa lebih baik?" Junsu masih mengkhawatirkan Jaejoong.
Jaejoong tersenyum lemah. "Aku tidak boleh kalah darimu." Ia mulai membuka bukunya.
Junsu membalas senyuman Jaejoong. Ia merasa lega karena sahabatnya itu sudah terllihat jauh lebih sehat.
.
.
.
Malam ini Jaejoong sudah mempersiapkan air minum sebelum tidur. Ia tidak ingin kejadian kemarin malam terulang kembali. Ia tidak ingin mendengar Yunho berbicara dengan kekasihnya di telepon. Ia berharap bahwa ia bisa tidur nyenyak malam ini.
Jaejoong membuka galeri foto pada ponselnya yang dipenuhi oleh foto Yunho. Diam-diam ia mengambil foto-foto tersebut. Lebih dari seratus foto Yunho tersimpan di dalam ponselnya. Ia tersenyum melihat betapa memesonanya pria tersebut. Akan tetapi, secara bersamaan hatinya merasa sakit. Ia tidak akan pernah bisa memiliki pria itu. Aku ingin menghapus perasaanku ini kepadamu. Kau tidak mungkin menjadi milikku. Ia memutuskan untuk menghapus foto-foto tersebut sebagai langkah pertama untuk melupakan Yunho.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Junsu memutar tubuhnya yang berbaring membelakangi Jaejoong menjadi menghadap sahabatnya itu.
Jaejoong terkejut karena Junsu tiba-tiba berbalik. Ia segera menyembunyikan ponselnya di bawah bantal.
"Mengapa kau belum tidur? Ini sudah dini hari. Apakah kau tidak merasa lelah setelah belajar tadi?" Kedua mata Junsu masih setengah terpejam.
"Aku belum mengantuk karena tadi siang aku sudah banyak beristirahat." Jaejoong terlihat sedikit panik.
"Apakah kau sedang berkirim pesan dengan seseorang?" tanya Junsu. "Jangan-jangan kau berpacaran dengan seseorang tanpa memberitahuku."
"Tidak, sama sekali tidak," sangkal Jaejoong.
Junsu membuka kedua matanya dan menatap wajah Jaejoong. "Akhir-akhir ini kau terlihat mencurigakan. Pasti ada yang kau sembunyikan dariku."
Jaejoong merasa bersalah karena ia memang menyembunyikan sesuatu dari Junsu, padahal Junsu adalah sahabatnya. Namun, tentu saja ia tidak bisa memberi tahu Junsu bahwa ia mencintai ayah dari sahabatnya itu. Bisa-bisa Junsu berbalik membencinya jika Junsu mengetahui hal itu. Rahasia itu tidak boleh ada yang tahu, tidak seorang pun.
"Aku bisa memaklumi jika kau tidak ingin menceritakannya kepadaku. Walaupun aku adalah sahabatmu, pasti ada sesuatu yang ingin kau simpan sendiri." Junsu tidak bisa memaksa Jaejoong untuk bercerita kepadanya karena ia pun menyembunyikan sesuatu dari Jaejoong, walaupun ia merasa sangat penasaran. Ia merasa yakin bahwa Jaejoong sedang jatuh cinta kepada seseorang.
Maafkan aku, Jun-chan! Aku tidak bisa mengatakannya kepadamu. Jaejoong merasa bahwa ia sudah mengkhianati sahabatnya sendiri. "Jika aku berpacaran dengan seseorang, aku pasti akan memberitahumu. Kau adalah orang pertama yang akan kuberi tahu."
Junsu tersenyum kepada Jaejoong. Ia sangat menyayangi sahabatnya itu. "Kalau begitu, tidurlah! Aku tidak ingin kau sakit lagi. Perjuangan kita masih sangat panjang."
.
.
.
Jaejoong menjalani hari-harinya di rumah Junsu dengan sangat berat. Pada pagi hari dan malam hari ia makan satu meja dengan Yunho. Kadang-kadang Yunho juga datang ke kamar Junsu untuk memeriksa apakah mereka benar-benar sedang belajar atau tidak. Ia tidak bisa menghindar dari pria itu.
Pada akhir pekan Yunho tidak pergi bekerja. Ia juga tidak bisa pergi berkencan karena kekasihnya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Ia pun memilih untuk menguji hasil belajar putrinya. "Coba kau kerjakan soal-soal ini!"
Junsu memandang kertas soal yang diberikan oleh ayahnya. Ia menelan air liurnya. "Ayah, aku belum belajar sejauh ini."
Yunho duduk bersandar pada kursi dan menyilangkan kedua lengannya di dada. Hari ini ia mengenakan kemeja berwarna putih dengan beberapa kancing paling atasnya terbuka. Raut wajahnya terlihat datar. "Ujiannya akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Kau harus bisa menyelesaikan soal-soal ini."
"Ayah!" Junsu merengek. "Mengapa ayah tidak memberikan soal-soal yang lebih mudah terlebih dahulu?"
"Tidak ada tawar-menawar, Jung Junsu!" tegas Yunho. "Apa kau pikir ujian masuk perguruan tinggi itu mudah?"
Junsu tidak bisa menawar lagi. "Mengapa ayah hanya menyuruhku untuk menyelesaikan soal-soal ini?" Ia melirik sahabatnya yang duduk di sebelahnya. "Mengapa Jaejoong tidak ayah suruh juga?"
Yunho sama sekali tidak melirik ke arah Jaejoong. Tatapannya masih mengarah kepada Junsu. "Ayah yakin Jaejoong pasti bisa mengerjakannya dengan sangat cepat. Ia tidak perlu diberikan soal semudah itu."
Junsu tercengang. "Mudah? Apanya yang mudah?"
"Sudah, jangan banyak protes! Cepat kerjakan sekarang juga! Jika kau tidak bisa menjawab benar setengahnya saja, kau tidak akan mendapatkan makan siang," ancam Yunho.
"Apa?" Junsu tidak bisa menerima keputusan Yunho. "Aku tidak akan mempunyai energi untuk belajar jika aku tidak makan."
"Kalau begitu, kau kerjakan dengan benar." Yunho sama sekali tidak memberi keringanan kepada Junsu.
"Bolehkah aku meminta bantuan Jaejoong?" Junsu masih berusaha menawar.
"Tidak." Nada bicara Yunho masih terdengar sangat tegas.
Junsu mulai mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh ayahnya. Ia merasa tertekan karena Yunho mengawasi dirinya tepat di hadapannya. Ia sama sekali tidak bisa berkutik.
"Ujian yang akan kau hadapi nanti pun penuh dengan tekanan. Jangan pernah berpikir bahwa kau akan mempunyai kesempatan untuk berbuat curang! Kau akan bersaing dengan ribuan orang lainnya," ujar Yunho.
Jaejoong tidak bisa berbuat apa pun di ruangan tersebut. Ia merasa kasihan kepada Junsu. Ingin sekali ia membantu Junsu, tetapi ia tidak bisa melakukannya.
Jaejoong memandang sosok Yunho yang sangat tegas. Raut wajah pria tersebut tidak melembut sedikit pun. Pria tersebut saat ini mengeluarkan aura yang sangat menakutkan. Namun, bagi Jaejoong hal tersebut merupakan daya tarik tersendiri yang tidak ia temukan pada sosok pria lainnya. Ia sangat menyukai wajah serius pria itu, tatapan tajamnya yang mengintimidasi.
Jaejoong tidak bisa melepaskan pandangannya dari Yunho. Pria tersebut hanya berjarak satu meter di hadapannya. Ia seakan-akan terhipnotis oleh sosok pria di hadapannya itu.
"Jaejoong, mengapa sejak tadi kau terus saja memandangku?" Tiba-tiba Yunho menoleh kepada Jaejoong.
Jaejoong membeku seketika. Yunho menyadari bahwa sejak tadi ia memandangi pria itu. Tubuhnya menegang. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sambil menunggu Junsu mengerjakan soal."
"Kau bisa membaca buku atau melakukan hal lainnya," saran Yunho.
"Ba… baik, Paman." Jaejoong langsung berdiri dari tempat duduknya dan mengambil salah satu buku yang terlihat olehnya. Ia membuka buku tersebut dan berpura-pura membaca. Ia masih saja mencuri-curi pandang ke arah Yunho.
"Bukumu terbalik." Yunho membalikkan buku yang dibaca oleh Jaejoong.
Jantung Jaejoong berdetak dengan sangat kencang. Ia merasa sangat gugup. Ia telah bersikap aneh di hadapan Yunho.
.
.
.
Akhirnya Junsu menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh ayahnya selama dua jam. Ia bisa bernafas lega karena skor yang ia dapatkan lebih dari setengahnya. "Apakah ayahku membuatmu ketakutan tadi?"
"Ayahmu galak ya," komentar Jaejoong.
Junsu meletakkan lengannya pada bahu Jaejoong. "Ayahku memang terlihat menyeramkan pada saat-saat tertentu. Selebihnya ia adalah seorang ayah yang penyayang. Ia bersikap tegas kepadaku juga karena ia sangat menyayangiku. Ia tidak ingin aku menjadi anak yang manja. Kau tidak perlu merasa takut kepadanya."
Lagi-lagi Jaejoong jatuh cinta kepada Yunho. Tampak mustahil baginya untuk menghapus perasaannya begitu saja kepada pria tersebut. Lalu apa yang harus ia lakukan? Aku tidak peduli jika ia sudah mempunyai kekasih. Selama Junsu tidak memberikan restu kepada wanita itu, Paman Jung tidak akan bisa menikahi kekasihnya itu. Aku masih mempunyai kesempatan untuk mencintainya lebih lama. Selama Paman Jung belum belum menikah lagi, aku masih boleh untuk mencintainya.
.
.
.
Hari ujian pun tiba. Junsu merasa sangat gugup. Ia dan Jaejoong sedang mencari tempat duduk mereka di ruang ujian. "Huh! Mengapa tempat duduk kita berjauhan?"
Jaejoong tersenyum kepada sahabatnya itu. Ia ingin membuat Junsu merasa lebih santai. "Memangnya kenapa jika tempat duduk kita berjauhan? Seandainya kita duduk berdekatan pun, aku tetap tidak bisa membantumu. Apakah kau ingat kata-kata ayahmu?"
"Kata-katanya yang mana?" tanya Junsu.
"Jangan pernah berpikir untuk berbuat curang!" Jaejoong tersenyum saat mengatakan hal tersebut.
"Ayahku mengatakannya seminggu yang lalu, tetapi kau masih saja mengingatnya." Junsu cemberut.
Jaejoong menepuk pundak Junsu. "Ujian akan dimulai sebentar lagi. Aku harus bersiap-siap di tempat dudukku." Ia meninggalkan Junsu untuk menuju tempat duduknya. "Semangat, Jun-chan! Semoga berhasil!"
"Hey, Junsu! Kau adalah Jung Junsu, bukan?" Seorang pemuda bertubuh tinggi menempati meja di sebelah Junsu.
Mood Junsu semakin memburuk. "Shim Changmin." Mengapa ia harus duduk di sebelah Changmin? Keberadaan Changmin di dekatnya membuatnya semakin tertekan.
"Apakah kau mendaftar ke jurusan sains juga?" Changmin masih tidak percaya bahwa ia bertemu dengan Junsu di ruangan ini.
Junsu mulai merasa kesal. "Aku berada di ruangan ini. Itu artinya aku adalah salah satu peserta ujian seleksi masuk jurusan sains."
"Oh," komentar Changmin singkat. Ia tidak mau mencari gara-gara dengan Junsu.
Changmin bersekolah di SMA yang sama dengan Jaejoong dan Junsu. Ia selalu menjadi juara umum di sekolah. Satu-satunya yang bisa menjadi saingan beratnya adalah Jaejoong. Meskipun begitu, ia masih jauh lebih pintar daripada Jaejoong.
Junsu sangat tidak menyukai Changmin. Jika berada di dekat Changmin, ia akan merasa bahwa ia adalah orang terbodoh di dunia. Changmin selalu membuat mental siswa lainnya jatuh karena anak itu selalu menyelesaikan tes jauh sebelum waktu habis dan mendapatkan nilai sempurna.
Changmin mengetahui bahwa Junsu tidak menyukainya. Ia tidak tahu mengapa Junsu begitu tidak menyukainya, padahal ia merasa bahwa ia tidak pernah berbuat salah kepada Junsu. Ia berpikir mungkin Junsu membencinya karena Junsu adalah teman Jaejoong dan dirinya bersaing ketat dengan Jaejoong dalam semua pelajaran di sekolah.
.
.
.
Junsu mulai kebingungan. Semua soal yang mudah sudah ia kerjakan. Sekarang ia harus mengerjakan soal-soal yang menurutnya sulit. Ia melirik jam tangannya sekilas, waktu yang tersisa tinggal satu jam. Mampukah ia menyelesaikan soal-soal yang tersisa dengan baik?
Junsu menoleh ke sampingnya. Ia melihat Changmin duduk dengan santai sambil memainkan alat tulis. Rupanya anak itu sudah selesai mengerjakan semua soal.
Keringat yang menetes pada wajah Junsu semakin deras. Ia benar-benar tertekan saat ini. Ia merasa sangat pesimis untuk menyelesaikan soal-soal yang tersisa.
.
.
.
"Bagaimana? Kau bisa menyelesaikan semuanya, bukan?" Jaejoong dan Junsu keluar dari ruang ujian bersama-sama setelah ujian selesai.
"Rasanya aku ingin menangis sekarang, Jae." Junsu terlihat lesu.
Jaejoong mengerutkan keningnya. "Soal-soal tersebut sejenis dengan soal-soal yang kita kerjakan sebagai latihan, bukan? Kau sudah belajar dengan sangat keras selama dua minggu terakhir."
"Tiba-tiba semuanya menguap begitu saja dari kepalaku. Aku tidak mengingatnya." Junsu mengeluh. "Ditambah lagi Changmin duduk di sebelahku. Keberadaan anak itu membuatku semakin tertekan."
"Oh, ia mendaftar ke universitas ini juga. Kukira ia akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri," komentar Jaejoong."
"Jae, aku ingin menangis. Aku pasti tidak akan lolos."
.
.
.
Junsu tidak bisa hidup dengan tenang selama menunggu hasil ujian diumumkan. Ia lebih sering berdiam diri di kamarnya. Biasanya ia sangat suka berjalan-jalan dan berbelanja di mall, tetapi kali ini ia merasa sangat tidak bersemangat untuk melakukan hal tersebut.
Hasil ujian diumumkan secara online melalui halaman situs universitas dan melalui surat yang dikirimkan ke alamat masing-masing peserta. Junsu sama sekali tidak berani untuk mengakses situs tersebut. Ia merasa sangat yakin bahwa ia tidak akan diterima di jurusan sains. Ia harus mengatakan selamat tinggal kepada senior yang disukainya itu. Mungkin ia tidak akan pernah bertemu dengan seniornya itu lagi.
"Jun-chan, ada surat untukmu dari universitas." Ny. Jung masuk ke kamar Junsu dengan sebuah amplop di tangannya. "Apakah kau sudah melihat pengumumannya di situs universitas."
Junsu memandang ke luar jendela kamarnya. Di luar hujan turun rintik-rintik. Langit pun bahkan ikut menangis untuknya. Ia menggeleng. "Tanpa melihat pengumumannya pun sudah dipastikan bahwa aku pasti tidak akan lulus seleksi."
Ny. Jung duduk di samping cucunya. "Kau masih bisa mendaftar di tempat lain. Mungkin jurusan sains bukan tempat yang terbaik untukmu." Ia membelai punggung Junsu. Ia kemudian meninggalkan Junsu sendiri. Ia tidak ingin mengganggu Junsu.
Junsu memandang amplop di hadapannya. Ia merasa ragu untuk membuka amplop tersebut karena 98% ia merasa yakin bahwa ia tidak lulus ujian seleksi. Ia merobek amplop tersebut, tetapi tidak melihat isinya. Ia merasa sangat tidak bersemangat.
Tiba-tiba saja ponsel Junsu berbunyi. Jaejoong meneleponnya. Dengan lemas ia menjawab telepon dari Jaejoong. "Halo!"
"Jun-chan, apakah kau sudah mendapatkan surat dari universitas?" Terdengar suara Jaejoong yang ceria di seberang sana.
"Sudah." Junsu merasa yakin bahwa sahabatnya itu pasti lulus seleksi. Suara Jaejoong menyiratkan hal tersebut.
"Selamat ya, Jun-chan! Akhirnya kita berdua diterima di jurusan yang sama," lanjut Jaejoong.
"Aku tidak lolos, Jae. Kita tidak akan kuliah di tempat yang sama," balas Junsu.
"Apa?" Nada bicara Jaejoong menyiratkan bahwa ia sedang kebingungan. "Aku sudah memasukkan nomor peserta ujianmu pada halaman pengumuman di situs universitas dan di sana tertulis bahwa kau diterima di jurusan sains."
Junsu membelalakkan matanya. Apakah yang dikatakan oleh Jaejoong itu benar? Ia segera membaca isi surat yang baru saja ia terima. "Jaejoongie, aku lulus!" Ia ingin menangis karena bahagia. Ia melompat-lompat di atas tempat tidurnya.
.
.
.
Junsu merasa sangat tidak sabar untuk memberitahukan kabar gembira ini kepada ayahnya. Akhirnya ia bisa melakukan hal yang membanggakan bagi ayahnya. Ia menunggu ayahnya pulang di teras depan rumah.
Junsu adalah siswa yang kurang cerdas di sekolah. Ia tidak seperti Jaejoong yang ber-IQ tinggi, tetapi ia sangat berbakat di bidang seni. Ia pandai menyanyi, memainkan alat musik, dan menciptakan lagu.
Yunho tidak pernah menuntut putrinya untuk mendapatkan nilai tinggi di semua pelajaran. Ia sangat memahami bakat Junsu. Ia sangat mendukung putrinya dalam mengasah dan mengembangkan bakat tersebut. Oleh karena itu, ia merasa sangat terkejut saat ia mengetahui bahwa Junsu mendaftar ke jurusan sains.
Junsu berlari menghampiri ayahnya yang baru saja memasukkan mobilnya ke dalam garasi. "Ayah!"
Yunho melihat senyuman yang cerah pada wajah Junsu. "Putri ayah terlihat gembira sekali. Ada apa?" Ia mengetahui bahwa hasil seleksi diumumkan pada hari ini.
Junsu menggandeng lengan ayahnya. "Ayah, aku diterima di jurusan sains." Senyuman masih mengembang pada wajah Junsu.
"Benarkah?" Yunho berpura-pura terkejut. Ia sudah bisa menduganya karena Junsu terlihat sangat gembira. "Wah, selamat! Putri ayah memang hebat."
"Hehehe!" Junsu tidak henti-hentinya tersenyum.
Yunho memegangi dagunya. "Sepertinya ayah harus memberikan hadiah atas usaha dan kerja kerasmu selama ini. Apa yang kau inginkan?"
Junsu menggeleng. "Selama ini aku sudah banyak merepotkan ayah. Aku hanya ingin ayah untuk terus mendukungku."
"Tanpa kau minta pun ayah pasti akan terus mendukungmu." Yunho mengecup kening putrinya.
.
.
.
Yunho ikut berbahagia atas diterimanya di jurusan sains. Namun, ada hal yang ia pertimbangkan di dalam kepalanya. Apakah ia sudah bisa memberi tahu putrinya itu mengenai hubungannya dengan Jihyun? Ia merasa bahwa Junsu sudah semakin dewasa. Putrinya itu sudah tidak terlalu manja seperti dulu. Biasanya Junsu akan meminta banyak hadiah jika putrinya itu meraih suatu prestasi, tetapi kali ini tidak. Putri kecilnya itu sudah dewasa sekarang. Mungkin Junsu bisa lebih berpikiran terbuka dalam menanggapi hubungannya dengan Jihyun.
"Apa yang sedang mengganjal pikiranmu?" Ny. Jung duduk di sebelah Yunho yang sedang duduk-duduk di teras belakang rumah untuk berpikir.
"Bu, aku sedang mempertimbangkan untuk memberi tahu Jun-chan mengenai hubunganku dengan Jihyun." Yunho berkata kepada ibunya. "Aku tidak bisa terus menyembunyikan hal ini darinya. Cepat atau lambat ia harus mengetahuinya dan aku tidak ingin ia mengetahui hal ini dari orang lain. Aku tidak ingin ia berpikir bahwa aku sengaja menyembunyikan hal sepenting ini darinya."
"Jun-chan sedang berbahagia karena kelulusannya di jurusan sains hari ini. Tunggulah sampai ia masuk kuliah untuk mengatakan hal tersebut! Jihyun juga sedang tidak berada di negara ini, bukan? Jadi, tidak mungkin Jun-chan mengetahuinya dari orang lain." Ny. Jung memberikan sarannya kepada Yunho.
.
.
.
Seminggu sudah Junsu dan Jaejoong masuk kuliah. Namun, Junsu belum juga mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan senior yang ia sukai itu. Ia sangat sibuk dengan aktivitasnya sebagai mahasiswa baru jurusan sains. Baru seminggu masuk kuliah ia sudah kerepotan dengan tugas dan PR yang menumpuk. "Jae, aku sudah tidak tahan lagi. Semua ini bisa membuatku gila."
Jaejoong hanya bisa menyemangati Junsu. "Kita baru seminggu mengikuti perkuliahan. Kita masih dalam tahap penyesuaian diri. Lama-lama juga kau akan terbiasa dengan tugas-tugas dan PR yang diberikan oleh dosen."
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dosen bicarakan di kelas." Junsu terus saja mengeluh.
Jaejoong hanya bisa tersenyum. Ia sangat mengenal Junsu yang tidak memiliki minat di bidang sains.
.
.
.
Junsu menyandarkan tubuhnya pada dinding setelah kuliah pertama berakhir. Ia sedang menunggu Jaejoong yang sedang pergi ke toilet. Kuliah pertama saja sudah membuatnya lemas seperti ini, padahal ia masih memiliki dua kuliah lagi dan praktikum pada sore hari.
Tiba-tiba saja Junsu melihat senior yang ia sukai. Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri seniornya itu. Ia lupa bahwa ia sedang menunggu Jaejoong. Semangatnya yang padam kembali membara. Akhirnya ia bisa bertemu dengan seseorang yang menjadi satu-satunya alasan ia berada di sini. "Selamat pagi, Yoochun Sunbae! Apakah sunbae mengingatku?"
Yoochun mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak mengenal gadis di hadapannya itu.
"Aku adalah Jung Junsu, juniormu saat SMA." Junsu berusaha untuk mengingatkan seniornya itu. "Aku juga masuk jurusan sains sepertimu, Sunbae."
"Oh!" Sesungguhnya Yoochun sama sekali tidak ingat bahwa ia pernah mengenal seorang gadis yang bernama Jung Junsu.
"Jun-chan, aku mencari-cari dirimu. Mengapa kau meninggalkanku?" Jaejoong menghampiri Junsu.
"Oh, kau adalah Kim Jaejoong, bukan?" Yoochun mengingat gadis yang baru saja datang menghampirinya dan Junsu. Sejak dulu gadis itu memang sudah menarik perhatiannya. Siapa yang tidak mengenal Kim Jaejoong, yang merupakan gadis terpopuler di sekolah?
Jaejoong adalah siswi terpopuler di sekolahnya. Ia menjadi populer karena kecantikan dan kepintarannya. Jarang sekali ada gadis cantik sekaligus pintar seperti dirinya. Ia membuat murid laki-laki jatuh hati kepadanya dan murid perempuan iri. Namun, ia tidak peduli dengan hal itu. Ia tidak pernah melirik para siswa yang berusaha mendekatinya karena ia hanya menyukai Yunho seorang.
"Ya, aku adalah Kim Jaejoong. Aku tidak menyangka bahwa kita bisa bertemu di sini Yoochun Sunbae!" Jaejoong tidak terlalu mengenal Yoochun, tetapi ia mengetahui nama seniornya yang satu itu.
Yoochun terlihat senang karena Jaejoong mengingat dirinya. "Ah, aku merasa senang karena bisa bertemu lagi dengan junior-juniorku di SMA."
"Kami masih ada kelas, Sunbae! Kami mohon diri." Jaejoong berpamitan kepada Yoochun dan menarik tangan Junsu untuk pergi ke kelas berikutnya.
Junsu merasa kesal karena Jaejoong tiba-tiba menariknya pergi meninggalkan Yoochun, padahal ia belum sempat bicara banyak dengan seniornya tersebut. Belum tentu ia akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Yoochun lain kali. Namun, ia tidak bisa menyalahkan Jaejoong karena mereka memang hampir terlambat untuk menghadiri kelas berikutnya.
.
.
.
Yunho sudah memikirkannya matang-matang. Ia memutuskan bahwa ia akan memberi tahu Junsu mengenai hubungannya dengan Jihyun malam ini. Ia juga sudah berkonsultasi dengan ibunya dan Ny. Jung menyetujui keputusannya.
"Jun-chan, ayah ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Yunho meminta putrinya untuk duduk di hadapannya.
"Ada apa, Ayah? Ayah terlihat serius malam ini. Apakah ayah ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting?" Junsu menjadi penasaran.
Yunho menyesap kopi susu dari cangkirnya. Ia sudah mempersiapkan kata-kata yang akan ia ucapkan kepada Junsu. "Jun-chan, kau sudah besar sekarang. Ayah juga sudah lama menduda."
Junsu menatap ayahnya penuh curiga. "Ayah tidak perlu berbelit-belit. Apa yang ingin ayah katakan kepadaku?"
Yunho menghela nafas. Sepertinya ia tidak perlu berbasa-basi lagi. "Saat ini ayah sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita. Wanita itu adalah rekan bisnis ayah, namanya Jihyun."
Junsu menatap ayahnya dengan tatapan sedih. Ia masih belum bisa merelakan ayahnya untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Yunho melihat raut kekecewaan pada wajah Junsu. "Ayah tahu bahwa kau tidak akan begitu saja menerima hubungan kami. Pasti sulit bagimu untuk menerima orang lain untuk memasuki kehidupan kita."
Junsu menunduk. Ia juga mengerti bahwa sang ayah pasti merasa kesepian tanpa seorang pendamping. Ayahnya itu berhak untuk mencintai dan dicintai seseorang. Akan tetapi, ia masih belum rela untuk menerimanya.
"Saat ini Jihyun sedang berada di luar negeri. Setelah ia kembali, ayah akan langsung mempertemukan kalian. Ia adalah wanita yang sangat baik. Kau pasti bisa menyukainya." Yunho berharap Junsu mau memberikan Jihyun kesempatan.
Junsu memaksakan senyumannya kepada Yunho, padahal hatinya tengah bergejolak. "Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya."
.
.
.
"Jaejoongie!" Junsu menangis di pelukan Jaejoong. Ia merasa sangat marah kepada ayahnya. Pagi ini saja ia tidak mau berbicara kepada ayahnya.
Jaejoong menepuk-nepuk punggung Junsu. "Ada apa, Jun-chan? Mengapa kau menangis?"
"Ayahku memiliki hubungan dengan seorang wanita." Wajah Junsu berlinang air mata. "Ia mengatakannya kepadaku tadi malam."
Deg! Jaejoong merasakan hatinya berdenyut sakit lagi. Ia memang sudah mengetahuinya, tetapi kali ini situasinya berubah serius. Yunho sudah memberi tahu Junsu mengenai keaksihnya itu, artinya hubungan mereka sudah memasuki tahap yang serius.
"Jaejoongie, mengapa kau diam saja? Seharusnya kau menghiburku," rengek Junsu.
"Bukankah itu bagus? Ayahmu sudah lama menduda, bukan?" Jaejoong berusaha menyembunyikan perasaannya saat ini dari Junsu.
"Aku merasa takut. Aku masih belum siap untuk menerima orang lain dalam kehidupan ayahku," ujar Junsu.
"Apakah kau mengenal wanita itu?" tanya Jaejoong penasaran.
"Ia adalah rekan bisnis ayahku," jawab Junsu.
Jaejoong membayangkan sosok wanita dewasa yang sangat cantik menjadi kekasih Yunho. Pria seperti Yunho pasti memiliki selera yang sangat tinggi. Ia pasti tidak bisa dibandingkan dengan wanita itu. "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Wanita itu sedang berada di luar negeri. Jika wanita itu sudah kembali, ayah akan membawanya untuk dipertemukan denganku. Lihat saja nanti! Aku tidak akan membuat langkah wanita itu mudah. Aku akan mempersulit dirinya." Junsu bertekad.
"Apakah kau akan melakukan hal itu kepada setiap wanita yang berhubungan dengan ayahmu? Kau akan membuat semua wanita takut untuk menjadi kekasih ayahmu. Kasihan ayahmu, bukan? Ia juga pasti menginginkan seorang pendamping." Jaejoong merasa bahwa dirinya adalah salah satu wanita yang harus menghadapi Junsu.
"Jika ia memang benar-benar mencintai ayahku, ia pasti tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan terus berusaha untuk mengambil hatiku, walaupun aku terus saja mempersulitnya," ujar Junsu.
.
.
.
Jaejoong tidak bisa berkonsentrasi saat di kelas. Ia terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Junsu. Bagaimana jika wanita itu berhasil mendapatkan simpati Junsu? Jika hal itu terjadi, sudah dipastikan bahwa Yunho akan menikahi wanita itu dan habislah dirinya. Ia tidak berhak lagi untuk mencintai pria itu, bahkan ia tidak akan berhak untuk sekedar memikirkan atau memandang Yunho dari kejauhan. Apakah aku akan sanggup menghadapinya? Ia adalah ayah sahabatku. Tidak mungkin aku terus menghindar darinya untuk selamanya. Dengan melihat wajah Jun-chan saja sudah membuatku teringat kepadanya. Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak siap untuk menghadapinya. Hatinya benar-benar terasa sakit. Kepalanya mulai terasa pusing.
Jaejoong berdiri dari tempat duduknya. Ia menoleh kepada Junsu yang duduk di sebelahnya. "Jun-chan, kepalaku pusing. Aku akan pergi ke ruang kesehatan. Nanti tolong bawakan tasku jika kuliah sudah selesai." Ia pun kemudian meminta izin kepada dosen untuk pergi ke ruang kesehatan.
.
.
.
Jaejoong berbaring di atas tempat tidur di ruang kesehatan. Ia memandang langit-langit yang berwarna putih. "Apakah aku harus menyerah untuk mencintainya? Aku tidak bisa terus menyiksa diriku dengan mencintai pria yang tidak mungkin membalas cintaku. Walaupun Jun-chan tidak merestui hubungan mereka, bukan berarti Paman Jung akan berubah untuk mencintaiku. Ia akan mencari wanita dewasa lain sampai Jun-chan memberikan restu kepada wanita pilihannya itu."
Jaejoong menyadari bahwa ia masih sangatlah muda. Masa depannya masih panjang. Ia tidak boleh hanya memikirkan Yunho. Ia juga harus memikirkan keluarga dan kuliahnya. Jangan sampai masalah ini mengganggu kuliahnya. Mulai sekarang ia harus belajar untuk menata hatinya.
.
.
.
Junsu berjalan menuju ruang kesehatan dengan membawa tas Jaejoong. Ia sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu. Jaejoong adalah satu-satunya orang yang ia percayai untuk mencurahkan semua kegelisahannya. Saat ini ia sedang marah kepada ayahnya. Ia sangat membutuhkan dukungan moral dari Jaejoong, tetapi sahabatnya itu tiba-tiba sakit.
Junsu berpapasan dengan Yoochun di perjalanan menuju ruang kesehatan. Perasaan gundahnya sedikit terobati oleh pertemuannya dengan Yoochun. "Selamat siang, Sunbae!"
"Oh, kau teman Jaejoong yang kemarin." Yoochun melupakan nama Junsu. "Mengapa kau membawa dua buah tas?"
"Tas ini adalah milik Jaejoong. Aku membawakan tasnya ke ruang kesehatan," jawab Junsu. Ia merasa sedikit sedih karena Yoochun hanya mengingat Jaejoong.
Yoochun mulai khawatir. "Apakah Jaejoong sedang berada di ruang kesehatan?"
Junsu mengangguk. "Tadi di kelas tiba-tiba ia merasa pusing."
"Kalau begitu, aku akan ikut denganmu ke ruang kesehatan. Aku juga ingin melihat keadaan Jaejoong. Biar aku yang membawakan tasnya. Kau pasti kerepotan membawa dua buah tas sekaligus." Yoochun mengambil alih tas milik Jaejoong dari Junsu.
.
.
.
Jaejoong tidak menyangka bahwa Junsu akan datang bersama Yoochun. Ia merasa tidak enak kepada Yoochun karena seniornya itu sudah repot-repot mengunjunginya di ruang kesehatan.
Yoochun menunjukkan perhatiannya kepada Jaejoong. Dahulu saat SMA ia tidak mempunyai kesempatan untuk mendekati Jaejoong karena gadis itu menjadi rebutan siswa lainnya. Namun, tidak ada satu pun yang berhasil mendapatkan Jaejoong.
Junsu berdiri di sudut ruang kesehatan. Ia memandang keakraban yang terjalin di antara Jaejoong dan Yoochun. "Selalu saja Jaejoong yang mendapatkan perhatian. Semua orang menyukainya, sedangkan tidak ada satu pun yang memedulikan perasaanku, bahkan ayahku sendiri tidak peduli bahwa hatiku terluka." Ia merasa sangat kesal. Jaejoong dan ayahnya ternyata sama saja. Tidak ada yang peduli kepada dirinya. Seharusnya Jaejoong menghiburnya pada saat ia memiliki masalah dengan ayahnya, bukan justru merebut perhatian Yoochun darinya.
Junsu memutuskan untuk meninggalkan ruang kesehatan. Ia merasa sudah tidak tahan melihat senyuman di wajah Yoochun yang diberikan kepada Jaejoong. Seharusnya senyuman itu menjadi miliknya, bukan Jaejoong. Jaejoong dan Yoochun sama sekali tidak menyadari kepergiannya.
"Junsu!" Terlihat Changmin berlari menghampiri Junsu.
Saat hati Junsu sedang merasa kesal kepada ayah dan sahabatnya, Changmin muncul di saat yang tidak tepat. Rasa kesal Junsu semakin bertambah. "Mengapa kau berteriak-teriak memanggilku?"
Changmin berhenti di hadapan Junsu. Ia tampak terengah-engah. "Untung saja aku segera menemukanmu."
"Memangnya ada apa kau mencariku?" Junsu merasa penasaran. "Kau tidak bermaksud untuk mencari gara-gara denganku, bukan?"
"Mengapa kau selalu berpikiran negatif kepadaku?" protes Changmin. Ia merasa tersinggung oleh perkataan Junsu. "Aku hanya ingin mengembalikan ponselmu yang tertinggal di kelas." Ia mengeluarkan sebuah telepon seluler dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Junsu. "Maaf aku telah membuka-buka ponselmu untuk mencari tahu identitas pemiliknya."
"Ini bukan ponselku, melainkan milik Jaejoong. Terima kasih karena kau sudah mengembalikannya. Aku akan memberikannya kepada Jaejoong," ujar Junsu.
"Kupikir ponsel itu adalah milikmu karena aku menemukan ratusan foto ayahmu di dalam sana." Changmin memberi tahu Junsu.
Junsu menatap Changmin selama beberapa saat. Ia terkejut oleh pernyataan Changmin. Ia kemudian membuka ponsel milik Jaejoong dan memang menemukan foto-foto ayahnya di dalam galeri ponsel Jaejoong. "Apa maksudnya ini?"
"Jika ponsel itu milik Jaejoong, mengapa ada banyak sekali foto ayahmu di sana?" Changmin bertanya-tanya. "Aha! Mungkin Jaejoong adalah pengagum rahasia ayahmu." Sebenarnya ia hanya bercanda, tetapi tampaknya ia telah salah bicara karena kini Junsu menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
TBC
Maaf, chapter ini lebih banyak menceritakan Junsu karena Junsu memegang peranan penting dalam cerita ini. Mohon maaf jika sejauh ini ceritanya terasa datar dan membosankan. Semoga saja ke depannya bisa menjadi lebih baik.
Sebagian komentar akan dibalas melalui PM, nanti. Mohon maaf jika ada yang terlewat.
Nani mo: ceritanya langsung tamat kalau perasaan Jaejoong terbalas oleh Yunho. Ternyata kamu komentar dua kali ya. Sebenarnya ini hanya FF uji coba saja. Mohon sedikit dimaklumi jika hasilnya jauh di bawah harapan.
Guest: Junsu sama sekali tidak berpikir bahwa kriteria pria ideal Jaejoong adalah ayahnya karena usia Yunho terlalu tua untuk Jaejoong.
Dell: akan sulit bagi Yunho untuk mencintai Jaejoong. Saya sudah lama tidak menulis cerita, sehingga agak lupa bagaimana menulis fiksi.
Min: terima kasih atas dukungannya.
Rsza: cerita ini hanya untuk uji coba dan latihan. Ceritanya saja masih tidak jelas akan seperti apa. Mungkin akan lebih banyak sedihnya nanti dan direncanakan tidak terlalu panjang. Terima kasih.
Tantan: saya juga pernah jatuh hati kepada Tom Cruise, padahal Tom Cruise seusia dengan ayah saya. Tapi saya suka Tom Cruise di filmnya zaman Top Gun sampai War of the World. Tom Cruise yang sekarang sudah terlihat sangat tua.
Guest: terima kasih atas dukungannya.
Guest: ini FF Yunjae, tentu saja nanti Yunho akan mencintai Jaejoong.
Guest: ok.
Iyang: update! Terima kasih karena bisa menerima FF Yunjae GS.
Joongie: terima kasih!
My yunjaechun: lanjut. Terima kasih.
Hans: aduh, sebut merk. Saya kloningannya.
Mimi Anak Daddy: Jae jadi orang ketiga saja.
Kinchan: ok.
Guest: memang kasihan, tetapi Jae tidak boleh terpuruk. Patah hati adalah hal yang wajar terjadi.
Guest: update!
Cassieswift: rencananya cerita ini akan dibuat sampai saya merasa bisa kembali mendapatkan feel dalam menulis. Cerita ini hanya uji coba atau latihan.
Key'va: terima kasih atas dukungannya.
